Lanjutan dari: K.H. Ahmad Dahlan: The First People [Part 2]


K.H. Ahmad Dahlan: The First People [Part 3]

Oleh Nunik Wahyuni

Pokok-Pokok & Aktualisasi Pemikiran KH Ahmad Dahlan

Ketokohan KH Ahmad Dahlan bagi Muhammadiyah bisa kita bandingkan layaknya KH Hasyim Asy’ari bagi Nahdlatul Ulama atau Taqiyuddin An-Nabhani bagi Hizbut Tahrir. Kyai Dahlan adalah sosok penting yang meletakkan dasar-dasar pergerakan organisasi Muhammadiyah. Selain itu, dalam konteks yang lebih luas, beliau adalah pembaru Islam di Indonesia. Rekam jejaknya secara nyata dapat kita lihat dari Muhammadiyah di masa kini. Seperti kita semua ketahui, kini Muhammadiyah mengelola ribuan institusi pendidikan sejak jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Tak hanya itu, Muhammadiyah juga masih mengelola ratusan rumah sakit, poliklinik, apotek, panti asuhan bahkan pusat pengembangan masyarakat. Semua itu bukanlah pencapaian yang biasa saja dan lebih penting lagi, semua itu bermula dari Kyai Dahlan.

Sungguh sangat relevan bagi kita di masa kini untuk kembali mempelajari gagasan-gagasan dan aksi nyata yang dilakukan oleh Kyai Dahlan. Namun, sayangnya agak sulit bagi generasi sekarang untuk mempelajari pemikiran Kyai Dahlan secara terstruktur. Hal ini mengingat Kyai Dahlan sendiri bukanlah seorang cendekiawan penulis. Sejauh yang dapat dilacak hanya ada dua  peninggalan tertulis dari Kyai Dahlan. Itupun bukanlah sebuah buku yang disusun khusus oleh beliau. Manuskrip tersebut adalah transkrip dari pidato yang pernah beliau sampaikan kepada khalayak Muhammadiyin dan sebuah brosur.

Tahun 1922, Schrieke menyinggung sebuah brosur yang ditulis oleh Kyai Dahlan dan diterjemahkan dalam bahasa Belanda oleh R. Kamil. Brosur tersebut berjudul “Het Bindmiddle der Menschen” (Kesatuan Hidup Manusia). Sayangnya brosur tersebut hingga kini tidak diketahui lagi keberadaannya.

Lalu satu lagi dokumen transkrip pidato Kyai Dahlan yang diberi judul “Tali Pengikat Hidup”. Pidato ini disampaikan oleh Kyai Dahlan dalam Kongres Muhammadiyah tahun 1922. Transkrip pidato yang amat penting ini diterbitkan oleh HB Muhammadiyah Majelis Pustaka setahun kemudian.

Telah dijelaskan di atas bahwa Kyai Dahlan selama di Makkah dalam hajinya yang pertama dan kedua banyak berguru demi memperdalam wawasan ke-Islamannya. Telah kita ketahui pula seperti apa keadaan Timur Tengah semasa beliau belajar di sana. Dari kedua premis ini dapat kita ambil benang merah terkait perkembangan pemikiran Kyai Dahlan sepulang dari Makkah. Ketika pemahamannya akan keberagamaan kian matang ia pulang dan berhadapan dengan kenyataan-kenyataan sosial masyarakatnya yang terkadang tidak sejalan dengan pengetahuan yang beliau terima di Makkah.

Pengaruh Muhammad Abduh & Jamaluddin Al-Afghani

Kyai Dahlan tentulah pernah bersentuhan dengan gagasan pembaruan Islam yang diusung oleh Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani. Lagipula beliau juga belajar di Makkah yang merupakan bagian dari tanah Arab yang ketika itu diwarnai dengan gerakan-gerakan purifikasi Islam ala Wahabi. Persentuhan intelektual ini jelas meninggalkan bekas mendalam bagi Kyai Dahlan. Bertolak dari situlah Kyai Dahlan mulai menghayati perlunya suatu gerakan pembaruan Islam di kampung halamannya. Ketika Islam telah tercampur aduk dengan tradisi dan umat muslim kian terjebak dalam formalitas agama jelas harus ada yang ‘meluruskannya’ kembali. Inilah peran besar yang diambil oleh Kyai Dahlan dengan penuh keinsyafan.

