Shalawat Global versus Wasiat Nabi SAW

05-22-07.42.55

Shalawat Nabi adalah ibadah yang disyariatkan Allah dalam surat Al-Ahzab 56, yang lafalnya telah ditentukan Rasulullah dalam berbagai hadits shahih ada 10 macam. Shalawat yang terpendek adalah “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.”

Lantas, bagaimana keabsahan Shalawat Global hasil kreasi Emha yang meracik sendiri shalawat gaya baru dengan melodi lagu-lagu Natal yang mengusung doktrin ketuhanan Yesus dan penebusan dosa?

Dalam pandangan Al-Qur’an, salah satu perbuatan yang diharamkan Allah adalah mencampuradukkan haq dan batil. Allah berfirman:

وَلاَ تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui” (Qs Al-Baqarah 42).

Dalam menjelaskan ayat tersebut, Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip ucapan Qatadah:

وَلاَ تَلْبِسُوا اْليَهُوْدِيَّةَ وَالنَصْرَانِيَّةَ بِاْلإِسْلاَمِ. إِنَّ دِيْنَ اللهِ اْلإِسْلاَمُ،

وَاْليَهُوْدِية وَالنَّصْرَانِيَّة بِدْعَة لَيْسَتْ مِنَ اللهِ.

“Janganlah kamu campuradukkan agama Yahudi dan Nasrani dengan dinul Islam. Sesungguhnya din yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam, sedangkan Yahudi dan Nasrani adalah bid’ah yang bukan berasal dari Allah.”

Dengan kaidah tersebut, maka mengoplos lagu Natal gerejawi dengan shalawat Nabi sama sekali tidak dibenarkan karena termasuk mencampuradukkan tauhid (Islam) dengan kemusyrikan agama kafir.

Lantas bagaimana jika Shalawat Global itu ditujukan untuk mengekspresikan kecintaan dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW?

Perlu diingat, bahwa apa yang dianggap baik tidak otomatis menjadi sebuah kebaikan. Dalam urusan agama, niat baik saja belum cukup, karena niat yang baik harus diiringi dengan perbuatan baik sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula dalam memuji dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, harus sesuai dengan aturan Nabi SAW, salah satunya adalah sabdanya berikut:

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلاَم فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ.

“Dari Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kalian menyanjung-nyanjung aku seperti kaum Nasrani menyanjung Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba Allah dan rasul-Nya” (HR Bukhari, Ahmad dan Ad-Darimi).

Secara tegas dan jelas, Rasulullah melarang penyanjungan (pujian, shalawat, dll) yang meniru-niru tradisi orang Kristen. Maka bershalawat kepada nabi dengan cara yang meniru-niru (tasyabbuh) kepada tradisi orang Kafir adalah perbuatan yang tidak bisa dibenarkan secara agama. Bukankah meniru-niru tradisi orang kafir itu juga perbuatan yang dilarang keras oleh Allah dan rasul-Nya?

وَلاَ يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ

“…Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya…” (Al-Hadid 16).

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk dalam golongan mereka” (HR. Abu Daud dan Ahmad).

Tepatlah fatwa Syaikh Muhammad At-Tamimi dalam kitab “Masa’il Jahiliyah” yang merinci 128 perilaku dan akhlak kaum Jahiliyah yang menyelisihi Rasulullah SAW. Salah satu ciri khas kaum jahiliyah adalah tanaqudh (kontradiktif) antara klaim dan perbuatan. Penisbatkan orang jahiliyah kepada para nabi selalu dibarengi dengan penyelisihan kepada para nabi tersebut.

Bershalawat kepada Rasulullah SAW dengan cara menjiplak gaya kaum kafir yang notabene dilarang keras oleh Rasulullah SAW, inilah fenomena Shalawat Global yang diajarkan Emha Ainun Nadjib kepada jemaatnya.

Gombal Mukiyo di Kepala Emha Ainun Nadjib

Dengan menelaah tulisan-tulisan Emha di berbagai media, kita tidak akan heran apalagi kaget dengan hasil karya Emha yang ciri khasnya adalah tidak shahih, tidak serius, dan nggedabrus asal beda dan terlihat aneh. Kita akan menyimpulkan, ternyata Shalawat Global bukanlah satu-satunya gombal Emha yang menjadikan agama sebagai permainan (la’ibun) dan senda-gurau (laghwun). Berikut ini adalah contoh beberapa daftar gombal Emha. Sengaja penulis tidak menyertakan tanggapan maupun koreksinya, karena secara kasat mata semua orang bisa metani (meneliti) keanehan maupun kejanggalan tersebut:

Mendramatisir Tuhan

Sepertinya Tuhan harus lebih berterus terang di hari-hari depan bangsa Indonesia ini, dan sama sekali tidak bisa mengandalkan kecerdasan atau iktikad baik kita untuk melakukan rekapitulasi terhadap apa dan siapa yang sebenarnya kita butuhkan dan apa siapa yang sesungguhnya menghancurkan kita.”(Kolom Emha berjudul “Tempurung-Tempurung Jahat” di website padhangmbulan.com).

