Tragedi Legetang, Legenda Kaum Sodom Gomorah di Nusantara

  • Legetang, Legenda Ulang Kaum Sodom Gomorah

(Rekonstruksi Tarian Lengger – ilustrasi)

(Rekonstruksi Tarian Lengger – ilustrasi)

Suatu malam di pendopo desa Legetang, tepatnya 16 April 1955, suara gemuruh gamelan masih bergema di seluruh penjuru desa diiringi dengan tawa riuh penari Lengger nan genit. Bau arak Jawa, dupa, asap rokok, bersatu bersama celotehan para penonton yang mulai mabuk. Satu per satu hanyut dalam suasana nafsu berjamaah. Tak peduli pria dengan wanita, pria dengan pria, anak atau orang tua, semua lebur berbaur dalam keriuhan libido malam itu.

(Rekonstruksi Tarian Lengger – ilustrasi)

(Rekonstruksi Tarian Lengger – ilustrasi)

Bahkan ibu dan anak, atau ayah dan anak sudah tak peduli hanyut menuruti nafsu hewani yang sudah umum dilakukan tiap malam di desa tersebut. Ya, memang hampir tiap malam desa makmur itu menggelar kesenian Lengger dengan penari yang bisa diajak memuaskan birahi. Semakin malam semakin membaur antara suara dengung gong atau lenguhan penari penonton.

Screenshot_2016-06-07-04-13-43_1_1

(Rekonstruksi Tarian Lengger – ilustrasi)

Tanpa disadari di luar pendopo dusun, semakin malam rintik hujan turun semakin lebatnya. Namun hal itu tak dirasakan oleh penikmat hiburan karena telah tenggelam dalam hipnotis lidibo yang melenakan itu. Hujan dianggap hanyalah sebuah hujan sebagaimana hujan biasa di malam-malam sebelumnya. Hampir tengah malam lewat hujan mulai reda. Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Tiba-tiba terdengar suara “BUUUUMMMMM” sedemikian dahsyatnya, seperti suara meteor yang jatuh menghunjam bumi. Gemuruh gamelan dan lenguhan riuh tiba-tiba sirna … sunyi … senyap … hilang tak berbekas … hanya dalam sekejap.

Screenshot_2016-06-07-04-16-55_1

Pagi harinya, 17 April 1955, masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan dentuman amat keras itu menyaksikan bahwa puncak Gunung Pengamun-Amun sudah terbelah. Dan belahannya itu utuh menimbun dukuh Legetang. Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya 351 orang mati. Gegerlah kawasan Dieng dan sekitarnya!

  • Keanehan Gunung Pangamun-Amun

Screenshot_2016-06-07-04-07-50_1

(Peta lokasi tertimbunnya Legetang dan Gunung Pengamun-Amun)

Seandainya gunung Pengamun-Amun sekedar longsor, maka longsoran itu hanya akan menimpa dibawahnya. Karena masih ada sungai dan jurang. Akan tetapi kejadian ini bukan longsornya gunung. Antara dukuh Legetang dan gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih ada. Sebetulnya jarak antara gunung dan desa itu jauh, sehingga sulit diterima akal bahwa tanah longsor itu bisa menimpa desa. Jadi, tanah itu seolah-olah terbang dari gunung, dan menimpa desa.

Salah seorang saksi tragedi Legetang, Suhuri warga Pekasiran RT 03/04 yang kini berusia sangat lanjut mengatakan, musibah terjadi malam hari pukul 23.00 saat musim hujan.

”Saya dan beberapa teman malam itu tidur di masjid. Saya baru dengar kabar gunung Pengamunamun longsor jam tiga pagi,” katanya.

Suhuri mengaku lemas seketika begitu mendengar kabar tersebut, karena kakak kandungnya, Ahmad Ahyar, bersama istri dan 6 anaknya tinggal di dusun Legetang. Namun Suhuri maupun keluarganya dan warga lain tak berani langsung ke dusun yang berjarak sekitar 800 meter dari pusat desa Pekasiran, karena beredar kabar tanah dari lereng gunung Pengamun-amun masih terus bergerak.

(Kondisi Gunung Pangamun-Amun saat ini)

(Kondisi Gunung Pangamun-Amun saat ini)

Lenyapnya desa Legetang dan penghuninya juga menyimpan misteri, karena Suhuri dan beberapa warga Desa Pekasiran lain seusianya yang kini masih hidup mengatakan, antara kaki gunung sampai perbatasan kawasan pemukiman di dusun itu sama sekali tidak tertimbun, padahal jaraknya beberapa ratus meter.

”Longsoran tanah itu seperti terbang dari lereng gunung dan jatuh tepat di pemukiman. Sangat aneh”, kata Suhuri sembari menjelaskan.

Gejala lereng gunung akan longsor sudak diketahui 70 hari sebelum kejadian. Para pencari rumput pakan ternak dan kayu bakar untuk mengasap tembakau atau memasak, melihat ada retakan memanjang dan cukup dalam di tempat itu. Tapi tanda-tanda tadi tak membuat orang waspada, meski sering jadi bahan obrolan di Legetang. Orang baru menghubung-hubungkan soal retakan di gunung itu setelah Legetang kiamat,” katanya.

(Lokasi Tugu Prasasti dari kejauhan)

(Lokasi Tugu Prasasti dari kejauhan)

Waktu itu semua orang tercengang dan suasana mencekam melihat seluruh kawasan dusun Legetang terkubur longsoran tanah. Tak ada sedikit pun bagian rumah yang kelihatan. Tanda-tanda kehidupan penghuninya juga tak ada, kenang Suhuri.