Kyai Dahlan sampai pada cita-citanya setelah ‘terlibat’ dialog intelektual dari pembacaannya terhadap gagasan-gagasan serupa di Timur Tengah dan kegelisahannya menghadapi kenyataan sosio-kultural masyarakat muslim Jawa yang terjebak formalitas keagamaan. Yang otentik dari Kyai Dahlan Adalah model gerakannya yang mengakar. Tajdid atau pembaruan dihayati sebagai sebuah gerakan sosial yang tidak hanya mandeg di tataran ide, tapi juga tindakan nyata yang menyentuh langsung kehidupan umat muslim. Dalam bahasa Mohammad Damami, MA, dalam karyanya Akar Gerakan Muhammadiyah, bergama harus menyapa kehidupan. Untuk lebih jelasnya tentang pokok-pokok pemikiran Kyai Dahlan dan aktualisasinya akan penyusun uraikan di bawah ini.

Pembaruan & Pemurnian Islam 

Formalitas beragama adalah fokus utama yang ingin didekonstruksi oleh Kyai Dahlan. Ide pembaharuannya menyangkut akidah dan syariat, misalnya tentang upacara ritual kematian, upacara perkawinan, kehamilan, sunatan, berziarah ke kuburan keramat, memberikan sesajen kepada hal yang dianggap keramat dan sebagainya. Menurut Kyai Dahlan, hal-hal tersebut bertentangan dengan Islam dan dapat menimbulkan perbuatan syirik dan musyrik. Kyai Dahlan juga berupaya menegakkan ajaran Islam sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist, berusaha mengedepankan ijtihad jika ada hal yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an maupun Hadist serta berusaha menghilangkan taqlid (pendapat ulama terdahulu tanpa ada dasarnya) dalam fiqih dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Di sinilah sintesis intelektualitas dari Kyai Dahlan muncul. Upaya Kyai Dahlan ini memiliki kemiripan jika kita bandingkan dengan pemikiran-pemikiran Muhammad Abduh dan Jamaluddin Al-Afghani, bahkan dengan gerakan Wahabi di Arab Saudi. Namun kita harus menarik garis batas yang tegas ketika kemiripan gagasan ini sampai pada aktualisasinya. Tidak seperti gagasan reformis Timur Tengah yang cenderung frontal dan banyak menimbulkan ekses-ekses negatif, aktualisasi yang dilakukan Kyai Dahlan justru berlaku sebaliknya. Kuntowijoyo dalam kata pengantarnya untuk buku Islam Murni dalam Masyarakat Petani menegaskan bahwa Kyai Dahlan sangatlah toleran dengan praktik keagamaan di zamannya dan memiliki hubungan interpersonal yang baik dengan berbagai golongan. Seperti yang kita tahu bersama, Kyai Dahlan adalah juga anggota Boedi Oetomo dan sering memberikan ceramah-ceramah di berbagai daerah. Itulah bukti kecil yang menandaskan bahwa gagasan-gagasan Kyai Dahlan diterima dengan baik.

Gerakan Sosial & Pendidikan

Sebelum sampai pada gagasan pembaruannya, Kyai Dahlan terlebih dahulu mengawali cita-citanya melalui gerakan sosial dan pendidikan. Kyai Dahlan pernah memobilisasi kawan-kawannya di daerah Kauman untuk memperbaiki kondisi higienis daerahnya dengan memperbaiki dan membersihkan jalan-jalan dan parit-parit. Pekerjaan ini ia lakukan secara sukarela. Suatu contoh kecil bahwa keikhlasan menjadi dasar yang penting bagi gerakan sosial ala Kyai Dahlan.

Warga Muhammadiyin tentu tidak asing dengan cerita tentang ‘pengajian Al-Ma’un’ oleh Kyai Dahlan. Bagi Kyai Dahlan, surat Al-Ma’un bukanlah hanya sekadar surat yang hanya dibaca dan dihafal. Banyak umat muslim yang hafal surat ini namun masih miskin penghayatannya. Kyai Dahlan menekankan pentingnya pengejawantahan pemahaman dalam aksi yang nyata. Dalam setiap ceramahnya, Kyai Dahlan secara istiqamah menyerukan bagi setiap orang yang mampu untuk memenuhi hak dan berlaku adil terhadap orang-orang miskin, yatim piatu, dan mereka-mereka yang terlantar. Dari seruan itu lahirlah lembaga pengelola zakat. Dari pemikiran itulah lalu lahirlah rumah sakit dan panti asuhan yang bernaung di bawah panji organisasi Muhammadiyah.

