Lanjutan dari: Ada Unsur Adu Domba Teori Evolusi Darwin Dengan Islam (2)


Menurut pakar evolusi Richard Dawkins, Oktar “tidak mengerti apapun mengenai zoologi, tidak mengerti apapun mengeni biologi. Dia tidak mengerti apapun mengenai apa yang dia berusaha bantah.

Di Prancis, para ilmuwan berbicara menentang bukunya, sedangkan para ilmuwan Amerika tidak terkesan dengan bukunya.

Oktar menerbitkan volume 1 bukunya,Yaratılış Atlası (Atlas Penciptaan), bersama Global Publishing di Istanbul, pada bulan Oktober 2006.

Volume 2 dan 3 menyusul pada tahun 2007. Situs web terkait (yaratilisatlasi.com), yang didaftarkan kepada Global Yayıncılık (Global Publishing) di Istanbul, ditampilkan secara daring pada tahun 2007 juga.

Buku ini memiliki ukuran 11 x 17 inci dan berat 12 pon, dengan sampul merah cerah dan sekitar 800 halaman mengkilap, sebagian besar halamannya disertai gambar dengan kualitas yang sangat baik. Penampilan buku tersebut membuat New York Timesmenganggap “Atlas Penciptaan” sebagai “barangkali merupakan tantangan kreasionis yang terbesar dan terindah terhadap teori Darwin, yang oleh Tuan Yahya disebut ideologi yang rapuh dan sesat dan bertentangan dengan Quran”. Ribuan kopi buku ini disebarkan secara sukarela (tanpa diminta) ke sekolah, ilmuwan dan lembaga penelitian terkemuka di seluruh Eropa dan Amerika Serikat.

Biolog Kevin Padian dari Universitas California, Berkeley, berkata bahwa orang yang telah menerima buku ini “kagum saja atas ukuran nilai produksinya dan juga terkejut atas muatan sampah yang terdapat di dalamnya.” Dia menambahkan bahwa “[Oktar] tidak benar-benar tahu mengenai apa yang kita ketahui terkait bagaimana segala sesuatu berubah seiring waktu.”

Pakar Biologi PZ Myers menulis:

Pola umum dalam buku ini diulang-ulang dan mudah diprediksi: buku ini menunjukkan foto fosil dan foto hewan hidup, lalu menyatakan bahwa hewan tersebut tidak berubah sedikitpun, sehingga evolusi disebutnya salah. Ini dulang-ulang berkali-kali. Buku ini dengan cepat menjadi membosankan, dan secara umum isinya keliru (hewan-hewan tersebut memang berubah!) dan foto-fotonya, meskipun indah, seluruhnya dipasang tanpa izin.
— PZ Myers

Komite Budaya, Sains, dan Pendidikan diMajelis Parlemen Majelis Eropa menulis dalam laporannya:

… metode pseudo-ilmiah yang dia terapkan dalam Atlas Penciptaan tidak bisa dianggap ilmiah … Lagipula, karena dia hanya membandingkan foto-foto fosil dengan foto-foto spesies saat ini, dia tidak memberikan bukti atas pernyataannya. … pada halaman 60 kita melihat foto yang indah dari fosil ikan “perch” dengan klaim bahwa ikan ini tidak berevolusi selama jutaan tahun. Namun, hal ini salah: studi yang terinci dari fosil ini dan spesies yang hidup sekarang membuktikan bahwa mereka telah banyak berevolusi. Sayang sekali, buku ini penuh dengan dusta semacam ini. Tidak ada argumen dalam buku ini yang didasarkan pada bukti ilmiah, dan buku ini lebih nampak seperti risalah keagamaan primitif daripada sanggahan ilmiah terhadap teori evolusi.
— Komite Budaya, Sains, dan Pendidikan, Majelis Parlemen Majelis Eropa

Richard Dawkins, pakar evolusi terkemuka, menulis resensi mengenai tulisan Harun Yahya, dan menunjukkan sejumlah kesalahan fakta, seperti identifikasi spesies yang keliru, dan pemakaian foto yang tidak menunjukkan spesies yang sesungguhnya ada. Selanjutnya, Dawkins mengatakan bahwa Harun Yahya tidak memahami apa yang berusaha dia bantah.

