Artikel lanjutan dari: Pokok-Pokok Pikiran Ahmad Dahlan Terhadap Pendidikan Islam [bagian pertama]


C. Ahmad Dahlan sebagai Pembaharu

Ada banyak hal yang menjadikan K.H. Ahmad Dahlan sebagai pembaharu, di antaranya yaitu:

Melakukan purifikasi ajaran Islam dari khurafat tahayul dan bid’ah yang selama ini telah bercampur dalam akidah dan ibadah umat Islam, dan mengajak umat Islam untuk keluar dari jarring pemikiran teradisional melalui reinterpretasi terhadap doktrin Islam dalam rumusan dan penjelasan yang dapat diterima oleh rasio.[25]Usaha dan jasanya mengubah dan membetulkan arah kiblat yang tidak tepat menurut mestinya. Umumnya masjid-masjid dan langgar-langgar di Yogyakarta menghadap Timur dan orang-orang shalat mengahadap kea rah Barat lurus. Padahall kiblat yang seenarnya menuju Ka’bah dari tanah Jawa haruslah iring kearah Utara + 24 derajat dari sebelah Barat. Berdasarkan ilmu pengetahuan tentang ilmu falak itu, ornag tidak boleh menghadap kiblat menuju Barat lurus, melainkan harus miring ke Utara + 24 derajat. Oleh sebab itu, K.H. Ahmad Dahlan mengubah bangunan pesantrennya sendiri supaya menuju kea rah kiblat yang betul. Perubahan yang diadakan oleh K.H. Ahmad Dahlan itu mendapat tantangan keras dari pembesar-pembesar masjid dan kekuasaan kerajaanBerdasarkan perhitungan astronominya, K.H. Ahmad Dahlan menyataka bahawa hari raya Idul Fitri yang bersamaan dengan hari ulang tahun Sultan,, harus dirayakan sehari lebih awal dari yang diputuskan para ulama “mapan”. Dan melaksanakan shalat Idul Fitri di lapangan. Sultan menerima pendapat K.H. Ahmad Dahlan namun karena ini pula beliau kehilangan lebih banyak lagi simpati dari kalangan ulama “mapan”.[26] Mengajarkan dan menyiarkan agama Islam dengan popular, bukan saja di pesantren, melainkan ia pergi ke tempat-tempat lain dan mendatangi berbagai golongan. Bahkan dapat dikatakan bahwa K.H. Ahmad Dahlan adalah bapak Muballig Islam di Jawa Tengah, sebagaimana syekh M. Jamil Jambek sebagai bapak Muballigh di Sumatra Tengah.[27]Mendirikan perkumpulan Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesiasampai sekarang.Sebuah Refleksi Dan Kritik Realita Sekolah-Sekolah Muhammadiyah Saat Ini

