Mengenal aliran sesat Jaringan Islam Liberal (JIL)

Dalam sebuah jejaring Facebook, ada seorang ibu setengah baya (muslimah) yang lugu dan tidak tahu menahu apa itu JIL (Jaringan Islam Liberal). Tentu saja, hal ini sangat memperihatinkan kita semua. Baiklah, Voa-Islam akan menjelaskan secara bertahap, apa itu makhluk bernama JIL, agar umat Islam awam tidak tertipu dengan sepak terjangnya selama ini.

Semua orang yang mengaku Islam sudah seharusnya sepakat bahwa paham liberalism, sekularisme, dan pluralisme merupakan ajaran yang telah menyimpang dari Islam. Akan tetapi, masih saja ada orang yang mengaku Muslim, tapi tetap membela diri dengan alasan Hak Asasi Manusia (HAM).

Screenshot_2016-06-26-04-08-52_1

“Mereka sangat berani mempermasalahkan keaslian Al-Qur’an sebagai kalamullah, maka akan dengan mudah mereka pun mencari celah dalam menafsirkan Undang-undang Dasar 1945 sesuai dengan kepentingannya masing-masing,” kata pengamat aliran sesat M. Amin Djamaluddin.

Kebebasan yang dijamin oleh Negara adalah kebebasan menjalankan agama dan keyakinannya sesuai dengan aturan yang ada dalam agama atau keyakinan yang telah dianutnya. Karena itu perilaku mengacak-acak agama yang telah diakui oleh negara tidak bisa dibiarkan begitu ssaja, apalagi dibela, karena tidak memiliki landasan hukum apapun.

Dengan demikian, gugatan terhadap otentistas teks Al-Qur’an yang dilakukan oleh para budak orientalis pengusung Islam Liberal, merupakan suatu bentuk penyimpangan dan penodaan terhadap Al-Qur’an sebagai kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw dan telah menjadi pedoman hidup umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla membenarkan jika LSM komparador yang dipimpinnya didanai The Asia Foundation. Mengenai jumlahnya, Ulil sempat mengatakan, setiap tahun JIL mendapat sekitar Rp. 1,4 milyar. Selain itu, JIL juga mendapatkan dana dari sumber-sumber domestic, Eropa, dan Amerika. Tapi yang paling besar adalah dari The Asia Foundation.

Apa Itu JIL Jaringan Islam Liberal (JIL) atau lebih tepatnya Jaringan Iblis Laknatullah, didirikan di Jakarta pada tahun 2001. Jaringan ini muncul dengan mengklaim sebagai organisasi Islam yang berkeinginan menjadi mediator bagi organisasi-organisasi serupa yang ada di Indonesia. Di dalamnya berkumpul para tokoh dan aktivis lintas agama dari berbagai LSM yang secara intens berinteraksi dan bertukar pikiran dengan secara bebas.


Slogan JIL

Slogan yang mereka dengung-dengungkan adalah:

Tak ada kebahagiaan tanpa kesejahteraan, dan tak ada kesejahteraan tanpa kebebasan.


Landasan JIL

Pengertian Islam Liberal sendiri dijelaskan dalam situs resmi mereka (islamlib.com), yaitu: “Suatu bentuk penafsiran tertentu atas Islam dengan beberapa landasan;

  • (a) Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam,
  • (b) Mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks,
  • (c) Mempercayai kebenaran yang relative, ternuka dan plural,
  • (d) Memihak pada yang minoritas dan tertindas,
  • (e) Meyakini kebebasan beragama, dan
  • (f) Memisahkan otoritas dunaiwi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik.

Untuk mewujudkan masyarakat yang liberal, maka dibentuk JIL. Ide dan program yang diusung JIL tidak terlepas dari kepentingan-kepentingan Barat.


Program-Program JIL

Berbagai program mereka jalankan, seperti:

  • Talkshow di Kantor Berita Radio, yang direlay oleh radio-radio daerah seluruh Indonesia,
  • Penerbitan buku yang bertemakan pluralism dan inklusivisme agama,
  • Penerbitan majalah,
  • Diskusi keislaman bekerjasama dengan universitas, LSM, kelompok mahasiswa hingga pesantren.

Oleh karena itu, umat Islam harus waspada terhadap berbagai tipu daya para budak-budak orientalis yang menggerogoti Islam dari dalam melalui berbagai program yang mereka laksanakan.


JIL, Agen Barat Yang Ingin Menjauhkan Ummat Islam dari Ajaran Islam

Pemikiran liberal mulai muncul di peradaban Barat, bukan dari Islam. Tercatat, mulai pada awal abad pertama Masehi yang pada saat itu kekuasaan dunia berada di bawah Imperium Romawi. Perkembangannya terus berlanjut pada abad pertengahan. Ketika itu terjadi gerakan Reformasi Gereja disertai dengan munculnya para pemikir yang menentang dominasi Gereja, menghendaki disingkirkannya agama dari kehidupan dan menuntut kebebasan.

Pada abad-abad selanjutnya, pemikiran itu mulai berubah menjadi seruan untuk memisahkan agama dari kehidupan. Revolusi Perancis tahun 1789 dianggap sebagai puncak penentangan terhadap gereja yang akhirnya memisahkan dari masyarakat, negara, dan politik. Sejak itulah lahir sekularisme-liberalisme yang menjadi dasar bagi seluruh konsep ideology dan peradaban Barat. Salah satu ideologi Dunia Barat yang saat ini dipropagandakan kepada umat Islam adalah pemikiran liberal (liberalism).

Liberal bisa diartikan:

“bebas dari batasan” atau “bebas tanpa batas”

Konsep ini tentunya sangat tidak cocok digunakan oleh orang yang mengaku muslim, karena liberalism menawarkan konsep kehipan yang bebas dari pengawasan.


