Sebelumnya: Waspadai Kebangkitan PKI (bagian 1)


Habib Rizieq Berbicara Tentang Kebangkitan PKI Di Indonesia

Isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang belakangan ini menyeruak dipandang oleh Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq sebagai hal yang dapat diprediksi. Pasalnya, Habib Rizieq menilai amandemen UUD 1945 sejak reformasi 1998 sebagai awal dari terbukanya paham PKI kembali menjamur di Indonesia.

Berdasar informasi yang dihimpun tim Harian Indo, Kamis (12/5/2016), Habib Rizieq juga menyinggung fakta dihapusnya kurikulum tentang PKI dari pelajaran di sekolah ikut memberi ruang bagi PKI untuk menyebarkan pahamnya. Melalui akun Twitter @syihabrizieq, Habib mencoba menguraikan pandangannya.

“Sejak Reformasi 1998, PKI makin meraja-lela : Ini faktanya: a. Sejarah Pengkhianatan PKI 1948 & 1965 dihapus dr Kurikulum Pelajaran,” cuit Habib Rizieq pada Kamis (12/5) pagi.

Selain itu tidak adanya pemutaran film G30S/PKI juga dinilai Habib sebagai fakta kesekian yang membuat generasi muda yang lahir di era 1990-an akhir tidak paham tentang PKI. Habib juga menuding Komnas HAM dan sejumlah ormas yang seakan pro dengan PKI, bahkan mendorong Presiden agar meminta maaf pada korban PKI.

Lantas bagaimana solusinya? Bukan khilafah kok, Habib Rizieq justru menyarankan agar Indonesia segera kembali pada Pancasila dan UUD 1945 yang ASLI.

“Sdh saatnya Indonesia kembali kpd Pancasila & UUD 1945 yg ASLI. Amandemen Konstitusi sejak Reformasi 1998 tlh menyuburkan PKI dan LIBERAL,” jelas Habib Rizieq.

Ilham Aidit: Apa yang Ditakutkan dari Kebangkitan PKI?

Screenshot_2016-06-07-22-27-26_1

Isu kebangkitan komunisme dan Partai Komunis Indonesia (PKI) kembali menyeruak selama sebulan terakhir. Isu itu membuat tentara dan polisi ‘kebakaran jenggot’.

Tentara dan polisi melakukan pelarangan dan sweeping aktivitas masyarakat yang dituduh berbau komunisme. Buktinya banyak terjadi pelarangan diskusi marxisme dan nonton film tentang kekejaman orde baru di masa tahun 1965.

Isu kebangkitan komunisme muncul pascasimposium tragedi 1965 yang digelar Kementerian Koordinantor Hukum Politik dan Keamanan. Setelah itu muncul simposium yang sama di tingkat daerah. Namun di sana mendapatkan intimidasi dari kelompok anti komunisme.

Sikap represi aparat keamanan terus berlanjut di sejumlah daerah. Baru-baru ini polisi menangkap pedagang kaos bergambarkan palu arit lambang sebuah grup band di Mall Blok M. Lainnya, polisi melarang perayaan Hari Kebebasan Pers Internasional di kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, 3 Mei lalu. Pelarangan itu dilakukan karena ada pemutaran film ‘Pulau Buru Tanah Air Beta’. Film itu dicurigai ‘berbau’ komunisme. Sebab masyarakat yang dituduh terlibat dalam gerakan PKI di tahan di Penjara Pulau Buru.

Anak kandung dari pendiri Partai Komunis Indonesia (PKI), Dipa Nusantara Aidit, Ilham Aidit heran dengan kemunculan isu dan ketakutan tentara dan polisi soal kebangkitan komunisme. Ilham yakin masyarakat sipil tidak ketakutan kemunculan faham komunisme.

Ilham tahu persis tentang pergerakan faham komunis di Indonesia. Begitu benih-benih kebangkitan PKI. Dia memastikan PKI tidak akan bangkit kembali dan faham komunis tidak akan berkembang. Namun paling tidak keyakinan itu berlaku untuk saat ini.

Dalam wawancara khusus dengan suara.compekan lalu di sebuah kedai kopi di Bandung, Jawa Barat, Ilham memaparkan alasan pernyataannya itu. Dia pun menggambarkan keadaan para eks anggota dan simpatisan PKI yang masih hidup saat ini. Begitu juga para keturunannya.

Dia menyebut, bisa saja faham komunis tumbuh beberapa puluh tahun ke depan. Ada penyebab khusus faham itu bisa tumbuh kembali. Apa itu?

Berikut wawancara lengkapnya:

Isu ketakutan bangkitnya komunisme di Indonesia kembali muncul, namun sebenarnya tiap tahun isu ini terus berulang. Pihak pemerintah, terutama tentara dan polisi, gencar melakukan “sweeping” terhadap semua hal yang berbau komunisme dan ‘palu arit’. Apakah ketakutan itu akan benar terjadi? Dan apakah ‘benih PKI’ masih ada di Indonesia?

