Thomas Jefferson dan Qur’an

Bapak pendiri Amerika Serikat (AS), Thomas Jefferson, ternyata tertarik pada Islam. Berdasarkan buku Thomas Jefferson’s Qur’an yang ditulis oleh Denise A. Spellberg, ketertarikan Jefferson dimulai ketika ia membeli al-Qur’an, sebelas tahun sebelum ia menulis Deklarasi Kemerdekaan.

Pada saat kebanyakan bangsa Amerika takut terhadap Islam, Jefferson justru melihat Islam sebagai masa depan dari bangsanya.

Al-Qur’an yang dibeli Jefferson hingga kini masih disimpan di Perpustakaan Kongres. Al-Qur’an tersebut menjadi simbol dari hubungan yang kompleks antara dirinya dan Amerika dengan Islam.

Fakta bahwa ia memiliki al-Qur’an memperlihatkan ketertarikannya pada Islam. Jefferson membaca hak asasi Muslim untuk pertama kalinya pada buku yang ditulis oleh filsuf asal Inggris, John Locke. Locke telah menjembatani toleransi antara Muslim antara Yahudi.

Pemikiran Jefferson mengenai hak-hak Muslim harus didasari oleh konteks tersebut.


Sedikit Membedah Buku “Thomas Jefferson’s Qur’an”

Karya Denise A. Spellberg

Screenshot_2016-06-04-08-59-37_1

Thomas Jefferson adalah Presiden Amerika Serikat yang ke-3. Sebagai alumni fakultas hukum, ia memahami mendalam urusan ketata-negaraan dan perundang-undangan. Jefferson berkontribusi besar dalam pembuatan konstitusi (UUD) Amerika Serikat. Dikisahkan dalam buku ini, bahwa ia sempat mengalami pergulatan intelektual dan gejolak jiwa berkaitan nasib, hak dan kewajiban para imigran non-Protestan yang kelak menjadi warga Negara Paman Sam. Bisa kaum Yahudi dan umat Islam. Jefferson berimajinasi masa depan mereka kelak.

Tapi bagaimana system dan nilai-nilai dasarnya?

Dalam perjalanan waktu, Jefferson berkenalan dengan al-Qur’an. Sejak itulah ia tertarik dan mendalami prinsip-prinsip ajaran Islam. Salah satu ucapannya adalah: “Tak seorang pun dari kalangan Pagan, Muslim, ataupun Yahudi boleh dikucilkan dari hak-hak sipil Persemakmuran karena agamanya”. Bagaimana ia mengenal prinsip maha penting itu?

George Sale

Adalah George Sale (1696-1736), seorang pengacara dan penganut Kristen Anglikan. Dialah penerjemah al-Qur’an pertama di benua Amerika.“Mohamet merupakan legislator kaum Arab”, begitu komentarnya dalam pengantarnya. Al-Qur’an secara umum abad itu diposisikan sebagai Lex Saracenorum”: Hukum orang Saracen (sebutanbagi orang-orang Arab muslim). Menariknya, terjemahan ini dipakai dari abad ke-12-18. Terjemahan Sale inilah yang dibelioleh Jefferson lewat sebuah penerbit Koran di sana. Pembeli lain adalah Voltaire. Siapakah tokoh dunia ini? Ia adalah François-Marie Arouet (lahir 21 November 1694 – meninggal 30 Mei 1778 pada umur 83 tahun), lebih dikenal dengan nama penanya Voltaire. Ia merupakan filusuf dan penulis Perancis pada Era Pencerahan. Voltaire dikenal tulisan filsafatnya yang tajam, dukungan terhadap hak-hak manusia, dan kebebasan sipil, termasuk kebebasan beragama dan hak mendapatkan pengadilan yang patut. Ia adalah pendukung vocal terhadap reformasi social walaupun Perancis saat itu menerapkan aturan sensor ketat dan ancaman hukuman yang keras bagi pelanggarnya. Sekalipun demikian ia memiliki peran dalam pro dan negatif tentang Islam.

