Sebelumnya: Sukarno, Kisah Hidup & Perjuangan (Part 3)


Kekuasaan Soekarno Berakhir Setelah G30S/PKI

gerakan-pkiDokumen kecil berisi rencana pemberontakan PKI dengan target mendirikan negara komunis di Indonesia ditemukan ahli sejarah Universitas Negeri Surabaya, Prof Dr Aminuddin Kasdi.

Dikutip dari Antara, “Jadi, pengakuan pihak tertentu ada skenario ABRI melakukan penangkapan orang-orang PKI setelah Oktober atau ada pembantaian terencana oleh NU terhadap PKI, ternyata tidak didukung bukti historis,” katanya di Surabaya, Senin.

Menurut dia, fakta yang sebenarnya justru ada dalam buku kecil atau buku saku tentangABC Revolusiyang ditulis CC (Comite Central) PKI pada 1957, yang merinci tiga rencana revolusi atau pemberontakan PKI tentang negara komunis di Indonesia.

“Buku yang saya temukan itu justru membuktikan bahwa rencana pemberontakan PKI yang diragukan sejumlah pihak itu ada dokumen historisnya, bahkan dokumen itu merinci tiga tahapan pemberontakan PKI yang semuanya gagal, lalu rumorpun diembuskan untuk mengaburkan fakta,” katanya.

Tanpa menyebut asal-usul dokumen yang terlihat lusuh itu, ia mengaku bersyukur dengan temuan dokumen yang tak terbantahkan itu. “Kalau ada orang NU melakukan pembunuhan, itu bukan direncanakan, tapi reaksi atas sikap PKI sendiri yang menyebabkan chaos itu,” katanya.

Dia menjelaskan sikap PKI memang menyakitkan, sehingga NU melakukan reaksi balik. “PKI melakukan provokasi dengan ludruk yang temanya menyakitkan, seperti matinya Tuhan, malaikat yang tidak menikah karena belum dikhitan, dan banyak lagi,” katanya.

Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat jangan terpengaruh dengan provokasi politik yang didukung media massa untuk “membesarkan” PKI guna mengaburkan sejarah dengan menghalalkan segala cara.

“Kita jangan terpancing dengan sisa-sisa orang PKI di berbagai lini yang berusaha membangkitkan mimpi tentang negara komunis melalui media massa, buku-buku, dan semacamnya yang seolah-olah benar dengan bersumber kesaksian,” kata dia. “Ada sisa-sisa PKI bercokol di media massa,” katanya pula.

Dia menambahkan, testimoni berbagai pihak itu mungkin benar, namun testimoni itu bersumber dari individu-individu yang tidak mengetahui skenario besar dari PKI untuk merancang tiga revolusi dengan goal untuk mendirikan negara komunis di Indonesia.

“Saya bukan hanya bersaksi, karena saya juga sempat mengalami sejarah pemberontakan PKI itu dan lebih dari itu, saya mempunyai bukti yang sangat gamblang dari dokumen PKI sendiri,” katanya.

Senada dengan itu, guru besar Universitas dr Soetomo Surabaya, Prof Dr Sam Abede Pareno, menyatakan, buku Memoir on The Formation of Malaysia, karya Ghazali Shafie terbitan Universiti Kebangsaan Malaysia, menunjukkan kaitan erat Konfrontasi Indonesia-Malaysia dengan PKI.

“Dalam buku itu jelas Bung Karno tidak menghadiri persidangan puncak dengan Tungku Abdul Rachman di Tokyo pada tahun 1963, karena PKI tidak suka dengan pertemuan itu,” kata penulis bukuRumpun Melayu, Mitos dan Realitas itu.

Oleh karena itu, konfrontasi Indonesia-Malaysia itu bukan sekadar demo anti-Indonesia atau demo anti-Malaysia, melainkan PKI merancang konfrontasi itu agar rencana besar (negara komunis) tidak “terbaca”.

Apalagi Bung Karno melontarkan gagasan nasionalis, agama, dan komunis yang justru “melindungi” gerakan PKI. “PKI memang selalu memanfaatkan kelengahan pemerintah Indonesia yang sibuk menghadapi Agresi Militer I Belanda pada 1947 dengan aksi terpusat di Madiun pada 1948,” katanya.