Saya mulai dari, kenapa isu ini kembali marak?

  • Pertama, puluhan tahun di zaman orde baru, PKI diasosiasikan dan dipropagandakan sebagai kekuatan mengerikan dan jahat sekali. Bahkan bisa tumbuh kapan saja, bahkan ketika tumbuh akan menggorok leher orang. Sehingga ketakutan itu ditularkan ke generasi lain. Bahkan saya sangat yakin di masa sekarang banyak orang yang sebetulnya nggak terlalu paham apa yang terjadi ketika peristiwa gerakan 30 September 1965. Mereka melihat PKI masih mengerikan.
  • Kedua, orang-orang semacam itu digunakan oleh kelompok-kelompok yang selama ini eksis apabila isu PKI dan komunis ada. Jika diilustrasikan kelompok ini akan bicara, “kalau kamu ada, saya juga ada. Kalau kamu tidak ada, saya juga tidak ada. Saya siapa? Saya adalah penumpas kamu. Maka kamu lebih ada, supaya saya juga terus ada”.

Kelompok apa itu?

Saya melihat mereka ini ormas-ormas, perseorangan, bisa juga tentara. Tapi kalalu tentara, memang doktrinya begitu, harus membenci komunis dan PKI. Jika ormas tersebut hanya akan ada jika isu PKI dan komunisme ini eksis. Sehingga bisa menjadi pahlawan terus. Saya menyebut seperti Alfian Tanjung (sosok yang mengklaim sebagai pakar gerakan komunis/PKI), dia nikmatin sekali. Ketika isu PKI dan komunis ini terangkat, maka dia akan menjadi pahlawan.

Saya pernah mengungkapkan lelucuan ke kawan-kawan, kalau dulu Soeharto menumpas PKI dan menjadi presiden, maka siapa tahu mereka-mereka ini akan menjadi dirjen. Tapi intinya ini akan mereka gadang-gadang, lalu akan mereka ‘ganyang’, sehingga mereka eksis.

Ketiga, ada hal yang lucu. Di dunia ini, hanya Indonesia yang takut sekali dengan bahaya munculnya komunisme. Itu ngak masuk akal.

Mengapa tidak masuk akal?

Karena begini, apa sih yang membuat Anda takut dengan munculnya kembali komunisme? Apa hitung-hitungan Anda, jika bahaya komunisme dan partai komunisme itu bisa muncul dan berdiri di Indonesia?

Bagaimana jika Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 adalah tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia dan larangan paham komunis di Indonesia dicabut…?

Kalau itu dicabut memang memungkinkan PKI dan partai komunis tumbuh, tapi mungkin nggak itu dicabut? Saya sendiri tidak suka jika paham Marxisme dilarang dipelajari orang. Saya menilai ilmu setan pun harus kita pelajari. Tapi Marxisme bukan ilmu setan. Saya berharap nantinya Indonesia bisa terbuka Marxisme bisa dipelajari.

Lalu, memuat partai memang gampang? Berapa dana yang diperlukan untuk membuat partai?

Kalau pun berdiri partai komunis, apakah ada yang mau daftar dalam kondisi sekarang ini? Sementara propaganda soal PKI dan komunis di orde baru itu sukses. Sehingga menyisahkan sekian banyak trauma dan cerita. Nggak akan ada yang memungkinkan itu semua. Jadi dalam menyikapi isu komunisme, kita harus nalar dan proporsional.

Masuk akal nggak sih, partai komunis dirintis dan dibentuk 3-4 tahun lagi? Nggak akan mungkin. Dan mereka-mereka, eks anggota dan simpatisan komunis yang tua-tua sudah tidak punya energi lagi.

Tetapi bahwa komonisme dan marxisme sangat dekat dengan kemiskinan dan kemelaratan. Sepanjang negara tidak mampu mengatasi kemiskinan dan kemelaratan, paham komonisme bisa saja tumbuh dan niminati. Sebab komunisme dan marxisme itu bicara terang-terangan bagaimana ketidakadilan harus dilawan, bagaimana dunia ditata dan setara. Setiap orang kebagian sama rata, karena pada dasarnya bumi ini dimiliki sama-sama. Ketika kemiskinan dibiarkan, mereka yang miskin ini dari kalangan yang pintar, mereka akan mencari opsi yang melepaskan mereka dari kemiskinan dan penghisapan. Lalu ketika mereka bertemu marxisme, marxisme menjawab itu semua. Itu akan tumbuh dalam sendirinya. Itu yang saya lihat, jauh lebih bahaya.

