Agama Baha’i

Agama Bahá’í adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte dari agama lain. Pembawa Wahyu Agama Bahá’í adalah Bahá’u’lláh, yang mengumumkan bahwa tujuan agama-Nya adalah untuk mewujudkan transformasi rohani dalam kehidupan manusia dan memperbarui lembaga-lembaga masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip keesaan Tuhan, kesatuan agama, dan persatuan seluruh umat manusia.

Ajaran Agama Baha’i

  • Kesatuan dan keanekaragaman

Agama Bahá’í percaya bahwa semua manusia adalah satu dan setara dihadapan Tuhan dan mereka harus diperlakukan dengan baik, harus saling menghargai dan menghormati. Segala bentuk prasangka baik ras, suku bangsa, agama, warna kulit, jenis kelamin dan lain-lain harus dihilangkan dan prasangka merupakan penghalang terbesar bagi terwujudnya suatu kehidupan yang damai dan harmonis di dalam suatu masyarakat yang beraneka ragam.

“Orang-orang yang dianugerahi dengan keikhlasan dan iman, seharusnya bergaul dengan semua kaum dan bangsa di dunia dengan perasaan gembira dan hati yang cemerlang, oleh karena bergaul dengan semua orang telah memajukan dan akan terus memajukan persatuan dan kerukunan, yang pada gilirannya akan membantu memelihara ketenteraman di dunia serta memperbarui bangsa-bangsa.” (Bahá’u’lláh)

  • Pendidikan diwajibkan bagi setiap manusia

Bahá’u’lláh memberi kewajiban kepada orangtua untuk mendidik anak-anak mereka, baik perempuan maupun laki-laki. Di samping pelajaran keterampilan, keahlian, seni, dan ilmu pengetahuan, dan yang paling diutamakan adalah pendidikan akhlak dan moral anak-anak. Tanpa pendidikan, seseorang tidak mungkin mencapai seluruh potensinya atau memberikan kontribusi positif kepada masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan haruslah universal dan wajib bagi semua.

“Kami menetapkan bagi semua manusia, apa yang akan memuliakan Firman Tuhan di tengah hamba-hamba-Nya, dan juga akan memajukan dunia wujud dan meluhurkan jiwa-jiwa. Sarana terbaik untuk mencapai tujuan itu adalah pendidikan anak-anak. Semua orang harus berpegang teguh pada hal itu.” (Bahá’u’lláh)

  • Kesetaraan antara pria dan wanita

Harus tersedia kesempatan yang sama bagi perkembangan wanita dan pria, terutama kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan. Wanita dan pria adalah bagaikan dua belah sayap dari burung kemanusiaan. Perkembangan seluruh kemampuan dan potensi masyarakat hanya dapat diwujudkan bila kedua sayapnya itu sama kuat.

“Umat manusia bagaikan seekor burung dengan kedua sayapnya: laki-laki dan perempuan. Burung itu tak dapat terbang ke langit kecuali kedua sayapnya kuat dan digerakkan oleh kekuatan yang sama.” (Abdu’l-Bahá)

Kesetaraan penuh dan kesadaran yang kuat akan kemitraan antara perempuan dan laki-laki sangatlah penting bagi kemajuan manusia dan transformasi masyarakat.

“Pria dan wanita telah dan akan selalu sama dalam pandangan Tuhan.” (Bahá’u’lláh)

  • Penghapusan Prasangka

Bahá’u’lláh mengajarkan bahwa segala bentuk prasangka harus dihapuskan, baik prasangka kebangsaan, ras, politik maupun keagamaan. Selama orang-orang masih berpegang pada prasangka, kita tidak akan mendapatkan perdamaian di bumi ini. Semua peperangan yang telah terjadi di masa lalu, segala pertumpahan darah, disebabkan karena prasangka-prasangka itu. Masyarakat Bahá‘i percaya bahwa semua jenis prasangka dapat dihilangkan melalui proses pendidikan yang memberikan keleluasan pencarian kebenaran secara bebas tanpa paksaan dan tekanan.

“Wahai anak-anak manusia! Tidak tahukah engkau mengapa Kami menjadikan engkau semua dari tanah yang sama? Supaya yang satu janganlah meninggikan dirinya di atas yang lainnya. Renungkanlah selalu dalam kalbumu bagaimana engkau dijadikan. Karena Kami telah menjadikan engkau semua dari zat yang sama, maka adalah kewajibanmu untuk menjadi laksana satu jiwa, berjalan dengan kaki yang sama, makan dengan mulut yang sama, dan berdiam dalam negeri yang sama…” (Bahá’u’lláh)

  • Kesetiaan kepada pemerintah

Bahá’u’lláh mengajarkan bahwa di negara manapun umat Bahá’í menetap, mereka harus bersikap setia, lurus dan jujur kepada pemerintah negara itu”. Umat Bahá’í percaya, bahwa patriotisme yang sehat dan benar, yang berbasis pada prinsip kesatuan umat manusia, yang menghormati dan mencerminkan keanekaragaman nilai-nilai budaya, akan mengakibatkan persatuan dalam masyarakat dan bangsa.

