Berawal Dari Opini:

Screenshot_2016-06-03-07-17-25_1_1

Terbukti Pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan Bermazhab Syafi’i, Jadi Muhammadiyah Bukan Dahlaniyah

Muhammadiyah selalu mengaku terbuka dan terus berkembang, termasuk dalam hal keputusan Tarjih. Hal ini karena dalam penentuan sebuah keputusan Tarjih diambil dengan cara mencari yang paling kuat dasarnya, bahkan bisa terjadi tidak sejalan dengan praktik yang dilakukan pendirinya, Kyai Haji Ahmad Dahlan. Demikian dikatakan Dr. Yunahar Ilyas ditengah Pengajian Mahasiswa, di Kantor PP Muhammadiyah, Jl Cik Di Tiro Yogyakarta sebagai dikutip sangpencerah.com.

Menurut pimpinan Muhammadiyah ini , Kyai Haji Ahmad Dahlan pada masa hidupnya banyak menganut fiqh mahzab Syafi’i, termasuk mengamalkan qunut dalam shalat subuh dan shalat tarawih 23 rakaat. Namun, setelah berdirinya Majelis Tarjih pada masa kepemimpinan Kyai Haji Mas Mansyur, terjadilah revisi –revisi setelah melakukan kajian mendalam, termasuk keluarnya Putusan Tarjih yang menuntunkan tidak dipraktikkannya do’a qunut di dalam shalat subuh dan jumlah rakaat shalat tarawih yag sebelas rakaat.

“Ini wujud keterbukaan Muhammadiyah yang tidak fanatik” tegas Yunahar.  “Karena ini Muhammadiyah bukan Dahlaniyah” ungkapnya setengah berkelakar.

Ustad Yunahar lebih lanjut berkisah bahwa dahulu ketika Ahmad Dahlan muda bermukin di Makkah, sempat belajar kepada Syaikh Ahmad Khatib yang saat itu juga bersama Hasyim Asyari yang kemudian menjadi salah satu pendiri Nadhatul Ulama. Karena Kyai Ahmad Khatib adalah seorang ulama bermazhab Syafi’i, maka praktik ibadah Kyai Dahlan banyak yang mengikuti fiqh Mazhab Syafii. Hanya saja, karena Kyai Dahlan mendapat tugas dari Syaikh Ahmad Khatib untuk mempelajari Al Mannar, karya Rasyid Ridha, maka Kyai Dahlan terpengaruh juga dengan pemikiran Rasyid Ridha yang menekankan tidak bermahdzab.

“Contohnya, bila ada satu masalah yang kuat dasarnya Mazhab Syafii yang dianut Mazhab Syafii, kalau suatu masalah kuat Mahzab Hanafi, yang dianut Mahzab Hanafi” terang Yunahar.

Hal inilah yang kemudian dianut Muhammadiyah, termasuk dalam pengambilan Putusan Tarjih. Tradisi fiqh di Muhammadiyah sebelum 1929 memang tak berbeda jauh dari tradisi di NU. Jadi, buku itu tak terlalu mengejutkan (justru mengokohkan pandangan yg selama ini beredar).

Perubahan di muhammadiyah itu terjadi, diantaranya, karena pengaruh Haji Rasul (dan Muhammadiyah Sumatra Barat) yang cukup menentukan corak pemahaman fiqh Muhammadiyah.

Adagium yang cukup dikenal: Muhammadiyah lahir di Yogya, tapi secara ideologi dibentuk di Sumatra Barat. Peacock sudah pernah membahas persoalan ini. Pembentukan Majlis Tarjih di sekitar tahun 1928 juga mengokohkan pergeseran ini. Pendeknya, fiqh bukan menjadi concern utama Muhammadiyah awal, mereka lebih sibuk pada feeding (panti asuhan), healing (rumah sakit), dan schooling (sekolah).


Tanggapan:

Screenshot_2016-06-03-09-07-38_1

  • 1. Inilah Jatidiri Ahmad Dahlan

Ada tuduhan bahwa Muhammadiyah sekarang sudah menyimpang dari Muhammadiyah kyai Dahlan. Opini tersebut memancing polemik yang cukup menarik untuk disimak dan diikuti. ada banyak tanggapan baik pro maupun kontra terhadap opini tersebut. Namun masih ada beberapa kesalahpahaman yang sekiranya dalam tulisan ini akan membahas satu per satu.

