Fron+Pembela+Islam+FPI+LOGO+ASLI1-999x897

Dulu saya sangat membenci ormas Islam yang satu ini. Saya kenal FPI hanya di media massa. Sering sekali kebrutalan FPI disiarkan, (yang paling sering menggembar gemborkan kebrutalan FPI) di beberapa stasiun televisi. Tapi ada juga stasiun TV lainnya yang masih saya anggap wajar, atau hanya menyiarkan sesuai porsi saat memberitakan tentang FPI. Hingga suatu waktu, saya dikenalkan teman saya kepada salah seorang temannya. Lalu saya banyak ngobrol dengannya sampai larut malam. Kadang juga ngobrol sampai pagi. Di tengah obrolan tersebut, teman baru saya bercerita kalau dia pernah menjadi anggota FPI.

Betapa terkejutnya saya mendengar pengakuan itu. Dia bercerita banyak tentang FPI. Katanya, FPI tidak sebrutal apa yang telah di beritakan media. Setiap tindakan FPI selalu prosedural, katanya.

Saya bercerita bahwa saya benci orang-orang anarkis itu. Teman baru saya itu sama sekali tidak tersinggung, dia bilang ke saya, “gak apa-apa kamu benci sama FPI, tapi kamu sudah termakan media”.

Kemudian teman baru saya itu tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Karena saya penasaran, maka saya terus bertanya kepada teman saya tentang FPI. Banyak hal-hal yang semakin membuat saya penasaran. Katanya, yang diberitakan media tentang FPI selama ini adalah melihat FPI dari sisi kekerasan. Media tidak fair, aksi-aksi sosial FPI, bantuan FPI kepada korban bencana alam, mana ada yang di beritakan? Kamu gak tahu aja sih mas, kata teman saya sambil tersenyum.

Mulai dari situ, saya terus melogikakan apa yang teman saya katakan itu. Lalu saya baca-baca artikel di Internet, dan disitu saya sadar bahwa apa yang dikatakan teman saya itu memang ada benarnya. Bahkan banyak benarnya.

Pada artikel ini, saya coba paparkan sedikit tentang peran media (terutama media sekuler) yang sedikit banyak memang sengaja merusak citra FPI. Bahkan doktrin-doktrin media tentang FPI akan menghasilkan kontrol pikiran bagi orang-orang non muslim, atau bahkan muslim sendiri atau orang owam berpikir bahwa, “FPI=kekerasan, FPI=anarkis, FPI=radikal FPI=teroris, FPI=Islam, Islam=FPI, dan Islam=kekerasan, Islam=anarkis, Islam=radikal, Islam=teroris”. Logis-kan?

Yang Diberitakan Media Sekuler:

gAkCg9FWHd

Metrotvnews.com, Jakarta: Front Pembela Islam (FPI) kini tengah berseteru dengan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Basuki `Ahok` Tjahaja Purnama..... Tapi, sejatinya bukan baru kali ini FPI berulah. Dan, celakanya, hampir semua aksi FPI selalu berujung rusuh. Banyak kalangan mengecam, bahkan Ahok terang-terang hendak memberangus organisasi massa itu......
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua tersangka aktor aksi kekerasan Front Pembela Islam (FPI) pada 3 Oktober lalu, Novel dan Syahbadi, akan segera dihadapkan ke meja hijau. Berkas perkara keduanya telah dinyatakan lengkap oleh pihak Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Dalam demo tersebut, sejumlah anggota FPI menggunakan senjata tajam. Usai demo, polisi membekuk 20 orang yang dilanjutkan dengan pemeriksaan. Kemudian seluruhnya ditetapkan sebagai tersangka.....
Metrotvnews.com, Jakarta: Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta menyatakan berkas berita acara pemeriksaan (BAP) kasus kericuhan aksi Front Pembela Islam (FPI) di depan Gedung DPRD DKI pada 3 Oktober lalu sudah lengkap atau P21.Seperti diketahui, Jumat 3 Oktober lalu, sejumlah anggota FPI berunjukrasa menolak pelantikan Ahok sebagai Gubernur menggantikan Joko Widodo yang menjadi Presiden di Komplek Balai Kota dan DPRD DKI Jakarta. Aksi di depan gedung DPRD tersebut berujung rusuh dengan merusak fasilitas umum dan melukai 16 aparat kepolisian.
Metrotvnews.com, Sukabumi: Turnamen voli di komplek Lapang Merdeka, Kota Sukabumi, Jawa Barat, yang diikuti komunitas waria dari berbagai wilayah, dibubarkan Front Pembela Islam.
Metrotvnews.com, Bandung: Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat menyayangkan bentrok dua kubu yakni Aliansi Masyarakat Purwakarta dan Front Pembela Islam di Jalan Raya Veteran,
 Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu (19/12/2015). Sebelumnya bentrokan dua kubu yakni Aliansi Masyarakat Purwakarta dengan Front Pembela Islam, pecah di Jalan Raya Veteran, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu (19/12/2015). Peristiwa itu terjadi saat rombongan FPI hendak menghadiri acara tablig akbar yang dihadiri Ketua Umum FPI Rizieq Syihab berpapasan dengan rombongan dari kelompok masyarakat Purwakarta.
Metrotvnews.com, Surabaya: Sejumlah pegawai di mal dan hotel dikagetkan dengan kedatangan sejumlah anggota Front Pembela Islam (FPI). Tokoh FPI ini meminta manajemen tidak memaksa pegawainya yang muslim menggunakan atribut Natal.
Metrotvnews.com, Jakarta: Ruhut Sitompul menyesalkan unjuk rasa massa Front Pembela Islam di depan Gedung KPK, 4 April. Ia meminta Kapolda Metro Jaya Irjen Moechgiyarto tegas kepada Ketua Umum FPI Muhammad Rizieq Sihab atau Habib Rizieq.

Efek dari pemberitaan:

  • Akun lumpiabasah di Forum Ceriwis Indonesia Community

Orang islam mana ada yg tega nyakitin sesama umatnya.. dan orang islam itu saling menghargai baik sesama muslim maupun non muslim..ane juga muslim.. tp sumpah ane benci bdg dg FPI
FPI hanya membuat agama islam jelek di mata pemeluk agama lain..

FPI dibenci karena sikap dan perbuatan mereka, yang biadab, perusuh dan preman yang memakai nama Allah dalam aksinya. Seharusnya sejarah mereka ada benang merah dengan kerusuhan SARA di bulan Mei 1998.

Front Preman Indonesia

Cuma orang yg tidak beradab yg suka FPI.

Yang saya ketahui, FPI sering mengintimidasi atau sering main hakim sendiri dlm sederetan kasus..padahal main hakim sendiri tdk di benarkan dlm hukum,dlm islam jg begitu!Allah tdk menyukai org yg berlebihan ..

mereka menegakkan ajaran islam dengan kekerasan

gue aja benci FPI
emang di alquran ditulis sweeping dengan kekerasan ? ga kan? mereka bukan menegakkan alqur an tapi mereka bertindak semena mena
rate ya
Purwokertokita.com – Isu kedatangan Rizieq Shihab dan pendirian Front Pembela Islam (FPI) di Banyumas menuai reaksi netizen.

FB_IMG_1455362420185-768x748

Mereka menolak pendirian FPI dengan membuat meme anti-FPI.
REPUBLIKA.CO.ID, PURWAKARTA -- Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj, mendesak supaya organisasi massa (Ormas) Front Pembela Islam (FPI) segera dibubarkan. Pasalnya, ormas tersebut selama berdiri di Indonesia telah meresahkan. Apalagi, banyak hal-hal kontroversi yang disuarakan oleh pimpinan FPI tersebut. "Sejak lama PBNU mendorong supaya FPI itu dibubarkan," ujar Said, kepada Republika.co.id, Senin (14/12).
Indoheadlinenews.com - Gerakan Pemuda (GP) Ansor, organisasi sayap pemuda Nahdlatul Ulama (NU) siap membubarkan Front Pembela Islam (FPI). Hal tersebut akan segera dilakukan jika pemerintah tak berani bertindak tegas pada organisasi pimpinan Habib Rizieq Shihab itu. "Kalau pemerintah tidak tegas, maka GP Ansor bersama elemen lain akan merencanakan langkah pembubaran paksa FPI," kata Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat GP Ansor Abdul Malik Haramain di Jakarta...
KBR68H, Jakarta - Kepala daerah berwenang menolak keberadaan FPI di wilayahnya dan tak menunggu sikap pemerintah pusat. Ini menyusul serangkaian tindak kekerasan yang dilakukan anggota FPI di berbagai daerah.
DETIK.COM, Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Thahaja Purnama menyebut ingin membubarkan ormas Front Pembela Islam (FPI) lantaran tidak terdaftar di DKI dan Kesbangkol.
INDOPOS, JAKARTA – Polisi Republik Indonesia (Polri) mendesak tiga lembaga negara segera membubarkan Fron Pembela Islam (FPI). Mereka adalah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) dan Kejaksaan Agung (Kejagung).
Ormas Anarkis FPI Bikin Rusuh di Medan, BUBARKAN !!!

