Sejarah Panjang Turki Utsmani

Turunnya wahyu pada tahun 622 kepada rasul yang terakhir yaitu Muhammad bin Abdullah di Gua Hira, Arab Saudi sampai dengan sekarang. Secara umum Sejarah Islam setelah meninggalnya Nabi Muhammad telah berkembang secara luas di seluruh dunia.Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, danKesultanan Utsmaniyah boleh dikatakan penyambung kekuatan Islam setelah pemerintahan Khulafaur Rasyidin.

Peta wilayah Kekhilafahan Islam dan sekitarnya pada tahun 750 M (awal abad ke-2 Hijriah) (wikipedia)

Peta wilayah Kekhilafahan Islam dan sekitarnya pada tahun 750 M (awal abad ke-2 Hijriah) (wikipedia)

Alur Waktu Perjalanan Kekhalifahan Turki Utsmani (Ottoman)

wpid-greater_ottoman_empire_by_prussianink-d878tgq

  • 1243 M – Bangsa Turki yang hidup secara nomad menetap secara tetap di Asia Kecil.
  • 1299 M – Sebuah wilayah pemerintahan kecil Turki di bawah Turki Seljuk didirikan di barat Anatolia.
  • 1301 M – Osman I menyatakan dirinya sebagai sultan. Berdirinya Kerajaan Turki Usmani.
  • 1345 M – Turki Seljuk menyeberangi Selat Bosporus.
  • 1389 M – Tentara Utsmani menewaskan tentara Serb di Kosovo.
  • 1401 M – Sultan Muhammad I mengirim satu regu utusan dakwah ke pulau Jawa yang dikenal dengan Wali Songo, Surat Perintah Khalifah tersebut saat ini masih tersimpan di Museum Leiden Belanda
  • 1402 M – Timurlane, Raja Tartar (Mongol) menumpaskan tentera Uthmaniyyah diAnkara.
  • 1451 M – Sultan Muhammad al-Fatihmenjadi pemerintah.
  • 1453 M – Konstantinopel ditaklukkan oleh tentara Islam pimpinan Sultan Muhammad al-Fatih. Berakhirnya Kerajaan Byzantium.
  • 1475 M – setelah 75 tahun dan melalui pengiriman bertahap regu dakwah Wali Songo ke pulau Jawa hingga 5 angkatan, termasuk Raden Fattah, akhirnya Kekhalifahan Turki Utsmani berhasil membidani berdirinya Kesultanan Demak Bintoro sebagai Kerajaan Islam pertama di pulau jawa dan sebagai perpanjangan amanah khalifah untuk dakwah di pulau Jawa. Seluruh Surat Keputusan dan Surat Perintah Sultan masih tersimpan di Museum Leiden Belanda
  • 1520 M – Sultan Sulaiman al-Qanuni dilantik menjadi sultan.
  • 1526 M – Perang Mohacs
  • 1529 M – Serangan dan kepungan ke atasVienna.
  • 1571 M – Perang Lepanto terjadi.
  • 1641 M – Pemerintahan Sultan Muhammad IV
  • 1683 M – Serangan dan kepungan ke atas Vienna untuk yang kedua kalinya.
  • 1687 M – Sultan Muhammad IV meninggal dunia.
  • 1703 M – Pembaharuan kebudayaan di bawah Sultan Ahmed III.
  • 1774 M – Perjanjian Kucuk Kaynarca.
  • 1792 M – Perjanjian Jassy.
  • 1793 M – Sultan Selim III mengumumkan “Pentadbiran Baru”.
  • 1798 M – Napoleon mencoba untuk menaklukkan Mesir.
  • 1804 M – Pemberontakan dan kebangkitan bangsa Serbia pertama.
  • 1815 M – Pemberontakan dan kebangkitan bangsa Serbia kedua.
  • 1822 M – Bermulanya perang kemerdekaanGreece.
  • 1826 M – Pembunuhan massal tentara elitJanissari. Kekalahan tentera laut Uthmaniyyah di Navarino.
  • 1829 M – Perjanjian Adrianople.
  • 1830 M – Berakhirnya perang kemerdekaan Greece.
  • 1841 M – Konvensyen Selat.
  • 1853 M – Dimulainya Perang Crimea.
  • 1856 M – Berakhirnya Perang Crimea.
  • 1878 M – Kongres Berlin. Serbia dan Montenegro diberi kemerdekaan. Bulgariadiberi kuasa autonomi.
  • 1912 M – Perang Balkan pertama.
  • 1913 M – Perang Balkan kedua.
  • 1914 M – Kerajaan Turki Utsmani memasuki Perang Dunia I sebagai sekutu kuasa tengah.
  • 1919 M – Mustafa Kemal Atatürk mendarat di Samsun.
  • 1923 M – Sistem kesultanan dihapuskan.Turki menyatakan sebagai sebuah Republik.
  • 1924 M – Khalifah dihapus. Berakhirnya pemerintahan Kerajaan Turki Utsmani.

