Kasus Pelecehan Seksual di JIS

Jakarta International School. (Kompas.com)

Jakarta International School. (Kompas.com)

Kasus Pelecehan Seksual di JIS adalah dugaan pelecehan seksual oleh karyawan dan guru Jakarta International School terhadap anak didiknya. Kasus ini mulai dilaporkan pada tanggal April 2014. Untuk yang belum tahu atau belum jelas tentang kasus JIS, bisa membacanya di beberapa link berikut dibawah ini:

  1. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kasus_Pelecehan_Seksual_di_JIS
  2. http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/3049/1/pelecehan.anak.tk.di.jis
  3. http://m.merdeka.com/tag/p/matcont-pelecehan-seksual-di-jis/index45.html
  4. http://m.liputan6.com/tag/jis
  5. http://metro.sindonews.com/topic/1806/kejahatan-seksual-di-jis
  6. http://m.tribunnews.com/tag/jakarta-international-school-jis
  7. Atau di link media massa online lainnya.

Ternyata ada indikasi ketidak adilan hukum di kasus JIS. Berikut ulasannya.

KontraS dan Pakar Hukum Beberkan Kejanggalan Kasus JIS

Terdakwa kasus kejahatan tak senonoh di Jakarta International School (JIS), Agun Iskandar (kiri) diberi semangat sebelum jalani sidang pembacaan putusan atau vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, 22 Desember 2014. Agun Iskandar divonis pidana penjara 8 tahun dengan denda Rp 100 juta subsider 3 bulan penjara. (Tempo.co)

Terdakwa kasus kejahatan tak senonoh di Jakarta International School (JIS), Agun Iskandar (kiri) diberi semangat sebelum jalani sidang pembacaan putusan atau vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, 22 Desember 2014. Agun Iskandar divonis pidana penjara 8 tahun dengan denda Rp 100 juta subsider 3 bulan penjara. (Tempo.co)

Peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan (PSHK) Miko Ginting menilai penyidikan dalam kasus kekerasan seksual di Jakarta International School (JIS) mengandung banyak pelanggaran prosedur. Pertama, penangkapan para petugas kebersihan dilakukan kepala keamanan JIS. Kedua, bantuan hukum kepada para tersangka tidak optimal. Ketiga, rekonstruksi kasus dilakukan tanpa disertai berita acara.

Dalam siaran pers, Kamis, 14 April 2016, Miko mengatakan banyak kejanggalan dalam proses hukum kasus tersebut. “Kasus JIS dengan tersangka pekerja kebersihan merupakan malicious prosecution atau investigasi dengan niat jahat,” kata Miko dalam diskusi peluncuran buku eksaminasi kasus JIS di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, Jakarta Selatan, Rabu, 13 April 2016.

Dalam kasus yang melibatkan tujuh tenaga kontrak kebersihan ini, satu pelaku, Azwar, tewas saat disidik di kantor Kepolisian Metro Jakarta Raya. Namun, penyebab kematian Azwar masih gelap, lantaran tidak diotopsi.

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar mengatakan kasus ini tidak hanya melanggar hak para tersangka, namun juga hak korba “Penegak hukum gagal membuktikan adanya peristiwa tindak pidana yang identik sebagai kejahatan seksual,” ujar dia.

(tempo.co)

(tempo.co)

Ketua Harian Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia (MaPPI) Choky Ramadhan menjelaskan kasus JIS merupakan satu kasus yang paling mencolok yang membuktikan lemahnya proses hukum di Indonesia. Menurut dia, penanganan kasus JIS terlihat dipaksakan. Ini terjadi akibat lemahnya bukti yang diperoleh penyidik. Bahkan penetapan tersangka dilakukan hanya berdasarkan keterangan pelapor, yaitu orang tua murid.

Choky mengatakan masalah muncul karena kesaksian ibu pelapor tidak memenuhi syarat, karena yang bersangkutan tidak mengalami, mendengar, dan melihat kejadiannya. Namun, laporan itu menjadi acuan penyidik untuk menetapkan  tersangka. “Proses hukum seperti ini sangat membahayakan penegakan hukum kita,” ujarnya.

