Sebelumnya: Jangan Mudah Ditipu Iran (Bagian Pertama)


Musuh Iran Adalah Saudi, Bukan Israel

Seorang diplomat senior AS, Fared Huff, baru-baru ini mengungkap informasi penting terkait negara Syiah Iran. Ia mengatakan bahwa musuh utama Iran sebenarnya adalah Saudi, bukan Israel.

Seperti dilansir alarabiya.net, Kamis (30/1/2014), hal itu diungkapkan Huff beberapa hari setelah ia menghadiri pertempuan tertutup yang disebut dengan pertemuan Al-Masar At-Tsani bersama para pejabat senior Iran. Huff yang juga mantan Duta Besar itu membeberkan bahwa para pejabat Iran dalam pertemuan itu sepakat bahwa musuh Iran sebenarnya adalah Saudi, baik dalam konflik yang saat ini tengah berlangsung di Suriah maupun di luar Suriah.

Huff menambahkan, soerang pejabat senior yang tidak disebutkan namanya mengungkapkan dalam pertemuan itu bahwa kepentingan Saudi semakin hari semakin mengusik proyek Iran. Pejabat itu juga mengungkapkan kekhawatirannya akan pertempuran sektarian yang terjadi di Suriah akibat keterlibatan Saudi di negara tersebut.

Lanjutnya, para pejabat Iran memandang bahwa Bashar Assad adalah sosok yang dapat mewakili kepentingan Iran di timur tengah. Karena, kata Huft, Bashar Al-Asad memfasilitasi Iran untuk mengirim senjata ke organisasi Syiah Hizbullah di Lebanon melalui Suriah.

Huff juga mengungkapkan, para pejabat Iran mengatakan bahwa tujuan negara mereka mempersenjatai milisi Syiah dan milisi-milisi lain di Suriah bukan untuk melindungi rezim Bashar Al-Asad. Akan tetapi, tujuan utamanya adalah mengamankan jalur pasokan senjata dari Iran ke Syiah Hizbullah di Lebanon, pasca lengsernya rezim.

Kenapa Saudi Tak Ikutkan Iran dalam Koalisi Militer Islam?

Penasihat Departemen Pertahanan Arab Saudi, Brigadir Jenderal Ahmad Asiri, mengungkapkan alasan Iran tidak diikutsertakan dalam “Koalisi Militer Islam” untuk memerangi teroris yang dibentuk Arab Saudi Senin lalu. Iran dianggap mendukung terorisme dan memusuhi negara-negara Arab.

“Bergabungnya Iran ke dalam Koalisi Militer Islam yang diumumkan baru-baru ini tergantung kesediaan Iran menghentikan permusuhannya terhadap negara-negara Arab dan Islam serta dukungannya terhadap teroris,” kata Asiri seperti dinukil Al-Arabiya dari koran Ar-Riyadh.

Pernyataan ini disampaikan Asiri kepada wartawan di Kairo. Saat itu, Asiri bersama delegasi Saudi lainnya menggelar pertemuan dengan para pejabat Mesir.

Asiri mengatakan, saat ini kami berbicara tentang operasi memerangi teroris. Jika Iran ingin bergabung dalam koalisi ini, dia harus menghentikan operasi di Suriah dan Yaman. Begitu juga, tambahnya, Iran harus menghentikan tindakan-tindakan mendukung teroris di Lebanon dan Iraq.

“Semua ini adalah milisi-milisi yang diciptakan oleh Iran,” jelasnya menegaskan.

“Langkah pertama yang harus dilakukan Iran sebelum bergabung koalisi menghentikan permusuhan terhadap negara-negara Arab dan Islam,” tegasnya lagi.

Seperti diketahui, Iran termasuk negara yang tidak tercantum dalam Koalisi Militer Islam kendati Iran anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Dari 57 negara anggota OKI, 34 lainnya bergabung dalam koalisi yang dipimpin Arab Saudi itu. Sementara sisanya ada yang mendukung namun tidak ikut bergabung dan sebagian menolak bergabung.

