Lebih dari 90 persen kebakaran hutan disebabkan karena manusia atau “sengaja dibakar”

KEBAKARAN HUTAN. Petani membuka hutan di dekat hutan Bukit Tiga Puluh, Riau, 2008. Foto oleh Rappler.com

KEBAKARAN HUTAN. Petani membuka hutan di dekat hutan Bukit Tiga Puluh, Riau, 2008. Foto oleh Rappler.com

Fenomena cuaca El Nino, yang menyebabkan hampir seluruh wilayah kepulauan Indonesia menjadi kering, bukanlah biang kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan.

Berdasarkan laporan sebuah lembaga riset, faktor manusia merupakan penyebab kebakaran hutan di sejumlah provinsi. Lebih dari 90 persen kebakaran hutan disebabkan karena manusia, atau sengaja dibakar.

Meskipun cuaca panas dan kering memperparah dan memperluas titik api di sejumlah provinsi seperti Riau, Jambi, dan Pontianak dan menyebabkan kabut asap pekat, pemantik apinya adalah manusia.

“Kebakaran hutan adalah kejahatan terorganisasi karena lebih dari sembilan puluh persen disebabkan manusia atau sengaja dibakar. Tujuannya membuka lahan perkebunan,” kata peneliti Center for International Forestry Research (CIFOR)Herry Purnomo di sela-sela Konferensi Jurnalis Sains Indonesia di Bogor, pekan lalu.

Guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) itu mengatakan pembakaran hutan merupakan cara yang paling murah untuk mengubah lahan hutan menjadi kebun kelapa sawit, sekaligus mendongkrak harga lahan.

Riset CIFOR mencatat bahwa terjadi kenaikan harga lahan sekitar Rp 3 juta setelah pembakaran lahan.

Sebelum terbakar, harga lahan berkisar Rp 8 juta, dan setelah terbakar menjadi Rp 11 juta per hektar.

Setelah ditanami sawit, harganya berlipat lagi, sekitar Rp 50 juta, dan bisa mencapai Rp 100 juta per hektar apabila ditanami sawit bibit unggul.

Karenanya, kata Herry, di luar masyarakat yang menderita kerugian akibat kabut asap, sekelompok orang justru menikmati hasil dari kebakaran hutan. Mereka adalah orang pengejar keuntungan ekonomi dari pembakaran seperti kelompok tani, pengklaim lahan, perantara penjual lahan, dan investor sawit.

“Pihak yang paling mengetahui informasi pembakaran hutan adalah pemerintah kabupaten, kecamatan, desa, dan LSM lokal. Pemerintah desalah yang mengeluarkan surat keterangan tanah untuk kebun sawit baru,” kata Herry.

Saat ini kelapa sawit menjadi “emas hijau” yang banyak diincar investor, dari mulai perusahaan raksasa hingga investor perorangan karena merupakan investasi paling menguntungkan.

Karenanya, pembakaran hutan, menurut riset CIFOR, merupakan cara menghasilkan uang dengan mudah.

Solusinya, menurut CIFOR, adalah memutus jaringan para pemburu keuntungan ekonomi dari pembakaran hutan, dari petani ke investor, menyusun tata ruang dan lahan, serta penegakan supremasi hukum.

Selain itu pemerintah seharusnya memberikan alokasi dana yang lebih besar untuk pencegahan kebakaran jangka panjang, bukan pada pemadaman api.

“Rekayasa hujan buatan itu proyek mahal tetapi tidak menyelesaikan masalah,” kata Herry.

Berdasarkan pantauan Rappler di Riau dan Jambi beberapa waktu lalu, industri kelapa sawit masih merupakan primadona ekonomi. Tak hanya perusahaan besar yang memiliki jutaan hektar kebun, masyarakat kecil juga ikut bermain dalam bisnis ini dari mulai puluhan hingga ratusan hektar.

Kerugian ekonomi dan ekologi

CIFOR memaparkan risetnya di Riau tahun ini, bahwa kebakaran hutan di provinsi itu melepaskan sekitar 1,5 hingga 2 miliar ton karbondioksida. Riau menyumbang 10% emisi gas karbon nasional setiap tahunnya.

Kerugian ekonomi akibat kabut asap mencapai sekitar Rp 20 triliun dalam dua bulan, sedangkan Singapura mengklaim kerugian sekitar Rp 16 triliun.

Selama September hingga Oktober mendatang, kerugian diprediksi akan mencapai dua kali lipat, karena merupakan puncak El Nino yang menyebabkan udara dan tanah semakin kering.

Pembakaran hutan di Riau yang terus berlanjut juga akan berdampak pada krisis lingkungan yang parah dan hilangnya sumber air bagi manusia karena wilayah itu tidak memiliki gunung dan pegunungan yang berfungsi menyimpan cadangan air tanah.

“Air tanah disimpan di hutan-hutan gambut. Karenanya, jika gambut terbakar dan kering, maka hampir dipastikan cadangan air tanah di Riau juga kering. Ini bisa mengancam peradaban,” kata Herry.

Secara terpisah, peneliti ekologi tumbuhan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Yuni Setio Rahayu, menyebutkan bahwa kebakaran hutan berdampak serius pada menyusutnya keragaman hayati di Indonesia, yang jumlahnya paling banyak di dunia melebihi Brasil.

Keragaman hayati hutan tropis, misalnya, memiliki lebih dari 260 spesies tanaman per hektar, belum termasuk spesies satwa. Namun, kebakaran hutan dan pembukaan lahan secara tak terkendali setiap tahun mengancam kepunahan berbagai ekosistem.

Di Kalimantan Tengah, misalnya, dampak kebakaran hutan terhadap penyusutan populasi keragaman hayati terlihat jelas. Belum ada riset yang menyeluruh di Riau dan Jambi, namun dampaknya diprediksi jauh lebih besar karena luasnya kebakaran.

“Menurut riset LIPI di Kalimantan Tengah, dari 125 spesies tanaman hutan yang diidentifikasi, hanya 10 persen dari populasi yang masih tersisa. Artinya, sebagian besar populasi musnah,” kata Yuni di Cibinong Science Center.

Selain pemusnahan langsung oleh api, kebakaran hutan juga menyebabkan kepunahan spesies secara perlahan. Emisi gas karbon yang terus meningkat juga menyumbang kenaikan suhu bumi dan pemanasan global.

“Pergeseran cuaca, perubahan suhu, dan curah hujan akan menyebabkan spesies beradaptasi ulang, yang tidak mampu akan punah,” kata Yuni.

[Rappler.com]
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s