Kebanyakan Penyebab Kebakaran Adalah Karena Korsleting Listrik

Tahun 2015 terdapat lebih dari 200 kebakaran pasar tradisioanal, dan ini menjadi tahun terburuk dalam sejarah pasar tradisional Indonesia.

“Penyebab resmi yang selalu muncul selalu sama, korsleting listrik. Titik. Saya tahu susah untuk mempercayai bahwa semua kebakaran pasar itu dikarenakan korsleting listrik apalagi jika kita sudah tahu dengan pasti ada dana revitalisasi yang siap dieksekusi oleh investor,” kata Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional (Ikappi), Abdullah Mansuri, dalam keterangannya (Minggu, 18/10/2015).

Menurut Abdullah, dalam persoalan kebakaran ada tiga hal penting yang harus disepakati.

  • Pertama, jika memang sudah ada wacana soal revitalisasi atau relokasi yang sudah ada bibit-bibit sengketa di dalamnya, apa yang harus dilakukan pedagang agar kejadian pembakaran pasar tidak terjadi lagi.
  • Kedua, untuk pasar-pasar yang sudah terbakar, apa yang harus dilakukan agar kepentingan pedagang terlindungi dan mereka tidak terputus sumber penghidupannya.
  • Ketiga, jika memang penyebab kebakaran karena korsleting listrik, apa langkah pencegahan yang dapat disepakati bersama olah para pedagang pasar, dan agaimana agar pengelolaan pasar bisa mencegah kebakaran. Lalu yang akan mengontrol instalasi listrik di pasar.

“Sekali lagi, kita disini adalah kolektif, bukan hanya Ikappi dan para pedagang, namun juga apa kita harapkan akan dilakukan oleh pemerintah di pusat dan daerah, pengelola pasar  atau bahkan PT PLN sebagai yang punya listrik agar kebakaran pasar ini tidak terus berlanjut,”kata Abdullah dalam Rapimnas Ikappi di Jakarta.

Senator Heran, Setiap Ada Isu Pembangunan Mal, Pasar Tradisional Terbakar

647Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Oni Suwarman mendorong pemerintah untuk memerhatikan nasib para pedagang pasar tradisional.

Pernyataan ini disampaikan senator asal Jawa Barat itu setelah menerima pengaduan pedagang pasar Lembang yang kiosnya ludes terbakar. Para pedagang mengadu karena merasa tidak diperhatikan oleh pemerintah daerah setempat. “Kita bisa bayangkan bagaimana nasib para pedagang yang kehilangan kios-kios mereka,” ungkap Oni.

Oni yang juga penggagas Poros Senator Indonesia untuk memberikan pandangan-pandangan kritis yang membangun dalam pelbagai persoalan kebangsaan mengatakan pemerintah harus peka terhadap masalah rakyatnya, utamanya para pedagang tradisional karena menjadi penggerak perekonomian.

“Inilah yang menjadi perhatian kami di Poros Senator Indonesia, untuk mendorong pemerintah agar pro terhadap masyarakat dalam hal ini para pedagang pasar, ajak mereka dialog dan cari solusi untuk kelangsungan usaha pasar mereka,” katanya.

Dijelaskan pula Oni bahwa  pasar tradisional adalah ujung tombak perekonomian daerah, bahkan sebagai penopang ekonomi pada saat terjadi krisis. Karena itu merupakan kekuatan ekonomi rakyat. “Pasar tradisional ciri khas Indonesia. Pasar tradisional adalah tempat interaksi sosial yang kuat,” tegasnya.

Meski begitu dia mengakui, perlu adanya upaya revitalisasi supaya pasar tradisional lebih rapi, tidak becek dan tidak membuat macet.

Oni sendiri mengaku heran dengan insiden pasar tradisional terbakar sudah menjadi fenomena. Dalam waktu yang hampir bersamaan, beberapa pasar tradisional mengalami kebakaran.

Sebelumnya pasar Induk Gede Bage Kota Bandung terbakar. Kemudian berlanjut Pasar Lembang di Kabupaten Bandung Barat. juga terbakar. “Sepertinya ada skenario yang seolah-olah disengaja seiring berhembusnya kabar mau ada mal di pasar tersebut,” ucapnya.

Terbakar atau Sengaja Dibakar?

Pasar-Klewer-

Pasar Klewer, Solo

  • Solopos.com - Kebakaran Pasar Klewer disebabkan konsleting listrik
  • Detik.comKebakaran di Pasar Jatinegara Diduga Dipicu Korsleting Listrik.
  • Metrotvnews.com - Pasar Karangpandan Terbakar, Kebakaran dini hari tersebut diduga disebabkan oleh arus pendek.
  • Okezone.com - 25 toko dalam satu blok di Pasar Seni Ubud, Gianyar, Bali, ludes terbakar, Kamis (24/3/2016) pagi. Insiden ini diduga akibat korsleting listrik.
  • Actual.com - Pasar di Desa Adat Legian, Kuta, Bali, dilalap si jago merah. Sebanyak 204 los pedagang, ludes terbakar. Diduga kebakaran terjadi akibat korsleting arus listrik di bagian belakang los.
  • Infowonogiri.comSetelah sebelumnya terjadi kebakaran di pasar Purwantoro, kini giliran terjadi kebakaran di pasar Pracimantoro. Minggu malam Senin 10/1/2016. Kebakaran terjadi pada kios pasar yang menghadap ke barat tepatnya di selatan perempatan Pracimantoro. Api mulai berkobar pada pukul 19:30,dugaan api berasal dari korseleting listrik.

