Screenshot_2016-06-12-23-23-35_1

Mengenang Pertarungan Muhammad Ali di Jakarta

  • Ali pertama kali menginjakkan kaki di bumi Indonesia pada tahun 1973. Pada 20 Oktober1973, Ali ‘menyiksa’ lawannya, Rudie Lubbers, selama 12 ronde dalam pertandingan kelas berat tanpa gelar di Istora Senayan, Jakarta. Oleh publik dan pers Indonesia, pertandingan Ali vs Lubbers disebutkan sebagai pertandingan eksibisi, namun nyatanya ini adalah pertandingan resmi, walau tidak memperebutkan gelar.
  • Kesan pertama berkunjung ke negara ini pada tahun 1973 adalah “Sebuah negara yang unik, di mana penduduknya sangat bersahabat, dan selalu tersenyum kepada siapapun.”
  • Setelah beberapa kali kunjungan ke negara ini, Ali yang sudah pensiun dari dunia tinju terakhir menginjakkan kaki di bumi Indonesia pada 23 Oktober 1996, dan sempat bertemu pejabat tinggi negeri ini.

Screenshot_2016-06-06-17-24-28_1

Kedatangan Muhammad Ali membuat Jakarta sempat menjadi magnet pencinta tinju di seluruh dunia. Kala itu, Ali harus melakoni pertarungan melawan petinju kelas berat asal Belanda, Rudi Lubbers di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 20 Oktober 1973.

Pertarungan itu menjadi salah satu yang paling dikenang oleh masyarakat Indonesia. Awalnya, duel Ali kontra Lubbers akan digelar di Surabaya, Jawa Timur, tapi kemudian dialihkan ke Jakarta dengan sejumlah alasan.

Ali yang seorang muslim tentu menjadi idola sekaligus pahlawan bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas juga muslim. Sementara Lubbers seolah representasi Belanda sebagai penjajah Indonesia yang mesti ditaklukkan.

“Lubbers jelas menjadi representasi kolonialisme Belanda, dan orang-orang Indonesia bersemangat melihat kemenangan politik mereka terulang di atas ring,” tulis Julio Rodriguez, “Documenting Myth” dalam Sports Matters: Race, Recreation, and Culture suntingan John Bloom dan Michael Nevin Villard.

Sebelum pertarungan, seperti biasa Ali melontarkan sesumbarnya akan menganvaskan Lubbers pada ronde kelima. Duel melawan Lubbers ini juga sebagai pemanasan sebelum Ali kembali meladeni pertarungan dengan rival abadinya, Joe Frazier.

Ali sebelumnya kalah dari Frazier pada 8 Maret 1971 di New York, Amerika Serikat, sekaligus kehilangan sabuk juara dunia kelas berat. Pertarungan lawan Lubbers di Jakarta menjadi salah satu persiapan petinju yang menjuluki dirinya The Greatest ini untuk balas dendam kepada Frazier.

Akhirnya Ali mampu mengalahkan Lubbers, unggul angka tapi tidak di ronde kelima seperti sesumbarnya. Lubbers bertahan selama 12 belas ronde.

“Salah satu hal yang paling diingat dari pertandingan ini adalah kapasitas Ali yang mampu menarik perhatian khalayak internasional. Ada 35.000 orang Indonesia datang untuk menonton. Ditambah pameran tentang Ali yang ikut menarik 45.000 orang untuk datang melihat-lihat,” tulis David West dalam The Mammoth Book of Muhammad Ali.

Ali sepertinya juga tidak pernah melupakan kemenangannya di Jakarta kala itu. Buktinya, setelah gantung sarung tinju, Ali beberapa kali menyambangi Indonesia untuk menyapa penggemarnya.

Bodyguard Muhammad Ali

Dalam sebuah wawancara, Ali yang merupakan petinju justru ditanya siapa pengawalnya.

Ali langsung menjawabnya sedikit bercanda dengan langsung pura-pura menghitung. Tak lama kemudian dia menjawabnya, namun cukup mengejutkan “Tidak ada,” katanya.

“Tapi saya punya satu pengawal. Dia tidak punya mata, tapi Maha Melihat. Dia tidak punya telinga, tapi Maha Mendengar. Dia Maha Mengingat dengan bantuan pikiran dan memori. Ketika Dia ingin ciptakan sesuatu, Dia tinggal tunjuk perintah agar terjadi dan nyata,” tambah Ali sambil menatap wajah pewawancaranya dengan serius.

“Itu bukan bentuk perkataan seperti kami mengatakannya dan didengar dengan kuping. Dia Maha Mengetahui segala rahasia. Siapa dia? Dia adalah Tuhan Allah. Diabodyguard saya. Dia pengawal anda juga. Dia adalah Maha. Yang Paling Bijaksana,” tutup Ali.

Berikut videonya:

Tolak Walk Of Fame: Saya Tak Mau Nama Nabi Diinjak-injak Orang

MUHAMMAD ALI, petinju legendaris yang baru tutup usia pernah menolak namanya ditulis di Walk of Fame di Hollywood Boulevard. Ini karena Walk of Fame, seperti namanya, merupakan pengabadian nama seseorang di jalanan Hollywood. 