Memanusiakan Tuhan

“Februari nanti Sidoarjo akan berulang tahun dengan pencanangan “Sidoarjo Bangkit”. Dan kelihatannya Tuhan sangat mensupport dan turut mempersiapkan segala sesuatunya secara effektif(Kolom Emha berjudul “Anugerah Agung bagi Korban Lumpur” di padhangmbulan.com, Harian Surya 22 Desember 2007).

Melukiskan Tuhan dengan Kalimat yang Seronok (Tuhan disebut memeloroti celana?)

“Kalau pelaku-pelaku terpenting dari jalannya managemen negara ini lolos tidak terpeleset atau terjerembab atau terjerumus ke jurang dari jalanan licin itu, maka kita punya kemungkinan untuk selamat. Kalau apa yang selama ini berlangsung tidak bergerak menuju perubahan-perubahan yang siginifikan, maka kecemasan adalah tindakan mulia. Mungkin sangat sedikit di antara kita yang memperhatikan bahwa puncak-puncak dari makin banyak dunia aktivitas – apa itu kesenian, ormas, budaya ketokohan, institusi kepemerintahan, dlsb —sedang satu persatu “dipelorotin celananya” oleh sejarah, lebih amannya: oleh Tuhan. “Dipelorotin celananya” itu maksudnya ditunjukkan kepada publik wajah mereka yang sebenarnya” (Kolom Emha berjudul “Tempurung-Tempurung Jahat” di website padhangmbulan.com).

Bangga Mengaku Dirinya sebagai Setan

“Anda orang yang sangat cinta dan karib dengan Muhammad SAW sehingga Anda bersifat Muhammadiyah, berwatak bak Muhammad, sementara kami adalah setan-setan yang tidak punya andalan apapun untuk mencintai Muhammad. Anda mungkin bagian penting dari Perhimpunan Orang Alim atau Nahdlatul Ulama, sementara kami lebih pantas dicampakkan ke kubangan Nahdlatus-Syayathin: gerombolan setan-setan… Kami para setan terletak pada maqam yang sangat susah dan dilemmatis. Kami takut kepada Allah, tetapi terlanjur bersumpah akan membuktikan kepada Tuhan hujjah atau argumentasi kepada Iblis Bapak Setan dulu ogah bersujud kepada Adam…

Ini bukan sesuatu yang dibikin-bikin. Saya ini sendiri–bukan sekedar dalam pandangan saya, tetapi juga terutama pada pandangan mereka yang karib dengan Allah: adalah juga setan. Sehingga wajah saya adalah wajah setan, rambut saya adalah rambut setan, nyanyian saya adalah nyanyian setan, puisi saya adalah puisi setan, dan orang-orang yang bersama saya adalah teman-temannya setan.(tulisan Emha berjudul “Belajar Kepada Majlis Setan” yang dimuat di kolom Bangbang Wetan koran Surya 20 Oktober 2007, dan dipublikasikan di Kolom Emha website padhangmbulan.com).

Secara Simbolik-Dinamik Menyebut Tuhan Telah Memperistri Makhluk-Nya

“Secara simbolik-dinamik sering saya memakai idiom persuami-istrian. Sebagaimana Allah ‘memperistri’ makhluk-makhlukNya, lelaki ‘memperistri’ perempuan dan Pemerintah ‘dipersuamikan’ oleh rakyat —maka ummat manusia dinobatkan menjadi ’suami’ bagi alam semesta. Tugasnya adalah menghimpun ilmu, melakukan pemetaan, menyusun disain dan methodologi, menggambar dan mensimulasikan sistem dan managemen untuk memproduksi “rahmatan lil’alamin” (Kolom Emha berjudul “Bukan Kesesatan Benar Menusuk Kalbu” di padhangmbulan.com).

Semangat Pluralisme: Menganjurkan untuk Menjadi Penganut Allah, Muhammad, Yesus, Budha dan Sang Hyang Widhi.

“Maka tak pernah ada keberanian pada diri saya untuk mengajak orang lain, apalagi untuk meyakini apa yang saya yakini, untuk berpikir seperti saya berpikir, untuk menganut apa yang saya anut. Setiap orang jangan memandang saya. Pandanglah Allah, Muhammad, Yesus, Budha, Sang Hyang Widhi: take it or leave it. Atau tak usah memandang siapapun kecuali dirimu sendiri, kepentinganmu sendiri, sebagaimana Firaun. Engkau merdeka bahkan untuk menjadi Firaun. Itu urusanmu dengan Tuhan dan dirimu sendiri, bukan dengan saya.” (Kolom Emha berjudul “Bukan Kesesatan Benar Menusuk Kalbu” di padhangmbulan.com).