Ada yang menanggapi bahwa mungkin lebih tepat kalau kyai Dahlan itu bermadzhab Syafi’i, bukan NU. Namun di Muhammadiyah tidak lagi bermadzhab Syafi’i. Di Muhammadiyah malah tidak bermadzhab atau malah bermadzhab wahabi, kata mereka.
 
Kalau kita lihat dalam buku Pelajaran KH. Ahmad Dahlan; 7 Falsafah dan 17 Kelompok Ayat Al Quran yang ditulis oleh KRH. Hadjid murid termuda KH. Ahmad Dahlan, Kyai Dahlan menekankan pentingnya manusia mencari kebenaran dan tidak boleh semata-mata mengikuti kebiasaan. Tidak ada satupun sumber dimana kyai Dahlan menyuruh mengikuti satu madzhab tertentu atau pemikiran tertentu, yang ada dalam salah satu pidatonya di kongres Muhammadiyah yang berjudul “Tali Pengikat Hidup” kyai Dahlan menyuruh kita memaksimalkan akal fikiran yang sehat dan hati suci kita dalam memahami sumber-sumber keagamaan.
 
KH. Ahmad Dahlan sepanjang sejarahnya adalah seorang yang eklektik. Eklektisme adalah sikap bisa menerima kebenaran darimana pun dia datang. Hal ini sejaran dengan sebuah ungkapan, “Hikmah itu barang kaum mukmin yang hilang, maka ambilah dimanapun kamu menemukannya”. Kyai Dahlan mengaplikasikannya saat dia masuk Budi Utomo yang notabene organisasi kejawen, sampai-sampai muridnya mengeluh.
 
Namun menanggapi hal tersebut kyai Dahlan bilang bahwa kita ini harus punya prinsip, namun jangan fanatik. Kalau zaman sekarang, kyai Dahlan itu ibarat kyai namun masuk partai sekuler, begitulah sikap kyai Dahlan zaman dahulu.
 
Beliau masuk Budi Utomo bukan apa-apa, karena menurut kyai Dahlan ada manfaat yang bisa diambil dari Budi Utomo yaitu dalam bidang keorganisasian. 
 
Lalu kyai Dahlan pun tidak segan untuk berdialog dengan pendeta dan misionaris nasrani. Memang pada waktu itu sedang gencar nasranisasi, malah dalam suatu kesempatan Kyai Dahlan berani menantang pendeta nasrani untuk berdebat, dengan terlebih dahulu masing-masing melepas keyakinan agamanya untuk mencari tahu mana yang benar apakah Islam atau nasrani, sayangnya si pendeta tidak hadir pada debat itu. Dalam suatu kongres Muhammadiyah kyai Dahlan pun pernah mengundang orang komunis untuk berpidato di hadapan warga Muhammadiyah. 
 
Buku-buku yang dibaca kyai Dahlan pun dan guru-guru beliau pun tidak hanya satu aliran. Beliau membaca al Ghazali, Imam syafi’i, Muhammad bin Abdul Wahhab, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dll.
 
Hal ini membentuk pemahamannya yang luas. Beliau tidak pernah menyuruh kita hanya membaca buku-buku tertentu dan melarang membaca buku lain karena takut kafir. Kyai Dahlan dalam konteks waktu itu tidak mau menulis kitab, dia merasa bahwa waktu itu sudah terlalu banyak kitab yang membuat orang jadi mengandalkan kitab dan lupa menggunakan akal, padahal pintu ijtihad tidak pernah tertutup.
 
Kyai Dahlan adalah seorang yang berprinsip, namun eklektik dan inklusif. Sehingga ketika ada sebagian dari saudara kita berfikiran, kyai Dahlan mengamalkan madzhab Syafi’i, maka kyai Dahlan akan memaksa warga Muhammadiyah untuk sampai kiamat bermadzhab syafi’i seperti beliau, hal itu kurang tepat.
 
Kalaupun kyai Dahlan bangun dari kubur, lalu melihat Muhammadiyah sekarang, lalu melihat ada praktik ibadah yang berbeda, kyai Dahlan tidak akan marah-marah gak jelas. Namun terlebih dahulu alasannya, lalu saat kami menjelaskan alasannya, dia pun pasti akan menerima dan tidak segan mengubah prakteknya saat memang argumentasi kuat.
  • 2. Inilah Muhammadiyah

Kebencian NU sangat sengit dengan salafi karena peristiwa penghancuran situs-situs bersejarah oleh banu saud yang beraliansi dengan Muhammad bin Abdul Wahhab. Sebenarnya tujuan penghancuran situs-situs bersejarah oleh salafi dikarenakan memang banyak masyarakat yang ngalap berkah, sehingga salafi memang merasa perlu menghancurkan agar masyarakat terbebas dari kemusyrikan. Dalam kehidupan sosial, NU pun sering dibid’ah-bid’ahkan oleh salafi.
 
