pleidoi sastra

LANGIT MAKIN MENDUNG

Lama-lama mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di sorga loka. Petisi dibikin, mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba ke bumi, yang konon makin ramai saja.

“Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang bisa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal dan kejang memuji kebesaranMu; beratus tahun tanpa henti.”

Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala. Tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia….Dipanggil penanda-tangan pertama: Muhammad dari Madinah, Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad S.A.W.

“Daulat, ya Tuhan.” “Apalagi yang kurang di sorgaku ini? Bidadari jelita berjuta, sungai susu, danau madu. Buah apel emas, pohon limau perak. Kijang-kijang platina, burung-burung berbulu intan baiduri. Semua adalah milikmu bersama, sama rasa sama rata!”

“Sesungguhnya bahagia lebih dari cukup, bahkan tumpah ruah melimpah-limpah.”

“Lihat rumput-rumput jamrud di sana, bunga-bunga mutiara bermekaran.”

“Kau memang maha kaya. Dan manusia alangkah miskin, melarat sekali.”

“Tengok permadani sutera yang kau injak. Jubah dan sorban cashmillon yang kau pakai. Sepatu Aladdin yang bisa terbang. Telah kuhadiahkan segala yang indah-indah!”

Muhammad tertunduk, terasa betapa hidup manusia hanya jalinan-jalinan penyadong sedekah dari Tuhan. Alangkah nista pihak yang selalu mengharap belas kasihan. Ia ingat waktu sowan ke sorga dulu dirinya hanya sekeping jiwa telanjang.

“Apa sebenarnya kau cari di bumi? Kemesuman, kemunafikan, kelaparan, tangis dan kebencian sedang berkecamuk hebat sekali.”

“Hamba ingin mengadakan riset.” jawabnya lirih.

“Tentang apa?”

“Akhir-akhir ini begitu sedikit umat hamba yang masuk sorga.

“Ah, itu kan biasa. Kebanyakan mereka dari daerah tropis kalau tak salah?”

“Betul, Kau memang Maha Tahu.”

“Kemarau lewat panjang di sana. Terik matahari terlalu lama membakar otak-otak mereka yang bodoh ” kata Tuhan sambil meletakkan kacamata model kuno dari emas yang diletakkannya di atas meja yang terbuat dari emas pula.

“Bagaimana, ya Tuhan?”

“Umatmu banyak kena tusukan sinar matahari. Sebagian besar berubah ingatan, lainnya pada mati mendadak.

“Astaga! Betapa nasib mereka kemudian?”

“Yang pertama asyik membadut di rumah-rumah gila.”

“Dan yang mati?”

“Ada stempel Kalimat-Syahadat dalam paspor mereka. Terpaksa raja iblis menolak memberikan visa neraka untuk orang-orang malang itu.”

“Heran, tak pernah mereka mohon suaka ke sini!” (kening sedikit mengerut)

“Tentara neraka memang telah merantai kaki-kaki mereka di batu nisan masing-masing.”

“Apa dosa mereka gerangan? Betapa malang nasib umat hamba, ya Tuhan!”

“Jiwa-jiwa mereka kabarnya mambu Nasakom. Keracunan Nasakom!”

“Nasakom? Racun apa itu, ya Tuhan? Iblis laknat mana meracuni jiwa mereka?”

Muhammad S.A.W nampaknya gusar sekali. Sambil tinjunya mengepal ia memberi perintah, “Usman, Umar dan Ali! Asah pedang kalian tajam-tajam!”

Tuhan hanya mengangguk-angguk, senyum penuh pengertian penuh kebapaan.

“Carilah sendiri fakta-fakta yang otentik. Tentang pedang-pedang itu kurasa sudah kurang laku di pasar loak pelabuhan Jeddah. Pencipta Nasakom sudah punya bom atom, kau tahu!”

“Singkatnya, hamba diizinkan turba (turun ke bawah)ke bumi?”

“Tentu saja. Mintalah surat jalan pada Soleman yang bijak di sekretariat. Tahu sendiri, dirasai polisi-polisi dan hansip paling sok iseng, gemar sekali ribut-ribut perkara surat jalan.”

“Tidak bisa mereka disogok?”

“Tidak, mereka lain dengan polisi dari bumi. Bawalah Jibrail serta supaya tak sesat!”

“Daulat, ya Tuhan.” kata Muhammad sambil bersujud penuh sukacita.