“Saya Tak Mau Nama Nabi Diinjak-injak Orang”

Ali memaparkan bahwa alasan utama ia menolak Walk of Fame di lantai karena ada nama Muhammad. “Saya meminta nama Nabi Muhammad (SAW) dihormati, dan tidak mungkin saya mengizinkan orang-orang untuk menginjak-injak namanya,” kata Ali.

Screenshot_2016-06-06-11-05-22_1

Penganugerahan itu sendiri diberikan pada Ali pada tahun 2002. Akhirnya sebagai bentuk penghormatan Hollywood kepada Ali, Walk of Fame untuknya diletakkan di dinding, bukan di lantai.

The Hollywood Walk of Fame adalah sebuah trotoar sepanjang 15 blok Hollywood Boulevard dan 3 blok Vine Street di Hollywood, Los Angeles, California, Amerika Serikat.

Monumen ini yang menampilkan lebih dari 2.400 keramik teras bergambar bintang dan bertuliskan nama artis sebagai bentuk penghargaan dari pihak Hollywood terhadap sumbangsih mereka bagi industri hiburan. Artis pertama yang masuk ke jajaran ini adalah Joanne Woodward pada 9 Februari 1960.

Ali meninggal dunia pada Jumat (3/6/2016) di rumah sakit Arizona, AS, dalam usia 74 tahun akibat komplikasi Parkinson. 

Gaya Masuk Arena Tinju Paling Dikenang dari Muhammad Ali

Screenshot_2016-06-06-17-11-20_1

Selain kegigihan dan teknik tinjunya, Ali juga dikenal dari gayanya. Seragamnya yang paling dikenal adalah jubah putih yang dipakainya sebelum memasuki area pertandingan.

Screenshot_2016-06-06-17-10-51_1

Jubah itu sederhana dan klasik. Terbuat dari bahan satin berwarna putih dengan dekorasi hitam di sisi samping. Jubah keluaran Everlast itu pun membuat penampilan Ali makin gagah.

Gaya jubah kebesaran petinju Muhammad Ali. Sumber: Complex.com

Gaya jubah kebesaran petinju Muhammad Ali. Sumber: Complex.com

Saat latihan, Muhammad Ali juga cukup sering memakai kimono berbahan handuk berwarna putih. Kimono itu bertuliskan namanya di bagian punggung.

Gaya petinju Muhammad Ali di dalam ring. Sumber: Complex.com

Gaya petinju Muhammad Ali di dalam ring. Sumber: Complex.com

Pria kelahiran Kentucky, Amerika Serikat, 17 Januari 1942 itu terlihat tidak pernah kehilangan gayanya. Saat bertanding pun, pria yang tiga kali menjadi Juara Dunia Tinju Kelas Berat itu terlihat gagah meskipun hanya dengan celana sederhana. Mungkin kemampuannya lah yang membuat ia terlihat istimewa.

Tolak Wajib Militer

Selain dikenal karena ketangguhan merobohkan lawan di atas ring, mendiang Muhammad Ali juga merupakan sosok yang kontroversial. Dia sempat dijebloskan ke penjara saat masih menyandang titel juara dunia kelas berat.

Alasan Ali harus masuk bui adalah penolakan terhadap wajib militer. Dia enggan ikut berperang ke Vietnam pada 1966.

Kala itu Ali sudah memeluk Islam. Dia menganggap peperangan bertentangan dengan ajaran agama serta kitab suci Aquran yang diyakininya.

“Perang bertentangan dengan Quran. Saya tidak mencoba lari dari wajib militer. Seharusnya kita tidak berperang kecuali atas perintah Allah atau Nabi,” kata Ali kala itu.

“Saya juga tidak pernah memiliki masalah dengan Vietcong. Mereka tidak pernah menyebut saya Nigger,” lanjutnya.

Muhammad Ali terang-terangan menentang perang Vietnam dan menolak mendaftar wajib militer. Inilah alasan mengapa Ali menolak ikut wajib militer.

Pada 1962, Ali memang sempat mendaftar ikut wajib militer. Kala itu usianya masih 18 tahun. Tapi pria yang terlahir dengan nama Cassius Clay itu dinyatakan tidak lolos seleksi karena IQ yang rendah.

Pada awal 1966, pemerintah Amerika Serikat menurunkan standar kelulusan dan Ali kembali dipanggil untuk mengikuti program. Meski sudah menyatakan menolak, dia tetap hadir dalam upacara militer di Houston pada 28 April 1967. Hanya saja, ketika dipanggil untuk maju ke depan, Ali menolak dan tetap duduk di kursinya.

Atas penolakan tersebut Ali dituntut hukuman penjara lima tahun dan dikenakan denda US$10.00. Tidak cukup sampai di situ, gelar juaranya dicabut serta diskors tidak boleh naik ring selama tiga tahun.

Namun, Mahkamah Agung membatalkan semua dakwaan dan Ali memuji Tuhan saat mendengar kabar itu. pada 28 Juni 1971, tuduhan terhadap Ali dicabut oleh Mahkamah Agung.

“Saya sudah merayakannya. Saya berdoa kepada Allah.” – Ali, 28 Juni 1971.

“Mereka melakukan apa yang menurut mereka benar dan saya melakukan apa yang menurut saya benar.”

