Sebelumnya: Waspadai Kebangkitan PKI (bagian 2)


  • Muhammadiyah, NU, dan PGI Hadiri Simposium Anti-PKI, Mengapa BBC Sebut Kaum Radikal?

Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Front Pembela Islam (FPI) mendesak BBC Indonesia mengklarifikasi tulisan bertajuk “Simposium ‘Anti-PKI’: Pensiunan Jenderal, Kaum Radikal dan Haji Lulung”.

06-07-08.53.16

“Media Asing @BBCIndonesia sebut peserta simposium ‘Kaum Radikal’ Padahal ada NU, Muhammadiyah dan 49 ormas lainnya. Peserta Simposium di Balai Kartini tadi diikuti 49 Ormas, termasuk NU, Muhammadiyah, PGI. Apa mereka Kaum Radikal semua?” demikian pernyataan resmi DPP FPI di akun Twitter @DPP_FPI.

@DPP_FPI menulis: “Kami minta penjelasan dari Media Asing @BBCIndonesia sebut peserta Simposium sbg ‘Kaum Radikal’ ? Apa Tujuannya?

Diberitakan sebelumnya, acara Simposium Nasional “Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain” diikuti setidaknya 49 ormas (01/06). Tampak hadir para pensiunan jenderal, salah satunya Mayjend TNI (Purn) Kivlan Zen.

Dalam kesempatan itu, Kivlan Zen mengungkapkan keberadaan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Indonesia yang sudah bersiap melakukan gerakan makar.

“Saat ini, mereka sudah ancang-ancang. Saya dapat informasi dari orang PDIP dan pendukungnya mendapat Rp 15 juta,” terang Kivlan.

Selain masyarakat pada umumnya, PKI juga menyasar berbagai elemen bangsa lainnya untuk menjadi anggotanya. Bahkan, mereka sampai masuk ke parlemen dan partai-partai politik di Indonesia.

“Pemerintah harus sediakan anggaran untuk perang. Mereka sudah ancang-ancang. Kita jangan sampai lengah,” jelas Kivlan.

Berikut Berita Lengkapnya:

Simposium 'anti-PKI': Pensiunan jenderal, kaum radikal dan Haji Lulung

Simposium 'anti-PKI' untuk menandingi simposium Tragedi 1965 telah resmi dibuka dan langsung dipenuhi pernyataan yang menyerang acara-acara terkait tragedi 1965 yang dicap "memberi angin" kepada PKI.

Sejumlah pembicara dan tamu yang hadir antara lain pemimpin Front Pembela Islam, FPI, Rizieq Shihab, politisi Abraham Lunggana atau Haji Lulung, mantan Wapres Try Sutrisno, serta pimpinan MUI Cholil Ridwan.

Di antara tamu undangan terlihat ketua panitia pengarah Simposium Tragedi 1965 yang juga Gubernur Lemhanas, Agus Widjojo.

Dalam pidato utamanya, mantan wakil presiden Try Sutrisno mengecam berbagai acara yang disebutnya "memberi angin" kepada kebangkitan PKI.

Simposium tandingan bertajuk 'Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI & Ideologi Lain' digelar selama dua hari mulai Rabu (01/06) pagi.

Ketua panitia pengarah Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri, dalam pidato pembukaan, mengatakan simposium ini digelar 'untuk mengamankan Pancasila.'

Dia mengklaim acaranya didukung 49 ormas agama dan pemuda. Beberapa lambang organisasi yang muncul dalam spanduk pendukung termasuk Pemuda Pancasila, HMI, Forum Umat Islam, Ansor, NU, MUI, FKPPI, dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Kiki mengatakan simposium ini "bertujuan menyatukan komponen bangsa untuk mencegah berbagai upaya membangkitkan PKI".

Menurutnya, selalu ada pihak-pihak yang tidak ingin Indonesia kokoh, bersatu. "Dan mereka menggunakan proxy-proxy dan mereka kulitnya sama dengan kita," tandasnya dalam pidato.

Dan, "mereka selalu berusaha Indonesia tidak stabil dengan mengusung isu HAM."

Sementara Try Sutrisno, yang juga mertua Menhan Ryamizard Ryacudu dalam pidatonya, mengklaim bahwa pada tahun 2016, "seluruh simpatisan PKI dan keturunannya telah memiliki dan menikmati semua haknya, baik politik, ekonomi, dan sosial budaya, bahkan sebagai anggota atau pemimpin lembaga tinggi negara."

Tetapi Try mengecam pengadilan sidang IPT soal 1965 yang berlangsung di Den Haag, Belanda, serta simposium nasional tragedi 1965 yang menurutnya "memberi angin terhadap aksi PKI ini".

Peserta pun lagi-lagi memberi tepuk tangan.

"Lebih heran lagi ada tuntutan negara minta maaf atas rezim masa lalu, yang justru lebih dulu jadi korban. Kita telah menerima PKI sebagai warga negara biasa, jika kita minta maaf maka kita mengabsahkan makar. Kita menolaknya dengan tegas," kata Try.

Try menolak penyebutan G30S tanpa menyebut PKI karena menurutnya G30S ada dari "hasil pemikiran PKI untuk melakukan pemberontakan pada negara".

Setelah sambutan Try, pembawa acara mengundang peserta untuk meneriakkan yel-yel, "Pancasila! Abadi!" beberapa kali.

