Lanjutan dari: Kejanggalan Kasus Antasari Azhar (3)


Ahli Forensik Beberkan Bukti Kasus Antasari

dr Mun’im Idris

dr Mun’im Idris

Ahli forensik RSCM dr Mun’im Idris mengungkap kejanggalan putusan kasasi Mahkamah Agung (MA) terkait perkara Antasari Azhar. Kejanggalan ini bisa dipakai sebagai bukti baru dalam peninjauan kembali (PK) Antasari Azhar. Menurut Mun’im, keterangannya sebagai ahli yang diberikannya di persidangan tidak digunakan oleh hakim agung MA dalam putusan kasasinya.

“Saya menulis dalam keterangan saya sebagai ahli forensik, jenis peluru yang bersarang di Nasrudin (Nasrudin Zulkarnaen) adalah diameter 9 mm kaliber O,38 tipe SNW tapi diminta dihapus oleh polisi,” kata Mun’im Idris dalam konfrensi pers di RSCM, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, Rabu lalu, 5/1/2010.

Keterangan otopsi tertulis ini disampaikan oleh Mun’im Idris dalam surat otopsi. Namun, pihak Kepolisian meminta keterangan tersebut dihapus.

“Yang saya tulis ya yang saya temukan. Yang meminta dihapus langsung saya lupa yang datang ke sini. Lantas Wadir Serse Polda Metro Jaya menelepon saya minta untuk dihapus. Lalu saya bilang ini kewenangan saya,”tambah Mun’im.

Selain itu, dia juga menyatakan menerima mayat Nasrudin tidak dalam utuh atau tersegel. Kondisi mayat seharusnya masih berbalut baju ketika mayat meninggal.

“Tapi saya sudah menerima tanpa label, tanpa baju dan kondisi luka kepala sudah terjahit. Seharusnya masih utuh apa adanya,” terang Mun’im.

Fakta ini dipersilakan Mun’im untuk menjadi bukti baru mengajukan PK Antasari.

“Itu penglihatan ahli hukum. Semua sudah saya utarakan di pengadilan. Kalau dipengadilan yang punya kuasa itu hakim. Mau diterima atau tidak (keterangan ahli) bukan urusan saya,” tutup Mun’im.

Sebelumnya, mantan ketua KPK Antasari Azhar merasa masih ada kejanggalan dalam putusan yang diterimanya hingga tingkat kasasi. Karena itu, dia akan mengajukan upaya hukum terakhir yaitu Peninjauan Kembali (PK).

Antasari menjadi terpidana dalam kasus pembunuhan Direktur PT PRB Nasrudin Zulkarnaen. Pria asal Palembang tersebut kemudian divonis 18 tahun penjara di PN Jaksel. Hingga tingkat kasasi, putusannya tetap.

“Sebentar lagi saya akan menjadi terpidana. Saya masih punya satu hak untuk meraih kebenaran yang berhubungan dengan rasa keadilan, yaitu Peninjauan Kembali,” kata Antasari sebelum meninggalkan Rutan Polda Metro Jaya, Jakarta.

Tidak hanya itu, Antasari juga mempertanyakan sejumlah barang bukti yang diajukan oleh jaksa. Masih banyak bukti-bukti yang hingga kini belum terungkap.

“Saya akan terus berjuang di mana baju korban, yang sampai hari ini tidak dijadikan barang bukti, saya akan terus meneliti apa akibat kematian korban. Katanya proyektil 9 mm, 9 mm apakah masih bisa digunakan oleh revolver, itu semua akan saya cari,” urainya.

Mayat Nasrudin Sudah Dimanipulasi

Ahli forensik Rumah Sakit Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Abdul Mun’im Idris mengaku pernah dimintapejabat Polda Metro Jaya untuk menghilangkan data mengenai luka Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen.

Dalam pemeriksaan polisi, Mun’im menyatakan bahwa lebar luka di kepala Nasrudin disebabkan peluru berdiameter 9 milimeter (mm). Hal ini diungkapkannya dalam sidang pembunuhan Nasrudin di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis 10 Desember 2009.

“Saat saya diperiksa dan akan meneken BAP (Berita Acara Pemeriksaan), Wadir Serse Polda Metro mengatakan, kalau ini (data 9 mm) bisa dihilangkan tidak?” kata Mun’im mengulang pernyataan pejabat Polda itu di hadapan Majelis Hakim PN Jakarta Selatan. Mun’im tidak menjelaskan mengapa polisi ingin data itu hilang. Dia hanya menolak. “Itu kewenangan saya sebagai dokter.”

Setelah itu, kata Mun’im pun menerima telepon dari seseorang yang mengaku bernama Kamil. Dalam telepon itu, Mun’im mengutip kata-kata Kamil terkait pencantuman diameter luka Nasrudin.