Puluhan truk pasir sejumlah sak semen dan beberapa kaleng cat tidak begitu bermakna apabila hanya di pajang di toko atau disimpan di gudang. Makna itu menjadi bermakna di tangan tukan batu atau arsitek, karena beragam bentuk arsitektur dapat dibangun. Ilustrasi tersebut menjadi bermakna dalam konteks pendidikan. Melimpahnya materi tentang aqidah, akhlaq, A-Qur’an Hadits atau hafalan sekian juz plus materiilmu umum yang menjadi tidak bermakna manakala dijejalkan begitu saja ke peserta didik dalam keadaan saling terpisah dan bersifat parsial. Apabila Muhammadiyah benar-benar mau membangun sekolah atau universitas unggulan maka harus merumuskan landasan filosofis pendidikan yang tepat sehingga dihadapan pendidikan nasional pun posisinya tegas. Jika kita melihat sekolah Muhammadiyah saat ini dari sisi kurikulumnya sama persis dengan sekolah/universitas negeri ditambah materi al-Islam dan ke-Muhammadiyahan. Kalau melihat materi yang begitu banyak, maka penambahan itu malah semakin membebani anak karenanya amat jarang lembaga pendidikan melahirkan bibit-bibit unggul. Karena itu sudah waktunya untuk kembali merumuskan materi yang terintegrasikan dengan materi-materi umum seperti yang dicita-citakan oleh pendidinya buya Ahmad Dahlan serta disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Buya melihat bahwa mengadopsi system pendidikan model Barat adalah salah satu jalan pintas karena buya melihat bahwa pendidikan merupakan kunci untuk melakukan berbagai perintah agama. Mengingat system pendidikan koloni dianggap yang terbaik maka jalan yang paling mudah adalah dengan mengadopsi sisterm tersebut lalu disempurnakan dengan penambahan mata pelajaran agama. Namun, generasi kita sekarang lebih disibukkan untuk mendirikan lembaga pendidikan hasil ijtihad, bukan menangkap substansinya yaitu bagaimana mengintegrasikan atau mensintesakan ilmu umum dan ilmu agama, karenanya cita-cita buya untuk melahirkan ulama-intelek dan intelek ulama belum terpenuhi. Lain halnya jika kita membaca cerpen dari Navis (2000) yang berjudul “Robohnya Surau Kami”, yang berisi kritikan terhadap kaum agamawan (para penganut agama, terutama Islam) yang terlalu bersemangat untuk meraih surga di akhirat tapi melupakan meraih “surga” di muka bumi ini melalui kerja kemanusiaansampai akhirnya surai itu roboh. Dengan meminjam istilah itu secara konotatif kemungkinan kritik itu diarahkan kepada warga Muhammadiyah yang berlomba-lomba mendirikan sekolahan hanya bermodal ihlas tanpa memperhatikan mutu/kualitas dan standar kelayakan pendidikan sehingga begitu ada arus perubahan satu persatu sekolah Muhammadiyah rontok, kehabisan murid seperti yang terjadi belakangan ini. Sedangkan secara denotative, memang untuk menunjukkan bahwa bangunan gedung-gedung Muhammadiyah rata-rata sudah menua sehingga benar-benar mau roboh. Begitulah realita yang terjadi dan untuk menutup tulisan ini ada baiknya kita membaca kembali apa yang dituliskan Andrea Hirata dalam novel best seller-nya yang sangat menyengat dunia pendidikan kita yang berjudul Laskar Pelangi.. Realita pendidikan Muhammadiyah di pelosok kotaBelitung, yang harus berjuang keras melawan ganasnya lingkungan dan kehidupan. Tapi dengan motivasi dan semangat yang tinggi dari diri sendiri, teman serta pengelola pendidikan tersebut, mereka berhasil mengatakan pada dunia “ini lah aku…anak-anak dari pelosok Belitung…”. Guru yang super hebat dengan semua pengorbanannya memperjuangkan eksistensi mereka pada dinas Pendidikan setemat, dan loyalitas mereka untuk menerapkan cita-cita pembaruan buya Ahmad Dahlan dalam sekolah mereka. Harusnya kita malu dengan segala kemewahan fasilitas dan sarana yang kita miliki kalau kita masih keliru memahami maksud dari cita-cita pendidikan buya Dahlan. Sederhananya, tidak banyak cingcong dan kemampuan merealisasikan ide menjadi tindakan nyata, jauh lebih tinggi daripada intelektual muda manapun. Ini barangkali dapat dipertimbangkan sebagai mata pelajaran baru di sekolah-sekolah kita.University of Life adalah ungkapan yang paling pas untuk situasi ini. Sekolah seharusnya tidak lagi mengajarkan hal-hal apa yang harus kita pikirkan,tapi mengajarkan kita cara berfikir. Ada baiknya kita memotivasi diri kita sebagai pondasi awal kita untuk menyajikan dunia pendidikan yang terbaik sesuai dengan cita-cita buya, dengan meresapi apa yang dikatakan Arai kecil: “bahwa orang seperti kita akan mati tanpa mimpi dan semangat, karena itu jangan pernah berhenti bercita-cita, karena pabila itu terjadi maka tragedy terbesar dalam hidup kita akan dimulai. Itulah kiranya yang dingin direalisasikan oleh buya Ahmad Dahlan.

C.1. Pembaharuan Pemikiran Budaya

Ketika Grebeg Hari Raya dalam tradisi Kraton Yogyakarta jatuh sehari sesudah hari raya Islam, Kiai meminta menghadap Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Tengah malam, diantar Kanjeng Kiai Penghulu, Dahlan diterima Sang Raja dalam sebuah ruang tanpa lampu. Setelah Dahlan menyampaikan usul agar Grebeg diundur sehari, Raja bersabda bahwa Grebeg dilaksanakan sesuai dengan tradisi Jawa, Dahlan dipersilakan menyelenggarakan shalat Hari Raya sehari lebih dahulu.

Kiai begitu terkejut mendapati ruang paseban penuh dengan pangeran dan pejabat kerajaan mendampingi Raja saat lampu ruang paseban dinyalakan. Sang Raja kembali bersabda bahwa pemadaman lampu itu sengaja dilakukan agar Dahlan tidak merasa kikuk saat menyampaikan usulnya kepada Raja.

Hubungan harmonis Dahlan dan pusat kekuasaan Jawa cukup unik dan menarik dikaji ketika kerajaan dipandang sebagai pusat tradisi Kejawen yang penuh mistik. Kelahiran Muhammadiyah sendiri berkait dengan kebijakan Hamengku Buwono VII dan VIII. Kepergian Dahlan naik haji dan bermukim di Mekkah adalah perintah langsung Sri Sultan Hamengko Buwono VII. Raja memandang penting Raden Ngabei Ngabdul Darwis (nama kecil Ahmad Dahlan) belajar Islam dari asal kelahirannya. Sepulang haji, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII memerintahkan Dahlan bergabung dalam Boedi Oetomo. Reformasi Islam pun mulai berlangsung dari sini.

Konflik keras justru muncul dalam komunitas Kauman dari ulama senior dan Kiai Dahlan. Disharmoni Muhammadiyah dan pusat kekuasaan Jawa mulai muncul ketika gerakan ini memperkuat ortodoksi Fikih sesudah pendirinya wafat tahun 1923. Gerakan pembaruan Islam kemudian berkembang berhadap-hadapan dengan pusat kekuasaan Jawa.

Suasana sosial politik yang melingkupi kehidupan Dahlan di atas berbeda dengan pembaru Islam Saudi Arabia, Mesir, Iran, Afganistan, Aljazair, Pakistan, atau India. Jika para pembaru itu banyak berhubungan dengan pusat kebudayaan Eropa (Perancis dan Inggris), Kiai memperoleh pendidikan di lingkungan kerajaan. Interaksinya dengan elite kerajaan, pejabat kolonial, priayi Jawa, pendeta, dan pastor memberi ruang lebih luas menjelajahi berbagai persoalan dunia global atau nasional dan lokal.

