Lanjutan dari artikel Korea Utara, Negara Paling Anti Amerika (Bagian Pertama)


Kebencian Amerika Serikat terhadap Korea Utara bermula setelah usai “Perang Dunia II” kemudian Amerika Serikat menciptakan Perang Korea dengan dalih “Paham Komunisme” yang dianut Korea Utara

Perang Korea Terjadi Karena Intervensi AS

Perang Korea
Bagian dari Perang Dingin

Lopez scaling seawall.jpg

Marinir Amerika Serikat menyerbu pantai di Incheon. (wikipedia)

Tanggal 25 Juni 1950   gencatan senjata 27 Juli 1953. Karena belum ada perjanjian perdamaian, secara teknis konflik ini masih berlanjut sampai sekarang.
Lokasi Semenanjung Korea
Hasil Gencatan senjata; dibuatnya Zona Demiliterisasi Korea
Casus belli Invasi Korea Utara ke Korea Selatan
Pihak yang terlibat
 PBB:
 Korea Selatan
 Australia
 Belgia
 Kanada
 Kolombia
 Ethiopia
 Perancis
 Yunani
 Belanda
 Selandia Baru
 Filipina
 Afrika Selatan
 Thailand
 Turki
 Britania Raya
 Amerika Serikat
Negara komunis:
 Korea Utara
 Republik Rakyat Tiongkok
 Uni Soviet
Komandan
Bendera Korea Selatan Syngman Rhee
Bendera Korea Selatan Chung Il Kwon
Bendera Amerika Serikat Douglas MacArthur
Bendera Amerika Serikat Mark W. Clark
Bendera Amerika Serikat Matthew Ridgway
Bendera Uni Soviet Josef Stalin
Bendera Korea Utara Kim Il-sung
Bendera Korea Utara Choi Yong-kun
Bendera Korea Utara Van Len
Bendera Korea Utara Kim Chaek
Bendera Republik Rakyat Tiongkok Mao Zedong
Bendera Republik Rakyat Tiongkok Peng Dehuai
Kekuatan
Korea Selatan: 590.911
Amerika Serikat: 480.000
Britania Raya: 63.000
Kanada: 26.791
Australia: 17.000
Filipina: 7.000
Turki: 5.455
Kolombia: 4.314
Belanda: 3.972
Perancis: 3.421
Selandia Baru: 1.389
Thailand: 1.294
Ethiopia: 1.271
Yunani: 1.263
Belgia: 900
Afrika Selatan: 826
Luksemburg: 44
Total: 941.356–1.139,518
Korea Utara: 260.000
RRT: 780.000
Uni Soviet: 26.000
Total: 1.066.000
Korban
Korban tewas:
AS: 50.000
Korsel: 673.000
Korban luka:
AS: 103.000
Total: 1.271.244–1.818.410
Korban tewas:
RRT: 145.000
Uni Soviet: 315
Korban luka:
RRT: 260.000
Total: 1.858.000–3.822.000
Sipil tewas atau terluka (seluruh Korea) = jutaan

Di Amerika Serikat, perang ini secara resmi dideskripsikan sebagai aksi polisional karena tidak adanya deklarasi perang resmi dari Kongres AS. Dalam bahasa sehari-hari, perang ini juga sering disebut “perang yang terlupakan” atau “perang yang tidak diketahui”, karena dianggap sebagai urusan PBB yang berakhir dengan kebuntuan (stalemate), sedikitnya korban dari pihak AS, dan kurang jelasnya isu-isu penyebab perang ini bila dibandingkan dengan Perang Vietnam dan Perang Dunia II.

Di Korea Selatan, perang ini biasa disebut sebagai Perang 6-2-5 (yuk-i-o jeonjaeng) yang mencerminkan tanggal dimulainya perang pada 25 Juni. Sementara itu, di Korea Utara, perang ini secara resmi disebut choguk haebang chǒnjaeng (“perang pembebasan tanah air”). Perang Korea juga disebut Chosǒn chǒnjaeng (“Perang Joseon”, Joseon adalah sebutan Korea Utara untuk tanah Korea).