“Lalu ketika pemerintah sibuk denganGanyang Malaysia yang juga mereka sponsori itu, PKI menikam dari belakang dengan Gerakan 30 September 1965,” katanya.

Pada Juli ini juga ada beberapa agenda besar nasional, di antara yang terbesar adalah Pemilu Presiden 9 Juli nanti yang menyerap sejumlah besar pengerahan sumber daya nasional.

Ada Jejak CIA Pada G30S/PKI

image

Lima puluh tahun belum cukup buat membuka tabir  peristiwa 30 September (G30S) 1965.  Terlalu banyak sisi kelam tragedi politik sekaligus kemanusiaan ini yang belum terungkap. Peristiwa  berdarah  ini mengorbankan tak  hanya nyawa sederet jenderal, tapi  juga ratusan ribu  orang yang kemudian dibantai.  Mereka adalah orang-orang yang dicap sebagai pengikut Partai Komunis Indonesia.

Satu hal yang kini semakin terang: besarnya peran Amerika Serikat dalam G30 S dan rentetan kejadian setelahnya. Peran itu semakin terkuak setelah Amerika membuka banyak data intelijen  pada sekitar tahun 1965 bagi  publik. Setidaknya ada 5  indikasi yang memperkuat dugaan keterlibatan Amerika:

  • 1. Kebijakan Dewan Keamanan Amerika  1955

Rencana  menumbangkan Presiden RI sudah dimulai sejak Mei 1955, sebulan  setelah Sukarno menggalang gerakan non-blok lewat konferensi Asia Afrika di Bandung. Dewan Keamanan Amerika (National Security Council-NCS)  menggariskan kebijakan itu. Pada dokumen NSC 5518, yang dibuka pada 1994,  dinyatakan jelas bahwa  operasi rahasia menjatuhkan Sukarno perlu dilakukan jika ia semakin memberi angin kepada partai sayap kiri.

  • 2. Operasi penghancuran komunis

Sebuah komisi khusus di Badan Keamanan Nasional (National Security Agency—NSA)  menyetujui operasi untuk menghancurkan komunis di Indonesia.  Persetujuan ini terungkap dalam dokumen rahasia Central Intelligency  Agency (CIA) bertanggal 23 Februari 1965 yang dipublikasikan  pada 2001. Komisi ini setuju CIA berkolaborasi secara diam-diam dengan  kelompok antikomunis di  Indonesia.

  • 3. Perhatian amat intensif terhadap politik Indonesia

Intensitas itu terungkap dari ratusan dokumen CIA yang  telah dibeberkan. Pada  3  Oktober 1965, misalnya, terungkap laporan dari  Direktur Wilayah Timur Jauh, FJ Blouin,  kepada Pejabat International Security Affair, McNaughton. Blouin memaparkan secara rinci situasi dan kontak-kontak dengan pejabat di Indonesia.  Ia kemudian memprediksi yang akan terjadi.  Menurut dia, jika  tentara merayakan Hari TNI pada 5 Oktober dengan prosesi besar-besaran karena kematian para jenderalnya,  hal ini menjadi mementum  tentara mengambil  posisi menentukan.

  • 4. Pengakuan bekas diplomat Amerika

Seorang bekas diplomat  Amerika, Robert J. Martens, sempat mengeluarkan keterangan penting.  Ia membongkar aktivitas CIA yang mendata sekitar  5000  tokoh PKI, mulai pimpinan pusat sampai ke daerah.  Daftar ini yang kemudian diserahkan ke militer Indonesia. Pengakuan  Martens ditulis  oleh  wartawan Kathy Kadane dipublikasikan lewat States News Service pada 17 Mei 1990.

Martens belakangan membantah soal itu.  Ia menyebutkan  daftar yang ia buat hanya sejumlah tokoh PKI berdasarkan liputan media komunis di Indonesia. Duta Besar  AS untuk RI pada masa itu, Marshall Green, juga menganggap laporan itu sebagai “sampah”. Hanya, dalam laporan CIA  berjudul  “Coup and Counter Reaction: October 1965-March 1966”, jelas terungkap Kedutaan AS di Jakarta  terus melaporkan perkembangan nasib tokoh-tokoh PKI ke Washington, misalnya, ditahan atau meninggal.

