Lanjutan Propaganda LGBT [bagian 2]


  • Ajarkan semua aturan pergaulan antara pria dan wanita di masyarakat.

Rasulullah saw bersabda:

“Suruhlah anak-anakmu shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika tidak mau shalat) ketika mereka berumur sepuluh tahun; dan pisahkanlan tempat tidur mereka “ (HR. Abu dawud).  

Usia 10 tahun menjadi batas waktu akhir anak menjadi tamyiz, sanggup menyadari perbedaan kelamin. Kewajiban pemisahan tempat tidur, memberi kesadaran pada anak-anak tentang status perbedaan kelamin, memelihara nilai akhlaq dan batas pergaulan antara pria dan wanita. Pertama, wajib pisahkan tempat tidur anak dengan orangtua.  Kedua, wajib pisahkan tempat tidur antar anak yang berlainan jenis.  Jika 2 orang berlainan jenis bersentuhan dalam suasana sepi dan tak ada orang lain yang mengawasi, maka akan timbul rangsangan birahi.

Rasulullah Saw bersabda,

“Janganlah seorang pria melihat aurat pria. Jangan pula wanita  melihat aurat wanita. Janganlah seorang pria tidur dengan pria dalam satu selimut. Jangan pula wanita tidur dengan wanita dalam satu selimut” (HR Muslim).  

Wajib pemisahan selimut meskipun tidur dengan sesama jenis.  Dilarang saling melihat aurat meskipun sesama jenis. Jika orang tua punya banyak anak tetapi kamar tidur tidak cukup, maka anak wanita tidur di dalam kamar dan anak laki-laki tidur di ruang tamu/ruang makan.

Keterbatasan tidak boleh menjadi dalil untuk menghalalkan tidur sekamar. Anak laki-laki pelindung saudara wanitanya. Sebaiknya, jika kita memiliki anak laki-laki dan wanita, minimal tersedia tiga  kamar. Satu kamar untuk orangtua, satu kamar untuk anak wanita dan satu kamar untuk anak laki-laki.

Rasulullah Saw memerintahkan kaum muslim agar mengeluarkan kaum waria dari rumahnya, agar lingkungan masyarakat terpelihara dari penyakit sosial. Beliau juga memerintahkan para sahabat mengusir seorang waria dan mengasingkannya ke Baqi’.

Pemerintah harus menghilangkan pornografi dan pornoaksi dalam kehidupan publik. Selamatkan generasi muda Islam dari pengaruh LGBT! [14]

  • Allah Melaknat LGBT, & Pelaku Homoseksual Seharusnya Dihukum Mati

Tidak  lama setelah Mahkamah Agung Amerika dengan dukungan penuh presiden Obama mensahkan pernikahan sesame jenis di 50 negara bagian Amerika, komunitas Gay Dunia pun merayakan ‘kemenangan mereka’. Bendera pelangi dikibarkan ribuan orang saat mengikuti Gay Pride Parade di Amerika Serikat, 28 Juni 2015, dua hari setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat melegalkan pernikahan sesama jenis di 50 negara bagian.

Komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) Indonesia di New York terlihat bersukacita mengikuti parade yang juga diselenggarakan di New York City. Mereka membawa banner peta Indonesia dengan latar warna pelangi dan tulisan Satu Pelangi.Di Indonesia, tidak sedikit , yang ikut-ikutan – entah ngerti atau tidak- merayakan kemenangan komunitas Gay ini.

Agama Islam sendiri telah tegas mengharamkan dan melaknat LGBT apalagi perkawinan sesama jenis. Perbuatan mereka dilaknat Allah SWT dan negara Khilafah akan memberikan sanksi tegas bagi pelaku homoseksual dengan menghukum mati mereka.

Islam menjelaskan bahwa hikmah penciptaaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan adalah untuk kelestarian jenis manusia dengan segala martabat kemanusiaannya (QS. an-Nisa [4]: 1). Perilaku seks yang menyimpang seperti homoseksual, lesbianisme dan seks diluar pernikahan bertabrakan dengan tujuan itu. Islam dengan tegas melarang semua perilaku seks yang menyimpang dari syariah itu.

Islam mencegah dan menjauhkan semua itu dari masyarakat. Sejak dini, Islam memerintahkan agar anak dididik memahami jenis kelaminnya beserta hukum-hukum yang terkait. Islam juga memerintahkan agar anak pada usia 7 atau 10 tahun dipisahkan tempat tidurnya sehingga tidak bercampur.