Suasana dipanaskan Cholil Ridwan dari MUI yang memapar 'testimoni' soal "aksi PKI di pondok pesantren Gontor di Madiun" pada 1965, dan pidato Rizieq Shihab yang mengecam penyelenggaraan Simposium Tragedi 1965 lalu.

Saat pidato pendiri FPI itu, sejumlah orang menunjuk-nunjuk Agus Widjojo, Gubernur Lemhanas dan Ketua Simposium Tragedi 1965, yang hadir sebagai undangan.

FPI: Fansboy PKI Meriang! Aksi Anti-PKI Hari ini Baru Muqaddimah

Screenshot_2016-06-07-23-27-48_1

Bersatunya Front Pembela Islam (FPI) dengan berbagai ormas besar dan para jenderal TNI tentu membuat kecut nyali simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pernyataan tegas itu disampaikan Dewan Pimpinan Pusat FPI melalui akun Twitter @DPP_FPI, sejalan dengan “Apel Siaga Nasional Tegakkan Tauhid Tumpas PKI” yang digelar hari ini (03/06). “FPI & berbagai elemen bangsa sukses gelar Unras Tolak PKI dg damai, Fansboy PKI meriang. Kejadian belasan tahun diungkit lagi..Lagu lama :),” tulis @DPP_FPI.

Ditegaskan bahwa aksi Tolak PKI hari ini baru merupakan aksi muqaddimah (pembukaan). “Bersatunya FPI dgn berbagai ormas besar dan para Jenderal TNI tentu bikin kecut nyali simpatisan PKI. Aksi hari ini baru muqaddimah. Ya, jika diibaratkan buku, aksi-aksi tolak PKI belakangan ini baru Muqaddimah. Isi bab-bab berikutnya, tergantung sikap kelompok Pro PKI,” tegas ‏@DPP_FPI.

Hari ini, puluhan ribu massa dari FUI, FPI, FBB, FBR, FKPPI, PP, PPM, Persis, GPI, GPII, DDI, IMM, GMJ, dan GRJ memadati lapangan Monas Utara. Massa yang berpakaian serba putih ini mendesak pemerintah waspada dengan kebangkitan Partai Komunisme Indonesia (PKI).

Aksi di Monas itu merupakan bagian dari “Apel Siaga Nasional Tegakkan Tauhid Tumpas PKI” yang dimulai dari Masjid Istiqlal.

Sebelumnya, massa mengadakan acara simposium nasional “Selamatkan Bangsa dari Bahaya Laten Komunis di Indonesia”

Inilah Tuntutan Ulama dan Purnawirawan Jenderal TNI Soal PKI

Screenshot_2016-06-07-23-31-18_1

Dalam aksi Apel Siaga Nasional Tegakkan Tauhid dan Tumpas PKI, Jumat (3/6) sejumlah ulama dan purnawirawan jenderal TNI diterima oleh pemerintah yang diwakili oleh Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Pendidikan Anies Baswedan dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo.

Para delegasi ulama antara lain Habib Rizieq, KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i, KH Muhammad al Khaththath, Hj Nurdiati Akma dan lainnya. Juga sejumlah purnawirawan jenderal TNI juga hadir, diantaranya Kivlan Zen, Kiki Syahnakri, Budi Sudjana, dan Slamet Subianto.

Usai pertemuan tersebut, Habib Rizieq menyampaikan hasilnya. Pertama, pemerintah harus mengakomodir hasil rekomendasi Simposium Nasional menjaga Pancasila dari ancaman PKI di Balai Kartini dua hari sebelumnya pada 1-2 Juni 2016.

Kedua, meminta kepada presiden Jokowi untuk tidak pernah berpikir untuk minta maaf kepada PKI. “Jangankan minta maaf menyesal pun tidak boleh, karena kalau pemerintah menyesal berarti salah. Dan alhamdulillah mereka juga sepakat dalam hal ini, Menkopolhukam tidak setuju kalau presiden minta maaf kepada PKI,” kata Habib Rizieq.

Kemudian, para ulama dan purnawirawan TNI juga meminta khususnya kepada Menteri Pendidikan agar sejarah penghianatan PKI dimasukkan kembali dalam kurikulum pendidikan. “Dan kita minta juga film pemberontakan G30S/PKI diputar kembali,” jelasnya.

Selain itu, TNI Polri harus menindak pihak-pihak yang memakai atribut PKI, menggelar acara-acara yang berbau komunis. Dan pemerintah jangan menghalangi TNI Polri untuk melakukan tindakan tersebut.

“Kalau TNI Polri tidak mau menindak segala kegiatan komunis, maka jangan salahkan umat Islam yang akan membubarkan setiap acara komunis,” tegas Habib Rizieq.

Masyarakat diminta mengawal hasil pertemuan ini. Manakala pemerintah berkhianat, tidak melaksanakan semua itu maka umat Islam akan melakukan aksi protes kembali.

Lihatlah! 3.000 Muslim Uigur Dibantai Komunis China

“Ini adalah tahun terakhir yang sama,” kata Tumturk. “Sekitar 3000 Uighur dibantai pada hari pertama puasa Ramadhan ketika mereka turun ke jalan memprotes larangan puasa,”terang Seyit Tumturk, Wakil Presiden Kongres Dunia untuk Uighur.

Selain melakukan pembantaian, pemerintah Cina juga melarang Muslim Xinjiang untuk berpuasa. Pelarangan Cina terhadap Kaum Muslim Xinjiang (Uighur) untuk berpuasa Ramadhan disebut Kongres Dunia untuk Uighur sebagai Perang Tanpa NamaTerhadap Muslim dan Islam.