Tokoh-Tokoh Penting Islam Liberal Dunia

Liberalisme Islam berarti membebaskan manusia dari dogma, norma, dan ajaran Islam. Sedangkan inti dari Islam adalah ajarannya itu sendiri. Sejarah mencatat, ada beberapa tokoh penting yang melahirkan dan meneruskan gagasan liberalisme, diantaranya:

  • Syah Waliyullah dari India (1703-1762),
  • Aqa Muhammad Bihbihani dari Iran (1790),
  • Rifa’ah Rafi al-Tahtawi dari Mesir (1801-1873),
  • Shihabuddin Marjani dari Rusia (1818-1889),
  • Ahmad Makhdun dari Bukhara (1827-1897).
  • Kemudian di India muncul:
    • Sir Sayyid Ahmad Khan (1817-1825) dan
    • Amir Ali (1879-1928) serta
    • Asat Ali Asghar Fyzee (1889-1981).
  • Lalu dari Mesir muncul:
    • Qasim Amin (1865-1908),
    • Ali Abd. Raziq (1888-1966), dan dilanjutkan oleh
    • Muhammad Khalafullah (1926-1997).
  • Di Al-Jazair, muncul nama: Muhammad Arkoun (1928).
  • Di Pakistan, ada nama Fazlur Rahman.
  • Di Indonesia muncul:
    • Nurcholis Madjid (murid Fazlur Rahman di Chicago) yang memelopori firqah liberal bersama:
    • Djohan Effendi,
    • Ahmad Wahib, dan
    • Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa penjajahan yang terjadi di Indonesia selama berabad-abad lamanya, membawa berbagai misi dan kepentingan. Salah satunya adalah penanaman pemikiran-pemikiran sekuler sebagai akar liberalisme yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda melalui politik etisnya.

Indonesia merupakan lahan subur untuk tumbuhnya berbagai bentuk pemikiran, termasuk diantaraya pemikiran liberal. Liberalisasi pun merambat ke berbagai sendi, mulai dari politik, ekonomi, dan yang paling penting adalah liberalisasi agama. Dalam bidang agama, faham liberal terwujud dalam konsep pembaharuan (modernism).


Liberalisasi Dalam Islam

Konsep ini memandang bahwa ajaran agama harus tunduk di bawah nilai-nilai peradaban Barat. Khusus dalam Islam, liberalisasi terjadi pada berbagai segi, mulai dari:

  1. Liberalisasi aqidah, melalui penyebaran faham pluralism agama,
  2. Liberalisasi syariah, melalui perubahan metedelogi ijtihad, dan
  3. Liberalisasi konsep wahyu, melalui dekonstruksi terhadap Al-Qur’an.

Gerakan pemikiran Islam baru yang disebut Islam Liberal memiliki konsep penyelerasan norma Islam dengan faham liberal yang berusaha mengembangkan gagasan keislaman yang bersifat toleran, terbuka, dan progresif, serta tidak menaruh kecurigaan terhadap segala sesuatu yang berasal dari Barat atau dari luar Islam.

Konsep-konsep pengusung Islam liberal cenderung lebih kepada penghancuran norma-norma Islam melalui faham liberal dengan berusaha menjauhkan umat Islam dari ajaran agamanya sendiri.


Tokoh-Tokoh JIL di Indonesia

JIL (Jaringan Islam Liberal) memang sudah sangat meresahkan bagi umat Islam di Indonesia, layaknya tumor ganas yang menggerogoti tubuh manusia. Bahkan para akfivis JIL telah menggandeng para tokoh dan petinggi Agama dan Negara di Indonesia ini untuk mendapatkan backingan, guna melancarkan faham-faham yang menghancurkan Islam.

Anda harus tahu ada beberapa orang terkemuka dari kalangan yang nyeleneh (aneh pendapatnya) dan bahkan orang-orang yang nyeleneh pun mengakuinya, sebagai orang yang berperan penting yang Dawam Rahardjo sebut liberalisme Islam (dalam menumbuhkan kenyelenehan?) adalah Mukti Ali guru besar IAIN Jogjakarta. Ini paling kurang adalah seperti yang diakui oleh Dawam Rahardjo di antaranya ditulis Koran Republika.

Mukti Ali Cap buruk dari masyarakat belum sempat melekat di dalam nama Mukti Ali semasa hidupnya. Tetapi tokoh yang belum menerima gelar-gelar buruk itupun telah melakukan sebongkah pembelaan dan bahkan penumbuhkembangan perusakan Islam secara sistematis di Indonesia lewat pendidikan tinggi Islam dan karya tulis yang merusak Islam secara terang-terangan, yaitu membela dan bahkan sebagai pemberi kata pengantar buku yang merusak aqidah Islam, berjudul Catatan Harian Ahmad Wahib, 1982.

Selain Mukti Ali tentu masih banyak orang yang dianggap tokoh di Indonesia ini yang mempunyai faham melenceng, akibat pengaruh JIL. Siakah mereka? #IndonesiaTanpaJIL akan memberitahu kalian siapakah Antek-antek JIL tersebut.

Hati-hati dengan ucapan, tulisan, dan pemikiran orang-orang di bawah ini agar tidak tersesat dunia dan akhirat. Berikut Daftar 50 Tokoh JIL di Indonesia:

Para Pelopor

  1. Abdul Mukti Ali
  2. Abdurrahman Wahid
  3. Ahmad Wahib
  4. Djohan Effendi
  5. Harun Nasution
  6. M. Dawam Raharjo
  7. Munawir Sjadzali
  8. Nurcholish Madjid

Para Senior

  1. Abdul Munir Mulkhan
  2. Ahmad Syafi’i Ma’arif
  3. Alwi Abdurrahman Shihab
  4. Azyumardi Azra
  5. Goenawan Mohammad
  6. Jalaluddin Rahmat
  7. Kautsar Azhari Noer
  8. Komaruddin Hidayat
  9. M. Amin Abdullah
  10. M. Syafi’i Anwar
  11. Masdar F. Mas’udi
  12. Moeslim Abdurrahman
  13. Nasaruddin Umar
  14. Said Aqiel Siradj
  15. Zainun Kamal

Para Penerus “Perjuangan”

  1. Abd A’la
  2. Abdul Moqsith Ghazali
  3. Ahmad Fuad Fanani
  4. Ahmad Gaus AF
  5. Ahmad Sahal
  6. Bahtiar Effendy
  7. Budhy Munawar-Rahman
  8. Denny JA
  9. Fathimah Usman
  10. Hamid Basyaib
  11. Husein Muhammad
  12. Ihsan Ali Fauzi
  13. M. Jadul Maula
  14. M. Luthfie Assyaukanie
  15. Muhammad Ali
  16. Mun’im A. Sirry
  17. Nong Darol Mahmada
  18. Rizal Malarangeng
  19. Saiful Mujani
  20. Siti Musdah Mulia
  21. Sukidi
  22. Sumanto al-Qurthuby
  23. Syamsu Rizal Panggabean
  24. Taufik Adnan Amal
  25. Ulil Abshar-Abdalla
  26. Zuhairi Misrawi
  27. Zuly Qodir

“Pada akhir zaman, akan muncul sekelompok anak muda usia yang bodoh akalnya. Mereka berkata menggunakan firman Allah, padahal mereka telah keluar dari Islam, bagai keluarnya anak panah dari busurnya. Iman mereka tak melewati tenggorokan. Di mana pun kalian jumpai mereka, bunuhlah mereka. Orang yang membunuh mereka akan mendapat pahala di hari kiamat.”

