K.H. Ahmad Dahlan: The First People

Oleh Nunik Wahyuni

Pendahuluan

Ulama sejatinya berfungsi sebagai panutan masyarakat. Memberikan pemahaman yang benar tentang ajaran agama sebagaimana yang sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada masyarakat muslim sebelumnya. Ulama dituntut untuk bisa memberikan rujukan yang otentik tentang ajaran agama Islam atas problematika kehidupan masyarakat muslim yang tak pernah surut. Dalam wilayah ini ulama berperan sebagai pewaris ajaran Nabi.

Sebagaimana hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Khathib melalui Jabir, Rasul Saw bersabda:

“Muliakanlah oleh kalian para ulama, karena mereka adalah pewaris para nabi; barang siapa memuliakan mereka berarti ia memuliakan Allah dan Rasul-Nya.”

Dalam hadits lain yang cukup panjang dijelaskan pula bahwa ulama adalah orang-orang yang terpilih diantara sekian banyaknya manusia,

“Orang-orang yang terpilih dari umatku adalah para ulama dan para ulama yang terpilih adalah orang-orang yang paling belas kasihan. Ingatlah, sesungguhnya Allah SWT, benar-benar memberi ampunan kepada orang alim sebanyak empat puluh macam dosa, sebelum Dia memberi ampunan satu macam dosa terhadap orang yang jahil (tidak mengerti agama), ingatlah, sesungguhnya orang alim yang belas kasihan itu kelak di hari kiamat ia datang dalam keadaan bercahaya, dan sesungguhnya cahaya orang alim itu selalu menerangi jalan yang ditempuhnya sejauh antara arah timur dan arah barat, cahayanya itu seakan-akan bintang yang kemilau cahayanya.” (HR. Al-Qudha’i melalui Ibnu Umar r.a.)

Hadits ini menjelaskan bahwa ulama adalah sebaik-baik manusia setelah Nabi. Mereka adalah pewaris sekaligus penerus ajaran Nabi. Kemilau cahaya Ilahi dalam perangai mereka, mampu menerangi dunia yang gelap -antara timur dan barat- dari cahaya kemuliaan agama. Begitu luasnya pengaruh kemuliaan ulama, sampai-sampai Allah SWT mengabadikannya di dalam Al-Qur’an,

“Dan demikian (pula) diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Q.S. Fathir [35]: 28)

Pantas saja, kehidupan para ulama dahulu yang memperjuangkan integritas ajaran Islam selalu dirundung oleh berbagai macam tudingan, ancaman, serta hukuman yang sangat berat dari musuh Islam yang benci kepada pergerakan dakwah mereka. Hal itu tidak lekas menyurutkan pergerakan dakwah mereka. Mereka (para mujahid) lebih gencar lagi mendakwahkan Islam sebagai sebuah agama rahmatan lil’alamin.

Ahmad Dahlan adalah salah satu ulama besar di zamannya yang berani dengan keras menentang kebijakan Kolonial Belanda atas sistem kastaisasi pendidikan untuk kaum bumi putera. Ia adalah ulama Islam pertama Indonesia yang memberikan pendidikan dan perbaikan kehidupan bangsa melalui organisasi. Ia juga dikenal sebagai anggota Boedi Oetomo yang aktif mengajar tokoh-tokoh nasionalis di dalamnya, ia berperan dalam sejarah kebangkitan nasional abad 20-an dimana pada awal abad 20-an, boleh dikatakan kehidupan beragama umat Islam Indonesia sedang dalam keadaan mundur. Di antara ummat tidak ada persatuan sehingga ummat menjadi lemah. Begitu juga dengan ajaran agama, banyak sekali dipengaruhi oleh hal-hal berbau mistik dan tahayul.

Ahmad Dahlan adalah seorang ulama besar Indonesia, tokoh pembaru praktek keagamaan di Indonesia dan pendiri Muhammadiyah. Penerobos tradisi-tradisi lama dalam praktek agama Islam. Membetulkan arah kiblat masjid-masjid di Yogyakarta, dan penggagas pelajaran pengetahuan umum masuk sekolah-sekolah agama. Memurnikan agama Islam dari percampuran dengan agama Hindu, Budha, animisme, dinamisme, dan kejawen. Sempat dituduh sebagai kyai palsu dan diancam dibunuh oleh ummat yang belum setuju dengan pembaruan yang diajarkannya. Ia juga pernah dituduh sebagai orang yang menyesatkan karena berani mengajarkan pengetahuan umum di sekolah agama. Sebelum lebih jauh menelaah pemikiran Ahmad Dahlan, Oleh kerena itu perlu sekali kita mengetahui sekilas riwayat perjalanan hidup beliau.

