Lanjutan dari: Ganti Rezim Ganti Sistim – Pergulatan Menguasai Nusantara [bagian 3]


Membedah Buku

Ganti Rezim Ganti SistemGanti Rezim Ganti Sistim – Pergulatan Menguasai Nusantara

Karya Sri Bintang Pamungkas.


Sambil Berbisnis

Ternyata Soeharto tidak banyak berbeda dari Ibnu Soetowo. Soeharto, sudah hampir dipastikan, menggunakan dana Negara untuk membangun apa yang kemudian orang sebut sebagai Soeharto Incorporated. Pada awalnya Soeharto membangun puluhan Yayasan, dari mana kemudian di bawah yayasan-yayasan itu didirikanlah usaha-usaha korporasi. Menurut George Yunus Adicondro, sosiolog dari Universitas Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah, ada sekitar 80 buah yayasan yang didirikan Soeharto dan keluarga, kerabat serta orang-orang dekatnya. Yayasan-yayasan itu bisa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, yaitu: yang diketuai Soeharto sendiri; yang diketuai oleh isterinya, Tien Soeharto; yang dipimpin Soeharto bersama Bob Hassan dan BJ. Habibie; yang dipimpin anak dan menantu Soeharto; yang dipimpin oleh besan dan sanak saudaranya; dan yang dipimpin kerabat Soeharto dan kerabat Tien Soeharto.

Di antara yayasan-yasan itu yang terkenal adalah Yayasan Harapan Kita yang membangun Rumah Sakit; Yayasan Super Semar yang memberikan beasiswa; dan Yayasan Amal Muslim Pancasila yang membangun mesjid-mesjid. Berkedok yayasan-yayasan itu Soeharto menjalankan usaha-usaha swasta murni lainnya, seperti keuangan dan perbankan, perdagangan dan industri, penerbangan, serta pers dan rumah sakit. Sedemikian rupa, sehinggaSoeharto Incorporated memiliki tidak kurang dari 1.250 perusahaan, yang dipersiapkannya seandainya kesepakatan APEC berimbas keuntungan bagi Indonesia. Yang banyak dikenal orang, antara lain, adalah pabrik kertas Kiani, pabrik kabel Kabelindo, flour mill Bogasari dan pabrik kimia Chandra Asri, di usaha mana ada saham penyertaan keluarga Soeharto. Di samping itu masih banyak usaha-usaha korporasi lain yang dikelola anak-anak Soeharto, seperti PT. Sempati dan PT. Mandala yang bergerak di bidang transportasi pesawat terbang; PT. Bimantara dan PT. Timor yang memproduksi mobil; lalu ada PT. Humpuss dan PT. Lamtoro Gung yang menangani banyak bidang usaha.

Hobi Soeharto mendirikan yayasan-yayasan itu tidak terlepas dari pengalamannya sewaktu menjadi Komandan Teritorial-IV yang kemudian berubah menjadi Divisi-VII Diponegoro. Dia menjadi Komandan Diponegoro pada 3 Juni 1956, dan naik pangkat menkadi kolonel pada 1 Januari 1957. Dalam jabatan komandan itu, dia memprakarsai pembentukan badan-badan koperasi di seluruh wilayah kesatuan Diponegoro dengan maksud meningkatkan kesejahteraan prajurit dan masyarakat sekelilingnya; antara lain, dengan melakukan kegiatan perdagangan antar pulau dan expor-impor. Di situ dia dibantu oleh Soetikno, alias Lie Tek Liong, seorang pedagang dari Sindang Laut, Cirebon. Pada waktu Soeharto terkena tuduhan melakukan tindakan korupsi dalam menjalankan bisnisnya yang melibatkan uang Kodam Diponegoro, dan sempat diperiksa beberapa lama, Soetikno itulah yang pasang badan menjadi joki dandivonis bersalah.

Tek Liong pulalah, setelah keluar penjara, menjadi orang yang sangat dipercaya Soeharto; termasuk mengantar gulai sumsum tulang belakang kambing yang menjadi makanan kesukaan Soeharto ke rumah, di Jalan Haji Agus Salim. Ketika kemudian menjadi Presiden, Soeharto memberi Soetikno pangkat tituler, Mayor Jenderal; tentulah Soeharto meniru hal yang dilakukan oleh Belanda terhadap orang-orang Etnis Cina Indonesia, ECI, yang dianggap punya jasa di jaman penjajahan dulu. Para perwira tinggi, khususnya dari Angkatan Darat, yang ingin mendapat kenaikan pangkat dari Soeharto dengan sabar datang dan antre untuk mendaftar di Kantor Mayor Jenderal Soetikno di Gedung Transaera, di Jalan Medan Merdeka Selatan; seakan-akan Soetikno menjadi penasihat Soeharto di samping Wanjakti, Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi.

Adalah Soetikno pula yang kemudian dipercaya Soeharto untuk mengurus usaha peternakannya, PT. Tiga “S”, di Tapos, Bogor. Orang banyak mengartikan Tiga “S” sebagai kependekan dari Soeharto, Soetikno dan Sigit, anak Soeharto yang paling tua.

Meskipun begitu, penasihat Soeharto di bidang bisnis yang sesungguhnya adalah Bob Hasan, bukan Soetikno. Bob Hasan yang nama aslinya The Kian Seng juga bertemu dengan Soeharto ketika Soeharto menggantikan posisi Jenderal Gatot Soebroto sebagai Komandan TT-IV Diponegoro. Kian Seng adalah anak angkat Pak Gatot Soebroto, sesudah Sang Jenderal merasa iba terhadap anak yang ditabrak mobilnya itu; Soeharto dimintanya untuk memperhatikan anak angkatnya yang asal Semarang itu. The Kian Seng mengubah namanya pada waktu masuk Islam menjadi Bob Hasan yang ternyata sangat piawai menjalankan bisnis; bersama Soeharto, Bob membangun bisnisnya di lingkungan Divisi Diponegoro.

Waktu The Kian Seng masih kanak-kanak, Liem Sioe Liong sudah menjadi pedagang; Sioe Liong akhirnya berteman pula dengan Soeharto. Sioe Liong yang lahir di Fukien, RRC pada 1916, jadi beda 15 tahunan dari Kian Seng, masuk ke Indonesia pada usia 20 tahun. Awalnya Liem Sioe Liong mendarat di Semarang, menyusul kakaknya, Liem Sioe Hie, yang sudah menjadi saudagar pemasok minyak sawit dari Sumatera ke Jawa lebih dahulu. Setelah merasa berhasil menjadi pedagang, pada sekitar tahun 1940-an, Sioe Liong hijrah ke Kudus dan memulai usaha sebagai penyalur cengkih untuk pabrik-pabrik rokok yang banyak di situ, serta tembakau. Sebagai penyalur tekstil, dilakukannya impor dari Cina.

