Profil Abdul Munir Mulkhan

abd munir mulkhan
Nama Abdul Munir Mulkhan
Tempat/Tgl Lahir Jember, Jawa Timur pada tahun 1946.
Organisasi Muhammadiyah

Jabatan di

Muhammadiyah

  • Wakil Sekretaris organisasi secara penuh (2000-2005);
  • Sekretaris Kantor untuk Organisasi dan Kader;
  • Sekretaris Dewan Perbandingan Agama; dan
  • Anggota Badan Penelitian dan Pengembangan Perguruan Tinggi.
  • Sejak tahun 1996 Dr. Munir telah menjadi anggota dewan editor Suara Muhammadiyah (publikasi resmi Muhammadiyah), (Sejak tahun 1996)
  • Ketua Pusat Dewan “Pemerintahan yang Bersih” Muhammadiyah, dengan kewajiban utama memerangi korupsi (Sejak 2002)
Pendidikan
  • Dia menerima gelar BA dari Jurusan Perbandingan Agama Institut Agama Islam Negeri Raden Intan Lampung, Sumatra,
  • Gelar MA dan Ph.D. dalam bidang Ilmu Sosial dan Politik dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta – lulus cum laude pada asing-masing jenjang
Lain-Lain
  • Sebelumnya Dr. Munir mengabdi sebagai Wakil Sekretaris Majlis Sarjana Religius cabang Yogyakarta.
  • Dr. Munir adalah dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. 
  • Dia telah mengerjakan riset post-doktoral di McGill University Montreal, Canada, dan
  • Menjadi Anggota Peneliti Tamu di Nanyang Technological University’s Institute of Defence and Strategic Studies di Singapore.
  • Baru-baru ini dia aktif sebagai anggota LibForall Foundation dan anggota dewan penasehat Libforall.

Karya-Karya

Dr. Munir adalah penulis 40 buku lebih dan ratusan artikel yang dipublikasikan di beragam majalah dan surat kabar terkemuka. Karya-karyanya bertebaran seputar filsafat, sosial, politik, sejarah, dan budaya, di antaranya:

  1. Syeh Siti Jenar dan Ajaran Wihdatul Wujud ( 1985),
  2. Tinjauan dan Perspektif Ajaran Islam ( 1986),
  3. Warisan Intelektual Kiai Ahmad Dahlan ( 1987),
  4. Pergumulan Pemikiran dalam Muhammadiyah (1990),
  5. Pemikiran Kiai Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah dalam Perspektif Perubahan Sosial (1990),
  6. Yogyakarta Selintas dalam Peta Dakwah (1991),
  7. Perubahan Perilaku Politik Islam dalam Perspektif Sosiologis (1991),
  8. Khutbah-Khutbah Islam (1992),
  9. Mencari Tuhan dan Tujuh Jalan Kebebasan, Esai Pemikiran Imam Al Ghazali (1992),
  10. Pak AR Menjawab dan 274 Permasalahan dalam Islam (1993),
  11. Paradigma Intelektual Muslim; Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah(1994),
  12. Teologi Kebudayaan dan Demokrasi Modernitas(1995),
  13. Ideologisasi Dakwah; Episod Kehidupan M. Natsir dan Azhar Basyir (1996),
  14. Runtuhnya Mitos Politik Santri(1997),
  15. Teologi dan Fiqh dalam Tarjih Muhammadiyah , Sipres, Yogya­kar­ta. (1997),
  16. Bisnis Kaum Sufi (1998),
  17. Rekonstruksi Pendidikan dan Tradisi Pesantren dalam Religiusitas Ip­tek (1998),
  18. Studi Islam dalam Percakapan Epistemologis (1999),
  19. Islam Murni dalam Masyarakat Petani ( 2000),
  20. Menggugat Muhammadiyah ( 2000),
  21. Neo-Sufisme dan Pudarnya Fundamentalisme ( 2000),
  22. Kearifan Tradisional, Agama untuk Tuhan atau Manusia ( 2000),
  23. Syekh Siti Jenar; Pergumulan Islam-Jawa ( 2001),
  24. Kiai Presiden, Islam dan TNI di Tahun-tahun Penentuan ( 2001),
  25. Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar ( 2002),
  26. Teologi Kiri; Landasan Gerakan Membela Kaum Mustadl’afin ( 2002),
  27. Nalar Spiritual; Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam ( 2002),
  28. Pendidikan Liberal Berbasis Sekolah ( 2002),
  29. Cerdas di Kelas Sekolah Kepribadian John P. Miller ( 2002),
  30. Ajaran Kasampurnan Syekh Siti Jenar ( 2002), dan lain-lain.