Mempersamakan Shalat dengan Rujak Cingur dan Pecel karena Sama-sama Bisa Memabukkan

Jangankan narkoba: air sajapun memabukkan kalau sekali minum setengah drum. Nasi, rujak cingur, rawon, pecel, semua memabukkan jika tidak dikontekstualisir secara ruang dan waktu. Mungkin itu sebabnya Tuhan suruh kita sholat lima waktu yang keseluruhannya hanya butuh waktu sekitar setengah jam. Kita pasti mabuk kalau Tuhan kasih metoda sholat yang satu kali sholat butuh 3 jam, sehingga 5x sehari jumlah waktunya menjadi 15 jam. So sholat sajapun memabukkan dan berakibat negatif kalau tidak tepat satuan ruang dan waktunya(Kolom Emha berjudul “Gerakan Majnun Internasional” di padhangmbulan.com).

Narkoba Lebih Berbahaya daripada Neraka?

Maka narkoba itu 10x lipat setan iblis efektivitasnya untuk memajnunkan manusia. Narkoba itu melebihi neraka, dan pemakai narkoba adalah manusia terbodoh tiada tara. Di dalam neraka saja orang kesakitan tersiksa tetapi memiliki kemuliaan karena sedang menjalani hukuman alias pembersihan. Orang bersalah yang dihukum itu harus bangga karena memang demikianlah yang benar. Salah + tidak dihukum = Salah kwadrat. Salah + dihukum = Benar. Orang yang dipenjarakan dan dimasukkan neraka berarti menjalankan kebenaran.(Kolom Emha berjudul “Gerakan Majnun Internasional” di padhangmbulan.com).

Mempersilahkan lahirnya aliran sesat Syi’ah, karena semakin banyak golongan semakin menghibur

“Sebagaimana kalau jumlah pemeluk Islam ada sejuta, maka dimungkinkan ada sejuta aliran, dipersilahkan setiap orang memberlakukan tafsirnya masing-masing, dan satu-satunya yang berhak menagih pertanggung-jawaban adalah Tuhan.Silahkan ada golongan NU, Muhammadiyah, Persis, Persis NU, Persis Muhammadiyah, Muhammad NU, Sunni, Syiah, Sun’ah, Syinni, PKNU, Langitan, Bumian, Lautan, Gunungan, PKB Alwiyah, PKB Wahidiyah, PKB Muhaiminiyah, PKB Yenniyah… semakin banyak semakin demokratis dan menghibur(Kolom Emha berjudul “Gus Muhammad SAW” di padhangmbulan.com).

Majelis Ulama Indonesia dan Al-Qiyadah Al-Islamiyah Sama Sesatnya

Di tengah gencarnya kecaman terhadap Al-Qiyadah Al-Islamiyah yang dianggap menyebarkan ajaran sesat, budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) justru mengemukakan bahwa semua orang dan kelompok berada dalam kesesatan, termasuk kiai, ulama bahkan orang-orang MUI (Majelis Ulama Indonesia) sendiri yang sering memberikan lebel sesat: “Kalau MUI bilang ajaran itu sesat, MUI juga sesat. Sesama sesat tidak boleh saling mengganggu(www.republika.co.id).

Assalamualaikum bukan monopoli Islam

Yogyakarta, Kompas – Kerukunan antarumat beragama di Indonesia masih berpeluang besar untuk terwujud jika setiap umat mau membuka diri untuk bergaul. Selama ini interaksi itu kerap terhambat hanya karena kesalahpahaman akan istilah linguistik tertentu.

Budayawan Emha Ainun Najib, yang akrab disapa Cak Nun, mencontohkan pengucapan salam antarumat adalah contoh hambatan yang masih kerap terjadi. “Kalimat assalamualaikum, misalnya, seolah-olah hanya menjadi milik umat Islam, padahal semua umat boleh mengucapkannya sekaligus membalas salam ini,” kata Cak Nun. (Kompas, 10 Agustus 2007).

Disukai Orang Gereja, Dipisuhi Korban Lapindo

Selain dikenal sangat pluralis, Emha Ainu Nadjib yang oleh warga Sidoarjo akrab dipanggil Ngainun juga ingin tampil sebagai sosok yang humanis. Ketika Porong dan sekitarnya ditimpa musibah lumpur Lapindo sejak 29 Mei 2006, persoalan utama yang berlarut-larut dari tahun ke tahun adalah relokasi dan ganti rugi atas hak-hak warga yang rumahnya tidak bisa ditempati karena menjadi korban lumpur.