  • 5. Bantuan Amerika ke pejabat TNI

Terungkap adanya permintaan bantuan obat-obatan  dan peralatan komunikasi dari pejabat militer  pro Suharto di Indonesia kepada Amerika. Telegram 1 November 1965  dari  Marshal Green di Jakarta kepada Menteri Luar Negeri Dean Rusk di Washington menggambarkan  itu.

Masih banyak  catatan lain mengenai indikasi keterlibatan Amerika dalam peristiwa 30 September 1965 dan  rentetan gejolak politik dan kejadian berdarah setelah itu.  Majalah Tempo edisi  5-12 Oktober  2015 mengungkap sepak terjang intel Amerika di Indonesia saat itu secara mendalam dan lengkap.

Sosok Cindy Adams Pada Otobiografi Sukarno

Bung Karno & Cindy Adams (rosodaras.wordpress.com)

Bung Karno & Cindy Adams (rosodaras.wordpress.com)

Bulan Juni adalah bulan milik Sukarno. Presiden Indonesia pertama itu lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901 dan tutup usia di Jakarta pada 21 Juni 1970. Cerita hidup Sukarno tertuang dalam beragam judul buku. Namun judul buku paling terkenal justru ditulis oleh jurnalis wanita Amerika Serikat, Cindy Adams.

Cindy menulis buku legendaris Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams (Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia). Ia dipercaya Sukarno menuliskan perjalanan hidupnya. Sesuatu yang zaman itu membingungkan banyak orang, karena pers Amerika kala itu dikenal ganas kepada Sukarno.

Sementara Sukarno sendiri tengah galak-galaknya mengumandangkan anti-imperialisme. Tapi justru kepada bekas pemandu sorak di Andrew Jackson High School, St Albans, Long Island, ini Sukarno seolah-olah tak menyembunyikan segala sesuatu, termasuk hal-hal personalnya. Buku itu menjadi sangat populer karena menceritakan seorang Sukarno yang penuh warna.

Cindy pertama kali bertemu dengan Sukarno pada 1961 di Istana Merdeka. Saat itu ia bekerja di NANA—North American Newspaper Alliance. Ia ikut rombongan kesenian Amerika yang dipimpin suaminya, Joey Adams, komedian yang ditunjuk John F. Kennedy mengepalai kunjungan seni keliling Asia.

Saat kembali ke negerinya, Cindy dihubungi oleh Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat. Mereka mengabarkan bahwa Presiden Indonesia mengundang Cindy datang untuk menuliskan kisah hidupnya. Sejak itu, hidup Cindy terbagi antara Jakarta dan New York.

Proses penulisan berlangsung antara 1961 dan 1964. Cindy menginap di Hotel Indonesia sebagai tamu negara. Tiap pagi ia ke Istana, melakukan wawancara seraya menikmati kopi tubruk. Buku itu terbit pada 1965, sebulan setelah peristiwa 30 September. Penerbitnya The Bobbs-Merrill Company Inc, New York.

Proses penulisan tak berjalan mulus. Cindy bertengkar dengan Sukarno menjelang penerbitan buku Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams. Sukarno mendadak berubah pikiran setelah membaca manuskrip otobiografinya.

Sukarno tak ingin buku itu ditulis dengan model penulisan kalimat “saya”, yang berarti dia sendiri yang secara langsung mengisahkan riwayatnya kepada pembaca. “Saya sudah putuskan saya tak menginginkan otobiografi ini. Aku ingin sebuah biografi. Tulis ulang!” kata Sukarno.

“Itu tidak mungkin,” ujar Cindy. Dia beralasan, sejak awal, mereka telah sepakat menulis otobiografi. Dia juga sudah menandatangani kontrak dengan berbagai penerbit dunia untuk sebuah buku otobiografi. “Butuh waktu enam bulan siang dan malam menulis di rumah untuk manuskrip yang kuserahkan kepada Anda,” kata Cindy.

Cindy Adam Agen CIA?

Pertengkaran terus berlanjut sampai akhirnya Cindy mengaku bahwa dia khawatir akan kehilangan muka di hadapan para penerbit. Sukarno pun melunak, bahkan atas desakan Cindy hari itu pula Sukarno menandatangani surat persetujuan penerbitan buku otobiografi tersebut.