Menyimpang

Pernyataan-Pernyataan Kontroversial Abdul Munir Mulkhan:

Abdul Munir Mulkhan, wakil rektor UIN Yogjakarta dan petinggi di Muhammadiyah berpendapat, kalau yang masuk surga orang tertentu (Islam) saja maka akan kesendirian dan tak kerasan di surga.

Dalam hal bicara surga, yang sebenarnya menurut Islam termasuk hal ghaib yang hanya boleh bicara berdasarkan wahyu (Al-Qur’an dan As-Sunnah) karena yang tahu kunci-kunci hal ghaib itu hanya Allah dan para utusan (Rasul) yang Dia beritahu, namun Mulkhan sangat berani mereka-reka dengan mengatakan:

“Surga Tuhan itu nanti dimungkinkan terdiri dari banyak kamar yang bisa dimasuki dengan beragam jalan atau agama. Karena itu, semua manusia berpeluang masuk surga sesuai keagamaan dan kapasitasnya masing-masing, jika benar-benar memang percaya (iman) dan berminat.”

Ungkapan-ungkapan Abdul Munir Mulkan ini adalah kebohongan yang di landasi dengan duga-duga belaka, tidak lebih unggul dibanding dukun-dukun yang mengaku-ngaku dirinya tahu rahasia keghaiban atas bisikan Syetan sebagai walinya. Ungkapannya yang sangat berbahaya adalah:

“Surga Tuhan itu nanti dimungkinkan terdiri dari banyak “kamar” yang bisa dimasuki dengan beragam jalan atau agama.”

Kalimat Abdul Munir Mulkhan itu bertentangan dengan Al-Qur’an:

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran: 85).

Di kesempatan lain Mulkhan mengatakan, “Dalam logika orang desa, kalau ada satu kelompok yang merasa benar sendiri dan yang lain dituding salah atau sesat, nanti saya khawatir kesepian di Surga; tidak ada temannya. Klaim-klaim kebenaran absolut seperti itu sesungguhnya lebih menunjukkan, barangkali dalam bahasa yang agak Sarkastik, kurang menyadari bahwa hidup sosial tidak bisa sendirian. Di hutan saja pun tidak bisa hidup sendirian, mesti bersama hewan-hewan, pohon-pohonan dan semak-belukar.”

Ungkapan Abdul Munir Mulkhan, “kesendirian, tidak kerasan di surga” dan sebagainya itu bertentangan dengan ayat:

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah daripadanya. (QS. Al-Kahfi: 107-108).

Kalau orang Liberal masih berkilah bahwa mukmin di situ termasuk pula kini orang-orang Yahudi, Nasrani dan lainnya, maka kilah mereka itu sudah ada jawaban tuntasnya:

‘An Abii Hurairota ‘an Rasuulillahi annahu qoola: “Walladzii nafsi Muhammadin biyadihi, laa yasma’u bii ahadun min haadzihil Ummati Yahuudiyyun walaa nashrooniyyun tsumma yamuutu walam yu’min billadzii ursiltu bihii illaa kaana min ash-haabin naari.” (Muslim).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dari Rasulullah bahwa beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari Ummat ini yang mendengar (agama)ku, baik dia itu seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia mati dan belum beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.”

Kritikan dari Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) DIY

Membaca tulisan Abdul Munir Mulkhan (Pak Munir) di majalah Suara Muhammadiyah dengan judul “Sendang Ayu; Pergulatan Muhammadiyah di Kaki Bukit Barisan (edisi SM. No. 0l/th ke 91 Januari 2006) menarik untuk dicermati. Dalam tulisannya, Pak Munir, memberi gambaran tentang sebuah kondisi pergulatan Muhammadiyah di suatu dusun yang bernama Sendang Ayu, daerah Purwodadi, Lampung Tengah. Dimana, di daerah itu mulai masuk para “mubaligh tamu” dengan membawa pesan terhadap salah satu partai politik tertentu. Pesan-pesan itu disampaikan para mubaligh tersebut melalui media pengajian rutin. Sebagai salah satu basis utama cabang Muhammadiyah Purwodadi sesuai perjalanan waktu mulai mengalami pergeseran dan bahkan pembelotan terhadap ideologi Muhammadiyah.