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Mengatur urusan individu, masyarakat dan Negara. Jika individu mengatur dirinya dengan Islam (baca taqwa: melaksanakan perintah dan meninggalkan laranganNya) dalam tingkah lakunya maka Islam akan menjadi rahmat pada dirinya. Jika Masyarakat mengatur urusannya dengan Islam maka Islam akan menjadi rahmat pada masyarakat tersebut. Begitupun juga Negara akan menerima rahmat penduduk negerinya jika urusan-urusan Negara tersebut berpanduan pada Islam. Jika tidak? Maka jangan protes kepada Allah.

Sejak Zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, agama Islam tidak bisa dipisahkan dari urusan Negara atau politik (pelayanan terhadap umat). Ada syari’at yang dibebankan kepada individu, misal, shalat, puasa dan ada yang dibebankan kepada Negara, misal ekonomi, pendidikan, keamanan, hukum had dan qishas.

Banyak pendapat orientalis yang memusuhi Islam, tapi mereka mengakui bahwa Islam tidak bisa dipisahkan dari negara. Hal ini cukup menjawab pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa Islam hanya mengatur masalah ruhani antara hamba dan Rabbnya.

Sudah kita ketahui bahwa Daulah Madinah telah tegak di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, kemudian dilanjutkan oleh para Khulafaur Rosyidin kokoh sampai akhirnya pada masaKhilafah Utsmaniyah. Eksistensi khilafah sendiri adalah sesuatu yang paling penting dalam Islam. Hal ini tergambar dalam kesibukan 50 sahabat Muhajirin dan Anshor yang mengutamakan mencari pengganti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam sebagai pemimpin umat di perkampungan Bani Saqifah daripada mengebumikan Rasul terlebih dahulu.

Kekhilafahan dalam Islam mengalami pasang surut antara kejayaan, keemasan dan terkadang kemunduran. Salah satu kekhilafahan yang mempunyai rentang waktu panjang dan kejayaan yang mengagumkan adalah kekhalifahan Utsmaniyah di Turki.

Selama kurang lebih lima abad Ustmany telah menjaga Islam dan kaum Muslimin. Kesuksesan terbesar kekhilafahan Utsmaniyah di antaranya adalah penaklukan Konstantinopel pada tahun 1453.

Hal ini memperkuat status kekhilafahan tersebut sebagai kekuatan besar di Eropa Tenggara dan Mediterania Timur. Hingga kota-kota penting yang sangat terkenal sejak zaman dahulu pun masuk ke dalam wilayah kekhilafahan Utsmaniyah. Pada masa itu, seluruh Eropa takut dan “menggigil” dengan kekhalifahan Utsmaniyah. Raja-raja Eropa berada dalam jaminan keselamatan yang diberikan dari Khalifah Utsmaniyah.