Islam juga memerintahkan agar anak diperlakukan dan dididik dengan memperhatikan jenis kelaminnya. Sejak dini anak juga harus dididik menjauhi perilaku berbeda dengan jenis kelaminnya. Islam melarang laki-laki bergaya atau menyerupai perempuan, dan perempuan bergaya atau menyerupai laki-laki.

«لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِينَ مِنْ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنْ النِّسَاءِ»

Nabi Muhammad melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki (HR. al-Bukhari).

Nabi saw. juga memerintahkan kaum muslim agar mengeluarkan kaum waria dari rumah-rumah mereka. Dalam riwayat Abu Daud diceritakan bahwa Beliau saw. pernah memerintahkan para sahabat mengusir seorang waria dan mengasingkannya ke Baqi’.

Dengan semua itu, Islam menghilangkan faktor lingkungan yang bisa menyebabkan homoseksual. Islam memandang homoseksual sebagai perbuatan yang sangat keji. Perilaku itu bahkan lebih buruk dari perilaku binatang sekalipun. Di dalam dunia binatang tidak dikenal adanya pasangan sesama jenis.

Islam memandang homoseksual sebagai tindak kejahatan besar. Pelakunya akan dijatuhi sanksi yang berat. Nabi saw. bersabda:

«مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ»

Siapa saja yang kalian jumpai melakukan perbuatan kaum Nabi Luth as. maka bunuhlah pelaku dan pasangan (kencannya). (HR. Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah).

Dengan sanksi itu, orang tidak akan berani berperilaku homoseksual. Masyarakat pun bisa diselamatkan dari segala dampak buruknya. [15]

E. PANDANGAN DARI DUNIA KESEHATAN

  • Membedah Struktur Otak LGBT yang Meninggal

Dalam sebuah pemberitaan yang dilansir oleh BBC Indonesia berjudul ‘Bisakah Anda menyembuhkan LGBT?’ dan juga Kompas.com berjudul ‘Ahli Neurologi: Variasi Struktur Otak Pengaruhi Adanya LGBT’, berdasarkan narasumber seorang ahli bedah syaraf Indonesia Dr. Roslan Yusni Hassan (Ryu Hassan) mengatakan, lesbian,gay, biseksual, dan transgender (LGBT) itu bukanlah sebuah penyakit. Lebih jauh lagi bahwa orientasi seks terhadap sesama jenis adalah sebuah perbedaan biasa di dalam hidup. Hal ini disebabkan karena para LGBT mempunyai struktur otak yang berbeda dari orang yang nonhomoseksual.

Tidak ada yang bisa “mengotak-atik” struktur otak. Dengan kata lain jika struktur otak LGBT berbeda dengan yang non-LGBT maka hal ini adalah sesuatu yang natural dan alamiah. Karena itulah yang sudah didesain oleh “pabrik” otaknya (baik dalam segi struktur maupun fungsi). Terimalah LGBT untuk menjadi dirinya sendiri, begitu ringkasan pernyataan Ryu Hassan.

Orang awam yang tidak pernah mempelajari otak atau bahkan tidak pernah melihat langsung otak manusia seperti apa, sebaiknya tidak menerima informasi tersebut tanpa sebuah filter. Karena filter yang terbaik itu adalah ilmu.

William James, seorang psikolog Amerika Serikat, adalah orang yang pertama kali mencetuskan ide bahwa otak itu bisa mengorganisasikan (merubah) dirinya sendiri. Hal itu dikenal untuk hari ini dalam ilmu yang mempelajari otak (neuroscience) dengan istilah neuroplasticity, sebuah istilah yang pertama kali dikenalkan oleh Jerzy Konorski, seorang neuroscientist asal Polandia pada 1948.

Neuroplasticity mendobrak kebuntuan pemikiran dunia kedokteran yang terkungkung dalam konsep yang salah tentang otak selama tiga abad: otak manusia berhenti berkembang pada umur tertentu. Penemuan konsep ini menyatakan, otak manusia berubah-ubah baik struktur maupun fungsinya sampai kapan pun tergantung dari pengalaman yang dilakukan. Pengalaman ini meliputi lingkungan, perilaku, pemikiran, persepsi, perasaan, emosi, dan bahkan kebiasaan berimajinasi sekalipun.

image

Otak tak ubahnya seperti plastik yang bisa berubah bentuk dan sangat fleksibel. Lalu apa yang menyebabkan perubahan tersebut? Jawabannya adalah perilaku dan pengalaman yang kita buat. Donald Hebb, psikolog asal Kanada, mengemukakan sebuah ungkapan yang terkenal, Neurons fire together, wire together (Syaraf yang aktif bersamaan, akan membentuk jaringan secara bersamaan pula).

