Lanjutan dari artikel Latar Belakang Perebutan wilayah Laut China Selatan (Bagian 1)


Saat ini, konflik perebutan wilayah Laut China Selatan mulai memanas lagi

Ilustrasi (SINDOphoto).

Ilustrasi (SINDOphoto)


Pemerintah Republik Indonesia (RI) dinilai bisa saja menarik diri sebagai mediator atas sengketa di Laut China Selatan.

Hal demikian jika Pemerintah China tidak mengindahkan nota protes yang dilayangkan Indonesia melalui Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi atas ‎insiden yang terjadi di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesi‎a atau perairan Natuna belum lama ini.

Pakar hukum internasional dari Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana‎ mengatakan, insiden di ZEE Indonesia atau perairan Natuna itu sudah tentu akan mempengaruhi hubungan yang sudah terjalin dengan baik antarkedua negara, Indonesia dengan China.

“Bukannya tidak mungkin Pemerintah Indonesia menarik diri sebagai mediator yang jujur atas sengketa laut di Laut China Selatan,” kata Hikmahanto dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (26/3/2016).

Bahkan lanjut dia, Pemerintah Indonesia dapat melakukan evaluasi atas kerja sama ekonomi kedua negara, termasuk soal pembangunan infrastruktur dan dana pinjaman untuk itu.

“Ini dilakukan kalau Pemerintah China tidak mengindahkan protes Indonesia yang sudah dilakukan Menlu‎,” tuturnya.

Diketahui, pada operasi akhir pekan lalu, KP Hiu 11 milik Kementerian Kelautan dan Perikanan menangkap  kapal pelaku penangkapan ikan ilegal asal China, KM Kway Fey 10078, di perairan Natuna, Sabtu 19 Maret 2016.

Proses penangkapan tersebut tidak berjalan mulus, karena sebuah kapal coast guardChina secara sengaja menabrak KM Kway Fey 10078, Minggu 20 Maret 2016 dini hari ketika operasi penggiringan kapal nelayan ilegal dilakukan. Manuver berbahaya itu diduga untuk mempersulit KP Hiu 11 menahan awak KM Kway Fey 10078.‎

September 2014 – Squadron Heli Tempur Apache di Tanjung Pinang Jaga Pertahanan dan Keamanan di Laut China Selatan

Skuadron Heli Tempur Apache akan ditempatkan di Kepulauan Riau untuk menjaga pertahanan dan keamanan di Laut Cina Selatan. “Laut Cina Selatan sangat strategis karena memiliki cadangan minyak dan gas bumi yang besar,” kata Purnomo setelah mengadakan pertemuan tertutup dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di Tanjungpinang.

Ia juga mengatakan, kementeriannya berencana menempatkan skuadron pesawat terbang tanpa awak di perairan Kepri untuk berpatroli.

Pertemuan itu juga, katanya, membahas keamanan Kepri secara global sebagai wilayah terdepan Indonesia yang berbatasan dengan empat negara tetangga.
“Bukan hanya masalah pertahanan dan keamanan, tapi juga masalah perkembangan ekonomi secara global,” ujar Purnomo. Menurut dia, keamanan dan perkembangan ekonomi di Kepri harus seimbang sehingga saling mendukung satu sama lain.

“Perkembangan keamanan dan ekonomi itu harus seimbang. Jika ekonomi berkembang dan keamanan tidak berkembang atau sebaliknya, tidak akan ada gunanya,” ujarnya.

Dalam pertemuan itu, Menhan dan Pemprov Kepri juga membahas masalah bagi-hasil minyak dan gas serta interkoneksi antarpulau di Kepri untuk mendukung kemajuan ekonomi.

Sebelumnya, Purnomo Yusgiantoro juga meresmikan kapal jenis landing ship tank (LST), yakni Kapal Republik Indonesia (KRI) Teluk Bintuni 520, yang merupakan hasil produksi industri galangan kapal dalam negeri, di Srengsem, Panjang, Bandarlampung. Dalam kesempatan itu, ia juga melantik Komandan KRI Teluk Bintuni-520.

“Pengadaan satu unit kapal angkut ini bertujuan untuk mewujudkan kekuatan pokok keamanan dan pertahanan. Kapal angkut tank ini diproyeksikan untuk digunakan oleh jajaran lintas laut militer TNI AL,” kata Purnomo.