Semua hal tersebut membuat Raja-raja Eropa menaruh dendam juga niat yang membara untuk menghancurkan kekhalifahan Utsmaniyah. Namun mereka masih menunggu kesempatan dan waktu yang tepat untuk menggulingkan kekhalifahan Utsmaniyah tersebut, sehingga mereka harus membuat rencana yang benar-benar matang.

Disebutkan bahwa para filosofi, pemikir, raja, panglima perang, pastur bangsa Eropa ikut terlibat dalam rencana kejam ini. Tak kurang dari perdana menteri Romawi Dubqara menulis buku yang berjudul “Seratus Kiat untuk Menghancurkan Turki”.

Problem Internal dan Eksternal

Kekhalifahan Utsmaniyah berakhir pada 1909 H, dan kemudian benar-benar dihapuskan pada 3 Maret 1924 H.

Setidaknya ada tiga sebab yang melingkupi keruntuhan kekhilafahan kebanggaan kaum muslimin ini, antara lain:

  • Pertama; Kondisi Pemerintahan yang lemah dan kemorosotan akhlak.

Penurunan drastis ketakwaan individu menyebabkan akhlak umat mulai merosot. Turki mulai mengalami kemunduran setelah terjangkit penyakit yang menyerang bangsa-bangsa besar sebelumnya, yaitu: cinta dunia dan bermewah-mewahan, sikap iri hati, benci membenci, dan penindasan.

Pejabat pemerintahan terpuruk karena korupsi. Para wali dan pegawai tinggi memanfaatkan jabatannya untuk menumpuk harta. Begitu pula rakyat yang terus menerus tenggelam dalam kemewahan dan kesenangan hidup, meninggalkan pemahaman dan semangat jihad. Fanatik madzhab merebak di mana-mana. Kemudian mencukupkan Imam Madzhab dan timbul opini tertutupnya pintu ijtihad. Sehingga umat kebingungan dan berada dalam keruwetan pada saat menghadapi persoalan-persoalan baru yang terjadi pada umat Islam.

  • Kedua; serangan militer dari Eropa

Sebelum terjadinya Perang Dunia I yang menghancurkan Turki, upaya penyerangan dari Raja Eropa ke Turki sebenarnya sudah dimulai pada akhir abad 16, di mana saat itu keluar pernyataan yang menyatakan bahwa; ”Sri Paus V, Raja Prancis Philip dan republik Bunduqiyah sepakat untuk mengumumkan perang ofensif dan defensif terhadap orang-orang Turki untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang dikuasai Turki seperti Tunisia, Al-Jazair dan Taroblush.”

Sejak itulah Turki melemah karena banyaknya pertempuran yang terjadi antara mereka dan negara-negara Eropa. Puncak dari semua itu adalah keterlibatan Turki dalam Perang Dunia I pada 2 Agustus 1914 atas rencana busuk dari Mustapa Kamal, dan mengakibatkan Turki kehilangan segala-galanya, di mana militer penjajah akhirnya memasuki Istambul.

  • Ketiga; gerakan oposisi sekuler dan nasionalis

Selain serangan konspirasi dari luar, Utsmaniyah juga menghadapi tantangan internal berupa Isu Nasionalisme Arab. Orang Arab yang merasa lebih mulia daripada orang Turki karena Islam berasal dari Arab sehingga mereka enggan dipimpin seorang Khalifah yang berasal dari Turki. Hal ini memicu terjadinya separatisme yang semakin menggerogoti kekuatan dan wilayah Utsmani.

Utsmani juga mendapat perlawanan oposisi dari organisasi sekuler dan nasionalis yang sempit, seperti Organisasi Wanita Turki dan Organisasi Persatuan dan Kemajuan yang digawangi oleh Mustafa Kemal.

