Jangan Mudah Ditipu Iran

Screenshot_2016-06-02-07-42-01_1

Setiap hari kita selalu mendengar berita tentang ancaman Amerika atau Israel atau dari keduanya bersamaan untuk menggempur Iran dalam waktu dekat, Kecaman terhadap Iran ini mendapat dukungan dari masyarakat dunia.

Pertanyaannya adalah apakah Iran sungguh sangat berbahaya bagi keselamatan masyarakat dunia atau Amerika dan Israel pada khususnya? Terkadang jawaban sebahagian orang adalah “iya” dengan alasan pengembangan proyek nuklir Iran yang semakin hari semakin gencar dilakukan, juga pernyataan para pemimpin Iran untuk menghancur leburkan Israel (ingin menghapus Israel dari peta dunia) atau yel-yel yang sering di kumandangkan para petinggi Iran di beberapa kesempatan: “binasalah Amerika dan Israel !”

Tapi pada kenyataannya bahwa tidak ada sama sekali tindakan berbahaya dari Iran terhadap Amerika maupun Israel, dan Iran pun tidak berniat sama sekali untuk menyerang Israel dan Amerika.

Kemesraan dibalik aksi saling kecam antara USA, Israel, dan Iran

06-02-07.33.03

Sebetulnya Amerika, Israel dan Negara-negara barat lainnya sadar akan hal ini, bahkan mereka juga sadar kalau mereka punya kesamaan kepentingan, sebagai bukti bahwa sesungguhnya Israel pernah menyuplai senjata-senjata canggih kepada Iran saat perang antara Iran dan Iraq, walaupun bukti ini sengaja disembunyikan kepada khalayak.

Namun peran Amerika sangat jelas dalam membantu Iran melalui para pengikutnya aliran Syiah di Iraq yang mana mereka selalu melaksanakan seluruh komando/perintah Amerika, namun yang sangat ironis dan kasat mata adalah bantuan ini dibiayai oleh bangsa arab yang Sunni.

Kalau betul-betul Amerika merasa terancam oleh Iran, maka sebenarnya Amerika beserta sekutunya tidak akan pernah bisa menaklukkan Iraq dan berhasil membunuh jutaan jiwa warga Arab Sunni di Iraq.

Sebaliknya Amerika dan Iran punya kesamaan kepentingan di Iraq, karena kalau tidak, tentunya Amerika akan lebih memilih Arab Sunni untuk mengatur masalah-masalah penting tentang kenegaraan, dan akan mendukung penuh tentara sunni sampai tidak ada lagi ruang kesempatan bagi Iran untuk masuk wilayah Iraq.

Setidaknya Amerika akan memberikan kesempatan lebih banyak terhadap warganegara Iraq yang sefaham dengan para pemimpin Negara teluk yang telah dianggap oleh Amerika sebagai “teman”, atau dengan kata lain sebagai anugerah (hadiah) dalam pertemanan antara mereka.

Amerika adalah pewaris tunggal bangsa barat dalam hal kebenciannya terhadap Islam, Amerika juga mengetahui bahwa pemerintahan Syiah aliran keras di Iran pun memiliki kebencian yang sama terhadap Islam.

Nenek moyang warga Iran adalah berasal dari kaum “Shafawiyyah”, yang membela umat Nasrani di Eropa pada saat perluasaan Dinasti Utsmaniyyah di Eropa. Mereka (Syiah di Iran) adalah merupakan benteng pertahanan pertama dari serangan-serangan yang diluncurkan oleh tentara Utsmaniyyah.

Pada saat yang sangat penting ini (perluasan Dinasti Utsmaniyyah di Eropa), mereka menyalakan api revolusi dengan mengambil alih kekuasaan di beberapa wilayah islam dari pemerintahan pusat. Sehingga para panglima Dinasti Utsmaniyyah terpaksa menarik mundur pasukannya dari Eropa guna mengatasi hal ini, padahal beberapa kota besar di Eropa telah akan berhasil di taklukkan.

Kiranya timbul satu pernyataan dari para pembaca: Jika demikian/Jika hubungan antara Amerika, Negara Barat, Israel dan Iran baik-baik saja, maka apa rahasia dibalik perang pernyataan dan ancaman yang dilontarkan oleh para pemimpin Negara Barat dan Amerika terhadap Iran yang selalu kita dengar siang dan malam ?