“Dalam setiap negara dimana masyarakat ini tinggal, mereka harus bersikap setia, jujur dan dapat dipercaya terhadap pemerintah.” (Bahá’u’lláh)

“Hakikat dari jiwa Bahá’í adalah kesetiaan pada hukum-hukum dan prinsip-prinsip pemerintah agar suatu tata-tertib sosial dan kondisi ekonomi yang lebih baik dapat didirikan.” (‘Abdu’l-Bahá)

  • Musyawarah sebagai landasan pengambilan keputusan

Bahá’u’lláh menyeru kepada umat manusia agar bersandar pada musyawarah sebagai sarana untuk mengambil keputusan dalam segala aspek kehidupan, baik dalam masalah pribadi maupun persoalan umum. Musyawarah merupakan sarana untuk menemukan kebenaran dalam segala persoalan. Musyawarah juga mendorong pencarian kemungkinan baru, membangun kesatuan dan kemufakatan serta menjamin kesuksesan pelaksanaan keputusan kelompok.

“Musyawarah menghasilkan kesadaran yang lebih dalam dan mengubah dugaan menjadi keyakinan. Musyawarah adalah laksana sebuah cahaya cemerlang, yang membimbing dan menunjukkan jalan di dalam dunia yang gelap. Dalam setiap hal, selalu dan selamanya memiliki suatu tingkat kesempurnaan dan kedewasaan. Tingkat kedewasaan dari berkah pengertian akan diwujudkan melalui musyawarah.” (Bahá’u’lláh)

  • Mencari Kebenaran Secara Independen

Setiap manusia telah dibekali oleh Sang Pencipta dengan instrumen-instrumen yang diperlukan untuk dapat menentukan jalan kebenarannya secara bebas dan mandiri. Kebenaran adalah tunggal bila diselidiki secara bebas, dan kebenaran tidak menerima perpecahan. Oleh karena itu penyelidikan kebenaran secara independen akan mengarah pada kesatuan umat manusia. Melalui penyelidikan kebenaran secara mandiri dan independen kemanusiaan dapat terselamatkan dari kegelapan ikut-ikutan dan akan mencapai pada kebenaran. Hanya bila keyakinan itu ia dapat melalui cara ini, ia dapat menikmati kemajuan jasmani dan rohaninya di dunia ini.

…Ketahuilah bahwa Tuhan telah menciptakan dalam diri manusia kekuatan pikiran agar dia mampu menyelidiki realita. Tuhan tidak bermaksud agar manusia secara buta mengikuti nenek moyangnya. Dia telah memberikan pikiran dan akal dengan mana ia menyelidiki dan menemukan kebenaran; dan apa yang dia temui sebagai benar dan nyata haruslah dia terima. Dia tidak boleh menjadi imitator dan pengikut buta dari siapapun. Dia tidak boleh hanya bergantung pada pendapat dari siapapun tanpa penyelidikan; … Penyebab utama dari kesedihan dan keputusasaan di dunia ini adalah ketidaktahuan sebagai akibat dari ikut-ikutan yang buta. Karena inilah perang dan pertempuran terjadi; dari sinilah bermula kebencian dan permusuhan terus bermunculan diantara umat manusia. …….(Abdu’l-Baha)

Wahai Putra Roh!
Di dalam pandangan-Ku, keadilanlah yang teramat Kucintai; janganlah berpaling darinya jika engkau menginginkan Daku, dan janganlah mengabaikannya agar Aku percaya padamu. Dengan pertolongannya engkau akan melihat dengan matamu sendiri, bukan dengan mata orang lain, dan engkau akan mengetahui melalui pengetahuanmu sendiri, bukan melalui pengetahuan orang lain. Pertimbangkanlah hal ini dalam hatimu, bagaimana engkau seharusnya. Sesungguhnya, keadilan adalah pemberian-Ku dan tanda kasih sayang-Ku kepaddamu. Maka letakkanlah keadilan di depan matamu. – (Bahá’u’lláh)

  • Sifat Dasar Manusia dan Keluhurannya

Agama Bahá’í percaya bahwa semua manusia diciptakan mulia dan dilengkapi dengan potensi-potensi rohani yang diperlukan untuk hidup dalam keluhuran dan kemuliaan jati dirinya. Tuhan tidak menciptakan ketidaksempurnaan. Sifat-sifat yang merugikan itu adalah indikasi dari tidak tumbuh dan berkembangnya potensi-potensi tersebut dan bukan merupakan ketidaksempurnaan pencipta-Nya.

Kekacauan, ketidakadilan dan degradasi moral dunia ini hanyalah cerminan distorsi dari jiwa manusia, dan sama sekali bukan tabiat sejatinya. Setiap manusia akan bisa menggapai seluruh potensi-potensi Ilahiah yang dimilikinya dan mampu mencerminkan sifat keluhuran tersebut dalam suatu wujud peradaban yang luhur. Potensi-potensi Ilahiah ini dapat tergali hanya melalui proses pendidikan rohani yang sistematis dan partisipatif, tanpa prasangka, serta berbasis pada proses pencarian kebenaran yang bebas dan tanpa paksaan, berdasarkan akal dan hati nuraninya sendiri.

