image

  • The Fed, atau Federal Reserve Bank, adalah Bank Sentral Amerika Serikat (AS).
  • Selama puluhan tahun, The Fed telah memainkan peran dominan sebagai pencetak uang dolar AS, mata uang yang digunakan sebagai satu-satunya alat transaksi resmi dalam perdagangan internasional (sebelum pengakuan Euro dan Yuan oleh IMF).
  • Bank Indonesia dan banyak bank negara di dunia selalu mempertimbangkan keputusan-keputusan The Fed ketika akan membuat kebijakannya.
  • Dengan demikian, dalam sistem kapitalisme yang memberikan peran luar biasa berkuasa kepada perbankan/keuangan sekarang maka kekuasaan The Fed pun menjadi sangat luar biasa, tidak hanya untuk level Amerika Serikat tapi juga pada taraf global.

Bank Cadangan Federal (selanjutnya disebut The Fed), diselimuti sejumlah mitos dan misteri. Misteri dan mitos ini termasuk dalam soal nama, kepemilikan, (konon) independensinya terhadap pengaruh eksternal, dan anggapan tentang komitmennya atas stabilitas pasar, pertumbuhan ekonomi dan kepentingan umum.

Mitos Utama yang pertama, diterima oleh kebanyakan orang di dalam dan di luar Amerika Serikat, adalah bahwa The Fed dimiliki oleh pemerintah Federal, seperti yang tersirat dalam nama: Federal Reserve Bank. Namun pada kenyataannya ia adalah lembaga swasta dengan pemegang saham bank-bank swasta; ia adalah “banknya para bankir.” Seperti perusahaan lain, ia dipandu oleh dan berkomitmen untuk kepentingan para pemegang sahamnya–meskipun secara formal ada dalam pengawasan Kongres.

Pilihan kata “federal” dalam nama bank tampaknya menimbulkan kekeliruan yang sengaja dirancang untuk menciptakan kesan bahwa bank tersebut memiliki entitas publik. Memang kekeliruan dalam mengidentifikasi kepemilikan itu bukan hanya karena dampak atau kesan yang diciptakan oleh namanya. Lebih penting lagi, hal itu juga secara resmi dan eksplisit dinyatakan dalam di situsnya: “Federal Reserve System memenuhi misi publik sebagai entitas independen dalam pemerintahan. Ia bukanlah milik siapa pun dan bukan pribadi, atau lembaga pencari profit”.

Membuka kedok yang terang-terangan keliru ini, pernah seorang anggota Kongres Louis McFadden, Ketua Komite Perbankan dan Mata Uang di tahun 1930-an, menggambarkan The Fed dalam ungkapan berikut:

Beberapa orang berpikir bahwa Federal Reserve Bank adalah lembaga Pemerintah Amerika Serikat. Mereka adalah monopoli swasta yang memangsa orang-orang Amerika Serikat untuk kepentingan diri mereka sendiri dan pelanggan asing mereka; spekulan dan penipu asing dan domestik; orang kaya dan para predator pemberi pinjaman uang.

Fakta bahwa The Fed, pertama dan terutama, berkomitmen untuk kepentingan para pemegang saham, bank-bank komersial, ini menjelaskan mengapa kebijakan moneternya semakin melayani kepentingan industri perbankan dan, lebih umum, kepentingan oligarki keuangan. Deregulasi yang luas yang menyebabkan krisis keuangan tahun 2008, skandal talangan dana perbankan dalam menanggapi krisis, kelanjutan siraman uang bebas bunga kepada lembaga-lembaga keuangan yang disebut “terlalu besar untuk gagal (too-big-to-fail)”, kegagalan untuk memberlakukan pembatasan efektif atas lembaga-lembaga ini setelah krisis, pemotongan brutal ala neoliberal di program jaring pengaman sosial untuk membayar kerugian perjudian keuangan kelas atas, dan kebijakan penghematan lainnya yang sama kejamnya, semua dapat ditelusuri ke kekuasaan politik dan ekonomi oligarki keuangan, yang sebagian besar diberikan melalui kebijakan moneter The Fed.