Dalam perjuangannya, mereka banyak bekerja sama dengan negara Eropa untuk mewujudkan keinginan mereka menghilangkan kekhalifahan. Puncaknya apa yang terjadi pada tahun 1909 H, dengan dalih gerakan mogok massal, organisasi Persatuan dan Kesatuan berhasil memasuki Istambul, menyingkirkan Khalifah Abdul Hamid II dan melucutinya dari pemerintahan dan keagamaan dan tinggal menjadi simbol belaka. Tidak cukup itu, pada 3 Maret 1924, badan legislatif mengangkat Mustafa Kamal sebagai presiden Turki dan membubarkan khilafah Islamiyah.

Turki Utsmani Runtuh, Berganti Turki Sekular di Era Mustafa Kemal Atatürk

Mustafa Kemal Attaturk bertindak radikal guna menghancurkan perdaban Islam. Mustafa, sebagai Presiden Republik Turki yang sekuler, bertindak diktator dalam menjalankan pemerintahan. Ia menetapkan ideologi Negara menganut paham sekularisme. Atas dasar ideologi Negara ini, dia mengumumkan akan mengambil langkah-langkah kebijaksanaan untuk mencapai cita-citanya demi kepentingan Negara Turki Sekuler.

sonhabergazete.com.tr

sonhabergazete.com.tr

Di antaranya ia mengambil langkah;

  1. Menghapus syariah Islam dan tidak ada lagi jabatan kekhalifahan,
  2. Mengganti hukum-hukum Islam dengan hukum-hukum Italia, Jerman, dan Swiss,
  3. Menutup beberapa masjid dan madrasah,
  4. Mengganti agama Negara dengan sekularisme,
  5. Mengubah azan ke dalam bahasa Turki,
  6. Melarang pendidikan agama di sekolah umum,
  7. Melarang kerudung bagi kaum wanita dan pendidikan terpisah,
  8. Mengganti naskah-naskah bahasa Arab dengan bahasa Roma,
  9. Pengenalan pada kode hukum Barat, pakaian, kalender, serta Alfabet, dan
  10. Mengganti seluruh huruf Arab dengan huruf Latin.

Republik Sekular Turki

Akibat ulah Mustafa Kamal, pemaksaan ini akhirnya menjadikan Turki sebagai Republik Sekuler yang sangat anti terhadap dakwah Islam. Ciri Islam di Turki hampir – hampir hilang sama sekali, sehingga kaum Muslimin kesulitan menemukan jejak peradaban Islam di tanah Turki.

Sesaat berkuasa, Kemal Attaturk pernah menggantung tiga puluh ulama. Ia mengatakan, “Ketahuilah, saya dapat membuat negara Turki menjadi negara demokrasi bila saya dapat hidup lima belas tahun lagi. Tetapi jika saya mati sekarang, itu akan memerlukan waktu tiga generasi,” begitulah Kamal Attaturk, selalu berlaku angkuh di atas tindakan kekejaman dan anti agama, seorang yang dikenal sebagai pencetus ‘sekulerisme Turki’ sekaligus penghancur kekhalifahan Turki dan agama Islam.

Balasan atas Kedzaliman Atatürk

Sekiranya Kamal Attaturk ini lahir di zaman adanya Rasul pada saat ketika wahyu masih turun, bisa jadi namanya akan diabadikan seperti Fir’aun, Namrud dan Abu Lahab. Cara kematian yang Allah telah datangkan kepada mereka, orang-orang yang dzalim itu teramat tragis sekali. Kematian merekapun teramat unik.

Namrud, mati karena sakit kepala akibat dimasuki oleh seekor nyamuk melalui telinganya. Setiap kali ia menjerit, dokter pribadinya memerintahkan dipukul kepalanya untuk mengurangi kesakitannya. Setelah lama bergelut dengan sakratul maut, akhirnya dia mati dalam keadaan tersiksa dan terhina. Begitu juga dengan Firaun yang mati lemas di dalam laut.

