Sebelumnya: Sukarno, Kisah Hidup & Perjuangan


Dihormati di dunia

Banyak yang menyayangkan Indonesia masa sekarang yang tidak berkutik di mata dunia, bahkan tetangga sendiri saja sekarang memandang remeh Indonesia. Terlepas dari itu semua, saya akan memberikan paparan tentang pengaruh Indonesia pada era Ir. Soekarno.

SUKARNO – KIM IL SUNG

Sejak dulu Korea Utara selalu mendapatkan pertentangan dunia, terkait dengan paham ideologi mereka yang komunis itu. Namun Indonesia tak memandang ini sebagai sebuah tembok besar yang menghalangi dua negara untuk menjalin pertemanan. Hingga akhirnya, Presiden Soekarno untuk pertama kalinya mengunjungi Korea Utara di tahun 1964.

image

Sambutan kepada Presiden ternyata bagus dan apresiatif. Bahkan Kim Il Sung juga membalas kunjungan ini bersama anaknya Kim Jong Il di bulan April tahun 1965. Kehadiran mereka berdua kala itu, sekaligus untuk mengikuti peringatan 10 tahun KAA pertama yang diadakan pada tahun 1955 di Bandung. Di KAA pertama itu, Soekarno memberikan wadah bagi Korut untuk bisa berkiprah di dunia Internasional.

Duta Besar Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK), sering disebut Korea Utara, Ri Jong Ryul mengatakan presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno dan pendiri sekaligus presiden DPRK Kim Il Sung memiliki hubungan yang istimewa.

“Hubungan antara Presiden Soekarno dan Presiden Kim Il Sung sangat istimewa dan tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Presiden Soekarno juga dikenal baik oleh rakyat DPRK,” ujar Ri Jong Ryul dalam acara peluncuran kembali buku karangan Rachmawati Sukarnoputri berjudul “President Soekarno dan President Kim Il Sung” di Universitas Bung Karno, Jakarta, Jumat (10/4).

Menurut Ri, eratnya hubungan Soekarno dan Kim Il Sung dimulai sejak tahun 1964 ketika Proklamator Indonesia itu melakukan kunjungan resmi ke DPRK, yang dibalas dengan kunjungan Kim Il Sung dan anaknya Kim Jong Il ke Indonesia pada April 1965.

“Selain untuk mempererat hubungan bilateral, kunjungan Kim Jong Il saat itu sekaligus untuk menghadiri peringatan 10 tahun Konferensi Asia Afrika yang pertama kali diadakan tahun 1955 di Bandung,” kata Ri.

Dalam pertemuan itu, Ri melanjutkan, kedua pemimpin negara tersebut membahas tentang kesejahteraan, kemerdekaan dan kedaulatan antara kedua negara.

Pada tanggal 13 April 1965,
Kim Il Sung, Presiden Korea Utara saat itu, melakukan kunjungan ke Indonesia. Untuk menyenangkan tamunya, Presiden Soekarno mengajak Kim Il Sung berjalan-jalan ke Kebun Raya Bogor.

Ketika mereka melewati deretan tanaman anggrek yang sedang mekar, Kim Il Sung tampak begitu terpesona dengan anggrek jenis “dendrobium” asal Makassar, Sulawesi Selatan. Kim Il Sung mengungkapkan bahwa anggrek itu begitu indah dan warna merah muda yang indah menunjukkan keanggunan dan martabatnya.

Melihat tamunya tertarik dengan bunga tersebut, maka Soekarno memberikan anggrek tersebut pada Kim Il Sung sebagai hadiah ulang tahun.

Pada saat itu Soekarno pun berinisiatif memberi nama anggrek itu dengan perpaduan nama Kim Il Sung dan Indonesia. dan jadilah nama “Kimilsungia” atau dalam Bahasa Korea disebut “Kimilsunghwa” (bunga Kim Il Sung).