Pemikiran, perasaan, orientasi seksual, persepsi, termasuk sensasi fisik yang dibayangkan, mengaktifkan ribuan syaraf secara bersamaan. Ketika sebuah pemikiran ataupun perasaan tersebut diulang terus menerus, maka ribuan syaraf tersebut akan membentuk dan menguatkan jaringan sistem syaraf yang unik untuk pemikiran atau perasaan tersebut.

Adanya konsep neuroplasticity ini menyampaikan bahwa perbedaan struktur otak tidak serta merta menyebabkan seseorang mempunyai orientasi seksual LGBT. Tetapi, kebiasaan, pengalaman, dan gaya hidup yang dibangunlah yang bisa mengubah struktur dan fungsi otak hingga menghasilkan orientasi dan perasaan intim terhadap sesama jenis.

Menyatakan dengan serta-merta bahwa LGBT disebabkan karena adanya faktor perbedaan dari struktur otak sangatlah naif dan hal itu tidak berdasarkan pemikiran yang mendalam dan komprehensif dengan mempertimbangkan penelitian yang mutakhir. Untuk bisa menyatakan sebab-akibat harus melakukan serangkaian penelitian eksperimen yang sudah teruji, baik dari segi validitas maupun reliabilitasnya.

Cara kerja sistem syaraf amatlah rumit. Perbedaan struktur maupun fungsi otak bisa berubah karena adanya sebuah pengalaman yang terus-menerus dilakukan. Adanya perbedaan struktur dan fungsi otak para LGBT bisa disebabkan karena lingkungan dan kebiasaan yang mereka lakukan; sebagai contoh, di mana dan dengan siapa mereka bergaul, mendiskusikan tentang seks, mempunyai pengalaman yang pahit karena dikecewakan oleh lawan jenis, dan kebiasaan berimajinasi dalam keintiman dengan sesama jenis.

Banyak publik tidak mengetahui bahwa gerakan LGBT untuk bisa diterima di masyarakat luas, sudah dimulai semenjak tahun 60-an. Memang benar bahwa homoseksual tidak lagi dicantumkan sebagai sebuah penyakit mental di dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders(DSM-II) pada 1973. DSM adalah “Alquran”-nya para psikolog dan psikiater di seluruh dunia untuk menentukan kategorisasi penyakit-penyakit mental.

DSM selalu direvisi tiap beberapa tahun berdasarkan hasil penelitian yang valid. Pencabutan homoseksual dari DSM pada 1973, yang berdampak pada pandangan bahwa homoseksual bukan lagi sebagai penyakit jiwa, dilakukan bukan berdasarkan hasil penelitian. Tetapi, berdasarkan adanya desakan politik dan demonstrasi besar-besaran. Gerakan ini merupakan rentetan dari pergerakan hak kebebasan warga Amerika kulit hitam pada 1950-an.

Persamaan hak warga Amerika kulit hitam ini juga berimbas pada munculnya gerakan feminis dan juga aktivis gay yang mencapai puncaknya di Amerika pada 1970-an. Jika merujuk pada kacamata saintifik, pembenaran bahwa homoseksual bukan penyakit mental adalah bukan berdasarkan fakta dan data, tapi lebih berdasarkan gerakan politik.

Penelitian pertama kali tentang LGBT menurut kacamata neuroscience adalah dengan membandingkan volume (ukuran) otak orang yang normal dan homoseksual yang sudah meninggal. Hasil penelitian itu menunjukan adanya perbedaan antara ukuran otak orang nonhomoseksual dan homoseksual. Hasil penelitian ini dipublikasikan secara masif di berbagai media Barat pada saat itu.