“Tetapi dunia masih terus diam,” kata Wakil Presiden Kongres Seyit Tumturk kepada Anadolu Agency minggu ini.

Tumturk mengecam pemerintah Cina yang melarang Muslim Xinjiang baik dari kalangan sipil, pelajar dan guru untuk berpuasa.

Tokoh Cina Muslim ini menambahkan bahwa area Xinjiang yang didominasi Muslim itu adalah satu-satunya wilayah Muslim di dunia yang dilarang berpuasa Ramadhan.

Menurut laporan pemerintah, Restoran Halal di Jinghe County, dekat perbatasan Kazakhtan, didorong oleh petugas-petugas di sana untuk tetap buka selama Ramadhan.

Pembatasan agama ketat telah diperkenalkan di Maralbexi County, di mana pejabat partai (Komunis) dipaksa untuk memberikan jaminan lisan dan tulisan: “Menjamin mereka (kaum Muslim) tidak memiliki iman, tidak akan menghadiri kegiatan keagamaan dan akan memimpin jalan untuk tidak berpuasa selama Ramadan,”kata media Cina.

Pihak berwenang China memberlakukan pembatasan Uighur Muslim di wilayah barat laut Xinjiang setiap Ramadan.Awal pekan ini, International Union of Muslim Scholars (IUMS) mengecam pemerintah Cina yang melarang puasa selama bulan Ramadhan di kawasan Xinjiang yang didominasi Muslim dan mendesak negara Asia untuk menghormati agama Islam.

Aktivis Uighur menuduh China menentang dunia dengan “pembantaian” dan “tekanan psikologis” rakyat “Turkistan Timur” (Xinjiang). “China telah melaksanakan kebijakan asimilasi sistematis selama 66 tahun, ketika menginvasi Turkistan Timur,” kata Tumturk.

Ia menambahkan bahwa Beijing telah menindas Uighur selama beberapa dekade, mencegah mereka menjalankan agama dan budaya mereka, “sementara dunia tinggal diam.”

Sebelumnya pada bulan Desember 2014, pemerintah Cina melarang mengenakan jubah pakaian Islami di masyarakat di Urumqi, ibukota provinsi Xinjiang. Sebelumnya, pada tahun 2014 juga, Xinjiang dilarang menjalankan agama di gedung-gedung pemerintah, serta dilarang mengenakan pakaian atau logo yang terkait dengan ‘ekstremisme agama’.

Bulan Mei 2015 lalu, toko-toko Muslim dan restoran di sebuah desa di barat laut Xinjiang telah diperintahkan untuk menjual rokok dan alkohol.

Pemutarbalikan Fakta Sejarah Pembantaian Para Ulama oleh PKI

Sejarah perlu dipahami secara utuh dan berkesinambungan. Pemahaman sejarah yang hanya dengan membaca potongan-potongan fragmen, sementara sebagian fragmen telah dipenggal dan ditutup-tutupi, akan melahirkan pemahaman menyimpang. Tidak hanya itu, bahkan bisa memutarbalikkan fakta dalam peristiwa. Hal itu terjadi di tengah bangsa ini dalam memahami sejarah pemberontakan PKI.

Jangan bilang PKI tidak bersalah. Peristiwa Madiun 1948 itu ulah biadab  PKI. Dan betapa pahitnya omongan Aidit yang bilang ulama itu tanpa kerjaan, kitabnya yang banyak, yang bisa buat bendung kali Ciliwung tidak berguna, Indonesia tak butuh ulama.

Dalam pandangan sejarah kontemporer yang tidak benar, PKI hanya dianggap membuat maneuver hanya tahun 1965. Itu pun juga tidak sepenuhnya diakui, sebab peristiwa berdarah  itu dianggap hanya manuver TNI Angkatan Darat. Kemudian dibuat kesimpulan bahwa PKI tidak pernah melakukan petualangan politik. Mereka dianggap sebagai korban konspirasi dari TNI AD dan ormas Islam anti PKI seperti NU dll.

Pemberontakan PKI pertama kali dilakukan tahun 1926, kemudian dilanjutkan dengan Pemberontakan Madiun 1948 dan dilanjutkan kembali pada tahun 1965 adalah suatu kesatuan sejarah yang saling terkait. Para pelakunya saling berhubungan. Tujuan utamanya adalah bagaimana mengkomuniskan Indonesia dengan mengorbankan para ulama dan aparat negara.

Pemberontakan Madiun 1948  yang dilakukan PKI beserta Pesindo dan organ kiri lainnya menelan ribuan korban baik dari kalangan santri, para ulama, pemimpin tarekat, yang dibantai secara keji. Selain itu berbagai aset mereka seperti masjid, pesantren dan madrasah dibakar. Demikian juga kalangan aparat negara baik para birokrat, aparat keamanan, poliisi dan TNI banyak yang mereka bantai saat mereka menguasai Madiun dan sektarnya yang meliputi kawasan startegis Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Anehnya, PKI menuduh pembantaian yang mereka lakukan itu hanya sebagai manuver Hatta. Padahal jelas-jelas Bung Karno Sendiri yang berkuasa saat itu bersama Hatta mengatakan pada Rakyat bahwa Pemberontakan PKI di Madiun yang dipimpin Muso dan Amir Syarifuddin itu sebuah kudeta untuk menikam republik dari Belakang, karena itu harus dihancurkan. Korban yang begitu besar itu ditutupi oleh PKI, karena itu tidak lama akemudian Aidit menerbitkan buku Putih yang memutarbalikkan Fakta pembantaian Madiun itu. Para penulis sejarah termakan oleh manipulasi Aidit itu. Tetapi rakyat, para ulama dan santri sebagai korban tetap mencatat dalam sejarahnya sendiri.