Yang Memerintah Suriah Adalah Komandan Iran, Bukan Asad

Bukti keterlibatan tentara Iran dalam perang membantu Bashar Al Asad melawan pejuang Suriah kembali terungkap. Sebuah rekaman video yang disebarkan aktivis Suriah melalui internet baru-baru ini menegaskan bahwa Iran mengirimkan para komandan militernya untuk mengatur pertempuran di Suriah.

Rekaman video yang diterima televisi Alaan dari brigade Liwa Tauhid, terlihat sejumlah komandan pasukan Garda Revolusi Iran yang sedang memberikan instruksi kepada pasukan Bashar Al Asad. Mengenakan seragam militer dan senjata lengkap, mereka memberikan arahan dan nasehat kepada anak buah Bashar Al Asad di provinsi Aleppo.

Salah satu dari mereka (para komandan Iran) terjun langsung memeriksa pos-pos penjagaan pasukan Asad dengan mengendarai sebuah mobil. Ia menyapa dengan akrab setiap tentara Bashar Al Asad yang menjaga pos-pos tersebut dan memberikan sejumlah pengarahan.

Mengomentari video tersebut, televisi Alaan mengatakan bahwa video itu semakin mempertegas keterlibatan sekutu utama rezim Bashar Al Asad, Iran, secara praktis di Suriah. Terlebih, bukti-bukti yang menunjukkan hal itu bersumber dari media-media Iran dan rezim Bashar Al Asad.

Bulan Agustus lalu, sebuah situs Iran juga mengungkap keterlibatan pasukan Garda Revolusi Iran dalam pertempuran yang berlangsung di Suriah. Situs tersebut memposting sebuah foto tentara Iran yang berpose di depan tank tempur pasukan Bashar Al Asad di Suriah.

Belakangan diketahui, sebagaimana dilansir alarabiya.net, orang yang berada di dalam foto tersebut bernama Ali Ridho Akhwan. Situs Iran, Dakraban, mengatakan dalam sebuah postingannya, dengan menampilkan foto-foto Akhwan berseragam militer di Suriah, bahwa Akhwan adalah seorang relawan Iran yang siap berjuang di Suriah.

“Ini adalah relawan Akhwan yang dikirim ke Damaskus oleh Garda Revolusi untuk berperang melawan para pembangkang Bashar Al Asad” kata situs Dakraban.

Sebuah sumber oposisi Suriah baru-baru ini menyebutkan bahwa yang berkuasa di Suriah saat ini adalah seorang komandan pasukan Garda Revolusi Iran, bukan Bashar Al Asad. Sumber itu menambahkan, Bashar Al Asad tidak lebih hanya sebagai walikotanya saja.

Dilansir almoslim.net, Kolonel Ahmad Hamada, salah seorang pejuang oposisi Suriah yang tergabung dalam Pasukan Pembebasan Suriah (FSA), mengatakan, jendral Qashim Sulaiman, komandan pasukan Garda Revolusi Iran, saat ini yang memerintah Suriah.

“Qashim Sulaiman lah saat ini yang memerintah Suriah. Adapun Bashar Al Asad tidak lebih hanya menjabat sebagai walikotanya” kata Hamada.

Ia menambahkan, Bashar Al Asad saat ini hanya mengandalkan Iran, sebagaimana yang dilakukan ayahnya selama bertahun-tahun lalu. Ini terbukti, lanjut Hamada, dengan ditemukannya kartu identitas dan nomor tentara Garda Revolusi Iran, dari sejumlah tentara yang ditangkap dan dibunuh pasukan pejuang Suriah.

Brigadir Yahya Al Bithar, komandan intelejen pasukan pembebasan Suriah (FSA) menambahkan, “Bashar Al Asad meminta mereka (Pasukan Iran) untuk mempertahankan Suriah. Para tentara Iran saat ini menjadi bagian dari struktur komandan dan kontrol rezim Suriah” tambahnya.