Konon Sioe Liong juga berdagang senjata untuk memasok para tentara dalam melawan Belanda pasaca kemerdekaan. Ketika menjadi Panglima Divisi Diponegoro itulah Soeharto bertemu Liem Sioe Liong, si Saudagar dari Fukien. Lewat Soeharto pula,  Sioe Liong memegang hak monopoli, antara lain, pengadaan sabun dan keperluan rumah tangga untuk tentara di Divisi Diponegoro.

Tentulah Lie Tek Liong, The Kian Seng dan Liem Sioe Liong kenal satu sama lain. Mereka pasti juga tahu tentang perkara korupsi yang dituduhkan terhadap Soeharto, sebab terjadinya penyimpangan dalam soal barter gula itu dilakukan Soeharto bersama-sama Kian Seng dan Sioe Liong. Tetapi bagaimana akhirnya Tek Liong yang masuk menjadi joki di penjara, tidak pernah terungkap; Soeharto sendiri tidak pernah berbicara soal pengalaman pahitnya itu.

Ternyata Gatot Soebroto dan Ahmad Yani tahu juga soal korupsi itu dan merasa ikut berkepentingan. Ahmad Yani dan Soeharto yang sama-sama Letkol pernah sama-sama bertugas di Jawa Tengah dalam waktu yang hampir bersamaan. Ketika Soeharto memegang Divisi Diponegoro, Ahmad Yani sudah menjadi asistennya Mayjen Nasution, Kepala Staf Angkatan Darat. Ahmad Yani sempat marah dan mengusulkan agar Soeharto dipecat dari Angkatan Darat; bahkan Ahmad Yani sempat melakukan tindakan fisik terhadap Soeharto. Akan tetapi karena pembelaan Wakil Kasad Mayjen Gatot Subroto, dan permohonan isterinya, Siti Soehartinah, Soeharto hanya diwajibkan untuk sekolah lagi di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, SSKAD, di Bandung.  Sesudah selesai sekolah, dia “merasa” dibuang ke Kostrad oleh Nasution dan Soekarno.

Kostrad pada awalnya adalah sebuah komando untuk cadangan tentara nasional. Komando itu didirikan pada 6 Maret 1961 atas prakarsa Soekarno dan Nasution. Soeharto adalah Komandan Kostrad yang pertama. Setelah menyelesaikan sekolahnya di SSKAD Bandung, Soeharto ditempatkan di Markas Besar Angkatan Darat, sebagai Deputi-I KASAD. Sementara itu pangkatnya sudah naik menjadi Brigadir Jenderal. Sebelum ditempatkan di Kostrad, Soeharto masih sempat bepergian ke luar negeri mendampingi Nasution, antara lain, ke Yugoslavia, Perancis dan Jerman Barat. Di Jerman itulah Soeharto bertemu kembali dengan BJ. Habibie yang sudah dikenalnya ketika di Makasar. BJ. Habibie sedang bersekolah di Sekolah Tinggi Teknik Aachen, Jerman Barat.

Di dalam bukunya, Soeharto mengakui bahwa barter beras dengan gula itu memang terjadi (Dwipayana dan Ramadhan; 1989). Ditugasinya Bob Hasan ke Singapur untuk mendapatkan beras. “Beras harus tiba dulu di Semarang, baru gula bisa dikirim”, katanya. Tetapi Soeharto juga menganggap bahwa tuduhan itu adalah fitnah terhadap dirinya. Tuduhan itu, katanya, datang ketika dia sedang bersekolah di SSKAD, Bandung. Sangat mungkin dendam Soeharto terhadap Ahmad Yani dan Nasution, dan juga Soekarno, itu pula yang menjadi salahsatu alasan yang melahirkan Peristiwa ’65; dan juga pembunuhan terhadap tujuh jenderal dalam G30S kurang dari 10 tahun dari sejak perkara korupsi itu terungkap.

Rupanya kebiasaan Soeharto mengumpulkan uang sewaktu menjadi Komandan Kostrad pun tidak hilang. Tentulah itu dari para pengusaha ECI kenalannya selama itu; dengan dana itu pulalah kiranya dia menyiapkan diri menghadapi Peristiwa ’65. Soeharto pun mendirikan Yayasan Kostrad yang lalu mampu menghimpun banyak uang. Dari dana itu dia membantu Liem Bian Kun, aktivis mahasiswa ’66 yang ikut mendukung gerakan menjatuhkan Soekarno, menjadi pengusaha; tentunya juga aktivis yang lain dibantunya. Bian Kun, yang mengubah nama menjadi Sofyan Wanandi, kemudian menjadi pengusaha besar, bahkan terpilih ke sekian kali menjadi Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia, Apindo; bahkan sampai sekarang. Dari situ pulalah gerakan ECI untuk mendominasi perekonomian Indonesia dimulai; bahkan menjadi gerakan untuk menguasai Nusantara bersama CSIS.

Adalah CSIS, atau Central Strategic and International Studies, yang didirikan Harry Tjan, juga aktivis ’66, yang menambahkan namanya dengan Silalahi, pada 1971, bersama dengan Liem Bian Kie, atau Jusuf Wanandi, kakak Sofyan. Di belakang mereka adalah Letkol Ali Murtopo, Staf Bidang Intelijen Luar Negeri dan Kolonel Sudjono Humardani, Staf Bidang Ekonomi; pada awalnya, keduanya adalah Asisten Pribadi Soeharto, yang kemudian menjadi Jenderal. Melalui keduanya, kelompok CSIS ini dipercaya memberikan masukan-masukan kepada Soeharto dalam menetapkan kebijakan Orde Baru di dalam negeri dan hubungan luar negeri. Dalam perjalanannya, CSIS merupakan kumpulan dari para tokoh dan pemikir yang mendekatkan diri kepada pemerintah Orde Baru dan Golkar, bahkan berusaha menjadi think tank-nya. Mereka berseberangan, kalau tidak mau dibilang membenci, kelompok Islam pada umumnya; sebaliknya mereka dekat dengan kelompok ECI dan non-muslim umumnya. Agama Nasrani memang menjadi tempat pelarian orang-orang ECI, di mana mereka merasa lebih nyaman menjadi Nasrani daripada Islam dan agama leluhur mereka.

Ali Murtopo yang amat berambisi menggantikan Soeharto dan Sudjono Humardani yang tokohklenik dan anti Islam dikenal sebagai tokoh-tokoh Opsus, Operasi Khusus, Rezim Soeharto, yang membawa CSIS melakukan banyak “operasi khusus” atau intelijen kepada berbagai lapisan dan kelompok masyarakat Indonesia, termasuk Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia, ICMI. Pada awal Orde Baru mereka ikut memberi arti kepada Pendidikan Pancasila, dan menjauhkan Soeharto dan ABRI dari Islam. Hal itu berlanjut dalam masa kepemimpinan Benny Moerdani yang mendirikan Badan Intelijen Strategis, BAIS, yaitu setelah Ali Murtopo tersingkir. Kehadiran Ali Murtopo dan Benny Moerdani, dan di belakang itu adalah Soeharto sendiri, menjadi awal dari perpecahan di kalangan ABRI dan pelemahan terhadap kekuatan TNI khususnya; sesuatu yang justru dikehendaki oleh kelompok CSIS secara diam-diam (Adicondro; 2003).