Karena peristiwa itu dilupakan maka PKI melakukan agitasi dan propaganda intensif sejak dimulainya kampanye Pemilu 1955, sehingga suasana politik tidak hanya panas, tetapi penuh dengan ketegangan dan konflik. Berbagai aksi teror dilakukan PKI. Para kiai dianggap sebagai salah satu dari setan desa yang harus dibabat. Kehidupan kiai dan kaum santri sangat terteror, sehingga mereka selalu berjaga dari serangan PKI.

Fitnah, penghinaan serta pembunuhan dilakukan PKI di berbagai tempat, sehingga terjadi konflik sosial yang bersifat horisontal antara pengikut PKI dan kelompok Islam terutama NU. Serang menyerang terjadi di berbagai tempat ibadah, pengrusakan pesantren dan masjid dilakukan termasuk perampasan tanah para kiai. Bahkan pembunuhan pun dilakukan. Saat itu NU melakukan siaga penuh yang kemudian dibantu oleh GP Ansor dengan Banser sebagai pasukan khusus yang melindungi mereka. Lagi-lagi Kekejaman yang dilakukan PKI terhadap santri dan kiai dan kalangan TNI itu dianggap hanya manuver TNI AD.

Sejarah dibalik. Yang selama ini PKI bertindak sebagai pelaku kekejaman, diubah menjadi pihak yang menjadi korban kekejaman para ulama dan TNI. Lalu mereka membuat berbagai maneuver melalui amnesti internasional dan mahkamah internasional, termasuk Komnas HAM. Karena mereka pada umumnya tidak tahu sejarah, maka dengan mudah mempercayai pemalsuan sejarah seperti itu. Akhirnya kalangan TNI, pemerintah dan NU yang membela diri dan membela agama serta membela ideologi negara itu dipaksa minta maaf, karena dianggap melakukan kekejaman pada PKI.

PKI telah menciptakan suasana  sedemikian tegang ,sehingga sampai pada situasi to kill or to be killed (membunuh atau dibunuh), dalam sebuah  perang saudara. Oleh karena itu kalau diperlukan perdamaian maka keduanya bisa saling member maaf, bukan permintaan maaf sepihak sebagaimana mereka tuntut, karena justeru kesalahan ada pada mereka dengan melakukan agitasi serta teror bahkan pembantaian.

Pemahaman sejarah yang menyimpang ini harus diluruskan karena telah menyebar luas. Bahkan tidak sedikit kader NU yang berpandangan demikian, karena itu harus diluruskan, karena ini menyangkut peran politik NU ke depan.

Demi membangun Indonesia ke depan yang utuh dan tanpa diskriminasi NU bersedia memaafkan PKI sejauh mereka minta maaf. NU boleh memaafkan PKI tetapi sama sekali tidak boleh melupakan semua petualangan PKI, agar tidak terjerumus dalam lubang sejarah untuk ketiga kali. Dengan demikian bisa bersikap proporsional, bersahabat, bekerjasama dengan semua pihak, namun tetap menjaga keberadaan agama, keutuhan wilayah, komitmen ideologi serta keamanan negara.

Sumur Tua, Saksi Bisu Kekejaman PKI

Salah seorang korban PKI di sumur tua Cigrok adalah KH Imam Shofwan, pengasuh Pesantren Thoriqussu’ada Rejosari, Madiun. KH Shofwan dikubur hidup-hidup di dalam sumur tersebut setelah disiksa berkali-kali…

Di antara kegemaran PKI yang terkenal adalah membantai para korbannya di sumur tua, kemudian ditimbun dengan tanah. Di sejumlah tempat di Magetan dan Madiun, terdapat beberapa sumur-sumur tua yang menjadi tempat pembantaian.

Sumur Tua Desa Soco

Soco adalah sebuah desa kecil yang terletak hanya beberapa ratus meter di sebelah selatan lapangan udara Iswahyudi. Desa Soco termasuk dalam wilayah Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Dalam peristiwa berdarah pemberotakan PKI tahun 1948, Soco memiliki sejarah tersendiri.

Di desa inilah terdapat sebuah sumur tua yang dijadikan tempat pembantaian oleh PKI. Ratusan korban pembunuhan keji yang dilakukan PKI ditimbun jadi satu di lubang sumur yang tak lebih dari satu meter persegi itu.

Letak Soco yang strategis dan dekat dengan lapangan udara dan dipenuhi tegalan yang banyak sumurnya, menjadikan kawasan itu layak dijadikan tempat pembantaian. Apalagi desa ini juga dilewati rel kereta lori pengangkut tebu ke Pabrik Gula Glodok, Pabrik Gula Kanigoro dan juga Pabrik Gula Gorang-gareng. Gerbong kereta lori dari Pabrik Gula Gorang-gareng itulah yang dijadikan kendaraan mengangkut para tawanan untuk dibantai di sumur tua di tengah tegalan Desa Soco.