Seperti diketahui, para komandan pasukan Garda Revolusi Iran melatih para pengikut sekte Syiah di Lebanon, Irak, Yaman dan Negara-negara lainnya untuk siap ditugaskan membantu Bashar Al Asad di Suriah. Sehingga, para tentara Iran memiliki peran penting dalam jajaran pasukan Bashar Al Asad.

Bashar Al-Asad Berperang Atas Nama Iran

Kantor berita Iran, Fars News Agency, baru-baru ini menulis laporan pernyataan seorang Jenderal Iran yang sangat mengejutkan. Laporan itu mengungkap bahwa Iran mengaku akan mengirim ratusan pasukan dan membentuk brigade Hizbullah kedua, setelah Hizbullah Lebanon.

Jenderal Husain Hamdani, mantan komandan Garda Revolusi mengatakan dalam pertemuannya di Komite Andiminstrasi di provinsi Hamdan bahwa Bashar Al-Asad berjuang di Suriah atas nama Iran. Ia mengungkapkan bahwa negaranya telah siap mengirim 130 pasukan ke Suriah. Tidak hanya itu, ia juga berbicara akan membentuk brigade Hizbullah Suriah.

Hamdani menjelaskan dalam pernyataannya, para komandan militer tinggi Iran menegaskan akan membentuk Hizbullah Suriah yang diungkapkan sebagai Hizbullah kedua, setelah Hizbullah Lebanon. “Dengan bantuan Allah bangsa Iran membentuk Hizbullah kedua di Suriah,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa Iran hari ini bertempur di Suriah untuk membela kepentingan ‘Revolusi’. Ia mengatakan bahwa perang di Suriah lebih penting dari pada perang Irak.

Atas berita ini, seperti dilaporkan kantor berita Al-Arabiya, Lembaga dekat dengan Garda Revolusi dan Dinas Keamanan Iran segera menghapus berita tersebut. Belakang diketahui, berita itu diposting oleh media lokal di Iran, sebagaimana dilansir dari kantor BBC bahasa Persia.

Perlu diketahui, beberapa waktu lalu Hamdani yang merupakan mantan komandan brigade Syiah Muhammad Rasulullah telah menyatakan atas situasi di Suriah baru-baru ini. Menurutnya, ia senang melihat Bashar Al-Asad hidup lebih baik dari pada para penentangnya (kubu oposisi).

Tragedi Mina, Ulah Saudi atau Iran?

Screenshot_2016-06-02-08-09-54_1

img source: international.sindonews.com

Dalam kasus tragedi di Mina yang menewaskan setidaknya lebih dari 750 jamaah dari berbagai negara termasuk Indonesia. Menimbulkan permasalahan yang kompleks anatara dua negara, Saudi dan Iran.yang saling menyalahkan atas insiden yang yang merenggut banyak nyawa tersebut.

Iran meminta Arab Saudi bertanggung jawab atas tragedi Mina yang menewaskan 300 jamaah haji dari negaranya. Seperti ysng dilansir dalam Iran daily pada jumat lalu bahwa Wakil Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran untuk Arab dan Afrika, Hossein Amir Abdollahian mengungkapkan kekecewaan atas pelayanan haji Saudi dan mememinta untuk bertanggung jawab atas insiden itu.

“Arab Saudi harus bertanggung jawab kepada Republik Islam Iran dan negara-negara lain yang tidak bisa melaksanakan ibadah haji dengan tenang,” ujarnya.

Di tempat lain, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif bertemu dengan Menlu AS John Kerry, Zarif menyalahkan Saudi atas musibah haji yang terjadi pada Jumat lalu.

Sementara itu sebuah koran Lebanon, AdDiyar menuliskan mengenai penyebab terjadinya musibah tersebut. Bahwa kehadiran pangeran mahkota yang juga Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Muhammad Bin Salman di Mina Salman Bin Abdul Aziz langsung memperkenalkan daftar nama-nama petugas yang bertanggung jawab atas terjadinya tragedi Mina. Ad Diyar mengutip pernyataan salah seorang pejabat Saudi yang minta namanya dirahasiakan, tragedi Mina terjadi karena pejabat tidak menjalankan aturan yang telah ditetapkan.