Dia dinyatakan bebas dan bisa kembali naik ring.

Pernyataan-Pernyataan Muhammad Ali

Sepanjang hidupnya, Muhammad Ali tak hanya dikenal tangkas di dalam ring tinju, tetapi juga tangkas memainkan kata.

Inilah beberapa kutipan pernyataan terkenal dari sang legenda tinju yang baru saja meninggal dunia itu.

  • Pernyataan Tentang tinju

“Melayang seperti kupu-kupu, menyengat seperti lebah,” – Ali, sebelum pertarungan melawan Sonny Liston (1964).

“Saya raja dunia! Saya tampan! Saya kejam! Saya mengguncang dunia! Saya mengguncang dunia! Saya mengguncang dunia!” – Ali setelah mengalahkan Sonny Liston.

“Saya telah bergulat melawan buaya. Saya berkelahi melawan ikan paus. Saya mengikat petir dan memenjarakan kilat. Kalian tahu saya kejam. Pekan lalu, saya membunuh karang, melukai batu, ‘merumahsakitkan’ batu bata. Saya sungguh kejam,” – setelah mengalahkan George Foreman, dalam pertarungan bertajuk “Rumble in the Jungle” 1974.

“Yang bisa saya lakukan hanyalah bertarung untuk kebenaran dan keadilan. Saya tak bisa menyelamatkan siapa pun. Dia tokoh fiksi dan saya adalah karakter nyata,” – Ali saat mengumumkan komik Ali vs Batman.

  • Pernyataan tentang perang

“Mengapa mereka meminta saya mengenakan seragam dan pergi puluhan ribu mil dari rumah dan menjatuhkan bom serta peluru kepada orang-orang Vietnam berkulit coklat, sementara mereka yang disebut Negro di Louisville diperlakukan bak anjing dan diabaikan hak-hak asasi terdasarnya?” – Ali, 17 Februari 1966.

  • Pernyataan Tentang kesuksesan

“Apa yang saya derita secara fisik sepadan dengan yang saya capai dalam kehidupan. Seorang pria yang tak cukup berani untuk mengambil risiko tak akan mencapai apa pun dalam hidupnya.” – Ali dalam konferensi pers 28 Oktober 1984.

“Sangat sulit menjadi rendah hati jika Anda sehebat saya,” – Ali.

“Hey Floyd, saya sudah melihatmu! Satu hari kelak saya akan menghajarmu! Jangan lupa, saya yang terhebat!” -Ali kepada juara dunia kelas berat Floyd Patterson di Olimpiade 1960.

  • Pernyataan Terkait Rasis dan Islam

Muhammad Ali merupakan sosok mualaf yang sangat vokal dan dia menjadi juru bicara tak resmi bagi jutaan orang kulit hitam dan orang tertindas di seluruh dunia.

“Orang mengatakan, saya berbicara lamban sekarang. Itu tak mengejutkan. Saya menghitung telah melepaskan 29.000 pukulan. Namun, saya menghasilkan 57 juta dollar AS dan menabung separuhnya. Jadi, saya rela menerima beberapa pukulan keras. Anda tahu berapa banyak orang kulit hitam tewas tiap tahun akibat senjata api atau senjata tajam tanpa uang sepeser pun? Saya mungkin bicara lamban, tetapi pikiran saya tidak.” – Ali, 20 Januari 1984.

“Mengapa semua malaikat (berkulit) putih? Mengapa tak ada malaikat (berkulit) hitam?” Ali, di sebuah gereja pada 1983.

Sejak serangan Paris, Muhammad Ali juga berbicara lantang menentang dikaitkannya Islam dengan aksi-aksi brutal ISIS.

“Saya seorang Muslim dan tak ada yang Islami dalam hal membunuh orang di Paris, San Bernardino, atau tempat lain di dunia. Muslim sejati memahami bahwa kekerasan yang dilakukan mereka yang menyebut diri jihadis Islam sangat bertentangan dengan agama kami.” – Ali 2015.

Membuat Islam Lebih Diterima di Amerika

Screenshot_2016-06-12-23-27-05_1

Jenazah legenda tinju dunia, Muhammad Ali, dimakamkan hari Kamis waktu Amerika Serikat (AS) atau hari ini (10/6/2016) WIB di Freedom Hall. Orang-orang AS menjuluki Ali sebagai pahlawan Muslim karena dia telah membuat Islam lebih diterima di AS.

Prosesi pemakaman Ali dilangsungkan secara Islam menggunakan bahasa Arab. Selain tenar di dunia tinju, Ali dikenal sebagai aktivis kemanusiaan. Ali meninggal dunia di rumah sakit Arizona di usia 74 tahun Jumat pekan lalu.

”Sesuatu yang solid, sesuatu yang besar, indah dan meneguhkan hidup telah meninggalkan dunia ini,” kata Sherman Jackson, seorang sarjana Muslim di University of Southern California, seperti dikutip Reuters.

Menurut Jackson, Ali dipaksa menyerah ketika dia berada di puncak karirnya sebagai petinju dunia karena menolak meyalani militer AS selama Perang Vietnam. Menolak perang menjadi sikap Ali yang kemudian mendedikasikan diri sebagai aktivis kemanusiaan.