Di antara para tokoh pemikirnya semasa Soeharto adalah Daud Yoesoef, Pang Lay Kim dan Pater Beek, SJ. Sekembali dari Perancis, Daoed Yoesoef dipromosikan CSIS menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pang Lay Kim yang mengubah namanya menjadi Pangestu adalah ahli ekonomi yang dikenal sebagai Bapak Swastanisasi Indonesia. Badan-badan Usaha Milik Negara, BUMN, baginya adalah beban Negara yang harus diswastakan; sesudah diswastakan, BUMN-BUMN itu bisa saja kemudian diambil alih kaum ECI. Pater Beek berkelahiran Belanda, pernah menjabat Kepala Dokumentasi di Vatikan adalah Pastor dari Ordo Jesuit. Dia mendidik pemuda-pemuda Katolik Indonesia untuk membenci Islam. Kemudian ada Hadi Soesastro, Soedjati dan Sudradjat Djiwandono bersaudara, J. Kristiadi dan Mari Elka Pangestu, anak Pang Lay Kim.

Begitu Soeharto menjadi pejabat Presiden pada 1967, Bob Hasan mengawali kepiawaiannya dengan mendorong Soeharto untuk mengelola bisnis kehutanan di Luar Jawa. Pada tahun 1971 Bob Hasan diberi kepercayaan Soeharto untuk menjadi agen tunggal bagi perusahaan-perusahaan asing yang mau menanam modalnya di bidang kehutanan di Kalimantan dan tempat-tempat lain. Dalam kesempatan itu Bob menjadi mitra patungan perusahaan Amerika Serikat Georgia Pasific; Bob pun menjadi perantara dengan mempertemukan perusahaan-perusahaan asing itu dengan mitra patungannya di Indonesia. Ketika pada tahun 1981 pemerintah mulai melakukan larangan terhadap ekspor kayu gelondongan, Georgia Pasific lalu dijual kepada Bob Hasan. Pada akhirnya Bob menjadi Raja Kayu Indonesia dan pemasok kayu lapis terbesar dunia.

Pada Maret 1998, Soeharto memberi Bob Hasan dengan hadiah pada ulang tahunnya yang ke 67 berupa kedudukan Menteri Perdagangan dan Perindustrian; dia menjadi satu-satunya orang keturunan Cina yang diangkat Soeharto menjadi menteri sekalipun hanya untuk 3 bulan, yaitu justru sebelum Soeharto mundur pada bulan Mei. Bob dikenal sebagai perintis dan penyumbang terbesar kegiatan olahraga, khususnya atletik,  di Indonesia. Sesudah Soeharto mundur, Bob sempat didenda 50 milyar Rupiah, karena terbukti membakar hutan Sumatera. Terakhir, Bob menjadi terdakwa dalam perkara korupsi yang merugikan Negara 2.4 trilyun Rupiah karena memalsu peta pengusahaan hutan, dan karenanya dihukum masuk penjara selama 6 tahun; dari penjara Cipinang, Bob dikirim ke penjara Nusakambangan sampai keluarnya pada 2004; lalu meninggal pada 2010.

Akan halnya Liem Sioe Liong, seperti Bob Hasan, Sioe Liong pun ganti nama menjadi Sudono Salim sesuai dengan instruksi  menteri Dalam Negeri Nomor 6/1969 untuk semua warga Negara Indonesia keturunan Cina. Diilhami oleh bantuan Amerika Serikat pasca Peristiwa ’65 dalam rangka PL-480, di mana Indonesia mendapat bantuan pangan, antara lain, tepung terigu, maka Sudono Salim diberi hak sebagai agen tunggal pemasok terigu ke Indonesia. Kegiatan itu dilanjutkan Sudono Salim bersama Djuhar Sutanto alias Lin Wen Chiang, Ibrahim Risyad dan Sudwikatmono dengan mendirikan PT. Bogasari Flour Mill, perusahaan tepung terigu Indonesia terbesar yang memonopoli 2/3 kebutuhan dalam negeri. Pabriknya didirikan di kawasan pelabuhan Tanjung Priok, di Jakarta dan Tanjung Perak, di Surabaya, sehingga impor terigu, terutama dari Australia, bisa tercurah dari kapal angkutnya langsung ke pabriknya.

Sudono Salim adalah pendiri dan pemilik Grup Salim pada 1968 yang meliputi Indofood, Indomobil, Indosiar, Bank Central Asia, Bank Windu Kencana, Indomaret, Indomarco, PT. Mega, PT. Hanurata, PT. Waringin Kencana dan lain-lainnya. Tidak kurang dari 300 usahanya di seluruh Indonesia, tetapi hanya mampu menyerap 135 ribu karyawan. Kekayaannya yang mencapai semua usaha itu diperolehnya dari kedekatannya dengan Soeharto. Berbagai usahanya itulah yang membikin Sudono Salim, selain orang terkaya Indonesia, juga tepercaya di mata Soeharto. Soeharto menyebutnya sebagai “ayam petelur emas” yang selalu mengisi pundi-pundi Soeharto dengan membantu yayasan-yayasan yang didirikannya. Om Liem, demikian anak-anak Soeharto menyebut Sudono Salim, yang sekaligus menjadi ejekan orang untuk mencemoohnya, selalu memberi hadiah rumah kepada para jenderal yang “menjaga” Soeharto. Sudono Salim pulalah terutama yang membantu Soeharto dengan dana untuk menginvasi Timor-Timur atas perintah Amerika Serikat.

Pada 1997, sebelum terjadi krisis moneter, kelompok usaha Salim Group sudah memiliki sekitar 500 perusahaan dengan nilai aset mencapai sekitar USD 20 miliar dan memiliki tak kurang dari 200 ribu tenaga kerja. Sudono Salim termasuk 10 orang paling kaya di Indonesia, menjadi langganan dalam daftar 25 besar pengusaha terkaya di Asia dan 100 orang terkaya di Dunia versi majalah Forbes.

Pada saat terjadi krisis moneter 1997/1998, bisnis Salim Group ikut terkena imbasnya dan mengalami kemunduran ketika utangnya diperkirakan mencapai USD 4,8 miliar. Selain tidak lagi dipercaya oleh Soeharto untuk ikut mengelola yayasan-yayasan Soeharto, Salim Group terpaksa harus menjual 108 perusahaan kepada pemerintah guna membayar utangnya yang Rp 52,7 triliun; sedemikian sehingga BCA terpaksa harus pula berpindah tangan ke Grup Djarum. Dalam Kerusuhan Mei yang melanda Jakarta pada Mei 1998, rumahnya yang berada di jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, ikut menjadi korban perusakan dan penjarahan. Setelah peristiwa tersebut, Sudono Salim meminta anaknya Anthony Salim dan menantunya Fransiscus Welirang untuk menggantikan kepengurusan bisnisnya. Pada 1998 itu pula, mengikuti lengsernya Soeharto, Sudono Salim pindah dan tinggal di Singapur hingga tutup usia pada 2012.