Riwayat Singkat Ahmad Dahlan

Andai saja pada tahun 1868 tidak lahir seorang bayi bernama Muhammad Darwisy (ada literatur yang menulis nama Darwisy saja), Kampung Kauman di sebelah barat alun-alun Utara Yogyakarta itu boleh dibilang tak memiliki keistimewaan lain, selain sebagai sebuah pemukiman di sekitar Masjid Besar Yogyakarta. Sejarah kemudian mencatat lain, dan Kauman pada akhirnya menjadi sebuah nama besar sebagai kampung kelahiran seorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia, Kiyai Haji Ahmad Dahlan : Sang Penggagas lahirnya Persyarikatan Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah bertepatan dengan 18 November 1912.

Muhammad Darwis lahir dalam keluarga abdi dalem kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang khusus mengurusi bidang keagamaan dan disebut ‘abdi dalem pamethakan’. Kedua orang tua Muhammad Darwisy yang dikenal sangat alim, yaitu KH. Abu Bakar (Imam Khatib Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan Siti Aminah atau Nyai Abu Bakar (puteri H. Ibrahim, Hoofd Penghulu Yogyakarta). Muhammad Darwisy merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara yang lima diantaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Secara genealogisMuhammad Darwisy adalah keturunan darah biru dari Kasultanan Yogyakarta. Dan jika ditelusuri lebih jauh lagi dalam silsilah keluarga, Secara nasab beliau memang mewarisi ‘darah biru’ dari ulama-ulama tanah Jawa.

Jadi tak ada yang menampik bahwa silsilah Muhammad Darwisy sebagai keturunan kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan terkemuka diantara Wali Songo, yang mendakwahkan Islam di daerah Gresik,serta dikenal pula sebagai pelopor pertama penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991).

  • Demikian mata rantai silsilah itu:

Muhammad Darwisy adalah putra K.H. Abu Bakar bin K.H. Muhammad Sulaiman bin Kiyai Murtadla bin Kiyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Jatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).

Silsilah K.H. Ahmad Dahlan. (reprografi.wordpress.com+

Silsilah K.H. Ahmad Dahlan. (reprografi.wordpress.com)

Keluasan ilmu Muhammad Darwisy di kemudian hari berawal dari pendidikan keluarga yang sangat mengutamakan pendidikan agama. Muhammad Darwisy dididik oleh keluarganya melalui metode pendidikan nabawi dengan hidup di lingkungan pesantren sejak kecil, dan sekaligus menjadi tempatnya menimba pengetahuan agama dan bahasa Arab. Pendidikan Muhammad Darwis bermula dari pelajaran agama Islam yang diberikan langsung oleh sang ayah. Selain dari KH Abu Bakar sendiri, Muhammad Darwis juga menuntut ilmu secara khusus kepada KH Muhammad Shaleh di bidang fiqih dan kepada KH Muhsin di bidang ilmu nahwu. Selain itu  Muhammad Darwisy belajar juga dari KH Muhammad Noor, seorang kepala penghulu hakim kota Yogyakarta, dan KH Abdul Hamid di kampung Lempuyangan Wangi.

Muhammad Darwisy memiliki pemikiran berbeda dari kebanyakan remaja seusianya pada waktu itu yang lebih sibuk dengan agenda hura-hura.Muhammad Darwisy lebih berfikir ke depan tentang realitas keagamaan masyarakat sekitar yang banyak mengusik naluri pembaharuannya di masa depan. Sehingga wajar saja jika dikemudian hari pergerakan dakwah Muhammad Darwisy bersikap ideologis dan keras menentang kolonialisme Belanda di Nusantara.