Jhon Locke

Tokoh pemikir lain yang dikisahkan dalam buku ini adalah Jhon Locke. Setelah berkali-kali membela hak-hak keagamaan dan politik umat Islam, tahun 1696, ia dituduh sebagai penganut Islam. Locke pun dituduh melakukan bid’ah. Pemikir politik dan kenegaraan ini bahkan dituduh sebagai Kristen sesat, anti-trinitas dan penganut monoteisme Islam. Hal lain yang menarik adalah tentang teks filsafat berbahasa Arab bernama “Hayy ibn Yaqzan”. Karya ini ditulis Ibnu Tufail. Sewaktu di Gontor saya sudah membaca ulasannya. Karya ini kontroversi di Barat.

Edward Pococke

Penerjemahan kedalam bahasa Inggris dilakukan Edward Pococke. Seorang dosen bahasa Ibrani dan Arab di Oxford pada 1652. Dosen ini pula yang mengenalkan pemikiran Arab Islam ke Jhon Locke. Ternyata terjemahan itu menghebohkan dan mempengaruhi pemikir Eropa umumnya. Tahun 1719, buku ini menginspirasi Daniel Defoe untuk membuat novel berjudul Robinson Crusoe. Kisah Tarzan yang popular itu berasal darinya. Karya intelektual filosofis ini pula yang menginspirasi Jhon Locke menulis Essay on Human Understanding. Itulah sebagian cuplikan hal-hal menarik dari buku Kontroversi al-Qur’an Thomas Jefferson.

Agama Itu Hidangan Bebas

Isu kebebasan beragama dan berkeyakinan masih mahal dan istimewa di neger iini. Sebagian besar umat Islam tidak memahaminya. Padahal surat dan ayat berbicara prinsip itu mereka baca tiap hari. Hanyasaja, karena yang meniupkan keras keseluruh penjurudunia Negara-negara Barat, umat Islam menyangkanya sebagai cara dan metode Barat merusak Islam. Ormas-ormas radikal dan majelis ta’lim menolak dan menuduh para pegiat atau aktivis kebebasan beragama dan berkeyakinan sebagai musuh Islam. Atau perusak dan penoda ajaran Islam. Kita masih ingat serangan FPI terhadap Aliansi Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan beberapa tahun berlalu.

Agama sebagaimana ditegaskan oleh al-Qur’an merupakan hidangan Ilahi. Ia merupakan panduan dan pembimbing orientasi hidup baik, jujur, amanah, beramal dan membela nilai-nilai kemanusiaan. Agama mengabarkan hal-hal ukhrawi, alam pasca kehidupan di dunia. Informasi dan beritadari “langit”. Agama pada dasarnya serupa dengan udara. Ia kebutuhan utama jiwa. Tanpa agama jiwa manusia seakan mati. Tentu agama yang saya maksud adalah nilai-nilai iman, keluhuran, keharmonisan, perangkat ritual kepada sumber hidup dan pengabdian kepada kemanusiaan. Sekalipun maha penting, agama oleh Tuhan diposisikan sebagai free something.  Boleh diyakini atau diabaikan. Bahasa al-Qur’annya:famansya’afalyu’minwamansya’afalyakfur ”Take it or leave it. Boleh anda menyendoknya atau membuangnya. Islam memang menghendaki keagamaan kita berbasis pilihan sadar, bebas dan penuh pemahaman. Prasyarat ini bila dipenuhi akan mengantarkan kualitas “mukhlisinalahu al-diin. Penghambaan dan ketundukan secara sukararela penuh kesadaran jiwa. Inilah prinsip dasar beragama yang dipancangkan Islam.

Tetapi, hal itu tidak terbangun di negeri ini. Bila kita meneriakkan kebebasan beragama dan berkeyakinan, kesetaraan hak dakwah dan beribadah, membela tempat ibadah umat non-msulim, kita dilabel antekAmerika, Yahudi atau antek Kristen. Bila kita bela minoritas dan hak-hak konstitusional mereka, kita dimusuhi, dikafirkan dan dimurtadkan. Persis yang dialami pahit-getirnya olehJhon Locke dan Thomas Jefferson di awal pembentukan Negara Amerika Serikat.

