Masih ingat kasus kematian Siyono, pemuda asal Klaten terduga teroris yang mati saat dibawa densus 88? Siyono ditangkap 9 Maret 2016 dan meninggal dunia pada 11 Maret 2016. Dalam kasus ini, Muhammadiyah pantas mendapat apresiasi atas pencarian keadilan bagi Siyono yang mati ditangan Densus 88 serta perlindungan terhadap keluarga yang di tinggalkan. Dan yang akan saya ulas kali ini tentang peranan Muhammadiyah terkait kasus tersebut. Berikut ulasan singkatnya.

DIJAGA KETAT. Rumah Siyono, terduga teroris yang tewas saat diperiksa Densus 88 dijaga ketat, Klaten, Minggu, 13 Maret 2016. Foto Istimewa

Rumah Siyono, terduga teroris yang tewas saat diperiksa Densus 88 dijaga ketat, Klaten, Minggu, 13 Maret 2016. Foto: Rappler.Com

Suasana rumah Marso Diyono (61 tahun) di Dusun Brengkungan, Desa Pogung, Cawas, Klaten, pada Minggu siang, 13 Maret, masih ramai orang. Para pelayat berdatangan silih berganti, memberikan ucapan belasungkawa atas meninggalnya Siyono (34 tahun), anak bungsu Marso.

Rumah sederhana yang sehari-hari digunakan untuk Taman Kanan-Kanak (TK) itu disekat menjadi dua bilik, untuk memisahkan tamu laki-laki dan tamu perempuan yang duduk lesehan di atas tikar plastik. Mereka umumnya tetangga desa, kerabat dari luar kota, dan teman-teman Siyono yang tidak sempat menghadiri pemakamannya pada Sabtu malam.

Wajah Marso masih sendu dan tampak kelelahan. Sejak anak bungsunya ditangkap Detasemen Khusus 88 Anti Teror, bapak tiga anak ini tak bisa istirahat karena melayani tamu, wartawan, dan polisi yang datang ke rumahnya.

Sebelumnya, ia lebih banyak bungkam dan berusaha menghindari awak pers dengan alasan takut salah bicara. Ia juga menolak banyak tamu yang tak dikenalnya, dengan cara mengungsi sementara di rumah anak sulungnya, Wagiyono.

“Saya ini orang bodoh, tidak ngerti apa-apa, bahkan anak saya ditangkap saya tidak tahu apa salahnya, saya minta maaf kalau anak saya punya salah,” kata Marso, Minggu siang.

Ia kemudian mau bercerita. Rabu petang, 9 Maret, ia sedang menunaikan salat Maghrib bersama warga dusun di Masjid Muniroh yang terletak persis di samping rumahnya. Di sebelahnya, berdiri Siyono yang juga ikut salat.

Bapak dan anak ini jarang melewatkan salat berjamaah di masjid. Namun, Marso tidak mengira bahwa itu akan menjadi salat berjamaah terakhir bagi anaknya.

Usai salat, Marso keluar masjid lebih dulu seperti biasa. Ia menyaksikan di belakangnya tiga orang tak dikenal menunggu Siyono di luar pintu masjid, merangkulnya, lalu membawa masuk ke dalam mobil. Satu orang sebelumnya sudah masuk masjid, tetapi keluar lagi.

“Saya mau menegur tetapi ragu, karena saya pikir itu teman-teman Siyono yang mau mengajaknya pergi. Kelihatannya cara mengajaknya baik-baik,” kata Marso dengan mata berkaca-kaca mengingat anaknya.

Ia baru tahu bahwa anaknya ditangkap Densus saat ada perangkat desa dan polisi yang memberitahunya akan ada penggeledahan di rumahnya keesokan harinya, pada Kamis, 10 Maret. Kakinya lemas seketika, namun ia tak kuasa berbuat apa-apa.

MELAYAT. Keluarga dan kerabat melayat ke rumah Siyono, terduga teroris asal klaten yang ditewas usai diperiksa oleh Densus 88, Minggu, 13 Maret. Foto istimewa

Keluarga dan kerabat melayat ke rumah Siyono, terduga teroris asal klaten yang ditewas usai diperiksa oleh Densus 88, Minggu, 13 Maret 2016. Foto: Rappler.Com

Jantungnya nyaris copot ketika menerima kabar bahwa Siyono meninggal dunia saat diperiksa Densus dua hari lalu, Jumat, 11 Maret 2016. Ia hampir tak percaya, karena anaknya dalam keadaan sehat saat penangkapan pada Rabu malam itu.