Nasib serupa dialami Mustafa Kamal Attaturk juga menerima pembalasan yang setimpal dari Allah. Menurut beberapa buku sejarah, kematian Kemal dikarenakan akibat over dosis minuman keras. Ditambah lagi dengan berbagai penyakit seperti penyakit kelamin, malaria , sakit ginjal dan lever. Dia meninggal dunia pada 10 November 1938, kulit di tubuh badannya rusak dengan cepat dan díganggu pula oleh penyakit gatal-gatal.

Dokter sudah memberi bermacam-macam salep untuk diusap pada kakinya yang sudah banyak luka-luka karena tergaruk oleh kukunya. Walaupun begitu dia masih sangat angkuh. Di akhir-akhir hayatnya yaitu ketika menderita sakratul maut.

Anehnya dia takut sekali berada di istananya dan tubuhnya merasa panas maka ia ingin dibawa ke tengah laut dengan kapalnya. Bila penyakitnya bertambah, dia tidak dapat menahan diri daripadanya kecuali menjerit. Jeritan itu semakin kuat (hingga kedengaran di sekeliling istana). Dia berteriak kesakitan dalam sakratul mautnya dengan penuh siksa di tengah-tengah laut.

Dr. Abdullah ‘Azzam dalam buku ‘Al Manaratul Mafqudah’, menjelaskan detik-detik menjelang ajal sang hina Mustafa Kemal Attaturk. Menurutnya, sebuah cairan berkumpul di perutnya secara kronis. Ingatannya melemah, darah mulai mengalir dari hidungnya tanpa henti. Dia juga terserang penyakit kelamin (GO). Untuk mengeluarkan cairan yang berkumpul pada bagian dalam perutnya (ascites), dokter mencoblos perutnya dengan jarum. Perutnya membusung dan kedua kakinya bengkak. Mukanya mengecil. Darahnya berkurang sehingga Mustafa pucat seputih tulang.

Dalam Kitab ”Al-Jaza Min Jinsil Amal” Karangan Syeikh Dr. Sayyid Husien Al-Affani disebutkan, walaupun Attaturk dikelilingi para dokter, namun penyakit kangker hatinya baru di ketahui pada tahun 1938 padahal dia telah merasakan pedihnya penyakit tersebut sejak 1936.

Pada Kamis tanggal 10 oktober 1938, Kamal Attatruk terlempar ke ‘sampah sejarah’ setelah ia mengalami sakaratul maut sebulan lamanya yang tidak ada satupun dari pembantu dan para dokternya yang berani mendekati dia ketika itu.

Setelah 9 hari, barulah mayatnya disembahyangkan, itupun setelah didesak oleh seorang adik perempuannya. Kemudian mayatnya telah dipindahkan ke Ankara dan dipertontonkan di hadapan Grand National Assembly Building. Pada 21 November, ia dipindahkan pula ke sebuah tempat sementara di Museum Etnografi di Ankara yang berdekatan gedung parlemen.

Lima belas tahun kemudian yaitu pada tahun 1953, barulah mayatnya diletakkan di sebuah bukit di Ankara.

Mustafa Kemal Atatürk

3317423

(Foto: gettyimages.com)

Presiden Turki ke-1
Masa jabatan
29 Oktober 1923 – 10 November 1938
Digantikan oleh İsmet İnönü
Perdana Menteri Turki ke-1
Masa jabatan
3 Mei 1920 – 24 Januari 1921
Digantikan oleh Fevzi Çakmak
Informasi pribadi
Lahir 12 Maret 1881
Selânik, Kekaisaran Ottoman
sekarang Thessaloniki, Yunani
Meninggal 10 November 1938
Istana Dolmabahçe, Istanbul, Turki
Kebangsaan Turki
Partai politik Partai Rakyat Republikan
Suami/istri Latife Uşaklıgil (1923-1925)
Tanda tangan 640px-Signature_of_Mustafa_Kemal_Atatürk.svg

Sekian lama dipasung sistem sekuler, akhirnya Islam kembali bangkit di Turki. Kebangkitan ini terjadi satu dekade silam sejak partai yang mengusung visi Islam, AKParti (Adalet Kalkinma Paritisi) mendominasi jagad perpolitikan di negara dua benua tersebut.

