Sebelumnya: Terorisme Islam, 2 (Dua) Kata Yang Dibuat Melekat Oleh Aparat (bag. pertama)


D. Operasi Densus 88 Mirip Cara-cara PKI

Aksi Densus 88 yang menggerebek Pondok Pesantren Darul Akhfiya di Desa Kepuh, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur memperlihatkan cara-cara yang mirip Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Penggerebekan pesantren di Nganjuk oleh Densus 88 mirip cara-cara PKI,” kata pengamat terorisme, Al Chaidar kepada itoday, Selasa (13/11/2012). Menurut Al Chaidar, cara-cara Densus 88 dalam menangani teroris seperti yang dilakukan di Pesantren Darul Akhfiya dapat memunculkan konflik horizontal.

“Masyarakat yang diprovokasi bahwa pesantren tersebut terkait jaringan teroris, akan memunculkan konflik horizontal,” ungkapnya. Kata Al Chaidar, Pondok Pesantren Darul Akhfiya di Desa Kepuh, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur dikelola alumni Pesantren Al Mukmin Ngruki.

“Pesantren itu dikelola alumni Ngruki. Pesantren Ngruki dan alumninya secara geneologis masuk gerakan Islam radikal, tetapi belum tentu teroris,” pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Densus 88 menggerebek Pondok Pesantren Darul Akhfiya di Desa Kepuh, Kecamatan Kertosono, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Selasa (13/11/2012) dini hari.

Selanjutnya Densus 88 membawa sekitar 50 santri Pondok Pesantren Darul Akhfiya ke Markas Polres Nganjuk. Densus 88 menduga para santri itu terlibat dalam jaringan teroris.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Akhfiya bernama Nasiruddin Ahmad alias Landung Tri Bawono, 34, asal Sukoharjo, Solo.

Nasiruddin membantah Pondok Pesantren Darul Akhfiya dan dirinya terlibat dalam jaringan teroris. Kata Nasiruddin, di pesantren Darul Akhfiya diadakan pengajian seperti biasanya dan pelajaran bela diri. [13]

E. Institusi “Intelijen” Pelihara “Teroris” Demi Dollar AS

Keberadaan teroris di Indonesia sengaja dipelihara institusi tertentu untuk mendapatkan proyek dari Amerika Serikat (AS).

“Teroris itu sengaja dipelihara institusi tertentu yang mempunyai kemampuan intelijen. Institusi ini mendapatkan keuntungan dengan adanya teroris karena mendapatkan kucuran dana dari AS,” kata Mantan Komandan Satgas Intel Badan Intelijen Strategis (BAIS) Laksamana Pertama TNI (Purn) Mulyo Wibisono kepada itoday (6/9/2012).

Menurut Mulyo, kemunculan teroris disengaja dengan memprovokasi untuk melakukan kegiatan teror. “Dalam intelijen ini penyusupan, itu hal yang biasa. Sebetulnya aparat sudah tahu, tetapi dibiarkan saja. Dan pelaku teroris ini akibat provokasi intelijen,” paparnya.

Kata Mulyo, teroris Solo semakin mencurigakan karena aparat kepolisian menyebutkan para pelakunya melakukan pelatihan di Gunung Merbabu.

“Polisi harus mengungkap siapa yang melatih para ‘teroris’ itu, atau jangan-jangan intelijen sendiri. Menggunakan senjata terlebih lagi umur mereka masih muda itu sangat aneh sekali dan mampu membunuh polisi,” jelasnya.

Kecurigaan Mulyo bertambah, korban aparat kepolisian yang tertembak di Solo tidak diotopsi. “Harusnya korban dari pihak kepolisian diotopsi dan diumumkan ke publik agar masyarakat semakin tahu. Kalau kayak gini semakin menambah kecurigaan,” paparnya.

Ia juga mengatakan, dalam sebuah operasi intelijen adlah hal yang biasa membunuh teman sendiri, itu untuk menekankan teroris melakukan perlawanan. “Dalam operasi intelijen itu sudah biasa untuk membunuh teman sendiri. Dan kejadian di Solo itu ada kemungkinan, yang membunuh Densus ya temannya sendiri,” ungkap Mulyo.

