5-15-10.28.17

Img source: wikipedia commons

Banyak sekali anak-anak Bapak Bangsa Indonesia, Sukarno. Tapi yang akan saya bahas disini adalah anak-anak beliau yang menurut saya lebih populer dikenal memperjuangkan beliau. Langsung saja saya mulai dari…

Megawati Soekarnoputri

Megawati Soekarnoputri

Dr.(H.C.) Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri atau umumnya lebih dikenal sebagai Megawati Soekarnoputri atau biasa disapa dengan panggilan “Mbak Mega” (lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947; umur 69 tahun) adalah Presiden Indonesia yang kelima yang menjabat sejak 23 Juli 2001 —20 Oktober 2004. Ia merupakan presidenwanita Indonesia pertama dan anak dari presiden Indonesia pertama, Soekarno, yang kemudian mengikuti jejak ayahnya menjadiPresiden Indonesia. Pada 20 September2004, ia kalah suara dari Susilo Bambang Yudhoyono dalam Pemilu Presiden 2004 putaran yang kedua.

Ia menjadi presiden setelah MPRmengadakan Sidang Istimewa MPR pada tahun 2001. Sidang Istimewa MPR ini diadakan dalam menanggapi langkah Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang membekukan lembaga MPR/DPR dan Partai Golkar. Ia dilantik pada 23 Juli 2001. Sebelumnya dari tahun 1999–2001, ia menjabat Wakil Presiden pada pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Megawati juga merupakan ketua umumPartai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) sejak memisahkan diri dari Partai Demokrasi Indonesia pada tahun 1999.

Pendidikan

  • SD Perguruan Cikini Jakarta (1954-1959)
  • SLTP Perguruan Cikini Jakarta (1960-1962)
  • SLTA Perguruan Cikini Jakarta (1963-1965)
  • Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Bandung (1965-1967); tidak selesai
  • Fakultas Psikologi Universitas IndonesiaJakarta (1970-1972); tidak selesai

Perjalanan Karir

  • Anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (Bandung); (1965)
  • Anggota Fraksi PDI DPR RI Komisi IV (1987-1997)
  • Ketua DPC PDI Jakarta Pusat
  • Ketua Umum PDI versi Kongres Luar Biasa (KLB) PDI di Surabaya (1993-1996) PDI yang dipimpinnya berganti nama menjadi PDI Perjuangan pada 1999-sekarang

1986

Tahun 1986 ia mulai masuk ke dunia politik, sebagai wakil ketua PDI Cabang Jakarta Pusat. Karier politiknya terbilang melesat. Mega hanya butuh waktu satu tahun menjadi anggota DPR RI.

1993

Dalam Kongres Luar Biasa PDI yang diselenggarakan di Surabaya 1993, Megawati terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PDI.

1996

Namun, pemerintah tidak puas dengan terpilihnya Mega sebagai Ketua Umum PDI. Mega pun didongkel dalam Kongres PDI di Medan pada tahun 1996, yang memilih Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI.

1997

Keberpihakan massa PDI kepada Mega makin terlihat pada pemilu 1997. Perolehan suara PDI di bawah Soerjadi merosot tajam. Sebagian massa Mega berpihak ke Partai Persatuan Pembangunan, yang kemudian melahirkan istilah “Mega Bintang”. Mega sendiri memilih golput saat itu.

1999

Pemilu 1999, PDI Mega yang berubah nama menjadi PDI Perjuangan berhasil memenangkan pemilu. Meski bukan menang telak, tetapi ia berhasil meraih lebih dari tiga puluh persen suara. Massa pendukungnya, memaksa supaya Mega menjadi presiden. Mereka mengancam, kalau Mega tidak jadi presiden akan terjadi revolusi.

Namun alur yang berkembang dalam Sidang Umum 1999 mengatakan lain, dan memilihKH Abdurrahman Wahid sebagai Presiden. Ia kalah tipis dalam voting pemilihan presiden adalah 373 banding 313 suara.