Dalam sejarah, beliau tercatat dua kali berangkat ke tanah suci Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, sekaligus menuntut ilmu agama.Muhammad Darwisy menunaikan ibadah haji yang pertama ketika berusia 15 tahun (1883), lalu dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa Arab di Makkah selama lima tahun. Pada masa ini, Selama setahun belajar di Mekkah ia sempat berguru kepada Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, ulama asal Padang yang menetap di Makkah dan menjadi Imam Masjidil Haram ketika itu. Beliau juga dikenal sebagai seorang pembaharu dari Minangkabau. Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi ini juga merupakan guru dari beberapa ulama besar di tanah air di antaranya, KH. Hasyim Asy’ari, pendiri organisasi NU, Haji Abdul Karim Amrullah – ayahanda dari Buya Hamka, Syeikh Muhammad Djamil Djambek, keduanya pendiri gerakan Kaoem Moeda di Sumatra Barat; dan Haji Agus Salim, Wakil Ketua Syarikat Islam dan Pembina Jong Islamieten Bond.

Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi salah satu pakar ilmu falak dan ulama yang memiliki kemampuan dalam ilmu matematika, seperti : geometri dan tringonometri yang berfungsi untuk memprediksi dan menentukan arah kiblat, serta berfungsi untuk mengetahui rotasi bumi dan membuat kompas yang berguna saat berlayar.

Darwisy benar-benar terkesima dengan sang Guru. Setelah ngaji ilmu falak kepada Syeikh Ahmad Khatib Minangkabawi (Sumatra), dan menguasai dengan baik, beliau berguru juga kepada Syeikh Mohammad Mahfud al-Turmusi (Jawa Timur) untuk berlajar fikih al-Syafii. Setelah dirasa cukup, beliau pulang ke Yogyakarta dengan membawa bekal ilmu falak yang mapan dan ilmu fikih al-Syafii yang mumpuni.

Dari Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi ini pulalah Darwisy berkenalan dengan pemikiran trio reformis islam yaitu Sayid Jamaluddin Al Afghani, Syeikh Muhammad Abduh, Syeikh Muhammad Rasyid Ridha. Di sini pulalah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam lainnya yaitu Ibnu Taimiyah. Interaksi dan Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang sangat besar pada Darwis ketika pulang ke Indonesia. Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan ini yang kelak dikemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) disebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot). Ortodoksi ini dipandang menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) umat Islam. Oleh karena itu, pemahaman keagamaan yang statis ini harus dirubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadis.

Selain pernah belajar dari KH. Muhammad Shaleh dibidang ilmu fikih; dan dari KH. Muhsin dibidang ilmu Nahwu-Sharaf (tata bahasa), Darwisy juga menimba berbagai bidang ilmu dari banyak kiai seperti dari KH. Raden Dahlan dibidang ilmu falak (astronomi); dari Kiai Mahfud dan Syeikh KH. Ayyat dibidang ilmu hadis; dari Syeikh Amin dan Sayid Bakri Satock dibidang ilmu Al-Quran, serta dari Syeikh Hasan dibidang ilmu pengobatan dan racun binatang.

Ketika dalam pencarian ilmu itulah, Kiai Dahlan pernah sekamar dengan KH. Hasyim Asy’ari, ulama besar pendiri Nahdlatul Ulama. Pengalaman sekamar tersebut terjadi selagi belajar kepada KH. Sholeh Darat di Semarang. KH. Sholeh Darat, juga merupakan guru dari salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yakni Raden Ajeng Kartini.

Setelah lima tahun belajar di Mekah, tepatnya pada tahun 1888, Pada usia 20 tahun, ia kembali ke kampungnya, dan berganti nama menjadi Haji Ahmad Dahlan (suatu kebiasaan dari orang-orang Indonesia yang pulang haji, selalu mendapat nama baru sebagai pengganti nama kecilnya). Sepulangnya dari Makkah, Pada tahun 1896, saat KH Abu Bakar, ayahanda Ahmad Dahlan meninggal dunia dan dimakamkan di Pemakaman Nitikan Yogyakarta, Sesuai dengan tradisi keraton Yogyakarta, Ahmad Dahlan sebagai putra tertua mendapat kehormatan menggantikan posisi ayahandanya sebagai khatib amin. Maka dari itu Ahmad Dahlan pun diangkat menjadi Khatib Amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta menggantikan ayahnya.