Hadir pada acara itu Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Marsetio dan Gubernur Lampung M Ridho Ficardo, serta pejabat terkait dalam peresmian tersebut. “Pembangunan kapal angkut tank ini merupakan bentuk pembinaan pemerintah untuk industri dalam negeri agar mengurangi ketergantungan dengan negara lain di masa mendatang. Pemerintah juga sudah membentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan untuk membina industri pertahanan,” ujar Purnomo.

KRI Teluk Bintuni 520 memiliki panjang 120 meter, dapat mencapai kecepatan 16.000 knot, didukung dua unit mesin yang masing-masing berkapasitas 3.285 KW.

Kapal yang dibangun dengan biaya sekitar Rp160 miliar dan dikerjakan selama 16 bulan ini, mampu mengangkut hingga 10 unit tank Leopard buatan Jerman seberat 62,5 ton ditambah 120 orang awak kapal dan 300 orang pasukan. Kapal tersebut tercatat sebagai kapal pertama yang diproduksi di Indonesia yang dapat mengangkut Leopard. Kapal ini dibuat oleh PT Daya Radar Utama.

April 2015 – Cina Bangun Tembok Raksasa di Laut Cina Selatan

Pemerintah Amerika Serikat telah menuduh Beijing melakukan reklamasi di Laut Cina Selatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. AS menyatakan, Cina telah membangun tembok pasir raksasa di wilayah Laut Cina Selatan yang disengketakan.

Tembok raksasa itu dibangun di atas wilayah seluas sekitar empat kilometer persegi. AS khawatir, tembok raksasa itu sebagai bagian untuk menguatkan klaim teritorial Cina di kawasan maritim itu.

Berbicara pada Konferensi Angkatan laut di Australia, pejabat Armada Pasifik AS, Laksamana Harry Harris Jr, mengatakan, Cina telah membangun tembok pasir di terumbu karang yang hidup. ”Paving berdiri ke atas dengan beton. Cina sekarang telah menciptakan pulau buatan seluasa lebih dari empat kilometer persegi,” katanya.

“Tapi apa yang benar-benar menarik banyak perhatian di sini dan saat ini adalah reklamasi lahan belum pernah terjadi sebelumnya, dan saat ini sedang dilakukan oleh Cina,” ujar Harris.

Terumbu yang terendam di Kepulauan Spratly, Laut Cina Selatan, katanya, telah berubah menjadi pulau buatan dengan bangunan, dermaga dan landasan pacu. Cina sendiri mengklaim sebagian besar wilayah laut di Laut Cina Selatan. Tapi klaim itu ditentang Filipina, Vietnam, Taiwan, Brunei, dan Malaysia.

Menurut Haris, kekhawatiran utama AS terkait proyek raksasa Cina itu adalah soal tujuan proyek yang diduga untuk basis militer Cina di Laut Cina Selatan. “Cina akan menjadi indikator kunci apakah wilayah ini menuju konfrontasi atau kerjasama,” katanya, seperti dilansir Russia Today (31/3/2015).

Pesawat Jepang Patroli Melingkar di Laut Cina Selatan

Pesawat mata-mata Jepang patroli di Laut China Selatan saat latihan perang dengan Filipina. (Intelijen)

Pesawat mata-mata Jepang patroli di Laut China Selatan saat latihan perang dengan Filipina. (Intelijen)


Sebuah pesawat mata-mata militer Jepang, P3-C Orion, patroli melingkar di atas Laut China Selatan, Selasa (23/6/2015). Aksi pesawat Jepang itu bagian awal dari latihan perang yang digelar besama Filipina.

Awak pesawat mata-mata Jepang P3-C Orion dengan tiga kru tamu dari Filipina terbang di atas ketinggian 5 ribu kaki (1.524 meter) di atas kepulauan sengketa yang kaya energi di Laut China Selatan.

Latihan perang yang itu berlangsung di dekat Kepulauan Spratly, sebuah kepulauan di Laut China Selatan yang diperebutkan China dan Filipina. China sendiri telah melakukan reklamasi di sekitar kepulauan itu.

”Kami berlatih pola pencarian dan penyelamatan yang penting dalam penyaluran bantuan kemanusiaan dan operasi penanggulangan bencana,” kata Marinir Filipina, Kolonel Jonas Lumawag di Bandara Internasional Puerta Princesa di Pulau Palawan, seperti dikutip Reuters.

”Ini adalah pertama kalinya kami di sini dan juga dengan jenis kegiatan kami dengan Filipina,” imbuh Kepala Kontingen Angkatan Laut Jepang, Komandan Hiromi Hamano. Menurutnya, pesawat mata-mata Jepang telah kembali ke Palawan.

