Lanjutan dari artikel Latar Belakang Perebutan wilayah Laut China Selatan (Bagian 2)


November 2015 – Luhut Panjaitan-Robert Blake Jr Bahas Keamanan

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Luhut Panjaitan, membahas keamanan terkini dengan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Robert Blake Jr.

“Tadi kami membahas masalah Laut Cina Selatan. Ia menjelaskan mengenai posisi Indonesia dan posisi Indonesia jelas tidak terlibat langsung dalam konflik di Laut Cina Selatan,” kata Panjaitan, di Jakarta, Kamis.

Pandjaitan menyatakan, Indonesia dan Amerika Serikat sepakat mengedepankan dialog dalam menyelesaikan konflik di Laut Cina Selatan.

“Tadi kami juga bicara mengenai kerja sama keamanan,” kata dia.

Selain masalah Laut Cina Selatan, kata Lu, mereka juga membahas usulan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, untuk mengadakan pertemuan di California antara ASEAN dan Amerika Serikat.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, menyatakan, perlu mengedepankan diplomasi pertahananan untuk menghadapi perkembangan situasi di Laut Cina Selatan.

“Salah satu implementasi konsep tersebut adalah proposal pelaksanaan patroli perdamaian bersama di Laut Cina Selatan,” kata Ryacudu.

Hal tersebut, kata dia, telah disampaikan bersamaan dengan forum Shangri La Dialogue, di Singapura pada 30 April 2015 lalu.

“Sebelum mengajukan proposal tersebut, posisi Tiongkok yang relatif lebih keras telah menjadikan situasi keamanan dan tensi di Laut Cina Selatan relatif memanas (alarm merah) dan sangat sulit mempengaruhi Tiongkok,” katanya.

Namun, kata dia, setelah mempelajari dan mempertimbangkan proposal tersebut, ada indikator sikap Cina melunak (alarm kuning).

“Hal ini tercermin dari Wakil Ketua Komisi Militer Tiongkok, Fan Chang Long, yang menyatakan keberadaan Tiongkok di Laut Cina Selatan untuk membawa perdamaian sebagai pekarangan kita bersama sehingga perlu kita amankan secara bersama-sama,” kata Menhan.

Cina juga menggaris bawahi bahwa proposal patroli perdamaian tersebut juga mendapat tanggapan positif dari beberapa negara kawasan antara lain Singapura, Malaysia, Australia, Filipina, Kamboja, dan Jepang.

“Bahkan AS telah mengajak Jepang untuk melaksanakan patroli bersama di Laut China Selatan, termasuk juga Menhan Australia dalam suatu kesempatan menawarkan kegiatan yang sama,” ucap dia.

Januari 2016 – Cina Daratkan Pesawat di Pulau Sengketa Laut Cina Selatan

Cina mendaratkan dua pesawat di pulau sengketa di Laut Cina Selatan. (Intelijen)

Cina mendaratkan dua pesawat di pulau sengketa di Laut Cina Selatan. (Intelijen)


Cina kembali mendaratkan dua pesawat di pulau sengketa di Laut Cina Selatan pada hari Rabu kemarin. Beijing sebelumnya juga melakukan hal serupa meski dikecam sejumlah negara, khususnya yang terlibat sengketa kawasan kaya raya tersebut.

“Dua pesawat sipil mendarat Rabu pagi di Fiery Cross, Kepulauan Spratly selama ‘tes penerbangan’,” tulis kantor berita Xinhua. Selain Cina,Vietnam juga mengklaim wilayah di Kepulauan Spartly tersebut.

Pesawat-pesawat itu berangkat dari dan pulang ke Kota Haikou, Ibu Kota Provinsi Hainan selatan. Perjalanan berlangsung selama dua jam.

”Penerbangan ini bagian dari tes yang sukses, yang membuktikan bahwa bandara ini dilengkapi dengan kapasitas untuk memastikan operasi yang aman dari pesawat sipil berukuran besar,” lanjut Xinhua. Bandara itu diklaim dilengkapi fasilitas yang akan membantu pasokan transportasi hingga bantuan medis.

Cina telah mengklaim hampir seluruh kawasan Laut Cina Selatan berdasarkan peta kuno yang mereka miliki. Namun, Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei dan Taiwan juga memiliki klaim yang saling tumpang tindih.

