Biografi

Image source: wikipedia commons

Image source: wikipedia commons

Galileo Galilei dilahirkan di Pisa, Tuscany pada tanggal 15 Februari 1564 sebagai anak pertama dari Vincenzo Galilei, seorang matematikawan dan musisi asal Florence, dan Giulia Ammannati. Ia sudah dididik sejak masa kecil. Kemudian, ia belajar di Universitas Pisa namun terhenti karena masalah keuangan. Untungnya, ia ditawari jabatan di sana pada tahun 1589 untuk mengajar matematika. Setelah itu, ia pindah ke Universitas Padua untuk mengajar geometri, mekanika, dan astronomi sampai tahun 1610. Pada masa-masa itu, ia sudah mendalami sains dan membuat berbagai penemuan.

Teori Galileo

Galileo Galilei (lahir di Pisa, Toscana, 15 Februari 1564 – meninggal di Arcetri, Toscana, 8 Januari 1642 pada umur 77 tahun) adalah seorang astronom, filsuf, dan fisikawan Italia yang memiliki peran besar dalam revolusi ilmiah.

Sumbangannya dalam keilmuan antara lain adalah penyempurnaan teleskop, berbagai pengamatan astronomi, dan hukum gerak pertama dan kedua (dinamika). Selain itu, Galileo juga dikenal sebagai seorang pendukung Copernicus mengenai peredaran bumi mengelilingi matahari.

Akibat pandangannya yang disebut terakhir itu ia dianggap merusak iman dan diajukan ke pengadilan gereja Italia tanggal 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran Aristoteles maupun keyakinan gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta.

Hal ini berdasarkan ayat berikut :

  • 10:12 Lalu Yosua berbicara kepada TUHAN pada hari TUHAN menyerahkan orang Amori itu kepada orang Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: “Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!”
  • 10:13 Maka berhentilah matahari dan bulanpun tidak bergerak, sampai bangsa itu membalaskan dendamnya kepada musuhnya. Bukankah hal itu telah tertulis dalam Kitab Orang Jujur? Matahari tidak bergerak di tengah langit dan lambat-lambat terbenam kira-kira sehari penuh.

Ayat diatas mengisahkan tentang matahari yang berhenti berputar dan hal itu mengakibatkan waktu di bumi terhenti dan setelahnya berjalan dengan lambat. Tentu ini membuktikan bahwa alkitab menganut paham Geosentris (mataharti mengelilingi bumi). Galileo dihukum dengan pengucilan (tahanan rumah) sampai meninggalnya. Baru pada tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman itu adalah salah, dan dalam pidato 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja Katolik Roma merehabilitasi namanya sebagai ilmuwan.

Menurut Stephen Hawking, Galileo dapat dianggap sebagai penyumbang terbesar bagi dunia sains modern. Ia juga sering disebut-sebut sebagai “bapak astronomi modern”, “bapak fisika modern”, dan “bapak sains”. Hasil usahanya bisa dikatakan sebagai terobosan besar dari Aristoteles. Konfliknya dengan Gereja Katolik Roma (Peristiwa Galileo) adalah sebuah contoh awal konflik antara otoritas agama dengan kebebasan berpikir (terutama dalam sains) pada masyarakat Barat.

Pada tahun 1612, Galileo pergi ke Roma dan bergabung dengan Accademia dei Lincei untuk mengamati bintik matahari. Pada tahun itu juga, muncul penolakan terhadap teori Nicolaus Copernicus, teori yang didukung oleh Galileo. Pada tahun 1614, dari Santa Maria Novella, Tommaso Caccini mengecam pendapat Galileo tentang pergerakan bumi, memberikan anggapan bahwa teori itu sesat dan berbahaya. Galileo sendiri pergi ke Roma untuk mempertahankan dirinya. Pada tahun 1616, Kardinal Roberto Bellarmino menyerahkan pemberitahuan yang melarangnya mendukung maupun mengajarkan teori Copernicus.