Jumlah korban tewas akibat bentrok antar organisasi massa (ormas) di Kota Medan, Sumatera Utara, bertambah menjadi 2 orang. Bentrok antarormas ini terjadi Sabtu (30/1/2016) sore di sekitar Jalan Thamrin simpang Jalan Asia, Kota Medan.

Dan masih banyak lagi pihak-pihak yang sangat membenci FPI dan ingin agar FPI dibubarkan.


Mind Control Kita Disesatkan Media Sekular


Ormas Anarkis FPI Bikin Rusuh di Medan?

Baku bunuh ormas Pemuda Pancasila (PP) vs Ikatan Pemuda Karya (IKP) di Medan, Sumatera Utara sejauh ini telah menewaskan dua orang. Walau sudah jelas seragamnya menunjukkan ormas apa, media hanya menyebutnya “bentrokan antar ormas”.

Padahal kasus perang antar ormas ini telah menewaskan dua orang, namun identitas nama ormasnya masih berusaha dihilangkan atau setidaknya disembunyikan.

Beda dengan pemberitaan terhadap FPI selama ini. Apabila FPI yang terlibat bentrok di Medan ini, tentu -seperti biasa- pemberitaan media sekuler dan para liberalis akan heboh, diulang-ulang sambil terus memojokkan FPI.

Dan judul-judul pemberitaan tidak akan “sesopan” diatas, tetapi yang semacam inilah yang akan mereka sebarkan:

  • “FPI Kembali Melakukan Aksi Kekerasan Di Medan: Dua Warga Dibunuh!
  • “FPI Membunuh Dua Orang Tak Berdosa Di Medan”
  • “Biadab! FPI Lakukan Aksi Sweeping, Lalu Menganiaya Sampai Mati Dua Warga Medan”
  • “Ketenangan Kota Medan Dirusak Oleh Aksi Biadab FPI”
  • “Aksi Brutal Anarkis FPI Telan Dua Korban Jiwa Di Medan”
  • “Kebiadaban FPI Kembali Terjadi Di Medan. Negara Tidak Boleh kalah Oleh Kekerasan, Bubarkan FPI!”
  • “FPI Kembali Rusak Nama Islam: Dua Warga Medan Dibunuh”
  • “FPI Lancarkan Aksi Terorisme Di Medan: Dua Warga Tewas Menjadi Korban Kebrutalan FPI”
  • “FPI Lakukan Serangan Mematikan Terhadap Warga Medan: Dua Warga Medan Berhasil Dibunuh”
  • Dan ujung-ujungnya: BUBARKAN FPI!!!

Tanggapan netizen di twitter

  • “Giliran FPI sweeping tempat zina aja rame. Di sebut anarkis, brutal, gak bermoral. Lah ini sampe ada korban tewas adem-adem aja netizen haha,” sindir netizen @AnjasYp_ di twitter.
  • “Ormas rusuh pemuda di medan ampe ada yg tewas. Koq liberalis gak teriak2 “kekerasan atas nama pancasila” ya?” cuit @ssirah.
  • “Andai yang bentrok saling bunuh di Medan adalah ormas FPI, maka @Metro_TV, @KompasTV, dll pasti siarkan Breaking News seharian penuh. Kemudian update tiap jam berapa banyak yg sudah menandatangani petisi pembubaran ormas FPI,” ujar@iwan_ideas.