Ahmad Dahlan kemudian menikah dengan Siti Walidah, saudara sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawan Nasional dan pendiri Aisyiyah (salah satu organisasi intern Muhammadiyah). Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, K.H. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991).

Di samping itu, K.H. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. K.H. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik Ajengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin, Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9).

Meluruskan ‘Arah Kiblat’ hingga surau miliknya dibongkar paksa

Suatu hari Ahmad Dahlan memperhatikan arah kiblat di masjid keraton dan Yogyakarta yang umumnya tidak benar. Berbekal ilmu falak yang mapan dan ilmu fikih Al-Syafii yang mumpuni, Makalangkah pertama yang berusaha beliau lakukan ialahmembetulkan arah kiblat yang selama ini kurang tepat. Karena menurut ulama fikih, salah satu syarat sholat ialah harus menghadap kiblat. Ahmad Dahlan merasa bertanggung jawab meluruskan salah kaprah kiblat masjib besar selama ini. Umumnya, masjid dan musolla di Yogyakarta menghadap ke jurusan timur dan orang-orang yang sholat di dalamnya menghadap ke arah barat lurus. Padahal, arah kiblat yang benar ialah menuju kiblat (ka’bah). Dari tanah Jawa, haruslah miring ke arah utara kurang lebih 24 derajat dari sebelah barat. Selanjutnya kemudian beliau membetulkan arah kiblat Masjid Sultan di Keraton Yogyakarta ke arah yang sebenarnya yaitu dari yang sebelumnya mengarah ke Barat menjadi ke Barat Laut, namun ketika itu pihak keraton menolak. Upaya membetulkan arah kiblat terus dilakukan. Di masjid besar Yogyakarta, beliau membuat garis-garis saf menurut yang semestinya. Namun masyarakat ketika itu menjadi gempar dan marah. Garis-garis saf yang dibuatnya itu sempat dihapus orang bahkan surau miliknya dibongkar.

Kecewa pada pihak keraton yang tidak membolehkannya membetulkan kiblat di masjid keraton, ditambah lagi dengan pembongkaran terhadap suraunya, Ahmad Dahlan meninggalkan kota kelahirannya tersebut, tetapi salah seorang keluarganya menghalangi niatnya itu dengan membangun mushala lain untuknya. Di situlah beliau dapat mengajarkan dan mempraktekkan ajaran agama serta keyakinannya.

Pada tahun 1902-1904, saat berusia 34 tahun ia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya yang dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Makkah.

Perjalanan spiritual Ahmad Dahlan dalam memahami Islam cukuplah panjang dan berliku. Berguru ke berbagai tempat, serta mendapatkan banyak pemahaman tentang agama Islam. Ahmad Dahlan adalah seorang yang sangat hati-hati dalam kehidupan sehari-harinya.

Ada sebuah nasehat yang ditulisnya dalam bahasa Arab untuk dirinya sendiri:

“Wahai Dahlan, sungguh di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa-peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus engkau lewati. Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat, tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya. Wahai Dahlan, coba engkau bayangkan seolah-olah engkau berada seorang diri bersama Allah, sedangkan engkau menghadapi kematian, pengadilan, hisab, surga, dan neraka. Dan dari sekalian yang engkau hadapi itu, renungkanlah yang terdekat kepadamu, dan tinggalkanlah lainnya” (diterjemahkan oleh Djarnawi Hadikusumo).

Dari pesan itu tersirat sebuah semangat dan keyakinan yang besar tentang kehidupan akhirat. Dan untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik, maka Dahlan berpikir bahwa setiap orang harus mencari bekal untuk kehidupan akhirat itu dengan memperbanyak ibadah, amal saleh, menyiarkan dan membela agama Allah, serta memimpin ummat ke jalan yang benar dan membimbing mereka pada amal dan perjuangan menegakkan kalimah Allah. Dengan demikian, untuk mencari bekal mencapai kehidupan akhirat yang baik harus mempunyai kesadaran kolektif, artinya bahwa upaya-upaya tersebut harus diserukan (dakwah) kepada seluruh ummat manusia melalui upaya-upaya yang sistematis dan kolektif.