Galileo menulis Saggiatore pada tahun 1622, yang kemudian diterbitkan pada 1623. Pada tahun 1624, ia mengembangkan salah satu mikroskop awal. Pada tahun 1630, ia kembali ke Roma untuk membuat izin mencetak buku Dialogo sopra i due massimi sistemi del mondo yang kemudian diterbitkan di Florence pada 1632. Namun, pada tahun itu pula, Gereja Katolik menjatuhkan vonis bahwa Galileo harus ditahan di Siena.

Di bulan Desember 1633, ia diperbolehkan pensiun ke vilanya di Arcetri. Buku terakhirnya, Discorsi e dimostrazioni matematiche, intorno à due nuove scienze diterbitkan di Leiden pada 1638. Di saat itu, Galileo hampir buta total. Pada tanggal 8 Januari 1642, Galileo wafat di Arcetri saat ditemani oleh Vincenzo Viviani, salah seorang muridnya.

Astronomi

Tidak seperti yang dipercaya sebagian orang, Galileo tidak menciptakan teleskop tapi ia telah menyempurnakan alat tersebut. Ia menjadi orang pertama yang memakainya untuk mengamati langit, dan untuk beberapa waktu, ia adalah satu dari sedikit orang yang bisa membuat teleskop sebagus itu. Awalnya, ia membuat teleskop hanya berdasarkan deskripsi tentang alat yang dibuat di Belanda pada 1608. Ia membuat sebuah teleskop dengan perbesaran 3x dan kemudian membuat model-model baru yang bisa mencapai 32x. Pada 25 Agustus 1609, ia mendemonstrasikan teleskop pada pembuat hukum dari Venesia. Selain itu, hasil kerjanya juga membuahkan hasil lain karena ada pedagang-pedagang yang memanfaatkan teleskopnya untuk keperluan pelayaran. Pengamatan astronominya pertama kali diterbitkan di bulan Maret 1610, berjudul Sidereus Nuncius.

Galileo menemukan tiga satelit alami Jupiter -Io, Europa, dan Callisto- pada 7 Januari 1610. Empat malam kemudian, ia menemukan Ganymede. Ia juga menemukan bahwa bulan-bulan tersebut muncul dan menghilang, gejala yang ia perkirakan berasal dari pergerakan benda-benda tersebut terhadap Jupiter, sehingga ia menyimpulkan bahwa keempat benda tersebut mengorbit planet.

Galileo adalah salah satu orang Eropa pertama yang mengamati bintik matahari, diperkirakan Astronomi astronom Tionghoa sudah mengamatinya sejak lama. Selain itu, Galileo juga adalah orang pertama yang melaporkan adanya gunung dan lembah di bulan, kesimpulan yang diambil melihat dari pola bayangan yang ada di permukaan. Ia kemudian memberi kesimpulan bahwa bulan itu “kasar dan tidak rata, seperti permukaan bumi sendiri”, tidak seperti anggapan Aristoteles yang menyatakan bulan adalah bola sempurna.

Galileo juga mengamati planet Neptunus pada 1612 namun ia tidak menyadarinya sebagai planet. Pada buku catatannya, Neptunus tercatat hanya sebagai sebuah bintang yang redup.

Kebanyakan non muslim menganggap bahwa dalam Qur’an, Bumi itu Datar.

Berikut argumennya:

Dalam Quran (QS 15:19) ayat tersebut diberi keterangan tambahan bahwa BUMI DATAR seperti  CARPET:

And the earth We have spread out (like a carpet); set thereon mountains firm and immovable; and produced therein all kinds of things in due balance.

Apa Benar, Bumi itu Datar menurut Qur’an?