Perang Korea secara resmi disebut Chao Xian Zhan Zheng (Perang Korea) di Republik Rakyat Tiongkok. Kata “Chao Xian” merujuk ke Korea pada umumnya, dan secara resmi Korea Utara.

Istilah Perang Korea juga dapat menyatakan pertempuran sebelum invasi maupun setelah gencatan senjata dilakukan.

Masih hangat berita mengenai (katanya) provokasi yang dilakukan oleh Korea Utara di Semenanjung Korea. Korea melakukan serangan yang menyebabkan tewasnya sekian penduduk Korea Selatan yang menjadi bagian dari Collateral Damage. Nyaris kejadian tersebut mengundang kecaman keras dari dunia. Tentu saja, karena sang negara adikuasa Amerika begitu reaktif terhadap apa yang dilakukan oleh Korut. Disamping itu, serangan yang dilakukan oleh Korut membuat bursa Asia rontok. Hal tersebut juga mengundang reaksi negatif dari Jepang.

Jika dilihat dari kacamata orang awam, tentu saja kita akan turut menuding Korut atas serangan yang telah ia lakukan kepada Korea Selatan. Ditambah lagi, kita pasti akan tergiring pada isu “pelanggaran HAM” yang diangkat oleh Amerika Serikat terkait serangan yang dilakukan oleh Korut. Ketiga, kita pasti akan menilai bahwa Jepang marah semata-mata hanya karena Korut secara tidak langsung menghancurkan bursa Asia.

Faktanya, jauh sebelum Korut melakukan serangan yang mengguncang dunia tersebut, Korsel sudah terlebih dahulu melakukan provokasi. Ya, ternyata provokasi pertama kali bukan distimulir oleh Korut melainkan oleh Korsel. Mengapa? Karena Korsel sering melakukan latihan militer di daerah situ, yang tentu saja mengganggu ketentraman dan keamanan warga Korut. Korsel telah berkali-kali diberikan peringatan namun entah mengapa, Korsel begitu keras kepala sehingga akhirnya Korut mengambil langkah terakhir yaitu dengan melancarkan serangan di perbatasan dua negara bersaudara itu.

Sesungguhnya, kita tidak bisa asal simplifikasi bahwa ini hanya konflik yang berusia beberapa minggu saja. Bahwa konflik ini semata-mata baru dimulai pada saat Korut melancarkan serangan beberapa minggu yang lalu.

Perang Korea ini sudah bermula sejak tahun 1950-an. Beberapa tahun sebelum itu, Korea masih berada dibawah jajahan Kekaisaran Jepang. Jepang, seperti yang telah dilakukannya pada setiap negara jajahannya, selalu melakukan penindasan, kerja paksa, dan melakukan kegiatan-kegiatan lain yang tidak berperikemanusiaan. Para kaum-kaum intelektual Korea kabur ke Shang Hai dan bertemu dengan Syngman Rhee. Di sudut lain, munculah tokoh bersama Kim Il Sung (sempat dijuluki presiden abadi Korea) yang menjadi pemimpin pergerakan rakyat dalam pemberontakkan melawan Jepang. Sayangnya, pemberontakan mereka kurang berhasil.

Ketika kota Hiroshima-Nagasaki dibom atom oleh Sekutu, Jepang ambruk. Saat itu, Uni Soviet mendeklarasikan kemerdekaan Korea secara langsung. Sedangkan beberapa hari kemudian, AS melakukan ‘serah-terima’ Korea dari Jepang.

Intervensi Amerika Serikat

220px-IncheonLandingMcArthur

Infantri AS mengambil posisi, 1950–53.

220px-KoreanWarRefugeeWithBaby

Seorang anak Korea melintasi tank M-46.

220px-KoreanWarFallenSoldier1

Seorang infantri menghibur tentara lainnya.

