Waspadai Kebangkitan PKI

Partai Komunis Indonesia
Pendiri Henk Sneevliet
Didirikan Mei 1914
Kantor pusat Jakarta
Surat kabar Soeara Rakjat
Harian Rakjat
Sayap pelajar CGMI
Sayap pemuda Pemuda Rakyat
Sayap perempuan Gerwani
Sayap buruh SOBSI
Sayap petani BTI
Keanggotaan  (1960) 3 juta
Ideologi Komunisme,
Marxisme-Leninisme
Afiliasi internasional Komintern (sampai 1943)
Warna resmi Merah
Simbol pemilu
Palu arit
Politik Indonesia
Partai politik
Pemilihan umum

Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah partai politik di Indonesia. PKI adalah partai komunis non-penguasa terbesar di dunia setelah Rusia dan Tiongkok sebelum akhirnya PKI dihancurkan pada tahun 1965 dan dinyatakan sebagai partai terlarang pada tahun berikutnya.

Screenshot_2016-06-07-22-00-11_1

Img Src: wikipedia

Seorang sosialis Belanda Henk Sneevliet dan Sosialis Hindia lain membentuk tenaga kerja di pelabuhan pada tahun 1914, dengan namaIndies Social Democratic Association (dalam bahasa Belanda: Indische Sociaal Democratische Vereeniging-, ISDV). ISDV pada dasarnya dibentuk oleh 85 anggota dari dua partai sosialis Belanda, SDAP dan Partai Sosialis Belanda yang kemudian menjadi SDP komunis, yang berada dalam kepemimpinan Hindia Belanda.

Para anggota Belanda dari ISDV memperkenalkan ide-ide Marxis untuk mengedukasi orang-orang Indonesia mencari cara untuk menentang kekuasaan kolonial.

Pada Oktober 1915 ISDV mulai aktif dalam penerbitan surat kabar berbahasa Belanda, “Het Vrije Woord” (Kata yang Merdeka). Editornya adalah Adolf Baars. Pada saat pembentukannya, ISDV tidak menuntut kemerdekaan untuk Indonesia. Pada saat itu, ISDV mempunyai sekitar 100 orang anggota, dan dari semuanya itu hanya tiga orang yang merupakan warga pribumi Indonesia. Namun, partai ini dengan cepat berkembang menjadi radikal dan anti kapitalis. Tapi berubah ketika Sneevliet memindahkan markas mereka dari Surabaya ke Semarang dan menarik banyak penduduk asli dari berbagai elemen seperti agama, nasionalis dan aktivis gerakan lainnya yang akhir-akhir ini tumbuh di Hindia Belanda sejak tahun 1900. Di bawah pimpinan Sneevliet partai ini merasa tidak puas dengan kepemimpinan SDAP di Belanda, dan yang menjauhkan diri dari ISDV dan menolak untuk bekerja sama dengan pemerintah karena menolak “berpura-pura” menjadi Dewan Masyarakat (VolksraadVolksraad (Hindia Belanda). Pada tahun 1917 kelompok reformis dari ISDV memisahkan diri, dan membentuk partai sendiri dengan nama Partai Demokrat Sosial Hindia. Pada tahun 1917 ISDV meluncurkan sendiri publikasi pertama berbahasa Indonesia,Soeara Merdeka.

Di bawah kepemimpinan Sneevliet, ISDV yakin bahwa Revolusi Oktober seperti yang terjadi di Rusia harus diikuti di Indonesia. Kelompok ini berhasil mendapatkan pengikut di antara tentara-tentara dan pelaut Belanda yang ditempatkan di Hindia Belanda. Dibentuklah ‘Pengawal Merah’ dan dalam waktu tiga bulan jumlah mereka telah mencapai 3.000 orang. Pada akhir 1917, para tentara dan pelaut itu memberontak di Surabaya, sebuah pangkalan angkatan laut utama di Indonesia saat itu, dan membentuk sebuah dewan soviet. Para penguasa kolonial menindas dewan-dewan soviet di Surabaya dan ISDV. Para pemimpin ISDV dikirim kembali ke Belanda, termasuk Sneevliet. Para pemimpin pemberontakan di kalangan militer Belanda dijatuhi hukuman penjara hingga 40 tahun.[butuh rujukan]

Sementara itu, ISDV membentuk blok dengan organisasi anti-kolonialis Sarekat Islam. Banyak anggota SI seperti dari Surabaya,Semaun dan Darsono dari Solo tertarik dengan ide-ide Sneevliet. Sebagai hasil dari strategi Sneevliet akan “blok dalam”, banyak anggota SI dibujuk untuk mendirikan revolusioneris yang lebih dalam Marxis-didominasi Sarekat Rakjat.