“Wahai Putra Roh!
Aku telah menciptakan engkau mulia, namun engkau telah merendahkan dirimu sendiri. Maka naiklah pada tingkat yang untuk mana engkau diciptakan.” (Bahá’u’lláh)

“Wahai Putra Manusia!
Pada pohon kemuliaan yang cemerlang, Aku telah mengantungkan bagimu buah-buahan yag paling lezat, mengapa engkau berpaling daripadanya dan puas dengan apa yang kurang baik? Maka kembalilah pada apa yang lebih baik bagimu di Kerajaan Yang Tinggi.” (Bahá’u’lláh)

Tulisan Suci Baha’i 

Dalam Ayat-ayat Suci-Nya yang diwahyukan antara tahun 1853-1892, Bahá’u’lláh mengulas berbagai hal, seperti keesaan Tuhan dan fungsi Wahyu Ilahi; tujuan hidup; ciri dan sifat roh manusia; kehidupan di alam Ilahi sesudah mati; hukum-hukum dan prinsip-prinsip Agama; ajaran-ajaran akhlak; perkembangan kondisi dunia serta masa depan umat manusia.

Rumah-rumah Ibadah Bahá’i

06-04-06.53.09

Rumah ibadah Bahá’í mencerminkan tujuan dasar agama Bahá’í yang mendorong kesatuan umat manusia dan mencerminkan keyakinan akan keesaan Tuhan. Rumah Ibadah ini dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai “tempat terbit pujian kepada Tuhan”. Rumah ibadah Bahá’í merupakan sumbangan masyarakat Bahá’í bagi seluruh umat manusia termasuk semua pemeluk agama yang berbeda-beda.

“Semoga umat manusia dapat menemukan satu tempat untuk berkumpul dan semoga proklamasi kesatuan umat manusia memancar dari istana suci-Nya yang terbuka…” (Abdu’l-Bahá)

Rumah ibadah tersebut merupakan tempat untuk berdoa dan bermeditasi bagi individu dan masyarakat, tidak dibatasi hanya untuk umat Bahá’í saja. Bahá’u’lláh mengajarkan bahwa doa dan sembahyang merupakan percakapan antara manusia dan penciptanya yang bersifat rohani dan tidak harus dilaksanakan di rumah ibadah khusus. Saat ini, rumah ibadah Bahá’í sudah ada di setiap benua di dunia: di New Delhi, India; di Apia, Samoa Barat; di Kampala, Uganda; di Sidney, Australia; di Panama City, Panama; di Wilmette, Illinois, Amerika Serikat; di Frankfurt, Jerman, dan di Chile, Amerika Latin. Rumah Ibadah Bahá’í dibangun dengan dana yang hanya berasal dari sumbangan orang-orang Bahá’í dari seluruh dunia.

Rumah ibadah Bahá’í bebas untuk memiliki rancangannya sendiri, namun semua harus mengikuti pola arsitektur yang bertemakan ketunggalan, yakni harus mempunyai sembilan sisi dan sebuah kubah di tengahnya. Para pengunjung dapat memasuki rumah ibadah dari sisi mana saja, namun mereka disatukan di bawah satu kubah. Acara ibadah terdiri dari pembacaan Tulisan Suci Bahá’í dan Tulisan Suci dari berbagai agama, dan tidak ada khotbah, ritual, atau pemimpin doa. Tiap tahun, jutaan orang dari berbagai agama di dunia mengunjungi rumah-rumah ibadah Bahá’í untuk berdoa dan bermeditasi.

06-04-06.51.37

Bahá’u’lláh bersabda bahwa rumah ibadah Bahá’í nanti akan berfungsi sebagai titik pusat kehidupan rohani masyarakat. Di sekelilingnya akan terdapat lembaga-lembaga yang antara lain bergerak dalam bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, sosial-kemanusiaan lainnya seperti rumah sakit dan rumah jompo, dan administrasi masyarakat Bahá’í. Sehingga dengan demikian, rumah ibadah Bahá’í akan mewujudkan konsep perpaduan “ibadah dan pengabdian” sesuai dengan ajaran Bahá’u’lláh.

Sejarah Agama Baha’i

Ajaran Bahaiyah diambil dari orang yahudi, sebagaimana kita tahu bahwa yahudi menyusup kedalam barisan Syiah semenjak ajaran tasyayu ini muncul, dengan kedok membela dan mencintai ahlul bait, namun ingin menghancurkan islam dari dalam.

Ajaran Bahaiyyah dipelopori oleh seorang yang bernama : Ahmad Al Ahsai yang aslinya adalah seorang yahudi inggris yang tinggal di Iran.

Lalu dikembangkan oleh Ali Muhammad, atau Muhammad Ali As Syirazi, yang sebenarnya termasuk dalam golongan Syiah Imam Dua belas, lalu keluar dan membentuk madzhab sendiri dan mengaku sebagai Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu. Kemudian setelah itu mengaku kalau Allah telah menyatu dalam dirinya, sehingga dia menjadi tuhan. Maha Suci Allah dari kedustaan yang dibuatnya.