2001

Namun, waktu juga yang berpihak kepada Megawati Sukarnoputri. Ia tidak harus menunggu lima tahun untuk menggantikan posisi Presiden Abdurrahman Wahid, setelah Sidang Umum 1999 menggagalkannya menjadi Presiden. Sidang Istimewa MPR, Senin (23/7/2001), telah menaikkan statusnya menjadi Presiden, setelah Presiden Abdurrahman Wahid dicabut mandatnya oleh MPR RI.

2004

Masa pemerintahan Megawati ditandai dengan semakin menguatnya konsolidasi demokrasi di Indonesia, dalam masa pemerintahannyalah, pemilihan umumpresiden secara langsung dilaksanakan dan secara umum dianggap merupakan salah satu keberhasilan proses demokratisasi di Indonesia. Ia mengalami kekalahan (40% – 60%) dalam pemilihan umum presiden 2004 tersebut dan harus menyerahkan tonggak kepresidenan kepada Susilo Bambang Yudhoyono mantan Menteri Koordinator pada masa pemerintahannya.

2014

Megawati dan PDI-P menunjuk Joko Widodountuk maju dalam Pemilihan umum Presiden Indonesia 2014. Akhirnya melalui proses pemilu yang cukup panjang, Joko Widododan Jusuf Kalla terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden periode 2014 – 2019.

Pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV PDI-P, Semarang, Jawa Tengah, 20 September 2014, Megawati ditunjuk kembali untuk menjadi Ketua Umum PDI-P periode 2015-2020.


Bagaimana dengan Rachmawati Soekarnoputri?

Rachmawati Soekarnoputri%0A%0A

Diah Pramana Rachmawati Soekarno (lahir diJakarta, 27 September 1950; umur 65 tahun) adalah politisi Partai Gerakan Indonesia Raya, Ketua Yayasan Pendidikan Bung Karno. Ia adalah putri dari presiden pertama RepublikIndonesia Ir. Soekarno.

Ia Pendiri Yayasan Pendidikan Soekarno, dan merupakan salah satu ketua pembina Universitas Bung Karno.

Berdirinya Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS)dan Universitas Bung Karno (UBK) tidak didirikannya sendiri, ia mendirikan Yayasan dan Universitas tersebut  bersama sejumlah tokoh nasionalis di era kepemimpinan  Presiden Soeharto, di antaranya Yano Bolang (Alm), Simon Tiranda (Alm) dan Bagin (Alm), meski dihadapkan dengan  berbagai tekanan berat. Tujuan didirikannya instansi pendidikan itu untuk mengimplementasikan ajaran-ajaran Bung Karno yang masih sangat relevan dengan kondisi saat ini. Antara lain Trisakti Bung Karno yaitu, berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan.

Jejak politik Rachmawati dimulai  pada pertengahan tahun 2001 ketika mendeklarasikan Forum Nasional di mana dia mulai mengecam para elit politik yang menurutnya berada di menara gading. Saat Forum Nasional melahirkan Partai Persatuan Bangsa Indonesia, Rachmawati dijadikan Calon Presiden walau ia bukan termasuk pendiri partai tersebut.

Rachmawati juga mendirikan Partai Pelopor yang mengandalkan konstituennya dari kalangan urban muda marhaenis pada tahun 2002. Partai yang bersemangat marhaenis ini menjajikan tidak akan berkompromi terhadap para pelanggar HAM, menolak dwifungsi TNI/Polri dan menolak ketergantungan ekonomi pada lembaga dana internasional. Dia juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dan Ketua Umum Partai Pelopor.

Pendidikan

  • 1969  Fakultas Hukum Universitas Indonesia [SELESAI]

Perjalanan Karir

  • Pendiri Universitas Bung Karno
  • Ketua Yayasan Pendidikan Soekarno
  • Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres)
  • Ketua Umum Partai Pelopor.

Kenapa Rachmawati Sering Kritik Megawati?

Apa yang dilakukan wanita ini, mungkin pemirsa akan geleng-geleng kepala.
Kenapa, Rahmawati adalah saudara dari Megawati Sukarnoputri, tapi kenapa dia selalu menyerang saudaranya sendiri Megawati…heran kan ?
Apa pernah merasa disakiti ya..?