Kutipan bernada provokatif di atas terpampang sebagai moto sebuah buku mungil yang judulnya menyiratkan peringatan keras: Bahaya Islam Liberal. Buku saku setebal 100 halaman itu ditulis Hartono Ahmad Jaiz, 50 tahun, seorang mantan wartawan. Meski kecil, buku tersebut bisa berdampak besar karena mengandung pesan “penghilangan nyawa”.

Moto itu bukan sembarang untaian kata. Melainkan terjemahan hadis Nabi Muhammad SAW, yang tersimpan dalam kitab Al-Jami’ al-Shahih karya Imam Bukhari. Mayoritas kaum muslim menilai hadis hasil seleksi Bukhari memiliki kadar kesahihan amat tinggi. Jadi, perintah membunuh dalam hadis itu bisa dipahami sebagai kewajiban syar’i (bemuatan agama) yang bernilai ibadah.

Buku itu terbit Januari 2002, bersamaan dengan maraknya pemberitaan tentang komunitas anak muda yang menamakan diri Jaringan Islam Liberal (JIL). Penempatan hadis riwayat Ali bin Abi Thalib tersebut sebagai moto buku mengundang pertanyaan: apakah Islam liberal yang dikupas buku itu, dengan demikian, sudah masuk kriteria kelompok yang dimaksud isi hadis, sehingga wajib dibunuh?

Sang penulis tak menjawab ya atau tidak. “Itu harus diputuskan lewat mekanisme hukum,” ujar Hartono. Hadis tersebut, kata alumnus IAIN Yogyakarta ini, bersifat umum. Karena itu, Hartono menyadari, penerapannya bisa menimbulkan fitnah dan perselisihan. Maka perlu pelibatan aparat hukum untuk meredam sengketa. Sesuai dengan kaidah fikih: hukm al-hakim yarfa’u al-khilaf (putusan pihak berwenang berfungsi menyudahi polemik).

Pada akhir buku, Hartono menyerukan pengadilan atas Islam Liberal yang ia nilai “jauh dari kebenaran”. Namun, secara tersirat, ia tetap menyarankan sanksi bunuh, ketika menutup buku dengan menampilkan kisah Umar bin Khattab yang membunuh orang yang menolak berhukum dengan syariat Islam. Di antara dosa JIL, di mata Hartono, juga menolak syariat Islam.

Ibn Hajar al-Asqalani, dalam bukunya, Fathul Bari –sebuah elaborasi (syarah) atas Shahih Bukhari– menjelaskan, hadis tersebut diwartakan Ali ketika hendak menumpas pembangkangan kaum Khawarij (Haruriyah). Yakni kelompok yang sangat literal memahami Al-Quran dan menilai Ali telah kafir.

Khawarij dikenal mudah mengafirkan sesama muslim, dan tak segan membunuh muslim yang mereka vonis kafir. Komunitas jenis inilah yang dimaksud hadis tersebut saat itu. Pada awal 2002, Hartono memakai hadis itu untuk buku tentang komunitas liberal, bukan kelompok literal sejenis Khawarij.

Dengan demikian, berita gempar fatwa mati yang pernah menimpa JIL pada akhir 2002 telah mendapat pengantar “akademik” dari buku Hartono, 11 bulan sebelumnya. Bila di awal 2002 Hartono mewacanakan eksekusi bunuh terhadap Islam liberal, menjelang akhir tahun, lontaran itu mengkristal dalam bentuk “fatwa mati”.

Sejumlah agamawan yang tergabung dalam Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), pada 30 November 2002, berkumpul di Masjid Al-Fajar, Bandung, dan mengeluarkan pernyataan berisi fatwa itu. Pernyataan FUUI berbunyi, “Menuntut aparat penegak hukum untuk membongkar jaringan dan kegiatan yang secara sistematis dan masif melakukan penghinaan terhadap Allah, Rasulullah, umat Islam, dan para ulama.”

Screenshot_2016-06-26-04-07-24_1

Mereka terpicu tulisan provokatif Ulil Abshar Abdalla, Koordinator JIL, di Kompas, 18 November 2002, berjudul “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”, yang dirujuk sebagai contoh penghinaan agama. FUUI menyatakan, “Menurut syariat Islam, oknum yang menghina dan memutarbalikkan kebenaran agama dapat diancam dengan hukuman mati.”

Menurut Ketua FUUI, KH Athian Ali, fatwanya tak hanya untuk Ulil. “Terlalu kecil jika kami hanya menyorot Ulil. Kami ingin membongkar motif di balik Jaringan Islam Liberal yang dia pimpin,” kata Athian. Sepanjang 2002, karena itu, menjadi tahun seruan kematian atas JIL.

Fatwa itu menyulut kontroversi luas. Sikap FUUI menuai banyak kecaman. Inti kecaman itu: berbeda pendapat boleh, tapi jangan menebar maut. Cukuplah sejarah memberi pelajaran pahit: dari Al-Hallaj (Baghdad), Siti Jenar (Demak), Hamzah Fansuri (Aceh), Farag Faudah (Mesir), sampai Mahmoud Taha (Sudan) yang kehilangan nyawa karena pikiran berbeda.

Akhirnya FUUI mengklarifikasi: mereka tak mengeluarkan “fatwa mati”. “Kami hanya menuntut proses hukum,” kata Athian. Ia membuktikan ucapannya dengan mengadukan Ulil ke Mabes Polri, sepekan kemudian. FUUI memang tak menyebut kata “fatwa mati”, tapi Athian menyatakan, dasar hukum sikapnya terhadap JIL sama dengan sikap kepada Pendeta Suradi. Pada Februari 2001, FUUI terang-terangan memakai kata “fatwa mati” untuk Suradi.

Komunitas macam apa sebenarnya JIL ini? Mengapa sampai ada kelompok lain yang menyerukan kem atiannya? Setarakah “bahaya Islam Liberal” dengan jargon “bahaya narkoba” atau “bahaya laten komunis” yang pelakunya juga kerap diganjar hukuman mati? GATRA pernah dua kali menggali tuntas komunitas ini: Laporan Khusus Islam “Liberal Hadang Fundamentalisme” (8 Desember 2001) dan Laporan Utama “Fatwa Mati Islam Liberal” (21 Desember 2002). Anggapan dan ancaman terhadap JIL itu agaknya berlebihan.