Tapi kebanyakan marxisme ini dipelajari di lingkungan kampus, yang kembanyakan orang terdidik. Sementara masyarakat miskin kebanyakan hanya memikirkan makan saja. Apakah itu tetap memicu tumbuhnya paham komunisme?

Dalam perjuangan antar kelas, itu jelas dicantumkan kaum buruh, pekerja dan termajinalkan harus dipimpin oleh kalangan menengah. Itu sudah rumusan, karena kaum buruh sudah tidak punya waktu untuk berdiskusi. Waktunya mereka habis untuk bekerja. Mereka harus dipimpin oleh kalangan kelas menengah yang cerdas, punya waktu dan bisa mengkonsolidasikan buruh. Dalam rumus revolusi, mereka juga harus dipimpin kelas menengah.

Hal seperti itu terjadi di Polandia, dan Revolusi Prancis. Mereka juga bukan dipimpin oleh kelas atas. Karena kelas atas sudah merasa mapan dan status quo. Sementara kelas menengah cenderung independen, ada uang, pintar dan ingin berubah.

Apakah para eks anggota dan simpatisan PKI saat ini masih eksis?

Kalau orang-orangnya masih ada. Mereka anggota partai, simpatisan, dan juga Pemuda Rakyat. Bayangkan, dulu PKI punya anggota sebanyak 3 juta orang. Sekitar 14 juta orang menjadi pendukung. Jadi mereka masih banyak yang hidup. Tapi apakah mereka masih punya energi untuk membangkitkan partai? Usia mereka sudah tua, rata-rata di atas 70-an. Energi kebangkita sudah tidak ada.

Tapi anak-anak muda yang nggak pernah mempunyai hubungan dengan peristiwa 1965, awam dan tidak mengerti dengan Marxisme, lalu mereka peduli dan merasa ada ketidakadilan. Mereka melihat kapitalisme, korupsi dan merasa putus asa. Lalu sadar dulu ada komunisme, marxisme dan sosialisme. Mereka bisa mencari, tapi yang mengajarkan bukan yang tua-tua (eks anggota dan simpatisan PKI). Mereka bisa mencari tahu lewat buku.

Asal Anda tahu, PKI adalah satu-satunya partai yang terbersih saat itu. Bahkan menurut saya sampai sekarang ini. Cara mereka kaderisasi dan menerima anggota baru sangat luar biasa. Saya bisa katakana, patai yang paling baik se-Indonesia adalah PKI.

Apa buktinya?

Pertama, mereka antikorupsi. Kedua, rekrutmen anggota panjang buruh 2 tahun dengan proses mentoring. Bahkan harus mendapatkan rekomendasi 2 orang anggota. Ketiga, di masa itu Gerwani adalah puncak pergerakan perempuan tertinggi. Kalau Anda bertanya ke orang-orang yang mengerti sejarah itu, pasti mengatakan betul.

Saat ini generasi pertama PKI yang sudah tua Anda klaim sudah tidak eksis. Bagaimana untuk keturunan mereka? Apakah para keturunan eks anggota dan simpatisan PKI membentuk perkumpulan?

Kalau membentuk secara formal, tidak. Tapi kalau kami saling menghormati sesama anak-anaknya, iya. Secara ideologis, kami kan selalu bertanya apa yang diperbuat oleh orangtua kami. Saya membaca Marxisme, kapitalisme. Kalau dulu, pertanyaan besar saya, “apa sih salah babeh gue?”.

Generasi kedua ini ada juga yang trauma, karena salah mengolah peristiwa itu sehingga mereka menyalahkan orangtuanya yang menjadi anggota dan simpatisan PKI. Sehingga mereka merasa terlantar dan zalimi. Jadi mereka menjadi apatis.

Tapi ada juga yang tercerahkan dengan cerita versi lain di luar karangan orde baru. Jika PKI hanya dijadikan ‘kambing hitam’. Bahkan mereka menemukan jika marxisme itu baik-baik saja. Hanya saja dalam dalam Marxisme tidak pernah menyebutkan kata “Tuhan” dalam penataan dunia baru. Sehingga dituduh atheis.

Menhan: Yang Bilang PKI Tidak Ada, Mungkin Dia Komunis

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menggelar acara pertemuan dengan persatuan purnawirawan TNI AD serta Organisasi Masyarakat anti-Partai Komunis Indonesia (PKI) di Balai Kartini, Jakarta.

Acara tersebut digelar terkait dengan isu propaganda yang muncul mengenai kebangkitan PKI.

Dalam silaturahmi yang dihadiri tokoh-tokoh islam tersebut, Menhan Ryamizard menjelaskan pertemuan tersebut penting.

Kata dia, sebagai komponen bangsa harus selalu waspada terhadap bahaya komunis.