Di tengah himpitan bencana itu, awal Juli 2007, sebanyak 11 ribu korban lumpur memberikan mandat tertulis kepada Ngainun untuk mencari solusi dengan membawa persoalan itu kepada presiden SBY di Cikeas. Sebagai mediator Ngainun dan kelompoknya membentuk Gabungan Korban Lumpur Lapindo (GKLL). Karena kekecewaan warga, akhirnya GKLL itu terbelah dengan berdirinya kelompok Gerakan Pendukung Peraturan Presiden 14/2007 (GEPPRES) yang berbalikan arah dengan GKLL binaan Ngainun.

Kiprah Ngainun dan kelompoknya yang mengecewakan para korban lumpur Lapindo itu sempat mencuat di Forum Pembaca Kompas. Perilaku kelompok GKLL binaan Ngainun yang menjengkelkan adalah pemungutan ‘uang jasa’ dan menakut-nakuti korban lumpur Lapindo yang tidak mau menerima skema cash and resettlement gagasan Ngainun dan elite GKLL bersama PT Minarak Lapindo Jaya.

Di forum tersebut, Ngainun dinilai telah menjadi garong. Bahkan di portal berpolitik.com dan portal korbanlumpur.info, para korban lumpur misuh-misuh(memaki-maki) kepada Ngainun yang diyakini telahmlekotho (memperdayai) mereka yang sudah tidak punya apa-apa.

Dengan falsafah anjing menggonggong kafilah berlalu, Ngainun dalam situs resminya justru memuji pihak Lapindo sebagai orang yang dermawan kepada para korban Lapindo. Ngainun menulis: “Mereka yang dibayar 20 persen saja sudah makmur apalagi kalau sampai sisa pembayaran 80 persen dibayar. Padahal, apa yang sebenarnya terjadi pada Lapindo, wong belum ada yang diputuskan bersalah tapi sudah dibayar ganti rugi. Ibarat kata, Lapindo itu sudah memberikan sodakoh kepada warga.”

Tulisan ini tidak hanya melukai perasaan para korban lumpur, bahkan membuat para warga ingin melakukan tindakan fisik hingga niat untuk penghilangan nyawa kepada Ngainun. Tak heran jika Prof Dr M Syafii Maarif, tokoh Muhammadiyah di kolom Resonansi harian Republika (18/12/2007) menyebut Ngainun sebagai orang yang “jual tampang” yang hanya meramaikan suasana: “Sudah lebih setahun, kita dihadapkan pada bencana Lapindo yang tak kunjung selesai, sementara penderitaan korbannya sudah sampai di batas toleransi… Ada seniman yang jual tampang ke sana, tetapi hanya untuk menambah heboh. Penderitaan tidak semakin berkurang.”

Entah kenapa, disadari atau tidak, Cak Nun tiba-tiba berubah dari humanis menjadi sosok ironis. Di kalangan Muslim tertindas ia dibenci dan dicaci, tapi di kalangan Kristen malah disukai dan dipuji sampai ke negeri Belanda. Salah satu penyebabnya adalah kefanatikan terhadap paham pluralisme yang direfleksikan dengan Shalawat Global hasil kawin silang antara lagu gereja dengan shalawat Nabi.

Sebagian orang terheran-heran terhadap sensasi, kontroversi dan kreativitas Shalawat Global rakitan Cak Nun itu. Tapi keheranan ini hanya menimpa orang awam saja. Tetapi bagi umat Islam yang berpendidikan, sepak terjang Cak Nun itu sudah kuno dan ketinggalan zaman. Jauh sebelumnya, tahun 1994 sudah beredar lagu rohani gereja berirama lagu shalawat “Thola’al Badru.” Tahun 2000 yang lalu beredar “Qasidah Kristiani” yang mengawinkan lagu-lagu irama padang pasir dengan Kidung Jemaat kristiani. Judul lagu dalam qasidah kristiani ini pun sangat menggelitik, di antaranya: Isa Almasih Qudrotulloh, Allahu Akbar, Laukanallohu Aba’akum, Isa Kalimatullah, Ahlan Wasahlan Bismirobbina, Nahmaduka Ya Allah, dll.

Walhasil, Shalawat Global buatan Cak Nun yang menjiplak Kidung Jemaat Kristen itu sama sekali bukan hal baru, tapi hasil murni meniru (mengekor) terhadap sepak-terjang para pendeta dan penginjil sebelumnya. 

Emha Ainun Nadjib Mengajak Manusia untuk Tidak Shalat?

Emha Ainun Nadjib melontarkan pernyataan / pilihan kepada audiens : “Sampean pilih dadi wong ra shalat ning apikan atau pilih dadi wong shalat ning jahat ?”.(kalian memilih jadi orang yang tidak shalat tapi kelakuan baik atau memilih shalat tapi kelakuan buruk?). Hingga ada seorang ibu yang protes dan memilih shalat plus kelakuan baik, yang kemudian dikatai Emha “gragas” (rakus).