Kata si pejabat, Raja Arab Saudi, Salman Bin Abdul Aziz telah mengantongi daftar nama-nama petugas yang bertanggung jawab atas terjadinya tragedi Mina.

Situs Al Jazeera menyebutkan Pemerintah Iran sendiri dilaporksn pihaknya akan meminta alasan dari Kerajaan Arab Saudi, prihal penutupan dua jalur di Mina sewaktu pelontaran jumrah hingga menyebabkan tragedi Mina.

Kepala Organisasi Haji Iran, Said Ohadi mengatakan Pemerintah Arab Saudi bertanggung jawab atas kesalahan pengamanan hingga musibah Mina itu terjadi.

Akibat penutupan jalur itu, tinggal tersisa tiga jalur yang bisa dilalui untuk lontar jumroh di Mina. “Ini menyebabkan insiden tragis itu terjadi,” ucap Said Ohadi.

Menaggapi hal itu, Arab Saudi telah menolak kritik dari Iran terkait dengan penanganan ibadah haji. Sebelumnya, Teheran di sidang PBB menuntut penyelidikan tragedi terinjak-injaknya jamaah di Mina yang menewaskan sedikitnya 769 orang. Saudi bahkan menyebut tidak semestinya Iran menjadikan musibah ini sebagai komoditas politik.

“Saya percaya Iran harus tahu lebih baik daripada bermain politik dengan tragedi yang menimpa orang-orang yang sedang melakukan tugas suci agama, “kata Menteri Luar Negeri Adel al-Jubeir, dilansir Sky News.

Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan mengungkapkan sebagai tuan rumah penyelenggaraan ibadah haji, Arab Saudi telah berusaha semaksimal mungkin agar tragedi Mina tidak terjadi. Lebih lanjut ia menyebutkan bahwa seorang pejabat Iran telah mengonfirmasi bahwa sekitar 300 jamaah Iran yang datang dari arah berlawanan telah menyebabkan bentrokan itu terjadi.

Beberapa media Saudi Arabia menyebutkan bahwa pejabat Iran mengatakan, pelanggaran dimulai ketika 300 jamaah Iran mulai bergerak dari Muzdalifa langsung menuju Jamarat. “Bukannya pergi ke kamp mereka terlebih dulu untuk menunggu waktu kelompok mereka untuk bergerak, justru mereka langsung bergerak ke arah yang berlawanan di jalan 203, di mana insiden menyakitkan itu terjadi,” seperti yang dilansir suratkabar Asharq Al-Awsat.

Seorang pejabat keamanan Saudi dikutip Kantor Berita Saudi, Sabq.org, Jumat (25/09/2015) lalu, mengutip sejumlah saksi mata di lokasi tragedi Mina mengatakan, bahwa insiden diawali dengan terburu-burunya para jamaah haji dari Iran untuk melewati dan menerobos rute jamaah lainnya seraya berkampanye tentang ide revolusi Iran.

“Jamaah dari Iran tidak mendengarkan dan mengabaikan instruksi kemudian bentrok dengan kami dan meneriakkan slogan-slogan revolusi sebelum terjadinya insiden,” ungkap seorang pejabat keamanan Saudi tersebut.

Sedang media Pakistan, voice.pk hari Jumat memutar ulang video, adanya sejumlah jamaah yang melawan arus sebelum musibah Mina.

bbc.com

bbc.com

Pasca tragedy yang terjadi itu, muncul banyak komentar warga Saudi di twitter. Mereka menuding bahwa Iran dan milisi  Syiah Hizbullah berada di balik tragedi itu.

Pengguna twitter dengan nama Aiman Thaha mengatakan, “64 ribu orang Iran dan Hizbullah menyelinap ke dalam rombongan dari Afrika untuk membuat jamaah di Mina saling berdesakan.”