***

Sesaat sebelum mereka berangkat sorga sibuk sekali. Timbang terima jabatan ketua kelompok grup muslimin di sorga telah ditandatangani naskahnya. Abu Bakar tercantum sebagai pihak penerima. Dan masih banyak lainnya.

“Wahai yang terpuji, jurusan mana yang paduka pilih?” Malaikat Jibrail bertanya dengan takzim.

“Ke tempat jasadku diistirahatkan; Madinah, kau ingat? Ingin kuhitung jumlah musafir-musafir yang ziarah. Disini kita hanya kenal dua macam angka, satu dan tak terhingga.”

Seluruh penghuni sorga menghantar ke lapangan terbang. Lagu-lagu padang pasir terdengar merayu-rayu, tapi tanpa tari perut dan bidadari. Entah dengan berapa juta lengan Muhammad S.A.W harus berjabat tangan. Nabi Adam a.s sebagai pinisepuh tampil depan mikropon. Dikatakan bahwa penurbaan Muhammad merupakan lembaran baru dalam sejarah manusia. Besar harapan akan segera terjalin saling pengertian yang mendalam antara penghuni sorga dan bumi.

“Akhir kata Saudara-saudara, hasil peninjauan on the spot oleh Muhammad S.A.W harus dapat dimanfaatkan secara maksimal nantinya. Ya, Saudara-saudara kita di bumi melawan rongrongan iblis-iblis neraka beserta antek-anteknya. Kita harus bantu mereka dengan doa-doa dan sumbangan-sumbangan pikiran yang konstruktif agar mereka semua mau ditarik ke pihak Tuhan; sekian. Selamat jalan Muhammad! Hidup persatuan Rakyat Sorga dan Bumi!”

“Ganyang!!!” (Berjuta suara menyahut serempak).

Muhammad segera naik ke punggung buraq – kuda sembrani yang dulu jadi tunggangannya waktu ia mi’raj. Secepat kilat buraq terbang ke arah bumi dan Jibrail yang sudah tua terengah-engah mengikuti di belakang. Mendadak, sebuah sputnik melayang di angkasa hampa udara.

“Benda apa di sana?” tanyanya keheranan.

“Orang bumi bilang sputnik! Ada tiga orang di dalamnya, ya Rasul.”

“Orang? Menjemput kedatanganku?” (Gembira)

“Bukan, mereka justru rakyat negara kapir terbesar di bumi. Pengikut Marx dan Lenin yang ingkar Tuhan. Tapi pandai-pandai otaknya.”

“Orang-orang malang. Semoga Tuhan mengampuni mereka. Aku ingin lihat orang-orang kapir itu dari dekat. Ayo buraq!”

Buraq melayang deras menyilang arah sputnik mengorbit. Dengan pedang apinya Jibrail memberi isyarat sputnik berhenti sejenak. Namun, sputnik Rusia memang tidak ada remnya. Tubrukan tak dapat dihindarkan lagi. Buraq beserta sputnik hancur jadi debu; tanpa suara, tanpa sisa. Kepala-kepala botak di lembaga aeronautic di Siberia bersorak gembira.

“Diumumkan bahwa sputnik Rusia berhasil mencium planet tak dikenal. Ada sedikit gangguan komunikasi…” terdengar siaran radio Moskow.

Muhammad dan Jibrail terpental ke bawah. Mujur mereka tersangkut di gumpalan awan yang empuk bagai kapas.

“Sayang-sayang. Neraka bertambah tiga penghuni lagi.” Bisik Muhammad sedih. Sejenak dilontarkan pandangannya ke bawah. Hatinya tiba-tiba berdesir ngeri.

“Jibrail, neraka lapis ke berapa di sana gerangan?”

“Paduka salah duga. Di bawah kita bukan neraka tapi baigan bumi yang paling durhaka, Jakarta namanya. Ibu kota sebuah negeri dengan seratus juta rakyat yang malas dan bodoh. Tapi ngakunya sudah bebas buta huruf.”

“Hampir sama.”“Tak pernah kudengar nama itu. Mana lebih durhaka, Jakarta atau Sodom dan Gomorah?”

“Ai, hijau-hijau di sana bukankah warna api neraka?”

“Bukan, Paduka! Itulah barisan sukwan dan sukwati guna mengganyang negara tetangga, Malaysia.”

“Adakah umatku di Malaysia?”

“Hampir semua, kecuali Cinanya tentu.”