Yang tak kalah penting tentang Kyai Dahlan adalah semangatnya sebagai seorang pendidik. Beliau begitu intens mengkritik dualisme pendidikan pada masanya. Pandangan muslim tradisional terhadap pendidikan terlalu menitikberatkan pada aspek spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terlihat dari lembaga pendidikannya yaitu pesantren. Pesantren lebih mengembangkan ilmu agama dibanding ilmu pengetahuan sehingga menyebabkan kemunduran pada dunia Islam karena umat Islam hanya memikirkan masalah akhirat dan menimbulkan sikap pasrah.

Begitu pun dengan sistem pendidikan kolonial. Dilihat dari metode pengajaran dan alat-alat pendidikannya, memang terbilang banyak sekali manfaat dan kemajuan yang bisa diraih siswa dari pendidikan kolonial ini. hanya saja, dalam sekolah kolonial tidak terdapat pelajaran tentang agama, khususnya Islam. Hal ini menyebabkan siswa cakap secara intelektual namun lemah karakter dan moralitasnya. Karena itulah Kyai Dahlan memandang penting persoalan sinergi antara ilmu umum dan agama. Karena itulah institusi pendidikan Muhammadiyah tidak memberlakukan pemisahan antara ilmu umum dan agama.

Sekolah Muhammadiyah yang pertama telah berdiri satu tahun sebelum Muhammadiyah sebagai organisasi berdiri. Pada tahun 1911 Kyai Dahlan mendirikan sebuah madrasah di rumahnya yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhan kaum muslim terhadap pendidikan agama dan pada saat yang sama memberikan mata pelajaran umum. Di sekolah itu, pendidikan agama diberikan oleh Kyai Dahlan sendiri dan pelajaran umum diajarkan oleh seorang anggota Boedi Oetomo yang juga guru di sekolah pemerintah.

Ketika sekolah ini dibuka hanya ada 9 murid yang mendaftar. Hal itu membuktikan bahwa umat Islam belum memandang pentingnya ilmu pengetahuan umum dan agama. Respon tersebut tidak mematahkan semangat Kyai Dahlan. Ia tidak segan-segan mendatangi anak-anak sampai ke rumahnya untuk mengajak mereka masuk sekolah. Kyai Dahlan juga memberikan perhatian khusus pada pendidikan anak-anak perempuan. Karena bila anak laki-laki maju, anak perempuan terbelakang maka terjadi kepincangan. Pada tahun 1918 didirikan sekolah Aisyiyah. Suatu pertanda bahwa pemikiran emansipasi pendidikan juga menjadi perhatian Kyai Dahlan.

Sinergi antara ilmu umum dan agama juga merupakan tanda bahwa Kyai Dahlan sangat menyadari pentingnya pembangunan kepribadian sebagai salah satu tujuan pendidikan. Entah disadari atau tidak, upaya Kyai Dahlan menyinergikan antara ilmu umum dan agama ini merupakan sebuah antitesis terhadap Prof. Snouck Hurgronje. Inilah sebabnya mengapa pemikiran Kyai Dahlan di bidang pendidikan merupakan sebuah terobosan yang membawa dampak besar bagi umat. Lebih jauh ke depan, dapat kita lihat hasilnya dengan munculnya kader-kader Muhammadiyah yang turut mewarnai dunia politik dengan membawa identitas ke-Islamannya.

Etos Guru-Murid

Satu buah pemikiran Kyai Dahlan yang tidak banyak diketahui adalah konsepsinya tentang apa yang di sebut oleh Abdul Munir Mulkhan sebagai Etos Guru-Murid. Etos guru-murid dapat dikembangkan sebagai etika dasar dari sebuah masyarakat demokratis dan etika dasar dari sebuah masyarakat pembelajar atau learning society di negeri yang sedang ‘belajar’ berdemokrasi ini. Etos guru adalah kesediaan setiap warga untuk memberikan ilmu dan teladan yang baik. Etos murid ialah kesediaan warga untuk selalu terbuka agar bisa mengakui dan belajar pada kebaikan orang lain.

Bagi Kyai Dahlan, setiap umat muslim dan umat beragama yang lainnya harus membangun di dalam dirinya etos kehidupan dan etos sosial sebagai seorang guru sekaligus sebagai murid. Inilah inti dari gerakan sosial yang dilakukan oleh Kyai Dahlan dan pada perkembangan selanjutnya menjadi nilai penting dalam Muhammadiyah. Etos guru-murid ini mencegah masyarakat terseret pada kebekuan ritual keagamaan dan gerakan yang terkadang tidak mengakar. Sehingga gerakan yang dilakukan mempunyai fungsi pragmatis pemecahan problem sosial.