Sedangkan Abdullah al Fiqi menyarankan agar menunggu hasil investigasi, di mana ia juga tidak menafikan keterlibatan Iran dalam kejadian itu.

“Apa yang ada di balik kejadian menyedihkan ini adalah sebuah agenda busuk. Dan kami akan menunggu hasil penyelidikan. Dendam Syiah Rafidhah tidak lagi tersembunyi dan sejarah mereka di musim-musim haji sangatlah buruk,” demikian ditulis laman yanair.net.

Adapun Nasif al Fitrah ia membemarkan bahwa penyebab awal kejadian itu adalah kelakuan orang Syiah yang mengambil rute balik, “Kemungkinan ini terjadi karena ulah orang Iran.”

Mengenai tragedy yang menimpa Mina beberapa hari lalu, Mufti besar Saudi Arabia berusaha menenagkan para pejabat kerajaan yang dituduh menjadi penyebab kejadian “Kau tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi.” ujar Sheikh Abdul Aziz al Sheikh mengatakan pada Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Nayef dalam pertemuan di Mina, Jumat (25/9).

Sheikh Aziz mengatakan insiden ini diluar kendali manusia. Nayef seharusnya tidak disalahkan atas takdir tersebut

Menaggapi stetmen masyarakat Saudi yang menuduh iran dan syiah Hisbullah dalam insiden ini memang bukan karena sebab.

Di tahun1987, 1986 M jamaah haji Syiah Iran membawa pahan peldak dan mengadakan kerusuhan di tanah haram dan di tahun 1994 M orang-orang Syiah mengadakan pengerusakan dan pembunuhan di dekat Masjid al-Haram, juga munculnya beberapa video yang menampilkan pemimpin Hisbullah mengancam akan menghancurkan masjidil Haram.

April lalu ulama terkemuka Iran Ayatollah Nasser Makarem Shirazi juga mengampanyekan pemboikotan ibadah haji. Gara-garanya, pelecehan seksual oleh dua polisi Saudi kepada dua remaja Iran di Bandara Jeddah

Tragedy mina memang bukan pertama kalinya terjadi beberapatahun yang lalu terjadi kejadian serupa yang menewaskan lebih dari 300 jamaah. Menaggapi hal tersebut, Saudi akhirnya kucurkan dana besar untuk menaggulangi terulangnya tragedy yang sama. Saat itu pembangunan fasilitas haji tersebut menelan dana USD 1,2 miliar (sekitar Rp 17,7 triliun). Kini fasilitas tersebut sudah ditambahi dengan banyak pintu keluar, kamera CCTV, dan petugas keamanan. Namun apa yang manusia upayakan di bawah takdir dan kekuasaaNya, tragedi itupun terulang kembali tahun ini dengan jumlah korban yang lebih besar.

Permusuhan Iran Dengan Zionis Israel & Amerika Hanya Sandiwara

Diantara metode yang ditempuh oleh para penggiat agama Syiah ialah dengan memanfaatkan sandiwara yang berjudul: Iran “bermusuhan” dengan Negara Yahudi dan Amerika.

Isu ini sangat efektif untuk menarik simpati umat Islam di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Sampai-sampai terkesan bahwa negara Iran yang notabene adalah penganut agama Syiah adalah satu-satunya Negara pembela kepentingan umat Islam di zaman sekarang.

Karenanya tatkala Indonesia yang menjadi anggota Dewan Keamanan PBB turut menyetuji resolusi no.1747 yang hanya berisikan kecaman terhadap rakyat Iran atas kegiatannya pengayaan uranium, betapa solidaritas umat Islam di Indonesia begitu besar untuk menuntut Presiden SBY –semoga Allah Jalla wa ‘Ala memberikan kebaikan kepadanya-, sampai-sampai DPR mengajukan hak interpelasi.