“Sebagai komponen bangsa yang setia kepada negara Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UU 1945, harus senantiasa waspada terhadap bahaya laten komunis yang dimotori Partai Komunis Indonesia,” ujar Ryamizard di Balai Kartini,Jakarta Selatan, Jumat (13/5/2016)

Ryamizard juga mengatakan, dulu tidak terdengar bahaya laten komunis, namun kini isu tersebut muncul kembali.

“Dulu sering sekali kita dengar bahaya laten ditertawakan, nggak ada itu bahaya laten, kemudian komunis sudah tidak ada lagi, tapi disebut-sebut sekarang muncul,” imbuhnya.

Ia pun mencurigai pihak yang menganggapPKI tidak ada dan menduga mereka yang beranggapan seperti itu adalah seorang komunis.

“Jadi, kita patut curigai itu yang bilang nggak ada (PKI), mungkin dia yang komunisme,” jelasnya.

Sebelumnya, Dugaan bangkitnya PKIbeberapa waktu menjadi polemik di kalangan tokoh politik hingga masyarakat.

Tudingan tersebut muncul terkait adanya kegiatan diskusi, pemutaran film, serta penerbitan buku.

Adanya kegiatan-kegiatan tersebut diduga akan memberi pengaruh negatif dalam upaya penyelesaian tragedi 1965 yang dilakukan pemerintah RI.

Amien Rais: Ada Kebohongan Nasional Tutupi Kebangkitan Komunisme

Screenshot_2016-06-14-03-32-16_1

Mantan Ketua MPR Amien Rais menilai ada kebohongan yang sedang dilakukan untuk menutupi kebangkitkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Amien melihat PKI tengah menyusun berbagai cara untuk berusaha bangkit kembali di Indonesia.

“Ada kebohongan nasional yang secara sistematik itu dibuat oleh tokoh kita. Mereka bilang komunisme sudah usang, tidak usah ditakuti, sudah tidak ada di mana-mana. Orang seperti ini sangat tidak bertanggung jawab, pura-pura bodoh,” katanya, di Universitas Muhammadiyah Surakarta pada Jumat (10/6) sore.

Berbagai cara dilakukan PKI untuk bangkit kembali. Kata Amien, saat ini komunis tengah berupaya terlebih dulu menghancurkan akhlak bangsa dengan menjadikan hak asasi manusia (HAM) sebagai tameng.

“Belum lagi pornografi, narkoba, menggiatkan juga itu kita sudah terjebak dengan komunisme kultural,” ujarnya.

Lebih lanjut ia meminta agar pemerintah bersikap tegas terhadap upaya segelintir orang yang ingin menghidupkan PKI. Mantan Ketua Umum PAN itu pun mengendus ada pemimpin-pemimpin yang mempunyai jabatan dan posisi tinggi di pemerintahan menjadi motor untuk kebangkitan PKI.

“Saya ingin menarik perhatian kepada teman-teman saya yang berkuasa, jangan main-main dengan komunisme. Orang yang berkata negara harus minta maaf pada PKI harus dimintai pertanggungjawaban. Ironisnya, ada yang memimpin negeri ini, posisinya pun tinggi, mari kita cari tahu bersama,” jelas mantan ketum PP Muhammadiyah.

Ulama Dibully di Sosial Media Itu Cara-cara PKI

Di era kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI), para ulama diserang massa tak dikenal, sedangkan saat ini, ulama di-bully akun-akun sosial media tidak dikenal. Lalu apa bedanya?

Pernyataan sensitif itu dilontarkan pengacara Koalisi Merah Putih, Mahendradatta, menyikapi berbagai polemik di Indonesia pasca Pilpres 2014. “Sejarah kebangkitan PKI, ulama diserang massa tidak dikenal, sekarang ulama dibully akun-akun Twitter tidak dikenal. Apa bedanya?” tulis Mahendradatta di akun Twitter @mahendradatta.

Tak hanya itu, Mehendradatta membeberkan sejumlah indikasi, bahwa cara-cara PKI mulai digunakan sejumlah pihak.

“Organisasi Tanpa Bentuk, bergerak bagai bayang-bayang, provokasi sana-sini, berlindung di balik gerakan massa liar. Itu cara-cara PKI. Susupi Angkatan Bersenjata (bina perwira progresif), Provokasi rakyat dengan isu perampasan tanah/hak rakyat, Budaya dengan hal-hal kebebasan #CaraPKI,” tulis  @mahendradatta.

Saat ini, Propaganda Komunis Liberalis Jadikan Islam Sumber Terorisme

Pernyataan keras dilontarkan Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Fahmi Salim terkait pro kontra “permintaan maaf” negara kepada keluarga Partai Komunis Indonesia (PKI).