Pakar hukum pidana dari Universitas Andalas, Padang, Shinta Agustina mengatakan majelis hakim tidak seimbang dalam memperhatikan bukti dari jaksa dan tersangka. “Proses penyidikan yang berlangsung juga mengindikasikan adanya kekerasan dalam menentukan tersangka,” kata dia.

Indikasi kecerobohan, Shinta melanjutkan, tampak dari sikap majelis hakim yang tidak berusaha menggali penyebab para tersangka mencabut pengakuan mereka dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang disusun penyidik. Menurut dia, alasan pencabutan BAP itu perlu digali karena berkaitan dengan bukti-bukti dalam kasus tersebut. “Apalagi dalam kasus ini anak pelapor dalam memberikan keterangan lebih banyak diarahkan ibunya. Keterangan tersebut juga tidak sesuai dengan alat bukti surat, seperti hasil visum et repertum,” katanya.

Melindungi Anak, Membela Kepentingan Hak Tersangka

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar. (tempo.co)

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar. (tempo.co)

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan Masyarakat Pemantau Peradilan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (MaPPI FHUI) menerbitkan buku tentang kasus kekerasan seksual anak Jakarta International School. Buku bertajukMelindungi Anak, Membela Kepentingan Hak Tersangka itu diluncurkan di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 13 April 2016.

Buku eksaminasi–advokasi isu terhadap putusan hukum–itu berisi setumpuk temuan dan analisis pakar hukum terhadap kasus JIS. Kesimpulannya, proses hukum telah gagal memberi jawaban perlindungan hukum dan keadilan kepada anak yang diduga menjadi korban.

“Penegak hukum gagal membuktikan adanya peristiwa tindak pidana yang identik sebagai kejahatan seksual terhadap anak,” ujar Haris Azhar, koordinator KontraS, dalam siaran pers, Kamis, 14 April 2016. Menurut dia, tidak ada keterangan, visum et repertum, medis, dokter atau rumah sakit yang menyatakan MAK identik dengan korban kekerasan seksual.

Hal lain yang disoroti KontraS adalah dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan penyidik saat memeriksa tersangka. “Terkategorikan pelanggaran hak asasi manusia berat, yaitu penyiksaan,” kata Haris.

Ketua MaPPI FHUI Choky Ramadhan mengatakan kasus yang melibatkan dua guru JIS tersebut bersifat dipaksakan. Tudingan itu berdasar pada sumirnya tuduhan kepada pelaku. “Butuh waktu lebih dari 110 hari bagi polisi untuk mengumpulkan bukti setelah mengalami P19 (pengembalian berkas perkara karena kurang bukti) oleh kejaksaan,” ujarnya.

Choky mengatakan penetapan status tersangka dua guru JIS itu lebih didasarkan pada keterangan ibu pelapor. “Padahal dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana, kesaksian seperti itu tidak memenuhi syarat karena pelapor tidak mengalami, tidak mendengar, dan tidak melihat kejadian,” ujarnya. Untuk itu, KontraS dan MaPPI merekomendasikan berkas perkara kasus ini dihentikan dan negara wajib memberikan ganti rugi pada para tersangka.

Polri Mempersilakan Melapor Jika Memang Ada Kejanggalan Terkait Kasus JIS

Mabes Polri mempersilakan siapa pun yang menemukan kejanggalan dalam pengungkapan kasus kekerasan seksual terhadap siswa Jakarta International School (JIS) untuk melapor ke polisi.

“Pihak-pihak yang merasa mendapatkan informasi tentang adanya kejanggalan dan merasa tidak puas atas penegakan hukum (kasus JIS) atau menemukan informasi adanya pelanggaran, ada jalurnya untuk melapor,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divhumas Mabes Polri Kombes Pol. Suharsono di Jakarta, Sabtu.

