Lanjutan dari: Kejanggalan Kasus Antasari Azhar (2)


Antasari Azhar

Antasari Azhar

Kuasa hukum mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar, pengacara Maqdir Ismail mendesak agar jaksa Cirus Sinaga diperiksa dalam posisisnya sebagai mantan jaksa penuntut umum (JPU) kasus pembunuhan Direktur Utama PT Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasrudin Zulkarnaen.

Menurut Maqdir, Jaksa Agung Muda Pengawasan (Jamwas) Marwan Effendy tidak perlu lagi menunggu konfirmasi dari pihak Antasari selaku terpidana. “Secepatnya Jamwas melakukan pemeriksaan kepada Cirus Sinaga. Tidak perlu minta konfirmasi dari kami,” kata Maqdir Ismail, Senin (24/1/2011).

Desakan untuk memeriksa Cirus ini menyusul yang testimoni Gayus Tambunan, bahwa Polri tidak berani memeriksa Cirus dalam dugaan kasus mafia hukum karena takut dugaan rekayasa menyeret Antasari dalam pembunuhan Nasrudin bakal terbongkar. Hingga saat ini, kubu Antasari masih meyakini bahwa kasus pembunuhan Nasrudin direkayasa untuk melengserkan Antasari dari jabatannya sebagai Ketua KPK.

Maqdir menuduh Cirus Sinaga menyembunyikan beberapa kejanggalan selama Antasari disidang di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Cirus Sinaga didesak diperiksa dalam posisinya sebagai mantan JPU kasus pembunuhan Nasrudin.

Cirus tidak pernah menunjukkan barang bukti berupa baju korban selama di persidangan. Padahal , dengan baju tersebut banyak fakta yang bisa terungkap di antaranya jarak tembak. “Argumen apakah ditembak jarak jauh atau dekat ini bisa terungkap. Sedangkan mayat korban sebelum sampai di RS Tangerang juga sudah dimanipulasi,” ungkap Maqdir.

Karena itu, lanjutnya, perlu ada tim independen yang dibentuk untuk mengungkap adanya dugaan rekayasa kasus pembunuhan Nasrudin. Ia juga sepakat bila Komnas HAM membentuk Tim Pencari Fakta (TPF). “Saya kira ini soal waktu saja. Kebenaran akan terungkap dengan sendirinya, satu persatu akan terungkap,” papar pengacara Antasari ini.

Nyanyian Cirus Bisa Jadi Virus Bagi Istana?

Screenshot_2016-05-17-23-40-22_1

Cirus Sinaga

Adalah premis dari berbagai indikasi situasi dilematis dan depresi yang tampak membuat lembaga Kepolisian dan Kejaksaan tampak tak berdaya menghadapi Cirus Sinaga atau Gayus Tambunan. Karena Gayus telah menjadi “whistle blower” tentang keterlibatan Cirus, dan bila benar Cirus telah bekerja sama dengan Kepolisian dan Kejaksaan merekayasa Kasus Antasari, maka, Cirus Sinaga tidak ingin jatuh sendiri menjadi korban.

Tentu Polisi dan jaksau tidak mau skenario yang dibuat bersama Cirus terungkap. Masalahnya bukan hanya pejabat tinggi Mabes Polri dan Kejaksaan Agung yang akan terkuak keterlibatannya, tetapi juga bisa menyeret-nyeret istana. Sebab, banyak orang percaya skenario untuk memenjarakan Antasari sebetulnya tidak lepas dari keinginan istana. Dan itu juga yang dikaitkan dengan pernyataan mantan Kapolri Bambang Hendarso Danuri yang diungkap Ketua Komisi III Benny K Harman, bahwa pengungkapan Gayus akan menimbulkan isntabilitas politik.

Pada tahap awal, instabilitas politik itu akan mengguncang Mabes Polri dan Kejaksaan Agung, sebab sejumlah petinggi di kedua institusi itu pasti terseret masuk bui, jika Cirus Sinaga membuka pembagian dana dari simpanan Gayus. Dalam hal ini bisa disimak kembali keterangan Susno Duadji.

Tahap berikutnya, jika Cirus Sinaga dan para pejabat Mabes Polri dan Kejaksaan Agung merasa dirinya dikorbankan, maka mereka bisa membeberkan skenario di balik prestasi pemenjaraan Antasari. Jika itu terjadi, guncangan politik besar tidak terhindarkan, karena hal ini menyangkut pembuktian hukum dan politik, soal benar tidaknya istana terlibat dalam pemenjaraan Antasari.