Selain anti-perang, Jackson memuji Ali karena memperjuangkan warga kulit hitam AS setelah gerakan hak-hak sipil tahun 1960-an.

Reuters yang mengutip orang-orang yang menghadiri pemakaman Ali menyebut sosok Ali layak menjadi pahlawan Muslim AS karena membuat Islam lebih dapat diterima di negeri Paman Sam.

Ali berbaring di peti mati yang ditutupi dengan kain warna hitam dan emas.

Presiden AS, Barack Obama, yang sebelumnya sudah mengkonfirmasi tidak bisa menghadiri prosesi pemakaman Ali mem-posting salinan buku yang berisi kekagumannya pada sosok Muhammad Ali.

“GOAT: A Tribute to Muhammad Ali,” judul buku yang dipamerkan Obama. Presiden AS ini juga memamerkan sepasang sarung tinju yang ditandatangani Ali.

”Ini sangat langka di mana sosok yang menangkap imajinasi dari seluruh dunia,” kata Obama. “Dia adalah salah satu dari sosok dan dalam buku saya dia akan selalu menjadi yang terbesar.”

Tokoh-tokoh dunia, termasuk mantan Presiden AS Bill Clinton, Presiden Turki Tayyip Erdogan dan komedian Billy Crystal sebelumnya dijadwalkan menghadiri acara penghormatan terakhir untuk Muhammad Ali.

Kilas Balik Muhammad Ali

  • 17 Januari 1942: Lahir dengan nama Cassius Marcellus Clay GEPEN-K BANE, Jr. dari ayah Cassius Marcellus Clay, Sr., seorang pelukis billboard (papan iklan) dan rambu lalu lintas dan ibu Odessa Grady Clay, seorang pencuci pakaian.
  • Pada usia 12 tahun, Clay, jr. melapor kepada polisi bernama Joe Martin, bahwa sepeda BMX barunya dicuri orang. Joe Martin, yang juga seorang pelatih tinju di Louisville, mengajari Clay kecil cara bertinju agar dapat menghajar si pencuri sepeda. Clay kecil sangat antusias berlatih tinju di bawah bimbingan Martin.
  • 1960: Meraih medali emas kelas berat ringan Olimpiade 1960 di Roma, Italia.
  • 29 Oktober 1960: Debut pertama di ring profesional. Menang angka 6 ronde atasTunney Hunsaker.
  • 25 Februari 1964: Merebut gelar juara dunia kelas berat dengan menang TKO ronde 7 dari 15 ronde yang direncanakan atasSonny Liston di Florida, Amerika Serikat. Liston mengalami cedera pada leher yang membuatnya mengundurkan diri dari pertandingan.
  • Segera setelah menang atas Liston, Clay memproklamirkan agama dan nama barunya, Muhammad Ali, serta masuknya dia dalam kelompook Nation of Islam yang kontroversial. (Pada buku biografi Ali yang diluncurkan pada tahun 2004, Ali mengaku sudah tidak bergabung dengan NOI, tapi bergabung dengan jamaah Islam Sunni pada tahun 1975.
  • 25 Mei 1965: tanding ulang antara Ali melawan Liston yang penuh kontroversi. Pukulan Ali yang begitu cepat menimbulkan spekulasi di kalangan tinju yang menyebut pukulan Ali sebagai ‘phantom punch’. Pukulan itu begitu cepat, sehingga tidak tampak mengenai Liston yang roboh. Banyak isu yang berkembang, termasuk suap dan ancaman orang-orang NOI terhadap Liston dan keluarganya, tapi Liston membantah semua itu dengan menyatakan pukulan Ali menghantamnya dengan keras.
  • 1967 – 1970 Ali diskors oleh Komisi Tinju karena menolak program wajib militerpemerintah Amerika Serikat dalam perang Vietnam. Ungkapannya yang terkenal dalam menolak wamil ini, “Saya tidak ada masalah dengan orang-orang Vietcong, dan tidak ada satupun orang Vietcong yang memanggilku dengan sebutan Nigger!”
  • 8 Maret 1971, Ali kalah angka dari Joe Frazier di New York, dan harus menyerahkan gelarnya.
  • 30 Oktober 1974: Rumble in the Jungle. Ali merebut kembali gelar juara kelas berat WBCdan WBA setelah menumbangkan George Foreman di Kinsasha, Zaire pada ronde ke 8.
  • 1 Oktober 1975: Thrilla in Manila. PresidenFerdinand Marcos memboyong pertandingan Ali vs Fraizer III ke kota Manila, Filipina. Ali menang TKO ronde 14 dalam pertandingan yang sangat seru dan menegangkan, bahkan disebut sebagai salah satu “pertandingan tinju terbaik abad ini”. Frazier yang kelelahan akhirnya menyerah dan tidak mau melanjutkan pertandingan pada istirahat menjelang ronde ke-15. Setelah itu, saat akan wawancara dengan televisi, Ali terjatuh karena kehabisan tenaga; setelah istirahat beberapa menit, wawancara bisa dilakukan, tapi Ali harus duduk di bangku karena sudah kehabisan tenaga.
  • 15 September 1978: Ali mengalahkan Leon Spinks dengan angka 15 ronde di New Orleans. Ali mengukuhkan diri sebagai petinju pertama yang merebut gelar juara kelas berat sebanyak 3 kali.
  • 6 September 1979: Ali menyatakan mengundurkan diri dari tinju, dan gelar dinyatakan kosong.
  • 2 Oktober 1980: Ali kembali ke ring tinju, melawan bekas kawan latih tandingnya, Larry Holmes, yang telah menjadi juara dunia kelas berat dalam pertandingan yang diberi judul “The Last Hurrah”. Dalam pertandingan yang berat sebelah, Ali tidak mampu berkutik, sedang Holmes tampak tidak tega ‘menghabisi’ Ali yang tak berdaya. Ali menyerah dan mengundurkan diri pada ronde 11, Holmes dinyatakan menang TKO.
  • Disebutkan, dalam laporan medis yang dilakukan di Mayo Clinic, Ali dinyatakan menderita gejala sindrom Parkinson seperti tangan yang gemetar, bicara yang mulai lamban, serta ada indikasi bahwa ada kerusakan pada selaput (membran) di otak Ali. Namun Don King merahasiakan hasil medis ini, dan pertandingan Ali vs Holmes tetap berlangsung.
  • Sebelum pertandingan melawan Larry Holmes ini, Dr. Ferdie Pacheco, dokter pribadi yang telah mendampingi Ali selama puluhan tahun, dengan terpaksa mengundurkan diri karena Ali tidak mau mendengarkan nasehatnya untuk menolak pertandingan melawan Holmes, dan lebih memilih bertanding melawan Holmes. Dalam salah satu buku biografi Ali, Pacheco mengemukakan bahwa selama latihan Ali sempat kencing darah akibat kerusakan ginjal terkena pukulan, dia juga mengemukakan bahwa Ali sudah memiliki gejala sindrom Parkinson sejak sebelum pertandingan ini.
  • Setelah pertandingan tersebut, dilakukan cek medis ulang, dan hasilnya menguatkan hasil sebelumnya.
  • 11 Desember 1981, sekali lagi Ali yang sudah uzur, mencoba kembali ke dunia tinju melawan Trevor Berbick di Bahama dalam pertandingan yang diberi tajuk “Drama in Bahama”. Dalam kondisi renta, Ali mampu tampil lebih bagus daripada saat melawan Holmes, walaupun akhirnya kalah angka 10 ronde. Setelah pertandingan ini, Ali benar-benar pensiun dari dunia tinju.
Catatan tinju
Total perkelahian 61
Menang 56
Menang oleh KO 37
Kalah 5
Imbang 0
Tanpa kontes 0