Jawabnya adalah sebetulnya Negara Barat, khususnya Amerika dengan persetujuan Iran, mereka ingin memeras kekayaan yang dimiliki oleh Negara-Negara Arab, karena dengan semakin diperlihatkannya kekuatan senjata Iran, akan menambah rasa ketakutan Negara-Negara Arab. Sehingga Negara-Negara Arab akan serta merta bergegas meminta perlindungan kemanan dari Amerika dengan membeli senjata-senjata canggih, kemudian disimpan sampai pada waktunya digunakan.

Dengan cara menjalin kerjasama pertahanan, hingga akhirnya Amerika bisa leluasa mengontrol kondisi kemanan di Negara-Negara Arab, bahkan bisa menyusup mengintervensi urusan dalam negeri mereka, leluasa menyusup sentra-sentra penting seperti pendidikan dan sosial budaya dengan cara menawarkan management/metodelogi Barat kepada Negara-Negara Arab sebagai syarat terlaksananya jalinan kesepakatan pertahanan stabilitas dan kemanan Negara dimaksud.

Adapun kepentingan Iran dari semua ini adalah untuk memperlihatkan kekuatan persenjataannya yang besar kepada wilayah sekitar. Pernyataan-pernyataan keras Amerika dan Negara-Negara Barat yang seolah mengintimidasi Iran hanya untuk membuat Negara-Negara Arab takut.

Semakin di intimidasi, Iran akan merasa diatas angin, menuntut terlalu banyak sampai-sampai Iran pernah mencoba untuk merubah metode keagamaan di beberapa Negara Teluk sesuai dengan fahamnya yang sesat. Walaupun jumlah Syiah (di Iraq) sedikit, namun mereka mampu mengkebiri dan mengembargo ulama sunni yang mayoritas. Mereka yakin bahwa Amerika akan selalu membela walaupun dengan dalih “melindungi kaum minoritas.”

Agar dapat lebih mengetahui bahwa terlalu dibesarkan-besarkannya informasi tentang kekuatan Iran di beberapa media massa, saya mengajak pembaca yang budiman untuk membandingkan antara Negara Iran yang jumlah penduduknya sekitar 70 juta jiwa dan masih dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil dan hukum yg memprihatinkan, dengan Negara Negara sunni lainnya seperti Mesir atau Turki, kedua Negara ini berpenduduk sekitar 75 juta jiwa, stabil dalam masalah hukum, tatanan kepemimpinan, dan kekuatan tentaranya jauh lebih hebat dari Iran dari semua sisi.

Jika kita sudah tahu kenyataan sebenarnya dibalik ancaman-ancaman Amerika dan Israel terhadap Iran yang hanya bertujuan untuk menguras kekayaan Negara-Negara Arab, agar Amerika dapat berkuasa menentukan kebijakan terkait masalah keamanan, unjuk kekuatan Iran, dan agar ajaran syiah bisa masuk di Negara –Negara Arab, maka apa yang harus dilakukan untuk menghadapi semua ini?

Yang harus dilakukan adalah menantang/mengajak seluruh Negara Arab Sunni, minimal Negara Teluk untuk lebih cermat menggunakan kekayaannya. Pertama, lebih baik mengalihkan sebagian biaya pembelian senjata untuk membiayai para ahli teknologi dari beberapa Negara Islam, khususnya dari Negara-Negara Islam yang dulu pernah dibawah naungan Federasi Rusia. Mereka adalah para ahli yang sangat kompeten.

Bangun pabrik-pabrik senjata canggih, karena senjata yang demikian inilah (yang dirancang oleh para ahli muslim) senjata yang benar benar dapat memperkuat Islam, tidak seperti senjata-senjata yang selama ini di import dari Amerika. Sehebat dan secanggih apapun senjata buatan musuh, mereka pasti sudah perhitungkan dan membatasi kekuatannya. (Tinjau kemballi pernyataan Amerika terhadap Israel saat menjual senjatanya kepada Arab Saudi yang merupakan transaksi jual beli senjata terbesar sepanjang sejarah)

Kedua, mengalihkan sebagian uang yang lainnya untuk mendukung segala kegiatan guna mengembalikan kesadaran muslim sunni di seluruh dunia untuk bersatu, sebab inilah benteng keamanan yang paling utama dalam menjaga segala ancaman dan bahaya kaum syiah.

Sebagaian orang berkata: “sangat mustahil terjadi, khususnya jika terkait dengan menyadarkan/menyatukan Negara-Negara Arab Sunni.”