Pihak keluarga kemudian menjemput jenazah ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati di Jakarta dan membawa pulang pada Sabtu malam menjelang dini hari. Jenazah Siyono langsung dimakamkan malam itu juga tanpa disemayamkan di rumah duka.

Namun, sebelum dimakamkan, Marso meminta agar kain kafan anaknya dari polisi dilepas dan diganti dengan kafan yang sudah disediakan keluarga. Alasannya, itu adalah pakaian terakhir anaknya untuk menghadap Allah, sehingga harus benar-benar suci dan jelas asal-usulnya.

Siyono dikenal sebagai anak yang baik, patuh pada orang tua, dan ramah kepada setiap teman dan tetangga. Ia juga dikenal sebagai orang yang sumeh (murah senyum).

“Dia itu anak yang baik, santun, tidak neko-neko (aneh-aneh). Teman-temannya banyak sekali, sampai saya tak kenal satu-satu,” kata Marso.

Di mata Marso, Siyono juga seorang bapak yang baik dan sayang anak. Kelima anaknya –yang paling besar kelas 1 SMP—sangat dekat dengan bapaknya.

Meskipun kehilangan anaknya, Marso berusaha untuk menerimanya. Ia berulang kali meminta maaf kepada semua orang seandainya Siyono memiliki kesalahan dalam hidupnya.

“Saya berdoa semoga anak saya syahid kalau ini kehendak Allah, mendapat tempat yang baik di alam sana,” ujar Marso.

Beberapa teman-teman di dusunnya yang sedang berkumpul di masjid siang itu juga bercerita kepada Rappler.com bahwa Siyono adalah sosok baik dan setia kawan. Ia juga anak yang enthengan (suka menolong) teman.

Siyono yang lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pertanian di Klaten itu pernah bekerja sebagai penjual buku-buku dan majalah Islam. Terakhir, ia juga berjualan secara online.

Sedangkan istrinya, Sri Muryani, mengelola TK Raudlatul Athfal Terpadu Amanah Ummah yang memiliki 60 siswa di rumah Marso. Sebenarnya, sekolah di bawah Yayasan Al Husna Klaten itu hanya menggunakan rumah Marso untuk sementara sampai gedung yang baru selesai dibangun.

Entah kebetulan atau tidak dengan kematian Siyono, pihak yayasan meliburkan anak-anak hingga 20 Maret 2016, seperti informasi yang tertulis di papan yang tertempel di depan rumah.

Muhammadiyah Sebagai Kuasa Hukum Kasus Siyono

Terkait kasus terbunuhnya Siyono, diberitakan pihak istri terduga teroris asal Klaten itu, telah meminta autopsi jenazah untuk mendapatkan fakta-fakta kematian Siyono.

Komisioner Komnas HAM, Maneger Nasution mengaku telah melakukan koordinasi dengan PP Muhammadiyah, yang ditunjuk sebagai kuasa hukum dari istri Siyono, Suratmi. Maneger mengaku telah tercapai kesepakatan untuk melakukan autopsi jenazah Siyono demi mendapatkan fakta-fakta kematiannya.

“Ibu Suratmi minta ada autopsi, jadi PP Muhammadiyah dan Komnas HAM sepakat untuk dilakukan autopsi atas jenazah Siyono,” kata Maneger seperti dikutip republika.co.id (30/03).

Maneger juga mengingatkan, aparat di lapangan untuk tidak menghalangi proses outopsi. Apalagi Kapolri Jenderal Badrodin Haiti telah mempersilahkan dilakukan autopsi kepada jenazah Siyono.

“Seharusnya aparat di lapangan mematuhi, sebab Pak Badrodin sendiri yang mempersilahkan autopsi,” ujar Maneger.

Cara kerja Detasemen Khusus 88 (Densus 88) Antiteror Mabes Polri kembali menjadi sorotan sejumlah pihak. Pemicunya, karena cara kerja Densus 88 Antiteror Mabes Polri yang menyebabkan tewasnya warga Klaten, Jawa Tengah, Siyono.

Siyono tewas setelah ditangkap personel Densus 88 Antiteror Mabes Polri atas tuduhan kelompok teroris. Tewasnya Siyono menuai kecurigaan dari pihak keluarga, karena ketika ditangkap dalam keadaan sehat.

“Saya pribadi ini sudah dalam taraf mengerikan sekaligus memalukan. Saya baru dengar 121 WNI terbunuh sia-sia, didudga dilakukan petugas negara,” ujar Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia (Madani) Ray Rangkuti dalam konferensi pers di Gedung PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (1/4/2016).