Kemunculan JIL berawal dari kongko-kongko antara Ulil Abshar Abdalla (Lakpesdam NU), Ahmad Sahal (Jurnal Kalam), dan Goenawan Mohamad (ISAI) di Jalan Utan Kayu 68 H, Jakarta Timur, Februari 2001. Tempat ini kemudian menjadi markas JIL. Para pemikir muda lain, seperti Lutfi Asyyaukani, Ihsan Ali Fauzi, Hamid Basyaib, dan Saiful Mujani, menyusul bergabung. Dalam perkembangannya, Ulil disepakati sebagai koordinator.

Gelora JIL banyak diprakarsai anak muda, usia 20-35-an tahun. Mereka umumnya para mahasiswa, kolomnis, peneliti, atau jurnalis.

Tujuan utamanya: menyebarkan gagasan Islam liberal seluas-luasnya. “Untuk itu kami memilih bentuk jaringan, bukan organisasi kemasyarakatan, maupun partai politik,” tulis situs islamlib.com. Lebih jauh tentang gagasan JIL lihat: Manifesto Jaringan Islam Liberal.

JIL mendaftar 28 kontributor domestik dan luar negeri sebagai “juru kampanye” Islam liberal. Mulai Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Jalaluddin Rakhmat, Said Agiel Siradj, Azyumardi Azra, Masdar F. Mas’udi, sampai Komaruddin Hidayat. Di antara kontributor mancanegaranya: Asghar Ali Engineer (India), Abdullahi Ahmed an-Na’im (Sudan), Mohammed Arkoun (Prancis), dan Abdallah Laroui (Maroko).

Jaringan ini menyediakan pentas –berupa koran, radio, buku, booklet, dan website– bagi kontributor untuk mengungkapkan pandangannya pada publik. Kegiatan pertamanya: diskusi maya (milis). Lalu sejak 25 Juni 2001, JIL mengisi rubrik Kajian Utan Kayu di Jawa Pos Minggu, yang juga dimuat 40-an koran segrup. Isinya artikel dan wawancara seputar perspektif Islam liberal.

Tiap Kamis sore, JIL menyiarkan wawancara langsung dan diskusi interaktif dengan para kontributornya, lewat radio 68H dan 15 radio jaringannya. Tema kajiannya berada dalam lingkup agama dan demokrasi. Misalnya jihad, penerapan syariat Islam, tafsir kritis, keadilan gender, jilbab, atau negara sekuler. Perspektif yang disampaikan berujung pada tesis bahwa Islam selaras dengan demokrasi.

Dalam situs islamlib.com dinyatakan, lahirnya JIL sebagai respons atas bangkitnya “ekstremisme” dan “fundamentalisme” agama di Indonesia. Seperti munculnya kelompok militan Islam, perusakan gereja, lahirnya sejumlah media penyuara aspirasi “Islam militan”, serta penggunaan istilah “jihad” sebagai dalil kekerasan.

JIL tak hanya terang-terangan menetapkan musuh pemikirannya, juga lugas mengungkapkan ide-ide “gila”-nya. Gaya kampanyenya menggebrak, menyalak-nyalak, dan provokatif. Akumulasi gaya ini memuncak pada artikel kontroversial Ulil di Kompas yang dituding FUUI telah menghina lima pihak sekaligus: Allah, Nabi Muhammad, Islam, ulama, dan umat Islam. “Tulisan saya sengaja provokatif, karena saya berhadapan dengan audiens yang juga provokatif,” kata Ulil.

Dengan gaya demikian, reaksi bermunculan. Tahun 2002 bisa dicatat sebagai tahun paling polemis dalam perjalanan JIL. Spektrumnya beragam: mulai reaksi ancaman mati, somasi, teguran, sampai kritik berbentuk buku. Teguran, misalnya, datang dari rekomendasi (taushiyah) Konferensi Wilayah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, 11-13 Oktober 2002.

Bunyinya: “Kepada PWNU Jawa Timur agar segera menginstruksikan kepada warga NU mewaspadai dan mencegah pemikiran Islam Liberal dalam masyarakat. Apabila pemikiran Islam Liberal dimunculkan oleh Pengurus NU (di semua tingkatan) diharap ada sanksi, baik berupa teguran keras maupun sanksi organisasi (sekalipun dianulir dari kepengurusan).”

Somasi dilancarkan Ketua Departemen Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia, Fauzan al-Anshari, kepada RCTI dan SCTV, pada 4 Agustus 2002, karena menayangkan iklan “Islam Warna-warni” dari JIL. Iklan itu pun dibatalkan. Kubu Utan Kayu membalas dengan mengadukan Fauzan ke polisi.

Sementara kritik metodologi datang, salah satunya, dari Haidar Bagir, Direktur Mizan, Bandung. Ia menulis kolom di Republika, 20 Maret 2002: “Islam Liberal Butuh Metodologi”. JIL dikatakan tak punya metodologi. Istilah ”liberal”, Haidar menulis, cenderung menjadi ”keranjang yang ke dalamnya apa saja bisa masuk”. Tanpa metodologi yang jelas akan menguatkan kesan, Islam liberal adalah ”konspirasi manipulatif untuk menggerus Islam justru dengan meng-abuse sebutan Islam itu sendiri”.

Reaksi berbentuk buku, selain karya Hartono tadi, ada pula buku Adian Husaini, Islam Liberal: Sejarah Konsepsi, Penyimpangan dan Jawabannya (Jakarta, Juni 2002). Ada tiga agenda JIL yang disorot: pengembangan teologi inklusif-pluralis dinilai menyamakan semua agama dan mendangkalkan akidah; isu penolakan syariat Islam dipandang bagian penghancuran global; upaya penghancuran Islam fundamentalis dituding bagian proyek Amerika atas usulan zionis Israel.

Buku lain, karya Adnin Armas, Pengaruh Kristen-Orientalis terhadap Islam Liberal (Jakarta, Agustus 2003). Isinya, kumpulan perdebatan Adnin dengan para aktivis JIL di milis Islam liberal. Energi personel JIL akhirnya memang tersedot untuk meladeni berbagai reaksi sepanjang 2002 itu. Mulai berbentuk adu pernyataan, debat ilmiah, sampai balasan mengadukan Fauzan ke polisi. Tapi, semuanya justru melejitkan popularitas kelompok baru ini.