Rencana ekseminasi Kasus Antasari oleh Komnas HAM karena pelbagai “novum” ini, dapat berakhir dengan sebuah sesi politik yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Benar tidaknya keterlibatan istana, ada di mulut Cirus Sinaga. Dan, seperti Gayus Tambunan, Cirus tidak ingin dianggap bodoh dan bersalah sendiri. Nyanyian Cirus mungkin akan menjadi “virus mematikan”, juga (teristimewa) bagi istana. Kalau begitu, benar kata BHD, yang diulangi Ketua Komisi III Benny Kabur Harman.

Cirus Sinaga Pegang Kartu Truf 4 Kasus Besar

Konsorsium Indonesia Police Watch, Neta S Pane, mengatakan jaksa Cirus Sinaga diperlakukan istimewa oleh Kejaksaan dan Kepolisian karena Cirus memegang kasus besar dan mengetahui aliran dana Gayus Tambunan ke Kepolisian.

“Mengapa Cirus begitu kuat? Karena dia pegang empat kasus besar, yakni kasus Munir, kasus Muchdi PR, kasus Antasari, dan kasus Gayus Tambunan,” kata Neta di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (27/1).

Neta menyebutkan, meskipun Kejaksaan sudah berupaya menangani kasus Cirus, tapi masih tidak ada ujungnya karena Cirus mengetahui ada empat aliran dana Gayus Tambunan ke Kepolisian, yakni Rp700 juta, Rp1,5 miliar, Rp2 miliar, dan Rp3,5 miliar.

“Cirus mengetahui ini, makanya dia istimewa, tidak dibawa ke pengadilan karena Cirus bisa ‘nyanyi’. Kami melihat pihak Kejaksaan sudah berusaha menangani kasus Gayus, tapi belum serius menyentuh Cirus padahal Cirus lah sumber persoalan Gayus,” kata Neta.

Ia menyebutkan, sedikitnya ada lima perwira tinggi Kepolisian yang harus bertanggung jawab untuk kasus Gayus Tambunan.

Terkait dengan kasus mantan Ketua KPK Antasari Azhar, Neta mengatakan, Cirus mengetahui kartu truf kasus ini. “Seperti penelusuran kami ada 7 kejanggalan kasus Antasari. Makanya jajaran Kepolisian begitu khawatir terhadap Cirus bila dibawa ke pengadilan,” ujarnya

Kombes Wiliardi, Martir Yang Dikorbankan Institusi

05-17-11.37.10

Setengah tahun lamanya, Kombes Wiliardi Wizard memendam keinginan untuk bisa berkenalan, bertemu dan sekedar mengucapkan terimakasih atas sebuah tulisan yang dimuat di KATAKAMI bulan Mei 2009 yaitu tulisan yang berjudul, “SEPUCUK SURAT UNTUK KOMBES WILIARDI WIZARD”.

Willy – demikian Wiliardi Wizard biasa dipanggil – menghubungi semua pihak di kalangan terdekatnya untuk menanyakan apakah kenal dengan Pimpinan Redaksi Mega Simarmata ? Dan kalau kenal, apakah tahu nomor kontak telepon yang bisa dihubungi. Nova — Isteri Wiliardi Wizard – serta putri sulung mereka Tika, juga ikut mencari dimana dan bagaimana caranya untuk bisa berkenalan, bertemu dan berbicara dengan KATAKAMI.COM.

Akhirnya keinginan mereka sekeluarga tercapai pada hari Jumat 13/11/2009. Pemimpin Redaksi KATAKAMI Mega Simarmata diajak oleh Nova Wiliardi untuk membesuk suami tercintanya didalam tahanan Rutan Bareskrim Mabes Polri. Dan inilah hasil pertemuan kami.

Tepat jam 13.30 WIB, saya tiba di Gedung Bareskrim Polri. Petugas di pintu depan Bareskrim, sangat sopan dan profesional. Saya diminta untuk mengisi buku tamu, meninggalkan kartu identitas (KTP) dan menitipkan alat komunikasi saya yaitu HANDPHONE. Tadinya saya janjian untuk membesuk bersama-sama dengan Nova Wiliardi. Tetapi karena terhambat oleh kemacetan lalu lintas maka Nova Wiliardi agak belakangan tiba di Bareskrim.