Anggrek itu pun dibawa ke Korea untuk dirawat dan dikembangbiakkan menjadi lebih baik. Sejak saat itu “Kimilsungia” ditetapkan sebagai bunga nasional Korea Utara. Di Korea “Kimilsungia” memiliki 7 kuntum tiap tangkai, sedangkan di Indonesia rata-rata hanya memiliki 3 kuntum.

“Karena itulah negara kami tidak akan pernah melupakan Indonesia,” ujar Ri, yang negaranya pada bulan April setiap tahunnya, sejak tahuh 1999, merayakan Festival Kimilsungia untuk memeringati ulang tahun Kim Il Sung dan menghormati hubungan dengan Indonesia. Dalam festival ini segala
macam varian bunga terutama anggrek dipamerkan. Diplomasi ala bunga ini menjadikan Indonesia memiliki tempat istimewa di hati rakyat Korea Utara.

Bahkan Pemerintah Indonesia adalah satu-satunya pihak yang mendapat kehormatan untuk menyampaikan kata sambutan tiap festival ini berlangsung. Diplomasi ala Bunga ini juga membuat hubungan Indonesia dan Korea Utara menjadi dekat, sehingga sampai saat ini Indonesia dan Korea Utara sering melakukan pertukaran budaya. Tak heran bahwa bunga Kimilsungia dianggap juga sebagai simbol persahabatan Indonesia dan
Korea.

Karena persaudaraan erat ini, kerjasama antara dua negara tersebut terjalin hingga saat ini.

SOEKARNO – CHE GUEVARA & FIDEL CASTRO

image

Pejuang revolusioner Kuba Che Guevara meninggal ditembak mati tentara Bolivia tanggal 9 Oktober 1967. Saat itu Che memimpin perlawanan di negara tersebut. Dia meninggalkan jabatan menteri di Kuba dan memilih berjuang untuk negara-negara tertindas di Asia Selatan dan Afrika.

image

Che dan Presiden Soekarno ternyata sahabat dekat. Keduanya saling mengagumi dan mempunyai semangat yang sama untuk memajukan negara-negara dunia ketiga.

Baca juga: Salah Kaprah Sejarah Bung Karno

Kala itu, Fidel Castro dan Che Guevara baru memenangkan revolusi di Kuba. Pada Bulan Juni 1959, Castro mengutus Che melawat ke negara-negara Asia. Ada 14 negara yang dikunjungi Che, sebagian besar negara peserta Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955.

Tentu Indonesia sebagai tuan rumah konferensi Asia Afrika, mendapat lawatan khusus Che. Dia menemui Presiden Soekarno di Jakarta. Keduanya berdiskusi panjang lebar soal revolusi di masing-masing negara. Keduanya cocok karena sama-sama anti imperialis. Selain berdiskusi, Che juga menjalin kerjasama di bidang ekonomi antara Indonesia dan Kuba. Che juga sempat berwisata ke Candi Borobudur.

Dia yang terkesan dengan Soekarno kemudian mengundang Soekarno untuk ganti berkunjung ke Kuba.

image

Maka tahun 1960, Soekarno yang melawat ke Kuba. Pemimpin Kuba Fidel Castro langsung menyambutnya di Bandara Havana. Soekarno disambut meriah. Warga Kuba berdiri di sepanjang jalan membentangkan poster bertuliskan ‘Viva President Soekarno.

image

Soekarno banyak berdiskusi dengan Castro soal apa yang telah dilakukannya di Indonesia. Di tengah kepulan cerutu kuba yang legendaris, Soekarno memaparkan konsepnya soal Marhaenisme. Soekarno menjelaskan kemandirian di bidang ekonomi. Bagaimana rakyat bisa menjadi tuan di negerinya sendiri tanpa didikte imperialisme.

image

Fidel Castro yang juga anti-Amerika klop dengan Soekarno. Sejarah menunjukkan keduanya tidak pernah mau didikte Amerika Serikat.

image

Foto-foto Soekarno, Che dan Castro menunjukkan hubungan yang sangat dekat. Soekarno menghadiahi Castro keris, senjata asli Indonesia. Mereka tertawa seperti dua sahabat saat bertukar penutup kepala. Soekarno menukar kopiahnya dengan topi a la komandan militer yang menjadi ciri khas Castro. Che pun tampak senang mengenakan kopiah Soekarno.

image

Saat itu revolusi baru saja terjadi di Kuba. Castro dan Che baru menumbangkan rezim Batista dan mengambil alih kepemimpinan Kuba tahun 1959. Karena itu euforia revolusi terjadi di semua pelosok Kuba.