Kata Mulyo, dari pengakuan warga yang berada di lokasi bahwa Densus langsung memberondong orang-orang yang diduga teroris. “Kalau saya baca di media, ada pengakuan warga di lokasi bahwa orang-orang yang diduga teroris langsung diberondong dan tidak ada perlawanan. Ini yang jarang diungkap di televisi,” pungkasnya. [14]

Sebelum terjadinya “teror” Solo, telah terjadi pertemuan secara tertutup di markas Kopassus Kartosuro antara Direktur Penindakan BNPT, Brigjen (Pol) Petrus R Golose dengan jajaran Dandim, Komandan Kopassus Grup 2, Kapolres se-Solo Raya dan dan perwakilan dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror.

“Saya baca di media, tiga bulan  sekitar bulan Juni sebelum ada ‘teror’ Solo, ada pertemuan petinggi BNPT dengan pejabat militer dan polisi seluruh Jawa Tengah di markas Kopassus Kartosuro yang katanya membahas penanggulangan antiteror. Apa gunanya pertemuan itu kok tiba-tiba ada ‘teror’,” kata mantan Komandan Satgas Intel Badan Intelijen Strategis (BAIS) Laksamana Pertama  TNI Purn Mulyo Wibisono kepada itoday, Sabtu (8/9/2012).

Untuk diketahui, pertemuan di markas Kopassus Kartosuro yang dimaksud Mulyo terjadi pada Kamis, 21 Juni 2012. Menurut Mulyo, pertemuan itu seharusnya sudah mengetahui jaringan “teroris”, termasuk yang terbaru dan dapat mengantisipasi adanya “teror”, terlebih lagi di Solo.

“Pertemuan BNPT di Kartosuro masih wilayah Solo yang katanya sumber “teroris”, masih juga kecolongan. Saya minta pertemuan itu dibongkar saja, apa sih isinya, biar masyarakat tahu dan tidak curiga sepak terjang BNPT dan Densus,” ungkap Mulyo.

Mulyo mencurigai kemunculan “teroris” Solo kemungkinan rekayasa pihak BNPT untuk mendapatkan kucuran dana. “Kemunculan ‘teroris’ itu menguntungkan polisi dan BNPT. Mereka mendapatkan keuntungan dari proyek ‘teroris’,” jelasnya.

Ia juga mengatakan, dalam menjalankan “proyek terorisme” itu, pihak BNPT bisa juga melakukan operasi intelijen dengan menyusup kepada orang-orang yang ingin melakukan “teror”.

“Memunculkan ‘teror’ itu biasa dalam operasi intelijen agar orang-orang yang diduga ‘teroris’ itu muncul. Dan dengan munculnya ‘teroris’ akan memberikan keuntungan bagi polisi dan BNPT,” pungkasnya. [15]

Komandan Satgas Intel BAIS Laksamana Pertama TNI (Purn) Mulyo Wibisono melihat ada kejanggalan dalam aksi apa yang disebut sebagai terorisme.

Mulyo Wibisono menyatakan ini dalam interview singkat dengan MetroTV, Senin (10/9/2012) petang.

Menurut Mulyo, rentetan yang berkaitan dengan aksi “teroris” itu penuh kejanggalan. Sebut misalnya, “Dari mana para ‘teroris’ mendapatkan sumber bahan peledak, itu tak pernah diungkap,” ungkapnya.

Karenanya, dalam analisa Mulyo, sederet aksi “terorisme” yang muncul merupakan by design. Ada yang mendesainnya. Mulyo sendiri buru-buru menyatakan bahwa ia tak bisa menjawab lebih jauh, karena, “Saya tak ikut mendesainnya.”

Menurutnya, ia bisa menceritakan bagaimana analisa intelijen berkaitan dengan kegiatan, ilmu dan organisasi. “Maka, dalam penggalangan itulah ada teror,” katanya.

Nah, berdasarkan itu, logikanya, ini didesain sedemikian rupa. [16]

F. Hanya Orang Islam Yang Dicap “Teroris”

Sudah berapa kali polisi ditembak di Papua. Tapi penembak atau pembunuhnya tak disebut teroris. Kenapa?

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), misalnya,  yang biasanya sangat mudah dan paling getol menyebut teroris untuk kelompok Islam, tapi untuk pembunuh tiga polisi di Mapolsek Pirime, Kabupaten Lanny Jaya, Papua pada 26 November 2012, cap teroris itu tak ada, sebagaimana para penembak dan pembunuh sebelumnya.