C.2. Pembaharuan Pemikiran Ekonomi

Tulisan pembaharuan pemikiran ekonomi Ahmad Dahlan, penulis kurang mendapat reverensi buku yang cukup untuk mengupasnya. Untuk itu penulis mengambil inisiatif mengambil dan menyampaikan kembali artikel Sutia Budi yang berjudul “Gerakan Ekonomi Muhammadiyah; Sebuah Gugatan” 3 September 2007, dengan sentuhan pikiran penulis.

Jiwa ekonomi terlihat dari profil kehidupan KH. Ahmad Dahlan yang bekerja sebagai pedagang batik (bussinessman) di samping kegiatan sehari-harinya sebagai guru mengaji dan khatib. KH. Ahmad Dahlan sering melakukan perjalan-an ke berbagai kotauntuk berdagang. Dalam perjalanan bisnisnya, KH. Ahmad Dahlan selalu membawa misi dakwah Islamiyah.

Kepada para aktivis organisasi dan para pendukung gerakannya, KH. Ahmad Dahlan berwanti-wanti: “Hidup-hidupilah Muhammad-iyah, dan jangan hidup dari Muhammadiyah”. Himbauan ini menimbul-kan konsekuensi tertentu. Menurut Dawam Raharjo mengatakan, konsekuensi yang lain adalah bahwa untuk memperjuangkan kepentingan ekonominya, mereka harus memajukan usahanya agar bisa membayar zakat, shadaqah, infaq atau memberi wakaf, warga Muhammadiyah harus menengok ke organisasi lain. Pada waktu itu, yang bergerak di bidang sosial-ekonomi adalah Sarekat Dagang Islam (SDI), kemudian bernama Sarekat Islam (SI) itu. Itulah sebabnya warga Muhammadiyah sering berganda keanggotaan, Muhammadiyah dan Sarekat Islam.

Pada tahun 1921, Muhammadiyah memprogramkan perbaikan ekonomi rakyat, salah satunya adalah dengan membentuk komisi penyaluran tenaga kerja pada tahun 1930. Pada perkembangan selanjutnya, tahun 1959 mulai dibentuk jama’ah Muhammadiyah di setiap cabang dan terbentuknya dana dakwah. Program-program ekonomi yang dirancang ternyata menjadi dorongan untuk terbentuknya Majelis Ekonomi Muhammadiyah.

Namun, sebagaimana diungkap Mu’arif (2005:223), dalam persoalan ekonomi ini, Persyarikatan Muhammadiyah mengalami posisi dilematis. Di satu sisi, visi ekonomi ketika hendak membangun perekonomian yang tangguh haruslah didasarkan pada profesionalisme. Adapun untuk mengantarkannya pada profesionalisme itu biasanya menggunakan cara yang mengarah pada dunia bisnis kapitalis. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan visi kerakyatan yang pada awal berdirinya persyari-katan menjadi agenda utama.

C.3. Pembaharuan Bidang Sosial

Praktek amal nyata yang fenomenal ketika menerapkan apa yang tersebut dalam surah Al Maun yang secara tegas memberi peringatan kepada kaum muslimin agar mereka menyayangi anak-anak yatim dan membantu fakir miskin. Aplikasi surah al Ma’un ini adalah terealisirnya rumah-rumah yatim dan menampung orang-orang miskin.

Ketika menerapkan Al Qur’an surah 26 ayat 80, yang menyatakan bahwa Allah menyembuhkan sakit seseorang, maka didirikannya balai kesehatan masyarakat atau rumah sakit-rumah sakit. Lembaga ini didirikan, selain untuk memberi perawatan pada masyarakat umum, bahkan yang miskin digratiskan, juga memberi penyuluhan, betapa pentingnya arti sehat.

V. Relefansi Pemikiran Ahmad Dahlan pada Konteks Kekinian

Kontinuitas dan perubahan merupakan dua ciri yang menonjol dari perkembangan Islam di Indonesia pada awal abad ke-20. Kontinuitas mewujudkan diri dalam kecenderungan kaum muslim untuk :

  1. Melestarikan pelbagai kepercayaan dan praktik (keagamaan), yang sebagian besar tidak bisa diterima di daerah-daerah tertentu; dan
  2. Membatasi Islam hanya dalam bentuk ritual dan tidak menginspirasikan perubahan dalam kehidupan sosial, kultural dan material.

Muhammadiyah yang selalu di “elu-elukan” oleh warga persyarikatan maupun banyak orang diluar persyarikatan sebagai ormas terkaya dalam bidang amal usaha, gerakan Islam modernis, dan ormas terbesar nomor dua di Indonesia setelah Nahdlatul Ulama, ternyata memiliki krisis legitimasi dari para pengikutnnya. Hal ini ditunjukkan dengan polarisasi keyakinan dan bahkan pembangkangan terhadap manhaj Muhammadiyah ditingkat basis, seperti cabang dan ranting. Hal serupa juga tidak menutup kemungkinan dengan munculnya kecenderungan yang sama dan para pimpinan diberbagai tempat yang saat sekarang duduk sebagai pejabat teras di Pimpinan Daerah sampai Pusat.