Menjelang akhir 2003 ini, hiruk-pikuk kontroversi JIL cenderung mereda. Nasib aduan FUUI dan aduan JIL terhadap Fauzan ke Mabes Polri menguap begitu saja. Dalam suasana lebih tenang, JIL mulai menempuh fase baru yang lebih konstruktif, tak lagi meledak-ledak.

“Tahap awal yang menggebrak, kami kira sudah cukup. Kini kami konsentrasi mengembangkan jaringan antarkampus,” kata Nong Darol Mahmada, Wakil Koordinator JIL. Misinya, membendung laju skripturalisme Islam sejenis Hizbut Tahrir yang merasuki kampus-kampus umum. Ada 10 kampus di Jawa yang dimasuki jaringan. Agustus lalu, JIL mengelar SWOT untuk mengevaluasi kinerja dan merumuskan agenda ke depan.

Ramadan ini, JIL mengisi waktu dengan mengkaji kitab-kitab ushul fiqh klasik ala pesantren. Seperti Ar-Risalah karya Imam Syafi’i, Al-Muwafaqat karya Al-Syatibi, tulisan lepas Najmuddin Al-Thufi dan Jam’ul Jawami’ karya Al-Subkhi. Acara bertajuk “Gelar Tadarus Ramadan: Kembali ke Islam Klasik” ini berlangsung di Gedung Teater Utan Kayu. Usai diskusi, acara dilanjutkan dengan tarawih bersama.

Di atas segalanya, aksi-reaksi yang mengiringi perjalanan JIL telah menguakkan kenyataan bahwa JIL mempunyai “konstituen” tersendiri yang justru mendapat pencerahan spiritual dari Islam ala JIL ini.

Misalnya, saat berlangsung talk show radio bersama Prof. Hasanuddin A.F. tentang pidana mati dalam Islam, Desember 2002. Seorang penanya bernama Henri Tan mengeluh akan keluar lagi dari Islam, bila Ulil diancam-ancam fatwa mati. “Islam model Ulil ini yang membuat saya tertarik masuk Islam. Kalau model ini mau dimatikan, lebih baik saya keluar lagi dari Islam,” katanya.

Fakta serupa muncul dalam bedah buku Syariat Islam Pandangan Muslim Liberal di Universitas Negeri Jakarta, Juni 2003. Seorang peserta, sebut saja Djohan, menyesalkan fatwa mati atas Ulil. “Saya meninggalkan Kristen dan masuk Islam justru karena keislaman model Mas Ulil. Dia bukan pendangkal akidah, malah menguatkan akidah saya,” kata Djohan. Tuduhan bahwa JIL mendangkalkan akidah, dengan fakta ini, perlu diuji kembali.

Ketika digelar jumpa pers JIL menanggapi fatwa FUUI, di Utan Kayu, Jakarta, Desember 2002, ada seorang penanggap yang mengaku berislam secara “minimal”, alias abangan. Tadinya ia merasa terasingkan dari wadah mayoritas umat Islam, tapi kehadiran JIL seolah merangkulnya, dan mengakuinya sebagai muslim. Ia pun terdorong meningkatkan kualitas keislamannya.

Lepas dari beragam kontroversinya, bagaimanapun, ada segmen masyarakat tertentu yang membutuhkan Islam model JIL dalam merawat spiritualitas mereka. Tentu mereka bukan hanya kalangan mualaf dan abangan, juga para akademisi, peneliti, aktivis, dan mahasiswa yang berpikir kritis, pluralis, dan menjunjung kebebasan. Maka, biarkan JIL melayani konstituennya. (GTR)


Akar Islam Liberal

“Kita tidak perlu menghiraukan nomenklatur. Tetapi jika sebuah nama harus diberikan padanya, marilah kita sebut itu ‘Islam liberal’.” ( Asaf ‘Ali Asghar Fyzee [India, 1899-1981] ).

Perkenalan istilah “Islam liberal” di Tanah Air terbantu oleh peredaran buku Islamic Liberalism (Chicago, 1988) karya Leonard Binder dan Liberal Islam: A Source Book (Oxford, 1998) hasil editan Charles Kurzman. Terjemahan buku Kurzman diterbitkan Paramadina Jakarta, Juni 2001. Versi Indonesia buku Binder dicetak Pustaka Pelajar Yogyakarta, November 2001.

Sebelum itu, Paramadina menerjemahkan disertasi Greg Barton di Universitas Monash, berjudul Gagasan Islam Liberal di Indonesia, April 1999. Namun, dari ketiga buku ini, tampaknya buku Kurzman yang paling serius melacak akar, membuat peta, dan menyusun alat ukur Islam liberal. Para aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) juga lebih sering merujuk karya Kurzman ketimbang yang lain.

Kurzman sendiri meminjam istilah itu dari Asaf ‘Ali Asghar Fyzee, intelektual muslim India. Fyzee orang pertama yang menggunakan istilah “Islam liberal” dan “Islam Protestan” untuk merujuk kecenderungan tertentu dalam Islam. Yakni Islam yang nonortodoks; Islam yang kompatibel terhadap perubahan zaman; dan Islam yang berorientasi masa depan, bukan masa silam.

“Liberal” dalam istilah itu, menurut Luthfi Assyaukanie, ideolog JIL, harus dibedakan dengan liberalisme Barat. Istilah tersebut hanya nomenklatur (tata kata) untuk memudahkan merujuk kecenderungan pemikiran Islam modern yang kritis, progresif, dan dinamis. Dalam pengertian ini, “Islam liberal” bukan hal baru. “Fondasinya telah ada sejak awal abad ke-19, ketika gerakan kebangkitan dan pembaruan Islam dimulai,” tulis Luthfi.

Periode liberasi itu oleh Albert Hourani (1983) disebut dengan “liberal age” (1798-1939). “Liberal” di sana bermakna ganda. Satu sisi berarti liberasi (pembebasan) kaum muslim dari kolonialisme yang saat itu menguasai hampir seluruh dunia Islam. Sisi lain berarti liberasi kaum muslim dari cara berpikir dan berperilaku keberagamaan yang menghambat kemajuan.

Luthfi menunjuk Muhammad Abduh (1849-1905) sebagai figur penting gerakan libaral pada awal abad ke-19. Hassan Hanafi, pemikir Mesir kontemporer, menyetarakan Abduh dengan Hegel dalam tradisi filsafat Barat. Seperti Hegel, Abduh melahirkan murid-murid yang terbagi dalam dua sayap besar: kanan (konservatif) dan kiri (liberal).