Mirza Ali Muhammad yang diberi gelar Baba ( Bapak ) mulai dakwahnya tahun 1260 H ( 1844 M ) di Syiraz yaitu selatan Iran, yang katanya untuk memperbaiki keadaan dan kondisi masyarakat saat itu.

Kemudian mengaku menjadi utusan Allah dan membawa kitabnya Al Bayan yang konon didalamnya syariat yang diturunkan Allah Taalaa, dan bahwa kerasulannya menghapus syariat Islam, dan membuat hukum-hukum bari bagi pengikutnya yang bertentangan dengan Islam seperti : puasa hanya 19 hari dan menjadikan waktu untuk istirahat yang disebut Hari raya Nauruz.

Pendiri ajaran ini telah membuat satu muktamar di Badats di Iran tahun 1264 H (1848 M) menjelaskan tentang akidah kelompok ini dan mengumumkan keluarnya dari Islam.

Ajaran ini banyak ditentang ulama, bahkan mereka dikafirkan, namun setelah perang antara mereka dan kaum muslimin dia berhasil dikalahkan dan dihukum salib tahun 1265 H.

Ajaran ini lebih sesat dari Qadiyaninya Mirza Ghulam Ahmad,karena juga mengingkari hari kiamat, surga dan neraka, dan menyerupai ajaran Brahmana dan Budha, menggabungkan antara Yahudi, Nashrani dan Islam, artinya menghapuskan perbedaan semua agama atau lebih dikenal sekarang dengan istilah Wihdatul Adyan.

Dan mereka melaksanakan haji ke Uka di Palestina, dimana markas mereka masih disana sampai sekarang. Menjadikan kiblat mereka ke Uka tempat dimana Baha atau khalifah mereka berada.

Ajaran Bahaiyyah memiliki kitab sendiri yang disebut: Al Bayan dengan mengatakan bahwa kitab ini menghapus Al Quran- Naudzu biLlah – dan mengaku bahwa ini terdapat dalam Al Quran sebagaimana firman Allah :

عَلَّمَهُ الْبَيَانَ [الرحمن:4]

Artinya: (Dia Mengajarkannya Al Bayan).[QS Ar Rahman : 4]

Yang dimaksudkan Al Bayan adalah kitab yang dibawanya, dan dia juga mengarang kitab lain yang berjudul Al Athrasy.

Yang penting adalah mereka memiliki kesesatan yang banyak, dan berhasil menyebarkannya dan memiliki pengikut yang tidak sedikit, ini karena ajaran seperti ini tumbuh di Iran yang merupakan tempat yang subur bagi ajaran sesat seperti Ismailiyah, dan syiah yang merupakan pangkal ajaran sesat.

Begitu pula ajaran ini didukung kekuatan penjajah, yaitu yang tujuannya untuk membenarkan penjajahan mereka dan menghapuskan syariat jihad melawan penjajah seperti halnya Qadiyani.

Setelah kematiannya, maka kepemimpinan dilanjutkan oleh menterinya Baha Husain bin Mirza yang lahir di Iran tahun 1233 dan mati tahun 1309, lalu kelompok ini dikenal dengan Bahaiyah dinisbatkan kepadanya.

Pendiri aliran Baha’i ini adalah Mirza Ali Muhammad asy-Syairazi, lahir di Iran 1252 H/1820 M. Dia menyerukan bahwa dirinya adalah potret dari Nabi-nabi terdahulu. Tuhan pun menyatu dalam dirinya (hulul).

Mirza Ali dibunuh pemerintah Iran tahun 1850, pada usia baru 30 tahun. Sebelum meninggal, Mirza memilih dua muridnya, Subuh Azal dan Baha’ullah, untuk menjadi pendakwah. Keduanya di usir dari Iran. Subuh Azal ke Siprus, sedang Baha’ullah ke Turki.

Seiring waktu, pengikut Baha’ullah lebih banyak, hingga disebut Baha’iyah atau Baha’isme, dan kadang masih disebut Babiyah, nama yang di pilih pendirinya, Mirza Ali.

Kemudian dua tokoh tersebut bertikai. Dianggap berpotensi mengganggu keamanan, keduanya d usir oleh pemerintah Turki. Baha’ullah lari ke Akka, Palestina. Di Akka, ia mengarang al-Kitab al-Aqdas, yang diakuinya sebagai kumpulan wahyu. Baha’ullah menganggap agamanya universal, semua agama dan ras bersatu di dalamnya.

Secara organisasi, Baha’i berpusat di Haifa, Israel. Baha’i tersebar di 235 negara melalui Baha’i International Community (BIC). Sementara itu, pusat kegiatan Baha’i ada di Chicago, Amerika Serikat.