ISDV terus bekerja secara klandestin. Meluncurkan publikasi lain, Soeara Rakyat. Setelah kepergian paksa beberapa kader Belanda, dalam kombinasi dengan pekerjaan di dalam Sarekat Islam, keanggotaan telah berpindah dari mayoritas Belanda ke mayoritas Indonesia. Pada tahun 1919 hanya memiliki 25 anggota Belanda, dari total anggota yang kurang dari 400.[butuh rujukan]

Pada malam 30 September dan 1 Oktober 1965, enam jenderal senior Indonesia dibunuh dan mayat mereka dibuang ke dalam sumur. Pembunuh para jenderal mengumumkan keesokan harinya bahwa Dewan Revolusi baru telah merebut kekuasaan, yang menyebut diri mereka “Gerakan 30 September (“G30S”). Dengan banyaknya jenderal tentara senior yang mati atau hilang, Jenderal Suharto mengambil alih kepemimpinan tentara dan menyatakan kudeta yang gagal pada 2 Oktober. Tentara dengan cepat menyalahkan upaya kudeta PKI dan menghasut dengan kampanye propaganda anti-Komunis di seluruh Indonesia. Bukti yang mengaitkan PKI untuk pembunuhan para jenderal tidak meyakinkan, yang mengarah ke spekulasi bahwa keterlibatan mereka sangat terbatas, atau bahwa Suharto mengorganisir peristiwa, secara keseluruhan atau sebagian, dan mengkambinghitamkan kepada komunis.[butuh rujukan] Dalam pembersihan anti-komunis melalui kekerasan berikutnya, diperkirakan 500.000 komunis (atau dicurigai) dibunuh, dan PKI secara efektif dihilangkan (lihat Pembantaian di Indonesia 1965–1966). Jenderal Suharto kemudian mengalahkan Sukarno secara politik dan diangkat menjadi presiden pada tahun 1968, karena mengkonsolidasikan pengaruhnya atas militer dan pemerintah.

Pada tanggal 2 Oktober basis di Halim berhasil ditangkap oleh pihak tentara. Harian Rakyat mengambil isu pada sebuah artikel yang berisi untuk mendukung kudeta G30S, tetapi spekulasi kemudian bangkit mengenai apakah itu benar-benar mewakili pendapat dari PKI.[siapa?] Sebaliknya pernyataan resmi PKI pada saat itu adalah bahwa upaya G30S merupakan urusan internal di dalam angkatan bersenjata mereka. Pada tanggal 6 Oktober kabinet Sukarno mengadakan pertemuan pertama sejak 30 September. Menteri PKI hadir. Sebuah resolusi mengecam G30S disahkan. Njoto ditangkap langsung setelah pertemuan itu.

Presiden Soekarno berkali-kali melakukan pembelaan bahwa PKI tidak terlibat dalam peristiwa sebagai partai melainkan karena adanya sejumlah tokoh partai yang bertindak di luar kontrol dan terpancing oleh inisiasi Barat, dan karena itu Soekarno tidak akan membubarkan PKI. Kemudian, pimpinan dan sejumlah perwira Angkatan Darat memberi versi keterlibatan PKI sepenuhnya, dalam penculikan dan pembunuhan enam jenderal dan seorang perwira pertama Angkatan Darat pada tengah malam 30 September menuju dinihari 1 Oktober 1965. Versi ini segera diterima secara umum sesuai fakta kasat mata yang terhidang dan ditopang pengalaman buruk bersama PKI dalam kehidupan sosial dan politik pada tahun-tahun terakhir. Hanya saja harus diakui bahwa sejumlah perwira penerangan telah menambahkan dramatisasi terhadap kekejaman, melebihi peristiwa sesungguhnya (in factum). Penculikan dan kemudian pembunuhan para jenderal menurut fakta memang sudah kejam, tetapi dramatisasi dengan pemaparan yang hiperbolis dalam penyajian, telah memberikan efek mengerikan melampaui batas yang mampu dibayangkan semula. Dan akhirnya, mengundang pembalasan yang juga tiada taranya dalam penumpasan berdarah antar manusia di Indonesia.