Betapa sebagian kawan-kawan sangat benci dengan “wahabi”.
  • (a) Sebenarnya apa wahabi itu? 

Wahabi itu sebenarnya ejekan bagi Muhammad bin abdul Wahhab, sehingga dalam tulisan ini tidak menggunakan wahabi, namun salafi agar lebih adil.
  • (b) Apakah Muhammadiyah itu wahabi?

Kalau kita lihat pada poin dua dimana kyai Dahlan adalah seorang yang eklektik, maka Muhammadiyah bisa mengambil kebenaran dari manapun, termasuk dari yang oleh NU disebut wahabi.
  • (c) Dalam Muhammadiyah ada dua dimensi tajdid

  1. Purifikasi adalah pemurnian dalam akidah dan ibadah,
  2. Sedangkan dinamisasi adalah pengembangan dalam umuuru dunyaa.

Kebetulan salafi pun mempunyai prinsip yang sama dalam purifikasi, maka dalam segi ini Muhammadiyah ada kesamaan dengan salafi. Adanya kesamaan Muhammadiyah dengan salafi dalam hal purifikasi ini membuat warga NU gerah, dan puncaknya (mungkin) menuduh Muhammadiyah itu wahabi.

Kalau sudah masuk ke perdebatan ini akan sulit menemukan titik temu, karena memang ada perbedaan perspektif yang mendasar antara salafi dengan NU.
 
Yang jelas walaupun dalam hal akidah dan ibadah kami cenderung sama (bukan sama persis) dengan salafi, namun pada kenyataanya banyak perbedaan.
  • (d) Dalam Hal Hisab

Dalam penentuan awal Ramadhan dan hari raya, Muhammadiyah dikatakan ahlul bid’ah karena menggunakan hisab

  • (e) Dalam Hal Musik

  1. Dalam masalah ini, justru salafi dan NU kompak menggunakan RUKYAT.
  2. Muhammadiyah tidak mengharamkan musik asal tidak menjurus ke maksiat.
  3. Salafi mengharamkan kecuali untuk hal-hal tertentu.
  • (f) Dalam Hal Jilbab

  1. Jilbab perempuan Muhammadiyah standar, walaupun tidak dibenarkan kalau ada perempuan pakai jilbab namun ketat pakaiannya.
  2. Sedangkan perempuan salafi jilbabnya sangat panjang bahkan pakai cadar.
Memang berat Muhammadiyah itu, oleh (sebagian) NU dibilang wahabi, oleh liberal dibilang masih konservatif dan oleh salafi masih dibilang kurang Islami. Namun inilah Muhammadiyah dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
  • (g) Apakah memang sudah takdir Muhammadiyah untuk selalu disalahkan?

Semua gerakan Islam masing–masing punya keunggulan sekaligus kelemahan maka yang penting mari berlomba-lomba dalam kebaikan dan bersinergi sebagai bagian dari mata rantai perjuangan umat Islam.
  • 3. Muhammadiyah bukan Kelompok Salaf

Dr. Yunahar Ilyas (Img src: portalpiyungan.com)

Dr. Yunahar Ilyas (Img src: portalpiyungan.com)


Secara bahasa, kata salaf berarti umat terdahulu. Lawan katanya adalah khalaf yang berarti pembaharu. Seseorang ataupun sekelompok orang yang bersumber pada pemahaman agama umat terdahulu disebut salafiyah. Prof. Dr. Yunahar Ilyas, juga menambahkan, bahwa “salafiyah itu sering merujuk pada dua ulama besar, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal dan Rasyid Ridha.” Menurutnya, Muhammadiyah juga memiliki kecenderungan berpaham salafiyah. “Dikarenakan Kiai Dahlan dulu, terpengaruh oleh pemikiran Rasyid Ridha yang menulis al-Manar,” katanya. Meski memiliki pengaruh salafiyah, ketua PP Muhammadiyah yang membidangi Majelis Tarjih dan Tajdid serta Majelis Tabligh itu, menolak anggapan bahwa Muhammadiyah adalah bagian dari kelompok salaf.