“BNPT sangat hipokrit dengan tidak menyebut pembunuh tiga polisi tersebut sebagai teroris,” kata Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya kepada itoday, Kamis (29/11/2012).

Kata Harits, selain membunuh ketiga polisi, para pelaku yang diperkirakan sekitar 50 orang juga membakar kantor Polsek Pirime hingga rata dengan tanah.

Menurut Harits, kejadian di Kabupaten Lanny Jaya, media juga tidak ada yang mengaitkan dengan istilah terorisme. “Seperti aklamasi dan sudah ada MoU bahwa ‘teroris’ adalah cap hanya untuk kelompok umat Islam karena melakukan aksi teror,” ungkapnya.

Harits menambahkan, kalau konsisten, harusnya para penyerang itu dengan motif politik ‘etno nasionalisme dan separatisme’ adalah tindakan terorisme. “Mereka ada organisasi, mereka ada visi politiknya, terorganisir, menciptakan teror untuk mempengaruhi iklim politik keamanan dan kedaulatan negara,” papar Harits.

Ia juga menuturkan, kejadian di Kabupaten Lanny Jaya yang menewaskan tiga polisi menunjukkan kemunafikan BNPT.

“Menurut saya kemunafikan BNPT dan Densus 88 yang selama ini perang melawan terorisme. Kenapa tidak dikerahkan pasukan secara massif ke Papua untuk bersihkan separatisme? Kenapa untuk Poso begitu bernafsunya hanya karena judulnya perang melawan ‘teroris’?” tanya Harits.

Ujar Haris, dari kejadian di Kabupaten Lanny Jaya, Papua tersebut, jangan disalahkan jikA ada yang menilai  BNPT dan Densus 88 dilahirkan untuk perang terhadap Islam, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang ke depan.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Kantor Polsek Pirime di Kabupaten Lanny Jaya, yang termasuk wilayah kerja Polres Jayawijaya, Selasa (27/11/2012) pagi sekitar pukul 06.00 WIT, diserang puluhan orang tidak dikenal.

Dari kejadian itu, 3 pucuk senpi jenis revolver, AR I dan V5 Sabhara milik Polsek, dirampas. Para penyerang juga membakar kantor Mapolsek Pirime.

Bahkan, puluhan orang yang diduga kelompok TPN/OPM pimpinan Yani Tabuni, juga menembak mati Kapolsek Pirime, Ipda Rofli Takubesi dan dua anggotanya, Brigpol Jefri Rumkorem dan Briptu Daniel Makuker. [17]

Kelompok teroris bernama Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali membuat ulah dengan menyerang pos polisi sub sektor Kulirik, Puncak Jaya, Papua. Para penyerang dari anggota Organisasi Papua Merdeka juga merampas 8 senjata milik polisi.

Penyerangan yang terjadi sekitar pukul 16.00 WIT, Sabtu pada 4 Januari 2014 itu dilakukan ketika pos dijaga 2 orang personel Polri. Penyerang dari anggota OPM ini diperkirakan mencapai 20 orang.

Dari berbagai sumber menyatakan saat kejadian 8 pucuk senpi laras panjang terdiri dari AK 47 (3 pucuk), Mauser (1 pucuk), SS1 (5 pucuk) dan amunisi dibawa kabur oleh pelaku anggota teroris OPM. Kejadian terjadi ketika 5 personel polisi tengah melakukan patroli. Para pelaku mulanya mendobrak pintu depan pos dan mengobrak-abrik ruangan utuk mencari senjata.

Dua polisi yang berada di pos langsung menyelamatkan diri melalui pintu belakang dan melapor ke Polres terdekat. Sejumlah anggota Brimob dan TNI langsung mengejar pelaku namun mereka melarikan diri ke gunung sambil meletuskan tembakan ke arah anggota.

Sudah kesekian kalinya teroris Organisasi Papua Merdeka melakukan serangan anggota Polri dan TNI sedang bertugas. Namun, pihak Polri dan TNI tidak pernah merespon mereka secepat mungkin, apalagi menangkap para pelaku.