Salah satu prinsip riset adalah harus bisa diuji ulang kembali (repeatable). Ketika penelitian itu ditelaah kembali, ditemukan bahwa ada sebuah tahapan awal yang tidak sama sebelum melakukan pembandingan. Untuk sampel yang homoseksual ditemukan bahwa ia telah mengidap HIV dalam kurun waktu yang cukup lama sebelum meninggal. Dengan tidak adanya sistem pertahanan (immune system) di dalam tubuh akibat serangan virus HIV, maka otaknya terinfeksi oleh virus lain yang menyebabkan mengecilnya ukuran otak orang tersebut.

Jadi, perbedaan volume otak itu bukanlah menjadi penyebab mempunyai orientasi homoseksual, tetapi disebabkan karena adanya faktor eksternal. Amat disayangkan bahwa hasil penelitian yang kedua ini tidak pernah terungkap ke publik karena dapat mengancam pergerakan LGBT.

  • HIV pertama kali ditemukan pada pasangan gay yang melakukan hubungan seks melalui anus (rectum)

Dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa virus HIV pertama kali ditemukan pada pasangan gay yang melakukan hubungan seks melalui anus (rectum). Rectummerupakan tempat “pembuangan” terakhir (buang air besar) yang sangat kotor dan mengandung banyak bakteri. Adanya cairan sperma di dalam rectum dan bercampur dengan bakteri yang kotor maka hal ini menjadi awal mula virus HIV. Tetapi, berbagai kalangan mengatakan bahwa virus HIV ini berasal karena adanya hubungan seks antara orang Afrika dengan monyet.

Tentunya hal ini tak berdasar dan mencoba untuk mengalihkan isu agar homoseksual tidak diangkap sebagai sumber kedatangan virus HIV. Penyebaran HIV begitu cepat dan berimbas tidak hanya dikalangan kaum LGBT, tapi juga memakan korban ribuan bayi yang tak berdosa yang baru terlahir. Mereka tertular HIV semenjak masih di dalam rahim sang ibu. Pembenaran akan LGBT melalui sudut pandang neuroscience akan berdampak pada masalah lain yang lebih kompleks.

Mungkin keluarga kita akan menjadi korban di kemudian hari, berawal dari pembenaran bahwa struktur dan fungsi otak LGBT itu adalah alamiah. Selamatkan anak cucu kita dengan memberikan ruang yang lebih bagi keluarga heteroseksual bukan keluarga homoseksual.

Saya mengimbau bagi para ilmuwan dan para ahli di bidangnya masing-masing di negeri ini, seperti dokter ahli (bedah) syaraf, psikolog, psikiater, sosiolog, ahli hukum, dan lainnya. Gunakanlah ilmu Anda untuk kemaslahatan hidup orang banyak. Berikan informasi yang benar pada publik yang tidak pernah bersentuhan secara mendalam dengan dunia medis, psikologi, syaraf otak, dan bidang ilmu lainnya. Ilmu itu adalah amanah bukan anak panah yang dengan cepat bisa melesat dan melumpuhkan siapa saja.

Memberikan sebuah pernyataan bahwa LGBT adalah sebuah variasi dalam kehidupan manusia dan dibungkus atas nama ilmu pengetahuan adalah sebuah pelacuran intelektualitas dan pembodohan terhadap masyarakat awam yang tak mengenal sulitnya mempelajari otak manusia. Otak itu kecil, hanya sebesar genggaman tangan manusia. Tapi esensi kita sebagai manusia banyak tersimpan di dalam seonggok protein itu. Semakin dipelajari semakin sulit, begitulah otak.

Tapi, di dalam kesulitan itulah tersimpan berbagai hikmah yang bisa bermanfaat untuk seluruh umat manusia. Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bisa bermanfaat bagi yang lainnya, bukan yang bisa membodohi antarsesamanya. [16]

F. RENUNGAN

image

Ini adalah jenasah salah satu anggota LGBT yang meninggal karena AIDS dan tidak ada yang bersedia merawat jenazahnya termasuk KPAP dan atau penggiat HAM.