Cina telah menegaskan klaim atas kawasan itu dengan membangun pulau buatan secara cepat, termasuk landasan pacu yang mampu menjadi tuan rumah bagi pesawat jet militer.

Pembangunan Cina di kawasan sengketa dimulai sejak 2014. Pada Sabtu lalu, Cina  juga mendaratkan sebuah pesawat sipil di landasan pacu dalam uji terbang perdana di kawasan Laut Cina Selatan.

Februari 2016 – Cina Kirim Rudal Canggih ke Pulau Sengketa LCS

Sistem rudal pertahanan HQ-9 milik China (Intelijen)

Sistem rudal pertahanan HQ-9 milik China (Intelijen)


Militer Cina diyakini telah mengirim rudal kendali darat ke udara canggih ke salah satu pulau sengketa di Laut Cina Selatan (LCS). Keyakinan itu diperkuat data dari citra satelit warga sipil.

Gambar dari ImageSat International itu menunjukkan ada dua deret peluncur untuk delapan rudal kendali darat ke udara beserta sistem radar ke Pulau Woody yang berada di kepulauan Paralel. Pulau Woody diketahui juga diklaim kepemilikannya oleh Taiwan dan Vietnam.

“Meski saya tidak bisa mengomentari urusan yang berhubungan dengan intelijen, tapi kami menaruh perhatian sangat besar terhadap urusan ini,” ujar juru bicara Pentagon Bill Urban, seperti diberitakan Reuters, Rabu (17/2/2016).

Rudal tersebut diyakini tiba di Pulau Woody pada akhir pekan lalu. Berdasarkan citra satelit, rudal-rudal itu terlihat pada Minggu 14 Februari. Keakuratan foto tersebut dikonfirmasi oleh salah seorang pejabat Amerika Serikat (AS).

Menurut pejabat itu, gambar menunjukkan rudal sistem pertahanan udara berjenis HQ-9 yang dapat mencapai jarak 200 kilometer dan merupakan ancaman nyata bagi pesawat jenis apa pun yang melintas di dekatnya.

Laporan tersebut datang di tengah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang turut dihadiri Presiden AS Barack Obama di Kanada. Dalam konferensi pers, pria kelahiran Hawaii itu menyatakan dirinya bersama para pemimpin ASEAN berdiskusi untuk meredakan ketegangan di LCS dan setuju bahwa sengketa di wilayah mana pun harus diakhiri secara damai.

Pembalasan Beijing, Cina Usik Penyebaran Rudal AS di Hawaii

Foto citra satelit menunjukkan rudal dikerahkan di pulau sengketa di Laut China Selatan. (Intelijen)

Foto citra satelit menunjukkan rudal dikerahkan di pulau sengketa di Laut China Selatan. (Intelijen)


Beijing tidak terima jadi bulan-bulanan kritikan Amerika Serikat (AS) atas penyebaran rudal canggih di Laut Cina Selatan. Cina membalas dengan mengkritik AS atas penyebaran rudal canggih di Hawaii.

Kritikan balasan itu dilontarkan oleh Kementerian Luar Negeri Cina pada hari Senin. Kritik balasan itu muncul menjelang kunjungan Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, ke AS pekan ini.

Cina tidak membantah dan tidak pula membenarkan laporan penyebaran rudal di kawasan sengketa Laut Cina Selatan yang terpantau citra satelit.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hua Chunying, mengatakan, Washington tidak harus menggunakan isu fasilitas militer di pulau-pulau Laut Cina Selatan sebagai “dalih untuk membuat keributan”.

”AS tidak terlibat dalam sengketa Laut Cina Selatan, dan ini bukan dan tidak menjadi masalah antara Cina dan AS,” kata Hua dalam konferensi pers, yang dikutip Reuters, Selasa (23/2/2016).

Hua mengatakan, apa yang dilakukan Beijing di Laut Cina Selatan adalah untuk melindungi wilayah kedaulatannya. Menurutnya, hal itu tak jauh beda dengan apa yang dilakukan AS di Hawaii, yakni dengan menyebarkan rudal.

