Lanjutan dari: K.H. Ahmad Dahlan: The First People


K.H. Ahmad Dahlan: The First People [Part 2]

Oleh Nunik Wahyuni

Mendirikan Muhammadiyah

download_1_1Strategi yang dipilihnya untuk mempercepat dan memperluas gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah ialah dengan mendidik para calon pamongpraja (calon pejabat) yang belajar di OSVIA Magelang dan para calon guru yang belajar di Kweekschool Jetis Yogyakarta, karena ia sendiri diizinkan oleh pemerintah kolonial untuk meng­ajarkan agama Islam di kedua sekolah tersebut.

Dengan mendidik para calon pamongpraja tersebut diharapkan akan dengan segera memperluas gagasannya tersebut, karena mereka akan menjadi orang yang mempunyai pengaruh luas di tengah masyarakat. Demikian juga dengan mendidik para calon guru yang diharapkan akan segera mempercepat proses transformasi ide tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, karena mereka akan mempunyai murid yang banyak. Oleh karena itu, Dahlan juga mendirikan sekolah guru yang kemudian dikenal dengan Madrasah Mu’allimin (Kweekschool Muhammadiyah) dan Madrasah Mu’allimat (Kweekschool Putri Muhammadiyah). Dahlan mengajarkan agama Islam dan tidak lupa menyebarkan cita-cita pembaharuannya.

Di samping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muham­madiyah, ia juga tidak lupa akan tugasnya sebagai pribadi yang mempunyai tanggung jawab pada keluarganya. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesientrepreneurship yang cukup menggejala di masyarakat.

Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat, sehingga ia juga dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam’iyatul Khair, Boedi Oetomo, Syarikat Islam, dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Membangun Sekolah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah

Banyak teman-teman pengurus Boedi Oetomo yang terkesan dengan metode dakwah dan pengajaran ala Ahmad Dahlan. Bahkan, mengingat pelajaran yang diberikan oleh Ahmad Dahlan terasa sangat berguna bagi anggota Boedi Oetomo, maka para anggota Boedi Oetomo ini menyarankan agar Ahmad Dahlan membuka sekolah sendiri yang diatur dengan rapi dan didukung oleh organisasi yang bersifat permanen. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari nasib seperti pesantren tradisional yang terpaksa tutup bila kiai pemimpinnya meninggal dunia. Atas saran itulah kemudian Kyai Dahlan membangun sebuah sekolah yang dinamai Sekolah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah.

Dan atas saran itu pulalah kemudian Ahmad Dahlan menindaklanjuti dengan mendirikan organisasi pada tahun 1912. Pendirian organisasi ini dibantu pula oleh teman-temannya di Boedi Oetomo diantaranya Mas Budiharjo dan Raden Dwijosewoyo. Organisasi yang diberi nama Muhammadiyah ini didirikan untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadis. Tepatnya perkumpulan ini berdiri pada tanggal 18 November 1912 yang bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 Hijriah. Sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan. Karena itulah organisasi ini bergerak di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Melalui organisasi ini pula beliau berusaha memajukan pendidikan dan membangun masyarakat Islam.

Mendirikan sekolah, masjid, langgar, rumah sakit, poliklinik, dan rumah yatim piatu

Di bidang pendidikan sendiri, Dahlan lantas mereformasi sistem pendidikan pesantren zaman itu, yang menurutnya tidak jelas jenjangnya dan tidak efektif metodenya lantaran mengutamakan menghafal dan tidak merespon ilmu pengetahuan umum.

Kemudian Kiai Dahlan mendirikan sekolah-sekolah agama dengan memberikan pelajaran pengetahuan umum serta bahasa Belanda. Bahkan ada juga Sekolah Muhammadiyah seperti H.I.S. met de Qur’an. Sebaliknya, beliau pun memasukkan pelajaran agama pada sekolah-sekolah umum. Dahlan terus mengembangkan dan membangun sekolah-sekolah. Sehingga semasa hidupnya, beliau telah banyak mendirikan sekolah, masjid, langgar, rumah sakit, poliklinik, dan rumah yatim piatu.