Dengan adanya kejadian ini, menjadikan masyarakat kurang peka terhadap berbagai trik para penggiat agama Syiah bahkan menjadi lebih terbuka untuk menerima berbagai keanehan ajaran mereka. Pikirkan beberapa fakta berikut:

  1. Iran adalah Negara yang memiliki komunitas Yahudi terbesar setelah Israel. Menurut sumber resmi pemerintah Iran, jumlah pemeluk agama Yahudi di Iran berkisar antara 25-30 ribu penduduk. Bahkan di kota Teheran ada lebih dari 10 Sinagogue (tempat ibadah umat Yahudi). Akan tetapi, masjid-masjid Ahlu Sunnah tidak satupun yang mereka biarkan berdiri tegak disana. Bukan sekedar itu saja, orang-orang Yahudi diberi ruang yang begitu istimewa, yaitu dengan diberikan kesempatan untuk memiliki perwakilan di parlemen. Sebagaimana umat Yahudi di Iran memiliki hak dan kebebasan yang sama dengan para penganut agama Syiah. Suatu hal yang tidak mungkin dirasakan oleh komunitas Ahlu Sunnah. Bahkan komunitas Yahudi Iran hingga saat ini bebas untuk berkunjung ke karib-kerabat mereka di Israel, tanpa ada gangguan sedikitpun baik dari pemerintah Iran atau penduduk setempat.
  2. Adanya hubungan perdagangan  antara Iran dan Yahudi. Sejak zaman Syiah Pahlevi, Iran telah menjalin hubungan perdagangan dengan Zionis Yahudi. Dan hubungan dagang ini berkelanjutan hingga setelah revolusi Syiah yang dipimpin oleh Khumaini. Pada tahun 1982 M, Yahudi menjual persenjataan yang berhasil mereka rampas dari para pejuang Palestina di Lebanon dengan harga  100 juta dolar Amerika. Bahkan pada tahun 1980-1985, Zionis Yahudi merupakan Negara pemasok senjata terbesar ke Iran. Sandiwara “permusuhan” Iran dan Yahudi mulai terbongkar, ketika pesawat kargo Argentina yang membawa persenjataan dari Yahudi ke Iran tersesat, sehingga masuk ke wilayah Uni Soviet, dan akhirnya di tembak jatuh oleh pasukan pertahanan Uni Soviet. Dikisahkan, Iran membeli persenjataan dari Yahudi seharga 150 juta dolar Amerika, sehingga untuk mengirimkan seluruh senjata tersebut, dibutuhkan 12 kali penerbangan.
  3. Perdagangan antara kedua Negara (Iran & Yahudi) hingga kini juga terus berkelanjutan. Sebagai salah satu buktinya, harian Palpress News Agency Edisi 25/04/2009 melaporkan bahwa di kota Teheran, telah dipasarkan buah-buahan yang diimpor dari Yahudi.
  4. Bila anda mengikuti berita international, Anda pasti pernah membaca pemberitaan bahwa pada hari selasa 12/1/2010 ahli nuklir Iran yang bernama Masoud Ali-Mohammadi yang berdomisili di kota Teheran ibukota Iran, tewas di dekat rumahnya akibat serangan bom. Kementrian luar negeri Iran langsung menuduh kaki tangan AS dan Yahudi di balik serangan bom itu. Aneh bukan? Iran telah memiliki bukti bahwa Yahudi dan Amerika telah mengadakan serangan di Teheran dan telah menewaskan ahli nuklirnya. Walau demikian, tidak ada reaksi pemerintah Iran dan para penganut Syiah tetap berdarah dingin dan tidak satupun tentara Iran yang dikirim untuk membalas serangan tersebut.