Untuk menepis perkataan ini, kita harus tegas dan yakin bahwa tidak ada jalan keluar yang lain selain harus bersatu, jika tidak , kita akan dipecah belah seperti yang telah dilakukan oleh bangsa Persia dan Romawi terhadap bangasa arab sebelum Nabi Muhammad di utus menjadi Arab Ghassasanah dan Munadzarah.

Akhirnya, walaupun Israel akan melaksanakan niatnya menghancurkan Iran, sesungguhnya yang akan dihancurkan leburkan pertama kali adalah wilayah Negara-Negara Arab. Pada waktunya Iran hanya akan berhadapan dengan kekuatan Amerika saja yang pada saat itu telah berlabuh di Negara-Negara Teluk.

Setelahnya Negara-Negara Arab akan menjadi rata dan menjadi tempat persemaian pihak yang menang, sama halnya seperti yang terjadi di Mesir dan sekitarnya ketika peperangan yang terjadi antara Persia dan Romawi sebelum nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus, Mesir dan sekitarnya mengalami kehancuran sebanyak dua kali, pertama ketika Persia menang dan kedua ketika Romawi.

Benarkah Khomaeni Adalah Seorang Ahlul Bait?

Ayatollah Ruhollah Khomeini - Religious Figure — Biography.com

Ayatollah Ruhollah Khomaeni – Religious Figure — Biography.com

Masih ingat pernyataan musisi Ahmad Dhani yang membela kesesatan pemimpin Syi’ah Ayatullah Khomeini dengan dalil bahwa ia adalah keturunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?

Saat itu Dhani menjawab pernyataan: “bahwa Ayatullah Khomeini adalah orang sesat yang dalam kitabnya Kasyful Asrar mengatakan, bahwa para shahabat kafir”.

Dhani membela Khomeini dengan mengatakan, “Imam Khomeini jelas shohih keturunan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam…. Yang lain gak jelas, dan gak shohih.”

Pernyataan Dani ini didukung dengan gaya penampilan Khomeini yang mengenakan turban (kain penutup kepala yang dililitkan sedemikian rupa) berwarna hitam. Turban berwarna hitam ini hanya boleh digunakan oleh mereka, para ulama rujukan Syi’ah, dari kalangan Ahli Bait keturunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sedangkan turbah yang berwarna putih digunakan bagi ulama Syiah yang bukan Ahli Bait.

Namun, benarkah Khomaeni adalah keturunan nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?

Banyak kalangan percaya bahwa Khomeini seorang Ahlul Bait. “Jangan percayai itu. Dia merupakan orang asli India keturunan kaum beragama Sikh.” Demikian tegas Ustadz Muhammad Abdurrahman Al Amiry pada situs resminya, alamiry.net, hari Senin tanggal 20/4/2015.

Ustadz Muhammad Abdurrahman Al Amiry yang melakukan penelitian mendapati kesimpulan yang mencengangkan. Ia mendapati bahwa Khomeini ternyata bukan Ahli Bait, melainkan keturunan India yang keluarganya beragama Sikh.

Dan tentunya, kita tidak sembarang ucap, bahwa dia asalnya dari kaum penganut agama Sikh di India. Itu diakui sendiri oleh ulama Syiah Musa Al-Musawi. Dia mengatakan pada kitabnya Al-Jumhuriyyah Ats-Tsaniyah:

Al-Jumhuriyyah Ats-Tsaniyah

Al-Jumhuriyyah Ats-Tsaniyah

“Kakek Khomeini datang dari India sebelum 120 tahun yang lalu. Dan dia tinggal di kota Khumain di Iran. Dan ayahnya adalah Musthafa bin Ahmad dan dikenal sebagai “Singh”; lahir tahun 1842 di Kashmir dari keluarga penganut agama Sikh.

Dan ayah Singh adalah penjual khamr dan memiliki hubungan hangat dengan Inggris. Dan setelah dia mengenal seorang wanita Muslimah yang bernama Thahirah dan dia adalah anak dari pedagang Muslimin, maka dia menetapkan untuk memeluk agama islam agar dapat menikah dengan wanita tersebut.