Fahmi Salim menegaskan bahwa Islam telah dijadikan sebagai ancaman dan sumber terorisme oleh propaganda komunis liberalis. “Setelah 50 tahun pemberontakan PKI yang ganas, kita dibuat lupa, lalu Islam dijadikan ancaman sumber terorisme oleh propaganda komunis liberalis,” tegas Fahmi di akun Twitter ‏@Fahmisalim2.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut‎ Binsar Pandjaitan menegaskan, bahwa Presiden Joko Widodotidak akan mengajukan permohonan maaf kepada keluarga mantan anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Ndak ada pikiran sampai situ, barusan saya bicara dengan presiden kita tidak ada pikiran sampai meminta maaf. Minta maaf mengenai masalah peristiwa PKI,” ucap Luhut Pandjaitan di Istana Kepresidenan (30/09).

Luhut mengakui, pemerintah tengah menyiapkan rekonsiliasi berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat. Termasuk kasus-kasus yang melibatkan para anggota PKI terdahulu.

Namun, rekonsiliasi bukan diartikan negara meminta maaf terhadap para keluarga anggota PKI. Sebab, menurut Luhut dalam tragedi berdarah PKI, antara pihak yang menjadi korban keganasan PKI dan para anggota PKI posisinya sama-sama sebagai korban.

Tokoh Liberal, Goenawan Mohammad Serang Kivlan Zen

Tokoh liberal yang juga pendiri Majalah Tempo, Goenawan Mohammad “menyerang” mantan Kepala Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), Mayor Jenderal (Purn) Kivlan Zen terkait isu Partai Komunis Indonesia (PKI).

Goenawan meminta Kivlan Zen untuk berhenti memakai pikiran yang “sudah berkarat” untuk melawan ideologi yang sudah berkarat.

Di akun Twitter @gm_gm, tokoh Komunitas Salihara itu menulis: “Nasihat untuk Kivlan Zen: berhentilah memakai pikiran yang sudah berkarat utk melawan ideologi yg sudah berkarat.”

@gm_gm menyematkan tulisan bertajuk “Kivlan Zen Tuduh Budiman Sudjatmiko Bangkitkan PKI”, yang dirilis viva.co.id (17/05).

Diberitakan sebelumnya, Kivlan Zen, menyebut politisi PDIP Budiman Sudjatmiko, berupaya membangkitkan komunisme atau PKI.

“PKI memang bangkit, kok. Betul-betul hantunya (komunisme) datang. Sudah merebut tanah-tanah di Garut, Batang,” kata Kivlan dalam diskusi Indonesia Lawyers Club di tvOne (17/-05).

Kivlan tak menyebut dengan detail tempat persisnya dan waktu tepat upaya perebutan tanah itu. Kivlan mengatakan ada tokoh politik, yakni Budiman Sudjatmiko, yang juga mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik, di balik peristiwa itu. “Itu gerakan seperti (yang dilakukan) Budiman Sudjatmiko,” kata Kivlan.

Di sisi lain Budiman membantah pernyataan Kivlan. Budiman mengaku, memang mengawal program redistribusi tanah, program Kementerian Agraria dan Tata Ruang, di Batang dan Garut. Tetapi itu semua bukan program atau propaganda PKI. Apalagi kegiatan itu dihadiri Menteri Agraria dan Tata Ruang, pejabat Badan Pertanahan Nasional, gubernur dan bupati setempat.

Kivlan Zen Tantang Goenawan Mohamad Debat Terbuka

Goenawan meminta Kivlan Zen untuk berhenti memakai pikiran yang “sudah berkarat” untuk melawan ideologi yang sudah berkarat. “berhentilah memakai pikiran yang sudah berkarat utk melawan ideologi yg sudah berkarat.” ujar Goenawan dalam akun twitternya @gm_gm.    
 

Atas dasar itulah Kivlan akhirnya membuat surat terbuka untuk menjawab sebutan tersebut. Berikut surat terbuka yang ditulis Kivlan pada akun Facebooknya, Jumat (20/5):


Kepada

Gunawan Muhammad

(Yang telah menuliskan Nasehat untuk saya)

Seharusnya anda jangan menyebutkan bahwa fikiran Kivlan Zen sudah berkarat. Itu artinya bahwa anda telah menyerang pribadi saya dan bisa saja dituntut secara hukum. Kalau anda tidak setuju dan tidak senang dengan cara saya berfikir dan bertindak khususnya dalam menghadapi bangkitnya Komunisme di Indonesia, terutama tulisan pada majalah tempo yang terus berusaha menghidupkan kembali komunis dan juga partainya di Indonesia yang SEOLAH-OLAH tidak bersalah dalam kudeta G30S PKI pada tahun 1965 serta menyatakan bahwa tragedi itu dilakukan oleh Jenderal Soeharto dan TNI AD khususnya.

Kalau anda tidak setuju dengan fikiran dan tindakan saya, maka berikanlah kesempatan pada saya agar bisa BERPOLEMIK DENGAN ANDA DAN REKAN-REKAN DARI TEMPO.