→ Kamil:

”Babeh terlalu berani kalau segini (9 mm).”

:Mun’im ←

“Artinya ‘terlalu berani’? Saya tidak tahu, saya kan tidak bisa telepati,” jawab Mun’im.


Mun’im adalah dokter yang memeriksa jasad Nasrudin. Saat memeriksa jasad Nasrudin, Mun’im mengaku menemukan dua peluru di kepala Nasrudin, yakni di sebelah kanan dekat telinga dan di batang tengkorak.


“Meski peluru masih di dalam, tapi sudah dijahit (lukanya),” kata dia. Kondisi seperti ini, kata dia, akan menimbulkan kematian meski tidak langsung.

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menghadirkan ahli forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sebagai saksi kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen. Dalam kesaksiannya, Mun’im mengatakan mayat Nasrudin sudah dimanipulasi saat ia terima untuk diperiksa.

“Karena jasadnya sudah berpindah dari rumah sakit ke rumah sakit. Saya menerima kondisinya sudah dijahit,”kata Mun’im dalam sidang dengan terdakwa Antasari Azhar, Kamis 10 Desember 2009.
Selain itu, kata dia, kepala Nasrudin pun sudah dicukur. “Akibatnya (manipulasi mayat) ini akan berkaitan dengan alibi tersangka nantinya” .

Mun’im menjelaskan ada tiga pejabat menelpon dirinya untuk permintaan otopsi Nasrudin. Mereka adalah penyidik kasus pembunuhan Niko, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda saat itu Komjen M Iriawan, dan Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Komjen Jusuf Manggabarani.

“Mereka minta saya ke RS Gatot Subroto. Tapi saya bilang, (jasad Nasrudin) bawa ke Cipto saja.”

Saat memeriksa jasad Nasrudin, Mun’im mengaku masih menemukan dua peluru di kepala Nasrudin, yakni di sebelah kanan dekat telinga dan di batang tengkorak.

“Meski peluru masih di dalam, tapi sudah dijahit (lukanya),” kata dia. Kedua peluru, jelasnya, mengenai jaringan otak. “Sehingga menyebabkan kematian meski tidak langsung.”

Siapa Penembak Nasrudin?

“Mayat sudah dimanipulasi, ini karena korban sebagian besar rambutnya sudah dicukur, lukanya sudah dijahit dan posisi sudah telanjang saat akan saya visum,” ujar Mun’im dalam persidangan pembunuhan Direktur PT. Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasrudin Zulkarnaen dengan terdakwa Antasari Azhar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Kamis.

Menurut Mun’im, peluru di bagian tubuh sudah penyok namun bisa dikenali tipenya. Sedangkan penembakan terjadi dalam jarak jauh.

Selain itu saat dirinya membuat berita acara hasil pemeriksaan tersebut, petugas Puslabfor Mabes Polri pernah menghubungi dan meminta ucapannya tentang manipulasi mayat dihilangkan dan “babe” (sebutan dokter ini) dinilainya terlalu berani. Namun, karena ini masih menjadi kewenangannya, dirinya tidak mau mengubahnya.

“Saya nggak mau mengubahnya dan peluru yang digunakan untuk menembak korban diukur besarnya 9 mm,” tegasnya sambil menyatakan korban ditembak bukan dari jarak dekat.

Mun’im mengakui dirinya tidak pernah memeriksa korban di tempat kejadian perkara atau TKP. Menurut dia, kalau korban ditembak jarak dekat sekitar 50 hingga 60 Cm, butir mesiunya akan menempel di baju korban. “Saya saat memeriksa jasad korban tak melihat adanya butir-butir mesiu yang menempel di bajunya,” jelasnya.

Dilanjutkan oleh Mun’im, biasanya pihaknya yang menggunting baju mayat. “Jadi mayatnya sudah tidak asli, sudah ada tangan-tangan yang menangani sebelumnya,” jelasnya.

Akibat mayat korban sudah diutak-atik, menurut ahli forensik ini, dirinya tidak bisa menentukan kapan terjadinya kematian dan yang paling penting berkaitan dengan alibi tersangkanya.

Jaksa-pun Yakin

Jaksa yakin bahwa proyektil yang ditemukan di tubuh Direktur PT PRB Nasrudin Zulkarnaen merupakan peluru yang ditembakkan dari pistol SNW kaliber 38 yang ditunjukkan sebagai barang bukti. Mereka meyakini proyektil 9 mm yang ditemukan ahli forensik merupakan pecahan peluru kaliber 38.