Seperti kita ketahui, Serangan Rachmawati Soekarnoputri terhadap kakaknya, Megawati Soekarnoputri seolah tak pernah surut. Setelah jagoannya Prabowo-Hatta kalah di Pilpres 2014, dia juga seakan tak henti menyerang Presiden terpilih Joko Widodo ( Jokowi ).

Sebagai contoh, Rachmawati Soekarnoputri tiba-tiba menyambangi parlemen. Mantan Ketua Dewan Pembina Partai NasDem itu ingin menyampaikan beberapa temuan kecurangan pada Pilpres 2014 yang
menurutnya akan berakibat fatal pada pemerintahan ke depan.

Entah kenapa adik dari Megawati Soekarnoputri itu sejak dulu tampak benci kepada kakaknya. Rachmawati tak pernah sejalan dengan Megawati dan terus menyerangnya dengan segala cibiran…padahal kalau dihitung-hitung selain Rahmawati, semua saudaranya mendukung megawati .

Kali ini dia juga mengkritik dan memprediksi kegagalan pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi )-Jusuf Kalla (JK ).

Berikut beberapa serangan Rachmawati pada Megawati dan Jokowi :

1. Sebut kemenangan Jokowi-JK pesanan asing

Rachmawati menganggap hasil pilpres lalu yang memenangkan Jokowi-JK merupakan skenario. Kemenangan pasangan nomor urut 2 itu adalah pesanan asing. Menurutnya pimpinan DPR menerima petisi dari rakyat yang disampaikannya. Dia berharap hal itu dapat dijadikan pertimbangan pengambilan kebijakan oleh DPR.

Lanjut dia, hasil pilpres merupakan pesanan asing. Hal itu terbukti dari data penduduk yang dimanipulasi dan mengalami pembengkakan.

“Hasil pilpres sudah dikooptasi dengan kepentingan kapitalis. Data pemilu ini diambil bukan dari BPS tapi dari konsultan asing sehingga ada pembengkakan, kenapa bangsa menutup kecurangan itu,” pungkas dia.

2. Rachmawati anggap Megawati antek kapitalis

Rachmawati Soekarnoputri menilai Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri adalah budak negara asing. Dia menganggap kakaknya itu telah melakukan kesepakatan penjualan aset-aset dan sumber daya alam Indonesia kepada pihak asing saat pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK).

“Megawati itu sudah antek kapitalis. Bagaimana konsesi politik dagang, sumber daya sudah dibagi- bagi dalam pemerintahan nanti (Jokowi-JK),” kata
Rachmawati di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, seperti diberitakan merdeka.com.

Bagaimana pemirsa dengan sikap politik Rahmawati ini..apakah dia memang seorang negarawan yang baik, politikus sejati atau malah barisan orang sakit hati? (Saya Kutip dari: https://masshar2000.com/2014/10/10/kenapa-rahmawati-selalu-menyerang-megawati/)

Mari kita telisik satu persatu

1. Sebut kemenangan Jokowi-JK pesanan asing

Berikut daftar delapan bukti intervensi asing di Pemilu Presiden 2014 yang dikumpulkan oleh NCID:

  • Pernyataan keberpihakan dari Majalah TIME dan Majalah The Economist. Kedua majalah ini secara terbuka mengatakan bahwa Prabowo tidak boleh sampai jadi Presiden RI.
  • Kemunculan penulis asal Amerika Allan Nairn dengan tulisan yang memojokkan Prabowo. Di kalangan diplomat Indonesia, Allan dikenal memiliki rekam jejak menulis berita palsu tentang TNI. Mantan Duta Besar Indonesia untuk AS Dino Patti Djalal mengatakan “dia (Allan Nairn) sejak dulu selalu mencari peluang untuk memecah belah Indonesia.”
  • Adanya intimidasi kepada WNI yang hendak memilih di depan KJRI Perth, Australia oleh WNA yang mengkampanyekan kemerdekaan Papua. Mereka meminta WNI untuk memilih Joko Widodo dan mengatakan hanya orang bodoh yang memilih Prabowo. Tercatat beberapa WNI yang tinggal di Perth melaporkan kejadian ini melalui media sosial.
  • Pernyataan keberpihakan kepada Joko Widodo oleh artis-artis asal Amerika dan Inggris seperti Jason Mraz, Sting dan Akarna, serta bintang porno Vicky Vette. Pengumuman yang dilakukan H-1 menjelang pemilihan dengan penyeragaman agar jelas menunjukkan adanya koordinasi, bukan aksi spontanitas.
  • Kemunculan iklan yang mempromosikan Joko Widodo dan mendiskreditkan Prabowo Subianto di Google, YouTube dan jaringan iklan AdSense. Padahal di situsnya sendiri secara eksplisit Google melarang segala jenis iklan politik untuk ditayangkan di Indonesia.
  • Penutupan secara serentak beberapa akun yang secara terbuka tidak mendukung Joko Widodo, tidak lama setelah pertemuan Joko Widodo dengan direktur politik Twitter Peter Greenberger di Jakarta.
  • Pemberitaan palsu oleh Bloomberg mengenai transaksi saham MNC Group yang mendiskreditkan pasangan Prabowo-Hatta. Pada 20 Juni 2014, Bloomberg mengatakan bahwa Prabowo-Hatta memborong saham MNC Group. Padahal transaksi tersebut tidak pernah terjadi.
  • Pernyataan Duta Besar Amerika untuk Indonesia Robert Blake pada 23 Juni 2014. Ia mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa Pemerintah RI harus mengusut dugaan kasus HAM Prabowo. Pernyataan terbuka ini memicu reaksi keras dari DPR karena merupakan bukti konkret campur tangan Amerika dalam Pemilu Presiden Indonesia.

Menurut Jajat Nurjaman (NCID), intervensi asing yang begitu kentara untuk mengurangi elektabilitas Prabowo justru mengkokohkan keyakinan rakyat Indonesia bahwa Prabowo adalah presiden yang harus dipilih pada 9 Juli 2014.

Hal ini disebabkan oleh pernyataan legendaris Bung Karno tentang intervensi asing. Bung Karno mengatakan:

“Ingatlah pesanku, jika engkau mencari pemimpin, carilah yang dibenci, ditakuti, atau dicacimaki asing karena itu yang benar. Pemimpin tersebut akan membelamu di atas kepentingan asing itu. Dan janganlah kamu memilih pemimpin yang dipuji-puji asing, karena ia akan memperdayaimu” tutup Jajat menirukan Sukarno.

2. Rachmawati anggap Megawati antek kapitalis. Ini buktinya:

(a) Mudahkan Konglomerat Hitam

Masa pemerintahan Megawati menjadi saat yang menyenangkan bagi konglomerat hitam. Betapa tidak, mereka mendapatkan Release and Discharge (R & D), yang arti harafiahnya adalah bebaskan dan bayar utang. Para pengemplang uang negara dalam kasus BLBI ini oleh Megawati diberi kemudahan dengan mengembalikan cicilan kerugian negara dengan potongan 16-36 persen. Mereka pun bebas dari tuntutan pidana. Ketentuan itu diatur dalam MSAA (Master of Acquisition and Agreement) dan merupakan perjanjian penyelesaian utang di luar pengadilan (settlement out of court).

Kebijakan itu sempat ditentang oleh Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (Kwik Kian Gie), karena kebijakan itu melanggar hukum. Menurut Kwik, perjanjian perdata tidak bisa meniadakan pelanggaran pidana yang diatur oleh UU.

Namun Megawati bergeming. Ia tetap saja melanjutkan kebijakan tersebut. Dampaknya, banyak aset-aset para konglomerat yang seharusnya menjadi milik negara, diambil kembali oleh para konglomerat hitam tersebut dengan harga murah.

(b) Jual Tanker Pertamina

Rezim Megawati pula yang ‘memaksa’ Pertamina menjual tanker raksasa VLCC (very large crude carriers). Komisi Pengawas Persaingan Usaha menilai penjualan dua tanker raksasa yang berlangsung Juni 2004, merugikan negara mulai 20 juta-56 juta dollar AS.
Hal itu akibat dari persekongkolan antara Pertamina dan Goldman Sachs sebagai pengatur (arranger) tender penjualan yang ingin memenangkan Frontline Ltd dari Swedia, sebagai pembeli.