Layaknya bakteri atau virus yang begitu cepat menyebar dan tidak pandang bulu untuk menyerang paradigma pengurus Muhammadiyah saja, melainkan para aktivis mudanya pun telah tertular kegenitan virus politik praktis.

Disinilah, bentuk-bentuk penjarahan anggota dan kader muda Muhamnaadiyah secara besar-besaran terjadi. Mereka yang di “gadang gadang” sebagai resources dan pelopor baru Muhammadiyah ternyata juga mengalami pembangkangan terhadap organisasi induknya.

Menurut hemat penulis, porak porandanya sistem maupun kondisi internal ini dikarenakan belum maksimalnya para pimpinan Muhammadiyah untuk menjawab kebutuhan – moral maupun spiritual – kadernya. Segala bentuk gagasan bertema purifikasi dan pembaharuan yang melangit dalam segala bidang selalu dikedepankan. Hal ini menjadikan para pimpinan terjebak dan bahkan tercerabut dari akar permasalahan. Peran mubaligh Muhammadiyah dengan sendirinya telah tergeser dengan munculnya para intelektual (meminjam istilah Kuntowijoyo) muslim tanpa masjid.

Para cendekiawan muslim Muhammadiyah ini terlahir dari rahim forum-forum ilmiah keagamaan, buku-buku ke-Islaman dan berbagai media yang menunjang dalam memenuhi kebutuhan masyarakat kontemporer. Tak pelak jika terkadang para cendekiawan produk Muhammadiyah ini gagap dalam menjawab masalah-masalah fundamental persyarikatan khususnya dan masyarakat umumnya.

Masih mungkinkah Persyarikatan Muhammadiyah membangkitkan kembali kesadaran solidaritas umat Islam dengan metode K.H. Ahmad Dahlan. Dengan menggunakan Al Qur’an Surat Al Maun terhadap rasa kepeduliannya dan solidaritasnya terhadap sesama. Mungkinkah di tengah masyarakat objek dakwah Persyarikatan Muhammadiyah, masyarakatnya sedang diterpa budaya hedonisme dan sekulerisme, kembali ke ajaran Islam?

Masih mampukah Persyarikatan Muhammadiyah membangkitkan kembali kesadaran berpartisipasi aktif menciptakan masyarakat bermartabat, dengan memedulikan duka nestapa yang diderita oleh anak yatim piatu dan fakir miskin korban kebijakan struktural? Kita tahu, Persyarikatan Muhammadiyah sekarang sudah membangun sarana pendidikan dari play group hingga perguruan tinggi serta pesantren modern. Akan tetapi, masih adakah guru dan dosen serta “dokter pejuang” seperti zaman K.H. Ahmad Dahlan. Kebijakan pendidikan Persyarikatan Muhammadiyah terlihat cenderung berorientasi memenuhi kebutuhan pendidikan untuk sesama, need of union, dengan sistem pendidikan pada umumnya.

sungguh, K.H. Ahmad Dahlan sedang menangis. Di tengah kegalauan kehidupankota, pelayanan masyarakat bawah dari Persyarikatan Muhammadiyah tidak dikenal oleh masyarakat. Hal itu tergantikan pelayanannya oleh Dompet Dhuafa (DD), Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid (DPU DT), Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU), Rumah Zakat Indonesia Dompet Sosial Ummul Quro (RZI DSUQ) dan sejenisnya. Realitas yang demikian ini, agaknya menjadikan K.H. Ahmad Dahlan menangis. Karena, Persyarikatan Muhammadiyah telah kehilangan aktivis dakwahnya yang dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakatkota dan desa.

VI. Tinjauan Kritis Pemikiran Ahmad Dahlan

Abdul Munir Mulkhan dalam beberapa kajiannya tentang geneologi intelektualitas Ahmad Dahlan mencatat adanya korelasi ideologis dalam beberapa pemikiran pendiri gerakan Muhammadiyah ini dengan pemikiran Ibn Taimiyah.

Pokok-pokok pandangan Ibn Taimiyah yang dinilai mempunyai pengaruh besar terhadap dinamika gerakan pembaharuan di dunia Islam, dan Ahmad Dahlan pada khususnya ialah:

Satu–satunya kunci untuk memahami Islam adalah al Quran dan Sunnah Rasul.

Ijtihad sebagai upaya memahami Islam dari sumber primer (al Quran dan sunnah) merupakan proses tidak pernah selesai.

Ummat Islam tidak harus dipimpin oleh hanya seorang khalifah.

Usaha yang dilakukan oleh manusia dengan mempergunakan kemampuan akal dan kecerdasan berpikirnya semata–mata untuk menemukan dan mencapai kebenaran mutlak, adalah suatu usaha yang mustahil.

Untuk memperoleh pemahaman yang tepat terhadap al Quran dan sunnah, perlu mempergunakan pendekatan dan contoh yang dilakukan oleh golongan salaf yang merupakan generasi pertama ummat Islam.