“Revolver dengan peluru yang digunakan itu satu paket. Temuan 9 mm itu pecahan dari peluru kaliber 38,” ujar anggota JPU Sutikno usai persidangan Antasari di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Kamis.
Sutikno menjelaskan awalnya beberapa jaksa peneliti juga menanyakan mengapa peluru kaliber 9 mm bisa digunakan pada revolver 38. Tapi setelah dipelajari, mereka yakin bahwa itu merupakan peluru serpihan. “Itu ternyata serpihannya,” lanjutnya.

Sutikno juga menjelaskan tidak ditemukan residu atau mesiu di tubuh Nasrudin. Bukan karena penembakan jarak jauh, melainkan karena sebelum bersarang di kepala Nasrudin, peluru tersebut menembus kaca mobil. “Tidak bisa ditemukan, karena menembus kaca,” ungkapnya.

Sebelumnya saksi ahli balistik A Simanjuntak menyebutkan bahwa peluru yang digunakan menembak Nasrudin tidak cocok dengan jenis pistol yang diperlihatkan JPU. Peluru tersebut merupakan 9 mm, sedangkan pistol SNW berjenis revolver kalibernya 38.

Sebelumnya, dalam persidangan para eksekutor Nasrudin, salah satu terdakwa Daniel pernah memberikan keterangan bahwa ada tim lain yang mengawasi mereka saat melakukan penembakan tersebut. Bahkan, para eksekutor lainnya membantah merekalah yang menembak Nasrudin.

Seorang Ahli forensik RSCM [dr Mun’im Idris] tidak mungkin berbohong dalam mengungkap kejahatan. Beliau adalah seorang dokter yang profesional dan jujur. Dalam kesaksiannya mengatakan, ada pihak kepolisian yang ingin menghilangkan sebagian keterangan hasil otopsi, namun ditolak oleh beliau. Jika yang diutarakan oleh dr Mun’im Idris tidak benar, seharusnya pihak polri menuntut balik atas pernyataannya. Tapi nyatanya hingga saat ini tidak ada sanggahan dari pihak polri.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keterangan dr Mun’im adalah benar dan pihak polri telah dengan jelas berupaya merekayasa kasus Antasari Azhar.

Jimly Asshiddiqe: Antasari Korban Bobroknya Sistem Hukum

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie menilai kasus mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Antasari Azhar, adalah gambaran bobroknya sistem hukum di Indonesia. Hal itu diungkapkannya saat memberikan kata sambutan dalam acara peluncuran buku berjudul:

“Testimoni Antasari Azhar untuk Hukum dan Keadilan” di Aula Universitas Al Azhar, Jakarta, Kamis (15/9/2011).
“Mari kita jadikan kasus Antasari ini sebagai potret carut marut dan bobroknya sistem penegakan hukum dan peradilan di negara kita. Dia merupakan korban dari suatu proses peradilan yang saya namakan peradilan sesat,” ujar Jimly yang juga pernah menjabat sebagai Anggota Watimpers ini.

Menurut Jimly, ada grand design yang salah dalam penanganan kasus Antasari. Salah satunya adalah ditolaknya rekomendasi Komisi Yudisial terkait dugaan pelanggaran kode etik hakim dalam persidangan Antasari oleh Mahkamah Agung. Menurut dia, seharusnya sesama lembaga negara saling menghormati keputusan satu sama lain.

Dalam kesempatan yang sama, Jimly Assidhiqie mengatakan, bahwa kasus yang melilit mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar adalah potret carut marutnya penegakan hukum di Indonesia. Betapa tidak, kata Jimly, apa yang menjadi pelaku sebenarnya tidak terungkap secara riil berdasarkan fakta hukum tetapi korban yang dijadikan sebagai pelaku kejahatan. Artinya negara masih tunduk pada politik bukan hukum.

“Makanya, kalau saya jadi hakim tentulah Pak Antasari Azhar akan saya bebaskan,” ucap Jimly dalam peluncuran buku ‘Testimoni Antasari Azhar untuk Hukum dan Keadilan’ di auditorium Universitas Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (15/9/2011).

Ia menilai bahwa kasus pembunuhan terhadap eks Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen yang menyeret nama Antasari Azhar hingga saat ini masih menimbulkan tanda tanya. Sejumlah fakta tak diungkap hakim di pengadilan sehingga muncul kesan kasus ini direkayasa. Itu yang membuat Jimly Ashsiddiqie menyebut kasus Antasari sebagai potret carut marutnya penegakan hukum di Indonesia. Padahal, dari rekomendasi Komisi Yudisial (KY) haruslah dilaksanakan. Namun, publik dikecewakan karena rekomendasi tersebut ditolak Mahkamah Agung (MA).

Antasari Azhar: Jangan Ganggu Saya Lagi

Sempat mengajukan banding di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Namun, Pengadilan Tinggi DKI Jakarta memperkuat hukuman yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Begitu pun Mahkamah Agung yang juga menolak kasasi yang diajukan oleh Antasari. Antasari tetap dihukum 18 tahun penjara.