Ada yang mengatakan Cindy masa-masa itu dimanfaatkan oleh Howard Jones, yang bagi banyak orang adalah duta besar yang dekat dengan Badan Intelijen Amerika (CIA). Kala itu terjadi krisis hubungan antara Sukarno dan Amerika. Howard Jones membutuhkan seorang Amerika yang bisa menyenangkan Sukarno dengan membuat otobiografinya. Ia juga dibutuhkan untuk melaporkan situasi terakhir Sukarno dari dalam Istana sendiri.

Dalam buku keduanya, My Friend the Dictator, Cindy secara jujur mengatakan selama di Jakarta banyak tokoh yang menyangkanya agen CIA. Sebagai penulis biografi Sukarno, dia diberi keleluasaan dan akses untuk mengorek banyak tokoh politik. Tapi, diakui Cindy, ada beberapa yang tak mau karena menganggapnya agen CIA. Sukarni dan Achmad Subardjo di antaranya.

Ketika RedaksiTempo menanyakan apakah Cindy memang benar seorang agen CIA yang disusupkan Howard Jones, dahinya agak berkerinyut. Ia seolah-olah ingat masa lalunya di sini, tatkala sebagian orang mencurigainya sebagai kaki tangan CIA. Secara tegas dan cepat dia menjawab, “Itu hal yang paling mudah untuk diucapkan, tapi saya bukan CIA.”

Bung Karno ketika diwawancarai Cindy Adams

Di kalangan para Sukarnois (orang yang terpikat dengan bung karno baik dari segi pemikiran, cara bicaranya atau penampilan Sukarno) tentu nama Cindy Adams tidaklah asing lagi. Pasalnya, Cindy Adams merupakan satu-satunya penulis yang berhasil menuliskan autobiografi bung Karno. Wawancara mengenai pembuatan buku tersebut dilakukan di tahun 1964, namun wawancara yang akan saya post disini merupakan wawancara setelah pemberontakan G30S (beberapa menyebutkan PKI dibelakang) sekitar tahun 1966.

Cindy menanyakan kepada Bung Karno “Menurut anda siapakah pemegang kekuasaan di Indonesia saat ini?” Hal ini ditanyakan karena adanya perebutan kekuasaan oleh Soeharto dan beliau pasca G30S.

Bung Karno menjawab dengan percaya diri sesuai dengan ciri khasnya “Saya kira yang berkuasa adalah Presiden Sukarno, Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, Mandataris MPR, Perdana Menteri dan Pemimpin Revolusi” jawab beliau sambil tersenyum.

Kemudian Cindy kembali menanya bung Karno kali ini soal G30S “Apakah Anda sudah mengetahui mengenai rencana Kudeta Gerakan 30 September?

Ditanya mengenai hal demikian wajah Presiden Sukarno agak terkejut. Pasalnya, pada saat itu banyak yang menuduh Bung Karno terlibat pemberontakan tersebut, meskipun hingga akhirnya Sukarno tidak terbukti terlibat. Melihat wajah kaget bung Karno Cindy pun mengulang pertanyaannya.

Sukarno menjawab “..Tidak! Tidak! Kenapa kau menanyakan hal ini padaku?” jawab Bung Karno.

Cindy Adams pun memberi tahu alasan ia menanyakan hal tersebut yaitu karena Bung Karno adalah satu-satunya yang bisa menjawab hal tersebut.

Berikutnya Cindy kembali memberi pertanyaan kepada Bung Karno mengenai kebebasan pers “Apakah anda akan memberi kebebasan pers?”

Sukarno spontan menjawab “Tidak Akan!” Sukarno melanjutkan alasannya “Karena ini Revolusi! Tidak ada revolusi yang memberikan kebebasan pers.”

Cindy pun menanyakan alasan mengapa revolusi tidak mengizinkan kebebasan pers?

Jawaban Bung Karno sederhana “Karena didalam revolusi selalu saja ada orang-orang yang salah jalan” kata beliau sambil tersenyum. Beliau pun melanjutkan ” karena revolusi adalah perlawanan terhadap penguasa lama, dan berjuang untuk penguasa baru, inilah Revolusi”

Cindy Adams kali ini melontarkan pertanyaan seputar kekuasaan Sukarno “Kini anda menjabat sebagai Presiden sekaligus Perdana menteri apakah anda siap dengan perubahan suatu saat nanti?”