Manifestasi besar diadakan di Jakarta dua hari kemudian, menuntut pelarangan PKI. Kantor utama milik PKI dibakar. Pada tanggal 13 Oktober organisasi Islam Ansor mengadakan aksi unjuk rasa anti-PKI di seluruh Jawa. Pada tanggal 18 Oktober sekitar seratus PKI dibunuh oleh pihak Ansor. Pemusnahan secara sistematis untuk partai telah dimulai.

Antara 300.000 sampai satu juta orang Indonesia dibunuh dalam pembunuhan massal yang digelar. Para korban termasuk juga non-komunis yang dibunuh karena kesalahan identitas atau “kesalahan oleh asosiasi”. Namun, kurangnya informasi menjadi tidak mungkin untuk menentukan angka pasti dari jumlah korban yang dibunuh. Banyak para peneliti hari ini menjelaskan korban yang dibunuh antara 200.000 sampai 500.000 orang. Sebuah studi dari CIAtentang peristiwa di Indonesia ini menilai bahwa “Dalam hal jumlah korban pembantaian oleh anti-PKI, Indonesia masuk dalam salah satu peringkat pembunuhan massal terburuk pada abad ke-20 …”.

Pemilik Toko di Blok M Menjual Kaos PKI

06-07-08.27.42

Tim aparat gabungan Polda Metro Jaya dan Intelgab Kodam Jaya menangkap pemilik toko di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Ahad (8/5) sore. Penjual kaus berinisial MI tersebut diseret ke kepolisian lantaran menjual kaus Partai Komunis Indonesia (PKI), yang bergambar palu dan arit.

Aparat kepolisian dan TNI tersebut melaporkan bahwa pada pukul 16.30 hingga 18.00 WIB, penjual dan toko penjual kaus kreator telah diamankan di More Shop, Blok M Square lantai 1, Blok A No 29-30, dan Toko More Shop Blok M Mall LA 62, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Berdasarkan keterangan karyawan toko yang juga menjadi saksi, Anggi (19 tahun), kaus bergambar logo PKI itu sudah di jual di More Shop Blok M Square sejak kurang lebih tiga bulan yang lalu. Dia mengaku melihat kaus itu dijual semenjak bekerja kepada pemilik toko, MI.

Dalam penangkapan ini, tim gabungan mengamankan barang bukti berupa satu lusin kaos kreator berlogo palu dan arit. Sementara, MI langsung dibawa ke Polsek Kebayoran Baru guna penyelidikan lebih lanjut. Polsek Kebayoran Baru belum memberikan keterangan mengenai kasus ini, seperti tentang dasar penyitaan dan lain-lain.

Sebagai informasi, penemuan beredarnya kaus bergambar palu dan arit ini terjadi tepat sehari sebelum hari ulang tahun PKI. Hari ulang tahun PKI sendiri jatuh pada hari Senin (9/5/2016).

Kebangkitan Komunis Indonesia Dalam Lingkaran Jokowi

Screenshot_2016-06-07-21-18-28_1

Membongkar… Benarkah Terjadi Kebangkitan Komunis Indonesia Dalam Lingkaran Jokowi?

Menguatnya faksi komunis di internal PDIP & rencana besar mereka kuasai RI. Bahaya komunisme atau paham komunis tidak boleh dianggap enteng, jagan diremehkan. Komunis tidak pernah mati. Mereka hanya tiarap sementara.
 
Komunisme sempat “mati suri” pasca runtuhnya uni sovyet dan komunisme eropa timur. Tapi komunisme china makin kuat & bermetamorfosis. Komunisme Indonesia sama saja. Tidak pernah mati. Mereka kini bangkit kembali, menguat, menyusup kemana-mana, termasuk ke PDIP dan Pilpres.
 
