Membedah Buku

Muhammadiyah Itu NU! – Dokumen Fiqih yang Terlupakan

imageContent

nu.or.id

Penulis : Mochammad Ali Shodiqin
Penerbit : Noura Books (PT. Mizan Publika)
Cetakan : I, Februari 2014
Tebal : xxii + 310 halaman
ISBN : 978-602-1306-01-1
Peresensi : Muhammad Zidni Nafi’, alumni Ma’had Qudsiyyah Kudus, Ketua CSS MORA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) UIN SGD Bandung 2013-2014.


Buku “Muhammadiyah Itu NU!” dibedah di Gedung Teatrikal Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (05/06/2014). Hadir sebagai pembicara, Mochammad Ali Shodiqin, yang merupakan penulis buku; Kiai Muzammil, mewakili tokoh NU Yogyakarta; dan Wawan Gunawan Abdul Wahid, mewakili PP Tarjih Muhammadiyah Yogyakarta.

Mochammad Ali Shodiqin selaku penulis terlebih dahulu mengungkapkan alasan mengapa judul buku yang ditulisnya bukan NU Itu Muhammadiyah. “Awalnya dulu memang sempat mau diberi judul itu oleh penerbit, namun ternyata di buku ini ditemukan bahwa yang berubah adalah Muhammadiyah, bukan NU. Makanya judulnya seperti itu,” ujarnya.

Ia lalu menyampaikan bahwa perubahan di tubuh Muhammadiyah mulai terjadi sepeninggal pendirinya, KH Ahmad Dahlan, sampai sekarang.

Pembicara kedua, Kiai Muzammil, mengimbau bahwa orang Muhammadiyah jangan terpancing dengan judul buku tersebut. Karena, penulis dalam hal ini hanya ingin merobohkan ‘tembok’ yang selama ini membelah NU dan Muhammadiyah.

Ia juga mengungkapkan keprihatinannya akan kondisi umat Islam sekarang yang lebih menonjolkan atribut. “Kalau kita memang bersaudara jangan menonjolkan atribut. Seakan Islam itu sekarang tenggelam dalam atribut NU dan Muhammadiyah,” kata Pengasuh Pesantren Rohmatul Umam, Kretek, Bantul ini.

“Persatuan umat ini sangat mahal, harus diperjuangkan,” tambah Kiai Muzammil.

Sementara itu, Wawan Gunawan Abdul Wahid memberikan kritik bahwa jika memang buku tersebut merupakan karya ilmiah, referensinya harus diperjelas. Karena ia menilai masih banyak referensi yang tidak jelas di buku tersebut.

“Misalkan buku ini skripsi, saya akan susah memberikan nilai mumtaz, tapi saya akan memberikan nilai maqbul,” ungkap Dosen Fakultas Syari’ah UIN Sunan Kalijaga siang itu.

Diskusi dan Bedah Buku tersebut juga dihadiri oleh KH Tholhah Abdurrahman, Mustasyar PWNU DIY sekaligus Ketua MUI DIY.

‘Tembok Berlin’ yang selama ini memisahkan Muhammadiyah dan NU membuat jarak yang cukup lebar. Tembok ini sejatinya bukanlah masalah yang besar, hanya saja tembok yang dimaksud adalah khilafiyyah pada masalah  furu’ yang sering menjadi kambing hitam persoalan dalam masyarakat muslim Indonesia. Sehingga pada kondisi-kondisi tentu kedua ormas tersebut nampak sulit untuk mencapai kata bersatu.

Ratusan juta orang yang bernaung dalam ormas Muhammadiyah dan NU barangkali bakal berubah dan tergugah seiring diterbitkannya buku “Muhammadiyah itu NU: Dokumen Fiqih yang Terlupakan”. Buku yang ditulis oleh Mochammad Ali Shodiqin ini benar-benar suara dari dalam Muhammadiyah sendiri, bukan intervensi atau kepentingan dari pihak-pihak tertentu.