Rakyat Bergerak 

Rupiah benar-benar jatuh dari ketinggial 2.450 Rupiah per Dollar pada pertengahan Juni 1997 mencapai 16.500 Rupiah pada Januari 1998; bahkan sempat menyentuh 17.000 Rupiah pada 22 Januari. Jatuhnya Rupiah itu dipicu pula oleh putusan melikwidasi 16 buah bank swasta oleh Menteri Keuangan Mar’ie Muhamad. Ironinya, kebijakan yang membikin bangkrut bank-bank itu justru adalah saran yang bersifat memaksa oleh duo pembesar Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional atau WB dan IMF, yang masing-masing dipimpin James Wolfensohn dan Michael Camdessus; konon untuk mencegah krisis keuangan dan perbankan Indonesia yang lebih besar.

Sebagai akibatnya terjadi rush yang luar biasa besarnya, yang memaksa pemerintah memberikan injeksi Bantuan Likwiditas Bank Indonesia kepada perbankan dan industri lain lebih dari 1000 trilyun Rupiah! Pengucuran dana BLBI dalam situasi krisis itu menjadi kacau-balau, dan sarat dengan tindakan pidana korupsi oleh para pemilik korporasi dan para Pejabat Tinggi Negara dan pimpinan Bank Indonesia. Perampokan atas uang rakyat itu sampai hari ini belum juga berhasil diselesaikan dan dibongkar; atau mungkin justru sengaja dipeti-eskan, karena terlalu banyak pejabat yang terlibat. Sementara itu para penikmatnya justru sudah menjadi orang-orang kaya dan konglomerat yang tak tersentuh hukum, dan makin lebar pula kesenjangan antara si Kaya dan si Miskin.

Di tengah-tengah krisis moneter pada 12 Mei itu, aksi Mimbar Bebas diadakan oleh Senat Mahasiswa Universitas Trisakti di dalam kampus dengan tema Pemberdayaan DPR/MPR dan Koreksi Terhadap Eksekutif. Ketua Senat Mahasiswa Hendro Cahyono sudah mengantongi Surat Ijin dari Rektor Prof. Dr. Moertedjo. Mahasiswa menilai, bahwa selama lebih dari 30 tahun Rezim Soeharto, DPR/MPR lebih menyerupai corong pemerintah daripada badan wakil rakyat; dan bahwa kebijakan pemerintah dalam hampir semua bidang, khususnya ekonomi, sosial, hukum dan politik tidak berpihak kepada rakyat banyak, bahkan terasa gagal dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Di belakang mimbar berjajar bendera tiap-tiap universitas yang ikutserta meramaikan acara itu; mereka datang dari Jakarta, seperti Universitas Indonesia, Universitas Nasional, Institut Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Pancasila, Universitas Jakarta, Institut Sains dan Teknologi Nasional, dan masih banyak lagi lainnya. Berbagai spanduk dan poster juga menghiasi arena di sekitar mimbar bebas tersebut. Salahsatu poster besar yang sengaja dipasang di depan bertuliskan “Rakyat Minta Soeharto Turun!”

Berbagai sambutan oleh para pimpinan dan dosen Trisakti dilanjutkan dengan orasi para tokoh masyarakat. Awalnya acara berjalan dengan tertib; demikian pula ketika para tokoh mahasiswa mulai berorasi. Menjelang siang hari, ketika lebih banyak lagi mahasiswa datang dari berbagai universitas lain, suasana menjadi memanas karena sepasukan polisi dengan senjata lengkap memaksa masuk dan berdiri mengelilingi panggung mimbar tempat berorasi. Para mahasiswa itu seperti dibakar amarahnya, mengingat sehari sebelumnya sepasukan polisi juga melakukan kekerasan terhadap aksi serupa di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, IKIP, Jakarta, yang berakibat beberapa mahasiswa jatuh menjadi korban.

Suasana mimbar menjadi agak kacau ketika para mahasiswa merasa terganggu dan menjadi tidak suka dengan kehadiran beberapa aparat kepolisian itu. Satu-demi-satu para mahasiswa meninggalkan panggung untuk keluar menuju pintu gerbang universitas di jalan S. Parman. Tanpa dikomando, mereka bersepakat untuk turun ke jalan seakan-akan menantang para aparat Polri yang datang tak diundang itu. Menjelang jam 13, pintu gerbang dibuka, dan para mahasiswa berbaris di jalanan dengan satu maksud melakukanlong-march menuju gedung DPR/MPR.

Di depan mereka sudah siap lebih banyak lagi pasukan polisi yang menghadang lengkap dengan tameng dan pentungan. Ketika tawar-menawar antara pimpinan mahasiswa dengan komandan sedang berlangsung, bahwa para mahasiswa akan berjalan kaki ke arah gedung DPR/MPR dengan tertib, sepasukan militer di bawah komandan distrik militer ikut menghadang barisan mahasiswa. Menjelang jam lima sore hari, kesepakatan tercapai, bahwa baik mahasiswa maupun pihak aparat Polri dan TNI sama-sama mundur dari posisinya saat itu: para mahasiswa kembali masuk ke kampus, dan pasukan aparat pun kembali ke markasnya masing-masing.

Akan tetapi ketika para mahasiswa mulai bergerak kembali ke kampus, tidak terlihat adanya gerakan mundur dari pasukan aparat keamanan. Hal ini tentu saja menimbulkan kemarahan para mahasiswa, sehingga mereka pun mengurungkan niatnya kembali ke kampus. Kata-kata kotor dan lemparan botol minuman ke arah pasukan ternyata dibalas dengan serbuan oleh pasukan keamanan dengan lemparan gas air mata dan tembakan ke arah atas. Mereka mengejar para mahasiswa, bahkan sepasukan Unit Reaksi Cepat menggunakan sepeda motor jengkidan rotan pemukul menyerbu dan memukul ke tengah-tengah kerumunan mahasiswa, sehingga banyak pula mahasiswa yang jatuh dan lari tunggang langgang masuk kembali ke kampus. Mereka yang jatuh pun masih mendapat pukulan dan tendangan secara brutal.

Setelah sebagian besar mahasiswa memasuki kampus, dan aparat berhenti sampai di pintu gerbang, terdengarlah suara beberapa tembakan. Sebagian peluru hasil tembakan itu mengenai tembok gedung terdekat, tetapi sebagian yang lain menembus tubuh limabelas mahasiswa; tiga di antaranya tewas seketika, dan beberapa lainnya dinyatakan dalam keadaan kritis. Satu korban tewas lagi menyusul. Malam hari itu seluruh  Indonesia berkabung. Banyak di antara warga Jakarta yang datang ke kampus untuk menyatakan dukacitanya. Wakil Presiden Habibie, atas nama pemerintah dan pribadi, juga menyatakan dukacitanya. Berbagai lembaga, seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Keluarga Besar Universitas Indonesia, Petisi-50, YLBHI, Lembaga Pembela Hak-hak Asasi Manusia, serta pribadi-pribadi menyampaikan kutukannya terhadap peristiwa berdarah yang merenggut jiwa anak-anak muda harapan bangsa itu.