Persis seperti selama ini kita baca di media massa, dalam perjalanan saya ke Istanbul bebarapa waktu lalu, saya melihat dan merekam sendiri bagaimana geliat kebangkitan Islam di negara tersebut setelah sistem sekuler gagal membangun Turki sehingga sistem tersebut praktis sedang berada diambang keruntuhan. Oleh sebab itu, saya merasa penting untuk menulis hasil dialog bersama beberapa akademisi Turki tersebut selama saya di sana beberapa waktu lalu untuk menjadi bahan pelajaran bagi kita umat Islam di Indonesia.

Bagaimana sebenarnya indikator kegagalan sekulerisme di Turki dan mengapa kita sebut sistem ini diambang keruntuhan? Secara umum, indikator kegagalan sekulerisme di Turki adalah pada catatan sejarah tentang ketidakmampuan Turki untuk bangkit selama hampir satu abad sejak sistem sekulerisme mencengkeram negera tersebut.

Seperti kita ketahui, sejak Mustafa Kamal Ataturk mengganti kekhalifahan Islam Turki Usmani pada tahun 1923 menjadi republik yang berideologi sekuler dan ke-Barat-baratan, negara tersebut praktis menjadi pesakitan dalam pentas peradaban modern negara-negara dunia. Padahal, sebelumnya Turki Usmani adalah sebuah kekuatan besar yang bahkan luasnya membentang di antara negara-negara Eropa dan Asia.

Lord Istanbul, kuku kapitalisme

Di bawah sistem sekuler, bukan saja Turki tidak mampu berperan dalam skala internasional di tengah banyaknya persoalan negara-negara di dunia ketiga, bahkan juga Turki kehilangan kemampuan terbaiknya dalam mengurus dirinya sendiri. Beberapa koran di era Turki lama memperlihatkan bagaimana kumuh dan miskinnya Turki dibawah sistem sekuler. Kondisi ini disebabkan karen kekayaan bangsa Turki hanya mengalir untuk Tuan-Tuan Istanbul (Lord Istanbul) yang menjadi penguasa negara tersebut di belakang layar.

Dengan sistem sekuler ini, Tuan-Tuan Istanbul yang terkoneksi dengan jaringan Masonik dan kapitalisme Internasional ini kian leluasa menguras kekayaan bangsa Turki dengan membudayakan ekonomi kapitalis dan sistem ribawi dalam perbankan. Lord Istanbul yang dipelihara sejak di era Mustafa Kamal Ataturk ini adalah penguasa Turki yang sesungguhnya, siapapun pemimpinnya. Dengan uang riba yang mereka peroleh dari kekayaan bangsa Turki, mereka bukan hanya menguasai ekonomi Turki, namun juga menguasai politik, pendidikan, hingga media massa.

Mereka mendirikan bank-bank swasta, meminjamkan uang mereka ke negara untuk kemudian menarik bunga riba sebanyak-banyaknya sehingga menyulitkan Turki untuk bangkit. Apalagi, jaringan kapitalisme internasional di luar Turki seperti IMF (Internasional Moneter Found) yang bekerjasama dengan Tuan-Tuan Istanbul ini senantiasa sigap memasung Turki dengan uang-uang pinjaman yang membuat Turki sulit untuk bangkit. Kondisi ini kian diperparah dengan pemasungan kebebasan beragama, terkhusus kepada umat Islam.