Dari laporan tersebut, kata Suharsono, Divisi Profesi dan Pengamanan (Divpropam) Mabes Polri akan menyelidiki kebenaran informasi tersebut.

“Kepolisian, dalam hal ini Propam, akan melakukan investigasi dan penyelidikan atas informasi tersebut apa ada pelanggaran atau tidak? Dengan demikian, publik akan mendapat kejelasan atas kebenarannya,” katanya.

Akhir-akhir ini, kasus JIS ramai kembali diperbincangkan di forum Kaskus setelah seorang anggota forum dengan identitas @Kurawa memuat sebuah diskusi berisi investigasi yang dia lakukan atas kasus tersebut.

@Kurawa mengklaim menemukan beberapa kejanggalan dalam kasus tersebut.

Sebelumnya, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada bulan Desember 2014 telah memvonis hukuman 8 tahun penjara kepada empat terdakwa pelaku kekerasan seksual terhadap siswa Taman Kanak-Kanak Jakarta International School (JIS).

Hakim juga mengenai denda Rp100 juta subsider 3 bulan tahanan kepada keempat terdakwa yang sebelumnya merupakan petugas kebersihan alih daya di sekolah itu, yakni Virgiawan Amin alias Awan, Agun Iskandar, Zainal Abidin, dan Syahrial.

Sementara itu, terdakwa lainnya, perempuan bernama Afrischa Setyani divonis dengan hukuman 7 tahun penjara dan denda Rp100 juta.

Hakim menilai Afrischa turut serta membantu keempat terdakwa lainnya melakukan kekerasan seksual terhadap siswa taman kanak-kanak di sekolah internasional tersebut.

Kelima terdakwa itu telah terbukti melanggar Pasal 82 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 5 Ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) juncto Pasal 64 KUHP.

Berikut Investigasi @kurawa “Kriminalisasi Kasus JIS”

(kaskus.co.id)

(kaskus.co.id)

Investigasi dalam Kriminalisasi Kasus JIS
by @kurawa

smilies_fb5ly1iy2y34

Cepat atau lambat, kebenaran akan mencari jalannya sendiri

Percayalah kawan, kalian tidak sendiri…!!!

Terima kasih kepada mimin dan momod serta seluruh agan2 kaskuser yg ngedukung agar jadi HT dan viral.

” You Never Know How Strong You Are, Until being Strong is Your Only Choice” *Bob Marley “#justice4Innocent

NOTE: Trit ini TS persembahkan sebagai bentuk permohonan maaf ane, yang dulu pernah komeng di sosmed dan ikut menghujat para “pelaku”. ane ikut terpelintir aksi si Theres** dan media yang ikut menggiring opini. DAMN… smilies_fb5ogntptuty

(kaskus.co.id)

(kaskus.co.id)

Part 1

Mulai yah sinetwit soal investigasi lapangan kasus Jakarta International School (JIS) berseri dan agak panjang.. kayanya bakal di filmkan.

Gue melakukan investigasi kasus JIS ini lumayan keras mulai dari kunjungi korban di 2 LP (cipinang dan semarang), kunjungi keluarga mereka. Gue telusuri aliran dana korban JIS ke bank mereka, gue bekerja sama dengan psikolog utk bahas kejiwaan mereka, pelajari semua putusan hukum. Dan yang paling keren gue pelajari juga soal homoseksual dan pedofilia di dunia ini.. (termasuk nonton filmnya) oh gosh demi tau motifnya.

Bagi yang mau lebih pahami investigasi gue ini pelajari dulu pengetahuan umumnya soal pedo&homo di link bawah ini klik dimari gan..(http://chirpstory.com/li/309286)

Gue akan pakai nama asli di investigasi ini karena kasusnya sudah terbuka untuk umum dipengadilan jadi aman secara hukum….

“Marc pakai celana mu “!! Ujar sang ibu yg bernama theresia kepada si anak yang tidak mau memakai celana beberapa hari ini, No mommy !!