Hal ini juga menjelaskan mengapa banyak pembuat kebijakan AS sebelumnya tidak mempercayakan tugas penting pengedaran uang dan pengkreditan kepada bank swasta pencari-laba:

Bank Sentral  [swasta] adalah lembaga permusuhan yang paling mematikan terhadap prinsip-prinsip dan bentuk konstitusi kita. . . . Jika orang-orang Amerika mengijinkan bank-bank swasta untuk mengontrol penerbitan mata uang mereka. . ., bank-bank dan perusahaan-perusahaan yang akan tumbuh di sekitar mereka akan mencabut segala hak milik orang-orang sampai suatu saat anak-anak mereka akan bangun tidur sebagai gelandangan di benua yang nenek moyang mereka taklukkan. (Thomas Jefferson, Presiden ke-3 AS).

Di tahun 1836, Andrew Jackson menghapuskan Bank Amerika Serikat, dengan alasan bahwa hal itu memberikan pengaruh yang tidak semestinya dan tidak sehat terhadap perekonomian nasional. Sejak saat itu hingga tahun 1913, Amerika Serikat tidak mengijinkan pembentukan bank sentral swasta. Selama periode hampir tiga perempat abad itu, kebijakan moneter dijalankan, kurang lebih, menurut Konstitusi AS: Hanya “Kongres harus memiliki kuasa. . . atas uang koin, mengatur nilai daripadanya “(Pasal 1, Pasal 8, Konstitusi AS). Tidak lama sebelum pembentukan Federal Reserve Bank pada tahun 1913, Presiden William Taft (1909-1913) berjanji untuk memveto setiap undang-undang yang berisi pembentukan bank sentral swasta.

Segera setelah Woodrow Wilson menggantikan William Taft sebagai presiden, Federal Reserve Bank didirikan (23 Desember 1913), sehingga sentralisasi kekuatan bank-bank AS menjadi sebuah entitas swasta yang dikontrol suku bunga, jumlah uang beredar, penciptaan kredit, inflasi, dan (dengan jalan berputar) lapangan kerja. Bank ini juga bisa meminjamkan uang kepada pemerintah dan menghasilkan bunga, atau fee–uang yang dapat dibuat pemerintah secara gratis. (Situasi) ini mengiringi awal kenaikan bertahap dari utang nasional, karena untuk selanjutnya pemerintah lebih mengandalkan pinjaman dari bank ketimbang swadana, seperti yang dilakukan sebelum pemberian kekuasaan sistem pembuatan (percetakan_pent.) uang kepada perbankan swasta. Namun, tiga tahun setelah menandatangani Federal Reserve Act menjadi Undang-Undang, Wilson nyatakan seperti dikutip berikut:

Saya adalah manusia yang paling tidak berbahagia. Saya telah sengaja merusak negara saya. Sebuah negara industri besar dikendalikan oleh sistem kredit. Sistem kredit kami yang terkonsentrasi. Oleh karena itu, pertumbuhan bangsa dan semua kegiatan kami berada di tangan beberapa orang. Kami datang untuk menjadi salah satu pemerintahan yang terburuk, salah satu pemerintahan yang benar-benar ada dalam kendali dan dominasi di dunia yang beradab. Tidak lagi pemerintahan dengan pendapat yang bebas, tidak lagi pemerintahan oleh keyakinan dan suara mayoritas, tetapi pemerintah dengan pendapat dan paksaan dari sekelompok kecil orang yang dominan.

Sementara banyak pemikir independen dan pembuat kebijakan di masa lalu melihat kekuatan tidak terkendali dari bank sentral swasta sebagai wakil yang tidak diizinkan untuk mengganggu kebijakan moneter/ekonomi negara, sebagian besar ekonom dan pembuat kebijakan hari ini justru melihat independensi bank sentral dari orang-orang dan badan-badan pemerintah yang terpilih sebagai suatu keyakinan!