Yang unik, rombongan kepresidenan sempat berhenti hanya karena petugas polisi yang memimpin konvoi ingin menghisap cerutu.

image

Cerita itu dituturkan ajudan Soekarno, Bambang Widjanarko dalam buku ‘Sewindu Dekat Bung Karno’ terbitan Kepustakaan Populer Gramedia.

Saat itu dalam konvoi Soekarno ada tiga polisi yang memimpin iring-iringan kepresidenan sekaligus membuka jalan. Tiba-tiba polisi pemimpin konvoi menghentikan motornya dan menyuruh konvoi berhenti. Tentu saja semua peserta bertanya-tanya kenapa konvoi berhenti.

Polisi itu lalu mengeluarkan cerutu, dan menghampiri sopir Soekarno. Rupanya dia mau pinjam korek untuk menyalakan cerutu. Setelah menyala, polisi itu lalu memberi hormat pada Soekarno. Dia menaiki motornya dan memimpin konvoi kembali dengan gagah. Sambil menghisap cerutu kuba tentu saja.

“Bung Karno tertawa melihat itu. Rupanya dia cukup paham Kuba masih dalam revolusi,” ujar Bambang.

image

Lawatan ke Kuba sangat mengesankan untuk Soekarno.

image

Fidel Castro mengatakan dengan tegas, dirinya adalah murid Bung Karno. Itu dikemukakannya sendiri kepada Bung Karno, ketika dua tokoh Gerakan Nonblok ini bertemu dan kepada Adam Malik ketika almarhum menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI. Secara terbuka Castro menegaskan bahwa dirinya telah mengadopsi ajaran-ajaran Presiden RI pertama itu untuk dijadikan acuan guna memimpin negaranya. Ajaran yang mana?

Tentu, bukan Pancasila, nasakom, atau marhaenisme, melainkan trisakti dan resopim. Castro yang dikenal sebagai tukang ekspor revolusi ini ternyata juga telah mengimpor teori revolusi ajaran Bung Karno. Negeri yang luasnya tak lebih dari Pulau Jawa ini, tampak bahwa pemerintahan di bawah Fidel Castro konsisten mempraktikkan dua ajaran tersebut yang tentu saja sudah diolah menjadi trisakti dan resopim ala Kuba.

Trisakti Bung Karno

Sebagaimana kita ketahui, ajaran Trisakti Bung Karno ini mencakup:

  1. Pertama, berdaulat dalam politik;
  2. Kedua, berdiri di atas kaki sendiri (berdikari atau mandiri) di bidang ekonomi;
  3. Ketiga, berkepribadian dalam kebudayaan.

Adapun resopim yang merupakan judul pidato Bung Karno pada 17 Agustus 1961 adalah merupakan akronim dari “revolusi, sosialisme Indonesia, dan pimpinan nasional”.

Bahkan Fidel Castro menyerukan agar IMF sebagai lembaga pendanaan kapitalis yang sifatnya menindas negara-negara sedang berkembang dibubarkan saja. Sikap kemandirian itu berbeda dengan Indonesia yang selama Orde Baru justru pembangunan ekonominya dibayang-bayangi IMF sehingga terpuruk dalam krisis moneter (krismon) yang berkepanjangan dan menimbulkan beban utang yang terus membengkak hingga hari ini.