Uraian yang disampaikan oleh Pak Munir tersebut merupakan suatu fenomena yang secara tidak langsung telah menampar wajah para pemegang kendali Muhammadiyah saat ini. Bagaimana tidak, Muhammadiyah yang selalu di “elu-elukan” oleh warga persyarikatan maupun banyak orang diluar persyarikatan sebagai ormas terkaya dalam bidang amal usaha, gerakan Islam modernis, dan ormas terbesar nomor dua di Indonesia setelah Nahdlatul Ulama, ternyata memiliki krisis legitimasi dari para pengikutnnya. Hal ini ditunjukkan dengan polarisasi keyakinan dan bahkan pembangkangan terhadapmanhaj Muhammadiyah ditingkat basis, seperti cabang dan ranting. Hal serupa juga tidak menutup kemungkinan dengan munculnya kecenderungan yang sama dan para pimpinan diberbagai tempat yang saat sekarang duduk sebagai pejabat teras di Pimpinan Daerah sampai Pusat.

Sayangnya, dalam tulisan itu, Pak Munir baru sebatas menguak sebuah kondisi kronis dan dinamika salah satu basis Muhammadjah. Seperti para tokoh Muhammadiyah lainnya, Pak Munir hanya mengurai dan menunjukkan virus serta bisul-bisul penyakit yang sudah masuk pada kategori stadium empat. Sehingga gagasan-gagasan tersebut menjadi bahan opini publik dengan (sedikit) mengesampingkan bagaimana meramu serum anti virus yang ampuh dan efisien. Pendek kata, sejauh ini para pimpinan sebatas himbauan dan menekankan model gerakan dakwah bil-lissan.

Lepas dari itu semua, paling tidak, dalam hal ini Pak Munir telah memberikan kontribusi yang luar biasa tentang carut marutnya kondisi internal Muhammadiyah saat sekarang. Sebuah kondisi dimana wabah penyakit telah hinggap dan menggerogoti tubuh Muhammadiyah sampai ke akar-akarnya.

Layaknya bakteri atau virus yang begitu cepat menyebar dan tidak pandang bulu untuk menyerang paradigma pengurus Muhammadiyah saja, melainkan para aktivis mudanya pun telah tertular kegenitan virus politik berlambang padi itu. Disinilah, bentuk-bentuk penjarahan anggota dan kader muda Muhamnaadiyah secara besar-besaran terjadi.

Mereka yang di “gadang gadang” sebagairesources dan pelopor baru Muhammadiyah ternyata juga mengalami pembangkangan terhadap organisasi induknya. Tidak sedikit dinamika lapangan mengungkap suatu fenomena baru dengan beredarnya proposal dikalangan Muhammadiyah yang berasal dari salah satu ortom, dimana dana yang diperoleh tersebut tidak digunakan untuk kepentingan dan kegiatan ortom. Dan, yang paling tragis adalah munculnya dualisme kepemimpinan dari para pimpinan ortom. Di satu sisi, sang kader menjabat sebagai ketua salah satu ortom, dan disisi lain, masuk sebagai pekerja politik bernafas Islam yang baru saja melejit di pemilu 2004 kemarin.

Menurut hemat penulis, porak porandanya sistem maupun kondisi internal ini dikarenakan belum maksimalnya para pimpinan Muhammadiyah untuk menjawab kebutuhan – moral maupun spiritual – kadernya. Segala bentuk gagasan bertema purifikasi dan pembaharuan yang melangit dalam segala bidang selalu dikedepankan. Hal ini menjadikan para pimpinan terjebak dan bahkan tercerabut dari akar permasalahan. Peran mubaligh Muhammadiyah dengan sendirinya telah tergeser dengan munculnya para intelektual (meminjam istilah Kuntowijoyo) muslim tanpa masjid.