Bahwa pada dasarnya, dulu Muhammadiyah itu sama persis dengan NU, demikian pula sebaliknya. Namun berita besar ini menyimpan dilema, sebab jika disampaikan akan menurunkan hujah fitnah yang dapat menyuburkan benalu perongrong ukhuwah. Kalau tidak disampaikan, seolah menggelapkan kebenaran yang sepatutnya didakwahkan kepada yang berhak. Jadi dilema ini bagaikan makan buah simalakama (hlm. 2).

Bermula ketika penulis mendapatkan kitab Fiqih Muhammadiyah 1924 dari tokoh Muhammadiyah di Yogyakarta. kemudian ia merasa terpanggil untuk menyampaikan sejarah tersebut, lalu  berinisiatif untuk menerbitkannya menjadi sebuah buku.

Kitab Muhammadiyah 1924, yang aslinya ditulis dengan bahasa Jawa dan huruf Arab pegon. Bahasa Jawa memang tak bisa dihindari kalau membahas periode awal Muhammadiyah di pusat kebudayaan Jawa, yaitu Kesultanan Yogyakarta (hlm. vii).

Kitab Fiqih Muhammadiyah 1924 yang dikarang dan diterbitkan oleh Bagian Taman Pustaka Muhammadiyah Yogyakarta tahun 1924 sesungguhnya bukan hanya warisan berharga kaum Muhammadiyah saja, melainkan juga bagi NU. Kitab itu juga kitabnya NU. Isinya sama dengan kitab-kitab pesantren yang banyak diajarkan dalam dunia NU (hlm. 12). Masalahya hanyalah satu hal, bahwa di tahun 1924 itu, NU belum lahir, karena NU lahir tahun 1926. Dua tahun setelah kitab itu terbit. Dan hingga hari ini, isi ajaran fiqih yang diajarkan kitab itu masih terpelihara sebagai amalan orang NU. Amalan itu pula yang telah turun-temurun sejak ratusan hingga ribuan tahun lalu di perairan Nusantara ini, yaitu fiqih mazhab Syafi’i. Jadi walaupun NU belum lahir, namun ulama-ulama pesantren yang kemudian mendirikan NU itu tiap harinya mengamalkan ajaran fiqih, sebagaimana yang ada di dalam kitab Fiqih Muhammadiyah 1924 (hlm. 13).

Muhammadiyah adalah gerakan dakwah, yaitu menyampaikan ajaran Islam yang sudah ada kala itu di Kesultanan Yogyakarta yang menganut mazhab Syafi’i, bukan berdakwah dengan mengarang ajarannya sendiri dari mulai nol. Pertanyaan mengapa bisa demikian? Dalam buku ini dijelaskan bahwa setelah meninggalnya Kiai Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammmadiyah pada tahun 1912, generasi Muhammadiyah pada beberapa masa selanjutnya tercampur dengan paham Wahabi imbas dari kebijakan-kebijakan pemerintahan Ibnu Saud di negeri Arab pada saat itu. Untuk itu, pada tahun 1926 NU lahir untuk merespon pemerintahan yang membawa paham Wahabi tersebut.

Metamorfosis Muhammadiyah setidaknya dapat dibagi menjadi empat masa, yaitu Masa Syafi’i tahun 1912-1925; masa pembauran Syafi’i-Wahabi tahun 1925-1967; masa Himpunan Putusan Tarjih (HPT) tahun 1967-1995; dan masa pembauran HPT-Globalisasi tahun 1995 hingga kini (hlm. 16).

Penerbitan HPT cetakan ke-1 dilakukan oleh Kiai Badawi tahun 1967. Penerbitan HPT ini sekaligus memulai babak baru sejarah (tarikh tasyri’) fiqih Muhammadiyah yaitu pada masa Himpunan Putusan Tarjih. Hingga cetakan ke-4, yakni pada tahun 1974 di dalamnya memuat 9 buah putusan Muktamar Tarjih 1972 di Pekalongan yang memuat salah satunya adalah penghapusan qunut (hlm. 82). Tidak dimuatnya qunut ini dimaksudkan untuk menghilangkan keraguan, sekaligus untuk perbaikan menurut putusan Muktamar Tarjih tahun 1972. Dengan demikian, seiring hilangnya keraguan dan adanya keyakinan umat serta kebiasaan shalat subuh tanpa qunut maka terhapus pula sejarah bahwa di masa lalu Muhammadiyah pernah melaksanakan qunut sebagaimana qunut-nya umat Islam lain (hlm. 119).