Jepang sejatinya tidak terlibat sengeketa kawasan Laut China Selatan dengan China. Namun, Jepang khawatir dominasi China atas kawasan maritim itu akan membuat Jepang tersiolasi.

Sementara itu, kantor berita Pemerintah China, Xinhua, dalam laporannya mengutuk keterlibatan Jepang dalam latihan perang di sekitar Laut China Selatan. Media itu menyebut Jepang sudah “campur tangan” dalam konflik Laut China Selatan.

China mengklaim sekitar 90 persen kawasan Laut China Selatan yang luasnya lebih dari dari 3,5 juta km persegi. Klaim China itu berdasarkan peta kuno yang mereka miliki. Namun, klaim itu ditentang Filipina, Malaysia, Brunei, Vietnam dan Taiwan yang sama-sama mengklaim kawasan Laut China Selatan.


Di penghujung 2015, AS memprovokasi Cina


Oktober 2015 – AS Kirim Kapal Perang ke Laut Cina Selatan

Landasan Pacu Ke-3 Laut Cina Selatan (Intelijen)

Landasan Pacu Ke-3 Laut Cina Selatan (Intelijen)


Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) menegaskan sudah siap mengirim kapal perang ke perairan sengketa di Laut Cina Selatan. Pemerintah Cina sendiri telah membangun sebuah pulau buatan yang dilengkapi landasan udara.

Pimpinan Pentagon dalam beberapa hari akan mengirim kapal perang dengan jarak 22 kilometer dari zona pulau-pulau Cina.

Wilayah laut besar tersebut, ketika rezim Cina selalu mengklaim sebagai wilayahnya, tidak pernah diakui oleh Amerika Serikat (AS) sebagai teritori dari kedaulatan Cina.

Misi Angkatan Laut AS ini, menurut pejabat di AL, diperuntukan guna memperlihatkan sikap dari AS yang tidak menerima ketika Cina memutuskan kepemilikan wilayah tersebut. AS selalu melihat wilayah Laut Cina Selatan adalah wilayah ‘milik bersama’ jadi terbuka bagi ‘siapa pun’.

Karena bila dari sini sesuai hukum internasional bila negara memiliki wilayah perairan maka kedaulatan negara tersebut membentang sepanjang 22 km, dan negara berhak untuk melakukan apa pun terhadap sumber daya di sana juga menetapkan berbagi kebijakan di sana. Masalah kedaulatan ini adalah yang ditentang AS kepada Cina di Laut Cina Selatan.

Jadi bila ada kapal dagang negara lain lewat ataupun operasi militer yang lewat teritori tersebut bisa masuk ke kategori tindakan spionase.

Menteri Pertahanan AS Ashton Carter, sebagaimana dilansir Daily Mail, Jumat (9/10/2015), mengatakan, “ Militer Amerika Serikat siap terbang, berlayar dan mengadakan operasi di lokasi manapun yang sesuai dengan hukum internasional.”

Ketika kunjungan Presiden Cina Xi Jinping ke Gedung Putih Presiden AS Barack Obama mengatakan ia memberikan ‘perhatian yang sangat signifikan’ terhadap pulau buatan yang di buat Cina di Laut Cina Selatan.

China Diminta Tegas pada Provokasi AS

Media Beijing pada Kamis (15/10/2015) mengecam perilaku Amerika Serikat (AS) di Laut Cina Selatan yang mereka sebut sebagai provokasi tanpa henti. Media itu minta Pemerintah Cina bersikap tegas terhadap provokasi AS.

Seruan media Beijing, Global Times, itu muncul dalam editorialnya. Dalam tulisan itu, AS dianggap sudah melakukan provokasi terhadap Cina karena ingin mengirim kapal perang ke pulau buatan Cina di kawasan sengketa di Laut Cina Selatan.

“Provokasi tanpa henti dan pemaksaan,” bunyi editorial media yang terkait dengan Partai Komunis partai berkuasa di Cina.

”Cina tidak harus mentolerir pelanggaran yang marak oleh AS di perairan yang berdekatan dengan Cina dan di langit di atas pulau (Laut Cina Selatan),” lanjut editorial itu.”Militer harus siap untuk memulai penanggulangan sesuai dengan tingkat provokasi Washington.”

Seruan media Cina itu sebagai respons atas pernyataan pejabat senior di Washington, di mana militer AS berhak berlayar di sekitar pulau-pulau buatan Cina di Laut Cina Selatan selama berhari-hari atau berminggu-minggu.