”Penggelaran diperlukan, terbatas pada sarana pertahanan Cina di wilayahnya sendiri, tidak berbeda secara substansial dari AS yang membela Hawaii,” ucap Hua. Dia menegaskan, bahwa AS juga tidak memiliki klaim resmi atas wilayah Hawaii.

Sementara itu, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Mark Toner, kembali menekankan sikap AS yang mendesak Cina untuk meredam ketegangan di Laut Cina Selatan dengan tidak melakukan militerisasi di kawasan sengketa.

Seperti diketahui, Cina mengklaim hampir 90 persen kawasan Laut Cina Selatan yang kaya. Namun, Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei, dan Taiwan juga saling mengklaim.

“Kegiatan militerisasi hanya meningkatkan ketegangan,” kata Toner. ”Perlu ada mekanisme diplomatik di tempat yang memungkinkan klaim teritorial ini harus diselesaikan dalam cara damai,” katanya lagi.

Namun, pernyataan diplomat AS itu kembali dibalas Cina. Beijing, menuduh balik AS justru meningkatkan ketegangan regional di Laut Cina Selatan dengan beberapa kali melakukan patroli di kawasan menggunakan pesawat militer dan kapal perang.

”Ini, ini yang merupakan penyebab terbesar dari militerisasi di Laut Cina Selatan. Kami berharap bahwa AS tidak membingungkan antara benar dan salah dalam masalah ini atau berlatih menggunakan standar ganda,” tegas Hua.

Cina Tak Terima Militernya di Laut Cina Selatan Disentil Australia

Militer Cina di Laut Cina Selatan. (Intelijen)

Militer Cina di Laut Cina Selatan. (Intelijen)


Pemerintah Cina tidak terima dengan sikap Australia yang menyentil keberadaan militer Beijing di Laut Cina Selatan.

Cina menganggap Australia sudah berkomentar negatif pada Beijing.

”Kami berharap pihak Australia dapat (bersikap) benar dan positif melihat pengembangan dan tujuan strategis Cina,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina; Hua Chunying, pada konferensi pers di Beijing, kemarin, seperti dikutip news.com.au, Jumat (26/2/2016).

Ketika ditanya apakah Cina ingin melihat sebuah perlombaan senjata di kawasan Laut Cina Selatan. Hua mengatakan; ”Jawabannya pasti tidak ada”.

Perdana Menteri Australia; Malcolm Turnbull, pada hari sebelumnya meluncurkan sebuah cetak biru pertahanan baru yang ambisius. Dia memperingatkan bahwa setengah dari kapal selam dunia dan pesawat tempur canggih akan beroperasi di wilayah Indo-Pasifik dalam dua dekade mendatang.

“Kami akan khawatir jika persaingan untuk (berebut) pengaruh dan pertumbuhan dalam halkemampuan militer menyebabkan ketidakstabilan dan mengancam kepentingan Australia, apakah di Laut Cina Selatan, Semenanjung Korea atau lebih jauh,” katanya sambil meluncurkan “Buku Putih Pertahanan” baru.

Makalah itu menguraikan serangkaian faktor yang akan membentuk pandangan strategis Australia pada 2035, terutama soal hubungan antara Cina dan AS yang akan tetap menjadi kekuatan global unggulan selama periode tersebut.

Maret 2016 – Kapal Induk & Rombongan Kapal Perang AS Masuk Laut Cina Selatan

Armada Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) yang dipelopori oleh kapal induk, USS John C Stennis, berlayar di Laut Cina Selatan di dekat pulau sengketa. Kapal Induk AS itu disertai rombongan kapal perang dan ribuan pelaut AS.

Dua kapal perang AS dalam rombongan itu antara lain, kapal perusak USS Stockdale dan USS Chung-Hoon. Selain itu kapal penjelajah Mobile Bay dan Atietam ikut serta dalam pelayaran.

Para pejabat AS berdalih, pelayaran kapal induk dan rombongan kapal perang itu merupakan misi patroli rutin. Patroli itu berlangsung di tengah ketegangan di Laut Cina Selatan setelah China mengerahkan sistem rudal canggih dan sistem radar militer di pulau sengketa.

Patroli rombongan kapal perang AS itu membuat pejabat pemerintah Beijing marah.

