Sejarah kebocoran data di dunia. (Foto: Shutterstock)

Sejarah kebocoran data di dunia. (Foto: Shutterstock)

Peretasan data yang dilakukan Julian Assange melalui Wikileaks dan pembobolan data intelijen Amerika Serikat oleh Edward Snowden, dan kini Panama Papers bukanlah yang pertama terjadi dalam sejarah.

Zaman Sparta

Kasus pembocoran data sudah lama terjadi, yang terheboh dimulai dari zaman Sparta sekira 470 tahun sebelum masehi. Sebagaimana dilansir dari BBC, Minggu (10/4/2016), Jenderal Sparta paling berpengaruh, Pausanias suatu kali mengirim budaknya untuk mengantarkan pesan rahasia kepada Raja Persia. Dirundung rasa penasaran, sang budak membuka surat itu di tengah jalan.

Budak pria yang dikenang namanya sebagai Argilos, menemukan rencana tuannya untuk mendukung Persia jika mereka menginvasi Yunani. Ditambahkan di ujung surat, demi menutup rapat-rapat rahasia ini, maka si pembawa pesan boleh dilenyapkan.

Tahu seberapa besar risiko yang sedang dia hadapi, Argilos akhirnya menyimpang dari perjalanannya dan melaporkan surat itu kepada otoritas Sparta. Mengetahui aksi pengkhianatan Pausanias, pemerintah Yunani lantas memenjarakan jenderalnya itu di Kuil Athena. Ia dihukum tanpa makan dan minum, dibiarkan mati perlahan akibat kekurangan gizi.

Maju ke masa pemerintahan Romawi, Konsul Kehormatan Romawi Cicero pernah menemukan setumpuk dokumen diletakkan begitu saja di depan pintu rumahnya pada tahun 63, sebelum masehi. Ia tidak pernah tahu siapa orang yang menaruhnya. Namun apa yang ditinggalkan orang tersebut telah sangat membantu pekerjaannya.

Pada masa itu, Cicero tengah menyelidiki upaya pembelotan senator bernama Cataline. Akan tetapi, ia tidak mempunyai cukup bukti untuk menuduhnya. Lalu datanglah keajaiban itu, kumpulan surat dari para pengkhianat yang menjadi sekutu Cataline dikirimkan kepadanya. Seluruh rencana kudeta mereka terlampir secara rinci di sana, dan bukti konkrit inilah yang ia bawa untuk meyakinkan seluruh pemerintah bahwa Republik Romawi terancam runtuh.

Berkat Cicero, kekaisaran Romawi bertahan selama berabad-abad. Sampai dijatuhkan oleh Bangsa Ottoman pada abad ke-15. Di tangan kesultanan Ottoman, rakyat hidup makmur, keberagaman sangat dijunjung tinggi dan dihargai.

Namun begitu, kerahasiaan merupakan hal yang utama di negara tersebut. Hukuman berat menanti siapapun yang berani membocorkannya ke publik. Bahkan pada masa itu, kebanyakan orang yang dipekerjakan di pengadilan berasal dari kalangan penyandang bisu dan tuli. Dengan demikian, meski mereka bekerja di sana, mereka tidak bisa mendengarkan informasi apapun apalagi mengumbarnya keluar.

Turki Ottoman

Salah satu rahasia yang paling dijaga adalah rahasia milik Sultan Osman II. Demi menutupi kelemahannya, sang sultan menghabisi kelompok militer yang dianggap akan menjadi lebih kuat darinya. Kelompok bernama Janissaries ini mengetahui rencana sultannya dan berbalik menjadi bumerang bagi Sultan Osman II. Ia pun kehilangan testisnya dalam bentrok dengan militernya sendiri sebelum akhirnya meninggal.

Belajar dari sejarah pembocoran informasi, pola yang dilancarkan selalu sama. Informasi yang bersifat rahasia dibeberkan kepada penguasa atau orang banyak demi menunjukkan kejahatan seseorang atau sekelompok orang, menjatuhkan individu atau suatu dinasti. Sebagian lagi untuk menyelamatkan kekuasaan dari kehancuran. Demikian juga para informan (whistleblower) memanggul beban yang berat ketika memutuskan untuk mengungkapnya atau tidak.