Mari kita berdiskusi dan berdebat terbuka baik anda maupun seluruh awak media dan penulis yang ada di TEMPO.

Atau berikan kesempatan kepada saya agar fikiran ini bisa saya tuangkan di majalah TEMPO. Karena ada seorang wartawati TEMPO yang bernama NOVI mau mewawancarai saya tentang Komunis, namun saat itu saya sedang berada di Filiphina, akan tetapi sangat di sayangkan ketika saya kembali ke tanah air, saya kontak kembali berkali-kali saudari novi namun tidak ada respon.

Sekali lagi bung Gunawan Muhammad saya sampaikan ; "Mari Kita Berpolemik Secara Intelektual".

Kalaulah fikiran saya Berkarat, tentu masih bisa dibuat mengkilap dengan cara dibraso, namun orang-orang Komunis fikirannya itu seperti batu, tak bisa jika hanya dibraso, tapi masih tetap bisa dirubah dengan cara diasah, dipahat, dan digerinda setelah itu baru terbentuklah wujud yang baru. Mudah-mudahan anda tidak termasuk orang yang fikirannya seperti Batu.

Saya sangat menunggu dan menanti Undangan untuk mewawancarai saya dan tentunya juga BERPOLEMIK dan BERDEBAT dengan ANDA serta AWAK MEDIA TEMPO secara Terbuka dan Live di semua Stasion TV dan Radio.

Karena anda yang memulai menyerang saya secara pribadi maka anda pulalah yang mengakhiri dengan cara debat terbuka.


Terima kasih semoga Tempo tidak buang-buang Tempo. Semoga anda mendapat Rahmat dan Shalawat NABI MUHAMMAD SALALLAHU 'ALAIHI WASSALAM, karena nama Beliau anda pakai dan selalu di ucapkan Shalawat oleh ALLAH, MALAIKAT-MALAIKATNYA & UMAT MUSLIM ketika menyebutkannya. Berbahagialah anda karena telah memakai nama RASULULLAH SHALALLAHU 'ALAIHI WASSALAM.

Mengapa Sikap Rezim Jokowi pada PKI tak Segarang Hadapi Teroris?

06-07-10.58.18

Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya, mempertanyakan sikap Pemerintahan Joko Widodo terhadap munculnya ‘tanda-tanda’ kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang salah satunya ditandai dengan munculnya atribut PKI di sejumlah daerah.

Menurut Harits, dalam menghadapi PKI seharusnya Rezim Jokowi bersikap ‘garang’, sebagaimana menghadapi teroris. “Harusnya sama (penanganan terorisme dengan komunis). Karena asumsinya secara faktual, potensial dan aktual mengancam stabilitas ipolesosbud hankam,” kata Harits dalam pernyataannya kepada intelijen (18/08).

Dalam menghadapi indikasi kemunculan PKI, kata Harist, harus menggunakan pendekatan persuasif. “Yakni, penyadaran kepada keluarga komunis, di samping pemerintah melakukan edukasi ke masyarakat melalui berbagai wasilah yang memungkinkan tentang bahayanya ideologi komunis,” ungkap Harits.

Tak hanya itu, Harits menegaskan, pemerintah harus menindak tegas para ideolog, propagandis dan orang-orang yang secara aktif terlibat dalam penyebaran ideologi komunis yang berbahaya tersebut.

Diberitakan sebelumnya, simbol PKI muncul dalam ‘kirab budaya’ perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-70 di Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Di mana, ada peserta yang membawa atribut bergambar ‘palu dan arit’ berwarna merah, yang merupakan lambang PKI.

Selain itu, di antara peserta kirab ada yang membawa poster bergambar tokoh PKI, seperti D.N. Aidit, Letkol Untung, dan Chairul Saleh.

  • Penguasa Sekarang Memang Lucu, Fobia Islam Tapi Anggap Enteng Komunisme

Ramainya wacana komunisme saat ini setidaknya bisa menunjukkan sikap kelompok liberal pada komunisme. Dan yang pro-komunisme, pemikirannya sudah pasti tidak Islami, siapapun dia.

Penegasan itu disampaikan pemikir Islam Ustadz Felix Siauw terkait polemik soal komunisme. “Saya nggak heran kaum liberalis pada belain komunis, ya mereka itu sama-sama nggak suka agama, hati-hati bahaya komunisme dan liberalisme,” tulis Felix Siauw di akun Twitter ‏@felixsiauw.

Felix Siauw juga menyoal sikap Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dalam menyikapi isu kebangkitan komunisme. “Dan penguasa sekarang memang lucu, sila pertama KETUHANAN tapi fobia Islam, tapi ketika ada ancaman komunisme, dianggap enteng,” tegas @felixsiauw.

Belakangan ini, marak beredar lambang “Palu Arit”, atribut Partai Komunis Indonesia (PKI), di berbagai media, salah satunya kaos bergambar Palu Arit.