Hal itu Emha lontarkan dalam acara penutupan lomba MTQ tingkat kabupaten Bantul, DIY, tanggal 23 Oktober 2013 yang dilaksanakan di kecamatan Bambanglipuro diisi oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) bersama Kiai kanjeng.

Kalau Emha sadar akan perkataannya itu, maka betapa berat resikonya. Karena dalam Al-Qur’an ditegaskan:

{مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ} [المدثر: 42، 43]

42. “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”

43. mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, (QS Al-Muddatstsir/74: 42-43).

Siapa Emha itu?

Dia kini adalah suami Novia Kolopaking, perempuan yang dikenal sebagai seniman film, panggung, serta penyanyi.

Dulu Emha lima tahun hidup menggelandang di Malioboro, Yogyakarta antara 1970–1975 ketika belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha, menurut Wikipedia.

Jejak Emha Ainun Nadjib di Gereja

Kalau dicermati, memang sejak sering blarakan (blusak-blusuk) ke gereja di berbagai kota di Indonesia bahkan sampai ke Roma Italia,

Belanda dan Jerman, Emha sangat ahli mengawinkan shalawat Nabi dengan lagu-lagu yang beraroma kemusyrikan. Dan Shalawat Global bukanlah hasil karya Emha satu-satunya.

Jauh sebelumnya, Sabtu malam setelah shalat tarawih (14/10/2006), dalam acara bertajuk “Pagelaran Al-Qur’an dan Merah Putih Cinta Negeriku” di Mesjid Cut Meutia, Jakarta Pusat, Emha dan gamelan Kiai Kanjeng melantunkan Shalawat Malam Kudus. Shalawat iniadalah hasil perpaduan (medley) antara lagu natal Malam Kudus (Silent Nigt) dengan Shalawat: “Sholatullah salamullah, ‘ala thoha Rasulillah, sholatullah salamullah, ’ala yaasin Habibillah.” Anehnya, Emha dan Kiai Kanjeng mendapat applausyang sangat meriah dari hadirin. Dengan bangga Emha berujar, “Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya bukan bernyanyi, tapi saya bershalawat.”

Omongan Emha ini menunjukkan bahwa dia adalah orang yang hobi nggombal (membual). Gombalnya bukan sembarang gombal, tapi gombal mukiyo (bualan murahan, tak bermutu, jauh dari kebenaran).Sudah jelas menyanyikan lagu Natal kristiani yang liriknya dimanipulasi, kok tak malu-malu nggedabrusdi rumah Allah, mengaku bahwa ia sedang bershalawat nabi? Ah, Cak Nun, nggombal kok cik nemene, rek…! (Ah, Cak Nun, membual kok begitu amat, coy…!)

Setahun berikutnya Emha mendukung ulang tahun ke-73 Paroki Pugeran Yogyakarta (8/8/2007) dengan tampil sebagai pembicara dalam dialog bertema “Membangun Habitus Kebangsaan Baru” di halaman gereja tersebut. Di akhir acara, Emha mempersembahkan lagu penutup berjudul “Hubbu Ahmadin” yang diaransemen dengan irama orkestratif gerejawi. Lagu ini dinyanyikan secara bergantian oleh Kiai Kanjeng dan tim paduan suara yang terdiri dari para biarawati. (Koran Seputar Indonesia, 31 Agustus 2007).

Setahun kemudian (6-21/10/2008) Emha bersama istrinya, Novia Kolopaking dan rombongan Kiai Kanjeng melakukan pementasan di enam kota Negeri Belanda yakni Den Haag, Amsterdam, Deventer, Nijmegen, Leeuwarden dan Zwole, atas undangan Centre for Reflection of the Protestant Church bekerjasama dengan Hendrik Kraemer Institute. Di Den Haag, Emha dan KiaiKanjeng manggung di Gereja Christus Triomfater. Dengan tema ‘Voices & Visions’, Emha mempersiapkan nomor-nomor musik yang dikemas sesuai dengan tema dialogis antarbudaya dan antaragama, salah satunya adalah lagu yang sedang naik daun di Belanda dengan aransemen baru ala gamelan Kiai Kanjeng.

Jadi, Shalawat Global adalah lagu-lagu (Kidung Jemaat) Natal yang liriknya diganti dengan shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW. Dengan kata lain, Shalawat Global yang di“sunnah”kan Emha adalah lagu dengan irama gamelan hasil kawin-silang antara lagu Natal Yesus Kristus dengan shalawat Nabi Muhammad SAW. Maka, kalau mau jujur, lagu-lagu Emha itu tidak pantas dijuluki “Shalawat Global.” Judul yang paling tepat adalah “Kidung Jemaat Gamelan Krislam,” yaitu perpaduan lagu rohani Kristen dan shalawat Islam.