Membentuk Organisasi Aisyiyah (organisasi khusus untuk kaum wanita)

Di bidang organisasi, pada tahun 1918, beliau membentuk organisasi Aisyiyah yang khusus untuk kaum wanita. Pembentukan organisasi Aisyiyah, yang juga merupakan bagian dari Muhammadiyah ini, karena menyadari pentingnya peranan kaum wanita dalam hidup dan perjuangannya sebagai pendamping dan partner kaum pria.

Membentuk ‘Padvinder atau Pandu’ Hizbul Wathan

Sementara untuk pemuda, Dahlan membentuk Padvinder atau Pandu – sekarang dikenal dengan nama Pramuka – dengan nama Hizbul Wathan disingkat H.W. Di sana para pemuda diajari baris-berbaris dengan genderang, memakai celana pendek, berdasi, dan bertopi. Hizbul Wathan ini juga mengenakan uniform atau pakaian seragam, mirip Pramuka sekarang.

Pembentukan Hizbul Wathan ini dimaksudkan sebagai tempat pendidikan para pemuda yang merupakan bunga harapan agama dan bangsa. Sebagai tempat persemaian kader-kader terpercaya, sekaligus menunjukkan bahwa Agama Islam itu tidaklah kolot melainkan progressif. Tidak ketinggalan zaman, namun sejalan dengan tuntutan keadaan dan kemajuan zaman.

Kegiatan dakwah pun tidak ketinggalan. Beliau semakin meningkatkan dakwah dengan ajaran pembaruannya. Di antara ajaran utamanya yang terkenal, beliau mengajarkan bahwa semua ibadah diharamkan kecuali yang ada perintahnya dari Nabi Muhammad SAW. Beliau juga mengajarkan larangan ziarah kubur, penyembahan dan perlakuan yang berlebihan terhadap pusaka-pusaka keraton seperti keris, kereta kuda, dan tombak. Di samping itu, beliau juga memurnikan agama Islam dari percampuran ajaran agama Hindu, Budha, animisme, dinamisme, dan kejawen.

Karena semua pembaruan yang diajarkan Dahlan ini agak menyimpang dari tradisi yang ada saat itu, maka segala gerak dan langkah yang dilakukannya dipandang aneh. Sang Kiai sering diteror seperti diancam dibunuh, rumahnya dilempari batu dan kotoran binatang. Ketika mengadakan dakwah di Banyuwangi, beliau diancam akan dibunuh dan dituduh sebagai kiai palsu. Walaupun begitu, beliau tidak mundur. Beliau menyadari bahwa melakukan suatu pembaruan ajaran agama (mushlih) pastilah menimbulkan gejolak dan mempunyai risiko. Dengan penuh kesabaran, masyarakat perlahan-lahan menerima perubahan yang diajarkannya.

Tujuan mulia terkandung dalam pembaruan yang diajarkannya. Segala tindak perbuatan, langkah dan usaha yang ditempuh Kiai ini dimaksudkan untuk membuktikan bahwa Islam itu adalah Agama kemajuan. Dapat mengangkat derajat umat dan bangsa ke taraf yang lebih tinggi. Usahanya ini ternyata membawa dampak positif bagi bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Banyak golongan intelektual dan pemuda yang tertarik dengan metoda yang dipraktekkan Kiai Dahlan ini sehingga mereka banyak yang menjadi anggota Muhammadiyah.

Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. Ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.

Muhammadiyah Mendapatkan Badan Hukum

Pada tanggal 20 Desember 1912 Muhammadiyah memproklamirkan diri dan mengadakan rapat pengurus pertamanya di Loodge Gebouw Malioboro. Kemudian Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Setelah melalui alur yang alot akhirnya permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta. Dari Pemerintah Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Itulah sebabnya kegiatannya dibatasi. Maka pada masa kepemimpinan Ahmad Dahlan (1912-1923), pengaruh Muhammadiyah terbatas hanya di karesidenan-karesidenan, seperti: Yogyakarta, Surakarta, Pekalongan, dan Pekajangan.

Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari, Imogiri dan lain-lain tempat telah berdiri Cabang Muham­madiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Untuk meng­atasinya, maka Ahmad Dahlan menyiasa­tinya dengan menganjurkan agar Cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain, misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Al-Munir di Makassar, dan di Garut dengan nama Ahmadiyah. Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari Cabang Muhammadiyah.

Di dalam kota Yogyakarta sendiri, Ahmad Dahlan menganjurkan adanya jama’ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam. Perkumpulan-perkumpulan dan Jamaah-jamaah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, yang di antaranya ialah Ikhwanul Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam,Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta’awanu alal birri, Ta’ruf bima kanu wal-Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi (Kutojo dan Safwan, 1991: 33).

Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, di samping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.

Kongres Al-Islam di Cirebon

Dalam bulan Oktober 1922, Ahmad Dahlan memimpin delegasi Muhammadiyah dalam kongres Al-Islam di Cirebon. Kongres ini diselenggarakan oleh Sarikat Islam (SI) guna mencari aksi baru untuk konsolidasi persatuan ummat Islam. Dalam kongres tersebut, Muhammadiyah dan Al-Irsyad (perkum­pulan golongan Arab yang berhaluan maju di bawah pimpinan Syeikh Ahmad Syurkati) terlibat perdebatan yang tajam dengan kaum Islam ortodoks dari Surabaya dan Kudus. Muhammadiyah dipersa­lahkan menyerang aliran yang telah mapan (tradisionalis-konservatif) dan dianggap memba­ngun mazhab baru di luar mazhab empat yang telah ada dan mapan.

Muhammadiyah juga dituduh hendak mengada­kan tafsir Qur’an baru, yang menurut kaum ortodoks-tradisional merupakan perbuatan terlarang.

Menanggapi serangan tersebut, Ahmad Dahlan menjawabnya dengan argumentasi:

“Muhammadiyah berusaha bercita-cita mengangkat agama Islam dari keadaan terbekelakang. Banyak penganut Islam yang menjunjung tinggi tafsir para ulama dari pada Qur’an dan Hadis. Umat Islam harus kembali kepada Qur’an dan Hadis. Harus mempelajari langsung dari sumbernya, dan tidak hanya melalui kitab-kitab tafsir”.

Algemeene Vergadering

Sebagai seorang demokrat dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, Dahlan memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah. Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan dua belas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), yang saat itu dipakai istilah Algemeene Vergadering (persidangan umum).

Mengenai langkah pembaharuan Kyai Dahlan, yang merintis lahirnya Muhammadiyah di Kampung Kauman, Adaby Darban (2000: 31) menyimpulkan hasil temuan penelitiannya sebagai berikut:

“Dalam bidang tauhid, KH. Ahmad Dahlan ingin membersihkan aqidah Islam dari segala macam syirik. Dalam bidang ibadah, membersihkan cara-cara ibadah dari bid’ah. Dalam bidang muamalah, membersihkan kepercayaan dari khurafat, serta dalam bidang pemahaman terhadap ajaran Islam, ia merombak taklid untuk kemudian memberikan kebebasan dalam ber-ijtihad.”

Ketauhidan prioritas utama

Ketauhidan menjadi prioritas utama organisasi yang didirikan oleh Ahmad Dahlan ini. Hal ini berawal dari realitas masyarakat Kauman Yogyakarta yang melakukan ritual keagamaan bercampur mistik. Ahmad Dahlan mengetahui bahwa hal tersebut adalah syirik yang sangat berbahaya dilakukan oleh seorang muslim karena perilaku syirik adalah hal yang paling dibenci oleh Allah dan tidak akan pernah diampuni.