Gerakan reformasi Islam dalam dunia Arab modern dimulai dan disemai oleh para pemikir-pemikir Muslim rasionalis semenjak Rifa’at Tahtawi dan al-Tunisi. Puncaknya dalam gerakan pembaharuan Muhammad ‘Abduh. Dan `Abduh adalah cikal-bakal gerakan reformis yang ada sekarang ini. Hanya, kecenderungan dikotomis untuk menjadi “kiri” atau “kanan” dalam madzhab ‘Abduh semakin intens. Kelompok kiri penerus ‘Abduh semakin lama semakin kiri (menjadi sekular), dan kelompok kanan juga terus semakin kanan, atau memutuskan diri sama sekali dari kerangka ajaran sang imam, yaitu menjadi fundamentalis.

Wawasan keberagamaan Dahlan mengedepankan sikap inklusivitas, pluralitas dan relativitas dalam memandang sebuah pemahaman kebenaran. Kepribadian Dahlan ini sangat mewarnai corak penampilan Muhammadiyah pada fase–fase awal. Beliau menafsirkan Islam sebagai realitas yang dinamis dan hidup. Tafsir sosial Islam yang dilakukan Dahlan menyuarakan kepentingan pemihakan kepada konstruksi-konstruksi sosial yang marjinal, terjajah, dan tertindas oleh sebuah sistem otoritas/struktur sosial yang opresif.

Menurut Munir Mulkhan, kesatuan kemanusiaan di atas merupakan dasar berbagai gagasan KH. Dahlan tentang sikap kritis terhadap kebenaran yang selama ini diyakini pemeluk agama dan pemimpin agama. Begitu pula pemikiran tentang pentingnya sikap terbuka dan kesediaan untuk belajar kepada orang lain, walaupun kepada orang yang berbeda agama. Tampak jelas bahwa bagi KH. Ahmad Dahlan, Islam merupakan ajaran untuk pencapaian kesejahteraan dan perdamaian seluruh umat manusia.

VII. KESIMPULAN

Gerakan Muhammadiyah dikenal luas sebagai gerakan yang sangat dipengaruhi oleh gagasan modern dan reformis pembaru Mesir Muhammad Abduh (1849-1905), yaitu dimaksudkan untuk memurnikan Islam di Indonesia dari praktik-praktik khurafat tradisional yang tidak Islami. Dalam rangka memajukan program pembaruannya, Muhammadiyah menyerukan agar kaum Muslim kembali kepada Islam yang murni dan menafsirkan untur-unsur kebudayaan Barat dalam kerangka ajaran Islam.Dalam rangka mengintegrasikan kedua sistem pendidikan tersebut, K.H. Ahmad Dahlan  melakukan dua tindakan sekaligus; memberi pelajaran agama di sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, dan mendirikan sekolah-sekolah sendiri di mana agama dan pengetahuan umum bersama-sama diajarkan. Kedua tindakan itu sekarang sudah menjadi fenomena umum; yang pertama sudah diakomodir negara dan yang kedua sudah banyak dilakukan oleh yayasan pendidikan Islam lain. Namun, ide Beliau tentang model pendidikan integralistik yang mampu melahirkan muslim ulama-intelek masih terus dalam proses pencarian. Sistem pendidikan integralistik inilah sebenarnya warisan yang musti kita eksplorasi terus sesuai dengan konteks ruang dan waktu, masalah teknik pendidikan bisa berubah sesau dengan perkembangan ilmu pendidikan atau psikologi perkembangan.Setelah melihat sepak terjang K.H. Ahmad Dahlan dalam gagasan dan praktek pendidikan Islam melalui Muhammadiyahnya, kita tahu besar sekali jasa beliau dalam meletakkan pelajaran agama sebagai mata pelajaran di sekolah-sekolah pemerintah sampai saat ini dari pendidikan kanak-kanak sampai perguruan tinggi.Gagasan K.H. Ahmad Dahlan selanjutnya dijadikan inspirasi bagi penetapan bidang studi umum dan agama Islam yang wajib diberikan di sekolah dasar dan diikuti oleh murid-murid yang beragama Islam.Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan dalam bidang pendidikan berangkat dari keinginan untuk mewujudkan manusia yang mewakili kepribadian yang integral dan pengetahuan yang seimbang. Sehingga dipandang pentingnya memberikan pengetahuan agama bagi mereka yang berada di sekolha-sekolah umum dan pengetahuan umum bagi mereka yang selama ini belum pernah mendapatkannya.Tampak jelas dalam kurikulumnya bahwa kurikululum yang ditetapkan DikNas, pendidikan Muhammadiyah juga mengkompromikan pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Pada sekolah negeri pelajaran agama merupakan satu bidang studi. Sedang di pendidikan Muhammadiyah dibagi menjadi empat, yaitu akidah, al-Qur’an, tarikh dan akhlaqK.H. Ahmad Dahlan dapat dikatakan sebagai peletak dasar pemikiran Muhammadiyah yang tidak bersikap apriori terhadap Barat. Ia melihat kemajuan yag dibawa Barat dan ia bekeyakinan bahwa salah satu jalan untuk mengankat umat Islam adalah dengan mendidik mereka dalam lembaga pendidika yang mempunyai system yang tersendiri sebagai hasil pemikirinannya. Lembaga-lembaga pendidikan inilah yang kemudian menjadi sarana pelestarian hasil-hasil keputusan tarjih.

VIII. PENUTUP

Demikian pemaparan makalah dari saya semoga bermanfaat. Semoga kita dapat melakukan dan memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan kita dengan menghadapi semua kesulitan sebagai bagian dari suatu tatanan pendidikan kita yang sempurna.
Billahi fi sabilil haq fastabiqul khairat.