Antasari pernah dua kali mengajukan peninjauan kembali (PK) ke MA. Dalam memori PK, Antasari mengungkapkan adanya kejanggalan dalam proses penyidikan, penuntutan, dan putusan hakim. Namun, MA menolak PK yang diajukan Antasari.

Setelah upaya yang diajukannya kandas, Antasari akhirnya menempuh upaya hukum luar biasa melalui pengajuan grasi kepada Presiden Joko Widodo pada 2015. Tapi, Jokowi masih mempertimbangkan sambil meminta masukan dari sejumlah penegak hukum, dan belum mengambil keputusan.

Antasari Azhar mengawali kariernya sebagai seorang jaksa fungsional di Kejaksaan Agung RI. Selama berkarier di kejaksaan, Antasari pernah menduduki jabatan penting, di antaranya kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan, kepala Kejaksaan Negeri Baturaja, kasubdit Upaya Hukum Pidana Khusus Kejaksaan Agung, kasubdit Penyidikan Pidana Khusus Kejaksaan Agung, dan kepala bidang Hubungan Media Massa Kejaksaan Agung.

Puncak karier Antasari adalah saat dia terpilih menjadi ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 2007. Antasari berhasil mengungguli calon lainnya, yaitu Chandra M. Hamzah dengan memperoleh 41 suara dalam pemungutan suara yang dilangsungkan Komisi III DPR.

Antasari kini tengah menjalani proses asimilasi di kantor Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) M. Handoko Halim di Jalan Soleh Ali, Kota Tangerang, Banten. Bila tak ada aral melintang, Antasari Azhar akan bebas bersyarat pada November 2016.

Di tengah kesibukannya di kantor notaris, ayah dua putri ini bersedia diwawancarai kontributorVIVA.co.id, Selasa, 26 Januari 2016. Antasari bercerita tentang suka dukanya selama berada di lembaga pemasyarakatan Klas 1 Tangerang.

Berikut Petikan Wawancara Dengan Antasari Azhar:

→ Apa saja kegiatan Anda selama menjalani asimilasi?

Saya ke sini diantar mobil sama petugas pakai mobil, nggak jalan. Saya keluar lapas jam 08.30 WIB, mulai bekerja jam 09.00 WIB  hingga jam 17.00 WIB di kantor notaris.

→ Apa perbedaan saat bekerja sebagai penegak hukum, seperti di KPK, dengan bekerja di kantor notaris?

Beda konsentrasi. Kalau di KPK berantas korupsi. Di kantor notaris, saya menangani tindak pidana umum dan pidana khusus bila sudah masuk ke kejaksaan. Kalau kenotariatannya yang lebih ahli Pak Handoko.

→ Kenapa Anda tertarik bergabung di kantor notaris M Handoko Halim?

Karena saya dan Pak Handoko sepemikiran. Saya juga mendapat ilmu tentang kenotariatan begitu juga sebaliknya. Jadi, kami saling mengisi dan sering diskusi dalam membedah satu kasus. Saya dari sisi pidananya, Pak Handoko dari sisi notariatannya. Saya tidak ingin Pak Handoko kena kasus. Apa yang saya berikan misalnya soal dangerous.

→ Pengalaman menarik apa yang Anda dapat selama bekerja di kantor notaris ini?

Banyak yang menarik. Ada hal baru, yang dulu saya mengatasi perkara, tapi di sini saya menghadapi masalah teknik kenotariatannya.Ya ada hal yang barulah.

→ Sampai kapan Anda menjalani proses asimilasi ini?

Menurut saya, asimilasi yang saya jalani itu tiap hari kerja, Senin sampai Sabtu. Dan asimilasi yang berlaku sampai saya bebas. Kapan saya bebas, saya sendiri tidak tahu.

→ Sudah berapa remisi yang Anda dapat? Kapan rencana Anda akan bebas?

Setiap tahun saya dapat remisi. Saya sudah menjalani masa tahanan ke-7 menjalani ke-8. Kapan saya bebas, saya tahu dari media pas diwawancara dengan dirjen Pemasyarakatan  bahwa Antasari dapat bebas bersyarat November 2016. Kemudian saya cross check di dalam, dan itu benar.

→ Apa rencana Anda setelah bebas nanti?

Saya kira saya ingin jadi dosen, saya tidak ingin menjadi praktisi hukum, saya akan berhadapan dengan mantan anak buah saya dan teman lama saya di kejaksaan. Saya jadi dosen ajabagi-bagi ilmu.

→ Selama di dalam lapas, siapa teman, atau teman pejabat yang sering datang menjenguk?