Para cendekiawan muslim Muhammadiyah ini terlahir dari rahim forum-forum ilmiah keagamaan, buku-buku ke-Islaman dan berbagai media yang menunjang dalam memenuhi kebutuhan masyarakat kontemporer. Tak pelak – jika terkadang – para cendekiawan produk Muhammadiyah ini gagap dalam menjawab masalah-masalah fundamental persyarikatan. Logikanya, seseorang ingin makan nasi tapi diberi roti. Meskipun sama-sama kenyang, tapi roti tersebut belum menjadi representasi dari keinginan awal orang tersebut. Karenanya muncul disharmoni di Muhammadiyah dalam mengembangkan gagasan ke Islaman dengan mengatasi kebutuhan riil kader dari anggotanya.

Bentuk kesenjangan ilmiah yang perlu dijadikan refleksi kritis para pimpinan Muhammadiyah kedepan. Pejabat Muhammadiyah tidak dapat dengan serta merta menyalahkan, memvonis maupun menghakimi para anggota dan kadernya yang melakukan pembangkangan terhadap matan dan keyakinan hidup Muhammadiyah (MKCH). Pengurus Muhammadiyah pun juga tidak layak untuk “kebakaran jenggot” dengan adanya fenomena ini. Karena, semua adalah kekurangan dari Muhammadiyah saat sekarang. Muhammadiyah yang cenderung giat dengan aktivitas politik, terjebak dengan rutinitas birokrasi dan masalah-masalah kontemporer kemasyarakatan sehingga “lupa” memberi “makan” kader dan anggota sesuai dengan keinginannya.

Melihat wajah buram saat sekarang, menurut penulis terdapat beberapa agenda yang masih menjadi tantangan Muhammadiyah kedepan:

  • Pertama, seyogyanya Muhammadiyah sedikit merubah pola gerak dengan gencar mengedepankan dan melakukan reproduksi besar-besaran terhadap para mabaligh ala Muhammadiyah yang ditampung dalam bank da’i. Produk ini tidak sebatas tampil disaat bulan Ramadhan dengan agenda rutinan yang berupa mubaligh hijrah-nya, melainkan juga selalu stand by dalam setiap kesempatan untuk memberikan pengajian dari masjid ke masjid, kampus ke kampus dan berbagai tempat yang strategis dan potensial untuk mengembangkan dakwah.
  • Kedua, Muhammadiyah juga perlu untuk melakukan pembenahan sistem pengkaderan yang selama ini tidak tertransformasikan sampai di tingkat basis, karena itu, perlu untuk membangunkan kembali program pengkaderan yang dinilai (sedang) mati suri ini. Pola perkaderan Muhammadiyah tidak hanya berjalan secara monoton dan dilakukan usai penerimaan karyawan maupun dosen dalam amal usaha. Program pengkaderan seluruh pimpinan kedepan difokuskan dalam membentuk militansi, ideologisasi, loyalitas dan karakter pimpinan yang berangkat dari kader dan anggota Muhammadiyah.
  • Ketiga, adalah pemberdayaan kader secara maksimal keseluruh amal usaha sesuai dengan bakat dan talenta masing masing kader. Hal ini disamping berfungsi untuk membuat para kader merasa at home danenjoy dalam naungan Muhammadiyah, juga sebagai upaya untuk mengikat kader agar tidak lari hanya karena tuntutan hidup yang tidak terpenuhi. Sehingga motto yang melekat dalam sanubari kader sebagai pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha dapat terealisasi dengan baik.
  • Keempat, dibutuhkan sikap tegas Muhammadiyah dalam melakukan pembersihan terhadap seluruh jajaran pimpinan yang ‘disinyalir’ menjadi penggerakmanhaj lain. Meskipun hal ini tidak dapat diukur sejauh mana pandangan itu diambil, namun yang jelas, berkembangnya manhajlain di Muhammadiyah juga dikarenakan dorongan dan para elit pimpinan Muhammadiyah sendiri di masing masing level.
  • Kelima, mengedepankan paradigma baru dalam melakukan gerakan dakwah Muhammadiyah. Yaitu dengan memperluas gerakan dakwah yang selama ini lebih mengedepankan aspek bil-lissan (aspek bicara) menuju gerakan dakwah yang mengarah pada aspek bil hal, bil hikmah yang mengandung nilai-nilai action (aksi) yang kongkrit dan nyata dirasakan oleh kader, anggota dan masyarakat secara langsung. Sehingga dakwah tidak selalu dimaknai sebagai bentuk “ngomong” semata. Melainkan diikuti dengan keteladanan para pemimpin dan tokoh-tokoh Muhammadiyah.