Menurutnya, Densus 88 Antiteror Mabes Polri sudah semena-mena dalam menangani persoalan terorisme yang menyebabkan tewasnya warga negara Indonesia. Padahal, kata dia, Siyono baru terduga teroris.

“Pola ini kalau tidak dihentikan bisa kena semua. Apa bedanya demgan zaman Orde Baru dengan sekarang‬,” ucapnya.

Muhammadiyah Tampung Keluarga Korban Serta Memberikan Advokasi

Aktivis Muhammadiyah Mustafa Nahrawardaya mengecam sikap Kepala Desa Pogung, Cawas, Klaten, Jawa Tengah, Joko Wijoyo yang kabarnya mau mengusir keluarga korban salah tangkap Densus 88, Siyono.

“Udah suaminya tewas misterius, sekarang Kepala Desa mau mengusir keluarga aktifis penentang Kriatenisasi itu. Ada 5 anak yatimnya. #Siyono,” tulis Mustofa di akun Twitter ‏@TofaLemon.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Desa Pogung Joko Wijoyo keberatan dengan rencana autopsi terhadap jenazah terduga teroris Siyono. Hal ini terbukti dari tiga poin pernyataan yang disampaikan Joko kepada Komando Kesiapsiagaan Pemuda Muhammadiyah (Kopam).

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan Suratmi enggan menemui kepala desa. Untuk itu, keluarga diwakili oleh Kopam. Saat pertemuan itu, Joko menyampaikan sikap keberatannya.

  • Pertama, aparatur desa tidak ingin dilakukan autopsi terhadap almarhum Siyono.

 

  • Kedua, kalaupun tetap dilakukan, Joko meminta autopsi jangan dilakukan di kampung tersebut.

 

  • Ketiga, setelah autopsi dilakukan, jenazah Siyono tidak boleh lagi dikuburkan di desa itu. Seluruh keluarga Siyono pun harus angkat kaki dari desa tersebut.

Namun di luar dugaan, Suratmi menanggapi pernyataan tersebut dengan ikhlas. Dia pun berkata kepada Dahnil,

“Saya sedang mencari keadilan. Saya menitip usaha saya kepada Muhammadiyah. Kalaupun kemudian dalam usaha mencari keadilan ini saya harus terusir, bumi Allah SWT luas. Autopsi tetap harus dilakukan,” katanya.

Melihat kuatnya tekad Suratmi, Muhammadiyah pun akan menampungnya.

“Kami akan menanggung segala keperluan ekonomi Suharmi beserta anak-anaknya. Muhammadiyah akan bertanggung jawab demi keadilan,” ujar Dahnil dalam konferensi pers ‘Mencari Keadilan untuk Suratmi’ di Jakarta, Jumat (01/04).

Sebelumnya, Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) Jawa Tengah siap memberikan rasa aman bagi keluarga almarhum Siyono di Dusun Brengkungan RT 11/05 Desa Pogung, Kecamatan Cawas.

“Bukan pengamanan, tapi memberikan rasa aman. Karena kami diminta keluarga, khususnya Bu Suratmi (istri Siyono) untuk ngamping–ngampingi,” ujar Komandan Kokam Jawa Tengah, M Ismail, seperti dikutip sangpencerah.com (31/03).

Selain itu, kata Ismail, KOKAM juga akan melakukan pemantauan di makam jenazah Siyono yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya. Pemantauan untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan hingga dilakukannya otopsi.

”Makamnya bisa direkayasa diambil mayatnya, dimasukkan cairan atau zat-zat dan sebagainya. Banyak hal yang perlu dikhawatirkan. Jadi terus kami pantau,” tambah Ismail.

Ibnu Masduki mensinyalir, NU tidak memberikan bantuan pembelaan korban Densus 88 karena terkait proyek deradikalisasi dari Kepolisian maupun BNPT.

“Kalau Muhammadiyah jelas menolak proyek deradikalisasi, sebagaimana diungkapkan Ketua Umumnya Haedar Nashir,” ungkap Ibnu.

Kata Ibnu Masduki, Muhammadiyah mempunyai aset yang sangat besar dan tidak terpengaruh proyek-proyek yang “tidak jelas”, seperti proyek deradikalisasi yang justru merugikan umat Islam.

“Muhammadiyah punya puluhan sekolah, universitas bahkan rumah sakit. Itu asetnya triliun. Makanya tidak terpengaruh proyek recehan deradikalisasi,” papar Ibnu Masduki.