220px-KoreanWarTankFire

Tank AS di Song Sil-li, Korea, 10 Januari 1952.

Meskipun terjadi demobilisasi besar-besaran pasca Perang Dunia II di tubuh sekutu, ada sepasukan tentara AS di Jepang dengan jumlah yang cukup besar di bawah pimpinan Jenderal MacArthur. Mereka bisa melawan Korea Utara.

Selain AS, di sana, Inggris juga memiliki kekuatan tempur yang hampir sama besarnya.

Pada hari Sabtu, 24 Juni 1950, Menteri Luar Negeri AS Dean Acheson memberi tahu Presiden Harry S. Truman melalui telepon, “Bapak Presiden, saya memiliki berita yang sangat serius. Korea Utara telah menyerang Korea Selatan. Truman dan Acheson mendiskusikan sebuah serangan balasan sebagai respon yang akan diambil AS dengan pimpinan departemen pertahanan, yang setuju bahwa Amerika Serikat harus mengusir agresi militer, lalu menghubungkannya dengan agresi Adolf Hitler pada tahun 1930 (yang ketika itu didiamkan AS). Kesalahan seperti itu tidak boleh terulang.  

Presiden Truman mengakui bahwa pertempuran ini berkaitan dengan usaha Amerika mencegah komunisme yang semakin mengglobal:

“Komunisme sedang beraksi di Korea, sebagaimana yang dilakuan Hitler, Mussolini, dan Jepang lakukan sepuluh, lima belas, dan dua puluh tahun yang lalu. Saya merasa yakin bila Korea Selatan dibiarkan jatuh, pemimpin Komunis akan semakin melebarkan kekuasaannya hingga ke negara dekat pantai kita sendiri. Jika komunis dibiarkan memaksakan kehendak mereka di Republik Korea tanpa perlawanan dari dunia yang bebas, negara-negara kecil lainnya akan kehilangan keberanian untuk melawan ancaman dan agresi dari tetangga Komunisnya yang lebih kuat.”

Presiden Harry S. Truman mengumumkan bahwa AS akan melawan “agresi yang tidak diprovokasi” dan “bersemangat mendukung upaya dewan keamanan [PBB] untuk mengakhiri pelanggaran serius terhadap perdamaian. Pada Agustus 1950, Presiden dan Sekretaris Negara dengan mudah membujuk Kongres mengegolkan $12 miliar untuk menambah anggaran militer di Asia yang penting untuk mencapai tujuan National Security Council Report 68 (NSC-68), penahanan global AS terhadap komunisme.

Atas rekomendasi Acheson, Presiden Truman memerintahkan Jenderal MacArthur mengirim material kepada tentara Republik Korea dan memberikan perlindungan udara pada evakuasi warga negara Amerika Serikat. Akan tetapi, presiden menolak mengebom Korea Utara secara langsung. Selain itu, presiden juga memerintahkan Armada ke-7 AS untuk melindungi Taiwan, yang meminta untuk ikut bertempur di Korea. Akan tetapi presiden menolak permintaan itu dengan alasan dapat memancing kemarahan Tiongkok.

USA (Amerika Serikat) Sangat Membenci Korea Utara Karena Mirip USSR (Uni Soviet)

Karena ada perbedaan tanggal kemerdekaan ini dan pihak-pihak yang memprakarsai, maka terjadilah ‘rebutan’ antara dua kubu negara yang semula berpartner ini, AS – Uni Soviet.

Kubu AS mendirikan USAMGIK yang pada intinya, USAMGIK tidak mengakui keberadaan Republik Rakyat Korea karena mereka beraliran komunis. Mungkin karena ada rasa sentimen AS pada Uni Soviet yang beraliran komunis.

Tentu saja, hal tersebut membuat rakyat geram sehingga USAMGIK kehilangan kepercayaan dari rakyat-rakyat Korea.