Saya yang masuk lebih dahulu ke dalam ruang tahanan Bareskrim Polri pada jam besuk. Petugas memanggil Wiliardi Wizard ke dalam sel tahanannya dan saya disuruh menunggu sebentar. Saat Wiliardi Wizard tiba di hadapan saya, mantan Kapolres Jakarta Selatan ini mengulurkan tangan untuk berjabatan tangan dengan saya.

→ Mega Simarmata:

Pak Wiliardi, perkenalkan nama saya Mega Simarmata. Senang bertemu dengan Pak Wiliardi, bagaimana kabarnya?

:Williardi Wizard ←

Kabar baik Mbak Mega. Saya terharu sekali membaca tulisan Mbak Mega bulan Mei lalu.

Berbulan-bulan saya ingin sekali bertemu dengan Mbak Mega Saya tanya kemana-mana, begitu juga isteri dan anak saya, semua mencari tahu nomor kontak Mbak Mega. 

Saya tidak pernah berhenti mencari dimana Mbak Mega berada. Saya berdoa agar saya bisa dipertemukan dengan Mbak Mega. Tetapi baru sekarang keinginan saya untuk bisa bertemu itu kesampaian. 

Mbak, dari lubuk hati saya yang terdalam, atas nama saya pribadi … bahkan atas nama keluarga, kami semua mengucapkan terimakasih atas dukungan Mbak Mega lewat tulisan itu. Saya terharu sekali. Terimakasih Mbak, terimakasih” ungkap Wiliardi dengan wajah yang sangat serius

→ Mega Simarmata:

Terimakasih kembali Pak Willy, mungkin baru sekarang Tuhan membukakan jalan untuk kita bisa bertemu. Bagaimana kesehatan Pak Willy selama di tahanan? Aman semua?

:Williardi Wizard ←

Ya beginilah Mbak, semua ribut karena kesaksian yang terakhir dalam persidangan Pak Antasari kemarin. Saya juga tidak tahu, mengapa tiba-tiba saya dapat kekuatan dari Tuhan untuk berbicara jujur apa adanya.

Itulah yang sesungguhnya terjadi Mbak. Saya diperintah untuk mengikuti dan menanda-tangani Berita Acara Pemeriksaan (BAP) seperti yang sudah diatur oleh Polisi

→ Mega Simarmata:

Pak Willy, mengapa Bapak mau menanda-tangani kalau memang Bapak tidak membunuh Nasrudin Zulkarnaen dan samasekali memang tidak terlibat?

:Williardi Wizard ←

Mbak, saya ini bawahan, saya percaya pada atasan, pada pimpinan. Yang meyakinkan saya bahwa saya akan dijamin adalah perwira tinggi berbintang 2, masak saya berani membantah perintah atasan ?

→ Mega Simarmata:

Pak Willy, terlibatkah anda dalam pembunuhan itu ?

:Williardi Wizard ←

“Demi Allah, saya bersumpah Mbak, saya tidak terlibat sama sekali. Tuduhan keterlibatan itu hanya karena berdasarkan saya pernah berkomunikasi dengan Pak Antasari, Sigid, Jerry dan Edo”.

Lho, kalau memang saya ada berkomunikasi dengan mereka maka Majelis Hakim harus mempertimbangkan untuk meminta agar semua rekaman pembicaraan saya dengan mereka-mereka tadi dibuka dalam persidangan

→ Mega Simarmata:

Pak Willy, anda mengatakan bahwa anda dipengaruhi atasan untuk menanda-tangani BAP. Iya kan ? Nah, bagaimana kronologisnya ?

:Williardi Wizard ←

Jadi tanggal 30 April 2009 itu Mbak, pada pagi harinya saya didatangi oleh Wakabareskrim Polri Irjen Hadiatmoko. Saya ingat betul, itu terjadi jam 9 atau jam 10 pagi. Irjen Hadiatmoko bilang ke saya, nanti saya panggil Iwan (Kombes Mochamad Iriawan). Sudah ikuti saja BAP yang disusun Iwan.

Sorenya Kombes Iwan datang menemui saya. Intinya, Kombes Iwan meminta saya untuk menanda-tangani saja BAP yang sudah disamakan dengan BAP Sigit.