Di sumur tua desa Soco ditemukan tak kurang dari 108 jenazah korban kebiadaban PKI. Sebanyak 78 orang diantaranya dapat dikenali, sementara sisanya tidak dikenal. Sumur-sumur tua yang tak terpakai di desa Soco memang dirancang oleh PKI sebagai tempat pembantaian massal sebelum melakukan pemberontakan.

Beberapa nama korban yang menjadi korban pembantaian di Desa Soco adalah Bupati Magetan Sudibjo, Jaksa R Moerti, Muhammad Suhud (ayah mantan Ketua DPR/MPR, Kharis Suhud), Kapten Sumarno dan beberapa pejabat pemerintah serta tokoh masyarakat setempat termasuk KH Soelaiman Zuhdi Affandi, pimpinan Pondok Pesantren ath-Thohirin Mojopurno, Magetan.

Di Soco sendiri terdapat dua buah lubang utama yang dijadikan tempat pembantaian. Kedua sumur tua itu terletak tidak jauh dari rel kereta lori pengangkut tebu. Para tawanan yang disekap di Pabrik Gula Rejosari diangkut secara bergiliran untuk dibantai di Desa Soco. Selain membantai para tawanan di sumur Soco, PKI juga membawa tawanan dari jalur kereta yang sama ke arah Desa Cigrok. Kini, desa Cigrok dikenal dengan nama Desa Kenongo Mulyo.

Terungkapnya sumur Soco sebagai tempat pembantaian PKI bermula dari igauan salah seorang anggota PKI yang turut membantai korban. Selang seratus hari setelah pembantaian di sumur tua itu, anggota PKI ini mengigau dan mengaku ikut membantai para tawanan.

Setelah diselidiki dan diinterogasi, akhirnya dia menunjukkan letak sumur tersebut. Sekalipun letak sumur telah ditemukan, namun penggalian jenazah tidak dilakukan pada saat itu juga, tapi beberapa tahun kemudian. Hal ini disebabkan oleh kesibukan pemerintah RI dalam melawan agresi Belanda yang kedua.

Sekitar awal tahun 1950-an, barulah sumur tua desa Soco digali. Salah seorang penggali sumur bernama Pangat menuturkan, penggalian sumur dilakukan tidak dari atas, namun dari dua arah samping sumur untuk memudahkan pengangkatan dan tidak merusak jenazah. Penggali sumur dibagi dalam dua kelompok yang masing-masing terdiri dari enam orang.

Menurut Pangat, mayat-mayat yang dia gali pada waktu itu sudah dalam keadaan hancur lebur seperti tape ketela. Daging dan kulit jenazah hanya menempel sedikit diantara tulang-belulang. Di kedalaman sumur yang sekitar duabelas meter, regu pertama menemukan 78 mayat, sementara regu kedua menemukan 30 mayat. Semua jenazah dihitung hanya berdasarkan tengkorak kepala, karena tubuh para korban telah bercampur-aduk sedemikian rupa.

Sumur Tua Desa Bangsri

Diantara sejumlah sumur tempat pembantaian yang digunakan PKI di sekitar Magetan, sumur tua desa Bangsri merupakan tempat yang paling awal. Sumur tua ini terletak di tengah tegalan ladang ketela di Dukuh Dadapan. Sekitar 10 orang korban PKI dibantai di sini. Kebanyakan adalah warga biasa yang dianggap menentang atau melawan PKI.

Para korban pembantaian di Bangsri berasal dari Desa Selo Tinatah, dan berlangsung sebelum pemberontakan 18 September 1948 dimulai. Mereka yang tertangkap PKI kemudian ditahan di dusun Dadapan. Beberapa hari menjelang hari H pemberontakan, para tawanan pun disembelih di lubang pembantaian di tengah tegalan.

Sumur Tua Desa Cigrok

Sumur tua di Desa Cigrok ini hampir sama dengan sumur tua di Desa Soco, sama-sama tidak terpakai lagi. Sebagaimana kepercayaan masyarakat setempat yang pantang menimbun sumur setelah tidak digunakan lagi, sumur tua Desa Cigrok demikian pula. Tidak ditimbun, kecuali tertimbun sendiri oleh tanah.

Sumur tua Desa Cigrok terletak di rumah seorang warga desa bernama To Teruno. To Teruno sebenarnya bukanlah anggota PKI, justru dialah yang melaporkan kekejaman PKI di sumur miliknya itu kepada kepala desanya. Salah seorang korban PKI di sumur tua Cigrok adalah KH Imam Shofwan, pengasuh Pesantren Thoriqussu’ada Rejosari, Madiun. KH Shofwan dikubur hidup-hidup di dalam sumur tersebut setelah disiksa berkali-kali. Bahkan ketika dimasukkan ke dalam sumur, KH Imam Shofwan sempat mengumandangkan adzan. Dua putra KH Imam Shofwan, yakni Kyai Zubeir dan Kyai Bawani juga jadi korban dan dikubur hidup-hidup secara bersama-sama.

Sebanyak 22 orang yang menjadi korban pembantaian di sumur tua Desa Cigrok. Selain KH Imam Shofwan dan dua puteranya, terdapat pula Hadi Addaba dan Imam Faham dari Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran. Imam Faham adalah adik dari Muhammad Suhud, paman dari Kharis Suhud.