Kuba membangun negara dan rakyatnya dengan mengandalkan kekuatan ekonominya sendiri. Bukan mengandalkan utang luar negeri. Inilah prinsip berdikari di bidang ekonomi yang diajarkan Bung Karno, tetapi dipraktikkan secara konsisten oleh Castro. Dengan berdikari dibidang ekonomi, Kuba dapat mempertahankan kedaulatan politiknya dan juga kebudayaan nasionalnya.

Dengan program pembangunan yang berbasis ajaran Bung Karno itu, Kuba kini merupakan negara kecil yang berpotensi besar. Di bidang kesehatan, Kuba mendapat pengakuan dari WHO sebagai salah satu negara dengan tingkat pemeliharaan kesehatan terbaik di dunia.Tingkat kematian bayi hanya 6,2 per 1.000 kelahiran dan usia harapan hidup mencapai rata-rata 76 tahun. Kuba telah mengekspor ribuan tenaga terdidik ke seluruh dunia setiap tahunnya, mencakup dokter, insinyur pertanian, pelatih olahraga, dan lain-lain yang menghasilkan devisa amat besar bagi negara.Hal itu terjadi karena mereka yang bekerja di negeri asing dipotong gajinya hingga 50% yang harus disetorkan kepada pemerintah.

Bandingkan dengan tenaga kerja Indonesia yang kebanyakan hanya tenaga kasar dengan gaji murah dan mereka masih diperas oleh yayasan pengirim tenaga kerja. Meskipun menganut sistem sosialis-komunis, Kuba terbuka bagi modal asing. Dengan Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) No 77 Tahun 1995, banyak negara dan perusahaan skala internasional menanamkan modalnya di Kuba secara bebas, kecuali di bidang pendidikan, kesehatan, dan pertahanan yang terlarang bagi investasi asing.

Kebijakan ini berbeda dengan UU PMA Indonesia yang dikeluarkan di awal pemerintahan Orde Baru. UU tersebut tanpa barikade sehingga ekonomi nasional malah didominasi kekuatan asing. Kuba juga menjamin kebebasan beragama, berkumpul, dan berserikat yang tertuang dalam hasil Sidang Majelis Nasional Kuba pada 10 Juli 1992. Kuba bukan negara kaya, tetapi juga bukan negara miskin.

image

Pemerintah Kuba menerapkan ajaran Bung Karno dengan pola hidup sederhana, membangun dengan kekuatan ekonomi sendiri, dan selalu menerapkan prinsip “ukur baju badan sendiri”. Bagi Indonesia, kita perlu mengambil pelajaran dari sisi positif praktik sistem pemerintahan Castro yang mengaku “berguru” kepada Bung Karno itu tanpa harus menjadi Kuba karena sistem politik Indonesia memang jauh berbeda dengan yang dianut negeri di kawasan Karibia itu.

SOEKARNO DITAKUTI AMERIKA

Lawatan Soekarno ke Kuba sangat berbeda dengan lawatannya Soekarno ke Washington beberapa waktu sebelumnya. Kala itu Soekarno tersinggung dengan Presiden Eisenhower yang sombong. Eisenhower menganggap remeh Soekarno yang dianggapnya datang dari negara dunia ketiga.

Dibiarkannya Soekarno menunggu di Gedung Putih hampir setengah jam lamanya. Amarah Soekarno pun meledak.

“Apakah kalian memang bermaksud menghina saya! Sekarang juga saya pergi!” ujar Soekarno dengan marah.

Para pejabat AS pun kebingungan. Mereka sibuk meminta maaf dan meminta Soekarno tinggal. Eisenhower pun segera keluar menemui Soekarno.

image

Pada pertemuan berikutnya, Eisenhower menjadi lebih ramah. Dia sadar Soekarno tak bisa diremehkan.

SOEKARNO – GAMAL ABDUL NASIR

image

“Ya Gamal, kenapa Anda mau menutup Al Azhar? Ya Gamal, Al Azhar itu terlalu penting untuk dunia Islam. Kami mengenal Mesir itu justru karena ada Al Azhar”

“Setiap ide yang melintas di pikiran Bung Karno senantiasa menjelma jadi emas”.