Dan puncaknya pada pukul 23 pada malam hari itu, lewat hp milik orang lain yang ada di tahanan saya … saya diminta bicara dengan Sigid. Sigid mengatakan … Mas, ikuti saja penyidik. Sasaran kita cuma ANTASARI kok.

Kita dijamin oleh BHD, ikuti saja Mas. Saya pusing ini”demikian kata Wiliardi mengulangi omongan Sigid saat berbicara dengan Wiliardi Wizard.

→ Mega Simarmata:

Oh begitu kelakuannya WAKABRESKRIM POLRI yang pada saat itu dijabat oleh Irjen Hadiatmoko. Apakah beliau lupa bahwa patut dapat diduga ada kasus hukum yang sangat memalukan saat beliau menjabat sebagai KAPOLDA RIAU yaitu kasus bandar judi togel ACIN?

Kan memalukan jika ada kasus hukum seperti itu. Lalu kok bisa-bisanya mengarahkan bawahan untuk menanda-tangani sebuah BAP yang sepenuhnya disusun oleh penyidik sendiri?

Bayangkan, hanya dalam satu hari itu saja yaitu tanggal 30 April 2009. ada 3 orang yang membujuk, mempengaruhi, mengarahkan dan menekan agar Pak Willy mau menanda-tangani BAP yang seluruh isinya 100 persen buatan POLISI?

:Williardi Wizard ←

Iya betul Mbak, tanggal 30 April itu ada 3 orang secara berturut-turut meminta saya tanda-tangan BAP yang disusun POLISI. Saya kalut Mbak

Saya tidak menyangka akan dikhianati seperti ini. Saya dijanjikan akan dibebaskan kalau mau mengikuti perintah atasan untuk menanda-tangani BAP buatan POLISI. Saya tidak menyangka bahwa saya akan dikorbankan dengan cara yang sangat kejam seperti ini. Mengapa semua ini menimpa saya ?

Saya tahu bahwa Sigid memang dekat dengan Kapolri sehingga itu yang membuat saya percaya kepada dia. Saya bahkan mendengar Sigid berbicara di telepon dan alat pengeras handphone itu sengaja dibuka oleh Sigid saat ia berbicara dengan Sekretaris Pribadi (Spri) Kapolri yaitu Kombes Arief.

Mengapa ada permainan tingkat tinggi seperti ini yang sengaja mengorbankan diri saya sekeluarga ? Apa salah saya ? Saya tidak mengerti Mbak” ungkap Wiliardi dengan raut wajah yang sangat sedih dan terpukul.

→ Mega Simarmata:

Sabarlah Pak Willy, kebenaran itu ibarat air yang mengalir. Ia akan tetap mengalir walau dibendung. Tuhan tidak tidur. Perbanyaklah doa dan zikir.

Kendalikan emosi dan diri dalam setiap persidangan agar jangan sampai emosi jadi tidak terkontrol. Apapun yang terucap dan dilakukan dalam persidangan, semuanya menjadi catatan hakim.

Jadi katakanlah yang sesungguhnya. Buka saja. Jangan ada yang ditutupi”.

:Williardi Wizard ←

Iya Mbak, pesannya akan saya ingat, jawab Wiliardi sambil menunduk sedih.

→ Mega Simarmata:

Pak Willy, sepanjang sejarah baru kali inilah ada INSTITUSI yang dengan sengaja menskenariokan dan menjerumuskan agar anak buahnya jadi MARTIR.

Tidak mau tahu bahwa anak buah yang dikorbankan itu hancur kehidupan dan kariernya. Tindakan menjerumuskan dan mengorbankan anak buah yang tidak bersalah dengan skenario dan permainan tingkat tinggi seperti ini adalah perbuatan yang berperikemanusiaan.

Jadi, gunakan dengan sebaik-baiknya semua kesempatan dalam persidangan. Berkata jujur sejujur-jujurnya kepada hakim. Pasrahkan diri kepada Tuhan.

:Williardi Wizard ←

Terimakasih Mbak Mega, hati dan pikiran saya terpukul sekali setelah dikorbankan seperti ini.