Padahal, para anggota teroris OPM ini telah memiliki persenjataan yang mumpuni baik hasil dari rampasan senjata milik Polri maupun TNI sehingga konflik kekerasan rawan terjadi di wilayah Papua.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa negara memberikan perlakuan yang berbeda dalam menyikapi umat Islam dan anggota OPM?

Pertama, dalam hal definisi terorisme. Aksi kekerasan yang dilakukan oleh teroris OPM terhadap aparat negara tidak serta merta membuat Polri dan BNPT menyebut OPM sebagai organisasi teroris. Pelakunya disebut teroris dan pantas ditembak mati, seperti yang terjadi dalam penggerebekan Ciputat pada Rabu, 1 Januari 2014, dan sederet penggerebekan lainnya.

Kedua, pasukan elit Tim Densus 88 Anti Teror, milik Mabes Polri yang diklaim memiliki kemampuan taktis dan persenjataan tangguh tak pernah sekalipun dikerahkan melawan milisi teroris OPM di ujung Timur wilayah Nusantara. Apakah Tim Densus 88 hanya ditugaskan untuk mencabut nyawa umat Islam? Atau mereka tak punya nyali untuk menghadapi sesama milisi teroris bersenjata seperti OPM?

Ketiga, perlakuan berbeda juga dilakukan oleh badan pemerintah bernama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), yang dikepalai oleh Ansyaad Mbai. Jika selama ini BNPT mengklaim telah melakukan program deradikalisasi kepada para narapidana terduga “teroris” dengan mendatangkan para Syaikh dari Timur Tengah, mengapa BNPT tidak melakukan hal yang sama terhadap teroris OPM. Jika mereka disebut beraliran Maois, kenapa BNPT tidak mendatangkan orang dari Cina Komunis untuk menderadikalisasi pemikiran mereka?

Pernahkah BNPT pergi ke tanah Papua untuk memberikan penyuluhan agar mereka tidak bertindak radikal dan melakukan kekerasan kepada polisi?

Keempat, ada ketidakadilan dari sisi pemberitaan mengenai kejahatan yang dilakukan oleh teroris Organisasi Papua Merdeka  dengan umat Islam yang dituduh melakukan aksi “terorisme”. Aksi teroris OPM seringkali luput dari sorotan media massa. Berbeda halnya, ketika yang dituduh sebagai pelakunya adalah umat Islam. [18]

G. Reaksi Umat Islam

  • Dewan Syariah Kota Solo Dukung Pembubaran Densus 88

Sehari usai dideklarasikan, Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) bersuara lantang. Lembaga yang dideklarasi di Masjid Mujahidin Solo ini, menuntut pembubaran Detasemen Khusus Anti Terorisme (Densus) 88.

DSKS mendukung gagasan Ketua PP Muhammadiyah, Prof Din Syamsuddin, ihwal desakan untuk mengevaluasi keberadaan Densus 88. Karena, selama ini aktivitas antiterorisme itu cenderung melanggar HAM (Hak Asasi Manusia). Karenanya, Kapolri perlu membubarkan Densus 88.

Ketua DSKS, Dr Muhammad Muinuddinillah Basri menilai pembentukan Densus 88 merupakan pesanan pihak asing. “Realitasnya di lapangan banyak kesalahan dalam penanganan terorisme. Meski kami menentang terorisme, dalam arti terorisme yang hakiki,” ujarnya.

Sebelumnya, sejumlah tokoh umat Islam, akademisi, serta perwakilan dari kepolisian, mendeklarasikan berdirinya sebuah lembaga bernama Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Jumat (8/3/2013), di Masjid Mujahidin, Kota Solo [19]

  • KAMMI: ‘Rakyat Bisa Usulkan Pembubaran BNPT’

Rencana Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) melakukan sertifikasi ulama merupakan usulan yang aneh.

“Usulan aneh yang tidak lucu,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) M Ilyas kepada itoday, Selasa (11/9/2012).

Menurut Ilyas, rencana itu bisa memunculkan reaksi dari rakyat dengan mengusulkan pembubaran BNPT. “Nanti rakyat bisa usulkan pembubaran BNPT,” paparnya.

Ia mengusulkan, daripada pemerintah mengurusi kasus teroris yang tidak jelas dan merupakan agenda negara asing, lebih baik membuka kembali kasus korupsi yang merugikan negara triliunan rupiah.