Herry Hertanto, dari Teknik Mesin 1995, Hafidhin Royan, dari Teknik Sipil 1996, Elang Mulia Lesmana, dari Teknik Arsitektur 1996, dan Hendriawan Sie, dari Ekonomi Menejemen 1996 adalah mereka yang tewas. Mereka yang meninggal itu dibawa kembali ke kampus pada sekitar jam 03.00 dini hari Rabu dari Rumah Sakit Sumber Waras, dan disemayamkan di gedung Sjarief Thayeb Universitas Trisakti. Jam 04.30 pagi itu dilakukan pelepasan jenazah kepada keluarganya diiringi oleh lantunan lagu Gugur Bunga:

“Telah gugur pahlawanku… Tunai sudah janji bakti…”

Rupanya para pimpinan Universitas Trisakti telah dihubungi oleh para pejabat tinggi, pimpinan keamanan dan Menteri Pendidikan agar mereka yang tewas segera dievakuasi untuk secepatnya bisa keluar kampus, serta mencegah kemarahan masyarakat dan hal-hal yang tidak diinginkan lainnya. Sebelum ke empat peti mati yang dibungkus dengan bendera Merah-Putih itu diangkat, Rektor Moertedjo menyampaikan sambutan singkatnya:

“… Sekalipun pemerintah tidak menyatakan mereka sebagai pahlawan; akan tetapi kami, khususnya sivitas akademika Universitas Trisaksi seluruhnya, di dalam hati, kami anggap mereka adalah pahlawan dan pejuang reformasi sejati!”

Kata-kata itu disambut dengan tangisan dan isakan pihak keluarga, di samping tepukan tangan lirih tanda sepakat dari para hadirin bahwa mereka adalah pahlawan reformasi. Tetapi dari kejauhan terdengan sesekali teriakan beberapa mahasiswa “Selamat Jalan Pahlawan Reformasi!”; “Selamat Jalan Pahlawan Rakyat!”; dan “Hidup Mahasiswa!”.

Ketika itu aku masih berada di penjara Cipinang; melalui kurir penjara Cipinang, Selasa malam itu aku memberi kabar kepada Erna, isteriku, agar tidak usah menengokku pada Rabu esok harinya, tetapi memintanya untuk pergi ke kampus Universitas Trisakti saja untuk menyatakan dukacita kami. Aku tidak lupa menyampaikan selamat ulang tahunnya pada 14 Mei. Erna datang ke sana, dan bahkan menyampaikan orasi bersama para aktivis dan tokoh-tokoh lain, seperti Bang Ali Sadikin, Bang Buyung, Mahar Mardjono, Hariadi Darmawan, Karlina Leksono, WS. Rendra, Hariman Siregar, Setiawan Djodi, Megawati, Amien Rais dan Emil Salim. Dalam orasinya, Erna juga meneriakkan beberapa kali:“Gantung Soeharto!” yang segera disambut dengan teriakan riuh yang sama oleh para mahasiswa. Ada sekitar lima ribuan mahasiswa hadir pada siang hari itu.

Ketika jenazah Herry Hertanto dan Elang Laksana dibawa ke Pemakaman Tanah Kusir, ada limabelas ribuan orang hadir dalam upacara penguburan itu. Jenazah Hendriawan Sie yang dikubur ke Pemakaman Kebon Jeruk juga diiringi oleh ribuan pelayat. Sedang jenazah Hafidhin Royan segera dibawa oleh keluarganya ke Bandung, tempat orang tuanya tinggal, dan dimakamkan di sana.

Tentang Tragedi Trisakti itu aku sempat menulis di selku di Cipinang sebagai berikut, dengan judul “ParaSnipers di Trisakti” tertanggal 13 Mei, tentulah malam hari:

“Tidak ada tayangan yang begitu mengharukan seperti yang diambil SCTV sore hari menjelang tenggelamnya matahari. Diiringi hanya dengan lagu tanpa syair, yang menyayat, dan menyedihkan. Mirip memang dengan saat-saat ketika orang menguburkan jenasah. Dan gambar tayangan itu, sepertisilhuette,lebih memperjelas kepedihan dan keharuan yang sekaligus bercampur dengan rasa geram dan gemas. Dan itu baru terjadi pada tanggal 13 Mei sore hari.

Pada awalnya ditayangkan situasi di sekitar Universitas Trisakti. Matahari yang sedang tenggelam ke arah Barat itu memang memperlihatkan suasana seram dan kelam: gedung-gedung hanya kelihatan seperti sosok-sosok yang gelap. Demikian pula pohon-pohonan. Sepi! Yang ada hanya lagu yang menyayat-nyayat hati itu. Lalu ada gambar sosok jembatan. Tentu itu jembatan layang di muka Universitas Trisakti. Di latar belakangnya terlihat bangunan-bangunan gelap seperti Universitas Tarumanegara, juga kelihatan seperti bangunan Hotel Ciputra.

Lalu di atas jembatan terlihat ada sosok-sosok manusia yang bergerak. Bahkan berlari-lari seakan berkejaran. Ternyata mereka juga memegang tongkat yang dibidikkan. Ternyata itu senapang berlaras. Mereka pasti tentara, atau anggota angkatan bersenjata. Mereka berlari-lari sambil menembak. Mereka tidak satu, tetapi banyak. Mereka pasti menembak ke arah bangunan Kampus Universitas Trisakti. Warta berita sebelumnya menyebut-nyebut soal itu.

Tayangan berikutnya tidak dalam kegelapan menjelang matahari terbenam. Tetapi kelihatan nyata. Tetapi lagu yang mengiringinya tetap menyayat. Tidak ada suara manusia, jerit ataupun tangis. Tetapi dari gambar kelihatan tubuh-tubuh bergelimpangan. Ada wajah menggeliat kesakitan. Ada darah menggenang. Ada baju-baju berdarah-darah. Ada orang-orang berteriak histeris. Ada yang jatuh di jalanan. Ada wanita yang jatuh, matanya terbelalak tak bergerak. Mungkin dia mahasiswi yang juga jatuh karena pukulan atau tembakan. Ada tentara-tentara; cukup banyak. Ada pula polisi-polisi; banyak pula. Salahasatu dari mereka menginjak tubuh mahasiswi itu. Juga tubuh pemuda-pemuda lainnya. Semuanya tak bersuara. Hanya lagu-lagu sedih yang memilukan. Tapi itu semua, itu semua sudah menceritakan dan menunjukkan gambaran sesungguhnya dari apa yang terjadi…; tanpa usah ada kata-kata, apalagi warta berita!