Terkait peredaran simbol PKI tersebut, Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, Letnan Jenderal Edy Rahmayadi menegaskan bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak ingin PKI kembali aktif di Indonesia.

“Bagi TNI, ada baju berlambang palu dan arit atau tidak, PKI tidak boleh hidup di Indonesia,” tegas Edy di Markas Komando Lintas Laut Militer, Jakarta,seperti dikutip cnnindonesia (09/05).

Edy mengatakan hal tersebut setelah personel intelijen di beberapa Komando Distrik Militer menemukan atribut palu dan arit di sejumlah daerah.

“Mau sipil, mau apapun, kalau mengganggu ideologi, tidak ada alasan. Ideologi kan milik Indonesia, kalau bukan kami yang menjaga, siapa lagi,” tegas Edy.

  • TNI Sudah Gerah dengan Penguasa

Razia terhadap simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dilakukan TNI, meskipun sudah dilarang pihak Istana, menjadi bukti bahwa TNI mulai menunjukkan taring kepada penguasa.

Penegasan itu disampaikan pengamat politik Muslim Arbi kepada intelijen (18/05). “Nantinya TNI didukung rakyat dalam melawan simpatisan PKI. TNI sudah gerah dengan penguasa saat ini. Ini sinyal-sinyal melawan penguasa,” kata Muslim.

Menurut Muslim, pernyataan tegas Menhan Ryamizard Riyakudu terkait masih berkembangnya PKI bisa menjadi penguat kesatuan rakyat-TNI. “Yang namanya ideologi itu tidak pernah mati dan akan terus disebarkan oleh pengikutnya,” papar Muslim.

Muslim mensinyalir, simpatisan PKI juga banyak yang menjadi pendukung penguasa saat ini. “Ada yang bangga jadi anak PKI dan menjadi anggota DPR dari PDIP,” ungkap Muslim.

Sebelumnya, pihak Istana menyayangkan sikap pejabat yang mendukung penarikan buku-buku ajaran komunisme. “Ya kalau saya lihat termasuk overdosis,” kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.

  • Kemarahan Prabowo pada Keturunan PKI yang Putar-balikkan Sejarah

Rakyat Indonesia tidak pernah takut terhadap kebangkitan komunis. Rakyat marah karena keturunan Partai Komunis Indonesia (PKI) memutarbalikkan sejarah pembantaian PKI.

Penegasan itu disampaikan mantan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen (Purn) Suryo Prabowo di akun Facebook. “Kami tidak takut sama sekali. Kami cuma marah karena keturunan PKI dibiarkan berupaya memutarbalikkan sejarah,” tulis Prabowo.

Mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) ini mendesak adanya pengakuan dari keturunan PKI. Yakni, pengakuan bahwa yang membantai rakyat Indonesia adalah PKI.

“Minta pengakuan bahwa leluhur mereka yang telah membantai leluhur kami itu orang baik,” papar Dosen SPS (Strategi Perang Semesta) di Universitas Pertahanan (Unhan) ini.

Pada acara “Silaturahim Purnawirawan TNI/Polri, Organisasi Masyarakat Keagamaan dan Kepemudaan” di Balai Kartini, 13 Mei 2016, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menegaskan bahwa bahaya laten Partai Komunis Indonesia (PKI) memang benar-benar ada.

“Bahaya laten ini benar. Saya enggak mau dibilang enggak ada. Kalau dianggap begitu terus bisa bahaya,” tegas Ryamizard.

Di sisi lain, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan memandang enteng soal peredaran atribut PKI, “Palu Arit”, khususnya menggunakan media kaos.

Simposium Nasional ‘anti-PKI’

Img Src: Tempo.co

Img Src: Tempo.co

Simposium Nasional Anti- PKI yang dilaksanakan di Balai Kartini, Jakarta, selama dua hari, 1-2 Juni, menghasilkan sembilan butir rekomendasi. Panitia berharap pemerintah mempertimbangkan rekomendasi tersebut bersama dengan hasil rekomendasi Simposium Tragedi 1965 di Hotel Aryaduta, April lalu.

Wakil Ketua Umum Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan TNI Polri (FKPPI) Indra Bambang Utoyo membacakan butir-butir rekomendasi hasil simposium. Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Agus Widjojo berencana menyerahkan rekomendasi ini kepada pemerintah untuk dikaji bersama hasil simposium Tragedi 1965, April lalu.