Keluarga Muhammad Ali

  • Istri pertama: Sonji Roi (menikah tanggal 14 Agustus 1964, namun cerai pada 10 januari 1966 karena Ali menganggap Roi tidak berpakaian Islami).
  • Istri kedua: Belinda Boyd (menjadi Khalilah Ali setelah menikah), menikah pada 17 August 1967. Mereka memiliki 3 anak, Jamilah dan Rasheda (putri kembar) dan Muhammad Ali, Jr. Ali dan Belinda akhirnya bercerai. Dalam film dokumenter Ali (“When We Were Kings”) ditunjukkan Belinda ‘melabrak’ Ali di arena, menjelang pertandingan Ali vs Foreman di Zaire, 1975. Pada tahun 1977, Ali dan Belinda resmi bercerai.
  • Pada tahun 1977 pula, Ali menikah denganVeronica Porche Anderson (lebih dikenal sebagai Veronica Ali), dan memiliki dua putri Hanna dan Laila Ali. Laila Ali sendiri kelak memutuskan jadi petinju wanita, dan kelak menjadi juara dunia tinju wanita. Ali dan Veronica tetap menjadi pasutri sampai sekarang.

Perjalanan Muhammad Ali Hingga Menemukan Cahaya Islam

Dikutip dari liputan panjang majalah Tempo edisi 1 Agustus 1992:

06-15-09.17.01

“Ibuku seorang Baptis, dan ketika saya besar, ia mengajari segala yang ia ketahui tentang Tuhan. Setiap Minggu, ia mendandani saya, dan membawa saya dan abang saya ke gereja. Ia mengajari kami hal-hal yang dianggapnya benar. Ia mengajari kami supaya mencintai sesama dan memperlakukan siapa pun dengan baik. Ia mengajari kami bahwa berprasangka dan membenci itu salah. Ketika saya beralih agama, Tuhan ibuku tetap Tuhan saya hanya menyebutnya dengan nama yang lain. Dan pandangan tentang ibu saya tetap seperti yang saya katakan jauh sebelumnya. Dia baik, gemuk, perempuan menawan yang suka memasak, makan, menjahit, dan senang berada bersama keluarga. Ia tidak minum, merokok, dan mencampuri urusan orang, atau menggangu siapa pun. Tak seorang pun lebih baik kepadaku sepanjang hidupku, kecuali dia.”