“Saya minta pemerintah tegas usut Century, Hambalang, bahkan kasus BLBI harus dibongkar kembali. Isu terorisme ini agenda negara lain, kita jangan latah ngekor agenda negara lain, sementara puluhan juta rakyat indonesia masih miskin,” pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, BNPT merencanakan melakukan uji sertifikasi bagi da’i, ustadz dan ulama sebagai upaya untuk mencegah ajaran Islam radikal.

“Dengan sertifikasi, maka pemerintah negara tersebut dapat mengukur sejauh mana peran ulama dalam menumbuhkan gerakan radikal sehingga dapat diantisipasi,” kata Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idris dalam diskusi Sindoradiao, Polemik, bertajuk “Teror Tak Kunjung Usai” di Warung Daun, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (8/9/2012). [20]

  • Habib Rizieq Serukan Umat Melawan Densus 88 dan BNPT Jika Islam Diposisikan Sebagai Musuh

Kinerja Densus 88 dan Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) dalam memberantas terorisme terus mendapatkan sorotan tajam dari umat Islam. Setelah berbagai lontaran dan aksi “penanganan terorisme” mendapat kritikan tajam, kali ini BNPT mewacanakan agar ulama mempunyai sertifikasi dari BNPT.

Rencana lembaga yang dipimpin oleh Ansyad Mbai ini jelas memicu protes keras ulama dan umat Islam. Seolah-olah, orang tidak pantas disebut ulama atau tidak boleh disebut ustadz sebelum mendapat sertifikasi BNPT.

“Rencana BNPT tentang perlunya sertifikasi ulama dengan motivasi deradikalisasi Islam adalah sebuah penghinaan terhadap ulama, bahkan penistaan terhadap Islam. BNPT sudah kebablasan, mereka tidak paham kesuciaan Islam, dan mereka tidak tahu kemuliaan ulamanya,” demikian pers rilis yang disebarkan Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), Habib Muhammad Rizieq Syihab, Sabtu (8/9/2012).

Habib Rizieq menilai program yang direncanakan BNPT adalah bukti bahwa mereka ingin mengerjai Islam dan ulamanya. “BNPT ingin memposisikan Islam dan ulamanya sebagai musuh, sehingga mereka ingin mempunyai justifikasi dan legitimasi untuk ‘mengerjai’ Islam dan ulamanya,” tambahnya.

Kepada umat Islam dan FPI di mana saja, Habib Rizieq menyerukan untuk melawan apa yang ia sebut sebagai ide gila dan rencana edan ini, serta bersiap melawan Densus 88 dan BNPT jika rencana tersebut tetap dijalankan.

“Saya serukan kepada segenap ulama untuk menolak keras usulan gila dan rencana edan tersebut. Dan saya serukan kepada segenap umat Islam untuk siapkan diri melawan BNPT dan Densus 88 jika mereka menjadikan Islam dan ulamanya sebagai musuh. Isy kariman au mut syahidan! (hidup mulia atau mati syahid,” tegasnya.

Selain Habib Rizieq, Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, KH Ma’ruf Amin, juga menolak usulan sertifikasi ulama itu. Menurut Kiai Ma’ruf, ulama tak membutuhkan pengakuan dari pemerintah, tapi dari masyarakat. Pemerintah harus sadar, bahwa ulamalah yang harus memberikan masukan dan mengontrol pemerintahan, bukan sebaliknya!

Entah lantaran banyaknya kalangan yang marah atas ide gila—meminjam ungkapan Habib Rizieq—itu, Direktur Deradikalisasi BNPT Irfan Idris membantah pernah menyampaikan usulan ini.

Dalam pernyataannya di Metro TV, Senin petang (10/9/2012) Irfan meluruskan wacana yang kadung membuat marah berbagai kalangan Islam ini.

Menurutnya, ketika melontarkan dalam sebuah diskusi di Cikini (8/9/2012), dia hanya mencontohkan di Singapura ulama disertifikasi, dan berhasil menekan perkembangan teroris.