Hal ini dibuktikan dengan pengaruh pikiran Muhammad Abduh, yang juga melandasi gerak dakwah Kiai Dahlan, selain dari Rasyid Ridha. “Karena Muhammad Abduh itu tergolong pemikir modern, atau tokoh pembaharu” tutur Prof. Dr. Yunahar Ilyas. Beliau menegaskan, jikalau “Muhammadiyah itu bermanhaj salaf, bukan bermadzhab salaf,” terangya. Adapun maksud dari manhaj salaf sendiri berarti mengambil pendapat terbaik dari ulama salaf, dengan merujuk pada al-Qur’an dan Sunnah. “Kalau kelompok salaf kan tinggal ngikut saja sama pendapat ulamanya, sedangkan kita tidak,” jelas pria asal Sumatera ini.

Mendengar penjelasan Prof. Dr. Yunahar Ilyas, hadirin yang datang di acara Kajian Malam Sabtu (Kamastu) tersebut, ada yang bertanya terkait “keberanian” ulama Muhammadiyah yang langsung merujuk pada Qur’an dan Hadits. Lantas membandingkan kesalihan ulama Muhammadiyah, dengan para imam Madzhab seperti Imam Syafi’i atau Imam Ahmad bin Hanbal. Untuk merespon pertanyaan ini, Prof. Dr. Yunahar Ilyas menyatakan “ulama Muhammadiyah mengakui keshalihan beliau para imam Madzhab, hanya saja menghadirkan pemahaman Islam yang senantiasa aktual dan dinamis itu bukan berarti harus bersandar pada madzhab tertentu,” katanya. Seperti contoh ketika sedang melakukan thawaf, tentu lebih besar kecenderungan untuk bersentuhan antara laki-laki dan perempuan. Jika menganut madzhab tertentu, maka bersentuhan yang bukan pada muhrimnya, akan membatalkan wudhu seseorang. Analogi sederhana ini mampu menjawab pertanyaan dari salah satu peserta pengajian, yang bertempat di aula gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Meluruskan Kesalah pahaman & Penyalah pahaman Kalangan Tradisionalis Atas Dakwah Pembaruan Muhammadiyah

1) Soal Tuduhan “Anti Shalawat”

Alangkah bodoh dan meruginya orang yang mengaku muslim namun tidak mau bershalawat kepada Nabi… Tapi apakah ada muslim yang demikian?
Dari yang kami ketahui, tidak ada satupun muslim di dunia ini yang anti shalawat, karena perintah untuk bershalawat sudah sangat jelas dalam Al-Quran, bahkan dalam banyak hadits disebutkan keutamaan2nya, disamping terdapat celaan bagi yang enggan bershalawat…
Maka seluruh kaum muslimin (termasuk yang sering dituduh “anti shalawat”) juga sangat menganjurkan untuk memperbanyak bershalawat…
Hanya saja, kami mencukupkan pada shalawat2 yang diajarkan oleh Rasulullah… Yang kami tolak adalah shalawat2 yang dibuat oleh manusia yang isinya ghuluw, seperti mengkultuskan Nabi, juga shalawat2 yang ditetapkan sendiri fadhilahnya, ditetapkan cara membacanya, ditetapkan berapa kali membacanya, ditetapkan kapan waktu membacanya, dll yang semua itu tidak ditetapkan oleh dalil Al-Quran & Hadits

2) Soal Tuduhan “Anti Ziarah Kubur”

Semua muslim pasti tau, hukum ziarah kubur adalah sunnah… Tak terkecuali kalangan yang seringkali dituduh “anti ziarah kubur”…
Maka bagaimana kami menolak ziarah kubur?
Yang kami tolak bukanlah ziarah kuburnya, melainkan pengkeramatan kuburan2 manusia yang dianggap Wali Allah, mencari berkah kepadanya dan meminta wasilah kepada orang2 shaleh yang telah wafat…
Bahkan di banyak makam keramat tata cara memasuki makam hingga keluarnya, bahkan wiridan yg dibaca (di makam) pun diatur sedemikan rupa (biasanya oleh juru kunci makam), padahal Islam tidak mengajarkan hal yang demikian…
Bagi kami, ziarah kubur hanyalah untuk mengingat kematian dan mendoakan ahli kubur, bukan malah meminta doa dan restu dari yang didalam kubur atau mencari berkah di kuburan