Agama Bahá’í bermula pada tahun 1844 dengan sebuah misi yang diumumkan oleh Sang Báb selaku pembawa pesan akan kedatangan Bahá’u’lláh. Pada hari ini, sifat kesatuan yang menjadi ciri khas Agama yang mereka dirikan ini berasal dari perintah langsung oleh Bahá’u’lláh, yang menjamin keberlangsungan Agama-Nya setelah beliau wafat. Garis penerus-Nya, yang dikenal sebagai Perjanjian Bahá’u’lláh terdiri dari Putra-Nya Abdu’l-Bahá, lalu diteruskan kepada cucu ‘Abdul-Bahá yaitu Shoghi Effendi dan terakhir adalah Balai Keadilan Sedunia sesuai dengan perintah dari Bahá’u’lláh. Seorang Bahá’í menerima dan mengakui otoritas ilahi dari Sang Báb dan Bahá’u’lláh dan para penerus-Nya.

  • Sang Báb – Bentara Agama Bahá’í (1819-1850) 

Pada pertengahan abad ke-19, seorang pedagang muda mengumumkan bahwa Dia adalah pembawa pesan yang bertujuan untuk mentransformasikan kehidupan sosial dan rohani umat manusia.

  • Bahá’u’lláh – Diyakini Sebagai Pendidik Ilahi (1817-1892) 

Tuhan telah memanggil Bahá’u’lláh – yang berarti “Kemuliaan Tuhan” untuk membawa suatu wahyu baru bagi umat manusia. Selama 40 tahun mengalir dari pena-Nya ribuan tulisan, surat dan buku-buku suci yang menjadi rujukan umat Bahá’i.

  • Abdu’l-Bahá – Diyakini Sebagai Teladan yang sempurna (1844-1921) 

Selama tahun-tahun awal dari abad ke-20, Abdu’l-Bahá, putra pertama Bahá’u’lláh adalah satu-satunya Juru Tafsir Agama Bahá’í.

  • Shoghi Effendi – Sebagai Wali Agama Baha’i (1897-1957) 

Abdu’l-Bahá mengatakan bahwa setelah Beliau wafat, pengikut Bahá’í harus berpaling kepada cucu-Nya yang tertua, yaitu Shoghi Effendi yang Dia tunjuk sebagai Wali Agama Tuhan.

  • Balai Keadilan Sedunia (berdiri tahun 1963)

Balai Keadilan Sedunia adalah sebuah lembaga kepemimpinan internasional bagi Agama Bahá’í dan saat ini merupakan pusat Perjanjian Bahá’u’lláh.

Masyarakat Baha’i

Agama Bahá’í adalah agama yang berdiri sendiri, bukan merupakan sekte atau bagian dari agama manapun. Dalam sejarah tercatat bahwa agama Bahá’í masuk ke Indonesia pada akhir abad ke-19. Saat ini agama Bahá’í telah ada di lebih dari 191 negara dan 46 wilayah territorial di dunia dan telah memiliki perwakilan konsultatif resmi di Perserikatan Bangsa-bangsa. Inti dari ajaran agama Bahá’í adalah persatuan: bahwa Tuhan itu satu, umat manusia itu satu keluarga besar dan semua agama bersumber dari satu sumber Ilahi yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Salah satu ciri khas masyarakat Bahá’í adalah keanekaragamannya. Agama Bahá’í merangkul orang-orang yang berasal dari ratusan ras, suku dan bangsa, bermacam-macam profesi serta berbagai golongan sosial ekonomi semuanya bersatu demi mengabdi kepada kemanusiaan. Dalam masyarakat Bahá’í keanekaragaman dihormati dan dihargai, dalam segala keanekaragamannya, masyarakat dapat hidup bersatu dengan penuh kedamaian dan cinta.

Menyadari potensi yang dimiliki oleh individu dan masyarakat untuk memajukan transformasi individu dan sosial, masyarakat Bahá’í telah melakukan usaha terbaiknya untuk memajukan proses pendidikan dan untuk belajar dari satu sama yang lain tentang bagaimana membangun suatu masyarakat yang sejahtera jasmani dan rohani.

Berbagai prinsip-prinsip rohani yang menjadi bimbingan untuk membangun dan membawa perbaikan bagi masyarakat luas, diantaranya adalah: kesatuan umat manusia, kesetaraan pria dan wanita, menghapuskan prasangka, pendidikan universal, penyelidikan kebenaran secara bebas. Ketika prinsip-prinsip ini terus diusahakan agar terwujud dalam bentuk praktek di setiap rumah, lingkungan dan negara, potensi umat manusia untuk mencerminkan keluhurannya, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat, secara perlahan akan muncul.

Tidak ada simbol-simbol fisik, atau cara berpakaian dan atribut, yang membedakan umat Bahai secara khusus. Sebagaimana diajarkan oleh Sang Abdul Baha ”Orang Baha’i dapat dikenal dari sifatnya”. Sebagaimana juga merupakan ajaran semua agama, simbol utama dari kerohanian dan keagamaan haruslah sifat sifat rohani seperti kejujuran, kedermawanan, kerendahan hati dan pengabdian kepada sesama umat dan kepeduliannya pada perdamaian.