Kalau teman-teman lama ya sering. Nah, kalau pejabat ini dalam konteks pejabat siapa? Ya kalau teman sih sering. Yaa..pertanyaan itu kan pertanyaan yang sensasional, jadi kalau teman si banyak (yang menjenguk).

→ Selama menjalani pembinaan di lapas, apakah Anda akhirnya merasakan siapa teman yang sebenarnya?

Ya itu sih sudah kondisi alam, pada akhirnya saya bisa tahu. Dulu saya anggap semua orang itu emas, setelah saya mengalami ini, saya menjadi tahu tidak semuanya emas, ada yang perak, perunggu, besi, besinya sudah karatan lagi.

Sekarang saya sudah tidak bisa lagi baik sama semua orang. Itu semua jadi acuan saya. Dulu, waktu saya masih di kejaksaan, saya jawab langsung pertanyaan dari wartawan, tapi sekarang saya hati-hati. Apakah benar atau tidak wartawan.

→ Kenapa sampai begitu?

Oh iya dong. Saya nggak mau terjatuh untuk kedua kalinya. Kayak waktu itu ada yang foto saya dan Pak Handoko yang melihat. Kata Pak Handoko, “Wah, Pak Antasari disukai dua wanita”. Isu lagi. Jadi saya harus lebih hati-hati.

→ Selama di lapas, apakah Anda pernah bertemu dengan orang yang dulu kasusnya pernah Anda tangani?

Saya pernah ketemu. Malah sebelahan sama dia. Saya sih biasa saja, hanya saja dianya yang terlihat trauma melihat saya.

→ Di awal Anda menjalani masa hukuman, apa yang pertama kali Anda rasakan? Apa benar ada istilah perpeloncoan bagi tahanan baru?

Saya sendiri dalam tiga bulan masa percobaan tahanan itu masih tidak percaya. Masa saya penegak hukum diginiin? Apa yang kita lakukan sudah baik belum tentu benar di mata mereka, apalagi kalau salah.

Jadi, jaksa penuntut umum harus berhati-hati, jangan apa yang dibilang polisi, jangan iya-iyaaja, harus mencari kebenarannya. Jaksa itu kan posisinya sentral  di undang undang. Jadi, jika perkara bisa atau tidaknya sidang itu ditentukan oleh jaksa, jadi harus profesional, jangan iya terus diterima iya, terus diterima.

Ya akhirnya jadi kayak gini, ya saya hanya mengingatkan pejabat negara, ya cukup lah saya saja jangan ada yang lain lagi. Ini kan kasus pembunuhan ada yang mati, tapi kok jadi yang rame malah masalah cinta segitiga, ya saya paham kalau orang mau jatuhkan saya. Untuk membuat cantik hal yang mereka lakukan itu harus ada bumbu-bumbu itu.

Bagaimana zaman Nabi Yusuf kan, difitnah dengan perempuan juga. Padahal, dia yang digoda perempuan, tapi kemudian Nabi Yusuf yang dipenjara, jadi apalah saya ini. Saya tahu, tapi saya juga manusia yang berada di lingkungan hukum.

→ Tapi kenapa Anda tetap bersedia menjalani hukuman seperti ini?

Saya bilang saya melawan kok, tapi  tidak dengan cara mendemo, tidak dengan nota keberatan. Tapi dengan instrumen hukum yang ada. Saya tempuh dengan cara banding, PK, kasasi, uji materi, itu bentuk perlawanan saya. Jalur yang saya tempuh itu sudah benar.

→ Berkaca dari kasus Anda, bagaimana Anda melihat sistem penegakan hukum di Indonesia saat ini?

Saya perhatikan baik di media cetak maupun elektronik yang sangat terbatas, saya mengikuti kasus Mirna kemarin. Saya memberikan apresiasi kepada Polda Metro cara pengusutan. Itulah cara pengusutan yang benar. Jika dulu kasus saya diusut dengan cara seperti ini mungkin akan lain ceritanya.

Kita mengenal kasus hukum ada dua delik, delik materiil dan delik formil. Bila Anda merasa tertipu itu delik formil Pasal 378 KUHP, jadi pengusutannya bukan akibat Anda tertipu.

→ Orang datang ke rumah Anda, kemudian Anda dirayu untuk bikin pabrik, Anda dirayu-rayu, sehingga tergerak dengar omongan dia, kemudian Anda mengeluarkan uang, ternyata pabriknya tidak ada, Anda tertipu kan?

Nah, dilihat dari proses. Tapi, dari feed back materiil dilihat dari pada akibat, ada yang mati jadi berita, siapa yang mati, di mana dia mati, bilamana dia mati, dengan cara apakah dia mati. Kasus saya matinya karena ada peluru 9 mili. Mestinya dari situ pengusutannya.