”Alam Legetang sebagian besar cekung. Tanah dari lereng gunung seakan diuruk ke cekungan itu dan meninggi dibanding tanah asli disekitarnya. Banyak warga yang dibiarkan terkubur karena sulit dievakuasi,” ujar Suhuri.

Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang. Siapakah yang mampu mengangkat separo gunung itu?

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang dilangit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al Mulk 67: 16).

Kisah ini serupa sebagaimana kaum Sodom Gomorah yang ditimbun oleh ledakan dahsyat Gunung Pompey dalam sekejap. Bahkan dari sisa-sisa bekas reruntuhan saat ini masih tergambar jelas ketika kaum Sodom Gomorah sedang dalam posisi berzina tiba-tiba tertimbun tanah gunung dan material vulkanik.

(Kondisi rekonstruksi artefak kaum Sodom-Gomorah)

(Kondisi rekonstruksi artefak kaum Sodom-Gomorah)

  • Geografis Legetang

(Gunung Pengamun-Amun saat ini)

(Gunung Pengamun-Amun saat ini)

Indah, berkabut, dan misterius. Begitulah gambaran alam Dieng yang memang penuh keindahan, kabut yang dapat hadir kapan saja, serta misteri-misteri dibalik banyaknya kisah legenda disana. Dukuh Legetang adalah sebuah daerah di lembah pegunungan Dieng, sekitar 2 km ke utara dari kompleks pariwisata Dieng Kabupaten Banjarnegara. Penduduknya adalah petani-petani yang makmur sehingga kaya raya. Berbagai kesuksesan duniawi yang berhubungan dengan pertanian menghiasi dukuh Legetang. Walaupun di daerah lain tidak panen tetapi Legetang mampu panen berlimpah. Kualitas buah/sayur yang dihasilkan juga lebih bagus dari yang lain.

(Suburnya hasil bumi kawasan Dieng)

(Suburnya hasil bumi kawasan Dieng)

Namun barangkali ini merupakan “istidraj” (disesatkan Allah dengan cara diberi rizqi yang banyak dan orang tersebut akhirnya makin tenggelam dalam kesesatan). Masyarakat dukuh Legetang umumnya ahli maksiat dan bukan ahli bersyukur. Perjudian disana merajalela, begitu pula minum-minuman keras (yang sangat cocok untuk daerah dingin). Tiap malam mereka mengadakan pentas Lengger (sebuah kesenian yang dibawakan oleh para penari perempuan, yang sering berujung kepada perzinaan). Anak yang incest dengan ibunya, perilaku homoseks dengan dalih budaya kejawen, serta beragam kemaksiatan lain sudah sedemikian parah di dukuh Legetang.

Bahkan menurut cerita turun temurun, satu-satunya musholla di Legetang saat itu dijadikan tempat memelihara anjing dan area bermain judi. Naudzubillah min dzalik.

(Gunung Pengamun-Amun dan Tugu prasasti Legetang)

(Gunung Pengamun-Amun dan Tugu prasasti Legetang)

Kini diatas bukit bekas dukuh Legetang dibuat tugu peringatan. Tugu beton 10 meter yang sudah lapuk dimakan usia itu masih berdiri tegak di tengah ladang di desa Pekasiran di pegunungan Dieng Kecamatan Batur, Banjarnegara.

06-07-04.38.27

Pencarian terhadap korban kala itu hanya dipusatkan ke titik yang diduga merupakan lokasi rumah bau (kepala dusun) Legetang bernama Rana. Setelah dilakukan penggalian cukup lama oleh warga, tapi tak sedikit para korban dibiarkan terkubur, karena amat sulit dievakuasi. Satu istri Rana lainnya, bernama Kastari, satu-satunya warga Legetang yang selamat, karena ia pergi dari rumah sebelum gunung itu longsor.

  • Legetang Masa Kini

(Menurut penduduk, ini adalah bongkahan puncak Pangamun-Amun yang menimbun dusun Legetang)

(Menurut penduduk, ini adalah bongkahan puncak Pangamun-Amun yang menimbun dusun Legetang)

Kini tanah lokasi bencana itu sedikit demi sedikit digarap warga untuk budidaya tembakau dan sayur. Sekitar 1980, ketika kentang menggusur tanaman tembakau dan jagung di pegunungan Dieng, bekas dusun pun berubah jadi ladang kentang dan kobis, termasuk tanah kuburan umum milik bekas dusun tersebut.

(Area timbunan sudah menjadi persawahan dan kebun penduduk)

(Area timbunan sudah menjadi persawahan dan kebun penduduk)

Kini suasana Dieng dan sekitarnya sangat semarak dengan nuansa religius. Kehadiran potensi wisata disana tidak menyurutkan laju pertumbuhan masjid, pesantren, serta kegiatan-kegiatan keIslaman subur berkembang. Bahkan pengajian menjadi salah 1 program wajib desa/kelurahan, bukan hanya program di mesjid/musholla.

(Semarak masjid dan musholla di kawasan Dieng)

(Semarak masjid dan musholla di kawasan Dieng)

Cukup 1 legenda Legetang ini jadi hikmah buat kita semua. Jangan sampai terulang ada Legetang lain-lainnya.

Akankah kita diam melihat kemaksiatan dan kebejatan para pelaku seks bebas, homoseks, gay, dan lesbian merajalela disekitar kita?

Apakah kita hanya diam menunggu gunung-gunung akan dibalik mengazab menimpa kita dan keluarga kita?

Hanya ada satu jawaban, LAWAN!!

Sumber

  • ^nahimunkar.com/tragedi-legetang-legenda-kaum-sodom-gomorah-nusantara/
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s