Kombes Wiliardi Wizard lulusan Akpol angkatan tahun 1984 ini memiliki 3 orang anak dari pernikahan dengan seorang wanita cantik keturunan Minang & Aceh. Nova, isteri Wiliardi berkenalan dengan sang suami saat Wiliardi bertugas di Nangroe Aceh Darussalam yaitu saat menjadi Kanit Serse tahun 1984. Dari pernikahan mereka, lahirlah 3 orang anak yaitu Lustika Yunita Wiliardi (22 tahun), M. Resdi Wiliardi (17 tahun) dan Nisya Oktiani Wiliardi (11 tahun). Nova terus memberikan dorongan dan semangat kepada Wiliardi dalam menjalani semua permasalahan dan proses hukum ini.

:Nova Wiliardi/Istri Pak Williardi ←

Mbak, saya ini pernah dipanggil ke ruangan Wakabreskrim Polri Irjen Hadiatmoko. Ketika itu saya datang bersama puteri sulung saya, Tika.

Kami berdua menghadap Pak Wakabareskrim. Beliau bilang, sudahlah … sampaikan sama suami kamu, ikuti saja BAP yang disusun penyidik. Kami jamin suami kamu. Gampang kok … akui saja.

Bilang begini … ya betul saya memang diminta untuk membunuh tetapi saya tidak mau dan saya suruh orang lain. Ya ampun … kalau suami saya disuruh oleh POLRI bicara begitu, kan sama saja menjerumuskan suami saya untuk kena pasal pembunuhan berencana.

Suami tidak terlibat tetapi dipaksa oleh INSTITUSI untuk mengakui bahwa seolah-olah dia arsitek pembunuhan dan memang terlibat dalam kasus pembunuhan itu. Kasus ini bukan kasus main-main.

Ancamannya hukuman mati. Kenapa suami saya dijerumuskan untuk mendapat ancaman seberat itu untuk perbuatan yang sama sekali tidak dilakukannya?

Demi institusi, maka suami saya yang sangat mencintai POLRI dipaksa untuk mengakui skenario INSTITUSI bahwa sebenarnya suami sayalah pembunuhnya?

Terlibat dalam sebuah kasus pembunuhan itu. Ya Allah … alangkah jahatnya POLRI kepada kami yang sangat tak berdaya ini. Ungkap Nova Wiliardi sampai menitikkan airmata.

→ Mega Simarmata:

Mbak Nova, selain WAKABARESKRIM POLRI Irjen Hadiatmoko, siapa lagi didalam INSTITUSI POLRI ini yang mengarahkan agar WILIARDI WIZARD mau menjadi martir mengakui di hadapan persidangan bahwa dialah pembunuh Nasrudin Zulkarnaen ?

:Nova Wiliardi/Istri Pak Williardi ←

Selain WAKABARESKRIM POLRI, saya bertemu juga dengan Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Mochamad Iriawan. Dia sahabat suami saya. Teman seangkatan suami saya.

Tapi tega-teganya bilang begini … sudahlah, ikuti saja semua arahan penyidik. Keluarga memang akan terpukul, sedih. Tapi pasti kesedihan itu cuma seminggu, selebihnya akan merasa terbiasa.

Kalau anak-anak merasa terpukul, hadapkan ke saya biar saya yang akan menjelaskan kepada anak-anak” jawab Nova Wiliardi.

→ Mega Simarmata:

Kok tega sekali berbicara seperti itu? Keterlaluan. Lain kali Mbak, siapapun pimpinan di POLRI ini yang memanggil keluarga Pak Wiliardi untuk ditekan dan diarahkan seperti ini … rekam semuanya. Bawa perekam. Kalau dibiarkan terus menerus seperti ini, lama-lama POLRI ini akan jadi busuk karena ulah segelintir orang.


Tidak tahu malu semuanya mengarang-ngarang dan menskenariokan BAP. Rakyat Indonesia harus tahu. Dan Keluarga Wiliardi, jangan mau lagi dikerjai. Mulai saat ini rekam semuanya.

Dalam persidangan, alat bukti sangat menentukan sekali. Jangan lupa, siapapun yang berani-berani lancang mulutnya merayu dan mengarahkan agar seorang bawahan terjerumus ke dalam semua permasalahan hukum … dialah yang harus diseret ke muka hukum.

Dan kalau kami tidak salah ingat, patut dapat diduga ada kasus hukum terkait bandar judi Doni Harianto yang melibatkan Kombes Mochamad Iriawan bulan Desember 2008 yaitu patut dapat diduga ada suap sebesar Rp. 700 juta dari bandar judi.Oknum Jaksa Sudono sudah langsung dipecat akibat ketahuan menerima uang suap ini.