Ini korban di rumah sakit tapi berita bad news-nya pelaku dalangnya AA .Benar atau tidak, opini di masyarakat sudah terbentuk untuk pengusutan kasusnya.

Kesimpulannya, berikan saya lima penegak hukum yang baik, walaupun perundangannya kurang baik, saya sanggup menegakkan hukum. Artinya, penegak hukumnya jauh lebih baik dulu, baru peraturan. Kalau peraturannya baik tapi penegak hukumnya tidak baik percuma saja. Penegak hukum yang baik itu yang profesional, potensi ditingkatkan.

Dalam menangani kasus pidana, dia harus mempelajari dulu azas hukumnya. Jangan seenaknya, jangan bikin star, jaksa sudah bilang, oh ini sudah  P21, nanti dulu. Kita uji, kita eksaminasi, kalau penegak hukum bekerjanya sudah benar itu lain cerita.

Nah, polisi nyidik, apakah dalam penyidikan polisi pernah tanya saya, ini HP korban yang ditunjukkan kepada tersangka, ada SMS, apa benar Anda yang membuat itu? Ini HP tidak pernah lihat, SMS tidak pernah lihat, tiba-tiba muncul dakwaan.

→ Jaksa juga, ketika menerima berkas acara, ini ada SMS di HP korban sebelum mati ada ancaman jaksa dengan tegasnya, apa benar ini? Jangan sampai error and objecto, apa benar ini?

Penyidik tolong periksa ahli IT, forensik tolong dilengkapi, disimpan itu, apa benar pengirimnya Antasari? Harusnya seperti itu, tapi ini kan tidak. Polisi juga tidak tanya ke saya, saya tidak melakukan perlawanan, jaksa juga tutup mata terima saja.

→ Sekarang ini handphone bisa disadap, seolah-olah kita yang mengirim SMS, padahal kita tidak pernah mengirim SMS itu?

Itu sudah dibuka oleh saksi ahli IT di bawah sumpah dalam persidangan yang menyatakan tidak ada SMS itu. Justru saya waktu itu sempat berbesar hati untuk bebas dengan menghadirkan saksi ahli IT dari ITB. Pak doktor dari ITB sempat saya hadirkan dalam persidangan, kalau memang itu SMS (pesan singkat berisi ancaman kepada Nasrudin Zulkarnaen) dari saya katakan pada saya, jangan ragu-ragu. “(saksi ahli) Tenang Pak saya ini profesional”.

Dalam persidangan, saksi ahli itu menyatakan tidak ada SMS. Saksi ahli itu mengatakan di bawah sumpah bahwa tidak ada SMS dari Antasari. Jadi siapa lagi yang mau dengar.

→ Di bawah kepemimpinan Jokowi, apakah penegakan hukum di Indonesia saat ini belum terlepas dari intervensi politik?

Bukan kapasitas saya untuk mengomentari hal itu. Karena saya bukan orang politik, saya murni profesional. Sampai sekarang pun saya bisa melihat, oh ini pengusutan benar, dan ini tidak benar, hanya sekadar tahu, cuma sebatas pengetahuan.

→ Pimpinan KPK jilid keempat belum lama ini dilantik, apa saran Anda untuk pimpinan baru KPK?

Biarkan mereka bekerja, baru berapa bulan mereka dipilih. Dulu saya apa kurangnya? Banyak dukungan dari masyarakat, hanya mungkin harus lebih terbuka, selesaikan saja sisa-sisa perkara yang ada di KPK. Bisa selesai itu sudah sangat baik. Saya yakin mereka itu mampu bekerja.

→ Apa tantangan terberat saat bertugas di KPK?

Saya kira sama saja semua pimpinan KPK, kurangnya waktu untuk keluarga, bukan hanya keluarga saya saja, melainkan juga keluarga besar keseluruhan. Karena saya tidak boleh sembarangan ketemu orang.

Sampai ada keluarga saya yang bilang saya harus terpisah dari keluarga, ya itu risiko yang saya terima. Kan ada kode etik di KPK yang menyatakan dilarang bertemu dengan orang yang berpotensi berperkara.

Sekarang beda zamannya, tapi harapan saya mudah-mudahan mereka selamat. Semoga mereka tidak mengalami apa yang saya alami, itu harapan saya dan KPK tetap ada di Indonesia sampai kapan pun.

→ Bagaimana Anda tahu seseorang itu kelak akan berperkara atau tidak?

Justru itu, pimpinan KPK harus punya insting dan juga inteligensia yang kuat. Misalnya, saya pernah ngopi dengan teman saya, dulu sebelum ada kasus. Tiba-tiba saja kesandung korupsi, wah jadi masalah saya. Itu yang dikhawatirkan.