Saya kira pertanyaan itu diajukan Cindy Adams dengan maksud mengenai pencopotan Sukarno dari jabatannya di masa depan nanti yang sangat mungkin terjadi.

Bung Karno menanggapi hal itu sebagai pertanyaan mengenai apa yang akan dialakukan di masa tua nanti setelah tak sanggup memimpin. Beliau sama sekali tidak menyadari mengenai pencopotan kekuasaan yang terjadi.

Jawaban Sukarno adalah “Mereka telah menetapkan saya menjadi Presiden seumur hidup. Akan tetapi tentu saya punya hak untuk mengatakan … suatu hari nanti “rakyatku, aku sudah letih sekarang biarkanlah aku pergi”. Kalian telah melaksanakannya dengan baik dengan menunjukku sebagai Presiden seumur hidup. Tetapi jika keadaan tubuhku mengizinkan, aku tetap ingin menjadi Presiden hingga akhir hayatku”

“Kritik mengenai anda yaitu Anda lebih mementingkan monumen dibandingkan hakrakyat (yang dimaksud adalah kebebasan pers)?” begitulah cindy adams menanyai bung Karno.

Sukarno menjawab dengan bertanya balik “Mengapa Amerika membuatkan monumen Washington untuk rakyatnya?” “Hal ini karena dalam pembangunan mental suatu bangsa dibutuhkan monumen.”

Kali ini Sukarno yang bertanya balik kepada Cindy Adams “Mengapa pers Amerika begitu bodoh dengan mengabarkan saya sakit? Apakah saya terlihat sakit?

Cindy adams kemudian menjawab “Tidak.” “Pernahkah anda memikirkan hal ini akan terjadi?”

Bung Karno pun menjawab “Kamu tahu bahwa saya seorang yang percaya pada Tuhan. Semua hal bergantung pada yang diatas sana. Hidup atau mati semua bergantung pada yang diatas sana, bergantung pada Tuhan. Jatuh atau tidak jatuh juga bergantung pada Tuhan.” “Saya tidak melihat tanda apapun bahwa saya akan jatuh atau akan dijatuhkan.”

Jawaban ini tentu dilontarkan Sukarno dengan tujuan untuk menjaga kewibawaan kekuasaan di Indonesia, padahal beliau sendiri yang paling yakin mengenai kejatuhannya sudah dekat seperti yang sering beliau katakan kepada pengawalnya maupun anak-anaknya bahwa tanda kejatuhannya sudah dekat.

Cindy kemudian menanyakan “Setelah Sukarno tidak lagi menjadi Presiden, anda kira apa yang akan terjadi dengan republik ini?”

Sukarno menjawab “Andai Tuhan memberiku waktu 15 atau 20 tahun lagi maka saya akan pergi dengan hati yang tenang. Karena bangsa ini sudah menjadi bangsa sudah berkembang menjadi bangsa yang kuat.”

Cindy menanyai Sukarno, kali ini soal persatuan “Apakah setelah anda tidak lagi menjadi presiden tetap akan ada persatuan di negeri ini?”

Sukarno menjawab singkat “Saya kira ya.”

Cindy adams kemudian menanyai mengenai suksesor bung Karno “Apakah pernah terlintas di benak anda siapa yang akan menjadi pengganti anda?”

Sukarno menjawab ” Tidak! karena seorang suksesor tidak pernah ditunjuk, tetapi ia tumbuh bersama bangsa itu.”

Kurang puas mengenai jawaban Sukarno “Tapi apakah pernah terlintas di pikiran anda mengenai siapa suksesor anda”

Sukarno menjawab “tentu ada tapi saya kira sampai saat ini belum ada yag cukup dewasa untuk memimpin bangsa ini.”

Kemudian Cindy bertanya “bagaimana anda ingin dikuburkan nanti?”

Sukarno menjawab hal tersebut “Dibawah pohon besar, dibawah batu besar dan batu nisan. Mereka tidak boleh menulis di batu nisan ku Paduka Yang Mulia Presiden Sukarno dsb. , mereka cukup menuliskan disini beristirahat Bung Karno penyambung Lidah Rakyat Indonesia” Begitulah sekilas wawancara terhadap Sukarno. Seorang Bung yang terlalu besar untuk dikecilkan bahkan lewat doktrin desukarnoisasi ala Orde Baru.