“Kalau begitu, kapirlah bangsa di bawah ini!”

“Sama sekali tidak, 90% dari rakyatnya orangnya Islam juga.”

“90% (sambil wajah Nabi berseri), 90 juta ummatku! Muslimin dan muslimat tercinta. Tapi tak kulihat masjid yang cukup besar. Di mana mereka bersembahyang Jum’at?”

“Soal 90 juta hanya menurut statistik bumiawi yang ngawur. Dalam catatan Abu Bakar di sorga, mereka tak ada sejuta yang betul-betul Islam!”

“Aneh! Gilakah mereka?”

“Memang aneh!”

“Ayo Jibrail, segera kita tinggalkan tempat terkutuk ini. Aku selalu rindu kepada Madinah!”

“Tidak inginkah paduka menyelidiki sebab-sebab keanehan itu?”

“Tidak, tidak di tempat ini. Rencana risetku di Kairo.”

“Sesungguhnya Paduka nabi terakhir, ya Muhammad?”

“Seperti telah tersurat di kitab Allah.” Sahutnya dengan rendah hati.

“Tapi bangsa di bawah sana telah menabikan orang lain lagi.”

“Apa peduliku dengan nabi palsu?”

“Umat Paduka hampir takluk pada ajaran nabi palsu: Nasakom!”

“Nasakom, jadi tempat inilah sumbernya. Kau bilang umatku takluk, nonsens!”

“Ya, Islam terancam. Tidakkah Paduka prihatin dan sedih?”

(Terdengar suara iblis, disambut tertawa riuh rendah)

Nabi tengadah ke atas.

“Sabda Allah tak akan kalah. Betatapun Islam, ia ada dan tetap ada walau bumi hancur sekalipun!"

Suara nabi mengguntur dahsyat, menggema di bumi; di lembah-lembah, di puncak-puncak gunung, kebun karet dan berpusat-pusat di laut lepas. Gaungnya terdengar sampai ke sorga disambut takzim ucapan serentak :

“Aamin, amin, amin.”

Neraka guncang. Iblis-iblis gemetar menutup telinga. Guntur dan cambuk petir bersahut-sahutan.

“Baiklah, mari kita berangkat ya, Rasulullah!”

Muhammad tak hendak beranjak dari awan tempatnya berdiri. Hatinya bimbang pedih dan dukacita. Wajahnya gelap, segelap langit mendung di kiri kanannya. Jibrail menatap penuh tanda tanya, namun tak berani bertanya.

Musim hujan belum datang-datang juga. Di Jakarta banyak orang kejangkitan influenza, pusing-pusing dan muntah-muntah. Naspro dan APC sekonyong-konyong melonjak harga. Jangan dikata lagi pil vitamin C dan ampul penstrip. Kata orang sejak pabriknya diambil alih bangsa sendiri, agen-agen naspro mati kutu. Hanya apotik-apotik Cina dan tukang catut orang dalam leluasa mencomot jatah lewat jalan belakang.

Koran sore Warta Bhakti menulis: di Bangkok 1000 orang mati kena flu tapi terhadap flu Jakarta Menteri Kesehatan bungkam. Paginya Menteri Kesehatan yang tetap bungkam dipanggil menghadap Presiden alias PBR (Pemimpin Besar Revolusi).

“Zeg, Jenderal. Flu ini bikin orang mati apa tidak?”

“Tidak, Pak. Komunis yang berbahaya, pak.”

“Ah, kamu. Komunisto phobi ya?”

Namun, meski tak berbahaya flu Jakarta tak sepandai polisi-polisinya, flu tak bisa disogok, serangannya membabi buta tidak pandang bulu. Mulai dari pengemis-pelacur-Nyonya Menteri-sampai Presiden diterjang semna-mena. Pelayan istana geger. Menko-Menko menarik muka sedih dan pilu, Panglima terbalik petnya karena gugup menyaksikan sang PBR muntah-muntah seperti perempuan bunting muda.

Sekejab mata dokter-dokter dikerahkan, kawat telegram sibuk minta hubungan rahasia ke Peking:

“Mohon segera dikirim tabib-tabib Cina yang kesohor, pemimpin besar kami sakit keras. Mungkin sebentar lagi mati.”

Kawan Mao di singgahsananya tersenyum-senyum. Dengan wajah penuh welas asih ia menghibur kawan seporos yang sedang sakratul maut.