Tapi FPI kenyang kantongi sikap sinis media

FPI (Front Pembela Islam) tak mempermasalahkan tudingan media yang negatif terhadap ormas tersebut. Ormas ini juga menganggap sepi jika selama ini disebut sebagai organisasi yang lahir dari aparat.

“Opini itu tergantung mana yang dibenci orang. Saat orang benci Wahabi, FPI dibilang Wahabi. Saat orang benci Syiah, FPI dibilang Syiah. Itu semua hanya opini,” terang Ketum FPI Shobri Lubis, Jumat (26/6/2015) lewat pesan singkat elektroniknya.

Dalam diskusi bertema Laskar Ormas-ormas Islam di Kantor MUI Pusat, Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta, Kamis sore (25/6/2015) kemarin, Shobri memahami aksi-aksi mereka memberangus penyakit warga kerap dapat cibiran.

Meski begitu, ia juga mengherankan sikap media yang tak berimbang saat FPI turun gunung di lokasi bencana di tanah air. “Tidak masalah, kami beramal hanya karena Tuhan,” imbuh Shobri.

Ia mengisahkan, meski beken lewat aksi amar ma’ruf nahi munkarnya, FPI pun tak segan saat mengevakuasi puluhan ribu mayat korban tsunami di Aceh, membantu korban gempa di Yogyakarta dan Sumatera Barat, pengungsi gunung Sinabung, membantu Muslim Rohingya dan beragam korban bencana alam lainnya seperti tanah longsor dan kebakaran.

Seluruh aksi itu, lanjut ia, dilakukan demi solidaritas terhadap umat. “Tidak masalah media tak meliput kegiatan FPI itu,” aku putra guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Nabilah Lubis itu.

Malahan, saat mereka turun menjadi relawan dan membantu korban gempa Yogya beberapa tahun silam, warga setempat terkaget-kaget dengan aktivitas FPI yang turut membantu mereka. “Lho ini FPI yang ‘teroris’ itu kan?. Wah Anda ketipu media,” tandas Shobri menirukan mimik kekagetan warga sekitar.

Eks Sekjen FPI itu melanjutkan, demi menghilangkan kemungkaran di tengah publik, FPI memiliki prosedur tetap dengan sepuluh indikator. Mulai dari laporan tertulis oleh masyarakat, hingga puncaknya pada langkah kesepuluh FPI menyerahkan kembali kepada warga jika semua upaya yang dilakukan menemui jalan buntu.

Apa Yang Sebenarnya Terjadi di Medan?

Baku bunuh ormas Pemuda Pancasila (PP) vs Ikatan Pemuda Karya (IKP) di Medan, Sumatera Utara sejauh ini telah menewaskan dua orang. Walau sudah jelas seragamnya menunjukkan ormas apa, media hanya menyebutnya “bentrokan antar ormas”.

Padahal kasus perang antar ormas ini telah menewaskan dua orang, namun identitas nama ormasnya masih berusaha dihilangkan atau setidaknya disembunyikan. Beda dengan pemberitaan terhadap FPI selama ini. Apabila FPI yang terlibat bentrok di Medan ini, tentu -seperti biasa- pemberitaan media sekuler dan para liberalis akan heboh, diulang-ulang sambil terus memojokkan FPI.

Apa yang sebenarnya terjadi di Sukorejo?

SUKOREJO, KENDAL (voa-islam.com) – Jum’at (19/7/2013) pagi menjelang siang, kontributor voa-islam.com di Sukorejo Kendal mengabarkan bahwa bentrok yang terjadi pada Rabu (17/7/2013) petang bukanlah antara warga dengan Front Pembela Islam (FPI). Namun, bentrok yang mengakibatkan tiga laskar FPI Temanggung luka parah adalah bentrok antara FPI melawan preman Kristen Kafir.

Para preman Kristen Kafir yang saat itu membekengi tempat pelacuran atau lokalisasi di daerah Sukorejo tidak terima dengan aksi FPI.