Ajaib dan tragisnya, saat umat non-muslim berjuang kuat menegakkan prinsip-prinsip luhur ajaran al-Qur’an dan tidak ingin mengulangi nalar primitif itu, umat Islam di Indonesia, justru bersemangat menegakkannya. Umat Islam justru bergairah melakukan aksi-aksi kasar dan radikal sebagai Quraish jahiliyah Makkah lakukan terhadap Rasulullah dan minoritas muslim saat itu. Maha benar, betapa al-Qur’an itu telah menginspirasi tokoh-tokoh dunia dalam menata relasi-relasi kemanusiaan, penegakan keadilan dan kesetaraan universal dan sikap non-diskriminasi. Saat bersamaan umat Islam justru berupaya merobohkan ajaran Ilahi itu. Umat Islam justru alergi, menyempitkan rahmat dan membuang hidangan sedap dan warisan luhur Nabi.

Al-Qur’an memang hanya terbuka cahaya intelektualnya bagi yang bernalar dan memfungsikan kekuatan akalnya. Top of Form Bottom of Form.


Kontroversi Donald Trump

Donald Trump defends size of his penis - CNNPolitics.com

Donald Trump defends size of his penis – CNNPolitics.com

Beberapa waktu lalu, salah satu kandidat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuat pernyataan kontroversial. Dia meminta agar muslim dilarang memasuki wilayah Amerika Serikat.

Jelas saja pernyataannya itu ditentang. Gedung Putih berpendapat, pengusaha kaya itu seharusnya ‘didiskualifikasi’ dari proses Pilpres. Bahkan, juru bicara Pentagon mengatakan, apa yang dikatakan Trump bisa berisiko terhadap keamanan AS.

Padahal, Departemen Pertahanan AS mengatakan bahwa banyak anggota militer yang muslim, yang membela negerinya di garis depan zona perang. AS juga bekerja sama dengan negara Islam untuk memerangi ISIS.

Lebih jauh lagi jika kita menengok sejarah, rupanya ada benang merah antara sejarah kemerdekaan Amerika Serikat dengan Islam, yang salah satunya dibuktikan melalui Thomas Jefferson dan Alquran miliknya. Mungkin sejarah ini luput dari pandangan Trump.

Fakta tersebut menyeruak pada tahun 2006 lalu. Kala itu, Keith Ellison terpilih sebagai anggota Kongres AS dari negara bagian Minnesota. Politisi Partai Demokrat itu menjadi muslim pertama yang bergabung dalam lembaga legislatif tersebut. Saat pengambilan sumpah, ia menggunakan Alquran dari perpustakaan Thomas Jefferson, yang tak lain adalah pencetus Deklarasi Kemerdekaan AS.

06-04-09.06.03

Dari situ kemudian timbul pertanyaan, dari mana sang pendiri Amerika Serikat itu bisa memiliki salinan Alquran? Pertanyaan itu lalu terjawab oleh seorang penulis buku, Denise Spellberg, yang ingatannya kembali menyeruak setelah mendengar berita pengambilan sumpah tersebut.

“Aku sudah lama tahu bahwa Jefferson punya Alquran, namun perhatian media terarah pada anggota Kongres yang menggunakannya dalam pengambilan sumpah. Aku tak mengira Alquran itu selamat,” kata dia, seperti dikutip dari 15 Minutes History, Jumat (11/12/2015).

Sebagian besar buku-buku dan dokumen milik Thomas Jefferson hancur saat Inggris membakar Capitol and the Library of Congress pada 1814. Dalam bukunya yang berjudul “Thomas Jefferson’s Qur’an: Islam and the Founders”, Spellberg menggambarkan bagaimana Alquran diduga kuat mempengaruhi ide-ide Presiden ke-3 AS tentang pluralitas dan kebebasan beragama.

Dikatakannya bahwa Thomas Jefferson sebenarnya adalah pecinta buku, dan tak ada buku yang tak dia baca. Dalam hal ini termasuk pula kitab suci umat Islam, yaitu Alquran. “Ia memesan salinan Alquran pada tahun 1765, 11 tahun sebelum ia menuliskan Deklarasi Kemerdekaan,” kata Spellberg seperti dimuat di situsNPR.