Lalu ada suasana sebuah rumah sakit. Ada wajah-wajah yang menangis. Ada wajah yang meraung-raung. Ada yang memeluk putus asa. Ada tubuh yang tak bergerak. Tubuh yang tak bisa bergerak itu dipeluki banyak orang. Mereka memeluk sambil menangis, menahan isak, gemas, geram, meraung. Tentu itulah para mahasiswa Universitas Trisakti yang tewas. Mereka tewas terkena peluru-peluru tongkat senjata yang dibidikkan dari atas jembatan layang. Mereka tewas sebagai pahlawan. Pahlawan reformasi!” 

Tetapi lewat tengah hari, sesudah upacara penguburan itu selesai, Jakarta terbakar. Beberapa titik api mulai tersulut di beberapa pusat bisnis di Jakarta Barat, Utara dan Timur; yang lalu melebar ke banyak tempat yang lain. Kebakaran di pusat-pusat bisnis ini ternyata menelan ratusan korban jiwa. Mereka terbakar seperti kayu bakar. Erna membantu orang-orang yang kehilangan sanak-saudaranya di Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo untuk mengidentifikasi korban-korban yang hangus terbakar. Berhari-hari sesudah itu baru bau mayat hangus hilang dari baju dan badannya.

Semula ada yang mengaitkan kebakaran ini dengan kemarahan mahasiswa terhadap kematian rekan-rekannya. Akan tetapi teori ini ditolak setelah melihat dari dekat, bahwa kebakaran di pertokoan dan pusat belaja tersebut terkait erat dengan aksi penjarahan toko-toko dan pusat belanja oleh masyarakat. Hal ini tidak mengherankan, karena inflasi pun sedang menggila mencapai 70 persen. Hal yang sama terjadi pada nilai Rupiah: posisinya pada Januari sempat jatuh hingga 17.000 Rupiah per Dollar; turun hingga 8.000 Rupiah pada April, dan Mei itu naik lagi sampai 13.000 Rupiah. Situasi Jakarta sungguh-sungguh kacau dan tidak terkendali.

Kebakaran dan penjarahan itu dikenal dengan Kerusuhan Mei 1998. Dimulai pada 13 Mei dan berakhir pada 19 Mei. Di Jakarta saja, tidak kurang dari 500 orang tewas dan sebagian besar terbakar hangus; 6.000 bangunan rusak dan terbakar, di antaranya 1.000 rumah penduduk habis terbakar; serta lebih dari 2.000 kendaraan bermotor terbakar, di antaranya 100 kendaraan umum dan 800 sepeda motor; selebihnya adalah milik pribadi. Kerugian berupa harta benda ditaksir tidak kurang dari 3 trilyun Rupiah.

Tidak hanya itu, bahkan kerusuhan itu pun ditandai dengan perkosaan dan pelecehan seksual terhadap warga perempuan keturunan Cina. Pelecehan seksual yang bersifat masal; tidak kurang dari seratus kasus terjadi selama kerusuhan tersebut berlangsung. Romo Sandyawan Sumardi dan para relawannya, konon memunyai bukti-bukti yang mereka bisa kumpulkan. Pemerkosanya adalah tentara; dan dilakukan beramai-ramai. Karena itu perkara itu tidak pernah bisa dibuka. Masyarakat menduga Prabowo Subianto dan anak buahnya dari Kopassus terlibat dalam Kerusuhan Mei 1998 itu.

Hal itu dikaitkan dengan pernyataan Prabowo sebelumnya. Dalam masa-masa sulit itu, saat kejatuhan Soeharto sudah semakin dibayang-bayangkan dan pula menjadi pergunjingan masyarakat, Prabowo Subianto, anak Soemitro dan menantu Soeharto, juga mencium bahu tak sedap tentang adanya gerakan yang bermaksud menjatuhkan Soeharto. Dari hasil penciumannya, dia melontarkan suatu tuduhan serius kepada kelompok ECI. Di depan Liem Bian Koen, alias Sofyan Wanandi, salahsatu tokoh Angkatan ’66 yang lalu menjadi pengusaha, dan yang kemudian menjadi Ketua Umum Apindo, Prabowo menuduh orang-orang Cina Katolik sedang bergiat melakukan gerakan untuk merongrong dan menjatuhkan Soeharto. Dalam kesempatan itu, konon Sofyan menjawab, bahwa yang bisa menjatuhkan Soeharto adalah kelompok Islam dan tentara; sungguh tidak masuk akal kelompok Kristen-Katolik atau Cina yang kecil jumlahnya ini bisa menggusur Soeharto.

Tentulah jawaban Sofyan bukan sekedar jawaban spontan, tapi sudah masuk lama di otaknya, mengingat jawabannya tentang kekuatan Islam dan tentara ini juga menjadi pikiran negara-negara maju yang mau mendominasi kekayaan alam Indonesia. Hanya saja penciuman Prabowo yang kurang tepat; mestinya dia juga mendatangi Mokhtar Riady dan James Riady, bapak dan anak. Sekalipun begitu, tuduhan Prabowo itu sudah menjadi catatan sendiri bagi Keluarga Wanandi dan Riady beserta kawan-kawan gerakannya.

Sebelum itu, bahkan, Prabowo pernah pula menyatakan keinginannya untuk “mengusir keluar seluruh orang Cina dari Indonesia, sekalipun ekonomi Indonesia bakal mundur beberapa lama sebagai akibat dari itu….”

Prabowo benar perekonomian Indonesia sesudah 30 tahun Soeharto berkuasa memang sudah dikuasai mereka. Kalau 200 orang konglomerat ECI ini terusir, perekonomian Indonesia pasti mundur. Tetapi dengan demikian tidak ada lagi adikuasa ekonomi di Indonesia: keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia bisa terwujud…

Rancangan Kudeta

Kerusuhan dan pembakaran bahkan meluas hingga ke Solo, Surabaya, Denpasar, Medan dan Batam. Dalam beberapa kejadian, nyata sekali bahwa aksi penjarahan disertai dengan pembakaran dan perusakan tersebut justru didukung oleh oknum-oknum TNI. Bahkan orang-orang pun didorong untuk melakukan penjarahan itu; atau minimal ada usaha pembiaran oleh oknum-oknum itu daripada usaha pencegahan. Polisi juga menghilang, tidak terlihat sosok dan batang-hidungnya. Orang tidak pernah mendengar Kapolri Dibyo Widodo, misalnya, menyampaikan instruksi kepada Polri atau pesan-pesannya kepada masyarakat dalam masa kerusuhan itu.

Beberapa jenderal, antara lain, Kivlan Zen mengatakan krisis ABRI terbesar dalam sejarah terjadi pada 1965/67 dan 1998; tentulah yang dimaksud adalah Kerusuhan Mei 1998 itu. Memang masyarakat melihat ABRI pada Mei 1998 itu sangat lemah, tidak berdaya, kacau dan tidak tampak berada di tengah-tengah rakyat. Tragedi kerusuhan yang disertai dengan tindak pidana penjarahan, perkosaan dan pembunuhan itu hilang begitu saja dari catatan hukum. Kalau TNI dan Polri tidak bisa diharapkan mampu melindungi rakyat; bagaimana mau melindungi negara?!