Kesalahan-Kesalahan Fatal Buku Harun Yahya Adalah Bukti Bahwa Harun Yahya Mengadu Domba Islam & Sains

Seperti diceritakannya sendiri, nama Harun Yahya dipilih sebagai nama pena untuk mengenang dua nabi yang berjuang melawan kelemahan iman kaumnya.

Sekitar empat tahun lalu, sejumlah ilmuwan biologi dan kedokteran menerima kiriman gratis buku mewah berjudul “Atlas of Creation”. Menurut taksiran orang, melihat mutu cetakan dan kemewahan kertas yang diggunakan, serta foto-foto kualitas tinggi yang menghiasi hampir seluruh halaman buku setebal 904 halaman itu, ongkos produksinya bisa mencapai $100. Sayangnya para penerima kiriman ini hanya terkesan kepada tampilan bukunya saja, bukan kepada isinya.

Kebanyakan dari penerima menganggap isi buku ini sampah. Bukunya terlalu bagus untuk langsung masuk keranjang sampah, tetapi dianggap tidak sepadan untuk bersanding dengan buku-buku ilmiah yang mereka miliki.

Anda dapat mengunduh buku ini, dan semua buku Harun Yahya, dari website harunyahya.com atau harunyahya.net, gratis, dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Atlas of Creation 39 MB, sedangkan Atlas Penciptaan 49 MB.

Melihat luasnya cakupan bahasan dan banyaknya jumlah foto yang ditampilkan, saya kira buku ini disusun oleh suatu tim, lalu diimbuhi komentar oleh Harun Yahya, yang hampir selalu sama bunyinya: “Tidak ada evolusi. Semua makhluk diciptakan Tuhan”.

Bab yang hilang

Didalam daftar isi versi bahasa Inggris dengan versi bahasa Indonesia, ada bab yang hilang dalam versi bahasa Indonesia, yaitu bab “Various Fossils”. Gambar pada artikel ini tidak ada dalam versi bahasa Indonesia.

Berikut kutipan narasinya:

“Just as sourcherries have always existed as sourcherries, apples also have always been apples. The apple did not emerge by descent from some other peculiar fruit. Darwin’s claim, proposed some 150 years ago, that living things are descended from one another through very small changes, still lacks any confirmatory evidence, despite the passage of all those years. The evolutionist Richard Darwkins admits this “painful” fact for evolutionists: One hundred and twenty five years on, we know a lot more about animals and plants than Darwin did, and still not a single case is known to me of complex organs that could not have been formed by numerous successive slight modifications. I do not believe that such a case will ever be found. (Richard Dawkins, The Blind Watchmaker, p.91)”

Terjemahannya:

“Sebagaimana sourcherry tetap saja sourcherry, apel juga dari dulu sampai sekarang tetap saja apel. Apel tidak berasal dari buah lain sebelumnya. Pernyataan Darwin bahwa makhluk hidup diturunkan dari makhluk lain sebelumnya melalui perubahan-perubahan kecil yang terjadi pada setiap generasi, masih kekurangan bukti. Padahal sudah 150 tahun waktu berlalu sejak pernyataannya itu. Penganut evolusi Richard Dawkins mengakui kenyataanyang menyedihkan ini, dan ia tulis dalam bukunya, The Blind Watchmaker, halaman 91, sbb.: Sudah lewat 125 tahun, kita sudah memahami hewan dan tumbuhan jauh lebih baik dari Darwin, tetapi belum ditemukan satu kasus pun mengenai organisme yang kompleks yang terbentuk tanpa melalui proses perubahan-perubahan kecil dari generasi ke generasi. Saya yakin (organisme kompleks yang langsung jadi) itu tak akan ditemukan”.

Adnan Oktar (atau stafnya?) salah memahami kalimat Dawkins. Dawkins menyatakan tak ada yang langsung jadi, sedangkan Oktar mengira Dawkins pusing tujuh keliling karena segala sesuatu langsung jadi. Menurut kabar, Oktar adalah orang kaya di Turki, sehingga ia dapat melakukan apa saja sesuka hati. Misinya adalah mendakwahkan Islam. Yang ini baik, tetapi rupanya ia bukan ilmuwan, dan menyerang Darwin sebagai biang keladi kekacauan dunia (fasisme, terorisme).

Saya kira Darwin tidak menyebarkan paham apapun. Dia hanya menuliskan laporan perjalanan dan menyusun hipotesa berdasarkan data yang dia peroleh. Bahasa Darwin lemah lembut, tapi agak sulit dipahami karena kalimatnya panjang-panjang, dan bahasa Inggris dua abad yang lalu. Banyak kutipan bahasa Perancis yang dia anggap pembacanya langsung mengerti. Buku Darwin juga dapat diunduh dari website Project Guttenberg.