Bumi itu datar, itulah anggapan sebagian orang-orang terdahulu terhadap bumi, terutama di semenanjung Arab pada zaman Nabi Muhammad SAW. Di saat paham mengenai “bumi itu bulat” yang dipionirkan oleh Phytaghoras (abad 6 SM) dan Aristotle (384-322 BC) mulai berkembang di beberapa belahan bumi, belahan bumi yang lain menganut paham bahwa “bumi itu datar”. Kepercayaan akan bentuk bumi itu sendiri, baik bumi itu datar maupun bulat, masih didasarkan pada pengamatan indera dan argumen-argumen logika, tanpa bukti-bukti ilmiah, sehingga paham tersebut kurang begitu populer dibandingkan dengan paham yang telah dipercaya oleh orang-orang terdahulu jauh sebelum itu. Beberapa mengambil argumen bentuk bumi dengan bersandarkan akan interpretasi akan wahyu, terutama gereja-gereja Nasrani awal dan orang-orang Yahudi pada zaman Nabi Muhammad SAW. Dengan kata lain, walaupun paham “bumi itu bulat” sudah ada pada saat itu, akan tetapi sebagian besar manusia masih percaya bahwa “bumi itu datar”.

Al-Qur’an diturunkan pada masa dimana hampir sebagian besar penduduk semenanjung Arab menganggap bumi itu datar, dan mungkin pemikiran bahwa bumi itu bulat pada saat itu adalah sesuatu hal yang tidak dapat diterima, terlebih ilmu astronomi saat itu tidak populer di kalangan orang-orang Arab. Pada masa sekarang ini, paham “bumi itu bulat” hampir tak terbantahkan. Bukti-bukti nyata, baik melalui pengamatan di bumi bahkan dengan melalui pengamatan langsung di luar angkasa telah disodorkan kepada kita, sehingga paham bahwa “bumi itu datar” sukar untuk dipertahankan. Namun perlu diingat bahwa Al-Qur’an turun tidak dimasa ini, akan tetapi di masa ketika orang-orang masih percaya bahwa bumi itu datar. Bahkan di berbagai tempat di dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa bahwa bumi itu di bentangkan dan dihamparkan (dalam bahasa arab-nya dikatakan dengan “faraash”, “wasia”, “mahd”, “basaat”, “suttihat”, “tahaaha”, “dahaaha”)

  • [51:48] Dan bumi itu Kami hamparkan, maka sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami)
  • [15:19] Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.
  • [50:7] Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata
  • [71:19] Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan
  • [78:6] Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan ?
  • [79:30] Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya
  • [88:20] Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?
  • [91:6] dan bumi serta penghamparannya
  • [13:3] Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi …

Ayat-ayat di atas dijadikan argumen yang menunjukkan bahwa bumi itu datar oleh umat kristen, menurut Al-Qur’an. Kata-kata dibentangkan dan dihamparkan, semuanya memiliki makna datar. Jadi, Allah melalui Al-Qur’an menyatakan bahwa bumi itu sebenarnya datar, sebagaimana yang disebutkan di awal penciptaan. Atau benarkan demikian?

Pertama-tama patut kita lihat, kata datar, atau lurus dalam bahasa arab adalah “sawi” atau “almustafi“. Tidak ada satu pun kata dalam Al-Qur’an yang menggunakan kedua frasa tersebut untuk mendeskripsikan bumi. Sesuatu yang datar juga memiliki sudut atau pojok atau sisi atau akhir, yang mana istilah-istilah ini pun tidak pernah digunakan Al-Qur’an dalam mendeskripsikan bumi. Walaupun AL-Qur’an diturunkan di masa dimana orang-orang berpikir bahwa bumi itu datar, akan tetapi tidak ada satu pun ayat di dalam Al-Qur’an yang secara explisit mengatakan bahwa bumi itu datar.

Kita lihat lagi di surah Ar-Rahmaan ayat 33 yang berbunyi :

  • [55:33] Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup melintasi penjuru (aqthar) langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kewenangan (keahlian / kekuasaan).

Catatan: kata “bi sulthaan” di akhir ayat ini sering diterjemahkan dengan “kekuatan”. Arti dari “sulthaan” ini sendiri adalah kewenangan, keahlian, kekuatan.