Ungkapan metaforis ini layak disematkan ke pundak presiden pertama Republik Indonesia tersebut karena fakta sejarah mencatat, setiap kunjungannya ke negara-negara sahabat selalu menorehkan jasa yang dikenang sepanjang masa oleh masyarakat setempat.Ternyata ada satu lagi jasa terbaik Bung Karno saat kunjungannya ke Mesir pada bulan Juli 1955, yang kembali dikenang rakyat Mesir, seiring dengan tsunami politik melanda Negeri Seribu Menara itu.

Jasa terbaik Bung Karno tersebut diungkapkan oleh Prof. Dr. Syeikh Aly Goumah, Sekretaris Jenderal “Haiah Kibaril Ulama”, suatu badan khusus di Al Azhar beranggotakan para ulama senior yang sangat berpengaruh.Dalam wawancara dengan jaringan televisi nasional Saluran-1 Mesir, Prof. Goumah mengemukakan bahwa Presiden Republik Indonesia Ahmad Soekarno menyelamatkan Al Azhar dari ancaman penutupan oleh Presiden Gamal Abdel Nasser. Ancaman penutupan itu akibat Nasser melihat gelagat kalangan ulama Al Azhar bergabung dengan Ikhwanul Muslimin untuk merongrong kekuasaannya.

Menurut Syeikh Goumah, ketika Nasser berniat untuk menutup Al Azhar yang menghebohkan dunia Islam, Presiden Soekarno muncul untuk menyelamatkannya saat berkunjung ke Mesir. “Presiden Ahmad Soekarno dari Indonesia mempertanyakan niat Nasser tesebut dan mengatakan, ‘Ya Gamal, kenapa Anda mau menutup Al Azhar? Ya Gamal, Al Azhar itu terlalu penting untuk dunia Islam. Kami mengenal Mesir itu justru karena ada Al Azhar’,” kutip Syeikh Goumah. “Nasser menjawab, ya, mau bagaimana lagi? Lantas, Ahmad Soekarno menimpali, ‘Ya Gamal, tidak ada itu istilah penutupan, Anda wajib menata kembali Al Azhar, mendukungnya dan mengembangkannya, bukannya menutup’.”

Mantan Mufti Nasional Mesir tersebut mengamini pandangan Bung Karno bahwa Al Azhar dan Mesir ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan, yakni Al Azhar adalah Mesir, dan Mesir adalah Al Azhar. Wawancara Prof. Goumah pada tanggal 29 Agustus 2013 yang kemudian diungguh ke jejaring sosial Youtube itu terkait dengan tarik-menarik kekuatan politik Mesir untuk memperebutkan pengaruh Al Azhar.

Prahara politik yang menumbangkan rezim Presiden Hosni Mubarak pada bulan Februari 2011 dan pelengseran Presiden Mohamed Moursi pada bulan Juli 2013 tersebut, tak pelak lagi, berdampak serius terhadap eksistensi Al Azhar akibat terjadi tarik-menarik antarkekuatan politik untuk berebut pengaruh. Tarik-menarik tersebut begitu kuatnya sehingga menjelang pelengseran Moursi sempat muncul tudingan bahwa Ikhwanul Muslimin pendukung Moursi berusaha “meng-Ikhwan-kan” Al Azhar.

Ketika Syeikh Agung Al Azhar Prof. Dr. Ahmed Al Tayeb berperan penting dalam mendukung kudeta pelengseran Moursi, Ikhwanul Muslimin pun geram dan mendesak Prof Tayeb agar mengundurkan diri. Kalangan petinggi Ikhwanul Muslimin bahkan menyerukan untuk menyandera Al Azhar sebagai protes atas dukungan Syeikh Agung Al Azhar terhadap kudeta.