Kebangkitan kembali komunisme Indonesia sedang terjadi. Mereka siap-siap merebut kekuasaan tanpa disadari rakyat Indonesia. Apa buktinya? Bukti 1. kebangkitan komunisme Indonesia, dapat disaksikan dgn banyaknya acara-acara dan kegiatan-kegiatan yang secara terbuka mengusung isu komunisme.
 
Budiman Sujatmiko, Rieke “Oneng” Pitaloka, Ribka Tjiptaning, Adian Napitupulu dll, gencar bikin acara-acara usung dan sosialisasikan komunisme. Celakanya, banyak aktifis, tokoh-tokoh, politisi-politisi, akademisi, bahkan ulama, tanpa sadar ikut terlibat dan membantu gerakan komunis ini. Mereka sadar atau tanpa sadar mendukung bangkitnya komunis Indonesia yang membonceng isu HAM, demokrasi, hak-hak buruh, anti SARA dst.
 
Komunis Indonesia mendapat angin hidup kembali ketika Presiden Gus Dur intensif kampanyekan pencabutan TAP MPR Pelarangan Komunisme /PKI. Ditambah lagi sikap dan pandangan keliru banyak Tokoh Indonesia, yang menyamakan larangan terdhadap komunisme sebagai pelanggaran HAM & demokrasi.
 
Komunisme yang agung-agungkan ateisme, selalu benturkan agama vs negara, raih kekuasaan melalui cara-cara kekerasan = anti Pancasila dan anti agama. Paham komunis era pasca kemerdekaan beda degan komunisme era pra kemerdekaan, dimana saat itu tokoh-tokoh komunis banyak yang kuat agamanya.
 
Paska kemerdekaan, menguatnya komunisme Soviet dan China, komunis “hijau” sudah lenyap. Yang dominan adalah komunis merah. Musuh Pancasila. Pada 1945 – 1965 komunis menyusup ke TNI, berkuasa di Birokrasi, dominan politik, berpengaruh terhadap Presiden dan meraih simpati rakyat.
 
Kini, komunisme Indonesia mendapat dukungan dari sejumlah jendral purnawirawan, eksis di politik, dan mulai meraih simpati rakyat. Sejumlah jendral purn binaan atau kader LB Moerdani memanfaatkan tokoh-tokoh komunis Indonesia untuk mewujudkan rencana mereka = hancurkan Islam.
 
Upaya hancurkan Islam adalah bagian dari rencana menguasai Indonesia. Karena Islam adalah kekuatan riel di Indonesia, bersama TNI/Polri.
 
Anda dapat lihat bagaimana maraknya sentimen anti islam dilancarkan melalui konspirasi global, agen-agennya AWaS, kader-kader Moerdani & komunis. Lihat bagaimana oknum-oknum KPK ditunggangi mereka untuk menghancurkan simbol-simbol islam melalui kasus-kasus korupsi yang melibatkan tokoh partai islam.
 
Anda lihat bgmn media-media massa dimanfaatkan utk membonsai tokoh-tokoh islam dan mengorbitkan tokoh-tokoh sekuler sebagai IKON di tengah-tengah masyarakat. Anda lihat bagamana media massa sangat gencar mengeksploitasi aib para ulama, ustad dan tokoh islam, baik yg riel atau pun jadi-jadian. Karena Indonesia sekarang anut demokrasi liberal dimana kekuasaan harus diraih melalui partai politik, aktifis-aktifis komunis ramai-ramai masuk partai.
 
Partai yang paling mengakomodir para tokoh-tokoh komunis ini adalah PDIP. Karena romantisme sejarah atau pun karena pertimbangan praktis. Tokoh-tokoh eks PRD, FORKOT dan ormas-ormas lain berpaham kiri, sosialis utopis, komunis, ramai-ramai masuk PDIP. Sekarang mereka mau kuasai PDIP.
 
Faksi komunis di PDIP semakin menguat ketika PDIP bekerjasama dengan Partai Komunis China (PKC). PDIP mengirim kader-kadernya belajar ke PKC. Sedikitnya tiga kali atau 3 gelombang pengiriman kader-kader PDIP belajar PKC China. Disana mereka belajar & merevitalisasi ideologi komunis.
 