Perhatikan bahwa Al-Qur’an menggunakan kata “aqthar” yang diterjemahkan sebagai penjuru (region). Kata “Aqthar” ini sendiri mengandung arti diameter atau garis tengah, dan dihadirkan dalam bentuk jamak. Bentuk tunggal dari “aqthar” adalah “quthr” dan dualnya adalah “qutharin”.

Suatu bangun tiga dimensi yang memiliki “banyak” diameter adalah elipsoid atau yang cenderung menyerupai itu. Elipsoid merupakan suatu bangun yang bulat menyerupai bola dengan bentuk memipih seperti telur.

Jadi, 1400 tahun yang lalu, Al-Qur’an menyatakan bahwa alam semesta (dalam hal ini langit) dan bumi berbentuk elipsoid, bola pipih, disaat sebagian besar penduduk dunia saat itu menganggap bumi adalah datar, dan langit adalah apa yang terlihat dari bumi dengan mata telanjang.

Pengartian “aqthar” sebagai “diameter” pada jaman-jaman dahulu tidak dikenal, sehingga akhirnya di artikan dengan kata-nya yang terdekataqtashara yang berarti penjuru. Akan tetapi banyak kata-kata dalam Al-Qur’an yang tidak biasa atau tidak dikenal pada zamannya sehingga pengertiannya di ambil yang terdekat atau lebih umum pada masa itu. Apalagi pada masa itu menyatakan “bumi itu bulat” adalah suatu ide yang kurang dapat diterima. Sebagai firman Allah, Al-Qur’an menyatakan kebulat-pipihan bumi secara tersirat, yang akan dapat dibuktikan berabad-abad kemudian seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi manusia.

Penggunaan dan pemilihan kata itu sendiri merupakan salah satu keistimewaan Al-Qur’an. “Aqthar” sebagai diameter memang mungkin tidak dikenal pada zamannya, akan tetapi Allah yang maha Mengetahui tahu bahwa berabad-abad kemudian bahwa kata “aqthar” akan digunakan sebagai “diameter”, jauh sebelum manusia menyadari bahwa Al-Qur’an menyebutkan hal yang akan membuktikan kesesuaiannya dengan ilmu pengetahuan. Sama halnya dengan kata “kawkaban” yang di pakai di beberapa ayat lain di dalam Al-Qur’an, yang pada zaman diturunkannya Al-Qur’an hanya di kenal sebagai “bintang”, belakangan setelah ditetapkannya istilah planet, maka “kawkaban” pun memiliki arti sebagai “planet”.

Di surah lain, Az-Zumar ayat 5, Allah Berfirman :

  • [39:5] Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq; Dia menutupkan (yukawwiru) malam atas siang dan menutupkan siang atas malam …

“Menutupkan” (yukawwiru) dalam ayat di atas secara bahasa mengandung pengertian “melapisi sesuatu kepada suatu benda yang bundar”, biasanya dipakai dalam istilah “menutupkan turban di kepala”. Jadi sekali lagi secara tersirat Allah ingin memberitahukan kepada manusia bahwa bumi itu tidaklah datar seperti yang diperkiraan.

Pertanyaan lain muncul:

Mengapa Allah tidak langsung menyatakan bahwa bumi itu bulat, melainkan harus membuatnya tersirat? Sedangkan banyak ayat lainnya menyatakan bahwa bumi itu di bentangkan, dihamparkan, didatarkan?

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Al-Qur’an diturunkan dimasa sebagian besar manusia berpikir bahwa bumi itu datar. Menyatakan secara langsung bumi itu bulat akan membuat Islam semakin tidak akan diterima pada masa itu, banyak orang akan menuduh Nabi adalah orang yang benar-benar gila. Masalah bumi dan alam semesta itu bulat atau elipsoid bukanlah masalah yang terkait dengan tauhid dan perbaikan akhlak yang menjadi misi utama Islam pada masa itu, oleh sebab itu ayat-ayat yang menyatakan bumi itu bulat diturunkan Allah secara tersirat, karena sebagai kitab “penutup”, Al-Qur’an harus sejalan dengan tanda-tanda yang Allah taruh di seluruh penjuru alam semesta. yang kebenarannya akan dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, bagi kaum yang mau berfikir, wallahu a’lam. Di pihak lain, tidak ada satupun ayat dalam Al-Qur’an yang secara terang-terangan menyatakan bahwa bumi itu datar ataupun diam tidak bergerak.