Ada dua kelompok yang dikategorikan “musuh” utama Islam liberal. Pertama, konservatisme yang telah ada sejak gerakan liberalisme Islam pertama kali muncul. Kedua, fundamentalisme yang muncul akibat pergesekan Islam dan politik setelah negara-negara muslim meraih kemerdekaannya.

Bila Luthfi mengembalikan semangat liberal pada abad ke-19, aktivis JIL yang lain, Ahmad Sahal, menariknya pada periode sahabat. Rujukannya Umar bin Khattab. Dialah figur yang kerap melakukan terobosan ijtihad. Umar beberapa kali meninggalkan makna tekstual Al-Quran demi kemaslahatan substansial. Munawir Sjadzali juga kerap merujukkan pikirannya kepada Umar ketika memperjuangkan kesetaraan hak waris anak laki-laki dan perempuan.

Umar menjadi inspirator berkembangnya mazhab rasional dalam bidang fikih yang dkenal sebagai madrasatu ra’yi. Dengan demikian, Sahal menyimpulkan, Islam liberal memiliki genealogi yang kukuh dalam Islam. Akhirnya, Islam liberal adalah juga anak kandung yang sah dari Islam.


Manifesto Jaringan Islam Liberal

Nama “Islam liberal” menggambarkan prinsip yang kami anut, yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. Kami percaya, Islam selalu dilekati kata sifat, sebab kenyataannya Islam ditafsirkan berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Kami memilih satu jenis tafsir –dengan demikian juga memilih satu kata sifat– yaitu “liberal”. Untuk mewujudkan Islam liberal, kami membentuk “Jaringan Islam Liberal”. Landasan penafsiran kami adalah:

  1. Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam. Kami percaya, ijtihad (penalaran rasional atas teks-teks keislaman) adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik terbatas atau keseluruhan, adalah ancaman atas Islam, sebab Islam akan mengalami pembusukan. Kami percaya ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), maupun ilahiyyat (teologi).
  2. Mengutamakan semangat religio-etik, bukan makna literal teks. Ijtihad yang kami kembangkan berdasarkan semangat religio-etik Quran dan Sunnah Nabi, bukan semata makna literal teks. Penafsiran literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian peradaban kemanusiaan universal.
  3. Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural. Kami mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung konteks tertentu; terbuka, sebab setiap penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran adalah cermin kebutuhan penafsir pada masa dan ruang yang terus berubah.
  4. Memihak pada yang minoritas dan tertindas. Kami berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kaum minoritas tertindas dan dipinggirkan. Setiap struktur sosial-politik yang mengawetkan praktek ketidakadilan atas minoritas berlawanan dengan semangat Islam. Minoritas dipahami dalam makna luas, mencakup minoritas agama, etnik, ras, gender, budaya, politik, dan ekonomi.
  5. Meyakini kebebasan beragama. Kami yakin, urusan beragama dan tidak beragama adalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Kami tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar pendapat atau kepercayaan.
  6. Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik. Kami yakin, kekuasaan agama dan politik harus dipisahkan. Kami menentang negara agama (teokrasi). Kami yakin, bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus.

Gerakan Indonesia Tanpa JIL

Screenshot_2016-06-01-05-39-30_1

Indonesia Tanpa JIL (sering disingkat ITJ, #IndonesiaTanpaJILatau TanpaJIL) adalah sebuah komunitasIndonesia yang menyuarakan perlawanan terhadap Jaringan Islam Liberal (JIL).

Screenshot_2016-06-01-05-36-46_1

Misi utama komunitas ini adalah untuk melawan ideologi liberalisme dan sekularisme yang disebarkan oleh tokoh-tokoh JIL seperti Ulil Abshar Abdalla, Luthfi Assyaukanie dan lain-lain.

Sekretariat organisasi ini terletak di Jl. Utan Kayu no. 68B, persis di hadapan Komunitas Utan Kayu yang menjadi pusat kegiatan Jaringan Islam Liberal dan berbagai organisasi liberalis lainnya.

Ide pembentukan komunitas ini dimulai pada 9 Maret 2012, ketika sekitar 150 anggota organisasi masyarakat Front Pembela Islammengadakan “Apel Siaga Indonesia Tanpa JIL” di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Apel siaga ini diklaim sebagai aksi tandingan atas demonstrasi “Indonesia Tanpa FPI” yang diselenggarakan pada 14 Februari 2012.

Screenshot_2016-06-01-05-38-48_1

Sejak itu, gerakan ini mulai menuai dukungan dari masyarakat luas. Semangat gerakan ini menyebar ke berbagai daerah seperti Bekasi, Solo, Nusa Tenggara Barat, dan berbagai kota besar lainnya di Indonesia.


Dukungan untuk ITJ (Indonesia Tanpa JIL)

Komunitas ini mendapat dukungan antara lain dari:

  • Fahira Fahmi Idris, aktivis Gerakan Nasional Anti Miras;
  • Felix Siauw, penulis dan pendakwah;
  • Bachtiar Nasir, sekretaris jenderal Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI); serta artis seperti
  • Fauzi Baadilla,
  • Teuku Wisnu,
  • Febiola Novita, dan
  • Arie Untung.

Fauzi Baadila: Gue Gak Butuh Diajari Orang-orang JIL. Iye Nggak!!

Screenshot_2016-05-31-20-35-05_1

Tak banyak artis seperti Fauzi Baadila yang punya nyali untuk tampil ke hadapan publik seraya menyatakan sikap perlawannya terhadap pemikiran Jaringan Islam Liberal (JIL). Ketika di jumpai VoA-Islam dalam Apel Siapa Umat Islam Indonesia Damai Tanpa Liberalisme di Bunderan HI, Jakarta, Jum’at (9/2) Oji — begitu ia akrab disapa – memuntahkan kekesalannya pada makhluk bedebah bernama JIL.

Ketika ditanya, kok mau ikut komunitas #IndonesiaTanpaJIL? Oji dengan bersemangat menegaskan, kita komunitas Indonesia Tanpa JIL adalah gerakan yang murni, independen, tidak ditunggangi oleh siapa pun, baik oleh partai politik atau ormas manapun. “Kita bergerak atas nama nurani, menolak dari segala kotoran-kotoran hasil pemikiran orang-orang JIL,” kata Oji dengan bahasa gaol, khas anak Jakarta.

Kata Oji, mereka (aktivis JIL) nggak perlu ngajari kita beragama. Islam sudah sempurna. Mereka nggak usah mengolok-olok agama ini (Islam). Kita nggak butuh pemikiran orang-orang JIL.