Masih banyak lagi hasil Himpunan Putusan Tarjih, di antaranya masalah menyentuh lawan jenis, niat membaca “ushalli”, shalawat tanpa Sayyidina, mengacungkan jari saat duduk tahiyat, zikir setelah salam, azan Jum’at satu kali, shalat ‘Id di lapangan, dan lain-lain.

Sementara itu, isi kitab Fiqih Muhammadiyah 1924 memuat bab-bab ubudiyah, misalnya Bab Bersuci yang rinciannya meliputi persoalan air, najis, dan tata cara penyuciannya. Bab shalat yan cakupannya meliputi waktu shalat, rukun, sunnah, pembatalan. Bab Jama’ah yang membahas makruhnya jamaah, dan bab-babnya lainnya.

Guna menghadirkan cita rasa sejarah asli masa kiai Dahlan itu, bagi pembaca luar Jawa dan juga generasi Jawa masa kini yang sudah tidaknyambung dengan Jawanya. Maka buku ini disuguhkan dengan tidak  menghilangkan bahasa Jawa, melatinkan teks Arabnya, kemudian mengindonesiakannya. Jadi komposisi bahasa Jawa sekitar 20 persen, dan bukti keaslian ajaran Kiai Dahlan yang bertutur bahasa Jawa dalam kesehariannya.

Yang jelas, buku ini tujuannya bukan untuk menyalahkan satu sama lain. Namun untuk memadamkan api yang selama ini membakar jarak antara Muhammadiyah dan NU. Harapannya masing-masing dapat memahami perbedaan untuk melahirkan persatuan yang lebih erat bagi Indonesia.Judul : Muhammadiyah Itu NU! Dokumen Fiqih yang Terlupakan.

NU dan Muhammadiyah seperti dua sayap Garuda. NU sebagai sayap kanan dan Muhammadiyah sayap kirinya. Gerakan kedua sayap itu harus seirama agar Garuda bisa terbang tinggi mempersatukan Islam di Nusantara.

Demikian disampaikan Mochammad Ali Shodiqin, penulis buku “Muhammadiyah Itu NU!”, ketika mengisi acara Temu Wicara dan Diskusi Buku Muhammadiyah Itu NU! (Dokumen Fiqh yang Terlupakan), yang berlangsung di Gedung Teatrikal Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (05/06/2014).

Oleh karena itu, katanya, NU dan Muhammadiyah harus bersatu, walaupun tidak melebur. Hentikan isu-isu pemecah belah. Sebab Garuda sehebat apapun tidak akan mampu terbang dengan sebelah sayap terluka.

Ia menambahkan bahwa perbedaan keduanya sebenarnya sangat tipis sekali. “Saya di sini ingin menyampaikan pentingnya persatuan, karena keduanya seperti otak kiri dan kanan, tangan kiri dan kanan, sayap kiri dan kanan Garuda yang tidak dapat dipisahkan,” ujarnya di depan hadirin.

KH Thoha Abdurrahman, Mustasyar PWNU DIY, yang juga hadir dalam diskusi itu menyampaikan hal senada. Menurutnya, demi memelihara persatuan, NU dan Muhammadiyah tidak saling bermusuhan.

“Kalau NU dan Muhammadiyah sudah bersatu, maka umat Islam di Indonesia akan mudah disatukan. Bahkan keduanya bisa menyatukan umat Islam sedunia,” tandas sosok yang sekaligus Ketua MUI Yogyakarta siang itu.

Selain penulis, hadir pula sebagai pembicara, Kiai Muzammil, Pengasuh Pesantren Rohmatul Umam Kretek, Bantul; dan Wawan Gunawan Abdul Wahid, PP Tarjih Muhammadiyah Yogyakarta.


Baca Juga:


Referensi

Iklan

2 responses »

  1. […] Muhammadiyah Itu NU! – Dokumen Fiqih yang Terlupakan […]

    Suka

  2. […] Muhammadiyah Itu NU! – Dokumen Fiqih yang Terlupakan […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s