Saya masih ingat sebelum berangkat ke Menado saya harus mendampingi dua jenasah satu waria yang 1 hari sudah di kamar mayat… jenasah terlantar… satu gay yang meninggal siang itu… keluarga miskin… keduanya tidak ada yang ingin memandikan… Dimandikan kamar jenasah bayar 500 ribu…

Lepas dari bahwa penderita AIDS bukan hanya dari golongan LGBT… karena juga banyak pasangan heteroseksual dan anak yang tertular HIV…

Ketika mereka masih hidup dan sehat banyak yang bicara atas nama HAM untuk kebebasan mereka memilih hidup sebagai LGBT, pekerja seksual dan konsumennya, dan atau pecandu, yang resiko tinggi penularan HIV… tetapi lihatlah saat mereka sakit dan meninggal… dimana para penggiat HAM berada…

Berbeda dengan teman-teman komunitas Arab di Yayasan Dakwah Bil Haal… dimana etnis Arab di Indonesia diidentikkan sebagai kelompok anarkis anti HAM yang diasosiasikan sebagai orang-orang FPI (padahal tidak juga)… diidentikkan pula dengan teroris… faktanya merekalah yang ikhlas merawat jenasah saudara-saudara muslim yang kebetulan LGBT… karena mereka muslim dan kewajiban muslim merawat jenasah saudaranya.. (Oleh: Mila Machmudah Djamhari, Ketua Umum Kawan PELANGI (PEduLi Anak NeGerI). [17]

Ide kebebasan dan HAM yang mendasari dan digunakan sebagai pembenaran perilaku seks menyimpang, termasuk perilaku LGBT, adalah ide yang menyalahi dan bertentangan dengan Islam. Dalam Islam, manusia tidak bebas sebebas-bebasnya. Pandangan dan perilakunya harus terikat dengan syariah Islam. Seorang Muslim tidak bebas berpandangan dan berperilaku sesukanya sesuai hawa nafsunya. Allah SWT berifirman:

Apa saja yang diberikan Rasul kepada kalian, terimalah. Apa sajayang dia larang atas kalian, tinggalkanlah (TQS al-Hasyr [59]: 7).

Karena itu dalam Islam negara berkewajiban membina dan memupuk keimanan dan ketakwaan warganya. Dengan ketakwaan itu maka ide dan perilaku yang menyalahi ketentuan Islam, termasuk LGBT, akan bisa dicegah dan diminimalisasi dari masyarakat.

Allah SWT menjelaskan bahwa tujuan penciptaan laki-laki dan perempuan adalah untuk kelangsungan jenis manusia dengan segala martabat kemanusiaannya (QS an-Nisa [4]: 1). Karena itu hubungan seksualitas yang dibenarkan dalam Islam hanyalah yang ada dalam ikatan pernikahan yang sah secarasyar’i. Semua hubungan seksualitas di luar ikatan pernikahan adalah ilegal dan menyimpang. Lesbian, homoseksual, anal seks, perzinaan, semuanya adalah perilaku seks yang menyimpang; tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang normal. Semua itu juga menjadi ancaman terhadap keberadaan umat manusia dengan segala martabat kemanusiaannya.

Selain itu terdapat nas yang secara khusus menjelaskan bahwa homoseksual adalah perilaku terlaknat. Rasul saw. bersabda:

«مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ »

Dilaknat orang yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (homoseksual) (HR at-Tirmidzi dan Ahmad dari Ibnu Abbas).

Perilaku transgender juga merupakan perilaku yang dilaknat dalam Islam. Ibnu Abbas ra. mengatakan:

«لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ وَالْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ»

Rasulullah saw. telah melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Karena itu di dalam Islam, ide dan perilaku LGBT jelas menyimpang dan abnormal. Ide LGBT adalah ide haram. Perilaku LGBT adalah perilaku dosa. Karena itu ide LGBT tidak boleh tersebar di masyarakat. Siapa saja yang menyebarkan, mendukung dan membenarkan ide LGBT jelas berdosa dan layak dikenai sanksi sesuai ketentuan syariah. Negara dalam Islam harus membersihkan dan menjaga masyarakat dari ide LGBT.

Islam menilai homoseksual sebagai dosa dan kejahatan besar. Islam menetapkan sanksi hukum yang berat terhadap pelakunya. Siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Nabi Luth dan terbukti dengan pembuktian yang syar’i maka pelaku dan pasangannya dijatuhi hukuman mati, tentu selama itu dilakukan suka rela, bukan karena dipaksa.

Ibnu Abbas ra. menuturkan, Rasul saw. bersabda:

«مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ»

Siapa saja yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, bunuhlah subyek dan obyeknya (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).