Tanker yang seharusnya bisa dijual dengan harga pasa 204 juta-240 juta dolar AS sesuai dengan harga pasar saat itu, ternyata hanya dijual dengan harga 184 juta dolar AS kepada Frontline. Saat itu salah satu komisaris utama Pertamina adalah Laksamana Sukardi.
Anehnya, setelah kapal tanker raksasa itu dijual, Pertamina harus menyewa kapal itu untuk mengirimkan minyak ke luar negeri. Alasannya, menyewa lebih murah daripada membeli.

(c) Jual BUMN (Telkom, Indosat, BNI, PT Batu Bara Bukit Asam, Kimia Farma, Indofarma, Indocement Tunggal Prakarsa, Angkasa Pura II, dan Wisma Nusantara)

Meski mengklaim menerapkan ekonomi yang pro wong cilik, nyatanya Megawati malah menjual Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Di masanya, BUMN yang dijual yakni Telkom, Indosat, PT BNI, PT Batu Bara Bukit Asam, Kimia Farma, Indofarma, Indocement Tunggal Prakarsa, Angkasa Pura II, dan Wisma Nusantara. Dari penjualan ini negara memperoleh masukan dana sebesar Rp 3,5 trilyun.

Bukannya dijual dengan harga mahal karena BUMN itu tergolong BUMN sehat dan menghasilkan pendapatan bagi negara, justru BUMN itu dijual dengan harga yang dinilai beberapa kalangan terlalu murah.

Tak hanya itu, rezim Megawati pun menjual bank-bank yang masih berada di bawah BPPN dengan sangat murah kepada pihak asing. Konon, setiap transaksi merugikan negara trilyunan rupiah. Dan di balik itu ada Mafia Berkeley, yang berpaham neoliberalisme.

Penjualan yang paling disorot masyarakat saat itu adalah penjualan PT Indosat dan PT Telkom. Betapa tidak, dua perusahaan raksasa itu sempat mendatangkan keuntungan yang berlimpah. Saham kedua perusahaan itu pernah loncat hingga Rp 26,740 trilyun. Sayang, kemudian kedua perusahaan itu jatuh ke pelukan Temasek, BUMN Singapura.

Sebagai negara maritime, Indonesia membutuhkan sarana telekomunikasi canggih untuk mengawasi wilayah kedaulatannya. Maka, tak heran era Orde Baru Indonesia memiliki satelit untuk berbagai keperluan baik telekomunikasi maupun pertahanan keamanan.

Bukannya dipertahankan, ketika Megawati berkuasa, justru satelit yang sangat strategis ini malah dijual ke Singapura. Kepemilikan saham jatuh ke Temasek yang menguasai 41 persen sahamnya.

Tak heran banyak pihak khawatir, pihak/pemerintah Singapura dapat mengontrol dan mengetahui akan sistem keamanan Indonesia bahkan rahasia negara. Mengapa? Karena Indosatlah yang mengendalikan satelit Palapa.
Alasan penjualan Indosat pun terbilang lucu. Megawati berdalih, penjualan ini untuk menghindari monopoli pemerintah terhadap kepemilikan dominan pemerintah pada perusahaan telekomunikasi tersebut.

Menteri Pemuda dan Olah Raga Roy Suryo yang juga dikenal menggeluti bidang telekomunikasi, sejak satelit Palapa bukan milik Indonesia, sejak itulah penyadapan kepada Indonesia dilakukan.

Menurutnya, Indosat memiliki infrastruktur telekomunikasi paling lengkap, mulai dari jaringan serat optik, satelit hingga BTS seluler dan FWA. Roy mempertegas bahwa penyadapan makin jelas setelah Indosat dijual pada pihak asing. 

“Saya tidak ingin mengatakan itu zaman siapa presidennya, namun sejak Indosat dijual itulah penyadapan kian marak karena satelit Palapa berada di luar kendali”, tukas Roy Suryo.