“Semoga lekas sembuh. Bersama ini rakyat Cina mengutus beberapa tabib dan dukun untuk memeriksa penyakit Saudara. Terlampir obat kuat akar Jinsom umur 1000 tahun. Tanggung manjur. Kawan nan setia: tertanda Mao.” (Pada tabib-tabib ia titipkan pula sedikit oleh-oleh untuk Aidit.)

Rupanya berkat khasiat obat kuat si sakit berangsur-angsur sembuh. Sebagai orang beragama tak lupa mengucap syukur pada Tuhan yang telah mengkaruniai seorang sahabat sebaik kawan Mao. Pesta diadakan. Tabib-tabib Cina dapat tempat duduk istimewa. Untuk sejenak tuan rumah lupa agama, hidangan daging babi dan kodok ijo disikat tandas-tandas. Kiai-kiai yang hadir tersenyum-senyum kecut.

“Saudara-saudara, pers Nekolim gembar-gembor, katanya Soekarno sedang sakit keras. Bahkan hampir mati katanya. (hadirin tertawa mentertawakan kebodohan Nekolim). Wah, Saudara-saudara. Mereka itu selak kemudu-mudu (keburu jamuran/keburu nunggu sampai berjamur-red) melihat musuh besarnya mati. Kalau Soekarno mati mereka pikir Indonesia akan gampang digilas, mereka kuasai seenak udelnya sendiri, seperti negerinya Tengku.

Padahal, (sambil menunjuk dada) lihat badan saya, Saudara-saudara! Soekarno tetap segar bugar. Soekarno belum mau mati, kataku. (tepuk tangan gegap gempita, tabib-tabib Cina tak mau ketinggalan) Insya Allah, saya belum mau menutup mata sebelum pojok Nekolim Malaysia hancur lebur jadi debu!” (tepuk tangan lagi)

Acara bebas dimulai. Dengan tulang-tulangnya yang sudah tua Presiden menari lenso bersama gadis-gadis daerah Menteng yang spesial diundang. Patih-patih dan Menteri tak mau kalah gaya. Tinggal para hulubalang cemas melihat Panglima Tertinggi bertingkah seperti anak kecil urung disunat.

Dokter pribadinya berbisik,

“Tak apa. Baik buat ginjalnya. Biar kencing batu PJM tidak kumat-kumat.”

“Menyanyi! Menyanyi, dong Pak!” (gadis-gadis merengek)

“Baik, baik. Tapi kalian yang mengiringi, ya!” (sambil bergaya burung onta)

Siapa bilang Bapak dari Blitar

Bapak ini dari Prambanan

Siapa bilang rakyat kita lapar.

Malaysia yang kelaparan…!

Mari kita bergembira! (Nada-nada sumbang bau aroma champagne).

Di sudut gelap istana tabib Cina berbisik-bisik seorang Menteri, “Gembira sekali nampaknya dia.”

“Itu tandanya hampir mati.”

“Mati?”

“Ya, mati. Paling tidak lumpuh. Kawan Mao berpesan sudah tiba saatnya.”

“Tapi kami belum siap.”

“Kapan lagi? Jangan sampai keduluan klik Nasution.”

“Tunggu saja tanggal mainnya!”

“Nah, sampai ketemu lagi!” (Tabib Cina tersenyum puas.)

Mereka berpisah.

Mendung makin tebal di langit, bintang-bintang bersinar guram (berpendar-red) satu-satu. Pesta diakhiri dengan lagu langgam Kembang Kacang yang dibawakan nenek-nenek kisut 68 tahun.

“Kawan lama Presiden.” (bisik orang-orang)

Tamu-tamu permisi pamit. Perut kenyangnya mendahului kaki-kaki setengah lemas. Beberapa orang muntah-muntah mabuk di halaman parkir…Sendawa mulut mereka berbau alkohol. Sebentar-sebentar kiai mengucap ‘alhamdulillah’ secara otomatis.

Menteri-menteri pulang belakangan bersama gadis-gadis, cari kamar sewa. Pelayan-pelayan sibuk kumpulkan sisa-sisa makanan buat oleh-oleh anak istri di rumah. Anjing-anjing istana mendangkur kekenyangan-mabuk anggur Malaga. Pengemis-pengemis di luar pagar istana memandang kuyu, sesali nasib kenapa jadi manusia dan bukan anjing!