Nilai penting dari etos guru-murid ini adalah sifatnya yang non-elitis. Rakyat dan orang awam tidaklah selamanya menjadi ‘murid’ yang turut saja pada kata-kata pemerintah. Karena itulah etos guru-murid ini sangat pas dengan demokrasi di Indonesia dan sebuah bentuk perlawanan terhadap hegemoni sosial-politik kaum elit.

Hujatan & Pembelaan

Peran Kyai Dahlan tidaklah sederhana dan sepintas lalu dalam memecah kebekuan formalitas beragama masyarakat saat itu. Ketika Islam, seperti tesis Prof. Snouck Hurgronje, terpisahkan dari ranah sosial dan politik, Kyai Dahlan muncul dengan ide sinergi pendidikan yang membawa perubahan besar di dunia pendidikan. Ketika Islam menjadi terbatas pada laku individu, Kyai Dahlan dengan spirit Al-Ma’un-nya datang membawa gerakan-gerakan sosial untuk melepaskan masyarakat muslim dari keterpurukan. Dan yang terpenting dari semua itu adalah bahwa otentisitas metode gerakannya.

Meski begitu, tidak serta merta kemudian Kyai Dahlan lepas dari tantangan-tantangan. Bahkan sejak awal beliau memulai merintis gerakannya pihak Abdi Dalem Pemethakan, dinas di mana beliau mengabdi, telah bersikap frontal terhadap ide-idenya. Simaklah bagaimana Kyai Khalil Kamaludiningrat, penghulu Masjid Gede, sangat menentang Kyai Dahlan. Sarannya ‘mengubah’ arah kiblat ditentang dan mushola tempat Kyai Dahlan mendidik santri-santrinya dirobohkan. Juga anggapan-anggapan miring yang menyamakannya dengan gerakan Wahabisme Arab.

Kuntowijoyo menjelaskan bahwa dalam dakwahnya Kyai Dahlan mengahadapi tiga front, yaitu kaum modernis, tradisionalis, dan Jawais. Pendirian sekolah Muhammadiyah dan lembaga-lembaga sosial di bawah naungan Muhammadiyah merupakan jawaban kongkretnya terhadap gempuran Barat yang tak sedikit membawa pengaruh negatif terhadap Islam. Kemudian dalam menghadapi kaum tradisionalis yang cenderung elitis, Kyai Dahlan menerapkan metode tabligh dengan langsung mendatangi umat. Tradisi tabligh sebenarnya telah ada sejak lama, namun metode Kyai Dahlan ini terbilang baru dan malah dianggap ‘aib’. Anggapan sementara orang yang memegang tradisi bahwa muridlah yang seharusnya mendatangi guru, bukana guru yang mendatangi murid. Apalagi mengingat kedudukan Kyai Dahlan sebagai ketua Muhammadiyah dan khatib amin Masjid Gede Yogyakarta. Hal itu tidak lazim bagi kalangan tradisionalis yang masih kuat kefeodalistikannya.

Metode tabligh Kyai Dahlan ini menurut penjelasan Kuntowijoyo membawa dua implikasi. Pertama, perlawanan tak langsung terhadap idolatri (pengultusan tokoh) dan perlawan tak langsung terhadap mistifikasi agama. Pada masa itu, kedudukan seorang ulama di tengah-tengah masyarakat sangat tinggi. Menjadi ulama berarti juga menjadi seorang golongan elit, seorang suci yang menjadi mediator antara Tuhan dan makhluk. Di sinilah metode tabligh ala Kyai Dahlan menunjukkan perlawanannya. Ulama, dengan mendatangi muridnya yang secara tradisional dipandang lebih rendah derajatnya merupakan perbuatan di luar kelaziman. Dengan begitu, dalam anggapan kaum tradisionalis, maka posisi ulama menjadi kehilangan kesakralannya. Inilah sifat Kyai Dahlan yang egaliter dan menunjukkan sisi tolerannya.

Lalu tabligh juga dipandang sebagai perlawanan terhadap mistifikasi agama. Ilmu agama dianggap sebagai ilmu tinggi yang tidak sembarang orang boleh mengajarkannya. Hal inilah yang menyebabkan agama menjadi monopoli kaum elit keagamaan. Dengan tabligh-nya, Kyai Dahlan membongkar tradisi agama yang misterius menjadi sederhana dan aksesibel bagi setiap orang. Namun, bukan berarti bahwa nilai ilmu agama itu menjadi rendah.