Terkait dengan hal itu, Ibnu Masduki berharap NU-Muhammadiyah bisa bersinergi dalam pembelaan terhadap korban kebiadaban Densus 88.

“Kalau NU dan Muhammadiyah sinergi sangat bagus,” pungkas Ibnu Masduki.

Diberitakan sebelumnya, Muhammadiyah telah memberikan advokasi terhadap korban terduga teroris. Organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan ini memberikan pembelaan terhadap keluarga Siyono, warga asal Klaten, Jawa Tengah.

PP Muhammadiyah bahkan telah menyiapkan Tim Dokter Muhammadiyah atas izin dari keluarga akan melakukan otopsi terhadap jenazah Siyono. Dalam hal ini, Komisioner Komnas HAM Manager Nasution dan tim lembaga hukum, ikut mengawal proses otopsi.

Terkait Kasus Ini, Ada Pihak Yang Sengaja Mengadu Domba Antara Polri dan Muhammadiyah

Ditengah-tengah memanasnya kasus kematian Siyono, ada pihak yang sengaja mengadu domba antara Muhammadiyah dengan Polri.

Muhammadiyah Bantah “Selebaran Soal Lapor jika Digerebek Densus 88”

PP Muhammadiyah angkat bicara beredarnya selebaran melalui media sosial apabila ada warga yang rumahnya digerebek Densus 88maka diminta segera melapor ke Muhammadiyah untuk mendapatkan pendampingan hukum.

Berikut isi selebaran itu:

Perhatian! 
 Bagi seluruh warga Indonesia dan warga kota Surabaya yang tempat kediamannya digerebek dan atau tetangga, kerabat, teman dan keluarganya ditangkap oleh Densus 88 segera hubungi kami…
 Kami akan melakukan pendampingan dan advokasi..

Korps Muballigh Muhammadiyah, Majelis Tabligh
 Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surabaya
 Jl Sutorejo 73-77 Surabaya.
“Selebaran itu beredar di media sosial, kan kalau sudah ‎di media sosial itu susah. Kami tidak pernah buat selebaran itu dan tidak mungkin kami buat. Itu sangat konyol,” tegas aktivis Muhammadiyah, Ma’mun Murad AL-barbasy, Kamis (7/4/2016) di Mabes Polri.

Lebih lanjut Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Anton Charliyan juga meminta agar warga tidak mempercayai selebaran tersebut.

“Selebaran ini hoaks, ini jelas-jelas ingin memprovokasi dan mengadu domba antara Polri dengan Muhammadiyah,” tambahnya.

Polri Selidiki Selebaran Hoaks ”Digerebek Densus 88 Lapor Muhammadiyah”

Siapa yang menyebarkan itu di Facebook, Twitter, dan Instagram masih diselidiki. — tribunnews.com

Siapa yang menyebarkan itu di Facebook, Twitter, dan Instagram masih diselidiki. — tribunnews.com

Cyber Crime Mabes Polri menyelidiki beredar selebaran melalui media sosial, soal apabila ada warga yang rumahnya digerebekDensus 88 maka diminta segera melapor keMuhammadiyah untuk mendapatkan pendampingan hukum.

“Siapa yang menyebarkan itu di Facebook, Twitter, dan Instagram masih diselidiki,” ucap Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Anton Charliyan, Kamis (7/4/2016) di Mabes Polri.

Anton menambahkan pihaknya sudah mengkonfirmasi ke Muhammadiyah, bahwa selebaran itu bukan dibuat olehMuhammadiyah. Dan itu hoaks atau bohong.

Terpisah aktivis Muhammadiyah, Ma’mun Murad AL-barbasy juga membantah adanya selebaran tersebut.

‎”Kalau sudah ‎di media sosial itu susah. Kami tidak pernah buat selebaran itu dan tidak mungkin kami buat. Itu sangat konyol,” katanya.

Densus Kembali Berhadapan Dengan Autopsi Muhammadiyah

Suratmi, istri terduga teroris, menyerahkan dua gepok uang santunan misterius kepada Ketua PP Muhammadiyah Bidang hukum, Busyro Muqoddas beserta tim hukum PP Muhammadiyah dan Anggota Komans HAM Siyane Indiryani, di kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Selasa (29/3/2016). — tribunnews.com

Suratmi, istri terduga teroris, menyerahkan dua gepok uang santunan misterius kepada Ketua PP Muhammadiyah Bidang hukum, Busyro Muqoddas beserta tim hukum PP Muhammadiyah dan Anggota Komans HAM Siyane Indiryani, di kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Selasa (29/3/2016). — tribunnews.com

Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti pun menghormati proses autopsi dengan mengutus satu dokter forensiknya bergabung bersama dokter Muhammadiyah.