Al Azhar didirikan lebih dari seribu tahun lalu, tepatnya tahun 970 Masehi atau 350 Hijriah pada masa kekuasaan Fatimiyah. Syeikh Goumah menegaskan bahwa Al Azhar saat ini menampung dua juta pelajar dan mahasiswa dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi yang tersebar di Kairo dan berbagai provinsi di Mesir dan cabang Al Azhar di beberapa negara, di samping lebih dari 10.000 guru dan dosen.

“Al Azhar itu milik umat Islam sebagai lembaga pendidikan yang menekankan sikap moderat dan toleransi, dan tidak bisa diklaim oleh kelompok manapun sebagai miliknya,” kata Syeikh Goumah. Saat ini terdapat puluhan ribu mahasiswa asing dari 126 negara, termasuk sekitar 3.600 di antaranya adalah mahasiswa Indonesia. Jumlah mahasiswa Indonesia di Universitas Al Azhar ini jauh lebih sedikit dibanding Malaysia.

Menurut data Kedubes Malaysia di Kairo, dalam tahun akademik 2012/2013, tercatat 11.572 mahasiswa Malaysia di Al Azhar, sekitar 6.837 orang di antaranya kuliah di fakultas kedokteran. Berbeda dengan Malaysia, mahasiswa Indonesia umumnya kuliah di fakultas keagamaan, seperti fakultas syariah, bahasa Arab, dan ushuluddin (teologi). Kendati demikian, mahasiswi Indonesia, Widiawati Kurnia, tercatat sebagai mahasiswa Asia non-Arab pertama lulusan spesialis kandungan (Obstetri dan Ginekologi) Fakultas Kedokteran Al Azhar Putri di Kairo pada tahun 2006 setelah menamatkan dokter umum di FK Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat.

image

Dalam sambutannya, Syeikh Shaltut mengatakan, “Selamat datang di negeri yang damai, negeri Islam. Sesungguhnya Sultan Al Muiz Billah membangun Al Azhar dengan batu-batu, namun Presiden Gamal Abdel Nasser memberi sinar keagungan kepada Al Azhar dengan ilmu, kerja keras dan pertolongan. “Bung Karno yang memakai baju kebesaran Al Azhar yang terbuat dari bulu domba menyampaikan terima kasih dan menyatakan kebahagiaannya bahwa kunjungan kedua ke kampus Al Azhar telah mendapatkan kemajuannya.

Sebelumnya, Syeikh Agung Al Azhar Abdul Rahman Ali Taag–pendahulu Syeikh Shaltut–berkunjung ke Indonesia bersama Wakil Perdana Menteri Mesir Gamal Salem atas undangan Presiden Soekarno. Syeikh Ali Taag dan Gamal Salem mewakili Nasser yang ketika itu manjabat Perdana Menteri merangkap Presiden sementara untuk menghadiri HUT Ke-10 Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1955. Dalam kunjungan tersebut, Syeikh Taag berkesempatan bertemu dengan para ulama Indonesia dan melihat secara dekat perkembangan Islam di negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia itu.

Kunjungan serupa dilakukan Syeikh Mahmoud Shaltut pada bulan Januari 1961 selama dua pekan atas undangan Presiden Soekarno. Selain Bung Karno, penganugrahan doktor kehormatan dari Al Azhar serupa sebelumnya diberikan kepada ulama Indonesia, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) pada tanggal 21 Januari 1958.

SOEKARNO – NIKITA KHRUSCHCHEV

Tahun 1961, pemimpin tertinggi Partai Komunis Uni Soviet sekaligus penguasa tertinggi Uni Soviet, Nikita Sergeyevich Khrushchev mengundang Bung Karno ke Moskow.

Khrushchev yang berkuasa di Uni Soviet dari tahun 1953 hingga 1964 itu hendak menunjukkan pada Amerika Serikat bahwa Indonesia berdiri di belakang Uni Soviet.