Terakhir, terhadap kaum Jawaisme yang masih kuat dengan tradisi kejawennya, Kyai Dahlan menggunakan metode positive action dalam bahasa Kuntowijoyo. Kyai Dahlan mengedepankan amar ma’ruf dan tidak secara frontal menyerang. Disebutkan dalam Suara Muhammadiyah Tahun I, Nomor 2, 1915 ada artkel yang menjelaskan tentang macam-macam salat sunnah. Kyai Dahlan menyebutkan bahwa keberuntungan itu semata-mata karena Allah dan salat sunnah adalah salah satu jalan meraihnya. Tidak secara eksplisit Kyai Dahlan melarang adanya pesugihan atau perbuatan tahayul semacamnya. Kyai Dahlan sadar bahwa gagasan-gagasan kemajuan sedang tumbuh di masyarakat, sehingga dengan sendirinya nanti masyarakat akan sadar akan demitologisasi dan mengedepankan rasionalisasi. Jadi tidak diperlukan suatu larangan frontal yang sebenarnya malah menjauhkan cita-cita modernisasi dari tradisi.

Dari itu dapatlah kita pahami bahwa Kyai Dahlan adalah seorang ‘ulama amaliyah’. Ulama yang mencerahkan bukan dengan tulisan ilmiah yang rigid, tapi melalui amaliyah yang langsung memberikan dampak nyata di masyarakat. Meski tak tercatat secara literal, namun kita masih bisa menelaah gagasan pembaruan Kyai Dahlan melalui tindakan-tindakan nyata beliau di ranah keagamaan, sosial, dan pendidikan. Hingga sekarang pembacaan dan penafsiran terhadap laku Kyai Dahlan masih terus digiatkan oleh cendekiawan-cendekiawan Muhammadiyah sesudahnya.

Dalam website resmi PP Muhammadiyah, dijelaskan bahwa kata “Muhammadiyah” secara bahasa berarti “pengikut Nabi Muhammad”. Penggunaan kata “Muhammadiyah” dimaksudkan untuk menisbahkan (menghubungkan) dengan ajaran dan jejak perjuangan Nabi Muhammad.

Penisbatan nama tersebut menurut H. Djarnawi Hadikusuma mengandung pengertian sebagai berikut:

“Dengan nama itu Ahmad Dahlan bermaksud untuk menjelaskan bahwa pendukung organisasi itu ialah umat Muhammad, dan asasnya adalah ajaran Nabi Muhammad saw, yaitu Islam. Dan tujuannya ialah memahami dan melaksanakan agama Islam sebagai yang memang ajaran yang serta dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, agar supaya dapat menjalani kehidupan dunia sepanjang kemauan agama Islam. Dengan demikian ajaran Islam yang suci dan benar itu dapat memberi nafas bagi kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya.”

Atas jasa-jasa K.H. Ahmad Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pemba­haruan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Gelar kehormatan tersebut dituangkan dalam surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961 tgl 27 Desember 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut :

  1. K.H. Ahmad Dahlan telah memelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.
  2. Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan ummat, dengan dasar iman dan Islam.
  3. Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam.
  4. Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.

Pesan, Nasehat dan Wasiat KH. Ahmad Dahlan: 

  • Tulisan di Papan Tulis Dekat Tempat Tidur KH. Ahmad Dahlan

Tulisan ditulis dengan berbahasa arab yang artinya:

“Hai Dahlan, sungguh di depanmu pasti kau lihat perkara yang lebih besar dan mematikan, mungkin engkau selamat atau sebaliknya akan tewas.

Hai Dahlan, bayangkan kau sedang berada di dunia ini sedirian beserta Allah dan dimukamu ada kematian, pengadilan amal, surga, dan neraka. Coba kau pikir, mana yang paling mendekati dirimu selain kematian. Mereka yang menyukai dunia bisa memperoleh dunia walaupun tanpa sekolah. Sementara yang sekolah dengan sungguh-sungguh karena mencintai akhirat ternyata tidak pernah naik kelas. Gambaran ini melukiskan orang-orang yang celaka di dunia dan akhirat sebagai akibat dari tidak bisa mengekang hawa-nafsunya. Apakah kau tidak bisa melihat orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu?”

  • Semangat Ber-Muhammadiyah

“Mengapa engkau begitu bersemangat saat mendirikan rumahmu agar cepat selesai, sedangkan gedung untuk keperluan persyarikatan Muhammadiyah tidak engkau perhatikan dan tidak segera diselesaikan?”