Riwayat Baha`i di Indonesia

Ajaran Baha’i masuk ke Indonesia sekitar tahun 1878, sebelum meninggalnya Baha’ullah di Israel, 1892. Bahai masuk ke nusantara melalui Sulawesi yang dibawa dua orang pedagang; Jamal Effendi dan Mustafa Rumi, asal Persia dan Turki. Ia juga berkunjung ke Jakarta, Surabaya dan Bali.

Konstitusi Republik Indonesia menjamin eksistensi umat Baha`i. Diperkenalkan ke Indonesia sejak abad 19.

Konstitusi Republik Indonesia menjamin eksistensi umat Baha`i. Diperkenalkan ke Indonesia sejak abad 19.

Kesesatan agama baha’i. belum lama ini kita umat islam diresahkan dengan kemunculan ajaran sesat yang disebut Bahaiyyah, padahal negeri kita sudah banyak ajaran-ajaran khurafat yang siap menerkam kaum muslimin dari segala penjuru, maka supaya umat islam lebih waspada mengenai ajaran sesat ini pada kesempatan ini kita akan sedikit mengupas tentang ajaran Bahaiyyah.

Ajaran Bahaiyyah atau juga disebut Babiyyah merupakan ajaran kebatinan campuran dari islam, yahudi, nashrani, budha, zoroaster, kebatinan dan lain-lainnya, disepakati ulama bahwa mereka sudah keluar dari Islam.

Menurut Iskandar Zulkarnain, penyebaran agama Baha’i di Indonesia dilakukan oleh pedagang dari Persia dan Turki bernama Jamal Effendy dan Mustafa Rumi di Sulawesi sekitar tahun 1878. Dari Sulawesi, ajaran ini menyebar ke tempat lain.

Namun, menurut Amanah Nurish, ajaran Baha’i di Indonesia dibawa oleh seorang dokter dari Iran yang datang ke Mentawai, Sumatera, untuk menjadi relawan membantu orang miskin, pada 1920. Dari waktu ke waktu, dia berhasil menyampaikan iman Baha’i sebagai gerakan keagamaan baru di Indonesia, sehingga menyebar ke pulau-pulau lain seperti Kalimantan, Jawa, Bali, dll.

Lukman menyajikan data pemeluk agama Baha’i di Indonesia, yang tersebar di Banyuwangi (220 orang), Jakarta (100 orang), Medan (100 orang), Surabaya (98 orang), Palopo (80 orang), Bandung (50 orang), Malang (30 orang), dll.

Pada 15 Agustus 1962, Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden No. 264/Tahun 1962 yang berisikan pelarangan tujuh organisasi, termasuk Baha’i.

Screenshot dari Katalog Perpres-Keppres-Inpres dari Tahun ... - Kementerian Dalam Negeri. (kemendagri.go.id)

Screenshot dari Katalog Perpres-Keppres-Inpres dari Tahun – Kementerian Dalam Negeri. (kemendagri.go.id)

Aliran Baha’i diresmikan oleh Gus Dur saat menjabat sebagai Presiden (1999-2001), dan sehari setelah itu muncul pernyataan resmi dari NU (Nahdlatul Ulama) daerah Bandung yang menolaknya.

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 69 TAHUN 2000

TENTANG

PENCABUTAN KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 264 TAHUN 1962 TENTANG LARANGAN ADANYA ORGANISASI LIGA DEMOKRASI, ROTARY CLUB, DIVINE LIFE SOCIETY, VRIJMETSELAREN-LOGE (LOGE AGUNG INDONESIA), MORAL REARMAMENT MOVEMENT, ANCIENT MYSTICAL ORGANIZATION OF ROSI CRUCIANS (AMORC), DAN ORGANISASI BAHA’I

 

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

 

Menimbang:

bahwa pembentukan organisasi sosial kemasyarakatan dan keagamaan pada hakekatnya merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia;

bahwa larangan terhadap organisasi-organisasi sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Presiden Nomor 264 Tahun 1962, dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan prinsip-prinsip demokrasi;

bahwa meskipun dalam kenyataannya Keputusan Presiden Nomor 264 Tahun 1962 sudah tidak efektif lagi, namun untuk lebih memberikan kepastian hukum perlu secara tegas mencabut Keputusan Presiden tersebut;

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a, b, dan huruf c di atas, maka dipandang perlu untuk mencabut Keputusan Presiden Nomor 264 Tahun 1962;

 

Mengingat:

Pasa1 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945;

Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 165, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3886).

 

MEMUTUSKAN:

 

Menetapkan:

PENCABUTAN KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 264 TAHUN 1962 TENTANG LARANGAN ADANYA ORGANISASI LIGA DEMOKRASI, ROTARY CLUB, DIVINE LIFE SOCIETY, VRIJMETSELAREN-LOGE (LOGE AGUNG INDONESIA), MORAL REARMAMENT MOVEMENT, ACIENT MYSTICAL ORGANIZATION OF ROSI CRUCIANS (AMORC), DAN ORGANISASI BAHA'I

 

Pasal 1

Mencabut Keputusan Presiden Nomor 264 Tahun 1962 tentang Larangan Adanya Organisasi Liga Demokrasi, Rotary Club, Divine Life Society, Vrijmetselaren-Loge (Loge Agung Indonesia), Moral Rearmament Movement, Ancient Mystical Organization Of Rosi Crucians (AMORC) dan Organisasi Baha’i.