Pertanyaan lain menjadi muncul, apa maksudnya Al-Qur’an menyatakan bumi itu dihamparkan atau dibentangkan? bukannya itu sama saja mengatakan bahwa bumi itu datar?

Pernyataan “bumi itu dihamparkan/dibentangkan” dengan “bumi itu datar” adalah dua hal yang berbeda. Sekarang mari kita melihat sejarah, selama beratus-ratus bahkan beribu-ribu tahun manusia percaya bahwa bumi itu datar. Mengapa? Jawabannya : karena bumi itu didatarkan Allah agar makhluk-makhluknya dapat hidup di bumi. Karena selama itu manusia sama sekali tidak pernah merasakan bahwa bumi itu bulat. Tidak sampai pada akal manusia saat itu bagaimana manusia dan hewan-hewan dapat hidup di suatu benda yang bulat tanpa dia tergelincir daripadanya. Allah memberikan gravitasi yang sesuai bagi bumi sehingga mampu menyokong kehidupan makhluk-makhluk yang ada didalamnya, dimana setiap makhluk tersebut tidak akan merasakan bumi itu bulat. Ya, dengan gravitasi, Allah menjadikan bumi yang bulat menjadi datar.

  • [79:27] Apakah kamu lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membinanya,
  • [79:28] Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya,
  • [79:29] dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang.
  • [79:30] Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.
  • [79:31] Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.
  • [79:32] Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh,
  • [79:33] (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.

Perhatikan dalam surah An-Naazi’aat diatas “penghamparan Bumi” terjadi setelah Allah menjadikan siang dan malam di bumi. Berarti sebelum “penghamparan” itu, bumi sudah ada, akan tetapi bumi masih bulat tanpa gravitasi yang sesuai, masih belum dapat dihuni oleh makhluk hidup. Barulah setelah itu bumi “dihamparkan / dibentangkan” oleh Allah, sehingga air, laut, tumbuh-tumbuhan mulai bermunculan di bumi, begitu juga manusia. Kita semua merasakan bumi itu “datar” walaupun sebenarnya bumi itu bulat.

Menurut ilmuwan mesir kontemporer, Zaghlul an-Najjar, menyatakan bahwa pada awal penciptaan langit dan bumi, kecepatan putaran bumi pada porosnya amatlah tinggi sehingga dalam setahun melebihi 2200 hari dengan panjang siang dan malam kurang dari 4 jam. Pada saat itu bumi belum “dihamparkan”. Makhluk hidup belum dapat hidup dipermukaannya. Setelah itu, Allah mulai proses “penghamparan” bumi.

Yang menarik dari surah An-Naazi’at ayat 30 ini adalah kata “dahaha” yang banyak menjadi perdebatan. “Dahaha” di sini di artikan dengan “dihamparkan”, hanya muncul sekali yaitu di ayat ini, dari sekian banyak ayat Al-Qur’an yang mengatakan “dihamparkan / dibentangkan”.

  • [79:30] Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya (dahaha).

“Dahaha” berasal dari kata kerja “daha” yang diturunkan dari kata kerja “dahu” yang dapat berarti membentangkan, mendorong, melemparkan, menggerakkan. Ibnu Barri mengatakan “Daha al-Ardh” berarti mendorong bumi sehingga bergerak.

Disini An-Naazi’at ayat 30 dapat diartikan “Dan sesudah itu bumi Allah gerakkan (didorong sehingga berputar) hingga akhirnya menjadi (terasa) datar”. Juga dapat dilihat berdasarkan asal katanya “dahraj” yang berarti bergerak berputar atau berguling.