  • Kewajiban Setiap Manusia

“Aku ini sudah tua, berusia lanjut, kekuatanku pun sudah sangat terbatas. Tapi, aku tetap memaksakan diri memenuhi kewajibanku beramal, bekerja, dan berjuang untuk menegakkan dan menjunjung tinggi perintah tuhan. Aku sangat yakin seyakin-yakinnya bahwa memperbaiki urusan yang terlanjur salah dan disalahgunakan atau diselewengkan adalah merupakan kewajiban setiap manusia, terutama kewajiban umat Islam.”

  • Muhammadiyah Untuk Semua

“Menjaga dan memelihara Muhammadiyah bukanlah suatu perkara yang mudah. Karena itu aku senantiasa berdoa setiap saat hingga saat-saat terakhir aku akan menghadap kepada Illahi Rabbi. Aku juga berdoa berkat dan keridlaan serta limpahan rahmat karunia Illahi agar Muhammadiyah tetap maju dan bisa memberikan manfaat bagi seluruh ummat manusia sepanjang sejarah dari zaman ke zaman.”

  • Teruslah Menuntut Ilmu Pengetahuan & Kembali Kepada Muhammadiyah

“Muhammadiyah pada masa sekarang ini berbeda dengan Muhammadiyah pada masa mendatang. Karena itu hendaklah warga muda-mudi Muhammadiyah hendaklah terus menjalani dan menempuh pendidikan serta menuntut ilmu pengetahuan (dan teknologi) di mana dan ke mana saja. Menjadilah dokter sesudah itu kembalilah kepada Muhammadiyah. Jadilah master, insinyur, dan (propesional) lalu kembalilah kepada Muhammadiyah sesudah itu.”

  • Kutitipkan Muhammadiyah

“Mengingat keadaan tubuhku kiranya aku tidak lama lagi akan meninggalkan anak-anakku semua sedangkan aku tidak memiliki harta benda yang bisa kutinggalkan kepadamu. Aku hanya memiliki Muhammadiyah yang akan kuwariskan kepadamu sekalian.”

“Karena itu, aku titipkan Muhammadiyah ini kepadamu sekalian dengan penuh harapan agar engkau sekalian mau memelihara dan menjaga Muhammadiyah itu dengan sepenuh hati agar Muhammadiyah bisa terus berkembang selamanya.”

  • Kuberi Nama Muhammadiyah

“Usaha berjuang dan beramal tersebut aku lakukan dengan mendirikan persyarikatan yang aku beri nama Muhammadiyah. Dengan itu aku berharap kepada seluruh umat yang berjiwa Islam akan selalu tetap mencintai junjungan Nabi Muhammad dengan mengamalkan segala tuntunan dan perintahnya.”

  • Khittah KH. Ahmad Dahlan

  1. Tidak Menduakan Muhammadiyah dengan organisasi lain;
  2. Tidak dendam, tidak marah, dan tidak sakit hati jika dicela dan dikritik;
  3. Tidak sombang dan tidak berbesar hati jika menerima pujian;
  4. Tidak jubria (ujub, kikir, dan ria);
  5. Mengorbankan harta benda, pikiran, dan tenaga dengan hati ikhlas dan murni;
  6. Bersungguh hati terhadap pendirian.

  • Kemunduran Ummat Menurut KH. Ahmad Dahlan

Menurut pendapat KH. Ahmad Dahlan, kemunduran umat Islam karena sebagian besar umat Islam terlalu jauh meninggalkan ajaran Islam. Selain itu disebabkan pula oleh kemerosotan akhlak sehingga penuh ketakutan seperti kambing dan tidak lagi memiliki keberanian seperti harimau. KH. Ahmad Dahlan berkata:

“Karena itu, aku terus memperbanyak amal dan berjuang bersama anak-anakku sekalian untuk menegakkan akhlak dan moral yang sudah bengkok. Kusadari bahwa menegakkan akhlak dan moral serta berbagai persoalan Islam yang sudah bengkok memang merupakan tugas berat dan sulit.”

Lalu beliau melanjutkan:

“Namun demikian, jika kita terus bekerta dengan rajin disertai kesungguhan, kemauan keras, dan kesadaran tugas yang tinggi, maka insya Allah tuhan akan memberi jalan dan pertolongan-Nya akan segera tiba.”