Sejak awal kariernya, Cassius Clay, yang kemudian mengubah namanya menjadi Muhammad Ali itu, dianggap oleh banyak orang sebagai “pemuda kulit berwarna yang baik”. Dan bila kemudian ia dikenal sebagai si “mulut besar”, Clay mempunyai alasannya sendiri. “Di mana saya akan berada minggu depan,” katanya suatu ketika pada wartawan, “jika saya tidak tahu bagaimana caranya berteriak dan membuat publik menaruh perhatian pada saya? Saya mungkin masih miskin, dan terpuruk di rumah, mengelap jendela atau tangga berjalan dan sebentar-sebentar berkata, yes suh, no suh — yes sir, no sir. Tapi kini saya menjadi salah satu atlet dengan bayaran tertinggi di dunia. Pikirkan itu. Pemuda kulit berwarna dari Selatan menghasilkan satu juta dolar.”

Cassius Clay adalah seorang kulit berwarna yang membuat kulit putih Amerika merasa nyaman. Sindikat yang mendukung petinju ini semua kulit putih. Kemudian, untuk pertama kalinya, di markas Clay seorang kulit hitam “jenis lain” muncul ke permukaan. Tanda-tanda munculnya “persoalan” pertama kali terjadi pada September 1963. Yaitu ketika harian Philadelphiamelaporkan bahwa Clay menghadiri rapat akbar yang diselenggarakan oleh Black Muslims di Philadelphia: “Clay tampak di tengah kerumunan sekitar lima ribu orang yang tengah mendengarkan Elijah Muhammad, pemimpin Nation of Islam, yang selama tiga jam memaki-maki ras putih dan memopulerkan pemimpin-pemimpin Negro. Clay, yang datang ke situ dari Louisville, Kentucky, ada di antara mereka yang mendukung Elijah Muhammad sebagai pemimpin muslim kulit hitam di negeri itu dan di seluruh dunia yang berniat membentuk barisan tangguh untuk menentang kulit putih. Meskipun Clay waktu itu mengaku bukan seorang muslim, ia mengatakan Muhammad seorang yang hebat.”

Laporan Philadelphia meluas tanpa begitu menarik perhatian. Ketika itu Clay belum menandatangani kontrak untuk bertarung dengan Sonny Liston, dan Nation of Islam, nama asli Black Muslims, masih belum terkenal. Kemudian, pada 21 Januari 1964, Clay meninggalkan kamp latihan dan pergi dari Pantai Miami ke New York. Waktu itulah kontrak merebut kejuaraan ditandatangani.

Pertarungan sudah dekat, dan Clay kini bukan sekadar menghadiri rapat-rapat kelompok muslim itu, tapi juga berpidato. Malcolm X mendampinginya. Sampai-sampai surat kabar New York Herald Tribune menulis: “Petinju muda urakan yang merayakan ulang tahun ke-22-nya pekan lalu barangkali bukan pembawa kartu anggota masyarakat muslim. Namun, tak disangsikan, ia bersimpati pada tujuan masyarakat muslim, dan dengan kehadirannya di pertemuan itu ia memberikan gengsi pada kelompok itu. Dialah kulit hitam yang terkenal secara nasional pertama yang mengambil bagian aktif dalam gerakan Islam. Namun, ia belum mengumumkan secara resmi dukungannya pada kelompok Islam. Ia mungkin tidak akan membicarakan topik itu secara terbuka. Ia berbicara tentang pukulan-pukulannya, kecepatannya, penampilannya yang baik, tapi ia bungkam tentang gerakan itu.”

Cerita itu menghangat. Dua pekan kemudian, berkala Louisville Courier-Journal melansir wawancara dengan Clay tentang kunjungannya ke New York. “Tentu saja saya bicara dengan kelompok Islam,” katanya mengaku. “Dan saya akan kembali lagi. Saya menyukai orang-orang Islam. Saya tidak akan mati-matian memaksa diri saya masuk dalam suatu kelompok bila mereka tidak menghendaki saya. Saya menyukai hidup saya. Integrasi itu salah. Masyarakat kulit putih tidak menginginkan persatuan. Saya tidak percaya hal itu bisa dipaksakan, demikian juga orang-orang Islam. Jadi, apa yang salah dengan kelompok Islam?”

Pada tanggal 7 Februari 1964, 18 hari sebelum pertarungannya dengan sang juara kelas berat Sonny Liston, artikel di Miami Herald mengutip ucapan ayah Clay, Cassius Clay Sr.: “Anak saya bergabung dengan Black Muslims.”

Dan inilah pengakuan Muhammad Ali sendiri:“Saya mendengar perihal tentang Elijah Muhammad pertama kali di Turnamen Golden Gloves di Chicago (1959). Kemudian, sebelum saya berangkat ke Olimpiade, saya melihat koran yang diterbitkan oleh Nation of Islam, Muhammad Speaks. Saya tidak begitu memperhatikannya, meskipun banyak hal mampir di benak saya.

Ketika saya dewasa, pemuda kulit hitam bernama Emmett Till dibunuh di Mississippi karena menyuiti seorang wanita kulit putih. Emmet seumur dengan saya. Mereka menangkap para pembunuhnya, tapi tidak diapa-apakan. Kejadian seperti ini berulang terus. Dan dalam hidupku, ada tempat-tempat di mana saya tidak bisa masuk, tempat-tempat di mana saya tidak bisa makan. Saya memenangi medali untuk Amerika Serikat di olimpiade, dan ketika saya pulang ke Louisville, toh saya tetap diperlakukan sebagai Negro. Sejumlah restoran tak mau melayani saya. Beberapa orang tetap memanggil saya boy.