Dan di sinilah letak MITOS LAIN yang dibuat sekitar The Fed: bahwa ia independen, murni teknokratis atau entitas pembuat kebijakan nirlaba yang semata-mata mengabdi untuk kepentingan nasional, bebas dari semua pengaruh eksternal. Memang, bab tertentu dalam buku pelajaran ekonomi makro di setiap perguruan tinggi atau sekolah menengah, mengajarkan uang dan perbankan atau keuangan dikhususkan untuk “keuntungan” yang “independen” dari bank sentral swasta untuk menentukan tingkat persediaan uang yang “sesuai”, inflasi atau volume kredit yang mungkin diperlukan oleh suatu perekonomian–selalu menyamakan independensi otoritas yang ditunjuk dan warga negara dengan independensi pada umumnya. Akan tetapi pada kenyataannya, independensi bank sentral berarti indepensi dari rakyat dan dari badan-badan yang ditunjuk oleh pemerintah—bukan (independen) dari kepentingan keuangan yang kuat.

Independensi berarti bank sentral benar-benar telah ditangkap oleh kepentingan Wall Street, kepentingan perbankan yang sangat besar. Mungkin ia independen dari politisi, tapi itu tidak berarti bahwa ia wasit yang netral. Selama Depresi Besar dan sesudahnya, The Fed mengambil isyarat dari Kongres. Sepanjang dekade 1940-an, Federal Reserve secara praktis tidak independen. Ia butuh perintah-perintah dari Gedung Putih dan Departemen Keuangan—dan itu adalah dekade yang paling sukses dalam sejarah ekonomi Amerika.

MITOS UTAMA lain yang terkait dengan The Fed adalah klaim tentang komitmennya untuk kepentingan nasional dan/atau masyarakat. Asumsi tentang misi ini dilakukan melalui kebijakan moneter yang akan mengurangi gelembung keuangan, menyesuaikan kredit atau uang beredar untuk kebutuhan komersial dan manufaktur, dan menyuntikkan daya beli ke dalam perekonomian melalui investasi skala besar dalam proyek-proyek infrastruktur, sehingga mendorong stabilitas pasar dan ekspansi ekonomi.

Hal itu memang terjadi segera setelah Depresi Besar dan Perang Dunia II ketika The Fed harus mengikuti pedoman Kongres, Gedung Putih dan Departemen Keuangan. Sebagai akibat kerangka peraturan kebijakan ekonomi New Deal yang membatasi peran bank komersial untuk intermediasi keuangan antara penabung dan investor, maka modal keuangan pindah bersama-sama dengan modal industri, karena pada dasarnya memberi pelumas pada roda industri, atau produksi. Dalam situasi ini, ketika sebagian besar lembaga keuangan berfungsi sebagai saluran bagi tabungan nasional yang dikumpulkan untuk investasi produktif, gelembung keuangan menjadi jarang terjadi, bersifat sementara dan kecil.

Tidak demikian di era modal keuangan. Dibebaskan dari kendala peraturan periode pasca-Perang Dunia II (yang menentukan jenis, jumlah dan bidang investasi), sektor keuangan secara efektif telah berubah menjadi kasino raksasa. Dengan demikian, The Fed telah mengubah kebijakan moneter (sejak zaman Alan Greenspan) menjadi instrumen untuk memperkaya kaum kaya dengan menciptakan dan menjaga gelembung harga aset. Dengan kata lain, kebijakan moneter The Fed telah efektif berubah menjadi sarana redistribusi (kekayaan_pent.) dari bawah ke atas.

Ini bukan spekulasi atau teori konspirasi: efek redistributif dari kebijakan The Fed yang menyokong oligarki keuangan didukung oleh fakta-fakta dan angka yang tak terbantahkan. Sebagai contoh, sebuah penelitian terbaru oleh Pusat Penelitian PEW tentang distribusi pendapatan/kekayaan (diterbitkan pada 9 Desember 2015) menunjukkan bahwa polarisasi sosial-ekonomi yang sistematis dan meningkat telah menyebabkan penurunan tajam dalam jumlah orang Amerika berpenghasilan menengah.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa, untuk pertama kalinya, rumah tangga berpenghasilan menengah tidak lagi merupakan mayoritas dari Amerika pemilik rumah: “Sekali dalam mayoritas, jumlah orang dewasa di rumah tangga berpenghasilan menengah pada tahun 2015 sama dengan gabungan jumlah orang-orang di rumah tangga berpenghasilan bawah dan atas.”Secara khusus dikatakan, pada tahun 1971 orang dewasa di rumah tangga berpenghasilan menengah berjumlah 60,1 persen dari total populasi orang dewasa, sekarang hanya 49,9 persen.