Marc anak berusia 5 tahun yang bersekolah di TK JIS jaksel ini mengatakan dia takut celananya basah jika harus pakai celana.. si ibu bingung.
Dengan memaksa si ibu terus bertanya kepada marc mengapa tidak mau, si anak pun menjawab ada orang jahat.. si ibu curiga dgn jawaban marc. Mendengar pengakuan “menggantung” dari si marc.. sang ibu yang menikah dengan pria berkewarganegaraan belanda inipun menelusuri lbh lanjut.
Pada tanggal 21 maret 2014 ibu theresia memulai melaporkan keanehan marc kepada pihak sekolah dengan mengandalkan keterangan lisan si anak. Laporan dibuat ke pihak sekolah ditambahkan oleh ibu dengan keterangan bahwa marc dirumah menjadi anak yg murung.. takut pakai celana.

Prasangka adanya kekerasan fisik kepada marc yg dilakukan oleh pekerja disekolah JIS dengan standar keamanan yg sangat tinggi buat anak. Sebagai sekolah yg terapkan standar keamanan tinggi, pengaduan orang tua murid sekecil apapun akan direspon dgn cepat oleh internal JIS. Karena fokus marc tidak mau pakai celana, sang ibu pun mencurigai ada kaitan dengan area kemaluan si anak.. marc bilang ada orang jahat.

Menurut sang ibu marc mengatakan ada orang jahat yang mencoba memasukan “burung” nya ke dalam duburnya … ini keterangan sang ibu yah. Pihak internal sekolah memulai investigasi kepada si anak..pertanyaan yg diajukan pihak sekolah kpd marc belum mendapat jawaban yg memuaskan. mengingat belum ada keterangan yang memuaskan dari sekolah maka marc dibawa ke dokter utk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Marc diperiksa di laboratorium SOS medika Klinik Cipete oleh Dr. Punjabi Narain utk pemeriksaan darah.. hasilnya baru keluar 4 hari kemudian. menunggu hasil lab, ternyata ibu theresia memutuskan akan melaporkan kasus ini ke polda metro jaya pada tanggal 24 maret bersama lawyernya.

Pelaporan ke polda metro ini bu theresia mengatakan kalo anaknya telah disodomi di sekolah dengan bukti si anak tidak mau pakai celana. Si ibu membuat cerita kalo marc disodomi beberapa hari sebelum teman marc ulang tahun dan sesudahnya beberapa hari kemudian tgl 15 maret an. Bu theresia katakan kejadiannya ada disekitar toilet dekat dgn kelas marc yg dilakukan oleh cleaner JIS baik laki dan perempuan.

Bu theresia menggambarkan sodomi di toilet dengan detail.. termasuk saat eksekusi, sementara disatu sisi marc blm bisa dikorek keterangan. Pihak polda pun akhirnya merujuk ke RSCM agar dilakukan visum terlebih dahulu kepada si anak apakah benar terjadi tindakan sodomi ke marc. Tanggal 25 maret keesokan harinya dikirimlah marc ke RSCM utk dilakukan visum oleh Dr. Oktavinda Safitry SP.F hasil keluar hari ini juga.

Inilah hasil visum RSCM atas kondisi anus marc.. banyak kejanggalan atas hasil visum dari RSCM ini

Inilah hasil visum RSCM atas kondisi anus marc.. banyak kejanggalan atas hasil visum dari RSCM ini

Pertama, Sudah jelas ada tanggal kejadian versi bu theresia yaitu sekitar seminggu sebelum pemeriksaan (point 3 di hasil pemeriksaan). Ke 2 ini yang paling fatal dari hasil visum RSCM. Dokternya sudah melampaui kewenangannya sbg dokter melakukan visum di butir kesimpulan.
Tidak ditemukannya luka2 pada Lubang Pelepas, tidak menyingkirkan kemungkinan peristiwa seperti yang diceritakan korban.. <~ ini Luar biasa.