Aktivis Muhammadiyah, Ma’mun Murad AL-barbasy‎ mengatakan peristiwa ini harusnya menjadi pembelajaran bagi Densus 88.

“‎Dengan otopsi ini kedepan Densus harus hati-hati, kalau tidak nanti akan kembali berhadapan dengan autopsi Muhammadiyah juga. Kalau kedepan ada yang ganjil lagi, ya kami autopsi lagi. Harus dipahami betul,” tegas Murad, Kamis (7/4/2016) di Mabes Polri.

Murad melanjutkan dalam kasus ini Muhammadiyah ini ‎menegakkan hukum soal tewasnya Siyono yang dinilai tidak wajar.

“Siyono meninggal tidak wajar itu harus ditegakkan. Muhammadiyah tidak membenarkan siapapun melakukan teror. Kezaliman itu ibu kandung ‎dari teroris,” katanya.

Autopsi Siyono

Untuk memastikan penyebab kematianSiyono, Komnas HAM meminta dokterMuhammadiyah melakukan autopsi pada‎ Minggu (3/4/2016) kemarin.

Menyoal autopsi, Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti pun menghormati dan mengutus satu dokter forensiknya bergabung dengan dokter Muhammadiyah.

Aktivis Muhammadiyah, Ma’mun Murad AL-barbasy‎ bersuara atas autopsi yang hasilnya baru akan keluar dalam 10 hari kedepan.

“‎Kalau ditanya dimana posisiMuhammadiyah dalam autopsi Siyono. Kalau mau kritis, autopsi itu adalah rasa sayang Muhammadiyah pada Polri. Di media sosial disebutkan ada 120 terduga teroris yang meninggal dunia dan proses hukumnya tidak jelas. Autopsi kemarin pahamilah sebagai rasa sayang kami ke polisi. Langkah kami ini melibatkan forensik Polri dan dokter Undip, bukan jalan sendiri,” tegas Murad, Kamis (7/4/2016) di Mabes Polri.

Murad juga menambahkan posisiMuhammadiyah di kasus Siyono, ‎tetap dalam koridor hukum.

Dimana Muhammadiyah ini mencari keadilan soal kematian yang dinilai tidak wajar.

“‎Otopsi ini bagian dari ingin tahu apa benarSiyono meninggal tidak wajar? Itu yang harus ditegakkan. Kalau soal Siyono teroris atau bukan itu bukan urusanMuhammadiyah,” katanya.

Anggota Densus 88 Diperiksa Propam Mabes Polri

Ilustrasi. — tribunnews.com

Ilustrasi. — tribunnews.com

‎Sebanyak tujuh orang anggota Densus 88 Mabes Polri diperiksa oleh Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Mabes Polri.

Pemeriksaan ini berkaitan dengan tewasnya terduga teroris Siyono, asal Klaten, Jawa Tengah saat dibawa pengembangan untuk menunjukkan gudang senjata.

“Sudah banyak anggota yang saya periksa terkait kasus Siyono. Khusus anggotaDensus 88 ada 7 orang, dua diantaranya yang mengawal dan sopir saat peristiwa itu,” ucap Kadiv Propam Mabes Polri, Irjen M Iriawan, Jumat (8/6/2016) di Mabes Polri.

Selain itu, mantan Kapolda Jawa Barat ini ‎juga memeriksa anggota lain yakni sejumlah Kepala Satuan Wilayah (Kasatwil) setempat, seperti Kapolres dan Kapolsek terkait.

Soal SOP pengawalan, ‎jenderal bintang dua ini mengakui memang ada kesalahan prosedur saat anggota Densus mengawalSiyono‎, bentuk kesalahannya yakni tidak diborgol.

“Mereka tidak profesional, ‎masa tidak diborgol hanya karena sudah dekat. Nanti akan ada sidang kode etik dan profesi,” tegasnya.

Untuk diketahui, Siyono (39) warga Brengkungan Cawas Klaten ditangkap Densus 88 pada Selasa (9/3/2016) karena diduga terlibat dalam jaringan teroris, namun dia kemudian meninggal di perjalanan.