KH Ahmad Dahlan memimpin Muhammadiyah sampai tahun 1923 sebelum kemudian digantikan oleh KH Ibrahim. Hal tersebut dikarenakan sejak tahun 1922 Kyai Dahlan sudah mulai mengalami gangguan kesehatan. Mobilitasnya yang tinggi semakin menurunkan kondisi tubuhnya. Pada 1923 dengan saran dokter Kyai Dahlan mengambil kesempatan untuk beristirahat di Gunung Tretes, Malang, Jawa Timur. Kyai Dahlan baru kembali ke Yogyakarta mendekati berlangsungnya rapat tahunan Muhammadiyah. Dalam keadaan kesehatannya yang sebenarnya tidak memungkinkan, Kyai Dahlan menyempatkan diri memberikan sambutan dalam pembukaan rapat tahunan itu. Kian hari kesehatan Kyai Dahlan kian menurun. Akhirnya memang pada tahun itulah, tepatnya pada tanggal 23 Februari 1923, pada usia 66 tahun, Kyai Dahlan menghembuskan nafas terakhirnya di Yogyakarta. Jenazahnya lalu dikebumikan di pemakaman Karangkajen, Yogyakarta.

Buya Hamka lanjutkan perjuangan

Buya Hamka melanjutkan perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dengan membawa Muhammadiyah ke Sumatera Barat, hingga Muhammadiyah tersebar keseluruh wilayah Indonesia. Pada tahun 1925, Haji Abdul Karim Amrullah atau Hamka membawa Muhammadiyah ke Sumatera Barat dengan membuka cabang di Sungai Batang, Agam. Dalam tempo yang relatif singkat, arus gelombang Muhammadiyah telah menyebar ke seluruh Sumatera Barat, dan dari daerah inilah kemudian Muhammadiyah bergerak ke seluruh Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Singkat cerita, pada tahun 1938 Muhammadiyah telah tersebar keseluruh wilayah Indonesia dan mulai mengembangkan program dakwahnya secara lebih besar.

Konteks

Dalam membicarakan perkembangan pemikiran pembaruan Islam Ahmad Dahlan, tidak bisa kita lepaskan dari konteks zaman dan konteks sosial di mana Ahmad Dahlan tumbuh berkembang. Ahmad Dahlan menghabiskan masa mudanya di Yogyakarta di bawah arahan sang ayah, KH Abu Bakar. Yogyakarta dalam kurun itu masih sangat kental dengan tradisi-tradisi Islam yang banyak bersinggungan dengan budaya dan mistis kejawen. Kemudian juga perlu kita ketahui perkembangan pemikiran Islam di dunia internasional pada masa itu. Apalagi Kyai Dahlan semasa mudanya pernah berhaji dan memperdalam agama Islam di Timur Tengah. Pada paruh akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 dunia Islam sedang menggelora semangat pembaruan Islam dan ide pan-Islamisme. Ahmad Dahlan yang sedang menimba ilmu di Makkah pun turut mengukuti perkembangan ide-ide pembaruan Islam waktu itu.

Di bawah ini dijelaskan tentang konteks-konteks yang mempengaruhi pemikiran pembaharuan Ahmad Dahlan.

  • Konteks Yogyakarta

Sebagaimana kita semua mafhum, Islam masuk ke Nusantara, khususnya Jawa melalui jalan damai dengan metode akulturasi budaya. Islam datang tidak dengan menghapuskan tradisi dan kearifan lokal masyarakat pribumi yang kala itu telah memeluk agama Hindu dan Buddha. Para Wali Sanga, yaitu para pendakwah Islam yang mula-mula, dalam dakwahnya lebih menekankan cara-cara ‘kompromistis’ agar Islam dapat diterima dengan baik dan penuh kesadaran. Karena itulah, jalan utama yang digunakan adalah melalui akulturasi kebudayaan. Dalam masyarakat Islam Jawa khususnya, tradisi-tradisi daur hidup dan pranata kejawen masih tetap hidup dengan ‘rasa’ yang lebih Islami.

Namun, dinamika yang damai itu terhenti dan justru mengalami kemunduran menjelang akhir abad ke-19. Umat Islam terjebak dalam arus formalitas agama yang miskin penghayatan dan kasadaran dalam ber-Islam. Sepintas lalu, spiritualitas dipandang cukup dengan dilaksanakannya ritual-ritual dan upacara-upacara ibadah saja. Menurut pendapat yang lebih ekstrem, praktik keber-Islaman di Jawa telah banyak terintrodusir oleh bid’ah dankhurafat.