Oleh karena itu, Muhammadiyah harus dengan cepat mengambil tindakan untuk mengamputasi virus kanker yang masuk kategori stadium empat ini. Manhaj lain telah menabuh genderang perang. Apabila dengan adanya fenomena ini Muhammadiyah masih saja “diam”, maka dengan adanya penjarahan kader tersebut, tidak tertutup kemungkinan kedepan Muhammadiyah hanya memiliki usia sesuai dengan umur para pimpinannya sekarang. Dan juga tidak tertutup kemungkinan jika Alm. K.H. Ahmad Dahlan dapat bangkit dari liang kubur akan terseok dan menangis meratapi kondisi yang telah menimpa kader dan anggota Muhammadiyah.

Kritik Terhadap Pemahaman JIL (bantahan atas hasil wawancara dengan Abdul Munir Mulkhan)

Bila membaca sekilas apa yang diungkapkan Abdul Munir Mulkhan dalam wawancaranya dengan Nong Daruh Mahmada dari jaringan Islam Liberal, sangat nampak kerancuan pemikiran JIL cs. Yang dalam wawancaranya tadi dengan judul “Beragama Untuk Manusia, Bukan Untuk Tuhan” Ia katakan,”Tuhan sering disalahgunakan untuk membernarkan perbuatan seseorang, baik dalam bidang agama maupun urusan-urusan yang lainnya.”

Bila yang dimaksud, banyak orang yang mengklaim kebenaran perbuatannya dengan alasan ada ayat dan hadits sesuai dengan penafsirannya sendiri, itu bisa dibenarkan. Artinya, penafsiran sebuah dalil tidak boleh hanya dengan mengikuti dan menyesuaikan keinginan dan kecenderungannya. Kedua, bila yang dimaksud, ia mengingkari umat Islam yang mengamalkan syari’at Islam yang jelas-jelas ada dasar dan argumentasinya yang kuat, maka ia telah mengkufuri ayat tersebut. Walau hal itu diingkarinya karena alasana tidak ada relevansinya dengan kondisi kekinian atau dengan alasan tidak mendatangkan kemaslahatan untuk manusia.

Ada dua point penting yang harus diungkap secara mendetail tentang ungkapan yang dia lontarkan.

  • Pertama, ungkapan ketika mendamaikan kontravesial antara dua ayat; antara ayat yang pluralis dengan yang tidak pluralis, dengan contoh ayat,”walann tardloo ankal yahuudu…” QS 2/120 ia katakan,”kalau saya sendiri memahami ayat yang bertentangan seperti contoh tadi, itu bukan dalam pengertian misionaris formal penyelamatan supaya orang itu memeluk agama Islam, tetapi itu sebagai fenomena sejarah saja bahwa ada sebagian orang yang mempunyai tradisi lama itu akan mempertahankan tradisinya…”. Maka secara tidak langsung ia mengingkari otentifitas ayat tersebut. Dengan alasan, itu hanya fenomena sejarah saja, artinya ia telah meragukan relevansi ayat tersebut yang dengan jelas memakai kata-kata,”Laan Tardloo..” – sekali-kali tidak ridlo padamu – .
  • Kedua, dalam menjawab beberapa Istilah: God, Robb, Yahweh. Ia katakan,”itu sebagai satu pengalaman otentik manusia saja yang substansinya sama…”. Secara tidak langsung ia telah menyamakan semua agama yang kesemuaannya menuju pada satu tuhan. Sehingga ia mencela eksklusivisme agama, yaitu sikap membenarkan agama sendiri dan menyalahkan agama lain. Prinsif seperti ini sangat jelas bertentangan dengan ayat-ayat qur’an dan hadits Rosulullah saw.