[1]Pada tahun 2005, Cak Nun dan Kiai Kanjeng tour di Italia persis ketika Paus Johanes Paulus II wafat. Sebuah festival di mana Cak Nun dan KiaiKanjeng dijadwalkan akan tampil dibatalkan tetapi Cak Nun dan KiaiKanjeng justru diminta Walikota Roma untuk tampil dalam kesempatan pemakaman Paus Johanes Paulus II. Mereka secara khusus menciptakan puisi dan komposisi musik dalam rangka penghormatan terhadap Paus berjudul “O Papa.”

Setelah mengetahui sedikit latar belakang Emha kaitannya dengan pemahaman agamanya, mari kita lanjutkan untuk menyimak artikel berikut ini.

Ruwaibidhah

Ruwaibidhah, yaitu orang yang bodoh (tetapi) berbicara mengenai urusan umum. Itulah yang diperingatkan dalam Hadits:

حَدِيث أَنَس ” أَنَّ أَمَام الدَّجَّال سُنُونَ خَدَّاعَات يُكَذَّب فِيهَا الصَّادِق وَيُصَدَّق فِيهَا الْكَاذِب وَيُخَوَّن فِيهَا الْأَمِين وَيُؤْتَمَن فِيهَا الْخَائِن وَيَتَكَلَّم فِيهَا الرُّوَيْبِضَة ” الْحَدِيث أَخْرَجَهُ أَحْمَد وَأَبُو يَعْلَى وَالْبَزَّار وَسَنَده جَيِّد , وَمِثْله لِابْنِ مَاجَهْ مِنْ حَدِيث أَبِي هُرَيْرَة وَفِيهِ ” قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَة ؟ قَالَ الرَّجُل التَّافِه يَتَكَلَّم فِي أَمْر الْعَامَّة “( فتح الباري).

   Hadits Anas: Sesungguhnya di depan Dajjal ada tahun-tahun banyak tipuan –di mana saat itu– orang jujur didustakan, pembohong dibenarkan, orang yang amanah dianggap khianat, orang yang khianat dianggap amanah, dan di sana berbicaralah Ruwaibidhoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, apa itu Ruwaibidhoh? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Orang yang bodoh (tetapi) berbicara mengenai urusan orang banyak/ umum. (Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Abu Ya’la, dan Al-Bazzar, sanadnya jayyid/ bagus. Dan juga riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Lihat Kitab Fathul Bari, juz 13 halaman 84  ).

 

Kerancuan Dakwah Emha Ainun Nadjib dengan Kyai Kanjengnya

Emha Ainun Nadjib (Emha) melontarkan pernyataan:

“Ada sekelompok wong Islam yang sukanya mbidngahke (membid’ahkan) kelompok lain, sithik-sithik bidngah,… nyanyi lagu gereja bidngah”.

Screenshot_2016-06-04-20-23-43_1

Emha Ainun Nadjib dan Kyai Kanjengnya

Oleh Budi Nurastowo Bintriman

Kader Muhammadiyah, Alumni Pondok Pesantren Hajjah Nuriyah Shabran, UMS angkatan 86

Acara penutupan lomba MTQ tingkat kabupaten Bantul, DIY, tanggal 23 Oktober 2013 yang dilaksanakan di kecamatan Bambanglipuro diisi oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) bersama Kiai kanjeng. Ada beberapa hal yang kemudian menarik untuk diulas, selain dalam acara itu diundang Romo dari gereja setempat untuk bernyanyi bersama, hal yang disampaikan Cak Nun dalam “dakwahnya” itu penuh dengan kerancuan.

Di sela-sela bernyanyi Cak Nun menyampaikan pemahamannya terhadap Islam kepada khalayak yang memenuhi lapangan Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, DIY itu. Berikut beberapa hal yang kemudian menjadi catatan penulis.

Pertama, Emha Ainun Nadjib (Emha) melontarkan pernyataan : “Ada sekelompok wong Islam yang sukanya mbidngahke (membid’ahkan) kelompok lain, sithik-sithik bidngah, sithik-sithik bidngah (sedikit-sedikit membid’ahkan)”. Emha mengambil contoh, “bar shalat salaman we bidngah (setelah salat salaman saja dikatai bid’ah), nyanyi lagu gereja bidngah”, dengan nada sinis, cemoohan, dan nyinyir.