Harun Yahya –saddadahullahu- adalah diantara cendekiawan dan saintis muslim yang juga terperosok ke dalam kesalahan yang cukup fatal di dalam masalah aqidah.

Kesalahan-kesalahan beliau ini tersebar di mayoritas buku-bukunya yang membicarakan tentang Islam. Kami tidak menutup mata dari mashlahat yang beliau berikan bagi ummat di dalam membela Islam dan membantah faham-faham materialistis saintifis. Namun, biar bagaimanapun beliau adalah manusia yang kadang salah kadang benar, sehingga kita wajib menolak kesalahan-kesalahannya dan wajib menerangkannya kepada ummat agar ummat tidak terperosok ke dalam kesalahan yang sama. Semoga Allah menunjuki diri kami, diri beliau dan seluruh ummat Islam.

Beliau memiliki kesalahan-kesalahan yang fatal di dalam buku-bukunya, diantaranya yang berjudul EVOLUTION DECEIT (Keruntuhan Teori Evolusi) yang menunjukkan pemahamannya terhadap Aqidah dan Tauhid yang keliru. Bab yang menunjukkan kesalahan ini diantaranya terdapat di dalam bab ”The Real Essence of Matter”.

Harun Yahya –saddadahullahu- berkata di dalam pembukaannya di dalam “Where is God?” (Dimana Tuhan) pada halaman 175:

“The basic mistake of those who deny God is shared by many people who in fact do not really deny the existence of God but have a wrong perception of Him. They do not deny creation, but have superstitious beliefs about “where” God is. Most of them think that God is up in the “sky”. They tacitly imagine that God is behind a very distant planet and interferes with “worldly affairs” once in a while. Or perhaps that He does not intervene at all: He created the universe and then left it to itself and people are left to determine their fates for themselves. Still others have heard that in the Qur’an it is written that God is everywhere” but they cannot perceive what this exactly means. They tacitly think that God surrounds everything like radio waves or like an invisible, intangible gas. However, this notion and other beliefs that are unable to make clear “where” God is (and maybe deny Him because of that) are all based on a common mistake. They hold a prejudice without any grounds and then are moved to wrong opinions of God. What is this prejudice?”

Yang artinya adalah:

“Kesalahan mendasar bagi mereka yang mengingkari Tuhan yang tersebar pada kebanyakan orang adalah pada kenyataannya mereka tidaklah mengingkari keberadaan Tuhan itu sendiri, namun mereka memiliki persepsi yang berbeda terhadap Tuhan. Mereka tidaklah mengingkari penciptaan, namun mereka memiliki keyakinan takhayul mengenai “dimanakah” Tuhan itu berada. Mayoritas mereka beranggapan bahwa Tuhan berada berada di atas ”Langit”. Mereka secara diam-diam membayangkan bahwa Tuhan berada di balik planet-planet yang sangat jauh dan turut mengatur ”urusan dunia” sesekali waktu. Atau mungkin Tuhan tidak turut campur tangan sama sekali. Dia menciptakan alam semesta dan membiarkan apa adanya dan manusia dibiarkan begitu saja mengatur nasib mereka masing-masing. Sedangkan lainnya, ada yang pernah mendengar bahwa Tuhan ”ada di mana-mana”, namun mereka tidak dapat memahami maksud hal ini secara benar. Mereka secara diam-diam berfikir bahwa Tuhan meliputi segala sesuatu seperti gelombang radio atau seperti udara yang tak dapat dilihat ataupun diraba. Bagaimanapun juga, dugaan ini dan keyakinan lainnya yang tidak mampu menjelaskan ”dimanakah” Tuhan berada (atau bahkan mungkin mengingkari Tuhan dikarenakan hal ini), seluruhnya adalah kesalahan yang lazim terjadi. Mereka berpegang pada praduga yang tak berdasar dan akhirnya menjadi keliru di dalam memahami Tuhan. Apakah prasangka ini??”

Kemudian beliau sampai kepada perkataan filsafat sebagai berikut (hal. 189):

“Consequently it is impossible to conceive Allah as a separate being outside this whole mass of matter (i.e the world) Allah is surely “everywhere” and encompasses all.