Angkatan Bersenjata Republik Indonesa yang hebat itu, tidak sajakecolongan, tetapi juga menghindar dari tanggungjawab meredakan kerusuhan yang sangat dahsyat itu! Di situ pun kelihatan sekali, Wakil Presiden Habibie yang menjadi Penjabat Presiden sementara Soeharto sedang berada di Timur Tengah sejak 8 Mei tidak mampu berbuat sesuatu, baik terhadap Polri maupun TNI. Ke mana para jenderal Polisi dan TNI yang mestinya membantu presiden?!

Akibatnya, Soeharto yang mempercepat kunjungannya ke Kairo dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Negara-negara G-15 itu tiba kembali pada 15 Mei, serta melihat Jakarta yang sedang terbakar. Segera saja dia mengeluarkan Instruksi Presiden kepada Wiranto esok harinya untuk mewujudkan kembali keamanan dan ketertiban sehubungan dengan Kerusuhan Mei yang belum kunjung usai itu. Tetapi tampaknya, sekali lagi, Wiranto yang baru diangkat Maret itu enggan melakukannya, menolaknya, atau sekedar mau menunjukkan bahwa dia tidak mampu melaksanakan perintah tersebut. Di dalam konteks ketentaraan, seharusnya Wiranto menghadap Pak Harto dan mundur dari jabatannya di TNI karena merasa gagal (Subroto; 2009). Tetapi Wiranto tidak melakukannya; dia seperti orang bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan…

Pak Harto sendiri cuma bisa murung. Dia tahu sudah sejak lima tahun sebelumnya, yaitu ketika Jenderal Harsudiono Hartas, Kepala Sospol dan Ketua Fraksi ABRI di DPR “memaksakan” Jenderal Try Soetrisno untuk menjadi Wakil Presiden, dengan menolak BJ. Habibie, merasakan bahwa TNI mulai mbalelo kepadanya. Sekarang, ketika Habibie benar-benar diangkatnya menjadi Wakil Presiden, ABRI enggan mendukungnya lagi.

Kelihatannya demikian pula DPR/MPR sudah mulai tidak setia kepadanya, terbukti dari terbukanya pintu DPR/MPR bagi para pemuda dan mahasiswa. Soeharto mulai berpikir keras untuk menyelamatkan dirinya dan mesin-mesin politiknya. Soeharto mulai sadar, tidak saja krisis moneter telah mengakibatkan masyarakat resah dan meminta pertanggungjawabannya, tetapi juga Amerika Serikat sedang kuat mengunci segala persendian anggota tubuhnya… Dia mulai sadar mungkin sekarang saatnya mundur; akan tetapi dia membutuhkan persiapan agar dia dan keluarganya selamat!

Soeharto pun tahu adanya friksi antara Jenderal Wiranto dan Jenderal Prabowo. Friksi di antara mereka itu baru terkuak di masyarakat setelah terbongkar laporan Wiranto kepada BJ. Habibie, tentang adanya pasukan Kostrad, Komando Strategis Angkatan Darat, Prabowo Subianto, berada di sekitar rumah dinas Habibie di Patra Kuningan; yaitu setelah Habibie diangkat menjadi Presiden. Hal itu diartikan sebagai usaha “mengganti” Habibie.

Demikian pula beberapa kali ucapan Wiranto yang mengatakan seakan-akan dia bisa melakukan kudeta terhadap Soeharto seandainya dia mau, pada Mei 1998 itu, menunjukkan adanya perseteruan kekuasaan di dalam tubuh TNI. Pikiran kudeta Wiranto ini dikonfirmasi oleh seorang komandan Marinir di Jakarta yang berhasil membaca pikiran Wiranto. Tapi, karena Jenderal Marinir ini tidak mendukung, bahkan mengecoh Wiranto dengan mengatakan kekuatannya berlipat dari yang sebenarnya, Wiranto menjadi gentar; lalu dengan serta-merta mengurungkan niatnya.

Sedang Prabowo merasa karirnya sempat terhenti oleh para senior yang tidak suka kepadanya. Tetapi sangat mungkin, karena dia terlibat dalam banyak persoalan akibat sikap megalomania di dalam dirinya sendiri. Sekalipun kemudian dia menjadi menantu Soeharto, tetapi sejak lama dia sudah memendam rasa tidak puas, karena merasa banyak seniornya yang mengganjal karirnya, seperti Benny Moerdani. Banyak orang percaya, bahwa cerita tentang pemerkosaan terhadap para warganegara perempuan dari etnis Cina yang terjadi pada masa Kerusuhan Mei 1998 itu juga adalah hasil ulah Prabowo. Terbakarnya Jakarta, dengan rentetan peristiwa yang terkait di dalamnya, dengan begitu bukan dari akibat marahnya para mahasiswa, tetapi lebih banyak dilatarbelakangi oleh adanya pertentangan di antara dua jenderal yang berebut kekuasaan itu. Bahkan, terbunuhnya para mahasiswa Trisakti itu sendiri adalah hasil rekayasa untuk menciptakan suasana kondusif bagi sebuah kudeta militer.

Ternyata ribuan orang asing telah pergi meninggalkan Jakarta. Mereka membanjiri Bandara dari berbagai Kedutaan Besar di Jakarta. Kedutaan-kedutaan Besar mengira “kerusuhan” akan tidak terbendung, dan lalu memerintahkan warganegaranya untuk mengevakuasi diri mereka; paling tidak untuk sementara waktu. Mereka berangkat berbondong-bondong meninggalkan Jakarta menuju Singapur…terminal aman paling dekat.

Memang masih tidak terungkap, apa yang dibicarakan Soeharto dengan Prabowo dan Syafrie beberapa hari sebelum Soeharto berangkat ke Timur Tengah di jalan Cendana. Hari itu Pangab Wiranto berselisih jalan dengan Danjen Kopassus Prabowo yang berjalan bersama Pangdam Jaya Syafrie Syamsuddin,  ketika Wiranto mau memasuki Istana Cendana. Wiranto sempat bertanya: “Ada apa?! Formil atau pribadi?” Yang ditanya tentu tidak bisa mengelak, karena mereka memakai seragam dinas lengkap:“Formil, Dan!”

Tentu saja Wiranto yang tidak merasa pernah memberi tugas kepada mereka untuk bertemu dengan Soeharto menyimpan rasa curiga. Mungkin saja Soeharto memberikan pesan-pesan khusus kepada menantunya itu; tetapi kenapa tidak sekaligus kepada Menpangab. Mungkin saja Soeharto menyampaikan sesuatu yang bersifat rahasia; atau sengaja mempermainkan Prabowo dan Wiranto. Sudah sejak Prabowo berpisah dari anaknya, Soeharto sudah mulai tidak percaya kepada Prabowo; dan Soeharto tentu tahu betul sifat-sifat menantunya itu. Dan Soeharto pun tahu pula akan adanya friksi mantan menantunya itu dengan Wiranto.