Menurut laporan PEW, pangsa penghasilan nasional yang diperoleh rumah tangga berpenghasilan menengah turun dari 62 persen pada tahun 1970 menjadi 43 persen pada 2014. Selama periode yang sama, pangsa penghasilan rumah tangga berpenghasilan tinggi meningkat dari 29 persen menjadi 49 persen.

Sejumlah kritikus berpendapat bahwa, dengan menggunakan proxy-nya yang beradadi kepemimpinan The Fed dan Departemen Keuangan, oligarki keuangan memanfaatkan krisis keuangan 2008 sebagai shock therapyuntuk mentransfer triliunan dolar uang pembayar pajak ke dalam poketnya, sehingga lebih memperparah distribusi sumber daya yang tidak adil. Studi PEW jelas menegaskan perampasan  sumber daya nasional ini oleh elit keuangan. Hal ini menunjukkan bahwa laju ketimpangan telah meningkat secara cepat pasca guncangan pasartahun 2008, ketika aset dari re-inflasi hampir secara eksklusif mengalir untuk kepentingan oligarkikeuangan.

Proxy (wakil/kaki-tangan_pent.) dari oligarki keuangan di pusat pembuatan kebijakan ekonomi tampaknya tidak lagi membenci destabilisasi gelembung yang turut mereka ciptakan. Mereka tampaknya percaya (atau berharap) bahwa kemungkinan gangguan dari meledaknya salah satu gelembung bisa diimbangi dengan menciptakan gelembung lain! Dengan demikian, setelah gelembung dot-com, datang gelembung perumahan; setelah itu, harga energidan gelembungpasar negara berkembang, setelah itu, gelembung pasar junk bond, dan sebagainya. Dengan cara yang sama seperti The Fed kembali mengembangkan gelembung demi gelembung, itu juga meredistribusi secara sistematis kekayaan dan pendapatan dari bawah ke atas.

Ini merupakan tren yang sangat menyenangkan karena, di luar isu-isu keadilan sosial dan ketidakamanan ekonomi untuk massa rakyat, kebijakan menciptakan dan melindungi gelembung aset secara reguler juga tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Tidak peduli berapa lama atau berapa banyak mereka dapat meluaskan gelembung—seperti pajak dan sewa dalam feodalisme—pada akhirnya dibatasi oleh jumlah nilai riil yang dihasilkan dalam perekonomian.

Adakah solusi bagi kerusakan ekonomi/masyarakat dari negara-negara inti kapitalis dengan kebutuhan akumulasi kapital keuangan parasit—yang sebagian besar dibina atau difasilitasi oleh bank sentral-bank sentral swasta dari negara-negara ini?

Ya, memang ada solusi. Solusi pada akhirnya adalah politik. Hal ini membutuhkan kebijakan politik yang berbeda dan/atau: politik yang melayani kepentingan mayoritas rakyat, bukan melayani komplotan oligarki keuangan.

Fakta bahwa bank-bank komersial pencari-laba dan perantara keuangan lainnya adalah sumber utama dari ketidakstabilan keuangan hampir tidak diperdebatkan. Hal ini sama terkenalnya bahwa, karena pengaruh ekonomi dan politik mereka, kepentingan keuangan yang kuat dengan mudah menumbangkan peraturan pemerintah, sehingga secara berkala mereproduksi ketidakstabilan keuangan dan gejolak ekonomi. Sebaliknya, bank sektor publik akan dapat meyakinkan deposan mereka secara lebih baik  tentang keamanan tabungan mereka, serta langsung membantu mengarahkan tabungan mereka untuk alokasi kredit yang menguntungkan secara sosial dan investasi produktif.