Tanggapan: Konsep bid’ah satu paket dengan konsep sunnah, sebagaimana halnya konsep tauhid dengan konsep syirik.  Konsep sunnah digunakan untuk memurnikan ajaran-ajaran Islam. Sedang konsep bid’ah digunakan untuk mengkomplementasi konsep sunnah itu sendiri. Jika Emha menginginkan  ajaran-ajaran Islam ini tetap terjaga kemurniannya, maka tak sepantasnya ia melontarkan pernyataan begitu. Kalaupun ia berbeda pendapat dalam hal konsep bid’ah-sunnah, tak sepantasnya ia melontarkan pernyataan demikian itu di hadapan khalayak yang masih sangat awam agama.

Kedua, Emha  melontarkan pernyataan : “Iki mesti malaikat bingung melihat kita, ada romo, ada wong tattoan, ada perempuan ra kudungan, dst… (pluralitas)”. (Ini pasti malaikat bingung melihat kita, ada Romo, ada orang tatoan, ada perempuan tidak menutup aurat, dst)

Tanggapan: Jika tuduhan bingung itu menyasar kepada manusia, maka ia benar adanya, karena manusia diciptakan dengan nafsu. Tetapi jika tuduhan bingung itu menyasar kepada malaikat, maka ia salah besar. Justru satu-satunya makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang paling akurat kerjanya hanyalah malaikat, karena ia diciptakan memang untuk itu.

Ketiga, Emha melontarkan pernyataan : “Mulo dadi wong Islam ki ojo fanatik ! Oleh karena bisanya cuma nyalah-nyalahke orang lain”. (Maka jadi orang Islam jangan fanatik! Oleh karena bisanya cuma menyalahkan orang lain)

Tanggapan: Konsep / kata fanatik sebenarnya masih mengandung pengertian netral. Yang mengandung pengertian negatif adalah kata fanatisme. Maka secara bahasa, fanatik bisa dipahami sebagai kesatuan antara aspek qalbu, aspek lisan, dan aspek amal (ma huwal iman ?). Dengan demikian, kita justru dituntut untuk   fanatik dalam segala hal (tidak hanya dalam masalah agama). Ada kejumbuhan antara apa yang diyakini, dengan apa yang dikatakan, dengan apa yang diperbuat. Fanatik dan kegemaran menyalah-nyalahkan orang lain, adalah dua hal yang saling berbeda.

Keempat, Emha menganjurkan tolong-menolong dalam hal ibadah (Mungkin, contohnya BANSER turut mengamankan perayaan Natal atau kegiatan suronan 11 November di kota Gede, Yogya yang digagas bersama GP Ansor yang di situ awal akan menghadirkan Solawatan dari gereja, dan Kidung Hindu).

Tanggapan : Di sini Emha tampak ahistoris, naif, dan menyimpang dari arus besar ahlus-sunnah wal-jama’ah. Apakah Emha telah buta dan tuli, (terhadap) betapa liciknya pihak nasrani terhadap kita, bahkan terhadap konsensus kebangsaan kita ? Apakah Emha (dengan Kyai Kanjengnya) kini hidup di ruang hampa, tanpa konteks, tanpa noktah-noktah sejarah ? Apakah Emha sudah lupa dengan wanti-wanti dari Allah, bahwa hati kaum nasrani ada niat terjahat terhadap kita. Mereka hendak memalingkan kita dari nikmat terbesar ini (Islam). Renungkan, (sekali lagi) renungkan, firman Allah Ta’ala.

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ (١٢٠)

“Wahai Muhammad, kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah senang kepadamu sampai kamu mengikuti agama mereka. Wahai Muhammad katakanlah “Sungguh Islam itu agama Allah yang sebenarnya.” Sekiranya kamu mengikuti agama Yahudi dan Nasrani padahal telah datang kepadamu perintah mengikuti Islam, niscaya tidak ada orang yang dapat menolong kamu dari siksa Allah di akhirat.” (QS. Al-Baqarah ayat 120), dan

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)

“Wahai Muhammad, katakanlah kepada kaum kafir. “Wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah tuhan yang kalian sembah, kalianpun tidak menyembah tuhan yang aku sembah, aku tidak akan mau menyembah dengan cara-cara kalian menyembah tuhan kalian, dan kalianpun tidak menyembah tuhan kalian dengan cara-cara aku menyembah tuhanku, untuk kalian agama syirik kalian dan untukku agama tauhidku.”   (QS. Al-Kafirun ayat 1- 6).

Kelima, Emha dengan bangga menceritakan kehadirannya memenuhi undangan pihak Vatikan. Bahkan di sana, ia (dengan Kyai Kanjengnya) diijinkan tampil, meski suasana duka atas matinya Paus masih sangat terasa.