Misteri Dua Paragraf Setan Otobiografi Bung Karno

Jpeg

(bukubukulawas.com)

Ada yang mengganjal ketika membaca secara runut tiga artikel Tempo itu. Bukan soal tudingan agen CIA, kisah pribadi Cindy Adams, detik-detik akhir kejatuhan Sukarno, atau mengenai kehidupan keluarga besarnya. Melainkan tentang misteri “paragraf setan” dalam otobiografi Sukarno berjudul “Sukarno: An Autobiography as Told to Cindy Adams” yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh -saat itu- Mayor TNI AD Abdul Bar Salim, menjadi “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia“.

Yang menarik ketika Tempo membeberkan adanya ketidak beresan pada otobiografi itu akibat penambahan dua paragraf dibanding versi aslinya dalam bahasa Inggris.

Meski hanya dua paragraf saja yang bisa jadi tidak memengaruhi isi buku atau soal pandangan masyarakat umum terhadap Indonesia. Namun, menurut saya pribadi, memang tambahan tersebut bisa menimbulkan perpecahan. Mengapa? Karena pada halaman 332, Sukarno terkesan meremehkan peran Mohammad Hatta saat proklamasi kemerdekaan. Tentu, saja, dua paragraf itu mengundang polemik dari berbagai kalangan, khususnya sejarawan. Saya sendiri baru merasa aneh ketika sudah tiga kali membaca otobiografi tersebut.

Tempo menuturkan bahwa, pada 2001, sejarawan Syafii Maarif juga penah marah-marah di hadapan keluarga Bung Karno saat acara peringatan 100 tahun Bung Karno. Kata Bung Syafii, Bung Karno mengecilkan peran Bung Hatta. Berikut dua paragraf yang menjadi kontroversi itu yang saya kutip dari otobiografinya:

Tidak ada orang jang berteriak “Kami menghendaki Bung Hatta”. Aku tidak memerlukannja. Sama seperti djuga aku tidak memerlukan Sjahrir yang menolak memperlihatkan diri disaat pembtjaan Proklamasi. Sebenarnja aku dapat melakukannja seorang diri, dan memang aku melakukannja sendirian. Di dalam dua hari jang memetjahkan uratsjaraf itu maka peranan Hatta dalam sedjarah tidak ada.
Perananja jang tersendiri selama masa perdjoangan kami tidak ada. Hanja Sukarnolah jang tetap mendorongnnja kedepan. Aku memerlukan orang jang dinamakan “pemimpin” ini karena satu pertimbangan. Aku memerlukannja oleh karena aku orang Djawa dan dia orang Sumatra dan dihari-hari jang demikian itu aku memerlukan setiap orang denganku. Demi persatuan aku memerlukan seorang dari Sumatra. Dia adalah djalan jang paling baik untuk mendjami sokongan dari rakjat pulang jang nomor dua terbesar di Indonesia.
Pertanyaannya, mengapa ada dua paragraf tambahan tersebut pada versi bahasa Indonesia?

Mohammad Hatta ada saat Cindy Adams meeawancarai Bung Karno

Yang menarik, ketika Cindy Adams mengkonfirmasi dalam wawancaranya kepada Tempo, bahwa dirinya sama sekali tidak mengetahui adanya tambahan kalimat pada dua paragraf tersebut, “Tidak, saya tidak pernah tahu hal itu. Saya tidak mungkin menulis itu. Hatta ada disana ketika saya mewawancarai Bapak (Sukarno).”

Suatu pernyataan yang wajar bagi Cindy Adams mengingat selepas menyelesaikan otobiografi Sukarno, dirinya memang langsung kembali ke AS. Setelah itu, wanita berusia 84 tahun ini baru kembali ke Indonesia hanya dalam tiga kesempatan seusai Sukarno wafat pada 1974, 1983, dan akhir tahun lalu.Sementara, Erwin Salim yang merupakan putra penerjemah “Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia“, Mayor Abdul Bar Salim membantah tudingan tersebut. Menurutnya, tidak mungkin, ayahnya menambahkan dua paragraf itu karena faktor Hatta sebagai sesama orang Minang yang dihormati.