DAFTAR PUSTAKA

  • Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007).
  • Abdul Munir Mulkhan, Prof.Dr.SU, Kisah dan Pesan Kiai Ahmad Dahlan (Yogyakarta: Pustaka, 2005)
  • Abuddin Nata, FIlsafat Pendidikan Islam (Edisi Baru) (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005)
  • Ahmad Mansur Suryanegara, Prof.Ph.D,Filsafat Sejarah (Makalah Mata Kuliah), (Jurusan SPI Fak.Adab IAIN SGD, Bandung, 2003)
  • Ali Asyraf, Horison Baru Pendidikan Islam,terjemahan, Sori Siregar (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993).
  • Alfian, Muhammadiyah The Political Behavior of Allah SWT Muslim Modernist Organization Undr Dutch Colonialism(Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1085)
  • Alwi Shihab, Membendung Arus Resopn Gerakan Muhammdiyah Terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia (Bandung: Mizan, 1998)
  • Amir Hamzah Wirjosukarto,Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam(Jember, Mutiara Offset, 1985)
  • Arbiyah Lubis, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh (Jakarta: Bulan Bintang, 1993)Clifford Geertz, The Religion of Java (New York: The free Press of Glencoe, Inc., 1961)
  • Berita Resmi Muhammadiyah (BRM) No.23/April 1995 Delia Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942I (Jakarta: LP3ES, 1995) Disertasi tidak diterbitkan, Ahmad Tafsir, Konsep Pendidikan Formal dalam Muhammadiyah (Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah, 1987)
  • Achmad Jainuri, The Muhammadiyah Movement in Twentieth Century Indonesia Allah SWT social Religius Study (Canada: Tesis Mc. Gill University Montrealm 1992)
  • Dja’far Siddik, Konsep Pendidikan Islam Muhammadiyah Sistematisasi dan Interpretasi Berdasarkan Perspektif Ilmu Pendidikan(Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 1997)
  • Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2001) Hamka, Kenang-kenangan Hidup I (Jakarta: Gapura, 1951) http://immgunungjati.wordpress.com/2007/11/13/rekonstruksi-pemikiran-kh-ahmad-dahlan/ Download pada tanggal 9 April 2008-04-18 Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah, (Jakarta: LP3ES, 1994)
  • KRH. Hadjid, Pelajaran K.H. Ahmad Dahlan 7 Falsafah Ajaran dan 17 Kelompok Ayat al-Qur’an (Yogyakarta: LPI PPm, 2005).
  • M. Margono Poesposuwarno, Gerakan Islam Muhammadiyah (Yogyakarta: Persatuan Offet, 1995)
  • M. Yusron Asrofie, K.H. Ahmad Dahlan Pemikiran dan Kepemimpinannya (Yogyakarta: Yogyakarta Offset, 1983)
  • Mark R. Woodward, Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta (Tucson: The University of Arizona Press, 1989)
  • Muhammad Syamsu As, Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya(Jakarta: Lentera, 1999)
  • MT. Arifin, Muhammadiyah: Potret yan Berubah (Surakarta: Institut Gelanggang Mukti A. Ali, The Muhammadiyah Movement: Allah SWT Bibliographical Introcution”, Tesis Master pada Institute of Islamic Studies (Mc Gill Univercity, Montreal, 1957)
  • Pedoman Guru Muhammadiyah, seri M.P.P. No. % (Jakarta: PP Muhammadiyah Majlis P.P.K, 1997 Pemikiran Filsafat Sosial BUdaya dan Kependidikan, 1990)Profil Anggota Muhammadiyah, LP UMY, Yogyakarta, 2000 Robert van Neil, From Netherlands East Indies to Republic ofIndonesia 1900-1945, dalam Harry Aveling (ed), The Development of Indonsesian Society(New York: St. artin Press, 1980)
  • Sri Setyatiningsih dan Sutrisno Katoyo,Sejarah Pendidikan DIY (Yogyakarta: Depdikbud, 1982)
  • Syaifullah, Gerakan Politik Muhammadiyah Dalam Masyumi, (Grafiti Pers, Jakarta, 1997)
  • Solichin Salam, Muhammadijah dan Kebangunan Islam di Indonesia, (NV Mega, Jakarta, 1965)
  • Tim MPK PP Muhammadiyah, Sistem Perkaderan Muhammadiyah (Yogyakarta: MPK PP Muhammadiyah, 2008)
  • Sukrianta & Abdul Munir Mulkhan,Perkembangan Pemikiran Muhammadiyah Dari Masa Ke Masa, Dua Dimensi, Yogyakarta, 1985 Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis(Jakarta: Ciputat Pers, 2002).
  • Suara Muhammadiyah, Edisi Sabtu, 9 Februari 2008 Syamsi Sumardjo, Pengetahuan Muhammadiyah dengan Tokoh-tokohnya dalam Kebangunan Islam (Yogyakarta: P.B. Muhammadyah, 1976)
  • Syed Sajjad dan Syed Ali Ashraf, Crist in Muslim Education (Jeddah: Hodder and Stonghton 1979)
  • Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam,Yogyakarta: Ar-Ruzz, 2006 Weinata Sairin,Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah(Jakarta: Pustaka SInar Harapan, 1995)