Puluhan pasar tradisional skala besar dan menengah di sejumlah daerah terbakar dalam waktu empat bulan terakhir. Kebakaran ini sangat merugikan pedagang kecil dan besar yang melakukan transaksi di pasar tradisional.

Berdasarkan data Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), dalam rentang waktu Januari 2015 hingga April 2015, telah terjadi lebih dari 140 pasar tradisional terbakar dengan rincian 50 kebakaran pasar tradisional besar, dan 90 pasar kecil di seluruh Indonesia.

“Artinya hampir setiap hari ada pasar tradisional di Indonesia yang terbakar. Satu kios terbakar, pasti akan menimbulkan banyak dampak negatif. Apalagi bila sampai ratusan bahkan ribuan,” kata Sekjen DPP Ikappi Tino Rahardian dalam siaran pers yang diterima, Rabu (6/5/2015) lalu, dilansir Bisnis.com.

Publik sering bertanya, pasar terbakar atau dibakar?

Satu Pasar Tradisional Dibakar Setiap Pekan

Prabowo Subiyanto (Kabarbisnis.com)

Prabowo Subiyanto (Kabarbisnis.com)

Para pedagang pasar tradisional merasa kian termarginalkan dalam pembangunan. Penetrasi pasar modern dan gerai ritel modern di berbagai pelosok telah membuat pendapatan mereka tergerus. Parahnya, seolah ada pembiaran dari pemerintah dalam melihat fenomena tersebut.

Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Prabowo Subianto bahkan mengatakan, setiap pekan, selalu saja ada pasar tradisional yang dibakar.

”Pedagang pasar terintimidasi. Ada satu pasar terbakar setiap minggunya. Anggota saya bilang tidak terbakar, tapi dibakar,” ujar Prabowo saat rapat dengar pendapat dengan Komisi Perdagangan dan Perindustrian DPR RI, Selasa malam (17/11/09).

Biasanya, kebakaran pasar tradisional memang selalu mengiringi isu renovasi pasar. Setelah pasar terbakar, bakal ada pengembang besar yang membangunnya kembali lalu menarik sewa yang lebih mahal setelah pasar rampung dibangun kembali.

Prabowo menduga ada semacam ”kerja sama” antara pihak swasta dan pemerintah daerah untuk ”membakar” pasar.

”Jadi, sebenarnya masalah pasar tradisional tidak hanya harus bersaing dengan pasar modern, tapi juga menghadapi hal-hal semacam kebakaran itu,’ kata mantan kandidat wakil presiden dalam pemilihan presiden 2009 itu.

Infiltrasi Neo-Liberalisme Dalam Pemberangusan Pasar Tradisional

  • Latar Permasalahan

Paradigma modernisasi yang selalu diusung pemerintahan negara-negara berkembang sudah masuk pada semua bidang kehidupan. Termasuk dalam perencanaan dan manajemen kota telah ditentukan paradigma yang mencontoh pengalaman keberhasilan negara barat ini. Jo Santoso menyatakan bahwa sesungguhnya modernisasi adalah penjelmaan praktek neo-liberalisme (Jo Santoso, 2006 : 52). Ada dua hal yang bisa menunjukkan ini.
  • Pertama, Keberhasilan pembangunan selalu dilihat dan diukur dalam kaitan capaian-capaian material. Pembangunan kota dinyatakan berhasil selalu dengan tolak ukur indikator-indikator fisik. Kemudian, sesuatu yang tidak terstandar dan penuh keunikan dianggap sebagai ”menghambat”. Tidak heran jika praktek-praktek lokal selalu dipandang sinis dengan stigma tradisional. Kemudian, tradisionalitas selalu dituduh sebagai kekumuhan, jorok dan sarang kriminalitas kota. Kekayaan lokal ini akan diberangun pemerintah demi mencapai ”khayalan” kondisi material yang berkelimpahan ini (high mass consumption).
  • Kedua, terlalu besarnya ikut campur pihak swasta dalam perencanaan kota.Pemerintah tidak lebih sebagai pelayan pihak-pihak yang menginginkan apapun demi kemajuan usahanya mereka. Sementara itu, pemerintah juga tidak lebih pembantu yang kadang-kadang juga berperan sebagai satpam yang menengahi persoalan dengan warga kota. Pemerintah bukan lagi sebagai agent of development, sebab tindakannya lebih kearah teknis yang tidak ada hubungannya baik dengan rekayasa sosial maupun pemberdayaan (empowering).
Dalam konteks seperti ini, kota-kota bukan lagi dirancang oleh pemerintah.Tetapi, lebih kepada pemenuhan kebutuhan ”raja-raja” investor itu. Amat sulit untuk membedakan, apakah yang muncul dilapangan benar-benar implementasi keteguhan paradigma pembangunan atau hanya kepentingan segelintir elit kota?
  • Pemberangusan Pasar Tradisional