Akibat perebutan kekuasaan yang terjadi antara AS dan Uni Soviet ini, maka dibuatlah perundingan bahwa negara Korea akan dibagi menjadi dua; Korea Utara dan Korea Selatan. AS mendapat Korea Selatan, sedangkan Korea Utara dihuni oleh Uni Soviet. Syngman Rhee menolak perundingan tersebut. Dia berkata bahwa Korea masih trauma pada penjajahan Jepang dan tidak mau negara ini diduduki oleh negara asing lagi (baik AS maupun Uni Soviet).

Penolakan yang dilakukan oleh Syngman Rhee ini seolah dijadikan kesempatan emas oleh kubu AS. Mereka melakukan propaganda anti-Komunis dan hal tersebut berhasil.

Akibat merasa dianaktirikan, Korut melakukan porovokasi yang menewaskan sekian jumlah warga sipil Korsel. Karena persenjataan Korut yang amat kuat, maka Korsel tumbang saat itu juga dan berkali-kali kalah. Masih belum jelas, adakah keterlibatan Uni Soviet dalam membantu persenjataan Korut karena saat itu Korut benar-benar tidak terkalahkan karena di samping jumlah tentara yang berlebih, ia juga memiliki pasokan senjata yang sangat banyak.

Pada dasarnya, perang saudara tidak boleh diintervensi oleh negara-negara luar, tetapi AS saat itu bersikukuh untuk membantu Korsel yang keok akibat ulah Korut. Meskipun sudah dibekingi oleh AS, Korut tetap berhasil melumpuhkan pertahanan aliansi negara tersebut. Dalam dua perang yaitu Perang Osan dan Perang Pusan, AS-Korsel berhasil dipukul mundur oleh tentara Korut.

Saat itu, AS atas prakarsa PBB (tentu saja, PBB = AS) mendapat bantuan bagi negara-negara yang berada pada kubunya seperti negara Australia, Inggris, dan sejenisnya untuk menumbangkan pertahanan Korut yang begitu kokoh. Pertahanan Korut berhasil tumbang ketika jembatan yang sering dipakai Korut untuk lalulintas pengiriman senjata dibom oleh sekutu. Sekitar 32 jembatan hancur waktu itu. Korut kehabisan pasokan senjata dan dua kali dia dikalahkan oleh sekutu.

Cina yang letaknya sangat dekat dengan Korut (hanya dibatasi oleh sungai Tumen) merasa bahwa konflik ia berhak berpartisipasi karena konflik tersebut lambat laun akan berdampak ke negaranya juga. Atas izin PBB, Cina memberikan bantuan pada Korut.

Cina sangat cerdas dan taktis dalam berperang. Ia selalu melakukan penyerangan di malam hari dan ia begitu mengerti pergerakan musuh. Ada suatu ketika di suatu perang, Cina melakukan serangan sambil membunyikan gong dan terompet agar mental tentara musuh goyah. Hal itu berhasil.

Karena sekutu terus-menerus dibombardir oleh Cina, maka PBB berinisiatif untuk melakukan perjanjian gencatan senjata. Syngman Rhee tidak mau menandatangani perjanjian gencatan senjata itu, tapi ia mau menghormatinya. Jadi secara resmi, pasca tahun 1953 hingga sekarang, status antara Korsel dan Korut masih berperang.

Jauh setelah itu, kita kembali ke awal tahun 2010. Saat itu, Korea Utara berinisiatif untuk mengadakan perjanjian perdamaian pada Korsel melalui AS. Untuk itu, AS memberikan persyaratan bahwa Korut harus berhenti melakukan ujicoba nuklir (Korut memiliki 8 buah nuklir). Tentu saja, Korut tidak mau menghentikannya. Bayangkan, keputusan itu adalah keputusan sepihak dan sangat menguntungkan bagi AS karena sesungguhnya, AS memiliki nuklir juga yang bedanya diuji coba di tempat lain. Alhasil, perjanjian tersebut batal.