  • Winarno SUrakhmad, dkk, Reformasi Pendidikan Muhammadiyah Suatu Keniscayaan(Yogyakarta: Pustaka Suara Muhammadiyah, 2003)
  • Yunus Salam, K.H. Ahmad Dahlan Reformer Islam Indonesia (Jakarta: Djajamurni, 1963). —————–, K.H. Ahmad Dahlan dan Amal Perjuangan (Jakarta: Depot Pengajaran Muhammadiyah, 1968)
  • [1]. Jajang Jahroni, Modernisme dan Radikalisme Islam di Indonesia: Menafsirkan Warisan Muhammad Abduh dan Rashīd Ridhā (Book Riview: Giora Eliraz, Islam in Indonesia, Modernism, Radicalism, and the Middle East Dimension, Great Britain: Sussex Academic Press, 2004, xi + 142 pages), Studia Islamika, Vol. 11, No. 3, 2004, Hlm. 577
  • [2]. Ali Mahdi Khan, Dasar-dasar Filsafat Islam, Pengantar ke Gerbang Pemikrian, diterjemahkan dari “The Elements of Islamic Philosophy, Bandung, Nuansa, 2004, hlm. 23-24.
  • [3]. Ensiklopedi Islam/penyusun, Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Cet.4,Jakarta, Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997, hlm.83.
  • [4] Wikipedia, Ensiklopedia Bebas, kata kunci:http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Dahlan
  • [5]. Herry Muhammad dkk, Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh abad 20; Cet.1, Jakarta, Gema Insani Press, 2006, hlm.8
  • [6] Abdul Munir Mulkhan, Pemikiran Kyai Ahmad Dahlan dan Muhamadiyah; dalam perspektif perubahan sosial, Cet.I,Jakarta, Bumi Aksara, 1990,hlm.6
  • [7]. Abdul Munir Mulkhan, Etika Welas Asih dan Reformasi Sosial Budaya Kiai Ahmad Dahlan, (Artikel publikasi)” Yogyakarta
  • [8]. Herry Muhammad dkk, Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh abad 20; Cet.1, Jakarta, Gema Insani Press, 2006, hlm.9
  • [9]. Herry Muhammad dkk, Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh abad 20; Cet.1, Jakarta, Gema Insani Press, 2006, hlm.11
  • [10]. Al Quran Terjemahan Elektronik,Surat Ali Imran, Ayat, 104
  • [11]. Herry Muhammad dkk, Tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh abad 20; Cet.1, Jakarta, Gema Insani Press, 2006, hlm.10
  • [12]. Amir Hamzah Wirjosukarto,Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam,h.95-96
  • [13]. Lihat, Amir Hamzah Wirjosukarto,Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam(Jember, Mutiara Offset, 1985), h. 92. Lihat juga Pedoman Guru Muhammadiyah, seri M.P.P. No. % (Jakarta: PP Muhammadiyah Majlis P.P.K, 1997), h. 26. Tujuan pendidikan Muhammadiyah secara umum yang lain berbunyi: “Terwujudnya manusia musli yang berakhlak mulia, cakap, percaya pada diri sendiri berguna bagi masyarakat dan negara. Selanjutnya tujuan tersebut disempurnakan lagi, sehingga berbunyi: (i) terwujudnya manusia muslim yang berakhlak mulia cakap, percaya pada diri sendiri dan berguna bagi masyarakat dan negara, beramal menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, (ii) memajukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan ketrampilan untuk pembangunan masyarakat dan Negara RI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Tujuan ini tercantum dalam Kaidah Perguruan Dasar dan Menengah masyarakat pasal 3 Persyarikatan Muhammadiyah Badan Hukum yang menyelenggarakan Sekolah dan Terguruan Tinggi, pasca kepemimpinan K.H. Ahmad Dahlan.
  • [14]. Ibid, h. 98-108
  • [15]. Bahan pelajaran tersebut di samping pelajran Qur’an dan hadis adalah kitab-kitab fiqh (mazhab Syafi’i), ilmu tasawuf (al-Ghazali), Ilmu kalam (ulama-ulama Ahl Sunnah) ditambah dengan kitab Risalah al-Tauhid (Muhammad Abduh), kitab Jalalain dan al-Manar. Sedangkan pengetahuan umumnua meliputi: ilmu sejarah, berhitung, menggambar bahasa Melayu, bahasa Belanda dan Inggris. Lihat: Amir Hamzah Wirjosukarto, Pembaharuan Pendidikan, h. 122-123