Screenshot_2016-06-01-05-41-40_1

Siapa sangka, rupanya biar masih begajul, seperti diakuinya sendiri, Oji diam-diam mengikuti pemikiran para aktivis JIL di dunia maya selama dua tahun. “Gue ngikuti pemikiran mereka sudah dua tahun. Cuma, kalau di media, gua juga nggak mau terlalu sok pinter, males gue. Yang jelas, gue tahu pemikiran mereka kayak gimana. Jangan dibilang gue nggak ngerti pemikiran mereka. Kantor mereka di depan rumah gue. Iye nggak!!” ujar Oji menggebu-gebu.

Salah satu pemikiran JIL yang dianggap nyeleneh, menurut Oji adalah ketika:

  • Aktivis JIL bilang, Islam agama oplosan,
  • Orang JIL itu bilang, finalitas kenabian Nabi Muhammad Saw harus ditinjau ulang.

Itu cuma sedikit dari sekian banyak yang aneh dan nyeleneh dari pemikiran mereka.

Fauzi yang hari itu berpakaian kaos oblos bertuliskan #Indonesia Tanpa JIL mengatakan, ia tidak sendiri. Ia bersama para teman-teman seniman lainnya turut gabung dalam Apel Siaga Umat Islam Menolak Liberalisme.

Screenshot_2016-06-01-05-36-34_1

“Temen-temen gue di komunitas anti JIl, ada sutradara film, anak band, dan kita bukan anggota ormas, dan memang gak ada urat-urat ormas di muka gue. Gue nggak ada hubungannya dengan politik atau ormas. Loe lihat temen gue rambutnya mohawk, anak punk, dicat merah (sambil menunjuk personil Purgatory). Iye nggak!!”.

Oji mengaku, meski dirinya bukan muslim yang alim, lurus, dan biasa-biasa saja, tapi kalau agamanya (Islam) dihina dan dijelek-jelek, maka sebagai muslim ia berani tampil di barisan terdepan untuk membela tanpa pernah ada keraguan sedikit pun.  “Gue nggak ragu kalau agama gue dihina. Sebagai muslim kita harus bangkit. Titik.”

Bukankah di kalangan liberal, juga terdapat sutradara yang nyeleneh. Sebut saja Hanung Bramantyo. Anda tidak takut dikucilkan? “Iye, banyak, gue tahu. Bagi gue, itu nggak penting, rezeki dari Allah. Nggak ada urususan, mau sutradara ini itu. Mau dikucilkan kek, nggak ada urusan (disebut 3 kali). Yang jelas, gue nentang JIL, gue menentang pemikiran mereka, gue nggak peduli.”

Lebih lanjut Oji mengungkapkan, mereka (aktivis JIL) ngaku-ngaku intelektual, padahal mereka membuang kotoran pemikiran, yang terbungkus intelektual dan cendekiawan. “Nggak ada itu intelektual, cendekiawan, tapi menghina agama. Gelinciran orang dari agama Islam. apanya intelektual, Haaahh! Iye Nggak!!”

Kata Oji, “Cendekiawan apa yang hina agama? Gue sih bukan cendekiawan. anggap aje gue orang bego. Hahh..Cuma gue nggak suka sama orang yang ngaku cendekiawan, tapi mengolok-olok Islam.  Gue memang belum jadi muslim yang bener, gue masih ngaco. Tapi gue nggak sudi agama gue dihina. Iye nggak!!”

Sekali lagi, Oji menegaskan, dia tidak ada urusan dengan FPI atau partai manapun. “Nggak ada urusan ame siape2. Gue independen. Nggak usah dikait-kaitkan deh. Loe tahu, orang liberal atau JIL, kalo ngomong wah paling jago melintir-melintir. Iye nggak!!”

Pernah ketemu orang JIL? “Gue sih ketemu nggak pernah, tapi kantornya di depan rumah gue, di Utan Kayu. Jadi jangan dibilang gue kagak tau.”

Dalam pernyataan sikap yang direalese JIL, masyarakat Utan Kayu dukung JIL. Apa benar? “Gue, anak Utan Kayu, Begitu juga juga temen-temen gue (sambil menunjuk di sebelahnya) juga orang Utan Kayu, dan temen gue ini orang yang pertama ikut demo, saat kantor JIL berdiri.”

Komentar anda, kantor JIL pernah diserbu? “Gue bukan urusan serbu-serbuan, gue cuma nentang pemikiran mereka, gue nggak mau urusan fisik gitu-gitu. Yang jelas, gue nggak perlu mendebat mereka. Nggak perlu didebatin sama orang kayak geto, iye nggak. Dari omongannnya sendiri, kita sudah tahu, aneh dan nyeleneh. Gila! Mereka bilang, finalitas kenabian Nabi Muhammad perlu dipertanyakan ulang, itu kan sama saja menggugat kalimat syahadat. Iye nggak!!”

Kafir donk mereka? “Gue nggak mau bilang mereka kafir, cuma ini sudah offside. Nggak boleh dibiarin. 10-30 tahun ke depan, akidah genersi muda yang nggak ngerti bisa jebol,” kata Oji prihatin.

Apakah JIL harus dibubarkan? “Yang pasti, mau bubar mau kagak,cuma jangan jelek-jelekin agama yang gue yakini. Iye nggak!!” kata Oji dengan mata melotot.


Video Fauzi Baadila For #IndonesiaTanpaJIL


Susul Fauzi, Arie Untung Nyatakan Indonesia tanpa JIL

Screenshot_2016-05-31-20-15-53_1

#IndonesiaTanpaJIL kembali mendapatkan dukungan dari kalangan artis. Artis yang kali ini tertarik bergabung dalam gerakan #IndonesiaTanpaJIL adalah Arie Untung.

Seolah menyusul langkah beberapa artis yang telah lebih dahulu bergabung dengan gerakan #IndonesiaTanpaJIL seperti Fauzi Baadila, Ombat Tengkorak, Ucay ‘Rocket Rockers’ Al Kautsar, dan mantan artis Hari Moekti, pria kelahiran 15 Januari 1976 ini tak ketinggalan untuk ikut serta menolak gerakan liberalisme Islam, khususnya di Indonesia.

“Baarakallah,” tulisnya singkat dalam Twitter-nya sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan #IndonesiaTanpaJIL (19/03/2012).

Arie Untung yang memiliki nama lengkap Arie Kuncoro Untung adalah seorang aktor yang mengawali kariernya sebagai VJ MTV dan kemudian menggeluti dunia pembawa acara dan akting. Debut filmnya, antara lain “Brownies” (2004).