Iran Adalah Sekutu USA dan Israel

06-02-08.24.03

Saya melihat bahwa negara iran seolah-olah menjadi pembela islam, tetapi banyak umat islam yang di bunuh oleh kaum syiah, padahal  syiah merupakan buah pemikiran seorang yahudi, bahkan di negara iran terdapat kabbah versi mereka, begitu pula dengan qunut ala syiah yang mengejek dan melaknat para sahabat, lalu apakah khurasan yang dimaksud dalam hadits bahwa dajjal akan muncul dari negeri khurasan ? Apakah negeri khurasan yang dimaksud itu adalah salah satu provinsi di Iran?Dan apakah imam mahdi orang syiah itu adalah dajjal, seberapa dekatkah zionis Yahudi dan Iran?

ada dua ciri karakteristik kelompok/orang yang masuk ke lingkaran Syiah. Pertama mereka yang sebenarnya masih awam tentang Syiah. Golongan ini pada dasarnya tidak begitu mengenali bagaimana seluk beluk Syiah selama ini. Dari mulai pelecehan Syiah terhadap para sahabat, kecuali Ali. Sikap Syiah terhadap Ahlus Sunnah. Doktrin Imamah Syiah (yang berimplikasi pada Ushul Fiqh), sampai praktek taqiyah milik Syiah untuk menutupi ajaran mereka selama ini.

Kedua. Pengikut Syiah yang benar-benar ideologis. Mereka mengikuti hakikat ajaran Syiah sepenuhnya. Seperti konsep Imamah, Taqiyah, Roj’ah, bad’a, dan lain sebagainya. KH. Nabhan Husein, dalam presentasinya di Mesjid Istiqlal tahun 1997, lewat artikel berjudul “Tinjauan Ahlussunah Terhadap Faham Syiah Tentang Al Qur’an dan Hadits” pun merinci setidaknya ada 219 ayat yang di Al Qur’an yang tidak diakui kelompok Syiah.

Pada kasus pertama biasanya mereka yang masuk ke komunitas Syiah salah satunya oleh kekaguman kepada sosok Ahmadinejad. Mereka juga tidak bisa membedakan kasus Revolusi Iran dengan faham aqidah Syiah. Lalu bukan tidak mungkin mereka termakan oleh praktik taqiyah Syiah yang sengaja dimainkan untuk menutup-nutupi hakikat sesungguhnya.

KH Dawam Anwar, dalam presentasinya “Inilah Haqiqat Syiah” saat Seminar Nasional tentang Syiah tahun 1997 di Mesjid Istiqlal, menjelaskan bahwa salah satu sulitnya ajaran Syiah terendus masyarakat awam dikarenakan kitab-kitab yang memuat hakikat Syiah dan Syariat Syiah langka sekali, bahkan bisa dibilang tidak ada.

Kitab-kitab semacam Al Kaafi, Tahdzibuk Ahkam, Al Istibshar, Bihar Al Anwar, Al Waafi dan lain-lain tidak ditemui toko-toko buku pada umumnya. Karena sejak dahulu ulama-ulama Syiah sengaja merahasiakan kitab-kitab semacam itu agar jangan sampai jatuh ke tangan Ahlus Sunah karena akan menjadi senjata makan tuan. Walau pada akhirnya, atas izin Allah, kitab-kitab itupun sampai juga ke tangan ulama Ahlussunah wal Jama’ah.

Hemat saya, elemen pertama inilah yang bisa menjadi lahan dakwah bagi kita untuk mengingatkan kepada mereka tentang kekeliruan faham Syiah. Kita bisa sama-sama menyadarkan untuk tidak terpukau semata-mata karena faktor Ahmadinejad gencar melakukan kritik terhadap Amerika. Karena, hal itu pun juga masih bisa diperdebatkan.

Kalaulah memang Ahmadinejad serius melawan Amerika, sekiranya ia bisa berbuat lebih riil dalam melaksanakannya. Tidak jauh dari Iran, berbatasan langsung dengan teritori Ahmadinejad, yakni Afghanistan dimana puluhan ribu mujahidin bahu membahu mengusir Amerika dan cengkaman Zionis. Namun sampai saat ini belum ada tindakan konkret dari Ahmadinejad untuk membantu Afghan mengusir Amerika.

Yang terjadi justru sebaliknya. Satu contoh saja, kita ketahui bersama hubungan Ahmadinejad dengan Nouri Al Maliki dekat sekali. Padahal Nouri adalah kaki tangan Amerika dan Israel di Irak. Jadi amat wajar jika spekulasi kemudian berkembang: apakah karena Nouri Al Maliki juga oang Syiah?