  • [16]. K.H. Ahmad Dahlan pada masa hidupnya banyak menganut fiqh mahzab Syafi’i, termasuk mengamalkan qunut dalam shalat subuh dan shalat tarawih 23 rakaat. Namun, setelah berdiriya Majelis Tarjih pada masa kepemimpinan Kyai Haji Mas Mansyur, terjadilah revisi –revisi setelah melakukan kajian mendalam, termasuk  keluarnya  Putusan Tarjih yang menuntunkan tidak dipraktikkannya do’a qunut di dalam shalat subuh dan jumlah rakaat shalat tarawih yag sebelas rakat. “ Ini wujud keterbukaan Muhammadiyah yang tidak fanatik”.Karena ini Muhammadiyah bukan Dahlaniyah. Dahulu ketika  Ahmad Dahlan muda  bermukin di Makkah, sempat belajar kepada Syaikh Ahmad Khatib yang saat itu juga  bersama Hasyim Asyari yang kemudian menjadi salah satu pendiri Nadhatul Ulama. Karena Kyai Ahmad Khatib adalah seorang ulama bermahzab Syafii, maka praktik ibadah Kyai Dahlan banyak yang mengikuti fiqh Mahzab Syafii.  Hanya saja, karena Kyai Dahlan mendapat tugas dari Syaikh Ahmad Khatib untuk mempelajari Al Mannar, karya Rasyid Ridha, maka Kyai Dahlan terpengaruh juga dengan pemikiran Rasyid Ridha yang menekankan tidak bermahdzab. “Contohnya, bila ada satu masalah yang kuat dasarnya Mahzab Syafii yang dianut Mahzab Syafii, kalau suatu masalah kuat Mahzab Hanafi, yang dianut Mahzab Hanafi”. Hal inilah yang kemudian dianut Muhammadiyah, termasuk dalam pengambilan Putusan Tarjih. Demikian dikatakan Dr. Yunahar Ilyas ditengah Pengajian Mahasiswa, kamis (7/02/2008) di Kantor PP Muhammadiyah, Jl Cik Di Tiro Yogyakarta. Lihat: Suara Muhammadiyah , Edisi 9 Februari 2008
  • [17]. Karel. K. Steenbrink, Pesantren, Madrasah, Sekolah, h. 54-55
  • [18] K.H. Ahmad Dahlan sering mengajak murid-muridnya mengunjungi gereja dan sekolah-sekolah misi untuk menunjukkan dedikasi tinggi yang diberikan oleh para misionaris terhadap tugas-tugas baik yang bersifat keagamaan maupun social. Tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan semangat juang para muridnya.  Lihat juga Robert ban Neil, The Emergence of the Modern Indonesian Elite, h. 85
  • [19], Alfian Muhammadiyah, h. 150. Lihat juga Arifin, Muhammadiyah , h. 64-66
  • [20]. Mengenai Pembaharuan K.H. Ahmad Dahlan di bidang Pendidikan, lihat Mukti Ali, The Muhamadiyah Movement, h. 53
  • [21]. Kata “pesantren” secara harfiah berarti tempat atau sekolah untuk santri. Kata santri pada mulanya berarti para siswa yang belajar di sekolah-sekolah Islam. meskipun demikian, dalam masarakat Jawa, kata ini memperoleh makna yang lebih luas. Kata ini dulu, dan hingga sekarang masih digunakan untuk menunjuk kelompok kaum muslaim ortodoks yang taat menjalankan perintah-perintah agama. Karena itu, pesantren bukanlah sebagaiman ayang digambarkan Geertz sebagai sekolah elompok teligius yang kesalehannya mencerminkan produk sintesis antara Islam dan agama Jawa para-Islam yang jauh dariortodoksi Islam. pada kenyatannya, pesantren dibangun sebagai dan perlahan-lahan berkembang menjadi jantung Islam ortodoks di wilayah pedesaan di seluruh Indonseia, meskipun disebut dengan nama-nama yang berbeda. Pendidikan yang diberikan disekolah-sekolah ini, setidak-tidaknya hingga berdirinya Muhammadiyah , hanya terdiri dari ilmu agama. Pengajaran diberkan dengan cara yang tidak formal, dengan cara para murid duduk mengelilingi guru mereka. Muhammadiyah berdiri untuk memodernisasikan lembaga-lembaga ini, dengan memasukkan pengajaran ilmu-ilmu sekuler da penerapan system pengajaran baru. Bahkan dapat dikatakan, salah satu sumbangan khas Muhammadiyah dalam bidang pendidikana adalah dengan mengadakan pendidikan Islam yang melampaui system pendidikan pesantren yang tradisionalis ini. Lihat, Clifford Geertz,The Religion of Java (New York: The free Press of Glencoe, Inc., 1961), h. 125. Lihat juga Mark R. Woodward, Islam in Java: Normative Piety and Mysticism in the Sultanate of Yogyakarta(Tucson: The University of Arizona Press, 1989), h. 79-80
  • [22].Setelah dapat dipastikan, bahwa Muhammadiyah bersika kooperatif. Pemerintahan HindiaBelanda memberikan penghargaan atas itu semua, berupa perangko pos yang berlogokan Muhammadiyah dan K.H. Ahmad Dahlan. Ini merupakan salah satu kunci keberhasilan K.H. Ahmad Dahlan dalam merealisasikan program pembaharuan pendidikannya diIndonesia saat itu
  • [23]. Ini menjadi pe-er besar bagi kita bersama untuk menindaklanjuti yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan dengan melakukan studi komparatif antara system pendidikan Kristen dan system pendidikan Islam sehingga diharapkan akan tercipta sebuah paradigma baru bagi dunia pendidikan Islam.
  • [24]. Lihat, Abudina Nata, Filsafat Pendidikan Islam, h. 208
  • [25]. Samsul Nizar, Filsafat PendidikanIslam, h. 103-104
  • [26]. A. Mukti Ali, The Muhammadiyah Movement, h. 32
  • [27]. Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan,Filsafat Pendidikan Islam, h. 276

Sumber

  • ^ocudom.blogspot.co.id/2013/05/pokok-pokok-pikiran-ahmad-dahlan.html?m=1
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s