“Bapak saya tentara, tapi orang Minang. Orang Minang itu lebih mengutamakan Mianangnya dari pada tentara. Mana mungkin Bapak berani mendiskreditkan Hatta,” tutur Erwin Salim seperti saya kutip dari Tempo. “Setahu saya, di Gunung Agung (penerbit) banyak orang Minang. Masak, orang Minang mau jelek-jelekin Bung Hatta?”

“Sejarah dibuat oleh pemenang”. Demikianlah pepatah lama mengingatkan kita tentang salah satu hukum alam yang universal. Termasuk juga berlaku di Indonesia menjelang peralihan kepemimpinan pada era 1960-an. Saya sendiri tidak menuding pemerintah Orde Baru terkait dengan penambahan dua paragraf tersebut saat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.Namun, hipotesis itu menjadi wajar mengingat otobiografi Sukarno diterbitkan di Indonesia pada 1966 saat Soeharto sudah mengambil kendali. Bahkan, dalam otobiografi itu terdapat kata pengantar langsung dari Soeharto yang menjabat sebagai Panglima Angkatan Darat TNI dengan pangkat Letnan Jenderal.

Hanya, bukan tidak mungkin penambahan dua paragraf itu karena suatu kesalahan cetak, kelalaian editorial, hingga salah terjemahan, Toh, otobiografi Sukarno versi bahasa Inggris terbit hanya sebulan setelah meletusnya Gerakan 30 September. Jadi, ada kemungkinan terjadinya kesalahpahaman atau kekeliruan dari pihak yang terlibat.

Yang pasti, biarlah sejarah yang akan membuktikannya pada masa depan. Itu seperti yang diungkapkan Sukarno pada pengujung kekuasaannya.

“Setiap tahun kekuatanku semakin berkurang, sedang tanggung-djawabku makin bertambah. Hingga saat ini aku telah membaktikan hidupku pada bangsa dan tanah airku dan aku ingin agar bisa mempersembahkan seluruh sisa hidupku.” (Sukarno)

Filosofi Tersembunyi Dari Bendera Merah Putih

bendera-merah-putih

Dalam buku berjudul ‘Api Sejarah’ karya Ahmad Mansur Suryanegara, disebutkan bendera Republik Indonesia (RI), Sang Saka Merah Putih, adalah Bendera Rasulullah Muhammad SAW.

Para ulama berjuang untuk mengenalkan Sang Saka Merah Putih sebagai bendera Rasulullah SAW kepada bangsa Indonesia dengan mengajarkannya kembali sejak Abad Ketujuh Masehi atau abad kesatu Hijriah. Masa ini bertepatan dengan masuknya agama Islam ke Nusantara.

Mansyur menyatakan para ulama membudayakan bendera merah putih dengan berbagai sarana antara lain tiga cara berikut:

  • Pertama, setiap awal pembicaraan atau pengantar buku, sering diucapkan atau dituliskan istilah Sekapur Sirih dan Seulas Pinang. Bukankah kapur dengan sirih akan melahirkan warna merah? Lalu, apabila buah pinang diiris atau dibelah, akan terlihat di dalamnya berwara putih?
  • Kedua, budaya menyambut kelahiran dan pemberian nama bayi serta Tahun Baru Islam senantiasa dirayakan dengan menyajikan bubur merah putih?
  • Ketiga, pada saat membangun rumah, di susunan atas dikibarkan Sang Merah Putih. Setiap hari Jum’at, mimbar Jum’at di Masjid Agung atau Masjid Raya dihiasi dengan bendera merah putih.

Mansyur pun menyatakan pendekatan budaya yang dilakukan para ulama telah menjadikan pemerintah kolonial Belanda tidak sanggup melarang pengibaran bendera merah putih oleh rakyat Indonesia.

Mansyur menegaskan bendera Rasulullah SAW berwarna Merah Putih seperti yang ditulis oleh Imam Muslim dalam Kitab Al-Fitan, Jilid X, halaman 340. Dari Hamisy Qasthalani,

Rasulullah SAW Bersabda: “Innallaha zawaliyal ardha masyaariqaha wa maghariba ha wa a’thonil kanzaini Al-Ahmar wal Abjadh”.

Artinya: “Allah menunjukkan kepadaku (Rasul) dunia. Allah menunjukkan pula timur dan barat. Allah menganugerahkan dua perbendaharaan kepadaku: Merah Putih”.