Sang dokter memberikan statement diluar kapasitasnya sbg dokter dgn mengatakan "Tidak Menyingkirkan KEMUNGKINAN"

Sang dokter memberikan statement diluar kapasitasnya sbg dokter dgn mengatakan “Tidak Menyingkirkan KEMUNGKINAN”

Gue juga masih ragu apa benar ada hasil visum se aneh ini karena visum hanyalah memberikan fakta nyata kondisi tubuh korban bkn kemungkinan. Kalo ada dokter di timeline gue boleh kok ikut komen atas hasil visum melebihi ekspektasi ini.. seharusnya cukup “TIDAK DITEMUKAN LUKA2”.

Setelah menerima visum ini sang ibu belum patah semangat dia masih beranggapan kalo RSCM tidak profesional .. menurut gue iya juga sih.

Tanggal 26 maret keluarlah hasil lab di laboratorium SOS medika hasilnya marc terindikasi virus HSV-2 Igm (herpes)

Tanggal 26 maret keluarlah hasil lab di laboratorium SOS medika hasilnya marc terindikasi virus HSV-2 Igm (herpes)

8127288_20160418043106

Tanggal 26 maret keluarlah hasil lab di laboratorium SOS medika hasilnya marc terindikasi virus HSV-2 Igm (herpes)

Dr. narain katakan kemungkinan herpes ada tetapi perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut agar diketahui penyebabnya (bisa aja virus lain). Nampak jelas pernyataan dokter narain di hasil lab tsb utk datang 1 minggu lagi utk diagnosa lanjut.. namun sayang si ibu terburu histeris.

Herpes Symplek berarti penyakit kelamin sedangkan herpes Sohter itu hanya cacar air.. ibu theresia ambil kesimpulan sendiri yg pertama.

Ini cuplikan kesaksian Dr. Narain di persidangan PN jaksel..ibu theresia tidak balik lagi utk pemeriksaan lanjutan

Ini cuplikan kesaksian Dr. Narain di persidangan PN jaksel..ibu theresia tidak balik lagi utk pemeriksaan lanjutan

 

Terkait luka memar diperut marc dr. Narain katakan ada pembuluh darah pecah dan bisa hilang beberapa hari kemudian

Terkait luka memar diperut marc dr. Narain katakan ada pembuluh darah pecah dan bisa hilang beberapa hari kemudian

Setelah visum RSCM dan lab SOS Medika Klinik mengecewakan sang ibu dicoba lagi melakukan anuscopy di. RS Pondok Indah Jaksel. Ini plg gawat.

keseluruhan RSPI katakan tidak ada kelainan di anus marc, ada nanah karena indikasi herpes..follow up 1 minggu balik

keseluruhan RSPI katakan tidak ada kelainan di anus marc, ada nanah karena indikasi herpes..follow up 1 minggu balik

Namun pemeriksaan di RSPI ini lah terjadi skandal besar .. nah bagian ini nanti gue akan jelaskan tersendiri.. inilah salah satu bukti baru. Dari 3 pemeriksaan diawal dari rumah sakit secara umum katakan anus marc normal tidak ada tanda2 pemaksaan penis orang dewasa masuk.

Salah satu bahan investigasi gue adalah putusan hukum PN jaksel yah..gue screen capture biar lo yakin gue sdh proper

Salah satu bahan investigasi gue adalah putusan hukum PN jaksel yah..gue screen capture biar lo yakin gue sdh proper

Mau nanya dulu neh.. kalo nanti gue upload foto jenazah (mayat) di twitter.. menurut kalian etis gak?
Atau nanti foto jenazahnya gue taro di akun instagram gue aja yah.. @tetapkurawa yang mau lihat tinggal klik aja.

Silahkan update lanjut klik part dibawah ya gan… makin menarik nih gan..
Part 2
Part 3
Part 4
Part 5
Part 6 <– ada fakta hukum besar dimari gan..
Part 7
PART 8 (LAST PART)

agan2 semua jangan lupa bantu isi petisi diatas yah… smilies_fb5ly1iothbu

In nómine Pátris et Fílii et Spíritus Sáncti. Amen.

Selanjutnya Kasus Rekayasa JIS, Tumbalkan Rakyat Kecil [2]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s