Imam sebenarnya ikut mengawal KH Imam Mursjid ketika diciduk dari pesantrennya, namun di tengah jalan mereka terpisah. Jenazah Imam Faham akhirnya ditemukan di sumur tua itu, sementara jenazah KH Imam Mursjid hingga kini belum ditemukan.

Sumur Tua Desa Kresek

Selain beberapa sumur di Magetan, tempat pembantaian korban kebiadaban PKI di Madiun juga ditemukan di sebuah lubang di Dusun Kresek, Desa Dungus. Di lubang pembantaian di tepi bukit ini ditemukan 17 jenazah. Mereka diantaranya adalah perwira militer, anggota DPRD, wartawan dan masyarakat biasa.

Pembantaian di dusun Kresek dilakukan PKI karena posisinya telah terjepit oleh pasukan Siliwangi. Sementara itu, mereka tersesat di Kresek dalam perjalanan menuju Kediri. Karena tidak sabar membawa tawanan sedemikian banyaknya, mereka pun melakukan pembantaian di tepi bukit lalu menimbunnya di sebuah sumur tua. Terungkapnya sumur ini sebagai tempat pembantaian bermula dari laporan seorang janda warga Desa Kresek yang mengaku melihat terjadinya peristiwa keji itu.

Kini, di Kresek telah dibangun monumen dan tugu peringatan atas kekejaman PKI pada tahun 1948 dulu. Sebagaimana monumen di Desa Soco, monumen keganasan PKI di Kresek juga dibangun untuk mengingat keganasan PKI dalam membantai lawan-lawan politiknya, dengan harapan paham itu tidak lagi bangkit kembali di bumi pertiwi.

Tragedi Pesantren Takeran

Aksi pemberontakan PKI dalam Madiun Affair 1948 menjadikan pesantren sebagai sasaran utama yang harus dibasmi. Sebab, pesantren dianggap sebagai basis kekuatan masyumi yang menjadi musuh besar PKI. Di lain pihak pada tahun-tahun menjelang pemberontakan PKI, pimpinan Uni Soviet Stalin sedang gencar mencengkeramkan kukunya pada umat Islam di Asia Tengah yang menyebabkab berjuta-juta umat islam terbunuh atau dibuang ke Siberia. Sebagai murid Stalin yang setia, Muso tidaklah berlebihan ketika memprioritas-kan aksinya di pesantren.

Sejarah telah mencatat kelicikan-kelicikan PKI yang menculik satu demi sartu pimpinan pesantren yang dianggap musuh. Yel-yel PKI adalah “Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati”. PKI memang berhasil melumpuhkan sejumlah pesantren di Magetan. Salah satu pesantren incaran PKI adalah Takeran. Pesantren ini secara geografis sangat dekat dengan Gorang Gareng sehingga dapat dikatakan bahwa pesantren Takeran adalah rangkaian pembantaian PKI yang terjadi di Gorang Gareng.

Pesantren Takeran atau dikenal dengan pesantren Sabilil Muttaqien dipimpin oleh Kiai Imam Mursjid Muttaqien yang masih berumur 28 tahun. Pesantern Takeran merupakan salah satu pesantren yang paling berwibawa di Magetan kerena pemimpinnya mempunyai pengaruh yang sangat besar karena Kyai Imam Mursjid juga bertindak sebagai Imam tarekat Syatariyah.

Pesantren menjadi musuh utama PKI karena dalam pesantren itu terdapat kekuatan yang sangat diperhitungkan yaitu di dalam pesantren Takeran mamang aktif melakukan penggemblengan fisik dan spiritual terhadap para santri. Pada tanggal 17 September 1948, tepatnya hari Jum’at Kiai Hamzah dan Kiai Nurun yang berasal dari Tulungagung dan Tegal Rejo pergi ke Burikan. Setelah kepergian mereka seusai sholat Jum’at, Kiai Imam Mursjid didatangi oleh tokoh-tokoh PKI. Saat itu Kiai Imam Mursjid diajak bermusyawarah mengenai republik Soviet Indonesia. Kepergian pemimpin pesantren mereka menimbulkan tanda tanya besar, dua hari kemudian keberadaan iai Imam Mursjid belum diketahui secara pasti. PKI terus melakukan penangkapan dan penculikan kepada ustadz-ustadz yang lain seperti Ahmad Baidway, Husein, Hartono, dan Hadi Addaba.

Mereka tidak pernah kembali. Bahkan sebagian besar ditemukan sudah menjadi mayat di lubang-lubang pembatantaian yang tersebar di berbagai tempat di magetan. Yang menimbulkan keheranan adalah sampai sekarang adalah tempat pembantaian Kiai Mursjid yang belum diketahui sampai sekarang karena mayatnya belum dapat ditemukan. Bahkan dari daftar korban yang dibuat PKI sendiri tidak tercantum nama Kiai Mursjid.

Ada saksi lain lagi bernama Sumarwanto yang memberi angka 700 orang korban PKI di hutan Gangsiran. Sumarwanto tidak tahu sendiri, Dia diberitahu bapaknya. Jadi angka pasti berapa isi ‘Ladang Pembantaian’ itu belum jelas karena belum pernah ada yang menggali dan menghitung jumlah mayat di dalamnya,..kecual kalau Kaderun, mertuanya Sukiman dan  bapaknya Sumarwanto adalah eksekutor PKI sehingga mereka tahu pasti jumlah angkanya.