Tetapi KAPOLRI BHD justru mengamankan anak buah yang patut dapat diduga menerima suap. Perilaku apa itu? Apakah patut dapat diduga KAPOLRI BHD dapat setoran juga sebab dia tidak menindak anak buahnya yang terlibat dalam kasus penyuapan ?

Pertemuan saya dengan Kombes Wiliardi Wizard memang sangat mengejutkan dan mengharukan. Ia bagaikan pelanduk yang terjepit diantara gajah-gajah yang bertikai. INSTITUSI seakan tak mau tahu dan tak merasa tak perlu untuk membela kebenaran yang ada di pihak bawahan. Sungguh menyayat hati dimana patut dapat diduga seorang polisi terbaik diumpan, dikorbankan dan dijerumuskan secara keji oleh INSTITUSI-nya sendiri.

Hidup Seorang Bawahan Dihancurkan

Karier yang dibangun puluhan tahun oleh Wiliardi dihancurkan. Wiliardi dijanjikan untuk mendapat jaminan penuh keselamatan dari para oknum atasan agar bersedia menjadi orang yang “dituding” menjadi dalang atau arsitek pembunuhan. Wiliardi tak menyangka bahwa keputusannya untuk bersikap patuh dan tunduk pada atasan — terutama pada KAPOLRI — ternyata disalah-gunakan dan disesatkan.

Lalu, apakah ada kepastian dan jaminan bahwa di kemudian tidak akan ada lagi POLISI-POLISI terbaik di Indonesia ini yang sengaja dikorbankan untuk INSTITUSI? Wiliardi menangis meraung-raung dan sempat memutuskan untuk bunuh diri di awal bulan Mei lalu.Ketika itu, “keluguannya” untuk mempercayai dan mengikuti perintah atasan untuk menanda-tangani BAP abal-abal buatan PENYIDIK POLISI ternyata berujung kefatalan.

Wiliardi tak bisa lagi lari dari jerat hukum dan pasal yang ditimpakan kepadanya sungguh berat yaitu pasal pembunuhan berencana dengan maksimal hukuman adalah HUKUMAN MATI !

Apakah ada didunia ini, seorang atasan atau komandan atau panglima yang dengan sadar dan benar-benar sengaja menjerumuskan bawahannya untuk menanggung hukuman yang sangat mengerikan yaitu hukuman mati ?

Iya kalau ia bersalah. Bagaimana kalau ternyata ia tidak bersalah dan tidak terlibat samasekali ? Patut dapat diduga Jenderal BHD sudah melampaui kewenangannya bila ternyata secara sadar dan sengaja memang mengorbankan anak buah (MS).

“Tuhan Tidak Tidur, Kebenaran Mulai Terungkap”

Mantan Ketua KPK Antasari Azhar yang menjadi terdakwa dalam sidang pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen kaget dengan kesaksian Williardi Wizard.

Mantan Kapolres Jaksel itu mengaku tuduhan pada Antasari adalah rekayasa penyidik kepolisian. “Memang tingkat keimanan paling tinggi. Kesabaran, 6 bulan (dipenjara) tidak masalah. (Saya) terkejut kok seperti itu saat memeriksa WW target Antasari,” kata Antasari saat sidang di PN Jaksel ditunda, Selasa (10/11).

Diungkapkan bahwa selama ini ia tegar karena Tuhan tidak tidur. “Begitu cara orang menzalimi saya. Kebenaran mulai terungkap, Allahu akbar,” tutur Antasari.

Juniver Girsang, pengacara Antasari, menuturkan bahwa kesaksian Williardi masuk dalam sejarah persidangan. Saat mendengar persidangan, dia sangat kaget. Pernyataan saksi WW itu membuat seluruh penasihat hukum terkejut dan menilai bahwa ini merupakan sejarah peradilan, di mana pernyataan saksi membuat pernyataan bahwa ada skenario yang ditujukan kepada terdakwa Antasari.


Selanjutnya: Kejanggalan Kasus Antasari Azhar (Bagian 4)

Iklan

One response »

  1. […] Selanjutnya: Kejanggalan Kasus Antasari Azhar (3) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s