Apapun, yang jelas sejumlah ulama dan berbagai kalangan memahaminya BNPT telah melempar usulan ini. Dan, sebelum wacana ini menggelinding kebablasan, rupanya keburu “di-smash” oleh kalangan Islam, meskipun pihak BNPT mencoba menepis! [21]

  • MUI: ‘Pelanggaran HAM Berat Selalu Menyertai Aksinya, Bubarkan Densus 88’

Sejumlah ormas Islam menuntut pembubaran Densus 88 kepada Kapolri Jenderal Timur Pradopo.

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof Dr Din Syamsuddin, mengusulkan agar dilakukan peninjauan kembali terhadap reposisi dan reformasi lembaga Densus. MUI sepakat lembaga Densus 88 dievaluasi, bila perlu dibubarkan.

“Diganti dengan sebuah lembaga dan pendekatan baru yang bersama-sama memberantas terorisme karena merupakan musuh bersama,” ujar Din di Mabes Polri, Jakarta, Kamis, (28/2/2013).

Mengenai tercantumnya pembentukan lembaga Densus 88 di dalam undang-undang, ia menilai UU tersebut perlu diamandemen. “Itu juga bagus. Kita lihatlah, kita serahkan ke kawan-kawan di DPR,” kata dia.

Din mengatakan, yang paling menjadi fokus MUI yakni adanya pemberantasan “terorisme ” yang dikaitkan dengan Islam. Menurutnya, ada stigmatisasi terhadap Islam.

“Ketika terjadi stigmatisasi Islam, bangunan dakwah yang kami bangun roboh. Ini kerugian besar bagi umat Islam yang tak bisa kami bayar,” tuturnya.

Soal bagaimana cara mereformasi Densus, Din mengatakan bahwa hal itu terserah Polri dan pemerintah. “Karena ini sudah terlanjur ada stigma pelanggaran berat,” kata Ketua PP Muhammadiyah ini.

Dengan adanya reformasi di tubuh Densus, kata Ketua MUI, Amidhan, diharapkan stigmatisasi terorisme yang identik dengan umat Islam bisa dihilangkan.

“Menghilangkan stigmatisasi. Ini umat Islam selalu tertuduh. Ini luar biasa. Jadi umat Islam seluruhnya justru menentang,” katanya

Amidhan menegaskan, pihaknya akan mengikuti dan memantau proses hukum terkait video kekerasan Densus 88 terhadap orang yang disangka teroris. “Kami melihat dan nanti mengikuti bagaimana Kapolri menindaknya,” katanya.

Ormas Islam yang datang bersama Din eperti, NU, MUI, Al-Irsyadh, Dewan Dakwah dan Persis ini ingin meminta Kapolri segera membubarkan Detasemen Khusus 88 anti Teror.

Menurut Din, Densus 88 sudah keterlaluan dalam memperlakukan para terduga “teroris”. Dia berujar, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat selalu menyertai aksi Densus 88 dalam menangani terorisme. Maka dari itu, Din bersama segenap Ormas Islam meminta jajaran polisi khusus yang dibentuk tahun 2003 ini dinonaktifkan.

Untuk melengkapi tuduhan pelanggaran HAM berat ini, Din membawa bukti video yang di dalamnya terdapat tayangan perbuatan Densus 88 pada terduga pelaku “terorisme”. Video berdurasi belasan menit itu kemudian diserahkan oleh Din kepada Kapolri sebagai bahan evaluasi Densus 88.

Din bercerita, dalam video tersebut terekam adegan beberapa anggota Densus 88 yang sedang melakukan interogasi pada terduga teroris di sebuah ruangan. “Di situ terlihat aksi Densus 88 sudah keterlaluan. Orang-orang yang diduga teroris ini disiksa dengan cara diikat, diinjak-injak hingga akhirnya ditembak mati,” kata dia di depan Gedung Rupatama Polri Kamis (28/2/2013).