Golongan Lan Thardlo…

Lengkapnya ayat tersebut berbunyi,”sekali-kali orang Yahudi dan Nasroni tidak akan ridlo kepadamu sehingga kamu mengikuti ajaran mereka.” Benarkah penafsiran Abdul Munir Mulkhan, tidak selamanya orang Yahudi dan Nasroni memiliki sifat demikian, mungkin saja sebahagian diantara mereka yang mempertahankan tradisinya itu??

Terlebih dahulu kita mengkaji, sejauh mana para Ahli tafsir mensikapi ayat ini; Al-qurthubi (Al-jami’ Liahkaamul Qur’an:3/29) memberikan dua point penafsiran. Pertama, bahwa bukanlah tujuan mereka dalam mencela ayat-ayat itu agar kalian mempercayai mereka. Bahkan seandainya kalian memberikan semua yang mereka minta, mereka tidak akan ridlo kepadamu. Akan tetapi mereka akan ridlo denganmu bila kalian meninggalkan dienul Islam dan mengikuti ajaran mereka. Kedua, bahwa kekafiran itu satu ajaran. Sehingga orang Yahudi dan Nasroni keduanya sama-sama memusuhi Islam yang datang dikemudian hari sebagai penutup para rosul.

Lebih tegas lagi Ibnu Jarir At-Thobari (qur’anul Adzim: 1/164), sebagai pendahulunya para ahli tafsir menafsirkan, bahwa tidaklah selama-lamanya orang Yahudi dan Nasroni itu ridlo terhadap kamu. Maka tinggalkanlah semua yang menjadikan mereka ridlo dan raihlah hanya keridloan Allah ta’ala saja.

Demikianlah sikap para ahli tafsir dalam penafsiran ayat lan tardlo tersebut. Dan sebenarnya tidak ada pembagian ayat yang pluralis dan tidak pluralis. Untuk mensikapi ayat yang dzohirnya kontraversial dengan ayat yang lain, sudah seyogyanya dikembalikan kepada ahlinya, tidak sembarang penafsiran. Yang dalam sabda Rosulullah saw,”hati-hatilah dengan tafsir karena ia termasuk periwayatan dari Allah ta’ala”.

Semua Agama Sama?

Menyamakan dari sisi substansial beberapa istilah; tuhan, robb dan Yahweh, tentu akan menyebabkan pada pembenaran semua agama, yang akhirnya mencela eksklusivisme agama. Padahal pembenaran ini sendiri telah difirmankah Oleh ta’ala,”Sesungguhnya dien yang diridloi di sisi Allah hanya Islam”. Lalu dengan demikian apakah ia akan mencela Allah, padahal Dialah dzat yang tahu dan maha tahu.

Lalu apa fungsinya beragama, sedangkan pemeluknya sendiri tidak yakin akan kebenaran agama yang dia pegang. Sebagaimana halnya dalam mensikapi ucapan selamat terhadap hari raya agama lain. Hal itu sudah jelas ada larangan dan celaan terhadap perbuatan itu. Umat Islam hanya diperintah untuk menjawab “wa alaikum…” bila disapa dengan salam oleh non islam. Maka sudah semestinya umat Islam itu mengikuti tuntunan ajarannya dalam memandang semua perbuatan, bukan dengan kacama akal manusia yang terbatas itu.

Hermenetika Yang Dibenarkan

Apa yang diungkapkan oleh Abdul Munir Mulkhan dalam wawancara tersebut tidak lepas dari cara yang ditempuh dalam menginterprestasikan ayat-ayat Al-Qur’an. Baginya Al-Quran hanya sebuah teks yang pada dasarnya merupakan produk budaya, sehingga tidak ada bedanya dengan buku-buku lain yang juga produk akal manusia.