Dengan ketentuan Islam itu, masyarakat akan bisa dijaga sebagai umat manusia yang berbeda dengan binatang. Masyarakat juga bisa dijauhkan dari berbagai ide dan perilaku berbahaya termasuk LGBT. Semua itu akan terwujud sempurna jika syariah Islam diterapkan secara total dan menyeluruh. Di situlah pentingnya mewujudkan Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah sebagai sistem yang ditetapkan oleh Islam untuk menerapkan seluruh hukum Islam. Oleh karena itu, mewujudkan penerapan syariah Islam secara total dan menyeluruh di bawah sistem Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah harus menjadi agenda utama dan vital bagi umat Islam. Semua elemen umat Islam harus berjuang sungguh-sungguh untuk sesegera mewujudkan Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah. [18]

  • Islam adalah Penyelamat

Dalam negara yang menerapkan Islam, tentu tidak akan ditemui masyarakat yang mendukung apalagi menjadi pelaku LGBT secara massif, sebagaimana yang ada di negara-negara Barat. Oleh karena itu, memberantas perilaku LGBT haruslah dilakukan dari akarnya dengan membuang ideologi sekuler berikut paham liberalisme, politik demokrasi dan sistem kapitalisme. Hal itu diiringi dengan penerapan ideologi Islam dengan syariahnya secara total.

Untuk melindungi masyarakat dari perilaku LGBT, Islam memiliki solusi jitu sebagai berikut:

  • Pertama, secara preventif, Islam mewajibkan negara untuk terus membina keimanan dan memupuk ketakwaan rakyat. Agar menjadi kendali diri dan benteng yang menghalangi muslim terjerumus perilaku LGBT. Islam pun dengan tegas menyebut perilaku LGBT merupakan dosa dan kejahatan yang besar di sisi Allah swt. Sebagaimana kejahatan homoseksual oleh kaum Sodom (perilakunya disebut sodomi) kaum nabi Luth, yang Allah binasakan mereka hingga tak tersisa.
  • Kedua, Islam memerintahkan untuk menguatkan identitas diri sebagai laki-laki dan perempuan. Karena itu, Islam mengatur agar masing-masing fitrah yang ada tetap terjaga; laki-laki memiliki kepribadian maskulin, dan perempuan memiliki kepribadian feminin; wanita tidak boleh menyerupai laki-laki, begitu juga sebaliknya. Dari Ibnu Abbas ra: “Nabi saw melaknat laki-laki yang berlagak wanita dan wanita yang berlagak meniru laki-laki.” (HR. al-Bukhari, 5436).

Pola asuh orang tua dan kondisi yang diberikan kepada anak pun harus menjamin hal itu. Maka, sejak dini anak-anak harus dipisahkan tempat tidur mereka.

Rasul bersabda (artinya):

“Suruhlah anak-anakmu shalat pada usia 7 tahun, pukullah mereka (jika meninggalkan shalat) pada usia 10 tahun, dan pisahkan mereka di tempat tidur.” (HR. Abu Dawud, 418).

Dalam pergaulan antara jenis dan sesama jenis pun harus terjaga. Rasul bersabda (artinya):

“Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki. Jangan pula perempuan melihat aurat perempuan. Janganlah seorang laki-laki tidur dengan laki-laki dalam satu selimut. Jangan pula perempuan tidur dengan perempuan dalam satu selimut.” (HR. Muslim, 512).

  • Ketiga, secara sistemik, negara dalam Islam harus menghilangkan rangsangan seksual dari publik termasuk pornografi dan pornoaksi. Begitu pula segala bentuk tayangan dan sejenisnya yang menampilkan perilaku LGBT atau mendekati ke arah itu juga akan dihilangkan.
  • Keempat, permudah pernikahan. Sebab, tak jarang LGBT terjadi karena pelaku kecewa dengan kondisi yang ada, karena sulitnya menyalurkan naluri dengan halal, akhirnya mereka terjerumus dalam perilaku LGBT. Negara juga wajib memfasilitasi. Bukan malah mempersulit nikah usia muda. Sebab dalam syariah pernikahan dini tidak masalah, asal sesuai syariat.
  • Kelima, penegakkan sanksi bagi para pelaku LGBT. Sehingga para pelaku juga jera dan berpikir ulang jika mau melakukan LGBT. Ini semua demi menjaga masyarakat agar tetap dalam kondisi yang sejalan dengan frame peradaban Islam.