…Jadi, bentrok hari Rabu (17 Juli 2013 -red) kemarin itu bukan warga Sukorejo dengan FPI. Tapi para preman Kristen dengan FPI…

“Jadi, bentrok hari Rabu (17 Juli 2013 -red) kemarin itu bukan warga Sukorejo dengan FPI. Tapi para preman Kristen dengan FPI,” katanya melalui sambungan telfon pada Jum’at (19/7/2013).

Para preman tersebut, dipimpin dan digerakkan oleh Erick agar menyerang laskar FPI yang berjumlah 29 orang. Erick yang bergama Kristen ini merupakan pimpinan sebuah perkumpulan preman di daerah Sukorejo – Patean – Ngadirejo bernama “Ronggolawe”.

Erick dikenal sering membekengi tempat maksiat seperti judi togel dan pelacuran atau lokalisasi yang berada disekitar kecamatan Sukorejo dan Patean kabupaten Kendal, serta kecamatan Ngadirejo kabupaten Temanggung.

…Para preman tersebut menyerang FPI saat berada di tempat lokalisasi Sarim Alaska. Mereka dipimpin dan digerakkan oleh Erick…

Bentrokan pada hari Rabu terjadi di tempat pelacuran Sarim Alaska Sukorejo. Alaska sendiri merupakan kepanjangan dari “Alas Karet”. Penamaan tersebut karena tempat pelacuran Sarim berada ditengah-tengah alas karet.

Sarim sendiri adalah nama pemilik tempat pelacuran tersebut. Namun Sarim sendiri sudah meninggal dunia. Tempat pelacuran Sarim Alaska berada di sebelah utara bunderan atau alun-alun Sukorejo.

…Erick ini preman Kristen dan pimpinan sebuah perkumpulan preman bernama Ronggolawe yang sering membekengi tempat judi togel dan lokalisasi di sekitar Sukorejo, Patean, Ngadirejo…

“Para preman tersebut menyerang FPI saat berada di tempat lokalisasi Sarim Alaska. Mereka dipimpin dan digerakkan oleh Erick,” ujarnya.

“Erick ini preman Kristen dan pimpinan sebuah perkumpulan preman bernama Ronggolawe yang sering membekengi tempat judi togel dan lokalisasi di sekitar Sukorejo, Patean, Ngadirejo,” tandasnya.

Dan apa yang terjadi di Paciran?

Pasca penangkapan jaringan teroris di kawasan Hotel Inna Garuda Malioboro Yogyakarta, Jumat tengah malam, 9 Agustus 2013, pada Iedul Fithri 1434 H, kita disentakkan lagi oleh bentrok antar kelompok massa di Paciran, Lamongan.

Sampai dengan detik ini media masih santer memberitakan bahwa bentrok itu antara FPI dengan Warga. Meski sudah ada pernyataan tegas baik dari FPI DPD Jatim, DPP FPI dan Kapolda Jatim Unggung Cahyono bahwa bentrok massa tersebut tidak terkait dengan FPI dan isu sara. Pihak FPI menyatakan bahwa FPI Lamongan sudah dibekukan sejak 2 tahun yang lalu karena ada perbedaan visi perjuangan.

Penggiringan Opini Publik

Gencarnya blow up opini media yang memaksa pelakunya harus FPI dibarengi juga olehstatement terbaru dari politisi F-Partai Golkar Bambang Soesatyo tentang terorisme pasca kejadian ekstra judicial killing di Tulungagung, bom Vihara Ekayana dan penangkapan terduga teroris yang disinyalir termasuk jaringan Sigit di Yogjakarta.

Bambang Soesatyo menegaskan bahwa serangkaian peristiwa berbau kejahatan terorisme sudah merongrong sistem keamanan dalam negeri yang terjadi menjelang akhir bulan Ramadhan tahun ini.

“Tidak hanya ledakan bom di Vihara Ekayana, tetapi saya juga melihat rangkaian kasus penembakan prajurit polisi serta serangan terhadap fasilitas Polri sebagai indikator tentang menguatnya ancaman terorisme di dalam negeri,” tuturnya.