Dari apa yang telah diungkapkannya saja sesungguhnya sangat jelas terlihat bahwa hermeneutika yang digunakan olehnya adalah metode penafsiran yang tidak mau terikat dengan berbagai persyaratan dan metode yang telah menjadi kesepakatan para ulama terdahulu (Salaf). Mereka hendak menafsirkan Al-Quran menurut akal serta hawa nafsu semata. Mereka tidak peduli dengan perkataan Abu Bakar Ash-Shiddieq tentang bahaya menafsirkan Al-Quran dengan akal murni. Kata beliau, ”Langit mana yang akan menaungiku dan bumi mana yang akan kuinjak, andaikata aku menafsirkan Al-Quran dengan akalku?” Artinya, para Ulama Salaf sepakat bahwa jika menafsirkan Al-Quran hanya dengan akal, walaupun tafsirnya mungkin benar, tetap sebuah kesalahan! Sebab itu, para Ulama Salaf menetapkan manhaj (metode) menafsirkan Al-Quran, yaitu:

  • Pertama, untuk menafsirkan sebuah ayat harus terlebih dulu dicari tafsirnya dengan ayat yang lain, misalnya tentang hari kiamat (al-qari’ah), apakah kiamat itu (mal-qari’ah), dan ayat seterusnya. Artinya, kita tidak boleh sembarangan menafsirkan hari kiamat sesuai dengan syahwat kita, misalnya dengan mengatakan bahwa kiamat adalah hari tamatnya semua kehidupan dan tak ada lagi kehidupan setelahnya. Cara penafsiran ini disebut juga tafsir ayat bil ayat dan merupakan metode tertinggi tafsir Al-Quran.
  • Kedua, bila tidak ada ayat yang menafsirkan ayat tersebut, maka harus dicari sunnah (hadits) Nabi SAW karena ia merupakan penjelasan terhadap makna Al-Quran sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT: ”Dan ingatlah, ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): ‘Hendaklah kamu (Muhammad) menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya’, lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima.” (QS 3:187). Anehnya, banyak kalangan yang mengaku Islam tapi menolak hadits Nabi SAW dengan alasan kebenarannya tidak mutlak. Sungguh penolakan ini sangat berbahaya. Tanpa hadits Nabi SAW, kita tidak bisa melaksanakan shalat, puasa, haji dan sebagainya karena secara teknis tidak diterangkan dalam Al-Quran.
  • Ketiga, bila tidak juga ditemukan sunnah yang menerangkan ayat tersebut, maka langkah selanjutnya dicarikan perkataan dari sahabat, misalnya dari tim pencatat wahyu yang memang diakui Nabi SAW sebagai hablul ummah (penyambung ummat) yaitu Abdullah bin Abbas (Tafsir Ibn Abbas), juga sahabat yang lain seperti Abdullah bin Mas’ud dan lain-lain. Peran para sahabat tersebut tidak bisa diremehkan karena mereka mengetahui betul teks dan konteks ayat diturunkan. Belum lagi, mereka sebagai generasi pertama menghafal Alquran yang tsubut (percaya). Mengingkari peran para sahabat sama saja memotong mata rantai tafsir Alquran.
  • Keempat, bila tidak ada perkataan sahabat mengenai tafsir sebuah ayat, maka kita melacaknya dari perkataan para tabi’in, seperti Hasan Basri, Ibnu Qatadah, Mujahid, dan lain-lain. Mereka adalah para pengikut sahabat yang setia sehingga kepercayaannya terjamin dan pantas diikuti oleh generasi kemudian.
  • Kelima, setelah perkataan generasi tabi’in pun tidak ada, baru dicarikan pendapat para imam, seperti Syafi’i, Maliki, Hanbali, Hanafi, dll. Terakhir, bila semua sandaran di atas juga tidak ditemukan, maka baru ayat tersebut ditafsirkan secara lughah (bahasa).

Jadi menafsirkan Alquran secara bahasa (leksikal) itu merupakan tingkat penafsiran terendah. Di luar itu, metode tafsir yang berlaku adalah tafsir bir-rakyi (dengan akal semata) atau dengan kata lain, menggunakan metode apa yang disebut hermeneutika.

Karena itu, tidak sembarang orang boleh menafsirkan Alquran, melainkan harus memenuhi beberapa syarat, misalnya, menurut Imam Thabari (Tafsir At-Thabari) ada tiga:

  1. orang itu mempunyai akidah yang sehat (benar);
  2. memahami perkataan para sahabat tentang tafsir Alquran, dan
  3. mengetahui perkembangan bahasa arab.