Maka keluarganya mengancam untuk membunuhnya. Maka dia kabur bersama Thahirah dari Kashmir ke kota Lokfo. Dan Singh masuk Islam di tangan Sayyid Hamid Husain penulis Kitab Aqabat Al-Anwar. Dan cucu dari pamannya Khumaini bernama Wud dan dia tinggal di dekat kota Srinagar ibu Kota Kashmir dan dia penanggung jawab tempat-tempat peribadatan Sikh disana.

Dan inilah info-info yang dikumpulkan oleh penulis dari ulama-ulama Syi’ah di Kashmir.” (Al-Jumhuriyyah Ats-Tsaniyah hal. 352)

Khomaeni bersama ayah yang beragama sikh — firmadani.com

Khomaeni bersama ayahnya yang beragama sikh — firmadani.com

Screenshot_2016-05-17-11-51-24_1

Pengakuan Keindiaan Khomaeni diblok kuning — ar-Rahmah.Com

Khomaeni berkata sendiri di kitabnya yang awal-awal seperti Syarh Du’a Sihr bahwa dia adalah orang India. Dia menamai dirinya dengan “As-Sayyid Ruhullah bin Musthafa Al-Khumaini Al-Hindi”; Al-Hindi artinya adalah berasal dari India. Hanya saja kata “Al Hindi” dalam namanya ini kemudian dihilangkan dalam buku-bukunya yang selanjutnya dan diganti menjadi “Musawi”.

Khomaeni kemudian juga memakai turban hitam sebagai kedok untuk membohongi orang Syiah sendiri bahwa dirinya adalah keturunan Ahlul Bait. Dengan kepercayaan dari masyarakat Syiah Iran, ia memperoleh pengikut yang banyak.

Akhirnya, setelah ia berhasil menggerakkan revolusi Syiah pada rezim Syiah Iran pimpinan Shah Reza Palevi, keturunan India beragama Sikh itu berhasil menjadi pemimpin bangsa Persia Iran.

Maka orang pertama asal India dari kaum penganut agama sikh yang menguasai Iran dan memperbudak orang syi’ah dan memut’ah wanita-wanita syi’ah sekehendak perutnya adalah Khomaeni.

Maka bagaimana dia dipastikan sebagai Ahlul Bait, sedangkan nasabnya saja masih sangat diragukan.

Dan Khomaeni, meletakkan simbol khas agama nenek moyangnya “sikh” sebagai simbol negara Iran. Maka sangat mirip simbol bendera Iran dan simbol bendera kaum agama sikh.

Logo Iran & Sikhisme —myrepro.wordpress.com

Mungkin dari kalian banyak yang sallah sangka mengartikan logo bendera Iran adalah tulisan arab “Allah” kan? Logo bendera Iran itu bersumber dari agama sikhisme dari India.

Maka, begitukah Ahlul Bait?? Memiliki kesamaan dengan agama sikh?? Kalla wa haasya. Bodohlah orang yang bodoh tertipu oleh Khomaeni.

Sekali lagi, nasabnya sangat diragukan. Bahkan ada versi lain yang menyatakan dia adalah keturunan Inggris walau India adalah tempat tinggalnya. Ayahnya bernama William Richard Williampshon. Dia lahir di kota Bristol dan ibunya seorang India Kashmir.

Berita ini diambil dari salah satu kabar media dari India yang telah dikabarkan pada tahun 80-an.

Maka, bagaimana Khomaeni dapat dipastikan sebagai Ahlul Bait keuturnan Nabi, sedangkan nasabnya sajatidak diakui oleh ulama syi’ah dan yang lainnya?

Dengan demikian, mengutip Abu Muntashir Al-Balusy, Pengisi Kajian Al Amiry mengatakan bahwa,

ان الخميني لا ينتسب الى سلسلة نسب معروفة

“Sesungguhnya Khomaeni tidak bernasab kepada silsilah nasab yang dikenal”.

Ingat Sabda Nabi Muhammad yang di riwayatkan oleh Iman Ahmad berikut:

“Ada dua kelompok dari umatku yang akan di selamatkan oleh Allah ta’ala dari neraka: Kelompok yang memerangi India, dan Kelompok yang berperang membantu Isa bin Maryam. (”H.R Imam Ahmad)

Siapa Sebenarnya Ahmadinejad?

Screenshot_2016-06-02-07-09-11_1

Kedatangan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad ke Mesir membawa ekses yang begitu besar, sekaligus membuka sejarah baru Syiah di Mesir. Harap dicatat, selama Hosni Mubarak menjabat sebagai presiden, tidak sekalipun pemimpin Iran diberi kesempatan untuk masuk wilayah Mesir, resmi ataupun tidak.