Yang artinya:

“Maka dari itu, merupakan suatu hal yang mustahil untuk memahami Allah sebagai suatu Dzat yang terpisah
dari keseluruhan massa partikel/materi (yaitu dunia), Allah secara pasti “berada di mana-mana” dan meliputi segala sesuatu.”

Perkataan ini jelas-jelas perkataan kaum shufiyah, bahkan menyimpan pemahaman konsep Wihdatul Wujud. Pemahaman ini jelas-jelas suatu kekeliruan yang nyata dan fatal yang setiap muslim dan mukmin harus baro’ (berlepas diri) darinya. Karena Ahlus Sunnah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala beristiwa di atas Arsy-Nya di atas Langit, Dzat-Nya terpisah dari makhluk-Nya dan Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.

Harun Yahya –saddadahullahu- menulis di halaman 190 tentang ”kedekatan Allah secara tidak terbatas” terhadap makhluk-Nya dengan membawakan dalil:

”Jika hamba-hamba-Ku bertanya tentang-Ku, sesungguhnya Aku dekat.” (Al-Baqoroh : 186)

”Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu: “Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia.”(Al-Israa’ : 60)

Harun Yahya juga membawakan ayat yang berhubungan dengan kedekatan Allah terhadap manusia tatkala
sakaratul maut, yaitu :

”Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih
dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.” (Al-Waaqi’ah : 83-85)

Padahal ayat-ayat yang dibawakan oleh Harun Yahya ini, tidak sedikitpun menunjukkan pemahaman bahwa:

Allah Dzat Allah ada dimana-mana, namun menurut pemahaman Ahlus Sunnah yang dimaksud oleh Firman Allah di atas adalah, “Ilmu” Allah-lah yang meliputi segala sesuatu. Sebagaimana dikatakan oleh al-Imam
Sufyan ats-Tsauri, tatkala ditanya tentang ayat wa huwa ma’akum ayna ma kuntum (Dia berada dimanapun
kamu berada), beliau berkata: “Yang dimaksud adalah Ilmu-Nya.” (Khalqu Af’alil Ibad, Imam Bukhari)

Harun Yahya berkata pada permulaan halaman 190 sebagai berikut:

“That is, we cannot perceive Allah’s existence with our eyes, but Allah has thoroughly encompassed our inside, outside, looks and thoughts….”

Yang artinya:

“Oleh karena itulah, kita tidak dapat membayangkan keberadaan Allah dengan mata kita, namun Allah benar-benar sepenuhnya meliputi bagian luar, bagian dalam, pengelihatan, pemikiran…”

Ucapan ini adalah ucapan yang keliru dan bathil. Ini adalah pemahaman filsafat shufiyah jahmiyah mu’tazilah.

Sungguh, keseluruhan bab yang berjudul “The real essence of Matter” benar-benar diselaraskan dengan filosofi Harun Yahya terhadap aqidahnya.

Yang apabila diringkaskan keseluruhan bab ini menjadi satu kalimat, yaitu:

“That there is no US, the WORLD is not REAL, Allah is REAL, so ALLAH is EVERYWHERE and WE ARE an ILLUSION”

Yang artinya:

“Bahwa kita ini tidak ada, dunia itu tidak nyata, Allah sajalah yang nyata, oleh karena itu Allah berada di mana-mana sedangkan kita hanyalah ilusi belaka.”

Hal ini tersirat di dalam perkatannya di halaman 193:

“As it may be seen clearly, it is a scientific and logical fact that the “external world has no materialistic reality and that it is a collection of images perpetually presented to our soul by God. Nevertheless, people usually do not include, or rather do not want to include, everything in the concept of the “external world”.

Yang artinya:

“Sebagaimana telah tampak secara nyata, merupakan suatu hal yang saintifis dan fakta bahwa dunia eksternal tidak memiliki materi yang realistis dan dunia eksternal hanyalah merupakan kumpulan gambaran yang secara terus menerus berada di dalam jiwa kita oleh Tuhan. Walau demikian, manusia seringkali tidak memasukkan, atau lebih jauh tidak mau memasukkan, segala sesuatu ke dalam konsep “dunia luar”.”