Selain itu, kata dia, indikator lain yang tidak boleh diremehkan adalah kasus hilangnya 250 dinamit milik PT Multi Nitrotama Kimia (MNK) di Subang, serta pembobolan penjara Tanjung Gusta di Medan yang menyebabkan sejumlah narapidana teroris melarikan diri. “Tidak berlebihan untuk mengaitkan pembobolan penjara Tanjung Gusta dengan sinyalemen atau imbauan Organisasi Polisi Kriminal Internasional (ICPO) baru-baru ini,”imbuhnya. Sebab, ungkap dia, ICPO memperingatkan bahwa pembobolan penjara di sejumlah negara merupakan ancaman besar bagi keamanan global. Bahkan ICPO menduga jaringan al-Qaidah juga terlibat dalam penyerangan dan pembobolan sejumlah penjara di sembilan negara. Karena itu, menurut Bambang Soesatyo, ledakan bom berskala rendah di Vihara Ekayana, serta penembakan terhadap polisi dan serangan bom terhadap fasilitas Polri patut dilihat sebagai kecenderungan. “Sebuah kecenderungan yang menjelaskan dengan gamblang bahwa ancaman terorisme di dalam negeri masih ada dan sangat nyata,”pungkasnya.

Jika kita cermati secara jeli maka ada dua sasaran kelompok maupun dua sasaran tema opini yang terus menerus secara intens di blow up.

  • Pertama, kelompok ormas Islam yang menggunakan jalan  “kekerasan” dalam hal ini direpresentasikan oleh FPI.
  • Kedua, kelompok-kelompok Islam yang menggunakan jalan “jihad” dalam hal ini direpresentasikan oleh para mujahidin. Sedang dari tinjauan  tema opini maka FPI sebagai representasi “Ormas Kekerasan” yang bisa mungkin dijerat dengan UU Ormas. Dan kelompok-kelompok mujahidin yang bisa ditindak dengan UU Terorisme.

Ini menunjukkan ada upaya sistematis dan masif oleh negara yang dikendalikan sebagian pengambil kebijakan negeri ini baik yang memiliki kebencian terhadap Islam Kaffahmaupun yang mau dibayar oleh kalangan Barat untuk memenuhi kepentingan tuannya.

Ironisnya gencar dan masifnya opini tersebut dilakukan justru pada menjelang akhir Romadlan dan awal Iedul Fithri 1434 H yang mubarok di tengah khidmatnya kaum Muslimin menunaikan ibadah.

Seperti sebuah upaya untuk memunculkan sentimen di kalangan kaum muslimin sendiri. Mungkin juga ada alasan bahwa masifnya opini media baik untuk konteks FPI maupun kalangan pendukung syariah itu sebagai implikasi dari aksi-aksi yang dilakukan oleh kedua kelompok tersebut.

Tetapi pernahkah ada upaya untuk memilah-memilih derasnya opini media itu benar-benar memaparkan fakta dan realita. Bukan sebaliknya, hanya sekedar menginterpretasi fakta dan realita untuk kepentingan menjaga kesinambungan opini media. Yakni sebagai upaya berkesinambungan untuk mendiskreditkan Islam melalui “black campaign” terhadap kelompok-kelompok Islam.

Memaksa harus FPI

Terbukti belakangan ditemukan fakta bahwa bentrok antar kelompok massa di Paciran Lamongan Jawa Timur menyisakan beberapa kejanggalan antara lain.

  • Pertama, hingga detik ini media masih begitu masif memblow up kasus bentrok dengan selalu mengaitkan Ormas FPI. Meski sudah ada klarifikasi resmi –baik oleh FPI DPP (DPD Jatim) maupun oleh Kapolda Jatim– bahwa kasus bentrok itu tidak berkaitan dengan FPI. Jadi memaksa media-media besar (yang katanya paling akurat dalam standar jurnalistik), memaksa diri pelakunya haruslah tertulis FPI?
  • Kedua, dengan diambil alihnya kasus bentrok ini oleh Polda Jatim. Secara opini media, maka artinya isu lokal ini akan meluas menjadi isu nasional dan tentu semuanya berkat jasa media untuk memblow up dan memperluas scope pemberitaannya. Dan nampak bahwa pengawalan opini yang masif dilakukan secara berantai mulai dari “Kasus Kendal” sampai dengan “Kasus Paciran”. Sasaran targetnya juga sama dan jelas yakni FPI.
  • Ketiga,  aparat keamanan di lapangan  tidak mampu mencegah penyerangan kedua pasca penyerangan kelompok-kelompok preman terhadap para aktifis islam. Penyerangan kedua itu dilakukan terhadap rumah seorang juru azan masjid Manarul Islam pada selasa malam (13/8/2013) lalu. Padahal, situasi geografis lokasi insiden dipinggir jalan dan wilayah yang tidak terpencil. Seperti terkesan ada proses pembiaran.