Sedangkan Imam Suyuti berpendapat, syarat seorang penafsir Alquran setidak-tidaknya adalah:

  1. Paham makna mufrodat lughah,
  2. Ilmu nahwu,
  3. ilmu Sorof,
  4. I’rob,
  5. Ma’ani,
  6. Badi’
  7. Nasikh Mansukh
  8. Asbabunnuzul
  9. Penafsiran para ulama terdahulu
  10. Mengetahui mana-mana yang disepakati dan yang tidak, dan sebagainya.

Di sinilah Imam Adz-Dzahabi berpendapat bahwa menafsirkan Alquran tanpa menggunakan metode bil-ma’tsur seperti enam hal di atas termasuk dosa besar, bahkan bisa menyeret pelakunya kepada kekufuran. Pendapatnya ini didasarkan pada firman Allah SWT:

”Katakanlah: ‘Rabb-ku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak (asasi) manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui’.” (QS. 7:33).

Hemat saya, pendapat ini sangat logis ketika harus menghadapi cara penafsiran Alquran yang ngawur dan ngelantur karena akan menyesatkan akidah umat Islam. Kontekstualisasi bukan berarti ayatnya yang diperas, melainkan konteks yang ada disesuaikan dengan pesan-pesan ayat tersebut.

Daftar 50 TOKOH JIL INDONESIA

Hati-hati dengan ucapan, tulisan, dan pemikiran orang-orang di bawah ini agar tidak tersesat dunia dan akhirat

Para Pelopor

  1. Abdul Mukti Ali
  2. Abdurrahman Wahid
  3. Ahmad Wahib
  4. Djohan Effendi
  5. Harun Nasution
  6. M. Dawam Raharjo
  7. Munawir Sjadzali
  8. Nurcholish Madjid

Para Senior

  1. Abdul Munir Mulkhan
  2. Ahmad Syafi’i Ma’arif
  3. Alwi Abdurrahman Shihab
  4. Azyumardi Azra
  5. Goenawan Mohammad
  6. Jalaluddin Rahmat
  7. Kautsar Azhari Noer
  8. Komaruddin Hidayat
  9. M. Amin Abdullah
  10. M. Syafi’i Anwar
  11. Masdar F. Mas’udi
  12. Moeslim Abdurrahman
  13. Nasaruddin Umar
  14. Said Aqiel Siradj
  15. Zainun Kamal

Para Penerus “Perjuangan”

  1. Abd A’la
  2. Abdul Moqsith Ghazali
  3. Ahmad Fuad Fanani
  4. Ahmad Gaus AF
  5. Ahmad Sahal
  6. Bahtiar Effendy
  7. Budhy Munawar-Rahman
  8. Denny JA
  9. Fathimah Usman
  10. Hamid Basyaib
  11. Husein Muhammad
  12. Ihsan Ali Fauzi
  13. M. Jadul Maula
  14. M. Luthfie Assyaukanie
  15. Muhammad Ali
  16. Mun’im A. Sirry
  17. Nong Darol Mahmada
  18. Rizal Malarangeng
  19. Saiful Mujani
  20. Siti Musdah Mulia
  21. Sukidi
  22. Sumanto al-Qurthuby
  23. Syamsu Rizal Panggabean
  24. Taufik Adnan Amal
  25. Ulil Abshar-Abdalla
  26. Zuhairi Misrawi
  27. Zuly Qodir

Referensi

  • ^http://indonesiatanpajil.blogspot.sg/2012/02/para-tokoh-indonesia-nyeleneh-antek.html?m=1
  • ^http://aminbenahmed.blogspot.sg/2013/04/2-abdul-munir-mulkhan.html?m=1
  • ^http://www.libforall.org/indonesia/programs-bio-munir.html
  • ^http://www.serambi.co.id/author/35/abdul-munir-mulkhan#.VzUiY9albqC
  • ^http://muhammadiyahstudies.blogspot.sg/2010/01/ahmad-dahlan-menangis-tanggapan.html?m=1
  • ^https://shirotjuddin.wordpress.com/2010/08/24/kritik-terhadap-pahaman-jil-bantahan-atas-hasil-wawancara-dengan-abdul-munir-mulkhan/
  • ^https://feehas.wordpress.com/2012/03/03/daftar-50-tokoh-jil-indonesiahati-hati-dengan-ucapan-tulisan-dan-pemikiran-orang-orang-di-bawah-ini-agar-tidak-tersesat-dunia-dan-akhirat/
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s