Dia kemudian menyayangkan aksi selanjutnya dari Densus 88 dalam kejadian yang direkam itu. “Sebelum ditembak mati, mereka diminta lafazkan istigfar dulu oleh Densus 88. Coba bayangkan, ini ajaran agama mana, sudah bagus suruh orang lain taubat dengan istigfar, bukannya ditolong sudah sekarat begitu, eh malah dibunuh,” katanya. [22]

Referensi

  • [1] salam-online.com/2013/02/ciia-perang-melawan-terorisme-agenda-global-topeng-imperialisme.html
  • [2] salam-online.com/2015/04/mui-pemblokiran-situs-islam-menyinggung-perasaan-kaum-muslimin.html
  • [3] salam-online.com/2015/03/kemkominfo-akui-tak-meneliti-isi-konten-situs-yang-diblokir.html
  • [4] salam-online.com/2015/04/situs-islam-diblokir-bnpt-salahkan-kemenkominfo.html
  • [5] salam-online.com/2015/04/blokir-situs-islam-bumerang-buat-bnpt.html
  • [6] salam-online.com/2016/02/ciia-sebut-19-pesantren-ajarkan-radikalisme-bnpt-buat-permusuhan-terhadap-umat-islam.html
  • [7] salam-online.com/2013/03/densus-88-membuat-umat-islam-marah.html
  • [8] salam-online.com/2012/11/gerebek-pesantren-densus-88-lakukan-kriminalisasi-ajaran-islam.html
  • [9] salam-online.com/2012/12/penangkapan-aktivis-masjid-di-sukoharjo-untuk-pembenar-solo-pusat-teroris-dan-kebencian-pada-islam.html
  • [9.1] salam-online.com/2012/09/3-kejanggalan-dalam-penyergapan-terduga-teroris-di-solo.html
  • [10] salam-online.com/2013/04/densus-88-tangkap-guru-ngaji-ribuan-umat-islam-tasik-gelar-aksi-protes.html
  • [11] salam-online.com/2012/12/tangkap-santri-bagian-proyek-bnpt-dan-densus-88.html
  • [13] salam-online.com/2012/11/pengamat-operasi-densus-88-mirip-cara-cara-pki.html
  • [14] salam-online.com/2012/09/mulyo-wibisono-institusi-intelijen-pelihara-teroris-demi-dollar-as.html
  • [15] salam-online.com/2012/09/mantan-petinggi-bais-bongkar-saja-pertemuan-petinggi-bnpt-di-markas-kopassus-kartosuro.html
  • [16] salam-online.com/2012/09/mulyo-wibisono-aksi-teroris-itu-ada-yang-mendesain.html
  • [17] salam-online.com/2012/11/yang-nembak-dan-bunuh-polisi-di-papua-kenapa-tak-disebut-teroris.html
  • [18] salam-online.com/2014/01/densus-88-dan-bnpt-mandul-hadapi-teroris-opm.html
  • [19] salam-online.com/2013/03/dewan-syariah-kota-solo-dukung-pembubaran-densus-88.html
  • [20] salam-online.com/2012/09/kammi-rakyat-bisa-usulkan-pembubaran-bnpt.html
  • [21] salam-online.com/2012/09/habib-rizieq-serukan-umat-melawan-densus-88-dan-bnpt-jika-islam-diposisikan-sebagai-musuh.html
  • [22] salam-online.com/2013/03/mui-umat-islam-selalu-tertuduh-bubarkan-densus-88.html
Iklan

8 responses »

  1. Kristen berkata:

    Hey there! I’ve been following your web site for some time now
    and finally got the bravery to go ahead and give you a shout out from Humble Texas!
    Just wanted to say keep up the fantastic work!

    Suka

  2. porn videos berkata:

    free animal sex pics

    Suka

  3. This additionally lowwers the manpower called for run a comany as 1
    tto 2 pekple can quickly dal with Ecommerce site.

    Suka

  4. m88a berkata:

    Your mode of explaining all in this post is actually pleasant, all can simply be
    aware of it, Thanks a lot.

    Suka

  5. First off, the men who play these thoughts video games presume to know the way a lady’s mind works.

    Suka

  6. What Men Want berkata:

    Evenn though your heart is breaking annd you need to hear hiss
    voice so badly, DON’T do it!

    Suka

  7. städ hemma berkata:

    When the skin іs aⅼready infected by bactᥱria and fungus, it can easily spread all over and most
    off tim with swᥱlling. Tese gloves come in handy for lߋts օf messy work, such as piling charcoal into a perfect pyramid on the grill or changing the wax ring under the toilet.
    Frrom hᥱгe you put this mixtᥙre into a pot and heat it mildly for three and a half hours, at whicɦ ttime уou strain out the calendula flowers.

    Suka

  8. Very good post, thank you a lot for sharing. Do you have an RSS feed I can subscribe to?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s