Dalam lingkungan seperti itulah Ahmad Dahlan tumbuh dan berkembang. Nyatanya Ahmad Dahlan berada dalam pusaran utama pergumulan antara Islam dan tradisi Jawa karena beliau adalah putra dari abdi dalem Kraton Yogyakarta yang mengurusi bidang keagamaan. Di tambah lagi dengan iklim makro Hindia Belanda yang kala itu gegap gempita oleh politik etis. Muncul dualisme antara politik dan agama yang berangkat dari tesis Prof. Snouck Hurgronje. Menurut Prof. Snouck Hurgronje, musuh kekuasaan kolonial sebenarnya bukanlah Islam sebagai agama, tapi Islam sebagai politik. Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa masyarakat perlu direkayasa agar semakin berjarak dengan Islam. Dengan begitu, lanjut Prof. Snouck Hurgronje, kekuatan Islam dapat direduksi menjadi hanya sebuah agama ritual yang terlepas dari aspek sosial dan politik. Inilah salah satu sebab kemunduran Islam yang telah direkayasa oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk semakin memperkuat hegemoninya.

  • Konteks Mekah (Timur Tengah)

Buah pemikiran Ahmad Dahlan tak lepas dari kenyataan bahwa beliau di masa mudanya pernah menimba ilmu di sana, khususnya Makkah. Sementara itu, membahas Makkah semasa Ahmad Dahlan menimba Ilmu di sana tidak bisa kita lepaskan pula dari dinamika politik dan pemikiran yang berkembang di sana pada paruh terakhir abad ke-19. Kala itu kita semua mafhum akan adanya gerakan kaum Wahabi yang mendengungkan purifikasi Islam dari segala hal yang dianggap bid’ah dan khurafat. Meskipun pada tataran politik Timur Tengah secara luas gerakan ini masih dapat ditekan dan dikontrol oleh Kekhalifahan Turki Usmani, namun gerakan ini masih memiliki pendukung di tingkat akar rumput.

Di tingkat yang lebih global, dunia Islam ketika itu juga sedang gegap gempita oleh meluasnya ide besar  pembaruan dan cita-cita Pan Islamisme. Gagasan besar tersebut berhulu dari Al-Azhar. Dua orang tokoh pembaruan dan modernisasi Islam yang sangat masyur perannya adalah Sayyid Jamaluddin Al-Afghani dan Muahammad Abduh. Keduanya merupakan sosok guru-murid yang bersinergi memajukan gagasan-gagasan pembaruan Islam yang kemudian menyebar hingga ke seluruh dunia Islam.

Keduanya berupaya untuk melepaskan keterkungkungan masyarakat muslim dari pengaruh tradisi yang banyak mengandung unsur bid’ah, khurafat, dan cenderung tertutup. Gagasan besar Jamaluddin Al-Afghani yang terutama adalah Pan Islamisme. Sebuah gagasan politik yang mencanangkan unifikasi pemerintahan Islam dalam satu pimpinan utama. Gerakan sebenarnya tumbuh dari gelora Pan Arab yang telah berkembang sebelumnya. Sementara Muhammad Abduh banyak bergiat pada tataran intelektual dengan menawarkan reformasi keberagamaan dalam Islam. Keduanya punya andil besar dalam memecahkan kebekuan skolastik yang mengungkung Islam sejak abad pertengahan.

Dari ruang-ruang perkuliahan Universitas Al-Azhar, gagasan dua tokoh pembaru ini tersebar ke seluruh dunia Islam melalui murid-muridnya dan publikasi-publikasi umum seperti majalah Al-Urwatul Wutsqayang sangat terkenal. Kemungkinan besar Ahmad Dahlan juga banyak mendapat masukan intelektual dari perkembangan pemikiran dan modernisasi Islam di Timur Tengah ini.

Keberanian Ahmad Dahlan itulah yang patut di acungi jempol, dan perubahan itu bukanlah serta merta, tetapi karena pengetahuan ilmu agama (fikih), dan pengetahuan ilmu falak yang benar sebagaimana yang di ajarkan gurunya.

Selanjutnya: K.H. Ahmad Dahlan: The First People [part 3]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s