  • Jangan Tergesa-gesa Menyanggupi Suatu Tugas

“Hendaklah setiap warga Muhammadiyah jangan tergesa-gesa menyanggupi suatu tugas yang ditetapkan oleh sidang persyarikatan. Telitilah terlebih dahulu keputusan sidang yang menetapkan engkau untuk melakukan suatu tugas apakah pemenuhan tugas itu bersamaan dengan tugas yang telah engkau sanggupi sebelumnya. Jika itu terjadi, hendaklah kau permudah memenuhi tugas dalam waktu yang tidak bersamaan dengan tugas lainnya, agar engkau tidak mudah mempermainkan keputusan sidang dengan hanya mengirimkan surat atau memberi tahu ketika mendapati waktu pemenuhan tugas itu bersamaan dengan tugas lainnya yang telah engkau snggupi sebelumnya.”

  • Jangan Gampang Memperebutkan Tanah

“Hendaklah engkau tidak gampang melibatkan diri dalam perebutan tanah sehingga bertengkar dan berselisih, apalagi bertengkar dan berselisih di muka pengadilan. Jika itu engkau lakukan, maka Allah akan menjauhkanmu memperoleh rejeki dari tuhan.”

  • Dokter Untuk Kaum Perempuan

Suatu ketika, KH. Ahmad Dahlan bertanya kepada anak-anak muda perempuan Muhammadiyah, “Apakah kamu tidak malu jika auratmu dilihat kaum lelaki?” Anak-anak muda perempuan itu serentak menjawab bahwa mereka akan malu sekali jika hal itu terjadi. Kiai lalu berkata: “jika kau malu, mengapa jika kau sakit lalu pergi ke dokter laki-laki, apalagi ketika hendak melahirkan anak. Jika kau memang benar-benar malu, hendaknya kau terus belajar dan belajar dan jadilah dokter sehingga akan ada dokter perempuan untuk kaum perempuan!”

  • Anak Muda Muhammadiyah akan Tersebar Ke Seluruh Dunia

“Di masa yang akan datang, anak-anak warga Muhammadiyah tidak hanya akan tersebar di seantero tanah air, tapi akan tersebar ke seluruh dunia. Penyebaran anak-anak muda Muhammadiyah tersebut juga bukan semata-mata karena tugas keilmuan, melainkan juga akibat hubungan perkawinan.”

  • Alasan Tidak Memenuhi Tugas

“Jika engkau meminta izin tidak melakukan suatu pekerjaan yang telah ditetapkan oleh suatu keputusan sidang persyarikatan seperti untuk bertabligh, janganlah engkau meminta izin kepadaku, tapi memintalah izin kepada Allah dengan mengemukakan alasan-alasan. Beranikah engkau mempertanggungjawabkan tindakanmu itu kepada-Nya?”

“Jika engkau meminta izin tidak memenuhi tugas tersebut karena alasan tidak mampu, maka beruntunglah engkau! Aku akan mengajarkan kepadamu bagaimana memenuhi tugas tersebut. Tapi, jika engkau meminta izin tidak memenuhi tugas tersebut hanya karena sekedar enggan, maka tiadalah orang yang bisa mengatasi seseorang yang memang tidak mau memenuhi tugas. Janganlah persoalan rumah tangga dijadikan halangan memenuhi tugas kemasyarakatan!”

Penutup

Kini, pembaruan yang diajarkan oleh Ahmad Dahlan telah diakui oleh hampir seluruh umat muslim di Tanah Air maupun dunia. Namanya pun begitu harum dan tidak akan termakan zaman. Dalam perkembangannya, Muhammadiyah kemudian menjadi salah satu organisasi massa Islam terbesar di Indonesia.

Melihat metoda pembaruan Ahmad Dahlan ini, beliaulah ulama Islam pertama atau mungkin satu-satunya ulama Islam di Indonesia yang melakukan pendidikan dan perbaikan kehidupan ummat, tidak dengan pesantren dan tidak dengan kitab karangan, melainkan dengan organisasi. Sebab selama hidup, beliau diketahui tidak pernah mendirikan pondok pesantren seperti halnya ulama-ulama yang lain. Dan sepanjang pengetahuan, beliau juga konon belum pernah mengarang sesuatu kitab atau buku agama.