Jadi, setelah apa yang saya sebutkan di atas, pemetaan atas konflik saudara di Korea sudah cukup jelas. Hal ini memang sedari awal dipicu oleh perang ideologi, ketika yang satu bicara tentang komunisme dan yang satunya lagi bicara mengenai kapitalisme. Ideologi bukanlah masalah sepele, mungkin terlihat sepele tapi sesungguhnya amat kompleks sehingga bisa membuat dua saudara yang sangat akrab pada akhirnya bisa saling sikut. Seperti yang sakit hati yang dirasakan Korut karena merasa terpinggirkan oleh Korsel yang dibekingi AS.

Senjata AS:Tentara Amerika Serikat mengawaki sebuah 105 mm howitzer, Uirson, Korea, Agustus 1950.

Senjata AS:Tentara Amerika Serikat mengawaki sebuah 105 mm howitzer, Uirson, Korea, Agustus 1950.

Pertempuran urban:Marinir Amerika Serikat bertempur untuk merebut ibukota Korea Utara.

Pertempuran urban:Marinir Amerika Serikat bertempur untuk merebut ibukota Korea Utara.

Operasi sapu-bersih: Marinir pertama Divisi Infantri menahan tentara PVA di front tengah, Hoengsong, Korea, 2 Maret 1951.

Operasi sapu-bersih: Marinir pertama Divisi Infantri menahan tentara PVA di front tengah, Hoengsong, Korea, 2 Maret 1951.

Hill 105: Tentara China terbunuh dalam pertempuran melawan Divisi Pertama Marinir, Korea, 1951.

Hill 105: Tentara China terbunuh dalam pertempuran melawan Divisi Pertama Marinir, Korea, 1951.

USAF firepower: B-26 Invaders bomb logistics depots in Wonsan, North Korea, 1951.

USAF firepower: B-26 Invaders bomb logistics depots in Wonsan, North Korea, 1951.

Rencana Reunifikasi Korea (Penyatuan Korea)

Bendera penyatuan Korea

Bendera penyatuan Korea

Kebijakan Korea Utara adalah mencari penyatuan kembali (reunifikasi) tanpa adanya campur tangan pihak asing (luar Korea), melalui suatu struktur federal mempertahankan kepemimpinan dan sistem masing-masing. Korea Utara dan Korea Selatan menandatangani Pernyataan Bersama Utara-Selatan 15 Juni di mana kedua-dua pihak berjanji untuk mencari cara supaya dapat menyatu kembali secara damai. Selama AS tidak mau menghentikan hegemoninya pada Korsel dan memanfaatkan kewenangannya untuk mencapai keinginan tersebut, maka perang Korea ini tidak akan usai.

Kebuntuan (Juli 1951—Juli 1953)

Pada tahun-tahun berikutnya, tentara PBB dan China tetap berperang, namun perubahan wilayah kekuasaan tidak banyak berubah dan terjadi kebuntuan. Sementara pengeboman wilayah Korea Utara terus berlangsung, perundingan gencatan senjata dimulai tanggal 10 Juli 1951 di Kaesong. Pertempuran juga terus berlangsung meskipun perundingan tengah berjalan; tujuan Korsel-PBB adalah untuk merebut kembali seluruh Korea Selatan dan menghindari kehilangan wilayah. Tentara China dan Korut juga melakukan operasi serupa serta melakukan operasi-operasi psikologikal. Pertempuran-pertempuran utama dalam fase ini antar alain Pertempuran Bloody Ridge (18 Agustus—15 September 1951) dan Pertempuran Heartbreak Ridge (13 September—15 Oktober 1951), Pertempuran Old Baldy (26 Juni—4 Agustus 1952), Pertempuran White Horse (6–15 Oktober 1952), Pertempuran Triangle Hill (14 Oktober—25 November 1952), dan Pertempuran Hill Eerie (21 Maret—21 Juni 1952), pengepungan Outpost Harry (10—18 Juni 1953), Pertempuran Hook (28—29 Mei 1953), dan Pertempuran Pork Chop Hill (23 Maret—16 Juli 1953).