Kemudian di Miami (pada tahun 1961), ketika saya latihan, saya bertemu dengan pengikut Elijah Muhammad bernama Kapten Sam. Ia mengundang saya ke pertemuan, dan setelah itu hidup saya berubah. Selama tiga tahun, sampai saya bertarung melawan Sonny Liston, saya sering menyelinap ke pertemuan Nation of Islam lewat pintu belakang. Saya tak mau orang tahu bahwa saya di sana. Saya takut bila mereka tahu. Bisa-bisa saya tak diizinkan bertarung untuk merebut gelar juara. Belakangan saya belajar berani berdiri di atas keyakinan saya sendiri.

Waktu itu keyakinan saya telah berubah. Saya tidak percaya pada Tuan Yakub dan pesawat ruang angkasa lagi. Nurani dan jiwa tidak berwarna. Saya tahu itu juga. Elijah Muhammad orang baik, meskipun ia bukan utusan Tuhan, kami anggap ia seorang utusan. Jika kamu lihat persoalan kelompok kami saat itu, kebanyakan dari kami tidak punya rasa percaya diri. Kami tidak punya bank dan toko. Kami tidak punya apa-apa meski telah tinggal di Amerika ratusan tahun. Elijah mencoba mengangkat kami dari got.

Ia mengajari orang berpakaian yang pantas, hingga tidak kelihatan seperti pelacur atau germo. Ia mengajari cara makan yang baik, dan bagaimana menjauhi alkohol dan obat bius. Saya rasa ia salah ketika bicara tentang iblis putih, tapi sebagian yang dilakukannya membuat kami merasa nyaman sebagai kulit hitam. Jadi, saya tak menyesali yang saya yakini sekarang ini. Saya lebih bijaksana kini, tapi juga banyak orang lain.”

Selama tahun 1961, Kapten Sam Saxon menjadi pemain tetap di tempat latihan Fifth Street. Ia tampak mendampingi Clay dalam perjalanan ke luar kota. Kemudian, awal tahun 1962, Jeremiah Shabazz menyediakan koki muslim untuk memastikan bahwa makanan si petinju sesuai dengan aturan makan Nation of Islam. Di penghujung tahun itu, tanpa diketahui oleh pers, untuk pertama kalinya Clay pergi dari Miami ke Detroit untuk mendengarkan pidato Elijah Muhammad dalam sebuah pertemuan massa. Perjalanan itu bertambah penting karena di Detroit Clay bertemu dengan Malcolm X.

Sebelum 25 Februari 1964, tampaknya hampir segala yang dilakukan Cassius Clay sesuai dengan konteks membangun nilai-nilai kulit putih. Ia bukan kulit putih, tapi ia “yang terbaik setelah itu”. Tinggi, ganteng, jenaka, menarik: seorang pemuda baik-baik yang punya ambisi kuat dalam hidupnya untuk menjadi orang kaya dan juara tinju kelas berat dunia. Beberapa orang menduga jika Clay melihat wajahnya sendiri di kaca ia akan bergumam “I’m so pretty,” seperti syair permulaan sebuah lagu yang temanya adalah “hitam itu indah”. Memang, pada awal Maret 1963, majalah Ebony menyatakan bahwa “Cassius Marcellus Clay adalah sebuah ledakan kebanggaan rasial. Dia adalah kebanggaan itu sendiri yang tak pernah mengenakan topeng kulit yang diputihkan dan rambut palsu. Kebanggaan yang hangus oleh kenangan berjuta anak-anak berwarna.”

Namun, Ebony adalah majalah orang kulit hitam dengan pembaca terbatas, dan pendapatnya segera tenggelam dari cakrawala Amerika. Bagi orang Amerika kulit putih, Clay bagaikan mainan yang agaknya bisa diapkir segera setelah nilai hiburannya memudar. Tapi kemudian persoalan mulai menjadi rumit. Suatu pagi, setelah kemenangannya melawan Sonny Liston, juara baru itu muncul di konperensi pers di pantai Miami.

Ya, ia gembira menjadi juara kelas berat. Tapi tidak, ia tidak terkejut muncul sebagai pemenang. Ia mencundangi Liston semata karena ia petinju yang lebih baik. Untuk pertama kali dalam sejarahnya sebagai petinju, suaranya melunak. “Saya akan berterus terang,” katanya pada pendengarnya. “Yang harus saya lakukan adalah menjadi seorang lelaki baik yang bersih.” Kemudian muncul pertanyaan ini: “Apakah Anda pemegang kartu anggota Black Muslims?”

“Pemegang kartu? Apa maksudnya?” sahut Clay. “Saya percaya pada Allah dan perdamaian. Saya tidak mencoba melangkah masuk ke rumah tetangga yang kulit putih. Saya tidak ingin kawin dengan wanita kulit putih. Saya dibaptis ketika berumur 12 tahun, tapi saya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Saya bukan Kristen lagi. Saya tahu ke mana tujuan saya, dan saya tahu kebenaran, dan saya tidak harus menjadi seperti yang kalian inginkan. Saya bebas melakukan yang saya kehendaki.”