”Kami merasa bahwa tindakan AS dalam mengirim kapal dan pesawat di dekat Kepulauan Spratly dan terumbu sebagai unjuk kekuatan bukan hal yang baik. Ini membangkitkan perasaan jijik di kalangan orang-orang Cina,” kata Fu Ying, juru bicara dari National People Congress (NPC) yang juga mantan Wakil Presiden Cina, kepada wartawan pada Jumat (4/3/2016).

”AS telah mengatakan; tidak mengambil sikap atas sengketa teritorial Laut Cina Selatan, tetapi tindakannya tampaknya ditujukan untuk memanaskan ketegangan, yang menimbulkan pertanyaan serius atas motifnya,” lanjut Fu.

AS telah lama menuduh Beijing melakukan militerisasi di Laut Cina Selatan. Namun Beijing membela diri dengan mengklaim bahwa apa yang dilakukan Cina adalah untuk pertahanan atas pulau-pulau di wilayah kedaulatannya.

”Tuduhan (Cina melakukan militerisasi) dapat menyebabkan salah perhitungan situasi. Jika Anda melihat pada materi yang erat, AS justru mengirim pesawat paling canggih dan kapal militer ke Laut Cina Selatan,” imbuh Fu, seperti dikutip IB Times.

AS telah melakukan dua patroli navigasi kontroversial di Laut Cina Selatan sejak Oktober 2015. Dalam salah satu patroli, kapal perang AS berlayar 12 mil laut dari pulau yang disengketakan yang dianggap Beijing sebagai langkah provokatif.

Kapal Penjaga Pantai China yang masuk teritorial ZEE Indonesia (Intelijen)

Kapal Penjaga Pantai China yang masuk teritorial ZEE Indonesia (Intelijen)


Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) AS melalui Kantor Biro Asia Timur dan Pasifik menyatakan, kapal Cina jelas-jelas sudah melanggar teritorial perairan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) Indonesia.

Sebagaimana diketahui, beberapa waktu lalu, Satgas KKP dengan menggunakan kapal patroli, menangkap kapal pencuri ikan asal Cina.

Namun proses penangkapan itu sempat diusik kapal penjaga pantai Cina. Kapal nelayan Cina gagal ditarik kapal KKP, tapi delapan nelayan China sudah sempat lebih dulu diamankan.

Bahkan sempat mencuat informasi lain yang dikatakan anggota DPR, Fahri Hamzah, bahwa kapal TNI AL sempat ditembaki kapal Cina yang notabene, masih di wilayah perairan Indonesia, tepatnya di posisi 05°05,866’N. 109°07, 046’E jarak 2,7 mil haluan 67°.

“Sungguh jadi hal yang mengganggu ketika melihat isu-isu perikanan jadi permasalahan. Dalam kasus Indonesia (di Natuna), kita bahkan tidak membicarakan tentang Laut Cina Selatan (LCS),” papar Deputi Asisten Sekretaris Biro Asia Timur dan Pasifik, Colin Willett.

“Kita semua mengakui ZEE Indonesia. Saya rasa insiden ini hanya sekadar satu hal dari pola yang lebih besar, di mana lingkup dan skala aktivitas Cina sudah lebih dari negara-negara lain yang ikut mengklaim LCS,” tambahnya kepada Strait Times, Rabu (30/3/2016).

Cina nampaknya sudah mulai mengklaim Natuna, setelah membangun pulau buatan di LCS, sekaligus dengan landasan udara dan sistem misil anti-udara. Klaim Cina, pulau buatan itu dibangun demi melindungi warga sipil mereka.

“Yang pasti kita tak butuh fasilitas-fasilitas (landasan udara dan sistem misil) seperti itu untuk melindungi warga sipil atau nelayan yang dalam keadaan darurat atau juga untuk memonitor cuaca,” lanjut Willett.

“Landasan udara yang mereka bangun didesain untuk mengakomodir pesawat-pesawat pembom strategis. Kami masih melihat operator radio mereka menantang kapal-kapal asing serta pesawat yang beroperasi menurut hukum internasional dan mereka diperingatkan untuk menjauh,” tuntasnya.


Selanjutnya: Latar Belakang Perebutan wilayah Laut China Selatan (4)

Iklan

2 responses »

  1. […] Artikel lanjutan dari: Latar Belakang Perebutan wilayah Laut China Selatan (3) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s