 

Pasal 2

Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

 

 

Ditetapkan Di Jakarta,

Pada Tanggal 23 Mei 2000

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Ttd.

ABDURRAHMAN WAHID

Pada awal abad kedua puluh satu, jumlah penganut Bahá’í sekitar enam juta orang yang berdiam di lebih dari dua ratus negeri di seluruh dunia.

MENTERI Agama, Lukman Hakim Syaifuddin melalui akun Twitter-nya,@lukmansaifuddin menyatakan bahwa Baha’i merupakan agama dari sekian banyak agama yang berkembang di lebih dari 20 negara.

“Baha’i adalah suatu agama, bukan aliran dari suatu agama,” tulis Lukman. “Saya menyatakan bahwa Baha’i adalah termasuk agama yang dilindungi konstitusi sesuai Pasal 28E dan Pasal 29 UUD 1945.”

Lukman juga menjelaskan bahwa berdasarkan UU 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama, agama Baha’i merupakan agama di luar Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu, yang mendapat jaminan dari negara dan dibiarkan adanya sepanjang tidak melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan.

“Saya berpendapat umat Baha’i sebagai warganegara Indonesia berhak mendapat pelayanan kependudukan, hukum, dll dari pemerintah,” tulis Lukman. “Kemenag itu produk kesepakatan luhur pendiri bangsa yang berkomitmen bahwa (nilai-nilai) agama harus jadi jiwa yang mengisi kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita. Saya hanya menjalankan kewajiban saja,” kata Lukman kepada Historia (24/7).

Penjelasan Lukman tersebut karena adanya surat dari Menteri Dalam Negeri yang menanyakan apakah Baha’i memang benar merupakan salah satu agama yang dipeluk penduduk Indonesia. Pertanyaan tersebut terkait keperluan Kemendagri memiliki dasar dalam memberi pelayanan administrasi kependudukan.

Menurut Iskandar Zulkarnain dalam Gerakan Ahmadiyah di Indonesia,agama Baha’i dipelopori oleh Mirza Husein Ali, seorang ulama dari Persia yang mengaku dirinya sebagai Baha’ullah (kemuliaan Allah).

Baha’ullah, menurut Situs Resmi Agama Baha’i di Indonesia (bahaiindonesia.org), adalah pembawa wahyu agama Baha’i. Pada 1863, dia mengumumkan misinya untuk menciptakan kesatuan umat manusia serta mewujudkan keselarasan di antara agama-agama. Dalam perjalanannya di sebagian besar kerajaan Turki, dia banyak menulis wahyu yang diterimanya dan menjelaskan secara luas tentang keesaan Tuhan, kesatuan agama serta kesatuan umat manusia. Dia mengajarkan bahwa semua agama berasal dari Tuhan dan mereka saling mengisi serta melengkapi. Semua utusan Tuhan mengajarkan keesaan Tuhan dan mewujudkan cinta Tuhan dalam kalbu-kalbu para hamba-Nya.

Dalam A Concise Encyclopedia of the Baha’i Faith, Peter Smith, salah satu sarjana terkemuka dalam kajian Baha’i, menyatakan bahwa Baha’i adalah ajaran baru yang diyakini sebagai agama independen dan bisa diterima kehadirannya termasuk di Amerika Serikat, Eropa, Asia, Afrika, dan Australia.

Berdasarkan Situs Resmi Agama Baha’i di Indonesia, secara geografis, agama Baha’i adalah agama kedua yang paling tersebar di dunia –berada di lebih dari 120.000 tempat di seluruh dunia– dan telah resmi diakui sebagai agama yang berdiri sendiri di lebih dari 237 negara dan wilayah teritorial.

“Organisasi PBB secara resmi mengakui bahwa ajaran Baha’i telah menjadi bagian gerakan agama dan sosial yang mempunyai peran penting dalam membangun perdamaian antarumat beragama serta upaya kesejahteraan ekonomi dan pendidikan bagi masyarakat di seluruh dunia,” tulis Amanah Nurish dalam “Belenggu Diskriminasi pada Kelompok Minoritas Baha’i di Indonesia dalam Perspektif HAM,” dimuat jurnal Ma’arif Institute, Vol. 7, No. 1, 2012.

Bagaimana pandangan Islam mengenai ajaran ini?

Syaikh Ibnu Baz pernah ditanya mengeani aliran Bahaiyyah. Ajaran tersebut mengaku adanya nabi sepeninggal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah boleh menguburkan mereka di pemakaman kaum muslimin?