Pernyataan tegas itu sempat membuat orang bungkam. Tapi tampaknya pernyataan itu masih meragukan bagi sementara orang. Maka, pagi berikutnya, di pertemuan pers kedua, Clay berpidato, berusaha menghilangkan keraguan itu: “Sebutan Black Muslims itu datang dari pers. Itu bukan nama yang sah. Nama yang betul adalah Islam. Islam artinya damai. Islam adalah agama, dan 750 juta orang pemeluknya di seluruh dunia. Saya adalah salah satu di antara mereka. Saya bukan seorang Kristen. Saya tidak bisa menjadi Kristen, jika melihat semua orang kulit berwarna yang berjuang untuk menggalang persatuan akhirnya hancur lebur.

Mereka dilempari batu dan digigiti anjing. Gereja mereka diledakkan, dan pelakunya tidak pernah ditemukan. Saya ditelepon setiap hari. Mereka menginginkan saya memberi isyarat. Mereka menginginkan saya masuk ke garis depan. Mereka mengatakan supaya saya mengawini perempuan kulit putih untuk menggalang persaudaraan. Saya tak mau dihancurkan. Saya tak mau hanyut dalam selokan kotor.

Saya hanya ingin bahagia menurut cara saya sendiri. Orang mencap kami sebagai kelompok yang dibenci. Mereka mengatakan kami mau mengambil alih negeri. Mereka mengatakan kami komunis. Itu tidak betul. Pengikut-pengikut Allah adalah orang terbaik di dunia. Mereka tidak membawa-bawa pisau. Mereka tidak memikul senjata. Mereka salat lima kali sehari. Wanita-wanitanya berpakaian yang menutup sampai menyapu lantai dan mereka tidak berzinah. Yang mereka inginkan hanya hidup dalam damai.”

Sesuai Tuntunan Islam, Makam Muhammad Ali Hanya Bertuliskan ‘Ali’

Screenshot_2016-06-28-16-08-38_1

TIDAK seperti makam lainnya di kompleks pemakaman Cave Hill, dimana pada umumnya begitu mewah. Berhiaskan batu nisan dengan ornamen-ornamen granit atau patung. Batu nisan pada makam Muhammad Ali hanya akan tertulis ‘Ali’.

Bob Gunnel, juru bicara keluarga Ali, seperti dilansir oleh Northjersey.com, Jumat (10/6/2016), menyebut bahwa makam Ali hanya akan menggunakan batu nisan sederhana. Sesuai dengan tradisi Islam.

“Mendiang Ali memilih sendiri kompleks pemakaman tersebut sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Ia telah merencanakannya semenjak satu dekade terakhir,” jelas Gunnel.

Ali memiliki sebuah dokumen tentang ihwal bagaimana nantinya ia dikebumikan. Dokumen itu dijuluki “The Book,” dan telah direvisi akhir pekan lalu ketika Ali mengalami gangguan pernafasan.

Cave Hill Cemetery merupakan kompleks pemakaman paling tua dan bersejarah di Louisville, Kentucky, AS. Tempat itu dibangun pada awal abad ke-19. Kompleks pemakaman Cave Hill terdaftar sebagai salah satu tempat bersejarah nasional, dengan luas sebesar 120 hektare.

Banyak tokoh-tokoh Amerika terkemuka yang dikebumikan di tempat itu. Salah satunya adalah Kolonel Harland Sanders, pendiri Kentucky Fried Chicken. Makam Sanders ditandai dengan granit memorial, berupa patung replika pengusaha ayam goreng tersebut.

Sementara makam Ali akan jauh lebih tenang, berbeda dengan kehidupan, kepribadian serta kebesarannya. Sebuah penanda sederhana, sesuai dengan tradisi Muslim.

Selamat Jalan Muhammad Ali

Proses Pemakaman Muhammad Ali

Proses Pemakaman Muhammad Ali

 

Referensi

  • ^http://m.liputan6.com/bola/read/2523353/mengenang-pertarungan-muhammad-ali-di-jakarta
  • ^http://m.liputan6.com/lifestyle/read/2523367/gaya-masuk-arena-tinju-paling-dikenang-dari-muhammad-ali
  • ^https://www.islampos.com/ali-280187/
  • ^https://id.m.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Ali
  • ^http://internasional.kompas.com/read/2016/06/07/14161951/inilah.beberapa.pernyataan.muhammad.ali.tentang.tinju.hingga.islam
  • ^http://m.news.viva.co.id/news/read/780860-muhammad-ali-tolak-perang-vietnam-karena-taat-islam
  • ^http://internasional.kompas.com/read/2016/06/07/14161951/inilah.beberapa.pernyataan.muhammad.ali.tentang.tinju.hingga.islam
  • ^http://sports.sindonews.com/read/1115492/50/ini-bukti-muhammad-ali-adalah-sosok-muslim-bertaqwa-1465514967
  • ^https://www.intelijen.co.id/127800-2/
  • ^http://sangpencerah.com/2016/06/perjalanan-muhammad-ali-hingga-menemukan-cahaya-islam.html
  • ^https://www.islampos.com/sesuai-tuntunan-islam-makam-muhammad-ali-hanya-bertuliskan-ali-281561/
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s