Di kalangan TNI, bukan hal baru, kalau Prabowo Subianto adalah orang yang mudah frustrasi, stress dan lalu melakukan hal-hal yang di luar akal sehat;  dia merasa superdalam semua hal lalu menjadi megalomania. Sejauh itu orang-orang TNI memang merasa segan kepadanya, sesudah dia menjadi menantu Soeharto. Pada Maret 1983, menjelang Sidang Umum MPR, Prabowo terlibat dalam peristiwa yang dikenal dengan Peristiwa Kopassandha, Komando Pasukan Sandi Yudha, yang kemudian pada 1985 berubah menjadi Kopassus, Komando Pasukan Khusus (Subroto; 2009). Sebagai Wakil Komandan Detasemen 81 Anti Teror, Kopassandha, Kapten Prabowo bersama pasukannya, secara sendiri, tanpa menyampaikan informasi kepada ataupun mendapat perintah dari atasannya langsung, yaitu Mayor Luhut Panjaitan; dia menyiagakan pasukannya untuk menangkap Letjen LB. Moerdani, Asisten Intel Hankam, dan beberapa jenderal lain, antara lain, Letjen Sudharmono dan Letjen Moerdiono. Mereka dicurigai Prabowo akan melakukan kudeta terhadap Soeharto. Rencana Prabowo itu digagalkan Luhut Panjaitan.

Betapapun, peristiwa itu pasti diketahui pula oleh Menteri Pertahanan dan Keamanan, Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf, dan Kepala Staf Angkatan Darat, Jenderal Rudini. Justru kemudian Letjen LB. Moerdani diangkat Soeharto menjadi Panglima ABRI/Menhankam menggantikan Jenderal M. Jusuf.  Dua tahun kemudian Mayor Prabowo, lewat surat perintah Rudini, sesuai dengan saran atasan langsungnya, Letkol Luhut Panjaitan, dipindahkan ke Yonif 328/Raiders Kostrad.

Pada awalnya, Prabowo mempertanyakan pemindahannya itu kepada Kolonel Sintong Panjaitan, Komandan Kopassandha. Tetapi pertanyaan yang bermakna “menilai” atasan itu tidak ditanggapi Sintong. Segan terhadap menantu Soeharto itu, Sintong memilih tidak peduli terhadap “penilaian” Prabowo daripada memecatnya. Akibat dari Peristiwa Kopassandha itu, berlangsunglah deBennysasi, sekalipun hampir semua jenderal yang pernah memimpin Angkatan Darat tidak percaya akan ada rencana kudeta oleh Benny, demikian panggilan akrab LB. Moerdani. Para jenderal itu pun segan terhadap Soeharto.

Prabowo mengulang kembali ulahnya menjelang Pemilu 1997 dan Sidang Umum MPR 1998. Komandan Jenderal Kopassus itu memberikan perintah lisan kepada salahsatu komandan Sandiyudha; lalu disusul dengan perintah tertulis Prabowo sendiri kepada Mayor Bambang Kristiono dari Detasemen 81/Anti Teror untuk membentuk Tim Mawar yang terdiri dari 10 orang perwira dan bintara. Mereka ditugasi secara rahasia menculik beberapa aktivis pro-demokrasi, antara lain, Haryanto Taslam, Pius Lustrilanang, Andi Arief, Desmond Mahesa dan Faisol Reza. Sekalipun alasan Prabowo adalah untuk menyelamatkan keadaan negara dan bangsa manakala terjadi ancaman yang nyata, akan tetapi perintah Prabowo secara spontan itu seharusnya segera dilaporkan kepada Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI Jenderal Feisal Tanjung, dan Kepala staf Angkatan Darat Jenderal Wiranto; semuanya adalah atasannya. Tetapi Letjen Prabowo denganmegalomania-nya itu enggan melaporkan tindakan operasional yang diambilnya itu kepada para atasannya.

Beberapa orang aktivis yang diculik selama beberapa bulan akhirnya bisa dibebaskan oleh perintah Panglima ABRI. Sidang pengadilan Dewan Kehormatan Perwira yang dibentuk pada awal Agustus 1998 pada akhirnya memutuskan Mayor Bambang Kristiono dihukum penjara satu tahun dan sepuluh bulan, serta dipecat dari dinas militer TNI-Angkatan Darat. Empat orang perwira lainnya juga dihukum penjara, serta dipecat dari dinas militer TNI-Angkatan Darat; sedang para bintara lainnya dihukum penjara saja. Rupanya Oditur militer enggan menelusuri asal perintah terhadap Tim Mawar itu, sehingga Prabowo lolos dari hukuman. Tetapi Prabowo tidak bisa melepaskan diri dari jerat administrasi; dia dipecat dari dinas militer melalui keputusan Panglima ABRI.

Kemudian, ternyata pula bukti-bukti yang ada di lapangan menunjukkan, bahwa peluru-peluru yang menembus tubuh para mahasiswa Trisakti pada 12 Mei 1998 itu, masing-masing satu peluru; bukanlah peluru-peluru Polri, melainkan dari sniper TNI. Muncul berbagai informasi sesudah itu yang mengatakan bahwa beberapa tentara, tidak jelas dari kesatuan mana, sudah bersiap sedia di wilayah Grogol di sekitar kampus Universitas Trisakti beberapa hari sebelumnya; bahkan mereka melakukan latihan terjun melalui tali dari helikopter.

Sampai hari ini, Tragedi Trisakti yang mengambil nyawa empat korban mahasiswa itu masih belum terungkap jelas. Bahkan perkara pelanggaran HAM itu pun masih terus menggantung; berkas-berkas yang dikirim Komnas HAM beberapa kali dikembalikan lagi dan lagi oleh Kejaksaan Agung, karena selalu dianggap “kurang lengkap”. Tidak syak lagi, bahwa jenderal-jenderal TNI ikut terlibat di dalamnya, termasuk Wiranto. Oleh sebab itu, apa yang terjadi dan melatarbelakangi Tragedi Trisakti dan Kerusuhan Mei 1998 ini tidak akan mudah terbongkar semata-mata karena di belakang perkara itu ada para jenderal yang terlibat. Tentulah mereka sebagian berada di pihak Wiranto, dan sebagian lagi di pihak Prabowo.


Selanjutnya: Ganti Rezim Ganti Sistim – Pergulatan Menguasai Nusantara [bagian 5]

Iklan

2 responses »

  1. […] Lanjutan dari: Ganti Rezim Ganti Sistim – Pergulatan Menguasai Nusantara [bagian 4] […]

    Suka

  2. […] Selanjutnya: Ganti Rezim Ganti Sistim – Pergulatan Menguasai Nusantara [bagian 4] […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s