Kabupaten Magetan selama ini sudah dikenal di dunia sebagai tempat beradanya Lubang-lubang Sumur Pembantaian (Killing Holes) dan “Ladang Pembantaian” (Killings Fields) sebagaimana dicatat dalam buku “Lubang-lubang Pembantaian: Pemberontakan FDR/PKI 1948 di Madiun”  ditulis Maksum – Agus Sunyoto – Zainuddin terbitan Grafiti Press (1990); Peristiwa Coup berdarah PKI 1948 di Madiun  ditulis Pinardi terbitan Inkopak-Hazera (1967); Pemberontakan Madiun: Ditinjau dari hukum negara kita ditulis Sudarisman Purwokusumo terbitan Sumber Kemadjuan Rakjat (1951); De PKI in actie: Opstand of affaire (Madiun 1948: PKI Bergerak)  ditulis Harry A.Poeze terbitan KITLV-Yayasan Obor (2011).”

Jadi sebenarnya sumur-sumur “neraka” dan “Ladang Pembantaian” di Magetan itu sejatinya  isinya orang-orang yang dibunuh oleh PKI. Itu faktanya! . Ada banyak jumlah sumur-sumur “neraka” dan “Ladang Pembantaian” karya PKI di Magetan itu. Yang sudah ditemukan ada 7 sumur “neraka” dan 1 “Ladang Pembantaian”, yaitu: 1. sumur tua  Desa Dijenan, Kec.Ngadirejo, Kab.Magetan; 2.Sumur tua I Desa Soco, Kec.Bendo, Kab.Magetan; 3.Sumur tua II Desa Soco, Kec.Bendo, Kab. Magetan; 4. Sumur tua Desa Cigrok, Kec.Kenongomulyo, Kab.Magetan; 5. Sumur tua Desa Pojok, Kec.Kawedanan, Kab.Magetan; 6. Sumur tua Desa Batokan, Kec.Banjarejo, Kab. Magetan; 7. Sumur tua .Desa Bogem, kec.Kawedanan, Kab.Magetan; satu lokasi yang digunakan membantai musuh-musuh PKI adalah ruangan kantor dan halaman  Pabrik Gula Gorang-Gareng di Magetan.

Waktu sumur-sumur “neraka” itu dibongkar tahun 1950, yang menyaksikan berpuluh ribu warga kabupaten dari berbagai desa terutama keluarga-keluarga yang mencari anggota keluarganya yang hilang diculik PKI. Begitulah, puluhan ribu warga Magetan menjadi saksi kejahanaman PKI yang memasukkan korban-korban kebiadaban mereka ke sumur-sumur “neraka” itu. Jumlah korban dihitung. Diotopsi. Semua terdata rapi. Sebagian besar masih dikenali keluarga maupun tim dokter.

Siapa saja kira-kira mereka yang dibantai PKI dan dimasukkan di sumur-sumur “neraka” itu?

Inilah data dari sumur “neraka” I di Desa Soco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan yang berisi 108 mayat, yaitu:  Soehoed; R. Moerti. Kepala Pengadilan Magetan; Mas Ngabehi Soedibyo. Bupati Magetan; R. Soebianto, sekretaris kabupaten Magetan; R. Soekardono, Patih Magetan; Soebirin; Imam Hadi; R. Joedo Koesoemo; Soemardji; Soetjipto; Iskak; Soelaiman; Hadi Soewirjo; Soedjak; Soetedjo;Soekadi; Imam Soedjono; Pamoedji; Soerat Atim; Hardjo Roedino; Mahardjono; Soerjawan; Oemar Danoes; Soehari; Mochammad Samsoeri; Soemono; Karyadi; Soedradjat; Bambang Joewono; Soepaijo; Marsaid; Soebargi Haroen Ismail; Soejadijo; Ridwan; Marto Ngoetomo; Hadji Afandi; Hadji Soewignjo; Hadji Doelah; Amat Is; Hadji Soewignyo; Sakidi; Nyonya Sakidi; Sarman; Soemokidjan; Irawan; Soemarno; Marni; Kaslan; Soetokarijo; Kasan Redjo; Soeparno; Soekar; Samidi; Soebandi; Raden Noto Amidjojo; Soekoen; Pangat B; Soeparno; Soetojo; Sarman; Moekiman; Soekiman; Pangat/Hardjo; Sarkoen B; Sarkoen A; Kasan Diwirjo; Moeanan; ada sekitar 40 mayat tidak dikenali karena bukan orang Magetan.

Dalam peristiwa biadab itu ada kyai-kyai yang dibunuh PKI. Inilah data dari sumur “neraka” II Desa Soco, Kecamatan Bendo, kabupaten Magetan yang berisi 22 mayat, yaitu: R.Ismiadi, Kepala Resort Polisi Magetan; R.Doerjat, Inspektur Polisi Magetan; Kasianto, anggota Polri; Soebianto, anggota Polri; Kholis, anggota Polri; Soekir, anggota Polri; Bamudji, Pembantu Sekretaris BTT; Oemar Damos, Kepala Jawatan Penerangan Magetan; Rofingi Tjiptomartono,Wedana Magetan; Bani, APP.Upas; Soemingan, APP.Upas; Baidowi, Naib Bendo; Reso Siswojo, Guru; Kusnandar, Guru; Soejoedono, Adm PG Rejosari; Kjai Imam Mursjid Muttaqin, Mursyid Tarikat Syattariyah Pesantren Takeran; Kjai Zoebair; Kjai Malik; Kjai Noeroen; Kjai Moch.Noor.”