Bahkan pejabat yang menolak diidentifikasi itu, menyatakan kapal perang AS akan melewati wilayah yang berjarak 12 mil dari batas teritorial yang diklaim Cina di wilayah sengketa tersebut.

Cina telah mengklaim hampir 90 persen kawasan Laut Cina Selatan. Tapi, klaim Beijing itu ditentang oleh Filipina, Malaysia, Brunei dan Vietnam.

Tantang Cina, AS Kirimkan Kapal Perang ke Pulau Sengketa

AS mengirimkan kapal penghancur USS Lassen ke wilayah sengketa di Laut Cina Selatan. (Intelijen)

AS mengirimkan kapal penghancur USS Lassen ke wilayah sengketa di Laut Cina Selatan. (Intelijen)


Kapal perang milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) berlayar mendekati wilayah perairan Kepulauan Spratly yang disengketakan di Laut China Selatan. Tindakan yang dilakukan AS ini seperti mengajukan tantangan langsung kepada China yang mengklaim kekuasaan teritorial mereka di wilayah itu.

Juru bicara Departemen Pertahanan AS, John Kirby mengatakan bahwa tindakan tersebut memang sengaja dilakukan oleh Negeri Paman Sam untuk memaksakan pengaruh mereka dan mempertahankan kebebasan berlayar di wilayah yang dianggap oleh AS sebagai perairan internasional.

“Anda tidak perlu berkonsultasi dengan negara mana pun saat Anda menggunakan kebebasan berlayar di perairan internasional,” kata Kirby dalam konferensi persnya sebagaimana dilansir New York Times, Selasa (27/10/2015). Dia menambahkan untuk hal-hal seperti inilah angkatan laut dibentuk.

Tindakan AS ini dipandang sebagai sebuah deklarasi yang menyatakan bahwa AS dan negara-negara lainnya tidak mengakui klaim China atas rangkaian pulau, termasuk pulau-pulau buatan mereka yang terdapat di Laut China Selatan. Sehingga perairan tersebut tetap menjadi sebuah wilayah laut internasional.

Manuver militer ini telah disetujui oleh Presiden Barack Obama yang telah mengisyaratkan tindakan yang akan diambilnya dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York bulan lalu.

Meski mendapat tentangan dari AS dan negara-negara yang bersengketa, China telah mengklaim bagian dari perairan strategis di Laut China Selatan dengan membangun pulau-pulau buatan yang cukup besar untuk landasan udara, dan menempatkan radar, prajurit dan perlengkapan militer mereka.

Dalam manuver kali ini, AS yang belum pernah mendekati wilayah pulau tersebut sejak Mei 2012, mengirimkan USS Lassen, sebuah kapal kelas penghancur yang dilengkapi dengan rudal, mendekati wilayah 12 mil laut di sekitar pulau-pulau buatan China. USS Lassen akan melakukan patroli di wilayah itu selama beberapa jam.

November 2015 – China Kirim Jet Tempur ke Laut Cina Selatan

Akibat kehadiran kapal Angkatan Laut (AL) Amerika Serikat (AS) di Laut Cina Selatan, dilaporkan Cina mengirim pesawat jet tempur ke sana sebagai bentuk respons.

Jet tempur milik AL Cina yang dipersenjatai misil sedang melaksakan latihan di wilayah laut sengketa, tepatnya di dekat perbatasan Vietnam. Penyebabnya, Cina geram terhadap provokasi AS di regional tersebut.

Sebuah foto dirilis oleh AL Cina yang menunjukkan kedatangan jet tempur. Disampaikan oleh sumber militer mengatakan pesawat tersebut dioperasikan dari gugusan Pulau Paracel yang menjadi wilayah sengketa antara Cina dan Vietnam.

Pekan lalu, AL AS mengirim kapal perang dengan senjata misil di dekat wilayah Laut Cina Selatan yang hanya berjarak 12 mil laut dari gugusan Pulau Spratly. Banyak yang menganggap ini sebuah provokasi kepada Cina untuk menunjukkan ketidaksetujuan AS dengan klaim Cina.

Kepulauan Paracel bersama gugusan Pulau Spratly adalah wilayah sengketa yang selalu menjadi momok antara Cina dan beberapa negara tetangga di regional tersebut, khususnya Filipina dan Vietnam.

Banyak yang menganggap bahwa Cina tidak peduli dengan aturan hukum laut internasional dan langsung memberikan klaim terhadap gugusan pulau itu. Alasannya, wilayah tersebut sudah menjadi milik Cina dari zaman leluhur mereka.