Melihat keadaan demikian, Ahmad Dahlan merasa prihatin. Dalam benaknya, beliau berkesimpulan bahwa untuk memajukan umat Islam di Indonesia harus dilakukan pembaruan di bidang praktik keagamaan. Pembaruan itu sendiri harus dimulai dengan cara mengadakan perbaikan di bidang kemasyarakatan.

Kesadaran seperti itulah yang menyebabkan Dahlan sangat merasakan kemunduran ummat Islam di tanah air. Hal ini merisaukan hatinya. Ia merasa bertanggung jawab untuk membangunkan, menggerakkan dan memajukan mereka. Dahlan sadar bahwa kewajiban itu tidak mungkin dilaksanakan seorang diri, tetapi harus dilaksanakan oleh beberapa orang yang diatur secara seksama. Kerjasama antara beberapa orang itu tidak mungkin tanpa organisasi.

Kyai Dahlan kemudian merealisasikan rencananya tapi dengan cara yang cukup berbeda dari para ulama umumnya. Jika ulama lain dalam melakukan pendidikan biasanya melalui pondok pesantren atau kitab karangannya, namun Ahmad Dahlan melakukannya melalui sebuah organisasi. Bersama kawan-kawannya, beliau juga memperbaiki kondisi higienis di daerah Kauman. Ia ingin membersihkan umat Islam secara fisik maupun mental spiritual.

Bagi Dahlan, Islam hendaknya didekati serta dikaji melalui kacamata modern sesuai dengan panggilan dan tuntutan zaman, bukan secara tradisional. Beliau mengajarkan kitab suci Al-Qur’an dengan terjemahan dan tafsir agar masyarakat tidak hanya pandai membaca ataupun melagukan Qur’an semata, melainkan dapat memahami makna yang ada di dalamnya. Dengan demikian diharapkan akan membuahkan amal perbuatan sesuai dengan yang diharapkan Qur’an itu sendiri. Menurut pengamatannya, keadaan masyarakat sebelumnya hanya mempelajari Islam dari kulitnya tanpa mendalami dan memahami isinya. Sehingga Islam hanya merupakan suatu dogma yang mati.

Untuk membangun upaya dakwah (seruan kepada ummat manusia) tersebut, Dahlan gigih membina angkatan muda untuk turut bersama-sama melaksanakan upaya dakwah tersebut, dan juga untuk meneruskan dan melangsungkan cita-citanya membangun dan memajukan bangsa ini dengan membangkitkan kesadaran akan ketertindasan dan ketertinggalan ummat Islam di Indonesia.

Bergabung dengan Boedi Oetomo

Selain aktif berkegiatan di bidang keagamaan di kedinasan keraton Yogyakarta, Ahmad Dahlan juga meluaskan wawasan organisasinya dengan masuk Boedi Oetomo, organisasi yang melahirkan banyak tokoh-tokoh nasionalis. Awal mula KH Ahmad Dahlan masuk Boedi Oetomo adalah berkat perkenalannya dengan Mas Joyosumarto, seorang pembantu bidang kesehatan yang dekat dengan Dr. Wahidin Sudiro Husodo. Diajaklah Kyai Dahlan ke rapat-rapat pengurus Boedi Oetomo Yogyakarta dan berkenalan dengan tokoh-tokoh Boedi Oetomo.

Tahun 1909, Kyai Dahlan resmi menjadi anggota pengurus Boedi Oetomo. Di sana beliau aktif memberikan pelajaran-pelajaran untuk memenuhi keperluan para anggota yang merupakan tokoh-tokoh nasionalis yang kemudian berperan sangat besar dalam sejarah kebangkitan nasional abad 20-an. Beliau juga sering memberikan ceramah agama dalam rapat-rapat Boedi Oetomo dan mendapat apresiasi dari pengurus Boedi Oetomo yang lain. Dengan bantuan pengurus Boedi Oetomo yang kebanyakan adalah guru di sekolah-sekolah kolonial, Kyai Dahlan kemudian turut memberikan pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah itu.

Selanjutnya: K.H. Ahmad Dahlan: The First People [part 2]

Iklan

One response »

  1. […] Lanjutan dari: K.H. Ahmad Dahlan: The First People […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s