Bacalah! Kisah 2 Kyai Gontor Selamat dari Pembantaian PKI

Ketua Dewan Penasehat Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Ridwan menceritakan kekejaman PKI kepada para hadirin di acara Simposium Nasional “Mengamankan Pancasila dari PKI” di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Rabu (01/06/2016).

Dia mendapat cerita langsung tentang kekejaman lambang palu arit tersebut dari salah satu gurunya, yaitu Imam Sumatri ketika dia masih nyantri di Pondok Pesantren Modern, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.

“Madiun adalah kampung halamannya PKI, ketika itu saya duduk di kelas 6 akhir, Bapak Imam Sumatri guru saya di Pondok Pesantren Gontor bercerita dengan serius bahwa tahun 1948 terjadi pemberontakan PKI di Madiun, Beliau bercerita bahwa Kyai Gontor KH Imam Zarkasih dan KH Muhammad Sahal ditangkap oleh PKI,” kenangnya.

Mereka berdua, lanjut Kyai Cholil, ditempatkan di suatu rumah dan rumah tersebut sekaligus digunakan untuk tempat jagal para kiyai, ulama, sekaligus ustadz yang menjadi tahanan PKI.

“Tiap pagi diabsen dan nama yang disebut langsung disembelih, Kyai Zarkasih dan Kyai Sahal sudah terdaftar dalam penyembelihan tersebut, akhirnya terjadilah dialog antara kedua belah pihak,” lanjutnya.

“Zar, kalau nanti nama kamu dipanggil aku yang maju, biar kamu tetap hidup memimpin pondok,” ujar Kyai Sahal kepada Kyai Zarkasih.  Kyai Zarkasih pun langsung menolak, “Ini tanggung jawab saya, saya tetap yang maju,” kenangnya sambil menahan tangis.

Keduanya pun, lanjut Kyai Cholil, terlibat perdebatan antara Kyai Sahal dan Kyai Zarkasih. Kedua belah pihak saling bersikeras dan tidak ada yang mau mengalah.

“Alhamdulillah, ada seorang santri dari Pacitan, beliau mengatakan sudahlah Kyai Sahal, Kyai Zarkasi, kalau nanti Kyai Zarkasi dipanggil biar saya yang maju,” lanjutnya. Belakangan diketahui, lanjut Kyai Cholil, orang itu adalah santrinya Kyai Sahal.

Kendati demikian, penyembelihan terhadap dua kiai tersebut tidak jadi dilakukan karena prajurit dari Batalyon Siliwangi segera merapat ke Madiun.

“Alhamdulillah belum sempat terjadi pembantaian terhadap Kyai Gontor tersebut, datanglah tentara Siliwangi dari Jawa Barat yang berjalan kaki ke Madiun dipimpin oleh Kolonel Masudi dan berhasil membebaskan para ulama yang sedang ditahan tersebut. Kyai Sahal dan Kyai Zarkasi kembali ke pondok sampai wafat 1970,” tandasnya.

Selanjutnya, Kyai Cholil juga bercerita bahwa pada tahun 1957, ada perkumpulan ulama se-Indonesia mengeluarkan fatwa bahwa ideologi komunisme dilarang.

“(Tahun) 1957 saya ketahui bahwa ada berita di Palembang ulama Indonesia berkumpul mengeluarkan fatwa bahwa ideologi komunisme haram, umat Islam yang mengikuti ideologi komunis dianggap murtad, dan haram masuk partai PKI, sampai pada dilarangnya perkawinan antara seorang muslim dengan keluarga PKI,” bebernya.

Kyai Cholil Usulkan Sejarah Pemberontakan PKI Kembali Diajarkan di Sekolah Dasar

Sejumlah elemen umat Islam yang tergabung dalam Umat Islam Bersatu (UIB), pada Kamis (01/10/2015) menggelar acara Ziarah dan Doa guna memperingati pengkhianatan PKI (Partai Komunis Indonesia) terhadap NKRI.

Acara yang berlangsung di Lubang Buaya, Pondok Gede, pada Kamis (01/10) beberapa tokoh sebagai pembicara. Di antaranya adalah ulama Betawi, KH Ahmad Cholil Ridwan.

Pimpinan Pondok Pesantren Husnayain ini menyatakan, Partai Komunis adalah partai pemberontak.

“Bukanlah Partai Komunis, kalo tidak memberontak. Partai yang akan merebut kekuasaan dengan segala cara,” paparnya.

Kyai Cholil juga membeberkan supaya film G30S/PKI diputar kembali. Ia bahkan menuding siapapun yang tidak setuju dengan pemutaran film ini bisa jadi dia adalah simpatisan PKI.

“Saya usul agar film G30S/PKI selalu diputar. Kalau ada orang yang tidak setuju dengan pemutaran film, maka dia adalah simpatisan,” ujarnya.

Di sisi lain juga, Kyai Cholil menyatakan keprihatinannya atas dihapusnya sejarah pemberontakan PKI pada buku-buku sejarah tingkat sekolah dasar dan menengah.

“Di SD-SD dan SMP-SMP, sejarah pemberontakan sudah dihapus. Perlu diadakan penulisan pemberontakan PKI, dan dimasukkan kembali di buku sejarah,” pungkasnya.


Selanjutnya: Waspadai Kebangkitan PKI (bagian 4)

Iklan

One response »

  1. […] Sebelumnya: Waspadai Kebangkitan PKI (bagian 3) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s