Seorang mantan jenderal militer Cina bernama Xi Guanyu, sebagaimana dilansir Time, Senin (2/10/2015), berkomentar terhadap latihan jet tempur Cina dengan mengatakan, “Ini adalah sinyal yang diberikan oleh Cina kepada AS bahwa mereka serius terhadap klaim kepemilikan terhadap wilayah tersebut.”

TNI AL Kerahkan 7 KRI ke Natuna

Kapal TNI AL. (Intelijen)

Kapal TNI AL. (Intelijen)


TNI Angkatan Laut mengerahkan 7 kapal KRI untuk memberi deterrence effect kepada sejumlah negara yang bersengketa di wilayah perairan Laut Cina Selatan. Ketujuh kapal KRI tersebut sudah berada di Lanal Ranai, Natuna.

“Itu kan operasi rutin, kita kan dalam 365 hari kegiatan patroli itu kegiatan patroli pengamanan perbatasan, ZTE. Dan juga kegiatan patroli yang berkenaan dengan keadilan di laut, baik di Laut Natuna, Sulawesi, maupun Samudera Hindia. Termasuk yang sudah tergelar berkaitan dengan kerjasama bersama tetangga, patroli koordinasi,” kata Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Ade Supandi di Mabes Angkatan Laut, Cilangkap, Jakarta, Jumat (6/11).

Namun Laksamana Ade Supandi, tak menyebutkan tujuh KRI tersebut. Akan tetapi, dia mengatakan pihaknya melakukan pengawasan dan mengamankan jalur laut.

“Mengamankan jalur-jalur pendekat ke kita, jadi tidak bisa sembarangan. Terus ada kegiatan inventionaly belakangan ini dan baru menggerakkan unsur, sebenarnya kan nggak. Kalau di lihat dari laporan-laporan AL ke Mabes TNI itu adalah bagian dari komitmen dari Mabes TNI untuk menjaga kedaulatan NKRI, termasuk di Laut Sulawesi,” kata mantan Pangarmatim ini.

Sebelumnya, situasi di Laut Cina Selatan makin panas. Ketegangan di Laut Cina Selatan belakangan memanas seiring kapal perang Amerika Serikat yang melakukan patroli di Laut Cina Selatan.

Sementara Indonesia masuk dalam pusaran konflik Laut Cina Selatan setelah pemerintah Tiongkok memasukkan sebagian wilayah Natuna ke peta wilayahnya. Meski belum berpengaruh terhadap hubungan Jakarta-Beijing, sikap keras diperlihatkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang menolak ajakan Menteri Pertahanan Tiongkok Chang Wanquan untuk menggelar latihan bersama di Laut Cina Selatan.

Jenderal Gatot beralasan, semua negara harus menahan diri untuk tidak melakukan aktivitas militer di kawasan tersebut.

Mahkamah Internasional

Menkopolhukam Indonesia Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, Indonesia bisa menjadi negara kedua di kawasan itu yang menantang klaim Cina atas seluruh wilayah di Laut Cina Selatan, termasuk kepulauan Natuna milik Indonesia.

Ini terjadi jika Cina dan Indonesia tidak bisa menyelesaikan perselisihan wilayah itu lewat dialog.

Luhut Panjaitan hari Rabu (11/11/2015) mengatakan Indonesia bekerja keras menyelesaikan isu itu dan berupaya mendekati Cina untuk membahas keprihatinan tentang klaim wilayah Cina yang kontroversial di Laut Cina Selatan.

“Kami ingin melihat solusi masalah ini dalam masa dekat lewat dialog, atau kami akan membawanya ke Mahkamah Kriminal Internasional (ICC),” ujar Luhut.

Filipina telah mengadukan Cina ke mahkamah internasional, dan baru-baru ini mahkamah itu memutuskan akan mendengar beberapa klaim yang diajukan Filipina terhadap Cina.

Cina menolak keras arbitrase itu. Cina telah sejak lama mengatakan bahwa perselisihan di Laut Cina Selatan seharusnya diselesaikan secara bilateral dan tidak lewat intervensi internasional.

Cina mengklaim hampir seluruh wilayah Laut Cina Selatan sebagai bagian dari wilayahnya dan menggunakan apa yang disebut sebagai “sembilan garis putus-putus” untuk menjelaskan klaimnya itu.