Karena itulah saya berpikir, ketika saya masuk tahanan maka jarang orang KPK menjenguk saya. Karena adanya kode etik itu.

→ Kasus besar apa yang pernah Anda tangani saat menjabat pimpinan KPK?

Semua kasus besar. Semua kasus korupsi itu saya anggap besar. Saya tidak beda-bedain. Ini kasus kecil, ini kasus sedang. Tidak.

→ Bagaimana Anda melihat hubungan KPK-Polri belakangan ini?

Dulu saya tidak pernah mengalami itu. Dulu hubungan KPK dengan polisi baik-baik saja. Supervisi dan koordinasi kita jalan terus, tergantung orang-orangnya. Dulu zaman saya itu Pak Sutanto dengan saya baik, secara pribadi kita juga sering bertemu untuk koordinasi dan polisi juga sering datang ke KPK untuk memberikan supervisi, tidak ada masalah. Kalau polisi mau ambil orangnya karena sudah lama bertugas, kita serahkan, tidak masalah, saling melengkapi.

Untuk sekarang, jika ada masalah, ya sayanggak paham. Kebetulan saya di dalam dan sebetulnya tidak ada bukunya lah bahwa KPK dan polisi itu harus berseteru, nggak ada rumusnya, kan KPK ini juga polisi, KPK juga jaksa. Kerja sama itu terbentuk semenjak KPK didirikan. Kalau sampai ada kenapa polisi ditangkap KPK, jaksa ditangkap KPK, karena memang ada undang-undangnya. Dalam UU mengatakan bahwa KPK hanya boleh mengusut penyelenggara negara dan penegak hukum.

Jadi kalau ada camat korupsi, nggak bisa KPKnanganin. Karena camat bukan termasuk penyelenggara negara. Siapa yang membuat peraturan seperti itu, memang, ya pembuat undang-undangnya, DPR dan pemerintah. Yang penting kita menjalani sebagai penegak hukum tapi, kita yang dimusuhin.

→ Semua jabatan ada risikonya, apakah pesan itu yang ingin Anda sampaikan kepada pimpinan KPK saat ini?

Saya bilang, lain pimpinan lain zamannya, jadi tidak bisa diukur. Pimpinan KPK harus hati-hati dan tetap waspada dalam menjalankan tugasnya. Karena bisa saja ada gangguan hidup yang datang secara tiba-tiba, karena tugas yang dilakukan mereka itu kan sekunder, kita punya kejaksaan, polisi juga punya.

Ada yang mengatakan, “Kalau sudah ada di KPK sudah tidak bisa pulang lagi”, itu hanya orang yang khawatir. Sebetulnya jika mereka tidak merasa bersalah ya jangan takut, tetapikok bisa tidak merasa bersalah tapi takut.

Saya tidak takut ditahan nanti juga pengadilanngebebasin, tetapi pengadilan ngehukum saya,ah tambah bingung lagi saya, SMS tidak ada dari Antasari ketika sidang, tambah senang saya, ditambah lagi objek barang bukti juga berbeda dengan data yang ada, ahli lagi yang berbicara, ah bebas saya. Bagi yang menghukum sih katanya masih ada fakta lain, itu mah hanya alasan-alasan mereka yang ingin saya tetap dapat hukuman.

→ Masyarakat cukup kritis menilai kasus Anda, tanggapan Anda?

Itu yang saya syukuri sebetulnya, setelah saya melihat persidangan terbuka, itu sangat menguntungkan saya sekali. Artinya masyarakat dapat menilai. Yang terakhir ini kasus pembunuhan, masa baju yang dipakai korban tidak ada sampai saat ini, ke mana? Semua yang melekat di badan korban harus menjadi barang bukti, saya kadang-kadangngenes, saya yang jaksa saja masih ditipu.

Saya sering menemui mahasiswa yang terkena kasus-kasus seperti narkoba. Saya tanya “Semester berapa?” dijawab “Sekian Pak”, setahu saya, narkoba itu, undang-undang yang baru itu ancaman kurungan di atas lima tahun. Saya tanya lawyer-nya waktu itu siapa? “Nggakada Pak” berati nggak sah dong, sedangkan asas hukum menjelaskan jika ancaman kurungan di atas lima tahun maka wajib terdakwa atau tersangka didampingi lawyer. Wajib, tapi ini enggak, berarti nggak sah dong. Batal demi  hukum. Tapi karena orang nggak ngerti hukum jadi iya-iya saja.

→ Kasus Anda ganjil, tapi tetap dipaksakan, apa pembelaan Anda?