3) Soal Tuduhan “Anti Maulid, Ga Cinta Nabi”

Perlu diketahui, Muhammadiyah tidak pernah melarang maulid Nabi… Hanya saja, bagi Muhammadiyah peringatan maulid Nabi bukanlah ritual khusus, yang mesti diperingati dengan ritual khusus, memiliki fadhilah khusus, seperti adanya keyakinan dengan membaca syair2 tertentu ruh Nabi akan hadir dan kita mesti berdiri menyambutnya… …
Bagi Muhammadiyah memperingati maulid Nabi hanyalah momentum untuk syiar Islam, dia bukan ibadah… bisa dilakukan dengan mengadakan pengajian umum, perlombaan, bakti sosial, dll

4) Soal Tuduhan “Nggak Pake Sunnah”…

Pertanyaannya adalah, apakah yang kami tinggalkan itu benar2 sunnah, atau justru perkara2 yang tidak disyariatkan, atau malah bid’ah?
Kami melaksanakan shalat taraweh, qiyamul lail, shalat rawatib, shalat Id, puasa senin-kamis, dll, bukankah itu semua sunnah?
Jika yang dimaksud dengan sunnah adalah ritual2 seperti tahlilan, ruwahan, nujuh bulanan, maulidan, yasinan, padusan, dll maka itu bukanlah sunnah, karena hal2 tersebut tidak disyariatkan… Kalangan yang mengamalkan amalan2 diataspun (khususnya ahli ilmu diantara mereka) mengakui itu bukan sunnah, melainkan bid’ah, namun mereka namakan dengan “bid’ah hasanah”…
Adapun jika tuduhan “nggak pake sunnah” karena kami tidak mengeraskan dzikir & meniadakan dzikir berjamaah setelah shalat fardhu’, maka ketahuilah, sesungguhnya berdzikir sendiri2 dengan merendahkan suara lebih utama dan ini pendapat yang dipegang oleh Imam Syafi’I & Imam Nawawi… Lalu apakah mau dikatakan Imam Syafi’I & Imam Nawawi yang merupakan panutan dalam Syafi’iyah dikatakan “nggak pake sunnah”?
Begitupun soal kirim pahala bacaan Al-Quran kepada mayid, ini adalah perkara ikhtilaf… Imam Syafi’i & Imam Nawawi pun berpendapat pahala bacaan Al-Quran itu tidak sampai kepada mayid… Justru yang berpendapat sampainya pahala bacaan Al-Quran kepada mayid adalah Ibnu Taimiyah & Ibnu Qoyyim, dua sosok yang selama ini dibenci kalangan tradisionalis…

Ataukah kami dikatakan “nggak pake sunnah” karena kami tidak qunut subuh?
Ini adalah perkara ikhtilaf sejak dulu… Kalangan Syafi’iyah memang berpendapat qunut subuh itu sunnah muakkad, sedang kalangan Malikiyah berpendapat bahwa itu sunnah… Adapun kalangan Hambali & Hanafi berpendapat qunut subuh tidak disyariatkan… Masing2 punya dalil, maka ketika kami menguatkan dalil yang mengatakan bahwa qunut subuh tidak disyariatkan, bukan berarti kami meninggalkan sunnah, tetapi karena bagi kami qunut subuh itu bukanlah sunnah…
Ringkasnya, kami bukannya meninggalkan sunnah, tetapi meninggalkan apa yang “dianggap sunnah” oleh kebanyakan orang, yang bagi kami itu semua bukanlah sunnah…

5) Soal Tuduhan “Nguburin orang kok kayak ngubur bangke kucing”

Jika yang dimaksud kami seperti mengubur bangkai kucing ketika memakamkan jenazah tanpa mengadzankan mayid, maka ketahuilah, bahwa Rasulullah, para sahabat, thabiin, serta para imam mazhab tidak satupun terdapat riwayat yang menunjukkan mereka mengadzankan mayid atau jenazah mereka diazankan ketika dimakamkan… Yang demikian baru dipraktekkan jauh setelah masa salafus shalih dengan landasan qiyas, maka ini bukanlah sunnah, bahkan bid’ah…
Maka beranikah kita mengatakan bahwa manusia2 mulia seperti Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, para Imam Mazhab serta para salafus shalih dikuburkan layaknya bangkai kucing, karena tidak satupun diantara mereka yang diadzankan ketika dikubur, bahkan tidak dibuatkan selametan (tahlilan)?