***

Desas-desus Soekarno hampir mati-lumpuh cepat menjalar dari mulut ke mulut. Meluas seketika, seperti loncatan api di kebakaran gubuk-gubuk gelandangan di atas tanah milik Cina. Sampai juga ke telinga Muhammad dan Jibrail yang mengubah diri jadi sepasang burung elang. Mereka bertengger di puncak menara emas bikinan pabrik Jepang. Pandangan ke sekeliling begitu lepas-bebas.

“Allahuakbar, nabi palsu hampir mati.” Kata Jibrail sambil mengepakkan sayap.

“Tapi ajarannya tidak. Nasakom bahkan telah mengoroti jiwa prajurit-prajurit. Telah mendarah daging pada sebagian kiai-kiaiku.” Kata Muhammad sambil mendengus kesal.

“Apa benar yang Paduka risaukan?”

“Kenapa kau pilih bentuk burung elang ini dan bukan manusia? Pasti kita akan dapat berbuat banyak untuk ummatku!”

“Paduka harap ingat; di Jakarta setiap hidung harus punya kartu penduduk. Salah kena garuk razia gelandangan!”

“Lebih baik sebagai ruh, bebas dan aman.”

“Guna urusan bumi wajib kita jadi sebagian dari bumi.”

“Buat apa?”

“Agar kebenaran tidak telanjang di depan kita.”

“Tapi tetap di luar manusia?”

“Ya, untuk mengikuti gerak hati dan pikiran manusia justru sulit bila satu dengan mereka.”

“Aku tahu!”

“Dan dalam wujud yang sekarang mata kita tajam. Gerak kita cepat!”

“Ah, ya. Kau betul, Tuhan memberkatimu jibrail. Mari kita keliling lagi. Betatapun durhaka kota ini mulai kucintai.”

Sepasang elang terbang di udara senja Jakarta yang berdebu menyesak dada dan hidung mereka tercium asap knalpot dari beribu mobil. Diatas Pasar Senen tercium bau timbunan sampah menggunung, busuk dan mesum. Kemesuman makin keras terbau di atas Stasiun Senen. Penuh ragu Nabi hinggap di atas gerbong-gerbong kereta daerah planet.

Pelacur-pelacur dan sundal asyik berdandan. Bedak penutup bopeng, gincu merah murahan dan pakaian pengantin bermunculan. Di bawah gerbong beberapa sundal tua mengerang-lagi palang merah-kena raja singa. Kemaluannya penuh borok, lalat-lalat pesta menghisap nanah. Senja terkapar menurun diganti malam bertebar bintang di sela-sela awan. Pemuda tanggung masuk kamar mandi berpagar sebatas dada, cuci lendir. Menyusul perempuan gemuk penuh panu di punggung, kencing dan cebok. Sekilas bau jengkol mengambang. Ketiak berkeringat amoniak, hasil main akrobat di ranjang reot.

Di kamar lain, bandot tua asyik main pompa di atas perut perempuan muda 15 tahun. Si perempuan tak acuh dihimpit, sibuk cari tuma dan nyanyi lagu melayu. Hansip repot-repot mengontrol, cari uang rokok.

“Apa yang Paduka renungkan?”

“Di negeri dengan rakyat Islam terbesar, mereka begitu bebas berbuat cabul!” (menggelengkan kepala).

“Mungkin pengaruh ajaran Nasakom! Sundal-sundal juga soko guru revolusi,” kata si Nabi palsu.

“Ai, binatang hina yang melata. Mereka harus dilempari batu sampai mati. Tidakkah Abu Bakar, Umar dan Usman teruskan perintahku pada kiai-kiai disini? Berzina, langkah kotor bangsa ini. Batu mana batu!”

“Batu-batu mahal disini. Satu kubik dua ratus rupiah, sayang bila hanya untuk melempari pezina-pezina. Lagipula….”

“Cari di sungai dan di gunung-gunung!”

Selanjutnya: Langit Makin Mendung (Karya: Ki Panji Kusmin) [2]

Iklan

4 responses »

  1. […] Artikel lanjutan dari Langit Makin Mendung (Karya: Ki Panji Kusmin) […]

    Suka

  2. […] Langit Makin Mendung (Karya: Ki Panji Kusmin) […]

    Suka

  3. […] Langit Makin Mendung (Karya: Ki Panji Kusmin) […]

    Suka

  4. […] Langit Makin Mendung (Karya: Ki Panji Kusmin) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s