Ini delegasi ketiga >> 15 Kader PDIP studi di Partai Komunis China | http://t.co/ANM5lrOxHdhttp://t.co/QcIRr3YZ2X lewat @merdekadotcom
 
Sebentar lagi PDIP akan dirikan sekolah Partai. Sebagai follow up hasil studi di Partai Komunis China. Waspadalah http://t.co/YoSy63UsKw
 
Kerjasama PDIP dan Partai Komunis China ini sudah terjalin serius sejak 2011 laluhttp://t.co/ptjuaEwN4y
 
Kebangkitan Komunisme Indonesia dapat dicermati dari statement
politisi senior PDIP alumnus Partai Komunis China Eva K Sundari akhir-akhir ini.
 
Screenshot_2016-06-07-21-18-28_2
 
Eva K Sundari berani serukan:
  1. “kader PDIP wajib awasi & inteli kutbah Shalat Jumat”
  2. “Situs Islam lebih bahaya daripada situs porno”
Kita tunggu, apakah Eva K Sundari cs berani serukan:
  1. “Islam agama paling berbahaya di Indonesia”
  2. “Umat Islam Indonesia = teroris”
Budiman Sudjatmiko terbang ke Timor Leste temui tokoh partai komunis Fretilin Mari Alkatiri minta dukungan untuk capres Jokowi. Ribuan warga Giriroto Ngemplak Boyolali, Napak Tilas beri dukungan capres Jokowi. Giriroto Boyolali Basis PKI http://t.co/1iv6TNGWSa
 
Boyolali adalah Basis Terbesar dan Terkuat PKI tahun 60an. Disanalah Pemuda Rakyat, Gerwani, BTI, Girwis, dan ormas-ormas sayap PKI dilatih. Boyolali pusat pengasingan Pasukan Tentara Rakyat dari Batalion Pasopati, yang berontak dan perangi TNI – Pemerintah pasca rasionalisasi Segitiga Klaten – Solo – Boyolali adalah daerah Basis PKI terkuat dan terbesar di Indonesia. Pusat gerakan komunis. Kini bangkit kembali. Tokoh sesepuh komunis Boyolali, bernama Mbah Pardi pensiunan polisi, kini aktif kembali membina kader-kader muda PKI.
 
Celakanya, para satgas PDIP Solo dibentuk dan diberi pembekalan pemantapan ideologi oleh Mbah Pardi cs ini. Waspadalah !! Bahkan tanpa diketahui rakyat dan aparat, Partai Komunis Indonesia (PKI) Boyolali pun sudah dirikan dan dilantik http://t.co/1pcmcH68Dx
 
PKI nyamar jadi komunitas spiritualis jawa yang menyebut dirinya Komunitas Gondosuli (KG). Mereka rutin rapat-rapat gelap sebarkan komunisme. Hasil pengamatan kami, komunitas Gondosuli ini adalah bagian dari faksi komunis aliran sovyet yang bergerilya di bawah tanah/klandestain.
 
Komunitas Gondosuli jadi kader inti PKI, mereka menyebar kemana-mana : jadi ketua tim sar merapi, jadi kuncen, jadi politisi PDIP dst. Para sesepuh PKI lainnya menyebar dan membaur di sekitar Kota Solo di daerah Joglo Kadipiro, Pajang dst. Di Kota Klaten juga membaur.
 
Tokoh2 PKI ini berkumpul rutin setiap peringatan G30SPKI, berziarah di lokasi pembantaian PKI dulu, Jembatan Bacem, di selatan Kota Solo.

Bagaimana kekuatan PKI di Kota Solo SEKARANG ini?

Mari kita ungkap dan bongkar tuntas. Kebangkitan PKI Solo terkait dengan lengsernya Walikota Solo Slamet Suryanto, yang didukung faksi komunis di PDIP Solo. Tokoh / Kader PDIP yang terkuat menggantikan Slamet Suryanto dan ikut Pilwakot adalah FX Rudyatmo. Namun terbentur agama. Rudy Katolik.

 
Jika dipaksakan maju sebagai Calon walikota, Rudy pasti kalah. Maka dicarilah figur lain untuk jadi calon walikota. Ditemukanlah Joko Widodo.

Siapa yang usulkan nama Joko Widodo pertama kali?

Namanya Heru, anggota BIN Jateng, kakak Bupati Boyolali Seno Samudro.