Namun, masalahnya adalah garis putus-putus yang digunakan Cina itu menyentuh zona ekonomi ekslusif beberapa negara lain. Selain Indonesia dan Filipina, Vietnam, Taiwan, Malaysia dan Brunei Darusalam kini memiliki klaim yang tumpang tindih dengan Cina.

“Kita tidak ingin melihat ada negara manapun yang memproyeksikan kekuatannya di wilayah itu. Kita menginginkan solusi damai dengan mendorong dialog,” lanjut Luhut.

“Sembilan garis putus-putus itu adalah masalah yang kita hadapi sekarang ini, dan tidak saja menjadi masalah Indonesia,” tambahnya.

Klaim sembilan garis putus-putus Cina itu mencakup kepulauan Natuna milik Indonesia.

Pernyataan Luhut Panjaitan itu disampaikan beberapa hari menjelang pertemuan para pemimpin dalam forum APEC, Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik, di Manila, Filipina. China sudah mengatakan tidak ingin masalah Laut Cina Selatan menjadi agenda dalam pertemuan itu.

Presiden Xi Jinping mengatakan akan menghadiri forum APEC, meskipun perselisihan dengan Filipina masih terus berlangsung. Sebagai tuan rumah, Filipina tidak akan membawa isu ini dalam pertemuan tersebut.

Namun, beberapa peserta tampaknya akan membahas perselisihan itu di sela-sela pertemuan, meskipun fokus utama adalah isu kerjasama ekonomi dan perdagangan.

Amerika baru-baru ini melaksanakan apa yang disebut sebagai misi navigasi pelayaran yang bebas dalam zona 12 mil dari pulau-pulau buatan di Laut Cina Selatan, yang dibangun Cina dengan cepat dan menimbulkan keprihatinan bahwa pulau-pulau itu terutama akan digunakan oleh militer. Tapi keprihatinan itu berulangkali dibantah Cina.

Dua Pesawat Pembom Nuklir B-52 AS Manuver di Laut Cina Selatan

pesawat pembom nuklir B-52. (Intelijen)

pesawat pembom nuklir B-52. (Intelijen)


Situasi di Laut Cina Selatan kembali tegang setelah dua pesawat pembom nuklir B-52 milik Amerika Serikat (AS) bermanuver di dekat pulau buatan Cina di kawasan sengketa itu. Pesawat pembom nuklir itu mengabaikan teguran keras Cina yang minta pesawat itu untuk hengkang.

Pentagon mengatakan, penerbangan pesawat pembom nuklir AS adalah misi rutin sesuai hukum internasional. AS tetap menganggap wilayah Laut Cina Selatan sebagai wilayah internasional, di mana pesawat dan kapal negara mana pun bebas bernavigasi setiap saat.

”Kami melakukan penerbangan B-52 di wilayah udara internasional di bagian dunia sepanjang waktu,” kata juru bicara Pentagon Peter Cook dalam konferensi pers, kemarin.

”Ada satu pesawat B-52, ada upaya yang dilakukan oleh pengendali daratan Cina untuk menjangkau pesawat itu dan pesawat yang terus melanjutkan misinya. Tidak ada yang berubah,” lanjut Cook, seperti dikutip Russia Today, semalam. Juru bicara pentagon lainnya, menyebut tidak hanya satu pesawat pembom yang bermanuver tapi dua.

Manuver pesawat pembom nuklir AS itu berlangsung 8-9 November 2015. Juru bicara Pentagon lainnya, Bill Urban mengatakan, ada dua pesawat pembom yang melakukan misi rutin itu.

Manuver itu hanya berselang sekitar dua minggu setelah kapal perang AS, USS Lassen bermanuver di wilayah yang berjarak 12 mil dari pulau buatan Cina di Kepualauan Spratly, Laut Cina Selatan. Aksi kapal perang AS itu telah diprotes keras Kementerian Luar Negeri Cina.

”Tindakan ini dari kapal perang AS merupakan ancaman bagi kedaulatan dan keamanan Cina, dan keselamatan orang yang hidup di pulau-pulau itu. Mereka merusak perdamaian dan stabilitas di kawasan itu. Dalam hal ini, pihak Cina mengungkapkan ketidakpuasan yang ekstrem dan sangat memprotes,” bunyi pernyataan yang ditulis di situs Kementerian Luar Negeri Cina.


Selanjutnya: Latar Belakang Perebutan wilayah Laut China Selatan (3)

Iklan

2 responses »

  1. […] Lanjutan dari artikel Latar Belakang Perebutan wilayah Laut China Selatan (2) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s