Informasi ini didapat Mansyur dari buku berjudul Kelengkapan Hadits Qudsi yang dibuat Lembaga Al-Qur’an dan Al-Hadits Majelis Tinggi Urusan Agama Islam Kementerian Waqaf Mesir pada 1982, halaman 357-374. Buku ini dalam versi bahasa Indonesia dengan alih bahasa oleh Muhammad Zuhri.

Mansyur mengemukakan sejumlah argumen pendukung untuk memperkuat pendapatnya, yakni merah putih adalah bendera Rasulullah Muhammad SAW.

Menurut Mansyur, Rasulullah Muhammad SAW memanggil istrinya, Siti Aisyah ra, dengan sebutan Humairah yang artinya merah.

Busana Rasulullah SAW yang indah juga berwarna merah, seperti disampaikan oleh Al Barra: “Kanan Nabiyu Saw marbua’an wa qadra ataituhu fi hullathin hamra-a, Ma raitu syaian ahsana min hu”

Artinya: “Pada suatu hari Nabi SAW duduk bersila dan aku melihatnya beliau memakai hullah (busana rangkap dua) yang berwarna merah. Aku belum pernah melihat pakaian seindah itu”.

Mansyur pun menyatakan busana warna putih juga dikenakan oleh Rasulullah SAW, sedangkan pedang Sayidina Ali ra berwarna merah dan sarung pedang Khalid bin Walid berwarna merah-putih.

Filosofi Angka 17 Menurut Bung Karno

Dalam buku berjudul ‘Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’  karya Cindy Adams, diceritakan bahwa dalam suatu pertemuan di kediaman Soekarno, 15 Agustus 1945 malam, Soekarno bertemu dengan sejumlah pemuda dan terlibat pembicaraan serius dengan mereka.

Saat  itu, sekitar pukul 22.00 WIB, Soekarno mengaku sedang sibuk merencanakan perincian strategi untuk proklamasi dengan dua orang rekannya, Sajuti Melik dan istrnya Trimurti, yang menjadi sekretaris Soekarno.

Beberapa pemuda seperti Khairul Saleh, Wikana dan Sukarni terlibat pembicaraan tegang dan serius dengan Soekarno pada 15 Agustus 1945 malam itu. Dalam salah satu bagian dialog itu, Soekarno menyatakan hal paling penting di dalam perperangan atau revolusi adalah saatnya yang tepat. Sewaktu berada di Kota Saigon, Vietnam, tepatnya saat menemui Jenderal Terauchi, Soekarno mengaku sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17 Agustus.

Lalu Sukarni pun bertanya: “Mengapa justru diambil tanggal 17 Agustus? Mengapa tidak sekarang saja atau tanggal 16 Agustus?”

Baca juga: Terungkap! Inilah Sejarah Hari Maritim

Dengan suara rendah dan tenang, Soekarno menjawab pertanyaan Sukarni: “Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan secara pertimbangan akal mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Namun, saya merasakan di dalam kalbuku bahwa waktu dua hari lagi adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka keramat, 17 adalah angka suci,” papar Sukarno kepada Sukarni.

“Pertama-tama, kita sedang berada dalam bulan Ramadhan, waktu kita semua berpuasa. Bukankah begitu?” ujar Sukarno. Sukarni pun menjawab: “Ya”.

Sukarno pun kembali bertanya: “Ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Bukan begitu?”  “Ya,” jawab Sukarni.

“Hari Jum’at ini Jum’at Legi. Jum’at yang berbahagia. Jum’at suci. Dan hari Jum’at adalah tanggal 17. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17. Orang Islam sembahyang 17 raka’at dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammad memerintahkan 17 raka’at, mengapa tidak 10 atau 20 saja? Ini karena kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia,” papar Sukarno kepada Sukarni.

Sukarno pun melanjutkan pernyataannya kepada Cindy Adams, penulis buku ini. “Pada waktu saya mendengar berita penyerahan Jepang, saya berpikir bahwa kita harus segera memproklamirkan kemerdekaan. Kemudian saya menyadari, adalah Kemauan Tuhan peristiwa ini akan jatuh di hari-Nya yang keramat. Proklamasi akan diumumkan tanggal 17. Revolusi menyusul setelah itu,” ungkap Sukarno.

Sumber

  • Artikel ini dikumpulkan dari berbagai sumber
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s