Tanggapan : Pihak Vatikan mengundang Emha (dengan Kyai Kanjengya) karena bisa memetik keuntungan. Tidak mungkin, pihak Vatikan akan mengundang pihak lain yang akan merugikan mereka. Ini sebenarnya telah menjadi gejala psikologis yang sudah sangat umum. Keuntungan apa yang bisa dipetik oleh pihak Vatikan ? Keuntungan mendesakralisasi (pendangkalan) ajaran-ajaran Islam lewat orang-orang Islam sendiri semacam Emha (dan Kyai Kanjengnya). Pada giliran berikutnya, oleh karena umat Islam telah lemah fikrah dan ghayahnya, maka kristenisasi akan relatif lebih mudah di laksanakan.

Keenam, Emha sedikit membahas tentang nama-nama jalan sebelah selatan Tugu Jogja hingga Kraton. Aslinya ada jalan Margo Utomo, jalan Margo Mulyo, jalan Malioboro, dan Pangurakan. Filosofinya, terdapat fase-fase (predikat) utomo, (predikat) mulyo, aplikasi menjadi wali yang fantasyiru fil ard (mengembara), dan fase hakikat (sak urak-urakane dengan out put karimah). Filosofi ini sesuai betul dengan nilai-nilai Islam. Di fase inilah Emha bermaqam.

Tanggapan: Saya tidak akan menyangkal atas klaim Emha itu. Silahkan saja, ia menginginkan klaim yang lebih tinggi dari fase pangurakan sekalipun, silahkan. Yang jadi masalah adalah, akhirnya ia juga terjebak pada gejala (klaim)  ”membenarkan diri-sendiri”. Buktinya, ia (terkadang) menampilkan sikap-sikap  urakannya, sebagai bukti bahwa ia dengan Kyai Kanjengnya telah sampai di maqam pangurakan, di mana sak urak-urakane selalu ber out-put  kebaikan. Bisa jadi, sebagai implikasinya, ia menempatkan pihak lain di maqam yang masih rendah.

Ketujuh, Emha melontarkan pernyataan / pilihan kepada audiens : “Sampean pilih dadi wong ra shalat ning apikan atau pilih dadi wong shalat ning jahat ?”.(kalian memilih jadi orang yang tidak shalat tapi kelakuan baik atau memilih shalat tapi kelakuan buruk?) Hingga ada seorang ibu yang protes dan memilih shalat plus kelakuan baik, yang kemudian dikatai Emha “gragas” (rakus).

Tanggapan : Peristiwa ini mengingatkan saya pada guru sekolah PKI tahun 60-an. Guru memerintahkan murid untuk minta permen kepada Tuhan. Dalam waktu yang lumayan lama, tidak ada satu murid pun yang mendapatkan permen. Lantas Guru memerintahkan murid untuk minta permen kepada Pak Guru. Dalam sekejap, murid-murid mendapatkan permen. Sang Guru bertanya kepada murid, “Tuhan sama guru kalian lebih berkuasa yang mana ?”.  Artinya, para murid dikacaukan nalarnya terlebih dahulu, sebelum mencekokkan ajaran-ajaran komunis.

Ini sama dengan yang terjadi pada pertanyaan Emha kepada audiens. Ia mengacaukan nalar para audiens terlebih dahulu, sebelum mencekokkan pemikiran-pemikiran Emha. Jika Emha bernalar sehat, semestinya pertanyaan itu (setidaknya) ada empat pilihan : (1) Ada orang tidak shalat berperilaku baik (2) Ada orang shalat berperilaku jahat (3) Ada orang tidak shalat berperilaku jahat (4) Ada orang shalat berperilaku baik. Ini jauh lebih variatif, lebih faktual, lebih obyektif, lebih fair, lebih edukatif, dan tulus bertanya untuk kepentingan dakwah. Shalat dan kebaikan adalah satu kesatuan konsep yang tak terpisahkan. Lebih dari itu, shalat adalah amal pembeda antara kita yang muslim (akan ke surga), dengan mereka yang kafir / tidak shalat (akan ke neraka).

Referensi

  • ^https://www.nahimunkar.com/gombal-emha-ainun-nadjib-dalam-shalawat-global-02/
  • ^https://www.nahimunkar.com/emha-ainun-nadjib-mengajak-manusia-untuk-tidak-shalat/
Iklan

4 responses »

  1. Kiersten berkata:

    I truly love your blog.. Very nice colors & theme.
    Did you make this website yourself? Please reply back as
    I’m hoping to create my own personal blog and want to
    know where you got this from or exactly what the theme is called.
    Thanks!

    Suka

  2. Jason berkata:

    I seriously love your website.. Great colors & theme.
    Did you develop this web site yourself? Please reply back as I’m looking to create my own personal website and want to find out where you
    got this from or what the theme is called. Cheers!

    Suka

  3. Chrinstine berkata:

    I’ve been surfing online greater than 3 hours as
    of late, yet I never found any fascinating article
    like yours. It’s beautiful value enough for me. In my opinion, if all
    web owners and bloggers made good content as you did,
    the net will be much more useful than ever before.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s