Dari penjualan saham-saham BUMN ini rezim Megawati menargetkan pendapatan Rp 6 trilyun/tahun. Menteri BUMN saat itu Laksamana Sukardi laksana mengejar setoran. Namun ada yang berspekulasi setoran itu tak cuma disalurkan ke APBN semata, melainkan juga ke sejumlah rekening lain.

(d) Jual Gas Tangguh

Satu ‘dosa’ rezim Megawati yang tak terlupakan hingga sekarang adalah penjualan gas dari Tangguh, Papua ke Cina. Betapa tidak, Indonesia saat itu menjual gas itu dengan harga sangat murah dan bersifat flat (tetap).

Harga jual gas ke Fujian, Cina hanya US$ 3,45 per MMBTU. Padahal, harga gas ekspor Indonesia ke luar negeri di atas US$ 18 per MMBTU. Sedangkan harga gas domestik saja sudah mencapai US$ 10 per MMBTU.

Anehnya, berdasarkan pembicaraan Jusuf Kalla dengan Wakil Presiden Cina Xi Jinping, justru Megawatilah yang meminta harga seperti itu kepada Cina.


(e) Lainnya

Tidak itu saja, Megawati juga mengeluarkan kebijakan outsourcing kaum buruh yang sampai saat ini menyisakan sakit hati bagi wong cilik. Lalu pemberian release & discharge (R & D) kasus Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI), Megawati melepas Pulau Sipadan dan Ligitan dari Indonesia. Itu semua terjadi pada masa pemerintahan Megawati, sangat banyak kelemahannya  (Padahal Sukarno Merebut Papua Barat dan Soeharto Merebut Timor-Timor).

Rakyat Hanya Dibohongi Penguasa

“Rakyat hanya dibohongi, dikhianati oleh penguasa yang antek kapitalis nekolim,” kata  Rachmawati Soekarnoputri, Selasa (18/8/2015), seperti dilansir RMOL (Grup JPNN).

“Tidak tanggung-tanggung, bahkan pengkhianatan sampai kepada mengganti konstitusi Indonesia merdeka dan jual aset negara plus korupsi yang fantastik Rp 600 trilliun  BLBI Megawati, lebih separuh dari angka RAPBN-nya Jokowi, naudzu billah min dzalik,” sambung adik Megawati Soekarnoputri itu.

Menurut Ketua Yayasan Pendidikan Soekarno itu, rejim penguasa telah bekerja demi kapitalis asing dan aseng, serta menjadi satelit di bawah negara adi kuasa. Menurutnya, pemerintah kini membuka pintu lebar-lebar agar kapitalis masuk bebas menguasai Indonesia.

“Masihkah Indonesia Merdeka? Indonesia masuk dalam abad proxy war, dan diperlukan pemimpin revolusi multi-dimensional untuk melawan penjajahan mutakhir. Ayo selamatkan NKRI!”, demikian Rachmawati.


Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Rachmawati Soekarnoputri lebih mirip Sukarno.


Referensi

  • ^https://id.m.wikipedia.org/wiki/Megawati_Soekarnoputri
  • ^https://id.m.wikipedia.org/wiki/Rachmawati_Soekarnoputri
  • ^http://hanspetok.blogspot.sg/2014/02/biografi-rachmawati-soekarnoputri.html?m=1
  • ^http://m.merdeka.com/profil/indonesia/r/rachmawati-soekarnoputri/
  • ^http://universitas-bung-karno.blogspot.sg/2010/01/sejarah-berdirinya-universitas-bung.html?m=1
  • ^http://m.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/07/31/rachmawati-kemenangan-jokowi-jk-sarat-intervensi-asing
  • ^http://m.kaskus.co.id/thread/53bb8052a1cb173e228b4606/jokowi-antek-asing-amp-quotasengquot-inilah-8-bukti-asing-dukung-jokowi/
  • ^http://www.harsindo.com/2015/04/hot-putri-bung-karno-rachma-sarankan-negara-indonesia-keluar-dari-mea-kenapa.html?m=1
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s