Selain berakting, sarjana teknik lulusan ISTN ini juga merupakan pemandu acara di beberapa stasiun televisi swasta.

Kehadiran Arie Untung dalam gerakan #IndonesiaTanpaJIL makin menambah daftar pendukung gerakan  ini dari kalangan artis dan selebritis. Gerakan #IndonesiaTanpaJIL merupakan sebuah gerakan menolak setiap pemikiran sekulerisme, pluralisme dan liberalisme agama yang marak disuarakan oleh beberapa tokoh, antara lain para aktivis yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal (JIL) di bawah koordinator Ulil abshar Abdalla.

Terlepas dari kehidupannya sebagai artis, Arie masih menyadari bahaya dari pemikiran yang diusung JIL. Arie mengatakan bahwa tanda-tanda akhir zaman memang sudah dekat, dengan menganalogikan kisah Dajjal.

Salut untuk Arie Untung yang mau dan berani bersikap untuk gerakan #IndonesiaTanpaJIL. Bersiaplah untuk menghadapi ujian karena mengatakan yang haq. Karena pertempuran antara yang haq dan bathil adalah pertempuran yang abadi sampai hari kiamat nanti. Jangan berkecil hati, ingatlah firman Allah, “Hai orang-orang beriman, barang siapa menolong Dinullah (Islam), maka Allah akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya,” (QS Muhammad: 7).


 Kami Blogger Dukung #IndonesiaTanpaJIL

05-31-07.55.32

Perseteruan yang terjadi di situs jejaring sosial antara para pendukung Front Pembela Islam (FPI) dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) tak kunjung usai. Bagaikan musuh abadi, kedua kelompok ini saling beradu pesan (twit war) satu sama lain.

Perseteruan ini telah berlangsung lama. Namun memuncak pada kasus penolakan kedatangan FPI yang akan meresmikan cabangnya di Kalimantan Tengah oleh masyarakat aslinya, suku Dayak.

Pihak yang kontra dengan FPI lantas membangun dukungan dengan membuat hash tag #IndonesiaTanpaFPI di jejaring sosial twitter, dan mengkampanyekan pembubaran ormas FPI. Gerakan yang muncul di social media ini kemudian melaksanakan aksi di Bunderan HI untuk mendukung pembubaran FPI pada Selasa (14/2/2012).

Disinyalir yang memotori gerakan ini adalah organisasi JIL dengan icon-nya Ulil Abshar Abdalla. Seperti yang disebutkan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Rikwanto di Jakarta, Selasa, bahwa informasi yang diterima kepolisian, massa yang menggelar aksi sebanyak 100 orang berasal dari JIL. Demikian pernyataan ini seperti dikutip dari ANTARA.

Meski demikian, Ulil dalam statusnya di media sosial twitter berkilah kalau aksi ini dimotori oleh organisasinya. Ia mengklaim kalau aksi ini murni gerakan sipil yang menentang keberadaan FPI.

“Jelas sekali aksi #IndonesiaTanpaFPI kemaren itu diorganisir oleh kalangan masyarakat sipil Jakarta. Tak ada kaitannya dg JIL,” tulisnya. Sementara, kelompok yang kebanyakan aktivis muslim dan memiliki akun di jejaring sosial twitter ini mendukung FPI dengan membuat hash tag #IndonesiaTanpaJIL.

Gerakan ini mengkampanyekan Indonesia bersih dari pemikiran JIL. Kelompok inipun membuat video berdurasi 32 detik yang di upload di youtube. Dengan menggunakan icon Fauzi Baadila yang dikenal bermusuhan dengan pemikiran JIL, kelompok ini mengkampanyekan anti JIL. Video yang baru berusia satu hari ini sudah ditonton lebih dari 3000 orang.

05-31-08.00.12

Screenshot_2016-06-01-05-43-07_1 Screenshot_2016-06-01-05-35-51_1 Screenshot_2016-06-01-05-35-32_1 Screenshot_2016-06-01-05-37-28_1 Screenshot_2016-06-01-05-35-05_1 Screenshot_2016-06-01-05-44-06_1 Screenshot_2016-06-01-05-36-59_1


Referensi

  • fuui.wordpress.com/anti-pemurtadan/mengenal-aliran-sesat-jaringan-islam-liberal/
  • id.m.wikipedia.org/wiki/Indonesia_Tanpa_JIL
  • indonesiatanpajil.blogspot.sg/2012/02/jangan-tanya-apa-itu-jil.html?m=1
  • indonesiatanpajil.blogspot.sg/2012/02/jil-agen-barat-yang-mau-menjauhkan-kaum.html?m=1
  • indonesiatanpajil.blogspot.sg/2012/02/para-tokoh-indonesia-nyeleneh-antek.html?m=1
  • indonesiatanpajil.blogspot.sg/2012/02/kami-blogger-dukung-indonesiatanpajil.html?m=1
  • voa-islam.com/news/indonesiana/2012/03/10/18098/fauzi-baadila-gue-gak-butuh-diajari-orangorang-jil-iye-nggak/
  • salam-online.com/2012/04/menyusul-fauzi-baadilla-kini-arie-untung-nyatakan-indonesia-tanpa-jil.html
Iklan

6 responses »

  1. Kill berkata:

    Does your website have a contact page? I’m having trouble locating it but, I’d like to shoot you
    an e-mail. I’ve got some suggestions for your blog you might be interested in hearing.
    Either way, great blog and I look forward to seeing it develop over time.

    Suka

  2. Link exchange is nothing else but it is only placing the other person’s weblog
    link on your page at proper place and other person will also
    do same in support of you.

    Suka

  3. m88 berkata:

    Excellent way of describing, and nice piece of writing to get data
    on the topic of my presentation topic, which i am going to convey in academy.

    Suka

  4. Excellent post. I used to be checking continuously this weblog and I am impressed!
    Very useful information specifically the final
    section 🙂 I deal with such information much.
    I used to be looking for this particular information for a very lengthy time.

    Thanks and best of luck.

    Suka

  5. […] Dur yang menduduki jabatan sejak Oktober 1999 sampai 23 Juli 2001. Dari ruwatan kemusyrikan sampai JIL (Jaringan Islam Liberal) yang tak mengakui hukum Tuhan muncul secara resmi. Hingga ada tokoh aliran sesat yang keceplosan, “Mumpung presidennya Gus Dur.” Orang mulai […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s