Pergolakan dan perubahan wilayah kekuasaan hingga mengalami kebuntuan.

Pergolakan dan perubahan wilayah kekuasaan hingga mengalami kebuntuan.

Pada 27 Juli 1953, proposal gencatan senjata dari India disetujui oleh Korea Utara, China, dan tentara PBB sehingga mereka sepakat untuk melakukan gencatan senjata dengan batas di paralel ke-38. Dalam persetujuan tersebut tertulis bahwa pihak-pihak yang terlibat menciptakan sebuaeh Zona Demiliterisasi Korea. Tentara PBB, yang didukung oleh Amerika Serikat, Korea Utara, dan China menandatangani Perjanjian Gencatan Senjata; Presiden Korea Selatan Syngman Rhee menolak untuk menandatangani perjanjian itu, karenanya Republik Korea dianggap tidak berpartisipasi dalam perjanjian tersebut.

Buntut Pertempuran Chosin: Operasi Glory

Setelah perang, pasukan PBB menguburkan pasukannya yang tewas di pemakaman sementara di Hŭngnam. Dengan Operasi Glory(Juli-November 1954), masing-masing pihak saling bertukar mayat pasukannya. Mayat 4.167 angkatan darat dan Korps Marinir AS ditukar dengan 13.528 mayat tentara China dan Korut. Sebanyak 546 penduduk sipil yang tewas di kamp tahanan perang PBB diserahkan kepada pemerintahan Korsel. Setelah Operasi Glory, 416 “prajurit tak dikenal” dimakamkan di Punchbowl Cemetery, Hawaii.

Korban tewas:

AS: 36.940 terbunuh, China:100.000—1.500.000 terbunuh; kebanyakan sumber memperkirakan 400.000 orang yang terbunuh; Korea Utara: 214,000–520,000; kebanyakan sumber memperkirakan 500.000 orang yang terbunuh. Korea Selatan: Rakyat sipil: 245.000—415.000 terbunuh; Total rakyat sipil yang tewas antara 1.500.000—3.000.000; kebanyakan sumber memperkirakan 2.000.000 orang tewas.

Memorial Perang Korea dapat ditemukan di setiap markas PBB di negara-negara yang terlibat dalam Perang Korea; pada gambar terlihat memorial yang terletak di Pretoria, Afrika Selatan.

Memorial Perang Korea dapat ditemukan di setiap markas PBB di negara-negara yang terlibat dalam Perang Korea; pada gambar terlihat memorial yang terletak di Pretoria, Afrika Selatan.

Akhir Perang

Perang ini berakhir pada 27 Juli 1953 saat Amerika Serikat, Republik Rakyat Tiongkok, dan Korea Utara menandatangani persetujuan gencatan senjata. Presiden Korea Selatan, Syngman Rhee, menolak menandatanganinya namun berjanji menghormati kesepakatan gencatan senjata tersebut. Namun secara resmi, perang ini belum berakhir sampai dengan saat ini.

Baca juga:

Imperialisme Barat Kreator Islam Ekstrim

Tragedi WTC (9/11) Adalah Konspirasi Bush-Zionis Israel

Persahabatan Indonesia — Korea Utara

Daftar Kejahatan Amerika Serikat

Opini Noam Chomsky Tentang AS-Israel & Islam

Catatan:

Jika pada masa itu, Amerika serikat menciptakan “perang korea” dengan dalih “paham komunisme”, maka bisa dikatakan bahwa 9/11 atau penyerangan menara kembar WTC juga dimungkinkan merupakan sebuah rekayasa Amerika Serikat, untuk meraup keuntungan kilang-kilang minyak di negara Islam Timur tengah dengan dalih “Islam adalah agama Teroris”.


Selanjutnya, Korea Utara, Negara Paling Anti Amerika (Bagian 3)


 
Iklan

One response »

  1. […] Artikel lanjutan dari Korea Utara, Negara Paling Anti Amerika (Bagian 2) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s