Spellberg juga menambahkan, kalau saat ini orang seperti takut dengan ajaran Islam. Menurutnya, itu dikarenakan mereka masih belum paham betul ajaran Islam yang sebenarnya.

Kembali ke Jefferson. Menurut Spellberg, alasan Jefferson membeli Alquran adalah agar dirinya bisa mengenal lebih dalam tentang Islam. Keputusannya membeli Alquran mungkin juga dilatarbelakangi bidang studinya. Kala itu Jefferson belajar ilmu hukum di College of William and Mary.

Ia membeli salinan terjemahan Alquran yang ditulis George Sale di sebuah toko buku di Duke of Gloucester Street, London dan mengirimkannya ke Virginia. Buku itu dianggap sebagai terjemahan Alquran terbaik ke Bahasa Inggris pada masanya.

Bukti lain yang menunjukkan kalau kemerdekaan AS berkaitan erat dengan Islam adalah pada naskah deklarasi kemerdekaan AS itu sendiri. Menurut Oxford Islamic Studies, ada kesamaan antara pernyataan merdeka AS dengan Piagam Madinah. Bahkan Amandemen Pertama Konstitusi AS menjamin kebebasan beragama. Poin ini juga terdapat pada Piagam Madinah, yang salah satu isinya adalah terkait pluralitas dan persatuan melawan ancaman dari luar, juga perlindungan bagi kaum minoritas.

06-04-08.53.03

Meski demikian, tak diketahui secara pasti apakah Jefferson familiar dengan Piagam Madinah yang disusun oleh Nabi Muhammad pada tahun 622 Masehi tersebut. Diduga kuat pemikirannya dipengaruhi terjemahan ayat-ayat Alquran tentang pluralisme. Salah satunya adalah Surat Al-Baqarah ayat 62.

Bagi Jefferson dan pendiri AS lainnya, meski hanya minoritas, menyertakan muslim berarti membuka pintu bagi semua umat beragama, termasuk pemeluk Yahudi, Katolik, dan lainnya. “Jika muslim dikesampingkan, itu berarti tak ada prinsip-prinsip universalitas bagi semua pemeluk agama di AS.”

Hubungan Jefferson dan umat Islam ternyata juga terjalin baik saat itu. Hal ini diperlihatkan dari Thomas Jefferson yang menjadi tuan rumah acara buka puasa bersama (iftar) di AS, yang digelar di Gedung Putih, pada tanggal 9 Desember 1805. Acara tersebut tak direncanakan sebelumnya. Kala itu, ia menerima utusan dari pemerintah Tunisia. Mengetahui tamunya sedang berpuasa, Jefferson memundurkan pertemuan dan acara makan bersama hingga waktu Matahari terbenam.

Sejauh mana pengaruh Alquran pada diri Thomas Jefferson tak pernah diketahui secara pasti. Namun yang jelas, pengetahuannya tentang Islam, dan agama lainnya, didukung pendidikan yang didapat dari College of William and Mary, dan dipengaruhi pemikiran Abad Pencerahan (Enlightenment) mempengaruhinya dalam penyusunan nilai-nilai hakiki yang dianut dan dibanggakan Amerika Serikat saat ini.

Sayangnya, pemikiran Jefferson yang mulia ini sepertinya diabaikan oleh pemerintahan AS saat ini, termasuk oleh Donald Trump.

Referensi

  • ^republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/14/01/24/mzvmpu-thomas-jefferson-ternyata-tertarik-pada-islam
  • ^beningpost.com/read/9878/thomas-jefferson-al-quran-dan-kebebasan-beragama
  • ^jadiberita.com/77023/kisah-founding-father-dapat-ilham-alquran-bentuk-amerika-serikat.html
  • ^id.m.wikipedia.org/wiki/Deklarasi_Kemerdekaan_Amerika_Serikat
Iklan

One response »

  1. Kristen berkata:

    I’ve been browsing online more than three hours today, yet I never
    found any interesting article like yours. It’s pretty worth enough for me.

    In my opinion, if all website owners and bloggers made
    good content as you did, the internet will be a lot more useful than ever before.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s