Siapa kepala BIN saat itu?

Namanya Jend Purn Hendropriyono.

Apa hubungannya?

Maka direstuilah Jokowi dan FX Rudyatmo oleh PDIP Solo terutama oleh Faksi Komunis untuk maju di Pilwalkot Solo thn 2005 lalu. faksi komunis di PDIP Solo itu nyaru / nyamar jadi Faksi Katolik di PDIP Solo. Sudah jadi rahasia umum di Solo.

Siapa ketua Timsesnya?

Namanya Michael BIMO Putranto yg adalah “Presiden Pasopati” BIMO PUTRANTO anak Slamet Suryanto eks walikota Solo. Jadi tertawa sendiri ingat Jokowi bilang ke rakyat “Saya Ga Kenal Bimo Putranto. Banyak yang ngaku-ngaku dekat sama saya.
 
Bimo Putranto orang yang sangat berjasa besar pada Jokowi, dia ditugaskan bapaknya (eks walikota Solo) untuk minta restu ke Heru & Seno. Di samping menjabat Presiden Pasopati, Bimo juga Ketua “Jong Indonesia “ Solo. Grup Preman yang menjadi kaki tangan Walikota Solo.
 
Jadi, ketika menjabat Walikota Solo, Jokowi sebenarnya hanya jongos Heru, Seno, Slamet Suryanto, Bimo cs Faksi Komunis di PDIP. Walikota Solo Defacto ya FX Rudy Rudiatmo. Jokowi hanya boneka mereka dan tugasnya blusukan kemana-mana, sekalian membangun pencitraan semu.
 
Rudy di dukung seorang preman tua Pur Wisanggeni, dulu pemilik perjudian besar di Solo Barat yaitu judi capjikia wisanggeni. Selain itu, Jokowi dan Rudy juga didukung penuh eks ormas komunis cina solo: Hoo Hap organisasi persaudaraan rahasia etnis china. Pastinya rakyat Solo ga tahu ormas “Hop Hap” Karena ini organisasi cina rahasia, klandestain.

Kalau PMS kenal ga? Tahu ga? PMS: Perkumpulan Masyarakat Surakarta. Pasti warga Solo tahu PMS ini. Tapi tahu ga?

PMS adalah kamuflase Hop Hap ! Jadi, PETA KEKUATAN KOMUNIS Di SOLO menyebar di PDIP dan ormas-ormas kamuflase – nya.

Sudahkah anda jadi komunis hari ini?


Jokowi Hasil Permainan Kotor, Antara Konspirasi Asing dan Para Bandit

image

Voa-islam.com melakukan wawancara dengan Dr. Sri Bintang Pamungkas, di kediamannya, di Cibubur Jakarta Timur. Ketua PUDI (Partai Uni Demokrasi Indonesia), memberikan pandangan tentang Jokowi dengan lugas. Inilah wawancara Dr.Sri Bintang Pamungkas :

Voa-Islam : Bagaimana lima tahun ke depan pemerintahan Jokowi?

Sri Bintang Pamungkas : Tidak ada pemerintahan Jokowi. Jokowi nggak dilantik. Harus dijatuhkan. Jokowi hasil permainan kotor,  dagang sapi dan konspirasi asing dan ‘bandit-bandit’ domestik. Jokowi sudah dipersiapkan lama oleh mereka ini.

Voa-Islam : Apa buktinya Jokowi hasil konspirasi asing?

Sri Bintang Pamungkas : Ini bisa dilihat, sesudah Prabowo membentuk  ‘Tim Hukum’, yang menggugat hasil pilpres terhadap KPU maupun MK (Mahkamah Konstitusi), Mega dan JK melakukan kunjungan ke Washington. Memberikan laporan kepada ‘tuannya’ di AS. Konspirasi ini sudah terjadi beberapa kali. Ini bukan pertama kalinya.

Hal ini, terjadi pula, Agustus, tahun 2003, SBY yang sangat mencintai AS, menganggap AS sebagai ‘tuannya’, dan SBY merasa bisa menjadi presiden, karena dukungan AS. SBY memohon kepada AS dukungan. SBY menjual dirinya. Karena dalam benak SBY, hanya dengan dukungan AS, dia bisa jadi presiden. SBY merasa, “Negara saya Indonesia. Tapi, rumah saya AS”.