Hal terpenting dari perjalanan spiritual Ahmad Dahlan adalah ketika ia berhasil mengubah paradigma masyarakat kampungnya yang bersifat ortodok menjadi lebih modern. Menurutnya, ortodok mengakibatkan kejumudan berfikir, stagnasi pemikiran yang semakin menurunkan aspek nalar intelektual. Hal ini menjadi nilai tambah bagi Kolonial Belanda yang sedang menancapkan faham kolonialismenya di Indonesia dan menjadi nilai kurang bagi bangsa dan negara Indonesia sendiri. Karena perilaku keagamaannya berlainan dengan kebiasaan masyarakat sekitar, seperti menjauhi tradisi sesajenan serta mengubah arah kiblat, ia sempat digelari oleh masyarakat dengan sebutan “Kyai Kafir”. Hal terberat dalam perjalanan dakwah Ahmad Dahlan adalah ketika langgar tempat mengajinya dirobohkan oleh masyarakat sekitar karena mendapat hasutan dari kyai yang bersebrangan dengan idealismenya dalam menentang praktek keagamaan yang ortodok. Perjuangan Ahmad Dahlan dalam memurnikan ajaran Islam dari unsur tradisi lokal yang puritan, banyak didorong oleh sang istri Siti Walidah, serta murid-murid setianya. Sempat beliau berputus asa ketika dakwah Islamiyahnya terganjal oleh hasutan Kyai pro Belanda. Namun, atas kebesaran hati Ahmad Dahlan serta dorongan kuat dari keluarga, terutama sang istri, akhirnya Ahmad Dahlan kembali membangun semangat untuk memurnikan niatnya dalam mendakwahkan ajaran Islam.

Muhammadiyah sebagai organisasi tempat beramal dan melaksanakan ide-ide pembaruan Kiai Dahlan ini sangat menarik perhatian para pengamat perkembangan Islam dunia ketika itu. Para sarjana dan pengarang dari Timur maupun Barat sangat memfokuskan perhatian pada Muhammadiyah. Nama Kiai Haji Ahmad Dahlan pun semakin tersohor di dunia.

Dalam kancah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, peranan dan sumbangan beliau sangatlah besar. Kiai Dahlan dengan segala ide-ide pembaruan yang diajarkannya merupakan saham yang sangat besar bagi Kebangkitan Nasional di awal abad ke-20.

Warisan Kyai Dahlan yang terutama, seperti juga kita semua mafhum, adalah organisasi massa Islam terbesar kedua di Indonesia, Muhammadiyah. Di tengah kritikan dari para abdi dalemnya sendiri dan juga tokoh dari luar, Muhammadiyah berhasil menjadi role model di mana Islam dan ide-ide kemajuan dengan gemilang disinergikan. Secara tak langsung pula, Muhammadiyah merupakan ‘anak kandung’ intelektual Kyai Dahlan. Dari kegelisahan seorang ulama muda yang mendapati umatnya terkungkung dalam formalitas dan tradisi yang feodalistis, beliau hadir membawa gerakan pembaruan yang dinamis dan membumi. Meski tak lepas dari kritik, secara objektif dapat kita katakan bahwa Kyai Dahlan dan Muhammadiyahnya adalah sebuah pencerahan sosial.

Semoga semangat perjuangan dakwah beliau yang sangat tinggi bisa kita miliki dalam menjalankan kewajiban kita sebagai seorang muslim. Serta semoga ia mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.

Daftar Pustaka

  • Anshoriy, Nasruddin. 2010. Matahari Pembaruan; Rekam Jejak KH Ahmad Dahlan. Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher.
  • Damimi, Mohammad. 2000. Akar Gerakan Muhammadiyah. Yogyakarta: Penerbit Fajar Pustaka Baru.
  • Hitti, Philip K. 2006. History of the Arabs (terj. R. Cecep Lukman Yasin & Dedi Slamet Riyadi). Jakarta: Penerbit Serambi.
  • Mulkhan, Abdul Munir. 2000. Islam Murni dalam Masyarakat Petani. Yogyakarta: Penerbit Yayasan Bentang Budaya.
  • Nata, Abuddin. 2005. Tokoh-tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Rajawali Press.
  • Noer, Deliar. 1996. Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: Penerbit Pustaka LP3ES.
  • Syuja’. 2009. Islam Berkemajuan; Kisah Perjuangan KH Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah Masa Awal. Tangerang: Penerbit Al-Wasath.
  • Taufik, Akhmad dkk. 2005. Sejarah Pemikiran dan Tokoh Modernisme Islam. Jakarta: Rajawali Press.
  • Mulkhan, Munir, Prof. Dr. SU. 2007. Pesan dan Kisah Kiai Ahmad Dahlan dalam Hikmah Muhammadiyah. Yogyakarta: Penerbit Suara Muhammadiyah.

Sumber

  • ^kyainunikwahyuni.blogspot.sg/2012/05/kh-ahmad-dahlan-first-people.html?m=1
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s