Di sisi lain, berbeda treatment dengan kelompok yang dituduh terkait teroris. Berbagai rangkaian kasus terdekat misalnya mulai dari penembakan di Tulungagung, bom Vihara Ekayana dan terakhir penangkapan di Yogjakarta adalah rentetan kejadian untuk mengawal opini tentang terorisme.

Dan sasaran bidik opini media ini adalah untuk mendiskreditkan kelompok-kelompok ini yang dikenal pembela syariat Islam. Padahal rentetan peristiwa terkait terorisme itu bisa jadi dilakukan bukan oleh kelompok-kelompok yang dituduhkan selama ini. Tetapi oleh kelompok-kelompok baru yang muncul sebagai bentuk respons terhadap situasi dan kondisi carut marutnya kehidupan di dunia Islam di bawah kungkungan penjajahan AS bersama sekutu-sekutunya.

Ataukah memang merupakan peristiwa rekayasa operasi intelijen sebagai bentuk justifikasi atau pembenaran keberadaan terorisme?

Sasaran opini media terkait dengan terorisme ini semakin jelas memang ditujukan kepada kelompok-kelompok Islam, pembela syariat atau kelompok yang menggunakan jalan “jihad” sebagai manhaj perjuangan. Biasanya, metode yang dilakukan terhadap kelompok Islam ini adalah selain dengan melakukan pendekatan 4i (infiltrasi, radikalisasi, aksi dan stigmatisasi).

Juga melakukan aborsi dan distorsi terhadap istilah-istilah “jihad”. Dari pengertian syar’i sebagai “perang” menjadi pengertian bahasa sebagai “bersungguh sungguh” atau “islam rahmatan lil alamin”. Maksud yang terakhir mungkin, Islam yang baik, jika “diserang” dan ditembaki Amerika sebagaimana di Afghan atau Iraq sebaikanya tidak perlu membalas. Itulah “Islam rahmatan lil alamin” yang sering digembar-gemborkan.

Pisau bermata dua

Peristiwa bentrok kelompok massa (warga) di Paciran Lamongan Jawa Timur, gambaran tentang cara-cara sistematis-masif melalui gabungan rekayasa opini media dan rekayasa intelijen seperti “pisau bermata dua” untuk mendiskreditkan kelompok-kelompok Islam sekaligus pada akhirnya untuk mendiskreditkan Islam.

Masifnya berita nasional yang memaksa harus FPI pelakunya, diharapkan memunculkan gurita “Islamophobia” di dalam benak masyarakat Indonesia secara menyeluruh.

Karena itu penting direnungkan kembali apa yang disampaikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’anul Karim:

يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS:At Taubah : 32).

Syeikh Muhammad Ali As Shaabuniy dalam tafsirnya Shafwatut Tafaasiir Juz I/494 mengatakan bahwa mereka, yakni orang-orang kafir dari kalangan orang-orang musyrik dan Ahli Kitab, menginginkan untuk memadamkan “cahaya Islam” dan syari’at Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam. dengan mulut-mulut mereka yang hina. Dengan sekedar perdebatan yang mereka buat dan perkara-perkara yang mereka buat-buat. Padahal Islam adalah cahaya yang telah  Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan untuk makhluk-Nya sebagai penerang. Perumpamaan mereka bagaikan orang yang ingin memadamkan cahaya bulan dan matahari dengan tiupan mulut mereka. Tentu tidak akan kesampaian.


Selanjutnya: BUBARKAN FPI? [bagian 2]

Iklan

One response »

  1. […] Lanjutan dari artikel BUBARKAN FPI? [bagian pertama] […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s