Bedanya, pada masa itu selain cara-cara pembocorannya masih primitif, pemerintahnya juga terbilang cepat menindak para musuhnya. Tidak seperti masa kini yang teknologinya lebih canggih, informasi tersimpan dalam satu benda kecil bernama flashdisk. Yang jika hilang maka mudah sekali disebarkan. Akan tetapi, proses hukum untuk para pelaku di dalamnya berjalan lambat atau mungkin memang terkesan berhati-hati.

Skandal Pajak Panama Papers

Dunia tengah membicarakan kebocoran dokumen finansial dari sebuah firma hukum asal Panama, Mossack Fonseca. Data tersebut terangkum dalam hasil investigasi sebuah organisasi wartawan global, International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ), sebuah koran dari Jerman, Süddeutsche Zeitung, dan lebih dari 100 organisasi pers dari seluruh dunia. Adapun Tempo menjadi satu-satunya media di Indonesia yang terlibat dalam pengungkapan skandal ini.

Data Panama Papers sebesar 2,6 terabita, yang berisi informasi sejak 1977 sampai awal 2015, tersebut berhasil diungkap ke publik. Dari data tersebut dapat diintip dunia offshore atau dunia tanpa pajak bekerja.

Mossack Fonseca menjajakan kerahasiaan finansial kepada politikus, penipu, mafia narkoba, miliuner, selebritas, dan bintang olahraga kelas dunia, untuk mendirikan perusahaan di negara surga bebas pajak seperti Panama atau British Virgin Island.

Uang terus mengalir di dalam gelombang global tapi terjaga secara rahasia. Tak jarang praktek tersebut mendorong lahirnya banyak modus kriminalitas dan perampokan kekayaan negara dari pajak yang tak dibayar. Semua transaksi tersebut disembunyikan di surga bebas pajak.

Dalam jutaan lembar dokumen itu, tergambar dengan detail sejumlah perjanjian bisnis yang melibatkan perusahaan offshore yang dilakukan sejumlah tokoh kenamaan di dunia. Firma hukum ini memang terbilang kecil. Namun firma tersebut disebut-sebut berpengaruh di Panama. Firma ini memiliki kantor cabang di Hong Kong, Zurich, Miami, dan 35 kota lain di seluruh dunia.

Panama Papers menyimpan data surat elektronik, tabel keuangan, paspor, dan catatan pendirian perusahaan, yang mengungkapkan identitas rahasia dari pemilik akun bank dan perusahaan di 21 wilayah atau yurisdiksi offshore. Di dalam data itu, tersimpan pula kerahasiaan hasil kejahatan, seperti harta hasil curian, korupsi, atau pencucian uang. Setidaknya ada 128 politikus dan pejabat publik dari seluruh dunia yang namanya tercantum dalam jutaan dokumen yang bocor ini.

Setelah diungkap, dokumen juga menunjukkan bagaimana Mossack secara teratur menawarkan klien mereka untuk membuatkan dokumen dengan tanggal mundur (backdated documents) guna membantu klien mereka mendapat keuntungan dari berbagai perjanjian bisnis mereka. Setiap satu bulan ke belakang, dalam penetapan tanggal dokumen perusahaan mereka, klien harus membayar US$ 8,75 kepada Mossack.

Data tersebut berhasil diungkap pertama kali oleh seorang reporter di Süddeutsche Zeitung. Kemudian ia membaginya dengan ICIJ dan semua media dalam kolaborasi ini. Tak ada media yang diminta membayar untuk memperoleh dokumen tersebut. Dokumen itu kemudian berujung pada sejumlah operasi penggeledahan di Jerman pada awal 2015. Dokumen ini kemudian ditawarkan pada otoritas pajak di Inggris, Amerika Serikat, dan sejumlah negara lain.

Baca juga: [Terungkap!] Musisi dan Para Bintang Porno Hendak Dibunuh Drone Inggris


[Source: Intelijen.co.id]
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s