Pikiran ‘inlander’ (terjajah) juga menguasai diri Mega dan Jokowi. Kemudian, Mega dan JK ditemani para ‘bandit-bandit’ pergi ke AS. Mega dan JK, meminta dukungan AS. Karena, Prabowo menggugat hasil pilpres ke KPU dan MK. Jiwa budak dan inlander (terjajah) melekat dalam diri Mega. Dia bukan seorang nasionalis, seperti Soekarno.

Voa-Islam : Apa yang dilakukan Mega selama di AS?

Sri Bintang Pamungkas : Di AS, Mega bertemu dengan Presiden AS Obama, Perdana Menteri Inggris David Cameron, dan Presiden Cina Xi Jinping. Bahkan, ada yang menyaksiakan pertemuan itu, disaksikan oleh mantan Presiden Bill Clinton. Pertemuan berlangsung bersama-sama. Pertemuan itu, yang memfasilitasi salah satu ‘bandit’ Indonesia. Tentu, yang lebih memprihatinkan lagi, di Washington DC itu, hadir salah satu hakim MK. Ini benar-benar konspirasi.

Voa-islam.com : Bagaimana bisa disebut dagang sapi dan konspirasi

Sri Bintang Pamungkas : Sebelumnya, berlangsung pertemuan di kantor PDIP di Lenteng Agung, yang dihadiri antara 80-100 pengusaha Cina. Mega didesak mencalonkan Jokowi. Ini terjadi sesudah Mega berkunjung ke Beijing dan Singapura. Di sini terjadi dagang sapi. Nilainya triliunan rupiah. Disebut-sebut taipan Sofyan Wanandi yang memberikan uang ‘suap’ kepada Mega. Bahkan, Mega juga menerima dari Jusuf Kalla, triliun rupiah. Sampai salah satu pendiri PDIP, Sabam Sirait marah, dan mengatakan, PDIP dibentuk bukan untuk diperjual-belikan.

Voa-Islam : Bagaimana dengan cita-cita Mega akan menegakkan ‘Tri Sakti’?

Sri Bintang Pamungkas : Itu tidak mungkin. Di mana Mega bisa membangun ‘Tri Sakti’. Karena Mega bukan seperti Soekarno. Sama, seperti SBY, dahulunya janjinya macam-macam, justru yang terjadi Indonesia dijual. Persis seperti Mega, waktu berkuasa, semuanya dijual kepada asing. Asset negara dan kekayaan Indonesia habis dijual di zaman Mega.

Nantinya, tidak mungkin Mega bisa mengatur Jokowi, karena Mega hanya ketua partai. Sementara itu, Jokowi menjadi presiden. Dengan posisi Jokowi sebagai presiden, Mega bisa apa? Mega tidak akan mampu bisa mengatur Jokowi. Justru yang akan mengatur Jokowi, asing dan para cukong Cina, yang sudah menguasai Jokowi.

Voa-Islam : Bagaimana dengan Rapimnas PDIP di Semarang?

Sri Bintang Pamungkas :  Rapimnas PDIP di sebuah gereja terbesar di Asia, ‘The Holy Stadium’ (Stadion Suci), Petrus Agung. Ini menggambarkan, bagaimana PDIP yang sebagian besar anggota legislatifnya banyak dari kalangan Kristen dan pendukungnya dari kalangan Kristen.

Voa-islam.com : Kesimpulan pilpres ini bagaimana?

Sri BintangPamungkas : Pencapresan ini dapat disimpulkan sebagai kejahatan terhadap negara.Tentu dalam soal ini, terdapat pasal KUHP yang mengancam siapapun yang melakukan kejahatan terhadap negara harus ditindak. Bagaimana mungkin negara sebesar ini dipimpin oleh manusia-manusia yang memperjual-belikan kedudukan sebagai pemimpin ekskutif dari hasil konspirasi yang melibatkan fihak-fihak asing.

Di mana TNI yang saptamargais, sebagai penjaga pelindung negara? Ini harus menjadi perhatian semua fihak dengan kondisi yang ada sekarang ini. Di mana fihak asing dan bandit-bandit lokal bisa  mengendalikan seorang ‘presiden’.