Perlu dicatat, ketika kami tidak mengamalkan perkara2 diatas, bukan berarti kami tidak menghormati kalangan yang mengamalkannya… Dan kami tidak menolak secara mutlak, karena perkara2 diatas adalah perkara furu’, bukan perkara pokok dalam agama…
Ini bukan karena kami ingin dibenarkan atau ingin pendapat kami diikuti… Tidak demikian… Kami sangat menghormati perbedaan pendapat, bahkan kami tidak keberatan kalaupun pandangan kami dianggap keliru, selama itu dilandasi sikap objektif dan argumentasi ilmiah… Tetapi kami hanya ingin kalangan yang tidak sependapat dengan kami, kalaupun tetap tidak sependapat (lagi-lagi) hendaknya ketidaksepahaman itu dilandasi dengan ilmu, argumentasi yang ilmiah dan sikap yang objektif, sehingga melahirkan tasamuh… Bukan dengan landasan kesalah pahaman dan prasangka buruk, apalagi dilandasi kebencian dan fitnah, sehingga melahirkan perpecahan…

Demikian, semoga dengan niat ikhlas mencari kebenaran & meluruskan kesalah pahaman bisa memperkuat ukhuwah Islamiyah diantara jamaah2 kaum muslimin, khususnya sesama Ahlus Sunnah wal Jama’ah…

Referensi

  • ^nugarislurus.com/2015/12/terbukti-pendiri-muhammadiyah-kh-ahmad-dahlan-bermazhab-syafii-jadi-muhammadiyah-bukan-dahlaniyah.html
  • ^sangpencerah.com/2014/03/sekali-lagi-mengenai-jati-diri-kh-ahmad.html
  • ^suaramuhammadiyah.com/berita/2016/02/23/yunahar-ilyas-muhammadiyah-bukan-kelompok-salaf/
  • ^sangpencerah.com/2016/07/menjawab-kesalahpahaman-kalangan-tradisionalis-dakwah-pembaruan-muhammadiyah.html
Iklan

7 responses »

  1. Kiersten berkata:

    I’ve been surfing on-line greater than 3 hours nowadays, yet I never found any interesting article like yours.
    It’s beautiful value enough for me. Personally,
    if all site owners and bloggers made good content material as you did, the internet will likely
    be a lot more helpful than ever before.

    Suka

  2. Kill berkata:

    I am sure this article has touched all the internet visitors,
    its really really pleasant post on building up new webpage.

    Suka

  3. Fantastic goods from you, man. I’ve consider your
    stuff prior to and you’re simply extremely excellent.
    I actually like what you’ve received right here, certainly like what
    you’re saying and the way in which through which you are saying
    it. You make it entertaining and you continue to care for to stay it wise.

    I can’t wait to read far more from you. That is actually a
    wonderful web site.

    Suka

  4. I really love your website.. Very nice colors & theme.
    Did you develop this amazing site yourself? Please reply back as I’m trying to create my very own website and
    would love to know where you got this from or what the theme is
    called. Thank you!

    Suka

  5. m88th berkata:

    fantastic issues altogether, you just gained a new reader. What might you suggest about
    your submit that you just made some days ago? Any sure?

    Suka

  6. fijve hundredtwonuclear familyrevolting disgustingForrevolting disgustingtwofive hundred ourrevolting disgustingnuclear family five
    hundrednuclear familyrevolting disgustinggoodnuclear family furnishingsfive hundred funds five hundrednuclear familyrevolting disgustingweextendeed family
    five hundredextended familygot heretwofiive hundred five hundrednuclear famiyrevolting
    disgustingupextended family with twoextended familyrevolting
    disgustinganrevolting disgustingnuclear familytwofive hundred twoextended
    familyrevolting disgustingestimatednuclear family worth twonuclear familyrevolting disgustingoftwo $tworevolting disgusting6revolting disgustingfive hundred,
    five hundredtworevolting disgusting724revolting disgustingtwofive hundred tworevolting
    disgustingconsistingrevolting disgustingvnuclear family five hundredofextended familyfive hundred the following five hundredconsultant of
    items.

    Suka

  7. wonderful submit, very informative. I ᴡonder ᴡhy thhe оther specialists of tҺis sector
    ԁon’t realize thіs. You must continue yoyr writing.
    І’m confident, yⲟu’ve a grеat readers’ base аlready!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s