Oleh karena itu, untuk mengakhiri krisis pasar keuangan yang berulang dibutuhkan penempatan perantara destabilisasi keuangan di bawah kepemilikan publik dan kontrol demokratis. Hal ini hanya menjadi logis ketika otoritas publik, bukan pribadi, yang harus mengelola uang rakyat dan tabungan mereka, atau surplus ekonomi. Sebagaimana ekonom Jerman, Rudolf Hilferding, dulu berpendapat, bahwa sistem sentralisasi tabungan masyarakat dan menempatkannya untuk digunakan oleh bank swasta pencari-laba adalah semacam sosialisme yang sesat, yaitu, sosialisme yang hanya menyokong beberapa gelintir (pent.):

Dalam hal ini sistem kredit yang telah berkembang sepenuhnya adalah antitesis dari kapitalisme, dan mewakili organisasi dan kontrol sebagai lawan dari anarki. Ia bersumber dari sosialisme, tetapi telah disesuaikan ke dalam masyarakat kapitalis; ia semacam penipuan sosialisme, dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan kapitalisme. Ia mensosialisasikan uang orang lain untuk digunakan oleh beberapa gelintir (orang_pent.).

Ada alasan kuat menggunakan sistem perbankan dan sistem kredit sektor publik, tidak hanya karena derajat yang lebih tinggi dari kehandalannya tetapi juga tingkat kemanjurannya yang lebih tinggi dibandingkan dengan swasta, baik atas dasar konseptual maupun empiris. Bank tabungan komunitas di abad kesembilan belas, Koperasi Simpan Pinjam, dan Asosiasi Tabungan dan Pinjaman di Amerika Serikat, perusahaan Jusen di Jepang, bank Wali Tabungan di Inggris, dan Commonwealth Bank of Australia, semua menyediakan kredit perumahan dan kebutuhan lainnya dari masyarakat mereka dengan baik. Mungkin contoh yang paling menarik dan instruktif adalah kasus Bank of North Dakota, yang terus dimiliki oleh negara selama hampir satu abad—mengucurkan kredit secara luas untuk surplus anggaran dan memperkuat perekonomian negara di tengah-tengah kesulitan ekonomi mengerikan di banyak negara lainnya.

Gagasan untuk membawa industri perbankan, tabungan nasional dan alokasi kredit di bawah kontrol atau pengawasan publik tidak selalu sosialis atau ideologis. Dengan cara yang sama banyak fasilitas infrastruktur seperti jalan umum, sistem pendidikan dan fasilitas kesehatan yang disediakan dan dioperasikan sebagai pelayanan publik yang penting, sehingga pasokan kredit dan jasa keuangan dapat diberikan atas dasar model kegunaan (utilitas) publik baik untuk transaksi bisnis sehari-hari dan proyek-proyek industri jangka panjang.

Penyediaan jasa keuangan dan/atau fasilitas kredit setelah model kegunaan publik akan memungkinkan anggaran pengeluaran yang lebih rendah untuk produsen dan konsumen. Hari ini, antara 35 persen dan 40 persen dari seluruh belanja konsumen dialokasikan oleh sektor keuangan: bankir, perusahaan asuransi, pemberi pinjaman non-bank/pemodal, pemegang obligasi, dan sejenisnya.

Dengan membebaskan konsumen dan produsen dari apa yang secara tepat dapat disebut biaya keuangan[?] (financial overhead), atau sewa, mirip dengan sewa tanah di bawah feodalisme, pilihan kredit dan/atau sistem perbankan publik dapat menghidupkan kembali banyak perekonomian yang stagnan, yang tertekan di bawah beban tak berkesudahan kewajiban jasa-utang.

Henry Ford’s quote:
Sudah cukup baik bahwa orang-orang tidak paham sistem perbankan dan moneter kita, karena jika mereka paham, saya percaya akan ada revolusi sebelum besok pagi.
M. A. Rothschild’s quote:
Beri saya kontrol atas pasokan uang negara, dan saya tidak akan peduli siapa yang membuat undang-undangnya.
Catatan kaki:

image

Prof. Ismael Hossein-Zadeh adalah Profesor Emeritus bidang Ekonomi di Drake University. Beliau adalah penulis buku Beyond Mainstream Explainations of the Financial Crisis (Routledge 2014), The Political Economy of U.S. Militarism(Palgrave–Macmillan 2007), dan Soviet Non-capitalist Development: The Case of Nasser’s Egypt (Praeger Publishers 1989). Beliau juga kontributor untuk buku Hopeless: Barack Obama and the Politics of Illusion.


[sumber: berdikarionline.com]
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s