Ucapan ini berlanjut hampir pada keseluruhan bab, dan hal ini tentu saja suatu penyimpangan yang fatal dan dapat menimbulkan syubuhat terhadap para pembaca buku ini, karena biar bagaimanapun buku ini mengandung data-data saintifis, bukti-bukti rasional dan bantahan-bantahan ilmiah rasionalis terhadap kaum materialistis. Oleh karena itu menjelaskan kesalahan-kesalahan aqidah dan selainnya adalah suatu keniscayaan dan kewajiban, karena membela al-Haq lebih dicintai dari seluruh perkara lainnya.

Poin-poin kesalahan pemahaman Harun Yahya di dalam bukunya EVOLUTION DECEIT (dan selainnya), sebagai berikut :

  1. Harun Yahya memiliki perkataan yang bernuansa shufiyah kental, yakni meyakini pemahaman ”Allah ada dimana-mana”, bahkan beliau memiliki perkataan yang mengarah kepada konsep Wihdatul Wujud yang kufur, semoga Allah memberinya hidayah dan mengampuninya.
  2. Harun Yahya memiliki aqidah yang serupa dengan Qodariyah-Mu’tazilah di dalam masalah Qodar (Taqdir), sebagaimana secara jelas terlihat pada tulisannya di halaman 190 akhir.
  3. Harun Yahya memiliki aqidah yang dekat kepada Jahmiyah di dalam menolak sifat-sifat Allah, terutama sifat istimewa Allah di atas Arsy-Nya dan Arsy-Nya berada di atas langit.


Selanjutnya: Ada Unsur Adu Domba Teori Evolusi Darwin Dengan Islam (Bagian 4: Kasus-Kasus Hukum Harun Yahya)

Iklan

3 responses »

  1. […] Lanjutan dari: Ada Unsur Adu Domba Teori Evolusi Darwin Dengan Islam (Bagian 3) […]

    Suka

  2. sayyid berkata:

    Assalamualaikum wr.wb,
    Dik Ari,

    Sebenarnya adnan oktar bukan seorang ilmuwan apalagi orang yg memahami alquran dan beliau suka berkoar-koar di tv.

    Pahaman mengenai evolusi sebenarnya ulah yahudi yg tidak bertuhan dan juga tidak mempunyai dasar.

    Pemahaman penciptaan adam dan hawa pun sudah di rusak oleh mereka termasuk juga big bang.

    Manusia purba juga pun sebenarnya ulah mereka semua.

    Mereka menganggap bahwa tuhan kita adalah tukang sulap padahal Tuhan kita adalah Pencipta yg berdasarkan sunnatullahNYA.Segala sesuatu kejadian mempunyai proses.

    Akan bersambung.

    wassalamualaikum wr.wb,

    ustad sayyid

    Suka

  3. sayyid berkata:

    Saya lanjutkan pendapat saya diatas.
    Apakah ada manusia purba sebelum adam?
    Beberapa ulama berpendapat bahwa surat albaqarah ayat 30,
    menerangkan penciptaan manusia sebelum adam, oleh karena kecemasan para malaikat.

    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

    padahal pengartian ayat ini adalah sbb,
    Allah ingin menjadikan khalifah (manusia) dimuka bumi yaitu makhluk nyata yaitu makhluk cerdas yg dapat hidup di bumi dan dapat menikmati hasil usahanya sendiri dari bumi dan semua kebutuhannya dari bumi.
    makhluk ini sudah tentu mempunyai nafsu yaitu nafsu makan ,bekerja dan tentunya berkembang biak dan sudah tentu juga dapat merusak dan menumpahkan darah. Makhluk nyata ini (khalifah) sudah tentu sangat berbeda dengan para malaikat yg tidak mempunyai nafsu,tugas mereka hanya bertasbih,memuji dan mensucikan Allah saja,tetapi Allah telah menenteramkan kegelisahan mereka dengan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu keteahui”.

    Sebelum Allah menciptakan manusia, Allah sudah menegaskan keberadaan dinosaurus (makhluk purba) pada alquran,
    Alquran surat fushilat ayat 9/10.
    Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam”.Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.

    Ingatlah bahwa penciptaan alam semesta secara totalitas dalam 6 masa,
    ayat diatas ini menerangkan 4 masa berarti Adam dan hawa saat ini belum terciptakan.
    makhluk purba (dinosaurus) hidup dalam 2 masa yaitu dari masa 4 ke masa yg ke 6.
    Setelah selesai masa ke 6, berfirmanlah Allah : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

    Segala sesuatu ada pada alquran tetapi sedikit manusia yg mengambil pelajaran.

    Wassalamualaikum wr.wb,

    ustad sayyid.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s