Dalam bidang politik, Lord Istanbul ini secara leluasa menentukan siapa saja wakil rakyat di parlemen yang mereka kehendaki. Dalam bidang pendidikan, pelarangan mata pelajaran agama di sekolah-sekolah dan pelarangan memakai pakaian Muslimah di tempat-tempat umum adalah sesuatu yang telah jamak diketahui masyarakat dunia pernah berlaku di Turki. Bahkan juga tidak sedikit perguruan tinggi yang sebelum era AKParti-Erdogan menolak menerima calon mahasiswa dari latar belakang pendidikan agama. Kalangan pelajar “pesantren” pun begitu terdiskriminasi.

Barangkali, penguasa sekuler paham betul bahwa sekulerisme akan ambruk jika mereka membiarkan bangsa Turki dekat dengan Islam, agama mereka sendiri. Bahkan, larangan-larangan itu berujung pada hukuman mati kepada Adnan Menderes, perdana Menteri terpilih Turki di era 1960 karena ia mencoba mengembalikan Islam dalam kehidupan masyarakat Turki. Padahal, umat Islam di negara tersebut adalah mayoritas. Jika ada pemimpin Turki yang mencoba melawan, seperti Perdana Menteri Najmuddin Erbakan, ia langsung dikudeta dan partainya pun dibubarkan.

Kebangkitan Islam di Turki Era Erdogan

foto by mad (@madmaddyNL) | twitter.com

foto by mad (@madmaddyNL) | twitter.com

Dan kini, sejak Turki satu dekade silam berada di bawah kepemimpinan perdana menteri Receb Tayyip Erdogan (kini Presiden Turki), Turki bangkit secara dramatis. Berturut-turut AKParti menang dengan jumlah suara mutlak (melebihi 50 persen) dalam pemilu Turki, suatu capaian yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah Turki lama. Sementara partai-partai sekuler seperti MHP dan CHP semakin tidak populer.

Sesuatu yang menjadi bukti nyata bahwa sekulerisme di Turki sedang berada di ambang keruntuhan. Bahkan dalam Pemilu legislatif tujuh Juni lalu, AKParti juga kembali menang melebihi 40 persen suara secara nasional, suatu capaian yang fantastis bagi suatu partai “Islamis” di negara yang secara resmi menggunakan sistem sekuler sebagai ideologi negara.

Kemenangan berturut-turut AKParti terjadi karena Recep Tayyip Erdogan sebagai figur sentral AKParti dengan izin Allah Swt selangkah demi selangkah telah membawa Turki ke arah kebangkitan, meskipun tantangan besar dari dalam dan luar negeri senantiasa menghadangnya. Di bawah Erdogan, pembangunan Turki kian bergeliat dalam berbagai bidang. Ekonomi Turki bergeliat dan pendidikannya pun semakin maju. Tidak hanya itu, militer Turki pun semakin kuat dengan penguatan alustita yang canggih.

Dilansir dari berbagai sumber, Turki baru dibawah Erdogan telah melakukan lompatan ekonomi yang besar, dari rangking 111 dunia ke peringkat 16, dengan rata-rata peningkatan 10 % pertahun, yang berarti masuknya Turki kedalam 20 negara besar terkuat (G-20) di dunia.

Pada saat yang bersamaan, Erdogan telah memberi harapan baru, bukan hanya bagi umat Islam di Turki namun juga bagi umat Islam sedunia. Di dalam negeri, Erdogan telah memberi kebebasan bagi umat Islam untuk menggeliatkan syi’ar Islam. Sebagai contoh:

  • Muslimah Turki kini semakin bebas menggunakan pakaian muslimah setelah sebelumnya dilarang sistem sekuler negara tersebut.
  • Lembaga Pendidikan Islam seperti Madrasah Imam Hatip (seperti dayah di Aceh atau Pesantren di pulau Jawa) semakin menjamur dengan siswa-siswinya yang membludak.
  • Bahkan, Turki juga telah mendirikan bank anti-praktek riba (baca: bank syari’ah), meskipun tidak secara eksplisit dinamakan sebagai bank syari’ah. Tentu saja, ini merupakan upaya-upaya lanjutan Turki dalam melawan sistem kapitalisme yang telah sekian lama menjajah umat Islam.
  • Saat ini, Turki juga kian eksis dalam kencah perpolitikan dunia. Negara dua benua ini telah tampil sebagai pemain utama dalam isu-isu yang berkaitan dengan umat Islam dunia. Turki hadir membantu umat Islam di Somalia dan di Crimea. Turki membantu mendamaikan Syprus. Turki membantu rekonstruksi Gaza-Palestina, setelah dihancurkan Israel. Turki juga hadir di berbagai negara dunia ketiga lainnya.
  • Bahkan, yang tidak mungkin kita lupakan, Turki juga eksis membantu Aceh saat musibah tsunami memporak-porandakan Aceh 10 tahun yang lalu. Alhasil, Turki di bawah kepemimpinan Erdogan dan AKParti betul-betul telah membawa harapan baru bagi dunia Islam, seperti peran yang pernah dilakukan Turki di masa Turki Usmani masa silam. Maka tidak heran jika banyak pihak menyebut bahwa kebangkitan Turki di bawah AKParti dan Erdogan adalah kebangkitan Islam.

Kapitalisme sesuai dengan prinsipnya memang selalu menjajah dan memenjarakan manusia, dan kapitalisme ini mengambil manfaat sangat besar dari sistem sekuler di negara Turki.Lalu apa kunci Erdogan menaklukkan sekulerisme di Turki yang telah berjalan hampir satu abad? Dalam perjalanannya, Erdogan paham betul persoalan mendasar Turki lama. Itu sebab, dalam geraknya setelah 12 tahun lalu ia dan partainya menjadi penguasa Turki, Erdogan langsung “memotong” urat nadi “Tuan-Tuan Istanbul” yang menjalankan praktek riba dan kapitalisme di tengah-tengah penderitaan bangsa Turki.

Mengapa disebut mengambil manfaat, karena mereka tidak akan bisa menjalankan praktek kapitalisasi tanpa paham sekuler. Sekuler membenci kehadiran agama dalam negara, sementara Islam adalah sistem yang menentang kapitalisme, maupun juga sekulerisme.

Itu sebab, suatu ketika dalam rekaman yang masih bisa kita saksikan di Youtube, Erdogan mengatakan: “Jangan mengaku Muslim jika pada saat yang sama anda mengaku sebagai sekuler”. Atau ungkapannya yang lain, “Sekulerisme telah gagal membangun Turki, dan kami akan segera menggantikannya”.

Kembali ke kunci Erdogan membangun Turki, setelah Erdogan berhasil “memotong” urat nadi Tuan-Tuan Istanbul ini, aliran kekayaan bangsa Turki, dari sebelumnya mengalir ke tuan-tuan Istanbul ini, akhirnya bisa diarahkan ke pembangunan infrastruktur Turki, pendidikan, dan sebagainya. Maka saat ini kita bisa menyaksikan Turki baru yang modern di segala bidang.

Lebih dari itu, kini Turki juga mampu membantu negara-negara lain, sampai ke Indonesia. Lihatlah NGO terbesar Turki seperti IHH, mereka hadir hampir di setiap negara untuk membantu masyarakatnya.

Maka tidak salah, jika kita simpulkan, kebangkitan Turki adalah karena negara tersebut telah meninggalkan sistem sekuler dalam membangun negara secara diam-diam. Apalagi, tepat pada 30 Mei lalu, untuk kali pertama dalam sejarah Turki merayakan 562 tahun kejatuhan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Alfatih.

Semoga peringatan kejatuhan Konstantinopel ini menandakan bahwa Turki akan kembali berperan secara maksimal sebagai “ayah” bagi dunia Islam.


Selanjutnya: Sejarah Panjang Turki Utsmani [bag. 2]

Iklan

One response »

  1. […] Artikel sebelumnya: Sejarah Panjang Turki Utsmani […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s