Saya ngerti hukum maka saya lawan, tapi kok nggak diterima. “Saya kan nggak sah Pak Hakim, bahwa kalau memeriksa saya walau saya ketua KPK, tapi melekat dalam diri saya seorang jaksa terkena Pasal 8 harus ada izin tertulis dahulu, tetapi ini nggak ada izin tertulis,kok masih diusut, jalan terus”. Peluru lain dengan senjata, jalan terus, SMS katanya dalam dakwaan ada, jalan terus. Ya sedih sih, saya penegak hukum aja diginiin.

Sebetulnya saya tidak mau lagi bicara soal kasus, toh saya sudah menjalani hukuman di jalanan, saya juga telah memaafkan semua mereka yang “salah”. Semoga mereka dan keluarganya sehat wal afiat, sisanya urusan dia dengan Tuhan, ya saya sebagai manusia sudahmaafin, saya juga tidak dendam, apakah jika nanti saya keluar saya mencari mereka untuk balas dendam, tidak. Saya juga ingin hidup tenang bersama keluarga.

→ Hampir 8 tahun Anda di lapas, pesan apa yang ingin Anda sampaikan?

Catatan saya cuma satu. “Tolong jika nanti saya sudah tenang, sudah bebas, jangan ada yang ganggu lagi”.

Mereka boleh dendam dengan sikap saya semenjak saya menjadi ketua KPK, mungkin ada tindakan saya yang mereka tidak senang, tapi kan saya menjalankan tugas, itulah risiko tugas.

Saya anggap ini takdir, ya memang sudah takdirnya. Menurut pemikiran saya, sebelum kita lahir, kita berkomunikasi dengan Tuhan, mungkin pada saat itu Tuhan sudah memberikan gambaran dan bertanya kepada saya.

“Hei Antasari, sebantar lagi kamu akan lahir dan kamu akan bla, bla, bla, bla, sanggupkah kamu?” Mungkin saya menjawabnya pada saat itu, sanggup.

Jika Anda yang menjadi wartawan pada saat itu pasti Anda juga akan meliput otak dari pembunuhan itu. Pada saat itu, otak dari pembunuhan itu adalah AA ya, tapi nyatanya di saat sidang tersebut sedang berlangsung, yang terbukti menurut mereka saya hanya ikut serta, ikut serta kan bukannya otak, jadi itu opini yang mereka bentuk.

Kasus yang saya alami ini saya anggap sebagai takdir yang harus saya jalani. Kecuali jika ada orang yang mau mengaku.


Jutaan Rakyat Terharu mengingat Kisahnya

05-18-06.34.31

Mengenai kasus yang membelitnya, mayoritas masyarakat masih tidak dapat mempercayai tentang tuduhan yang ditujukan terhadapnya.

Namun, entah karena permasalahan hukum di Indonesia yang carut marut ini, Antasari Azhar akhirnya menanggung beban sebagai terpidana dan dipenjara selama bertahun-tahun.

Hal yang kembali membuat salut adalah, Antasari mengaku kalau tidak akan dendam terhadap Indonesia. Bahkan Antasari bakal mengabdi untuk generasi penerus bangsa dengan menjadi Dosen di Universitas manapun yang mau menerimanya.

“Saya akan menjalani kehidupan yang normal tanpa terbebani masalah hukum. Ingin jadi dosen di mana saja, asal ada kampus yang ingin menerimanya,” katanya di Jakarta seperti dikutip hatree.com.

Antasari juga sempat mengeluarkan uneg-uneg dalam hatinya tentang betapa sedihnya hidup di penjara atas kesalahan yang tak pernah dilakukannya. Bukan masalah kehidupan di penjara, namun terpisah dari keluarga adalah hal yang paling menyakitkan buatnya.

5-18-06.31.32

“Ada hal yang sangat perlu diperbaiki dalam proses hukum saat ini. Saya ingin sampaikan dalam proses belajar mengajar dan pengalaman ini sebagai bekal penting agar kasus ini tak terulang lagi,” tegasnya.

Untuk selanjutnya, Antasari Azhar mengaku trauma dengan dunia politik di Indonesia yang sungguh kejam. Oleh karenanya, Antasari mengaku tak akan lagi terjun ke dalam dunia kelam yang pernah membuatnya terpisah dari keluarga yang dicintainya.

Referensi

  • ^https://kabarnet.in/kasus-antasari-azhar/
  • ^http://m.news.viva.co.id/news/read/736683-antasari-azhar-jangan-ganggu-saya-lagi
  • ^http://www.kekinian.co/rizka-meftia-lestari/antasari-azhar-menghirup-udara-bebas-jutaan-rakyat-terharu-mengingat-kisahnya-selamat-pak
Iklan

One response »

  1. […] Selanjutnya: Kejanggalan Kasus Antasari Azhar (Bagian 4) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s