Berikut butir rekomendasi simposium nasional anti-PKI dengan ‘Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain’ berserta penjelasannya:

1. Sejarah mencatat telah terjadi pemberontakan PKI pada 1948 di Madiun dan sekitarnya.

*Pemberontakan itu terjadi saat Indonesia sedang menghadapi ancaman agresi Belanda. Pemberontakan kembali terulang pada 1965 atau dikenal sebagai Gerakan 30 September 1965, saat Presiden Soekarno sedang gencar melaksanakan Dwi Komando Rakyat. Kedua pemberontakan itu dinilai sebagai sebuah pengkhianatan terhadap Pancasila dan rakyat, yang sedang berjuang demi kemerdekaan. Tujuannya, dikatakan adalah untuk merebut kekuasaan dan mengganti ideologi Indonesia.

2. Menuntut PKI dengan penuh kesadaran membubarkan diri dan menghentikan semua kegiatan dalam bentuk apapun.

*Rekomendasi itu menyebutkan, sepantasnya pihak PKI yang harus meminta maaf pada rakyat dan pemerintah Indonesia. PKI disebut masih berusaha eksis dengan melakukan kongres sebanyak 3 kali, berusaha memutar balik fakta sejarah, menyebar fitnah dan hasutan, serta melempar kesalahan ke pihak lain, seperti TNI dan umat Islam.

3. Bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa karena reaksi cepat rakyat dan pemerintah yang berhasil dua kali menggagalkan pembetontakan PKI.

*Namun, tetap ada penyesalan bahwa kedua pemberontakan tersebut menjatuhkan korban jiwa, baik dari pemerintah, TNI, rakyat, maupun dari simpatisan PKI. Banyaknya korban telah menjadi luka sejarah.

4. Hendaknya kita tak lagi mencari-cari jalan rekonsiliasi, tapi mari kita kukuhkan dan mantapkan rekonsiliasi sosial dan politik secara alamiah.

*Rekonsiliasi sosial politik secara alamiah sudah terjadi di kalangan generasi penerus dari mereka yang mengalami konflik masa lalu tersebut. Disebutkan saat ini tak terdapat stigma yang tersisa pada anak cucu eks PKI.

Butir keempat ini secara lengkap berbunyi: "Semua hak sipil mereka telah pulih kembali. Banyak di antara mereka yang berhasil menjadi anggota partai politik, anggota DPR, pegawai negeri, gubernur, anggota TNI dan Polri, dan jabatan penting lain, tanpa ada yang mempermasalahkan."

5. Diminta dengan sangat pada pemerintah, LSM, dan segenap masyarakat agar tak lagi mengutak-atik kasus masa lalu karena dipastikan dapat membangkitkan luka lama dan berpotensi memecah persatuan.

*Mengungkit masa lalu, disebutkan dapat memicu terjadinya konflik horizontal. Rekomendasi menyarankan masyarakat melihat masa depan, dan lebih memperhatikan kepentingan bangsa dibanding kelompok.

6. Hendaknya pemerintah konsisten menegakkan Pancasila, Ketetapan MPRS 25 tahun 1966, Undang Undang Nomor 27 Tahun 1999 yang mengatur pelarangan terhadap setiap kegiatan yang terindikasi sebagai upaya membangkitkan PKI.

*Aturan ini diperkokoh dengan Ketetapan MPR RI Nomor 1 tahun 2003 tentang Ketentuam Hukum untuk Pelarangan Paham Komunis di Indonesia. "Ke depan seyogyanya pelarangan terhadap PKI itu dimasukkan juga dalam Addendum 1945," kata Indra yang membacakan rekomendasi ini.

7. Mendesak pemerintah dan Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk segera mengkaji ulang UUD 2002 agar kembali dijiwai Pancasila.

*Fenomena kebangkitan PKI dianggap tak lepas dari empat kali perubahan UUD 1945 mulai dari 1999-2000 yang dibajak oleh liberalisme. Indra mengatakan UUD hasil amandemen pada 2002 itu diisi individualisme-liberalisme yang membuka kebebasan nyaris tanpa batas.

"Itu dimanfaatkan oleh simpatisan PKI serta kelompok anti Pancasila lain yang mendukungnya," katanya.

8. Kami mendesak pemerintah memasukkan atau meningkatkan muatan materi nilai Pancasila dalam kurikulum pendidikan formal mulai dari usia dini, pendidikan dasar, tingkat menengah dan sederajat, serta sampai pendidikan tinggi.

*Hal itu dimaksudkan untuk mengamankan Pancasila dari ancaman ideologi lain yang bertentangan. Dalam rekomendasi ini, kata Indra, pemerintah diminta melakukan sinkronisasi pada semua aturan terkait atau menerbitkan UU baru yang dapat mengikat semua pemangku kepentingan pendidikan.

9. Mengajak segenap komponen bangsa meningkatkan integrasi dan kewaspadaan nasional dari ancaman kelompok anti Pancasila, maupun pihak asing.

Selanjutnya: Waspadai Kebangkitan PKI (bagian 3)

Iklan

One response »

  1. […] Selanjutnya: Waspadai Kebangkitan PKI (bagian 2) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s