Bahkan berdasarkan Lane’s Arabic-English Lexicon, ketika membahas mengenai “dahu” dan turunannya, walaupun memiliki banyak arti seperti membentangkan, mendorong, melemparkan dan menggerakkan, akan tetapi kata-kata kerja itu selalu berkaitan dengan benda yang bentuknya bulat, seperti telur, kerikil, dan mainan berbentuk bulat. Seperti “idhiyya” atau “adhiyyah” yang diartikan dengan sarang burung onta yang dibuat dengan mengais-ngais pasir dengan kedua kakinya untuk meletakkan telur-telurnya. Atau ketika membahas mengenai turunan “dahu” dalam suatu kalimat dengan hujan, digunakan kaitannya air hujan yang “menggerakkan” dan “memindahkan” kerikil-kerikil. Di bawah adalah screen capturesebagian dari apa yang terdapat dalam Lane’s Arabic-English Lexicon mengenai “dahu” dan turunannya.

Dengan ilmu pengetahuan saat ini, pergerakan bumi (rotasi dan revolusi) diketahui sebagai penyebab adanya gravitasi dan juga menyebabkan bentuk bumi menjadi lebih panjang di equatorial, sehingga dapat dikatakan bahwa bumi berbentuk bulat agak memipih seperti telur, sehingga tepatlah penggunaan kata dahahaa disini : “Dan sesudah itu bumi, karena berbentuk bulat (dan agak pipih), maka Allah dahahaa-kan (digerakkan, didorong sehingga berputar) hingga akhirnya menjadi (terasa) datar”, sesuatu yang telah disampaikan Allah melalui Al-Qur’an 15 abad silam, wallahu a’lam.

  • [77:25] Bukankah Kami menjadikan bumi (tempat) berkumpul (Kifaatan)
  • [77:26] yang hidup dan yang mati

“Kifaatan” pada surah Al-Mursaalat ayat 25 diatas diartikan dengan “berkumpul”, berasal dari kata “kafata” yang berarti “mengumpulkan ke suatu tempat”. Ayat ini mengindikasikan adanya suatu kekuatan pada bumi yang menarik segala sesuatu yang hidup maupun yang mati di bumi untuk kembali berkumpul di bumi (baca : gravitasi). Karena Allah menjadikan bumi “tempat berkumpul” lah, sehingga manusia merasakan bahwa bumi itu datar, padahal sebenarnya bumi itu relatif bulat yang “dihamparkan” Allah dengan cara di “daha” kan.

  • [70:40] Maka aku bersumpah dengan Tuhan Yang memiliki (semua) timur (masyaariq) dan (semua) barat (maghaaribi), sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa.

Al-Ma’aarij (70) ayat 40 di atas menyatakan secara explisit bahwa bumi memliki banyak timur (masyaariq, bentuk jamak) dan banyak barat (maghaaribi, bentuk jamak), sesuatu yang tidak mungkin apabila bumi itu datar. Banyak timur dan banyak barat memungkinkan apabila bumi itu berbentuk bulat ataupun elipsoid, sehingga untuk setiap titik di bumi, barat dan timurnya berbeda-beda dikarenakan matahari yang menjadi acuan timur dan barat terlihat pada posisi yang berbeda-beda saat terbit dan terbenamnya apabila bumi berbentuk bulat, dan seharusnya terlihat sama apabila bumi itu memang datar.

Masyaariq dan Maghaarib dalam bahasa arab juga dapat berarti “tempat terbit matahari” dan “tempat terbenam matahari” sebagaimana yang dipakai di surah Ar-Rahmaan ayat 17 :

  • [55:17] Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya.