Bahkan 18 april lalu, lima belas orang tewas di Ahwaz, Iran oleh pasukan keamanan Iran didukung oleh milisi pakaian sipil. Mereka melakukan serangan terhadap aksi demonstrasi dengan kekerasan yang menuntut hak bagi mayoritas etnis Arab di provinsi Khuzestan Iran yang berpenduduk mayoritas Sunni.

Kalaulah Iran masih menganggap Sunni adalah saudaranya kenapa harus dengan membunuh, bukankah lebih baik senjata itu diarahkan kepada musuh sebenarnya yakni Gedung Putih yang kini bercokol di Irak, Afghan, dan Palestina?

Dan ini semakin menimbulkan kecurigaan kenapa Iran—yang tak lebih besar daripada Iraq yang sudah digempur habis-habisan oleh AS dan sekutu, masih baik-baik saja. Dalam artian, AS tidak pernah melakukan suatu tindakan yang nyata terhadap Iran.

Khurasan dan Iran

Lalu pertanyaan saudara selanjutnya apakah yang dimaksud Khurasan disini adalah salah satu provinsi di Iran? Betul memang ada hadis yang mengatakan demikian. Namun kita ketahui bersama bahwa nama Khurasan minimal berada pada dua negara; pertama di Iran itu sendiri, kedua terletak pada salah satu sudut daerah di India Selatan, tepatnya masuk teritori Desa Babua. Dari sinilah beberapa kalangan sempat menilai bahwa Sai Baba itu adalah Dajjal karena berasal dari Desa Khurasan, India Selatan.

Dalam melihat Khurasan, DR Uman Sulaiman al Asyqar dalam kitabnya al Yaum al Akhir: al Qiyamah ashShughra wa’ Alamat al Qiyamah al kubra, mengacu pada hadis Rasulullah SAW dari An Nuwwas Ibn Sa’man, yang berbunyi “Sesungguhnya ia (Dajjal) muncul di suatu daerah antara Syam dan Iraq. Ia merusak ke kanan dan ke kiri. Hai Para Hamba Allah bersiteguhlah.”

Dalam konteks hadis ini, Syekh Al Bani berkata bahwa menurut Hakim sanad hadis ini shahih, dan disetujui oleh Adz Zahabi. Oleh karena itu DR Umar Sulaiman menilai bahwa Khruasan yang dimaksud adalah Persia. Yang berarti masuk teritori Iran modern.

06-02-08.28.30

Hal ini bisa diperkuat dari hadis lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya yang berbunyi. “Pengkuti Dajjal dari Yahudi Isfahan ada tujuh puluh ribu orang. Mereka memakai pakaian gamis” (Musnad Ahmad IV h. 216-217).

Isfahan (Esfahan) sendiri adalah sebuah kota bersejarah di Iran dan terbesar ketiga di Iran. Secara geografis kota ini terletak pada 32°38′ LU 51°29′ BT, di dataran Zayandeh-Rud yang subur, di kaki pegunungan Zagros.

Pada masa lampau Isfahan juga ditulis sebagai Ispahan. Atau dalam bahasa Persia Kuna disebut Aspadana. Dan dalam dialek bahasa Persia Pertengahan disebut Spahān,

Abu Naim dalam kitabnya Lawami’ al Anwar Bahiyyah, seperti dikutip DR. Sulaiman menuturkan bahwa salah satu desa yang masuk dalam daerah Isfahan ada yang bernama al Yahuddiyah karena penduduknya khusus Yahudi sampai zaman Ayyub Ibn Ziyad penguasa Mesir pada zaman Khalifah al Mahdi ibn al Manshur al Abbasi. Pada zaman ini kaum muslim mulai masuk ke desa itu sehingga orang-orang Yahudi terdesak. allahu’alam


Selanjutnya: Jangan Mudah Ditipu Iran (Bagian 3)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s