Berikut sanksi bagi LGBT:

  • (1) Ijma’ sahabat menyatakan bahwa hukuman bagi pelaku homoseksual (gay) adalah hukuman mati, baik sudah menikah atau belum, meski diantara para sahabat berbeda pendapat tentang teknis eksekusi hukuman mati itu. (al-Maliki, Nizham al-’Uqubat, Bab Hadd al-Liwath).
    • Rasul saw bersabda (artinya): “Siapa saja yang kalian temukan melakukan perbuatan kaum Luth (homoseksual) maka bunuhlah pelaku (yang menyodomi) dan pasangannya (yang disodomi).” (HR. Abu Dawud 3869; at-Tirmidzi 1376, bn Majah 2551, Ahmad 2596).
  • (2) Lesbianisme berbeda dengan liwath (homoseksual). Lesbianisme (at-tadaluk, as-sahaq, atau al-musahaqah) adalah hubungan seksual yang terjadi di antara sesama wanita.
    • Mirip dengan zina hanya saja tidak terjadi penetrasi. Semua fuqaha sepakat hukuman lesbianisme bukan zina, melainkan ta’zir, yaitu hukuman yang tidak ditentukan secara khusus oleh syara’. Dalam hal ini bentuk dan kadarnya ditentukan hakim (Qadhi), seperti dicambuk, dipenjara, dll. (Shiddiq al Jawi, hizbut-tahrir.or.id, 16/5/2012).
  • (3) Biseksual itu tergolong zina ketika dilakukan dengan lain jenis. Jika dilakukan dengan sesama jenis, maka tergolong homoseksual jika dilakukan sesama laki-laki; dan tergolong lesbianisme jika dilakukan sesama wanita.
    • Hukumnya sesuai fakta. Jika tergolong zina, hukumnya rajam (dilempar batu sampai mati) jika pelakunya muhshan (sudah menikah) dan dicambuk seratus kali jika pelakunya bukan muhshan. Jika tergolong homoseksual, dihukum mati. Jika tergolong lesbianisne, di-ta’zir. (Shiddiq al Jawi, al-khilafah.org, 12/18/2010).
  • (4) Sedangkan transgender adalah perbuatan menyerupai lain jenis. Baik dalam berbicara, berbusana, maupun dalam berbuat, termasuk dalam aktivitas seksual.
    • Islam mengharamkan perbuatan menyerupai lain jenis. Sanksinya, jika sekedar berbicara/berbusana menyerupai lawan jenis, diusir dari pemukiman atau perkampungan. Nabi saw bersabda (artinya), “Usirlah mereka dari rumah-rumah kalian.” Maka Nabi Shallawllahualaihi Wasallam pernah mengusir Fulan dan Umar ra juga pernah mengusir Fulan. (HR. Bukhari no 5436).
    • Jika transgender berhubungan seksual, maka sanksi sesuai faktanya. Jika terjadi di antara sesama laki-laki, maka dijatuhi sanksi homoseksual. Jika terjadi di antara sesama wanita, dijatuhi sanksi lesbianisme. Jika terjadi dengan lain jenis, dijatuhi sanksi zina. Memang dalam Islam dikenal istilah khuntsa atau hermaphrodit, yakni orang yang mempunyai kelamin ganda. Mereka memang diakui dalam fiqih Islam. Namun ini sama sekali berbeda dengan transgender, karena kaum transgender mempunyai kelamin yang sempurna, bukan kelamin ganda, hanya saja mereka berperilaku menyerupai lawan jenisnya. (ibid).

Berdasarkan aturan Islam tersebut, kehidupan umat akan dipenuhi oleh kesopanan, keluhuran, kehormatan, martabat dan ketenteraman dan kesejahteraan. Itu semua hanya terwujud jika syariah Islam diterapkan secara total di bawah sistem khilafah ala minhaj nubuwwah. Sekarang Khilafah sudah tidak ada sejak keruntuhannya di Turki 1924. Maka artinya umat wajib berjuang mengembalikan Khilafah ala minhaj nubuwwah di muka bumi sekali lagi. Khilafah-lah yang akan menjalankan Syariah Islam secara kaffah, termasuk menjatuhkan sanksi yang tegas terhadap pribadi-pribadi hina yang melakukan lesbianisme, gay, biseksual, dan transgender.

Rasul saw bersabda (artinya):

“Menegakkan hukuman (hadd) di bumi lebih baik bagi penduduknya daripada hujan selama empat puluh malam.” (HR. An-Nasa’I, 4821). Wallahu a’lam.

Referensi

Iklan

One response »

  1. […] Selanjutnya: Propaganda LGBT [bagian 3] […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s