Di Kairo, Ahmadinejad disambut langsung oleh Muhammad Mursi. Mereka berpelukan. Entah, apakah ini hanya sekadar hubungan diplomasi ataukah memang Mursi menyetujui sebuah kerja sama dengan Iran. Hanya memang, walaupun Iran menjadi negara maju, hampir tidak ada satupun negara-negara di Timur Tengah yang sudi membuka hubungan bilateral dan bisnis dengan Iran. Ini dikarenakan lebih sebagai persoalan ideologis; Iran adalah negara Syiah. Lantas, siapa sebenarnya Ahmadinejad ini?

(a) Ahmedinejad Bernama Belakang Yahudi 

Menurut klaim Telegraph, dokumen close-up itu mengungkapkan bahwa Ahmadinejad sebelumnya dikenal sebagai Sabourjian—atau artinya kurang lebih tukang kain tenun dalam arti nama bahasa Yahudi. Telegraph, melaporkan, sebuah catatan pendek yang tertulis di kartu itu menunjukkan keluarganya berubah nama menjadi Ahmadinejad, ketika memeluk Islam setelah kelahirannya. Sabourjian berasal dari Aradan, tempat kelahiran Ahmadinejad, dan nama itu diturunkan dari “penenun dari Sabour”, nama untuk selendang Tallit Yahudi di Persia. Nama ini, ada dalam daftar nama cipta untuk orang Yahudi di Iran, menurut Departmen Dalam Negeri Iran.

(b) Ahmadinejad Penghina Sahabat Nabi

Dalam acara itu, Ahmadinejad dengan lugas mengatakan bahwa Talhah dan Zubair adalah dua orang pengkhianat. “Talhah dan Zubair adalah dua orang sahabat Rasul, tapi setelah kepergian Rasul, mereka berdua kembali kepada ajaran sebelumnya dan mengikuti Muawiyah!” Padahal dalam sejarah, Talhah dan Zubair, dua orang sahabat Rasul itu, tak pernah bertempur dengan Muawiyah, karena keduanya meninggal lama sebelum peperangan Jamal di tahun ke-36 kekhalifahan Islam di mana Muawiyah menjadi rajanya.

(c) Ahmadinejad Seorang Syi’ah Rafidhoh 

Ketika Ahmadinejad berpidato di Universitas Harvard, media-media Amerika langsung meliput dan menyiarkan langsung pidato tersebut. Padahal selama ini tidak ada presiden yang diperlakukan seperti itu. Apalagi sudah banyak bukti yang menjelaskan hubungan gelap antara Ahmadinejad dengan Israel. Seorang ulama Syiah mengatakan presiden Iran ingin menjalin “persahabatan dengan Israel.”  Menurut ulama Syiah Mahmud Nubia, penasihat teras atas Ahmadinejad, Esfandiar Rahim Mashaei tiga tahun lalu menyatakan bahwa Iran harus memiliki “hubungan yang bersahabat” dengan Negara Yahudi, namun Ahmadinejad menahan diri dari persoalan ini di depan umum karena pemimpin tinggi Syiah Iran Ayatollah Ali Khamenei sangat keberatan dengan hal ini.

(d) Ahmadinejad Tidak Pernah Berkata Ingin Hapus Israel

Satu lagi sebuah fakta terungkap bahwa Iran tidak pernah bermusuhan dengan Israel. Yang mencengangkaan, hal ini dikatakan sendiri langsung oleh Wakil PM Israel yang mengakui bahwa Ahmadinejad tidak pernah mengatakan Israel harus dihapus dari peta. 


Selanjutnya: Jangan Mudah Ditipu Iran (bagian 2)

Iklan

4 responses »

  1. Jim berkata:

    I couldn’t resist commenting. Perfectly written!

    Suka

  2. m88th berkata:

    I’m really impressed with your writing skills and also with the layout on your
    weblog. Is this a paid theme or did you customize it yourself?
    Either way keep up the nice quality writing,
    it’s rare to see a great blog like this one these days.

    Suka

  3. download lagu berkata:

    Running is the best form of exercise to lose weight fast.
    Now that you have understood the importance that discipline plays in your whole weight loss
    scheme, it’s time to understand the importance of your diet.
    These warning signs are used to detect the disease in diabetes screenings.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s