Dalam buku Total Bung Karno karya Roso Daras diceritakan bahwa Bung Karno tidak mau begitu saja datang ke Moskow. Bung Karno tahu, kalau Indonesia terjebak, yang paling rugi dan menderita adalah rakyat Indonesia.

Bung Karno tidak mau membawa Indonesia ke dalam situasi yang tidak menguntungkan. Bung Karno juga tidak mau Indonesia dipermainkan oleh negara mana pun.

Soekarno Adalah Penemu Makam Imam Al-Bukhari

Maka, Bung Karno mengajukan syarat. Dialog pun terjadi antara Bung Karno dan Khrushchev.

“Saya mau datang ke Moskow dengan satu syarat mutlak yang harus dipenuhi. Tidak boleh tidak” kata Bung Karno.

“Apa syarat yang Paduka Presiden ajukan?” Khrushchev balik bertanya.

Bung Karno menjawab, “Temukan makam Imam Al Bukhari. Saya sangat ingin menziarahinya”

Khrushchev segera memerintahkan pasukan elitenya untuk menemukan makam dimaksud. Ternyata, hasilnya nihil.

Khrushchev kembali menghubungi Bung Karno.

“Maaf Paduka Presiden, kami tidak berhasil menemukan makam orang yang Paduka cari. Apa Anda berkenan mengganti syarat Anda?”

“Kalau tidak ditemukan, ya sudah, saya lebih baik tidak usah datang ke negara Anda,” ujar Bung Karno.

Kalimat singkat Bung Karno ini membuat kuping Khrushchev panas. Khrushchev kembali memerintahkan orang-orang nomor satunya langsung menangani masalah ini.

Setelah tiga hari pencarian, mengumpulkan informasi dari orang-orang tua Muslim di sekitar Samarkand, anak buah Khrushchev menemukan makam Imam Al Bukhari.

Imam Bukhari lahir di Bukhara pada tahun 810 M. Ia meninggal dunia dan dimakamkan Samarkand pada 870 M. Ketika ditemukan, makam Imam Al Bukhari dalam kondisi rusak tak terawat.

Khrushchev menghubungi Bung Karno kembali. Intinya, misi pencarian makam Imam Al Bukhari berhasil.

Bung Karno mengatakan, “Baik, saya datang ke negara Anda”

Hasil yang di rasakan Indonesia sekarang

image

Di bekas negara pecahan Uni Soviet, yaitu Uzbekistan, nama Presiden Soekarno sangat dihormati.

Jika orang Indonesia (Muslim) datang berkunjung ke Uzbekistan mengunjungi makam Imam Bukhari, salah satu ahli hadits Nabi Muhammad SAW, akan diberi keistimewaan yaitu:

“Orang Indonesia akan diizinkan masuk ke bagian dasar bangunan yang merupakan tempat jasad Imam Bukhari disemayamkan. Perlakuan istimewa ini berkat jasa Bung Karno”.

Setelah dari Moskow, pada 12 Juni 1961, Bung Karno tiba di Samarkand. Puluhan ribu orang menyambut kehadiran Pemimpin Besar Revolusi Indonesia ini sejak dari Tashkent.

Soekarno naik kereta dari Moskow ke Samarkand. Bung Karno tiba pada malam hari dan langsung membaca Alquran sampai pagi hari, tidak tidur.

Bung Karno meminta pemerintah Uni Soviet agar segera memperbaiki makam Imam Bukhari. Ia bahkan sempat menawarkan agar makam dipindahkan ke Indonesia, apabila Uni Soviet tidak mampu merawat dan menjaga makam tersebut. Emas seberat makam Imam Bukhari akan diberikan sebagai gantinya.

Selanjutnya Sukarno, Kisah Hidup & Perjuangan (Part 3)

Iklan

2 responses »

  1. […] BERIKUTNYA: Sukarno, Kisah Hidup & Perjuangan (Part 2) […]

    Suka

  2. […] Sebelumnya: Sukarno, Kisah Hidup & Perjuangan (Part 2) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s