Penerapan paradigma neoliberalisme maupun kepentingan elit perencana kota ini bukan tidak mengandung resiko. Karena ia memunculkan persoalan-persoalan ikutan. Salah satu yang masih menarik dan selalu aktual yakni penataan pasar tradisional. Pemerintah (biasanya bekerja sama dengan investor) memaksakan konsep pasar modern. Baik dari segi bangunan sampai manajemen distribusi barang dan jasa. Dalam hitungan keuntungan material, pasar modern jewlas menjanjikan banyak keuntungan yang sangat mungkin diprediksi. Karenanya selalu membangun hegemoni bahwa hal-hal yang terkait tradisional selalu dianggap tidak sesuai. Maka perencana dan pemerintah kota selalu menggaung-gaungkan tentang perlunya ”peremajaan pasar” pada semua pasar di kota-kota mereka. Dengan janji yang muluk-muluk, pemerintah menyatakan pembangunan pasar modern untuk peningkatan kesejahteraan pedagang.
 
Dalam banyak kasus, selalu saja pedagang menolak. Baik perwakilan pedagang maupun pemerintah, sulit menemukan titik temu pandangan. Mereka bersikukuh dengan pandangan masing-masing dengan dorongan rasionalitas masing-masing serta pertimbangan keberdayaan sewa. Pedagang trdisional mewakili rasionalitas budaya informal yang tidak familiar dari aturan birokratis yang seragam. Sementara itu pedagang pasar modern dipaksa mengikuti aturan-aturan yang diformalkan yang jelas pada kepentingan penumpukkan modal. Padahal pada realitas sosiologis, menunjukkan bahwa sektor informal tidak bisa dipaksakan untuk berubah menjadi formal. Sebab, ia memiliki sub kultur sendiri yang tidak sama dengan logika atau ”keteraturan”. Kalau pemerintah menggunakan paradigma modernisasi, sementara itu para pedagang tradisional bertahan dengan budaya lokal yang jauh dari standardisasi, maka bisa dilihat akan terjadinya konflik diperkotaan.
Hal inilah yang dikatakan oleh HansDieter Evers sebagai perebutan wilayah konsumsi kolektif. Baik pedagang tradisional dengan pemerintah berebut kepemilikan sah lahan-lahan yang bisa dikonsumsi, distribusi secara kolektif itu. Dengan adanya neoliberalisme yang menawarkan materialisme, semua lahan memiliki nilai pertukaran uang.
 
Tidak heran jika sewa yang lebih mahal, ketika pasar telah berubah menjadi modern. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran kedua pedagang, selain rasionalitas yang sulit ditemukan seperti penjelasan di atas. Hal yang sangat mungkin terjadi mengingat, pengelola bukan lagi pemerintah yang tidak melulu profit oriented, tetapi pengusaha swasta yang benar-benar sedang melakukan bisnis murni. Pemerintah hanya menjadi tuan yang rajin menerima setoran dari para pengembang dan pebisnis itu.
  • Konflik Kepentingan dan Kebakaran Pasar

Konflik paradigma dan kepentingan tersebut tampak jelas, ketika kita apa yang dilakukan pemerintah pada pasar-pasar tradisional terbakar. Kebakaran pasar yang sesungguhnya menciptakan kesengsaraan banyak orang miskin, seakan menjadi fenomena lumrah ketika terjadi di kota-kota besar di Indonesia, seperti di Jakarta, Sala, Surabaya, Madiun, Purworejo, Wonosobo, Magelang dan kota-kota lain. Kita bisa melihat kepentingan dan kekuatan paradigmatik modernisasi pemerintah pada penanganan pasca kebakaran.
Sekalipun, itu merupakan kewenangan pihak yang berwajib, tetapi pemerintah tidak serius mengusut- tidak mau mengusut siapa pelaku kebakaran tersebut. Catatan penting yang perlu diperhatikan, tidak ada mekanisme tanggap darurat dan ganti rugi yang disiapkan pemerintah bagi korban yang menderita kerugian. Padahal, tanggung jawab pemerintah adalah menciptakan kota yang aman bagi warganya.
Anehnya lagi, selalu saja renovasi pasar pasca kebakaran, membuat harga kios mengikuti ekonomi pasar. Artinya, pedagang yang ingin menempati pasar baru -yang sebenarnya pedagang lama- ketika masuk ke pasar kembali, harus membayar sewa tinggi yang ditawarkan investor. Uniknya, karena pelaksana dan mungkin, penyerta modal yang paling dominan adalah pengusaha, maka sewa yang harus dibayar menjadi mahal.
 

Pada keadaan demikian, negara atau pemerintah begitu perkasa untuk sanggup memaksakan paradigma dan kepentingan yang dipilih sekalipun terjadi resistensi di sana-sini.

Tinggal pedagang tradisional gigit jari meratapi kekalahan demi kekalahan.

Kalau sudah demikian, manakah pembangunan ekonomi kerakyatan yang selalu digembar-gemborkan itu?


Referensi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s