Jawaban dari Syaikh Ibnu Baz, “Jika memang ajaran dari Bahaiyyah sebagaimana yang kalian sebutkan, maka ia kafir. Tidak boleh menguburkan mereka di pemakaman kaum muslimin. Karena siapa saja yang mengklaim masih ada Nabi sepeninggal Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ia benar-benar pendusta dan kafir berdasarkan nash dan ijma’ -kata sepakat- kaum muslimin. Itu juga berarti telah mendustakan firman Allah Ta’ala,

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi. ” (QS. Al Ahzab: 40).

Begitu pula terdapat hadits yang banyak yang berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa tidak ada Nabi lagi sepeninggal beliau dan beliau adalah penutup para nabi.

Begitu pula jika ada yang mengklaim bahwa Allah bersatu dengan nabi tadi atau bersatu dengan satu satu makhluk, ia pun kafir berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Karena Allah Ta’ala tidaklah bersatu dengan salah satu dari makhluk-Nya. Allah itu begitu Agung dan Besar. Siapa yang berkeyakinan seperti itu, maka ia kafir berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Ia telah mendustakan berbagai ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa sebenarnya Allah berada di atas ‘Arsy, menetap tinggi di atas seluruh makhluk-Nya. Allah itu Maha Tinggi dan Maha Besar, tidak ada yang serupa dan semisal dengan Allah. Allah Ta’ala telah memberitahukan pada hamba-Nya,

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Al A’raaf: 54).

Begitu pula disebutkan dalam firman Allah,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thoha: 5)

Juga disebutkan dalam ayat lainnya,

فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ

Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Ghofir: 12)

Allah Ta’ala berfirman pula,

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ

Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik[1249] dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (QS. Fathir: 10).

Juga ada banyak ayat yang menyebutkan bahwa Allah itu menetap tinggi di atas ‘Arsy-Nya dan beristiwa’ sesuai dengan keagungan-Nya. Tidak ada satu makhluk pun yang serupa dengan Allah. Hanya Allah yang mengetahui hakekat Dia beristiwa’. Begitu pula mengenai hakekat Zat Allah, hanyalah Dia yang mengetahui. Itulah yang diterangkan oleh Allah dan inilah yang menjadi prinsip akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang sudah dijelaskan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah juga yang menjadi keyakinan khulafaur rosyidin, para sahabat, tabi’in dan yang mengikuti mereka dengan baik hingga saat ini.

Ketahuilah wahai saudaraku. Aku sendiri sebenarnya belum mengetahui mengenai kitab-kitab ajaran Bahaiyyah hingga saat ini. Namun aku telah mengetahui dari berbagai info, aliran ini kusimpulkan sebagai aliran sesat, ajarannya ajaran kafir, bukanlah Islam. Dari apa yang telah kusebutkan bisa menjawab pertanyaan di atas.

Setelah itu aku menelaah dan meneliti, terdapat dalam Majalah Al Hadai An Nabawi yang diterbitkan di Mesir sebanyak empat jilid, terbit di bulan Ramadhan dan Dzulqo’dah tahun 1368 H, yang ketiga diterbitkan pada bulan Rabi’uts Tsani 1369. Diterangkan di situ bahwa Bahaullah adalah Rasul dari aliran Bahaiyyah. Ia mengaku sebagai penghapus syari’at sebelumnya dan meluruskannya. Setiap masa pun dibutuhkan Rasul. Mereka juga mengingkari adanya Malaikat. Hakekat malaikat menurut mereka adalah  arwah mukmin yang berada di atas. Mereka pun mengingkari hari berbangkit. Juga yang mereka ingkari adalah Dajjal. Jelas sekali bahwa mengaku dibutuhkannya Rasul sepeninggal Nabi kita Muhammad seperti yang diyakini oleh aliran Bahaiyyah adalah suatu kekufuran yang nyata.

Allah-lah yang memberi taufik. Tidak ada daya dan kekuatan selain Dia. Kami memohon pada Allah agaran kalian dan saudara kita lainnya dari kaum mukminin mendapatkan taufik untuk mengenal kebenaran dan mengikutinya. Dialah yang Maha Mulia. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Muhammad selaku hamba dan utusan Allah, sayyid dan pemimpin kita, begitu pula kepada keluarga dan sahabat, juga yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.


Selanjutnya: Agama Baha’i, Sesat atau Bagaimana? (Bagian 2)

Iklan

2 responses »

  1. […] Agama Baha’i, Sesat atau Bagaimana? […]

    Suka

  2. […] Kelompok ini adalah kelompok yang menggabung-gabungkan Islam dengan Yahudi, Nasrani dan lainnya. Itu…Menghilangkan setiap ikatan agama Islam, menganggap syariat Islam telah kadaluarsa. Persamaan antara manusia meskipun berlainan jenis, warna kulit dan agama. Inilah inti ajaran Baha’i. Menolak ketentuan-ketentuan Islam. Menolak Poligami kecuali dengan alasan dan tidak boleh dari dua istri. Mereka melarang talaq dan menghapus ‘iddah (masa tunggu). Janda boleh langsung kawin lagi, tanpa ‘iddah. Ka’bah bukanlah kiblat yang mereka akui. Kiblat mereka adalah dimana Tuhan menyatu dalam diri Bahaullah (pemimpin mereka). […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s