Polri mengklaim yang bersangkutan meninggal usai kelelahan dan lemas akibat melawan dan berkelahi dengan anggota Densus 88 yang mengawal selama perjalanan. Pasalnya saat itu, Siyono berupaya kabur.

Untuk mengungkap penyebab pasti kematian Siyono, Minggu (3/4/2016) kemarin tim dokter Muhammadiyah ‎dibantu satu dokter forensik Polri melakukan autopsi pada jenazah Siyono.

Muhammadiyah Ungkap Hasil Autopsi Yang Berbeda Dari Keterangan Polri

“Kematian Siyono akibat benda tumpul di rongga dada,” kata Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Siane Indriani di kantornya pada Senin, 11 April 2016.

Sebelumnya, visum Kepolisian RI menyatakan Siyono meninggal akibat pukulan benda tumpul di kepala.Misteri kematian Siyono, terduga anggota jaringan teroris, mulai mencapai titik terang. Hasil autopsi jenazah pria 36 tahun menunjukkan penyebab kematian yang berbeda dengan versi kepolisian.

Adapun pernyataan Komnas HAM ini berdasarkan autopsi independen yang mereka lakukan bersama dengan Pusat Pimpinan (PP) Muhammadiyah, dan pelbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lainnya. Proses pemeriksaan dilaksanakan Ahad pekan lalu oleh 9 dokter forensik dari Persatuan Dokter Forensik Indonesia (PDFI), dan satu dari Kepolisian Daerah Jawa Tengah.

Hasil autopsi mengungkap Siyono meninggal karena kerusakan jaringan jantung. Berbeda dengan klaim dari kepolisian. — Rappler.com

Hasil autopsi mengungkap Siyono meninggal karena kerusakan jaringan jantung. Berbeda dengan klaim dari kepolisian. — Rappler.com

Hasilnya, kata Siane, sebenarnya bersifat rahasia.

“Tetapi kami sudah dapat izin dari keluarga dan dokter untuk membuka ke publik,” kata dia.

Dokter menemukan pada tubuh Siyono luka-luka entravital, atau yang terjadi dalam keadaan masih hidup. Luka bertebaran merata di sekujur tubuh, namun yang menyebabkan kematian adalah akibat pukulan benda tumpul di rongga dada.

“Ada patah di bagian tulang dada, yang mengakibatkan kerusakan jaringan jantung hingga berujung kematian,” kata Siane.

Berbeda dengan polisi

Sebelumnya, pihak kepolisian telah mengumumkan hasil visum jenazah Siyono. Dalam laporan tersebut, tertulis penyebab kematian terduga teroris asal Klaten ini adalah karena pendarahan kepala di bagian belakang.

Hasil autopsi independen sendiri membenarkan ada luka di bagian kepala.

“Tetapi tak menyebabkan kematian,” kata Siane.

Dahnil Anzar Simanjuntak, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, mengatakan hasil autopsi mengatakan pukulan tak menyebabkan pendarahan di kepala.

“Otaknya berbentuk bubur putih, bukan merah. Artinya, tak ada pendarahan,” kata dia.

Selain itu, dokter juga tak menemukan adanya luka yang bersifat defensif, seperti luka tangkisan. Menurut Dahnil, ini tak membuktikan klaim polisi kalau Siyono dihajar lantaran melakukan perlawanan dan mencoba kabur.

Lebih lanjut, pada bagian belakang tubuh Siyono, terdapat memar yang menekan tubuh dari luar ke dalam.

“Jadi ada analisa kalau siksaan dilakukan dalam keadaan tubuh korban tengah bersandar,” kata Siane.

Gatot Soeharto, ketua tim dokter forensik, mengatakan pemeriksaan dilakukan tak hanya dari luar, tapi juga secara mikroskopis di laboratorium. Mereka mengambil sampel kulit, otot, tulang, dan tempurung kepala yang terluka. Beruntung, berkat kondisi tanah yang sejuk karena mengandung banyak air, kondisi mayat korban tak terlalu busuk meski sudah dikubur selama 21 hari.

Seluruh data ini akan dimanfaatkan Komnas HAM untuk mengajukan rekomendasi ke presiden.

“Wewenang kami hanya sampai di sini,” kata Siane.

Selanjutnya: Muhammadiyah Lawan Densus 88 AT – Kasus Kematian Siyono [bag. 2]

Iklan

3 responses »

  1. […] Muhammadiyah Lawan Densus 88 AT – Kasus Kematian Siyono […]

    Suka

  2. […] Keluarga Siyono, Terdakwa Kasus JIS Minta Advokasi […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s