Surah Ar-Rahmaan ayat 17 di atas menyatakan bahwa Allah menjadikan bumi memiliki dua tempat terbit matahari (masyariqayn) dan dua tempat terbenam matahari (magharibayn). Ayat ini secara simbolis menyatakan bahwa bumi itu bulat dan berotasi. Jika di suatu tempat telah mengamati bahwa matahari terbenam, pada saat yang sama di belaham bumi yang berlawanan mengamati bahwa matahari baru terbit, sehingga secara pengamatan, ada dua tempat terbit matahari dan dua tempat terbenamnya, yang mengindikasikan bahwa bumi itu bulat dan berotasi. Selain itu di dalam setahun hanya dua kali matahari terlihat “terbit” tepat dari timur dan dua kali juga “terbenam” di barat, yang dinamakan dengan equinox,mengakibatkan ada dua timur (true east) dan dua barat (two west). Jika bumi itu datar, niscaya hanya akan ada satu timur dan satu barat dan ketika matahari terbit, baik orang di daerah timur dan barat akan merasakan terbitnya matahari yang bersamaan (walaupun dengan intensitas cahaya yang berbeda).

Bagaimana dengan surah Ar-Rahmaan ayat 10 yang mengatakan bahwa bumi diratakan?

  • [55:10] Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk (Nya).

“Meratakan” dalam ayat di atas adalah “Dha’ahaa“. Dha’ahaa artinya “meletakkan”,”melahirkan”,”membuat”, “membaringkan”.

Kata Dha’ahaa dan variasinya digunakan 26 kali di dalam Al-Qur’an, contohnya di dalam Q.S 3:36, 3:96, 18:49, 55:7, dan 88:14. Arti kata per kata ayat tersebut di atas adalah “Dan bumi, Dia telah letakkan untuk makhluk-Nya”. Jadi Ar-Rahmaan ayat 10 tersebut sama sekali tidak mengindikasikan bahwa bumi itu datar.

Dan mari kita baca juga ayat berikut ini.

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam…” (Al Qur’an, 39:5)

Dalam Al Qur’an, kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang alam semesta sungguh sangat penting. Kata Arab yang diterjemahkan sebagai “menutupkan” dalam ayat di atas adalah “takwir”. Dalam kamus bahasa Arab, misalnya, kata ini digunakan untuk menggambarkan pekerjaan membungkus atau menutup sesuatu di atas yang lain secara melingkar, sebagaimana surban dipakaikan pada kepala. Keterangan yang disebut dalam ayat tersebut tentang siang dan malam yang saling menutup satu sama lain berisi keterangan yang tepat mengenai bentuk bumi. Pernyataan ini hanya benar jika bumi berbentuk bulat. Ini berarti bahwa dalam Al Qur’an, yang telah diturunkan di abad ke-7, telah diisyaratkan tentang bentuk planet bumi yang bulat.

Fakta yang baru diketahui manusia melalui citra yang diambil dari satelit ini sudah diungkapkan Allah kepada manusia melalui kitab-Nya yang sempurna 15 abad yang lalu.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Sumber

  • ^http://adijullio.blogspot.sg/2015/05/belajar-dari-kisah-galileo-galilei.html?m=1
  • ^http://adijullio.blogspot.sg/2015/01/apakah-bumi-itu-datar-menurut-al-quran.html?m=1
Iklan

4 responses »

  1. Jimmy berkata:

    I will immediately grasp your rss feed as I can’t in finding your email subscription hyperlink or newsletter service.
    Do you have any? Kindly let me understand so that
    I could subscribe. Thanks.

    Suka

  2. porn videos berkata:

    free animal sex pics

    Suka

  3. You can certainly see your enthusiasm within the work you write.
    The world hopes for more passionate writers such as you who aren’t afraid to mention how they believe.
    Always go after your heart.

    Suka

  4. Jimmy berkata:

    Hello just wanted to give you a quick heads up. The words in your post seem to
    be running off the screen in Safari. I’m not sure if this is
    a format issue or something to do with internet browser compatibility but I thought I’d
    post to let you know. The style and design look great
    though! Hope you get the issue resolved soon. Thanks

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s