Dosa PKI di Masa Lalu yang Ditakuti hingga Kini

Partai Komunis Indonesia (PKI) diisukan muncul kembali ternyata mendapat penolakan keras. Diduga, hal itu dikarenakan partai tersebut pernah membunuh beberapa jenderal pada masanya.

“Mungkin karena mereka dulu suka melarang, membakar dan membunuh para jenderal-jenderal itu,” kata Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis TNI, Laksda (Purn) Soleman Ponto saat dihubungi Okezone, di Jakarta, Jumat (3/6/2016).

Kendati demikian, ia tak meyakini bahwa PKI kini sudah berada di tengah-tengah masyarakat seperti yang dikatakan Mayjen (Purn) Kivlan Zein bahwa gerakan yang muncul di era 60-an itu akan bangkit 2017 mendatang dan kini sudah memiliki kantor di Jakarta Pusat.

“Oh kalau itu tanya ke Kivlan Zein saja. Kalau aku sih nggak yakin itu PKI. Darimana bisa munculnya, orang sekarang saja segala hal yang berkaitan dengan PKI itu dilarang kok. Buku-buku saja tidak boleh darimana bisa belajar?” ujarnya.

Seperti baru-baru ini saja Pemerintah mengadakan simpsosium untu membedah tragedi 1965, namun ternyata acara tersebut dibubarkan bahkan oleh aparat sekalipun.

“Sekarang tujuannya mereka melakukan simposium itu untuk apa sih? Hanya mengenang kan. Kalau misalnya anak-anak yang berasal dari keluarga PKI kemudian berkumpul, memang sudah dipastikan bahwa mereka sedang membicarakan atau menyebarkan paham PKI? Kan belum tentu,” tukas Soleman.

Jenderal TNI Gatot Nurmantyo Peringatkan Kebangkitan PKI di Indonesia

Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, mengingatkan kepada seluruh prajurit TNI untuk terus waspada dan peka terhadap ideologi yang mengarah ke radikalisme terkhusus PKI yang isunya akan bangkit di Indonesia. Menurut Panglima TNI, berbagai kegiatan kelompok PKI  sedang marak.
Screenshot_2016-06-07-21-33-58_1Indikasi ini dapat dilihat dari munculnya atribut-atribut kelompok-kelompok ideologi radikal, seperti palu arit, baik yang terpasang di sepatu, kaos, baju, dan spanduk. Termasuk dengan kemasan pagelaran kesenian yang bernuansa komunis dan sejenisnya.
 
”Ini merupakan indikasi bertebarannya ideologi radikal yang patut diwaspadai. Kemasan pagelaran kesenian bernuansa komunis dan sejenisnya, adalah salah satu wujud nyata gerakan radikal yang harus kami cermati,” ujar Panglima TNI dalam keterangan resmi yang diterima Republika, Senin (19/4/2016).
 
”Oleh karena itu, diharapkan semua komponen bangsa harus memiliki rasa kepedulian, kepekaan, kewaspadaan, dan fokus pada upaya pencegahan, serta penanggulangan terorisme,” tutur Gatot seperti dalam Amanat Panglima TNI, yang dibacakan oleh Pa Sahli TK. III Bid. Sosbud HAM Panglima TNI, Mayjen TNI, Joppy Onesimus Wayangkau, dalam Upacara Bendera-17an di Lapangan Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur.

Kivlan Zen: 12 Kelompok Anti Islam Kuasai DPR

Screenshot_2016-06-08-21-05-55_1

Mantan Kepala Staf Kostrad (Kakostrad) Mayjen (Purn) Kivlan Zen mengungkapkan saat ini ada dua belas kelompok anti Islam yang menguasai DPR. Tanpa merinci kedua belas kelompok itu, Kivlan menyebut mereka-mereka inilah yang pada akhirnya menguasai aset negara ini dan mengeluarkan Undang-undang yang berbahaya bagi umat Islam. Padahal jumlah mereka minoritas.

“Barangsiapa kuasai DPR dia akan kuasai negara,” tegas Kivlan saat menyampaikan sambutan politik dalam Pengajian Politik Islam di Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan, Ahad (29/9/2013).

Sebelumnya Kivlan juga menyampaikan keprihatinannya mengenai kondisi politik umat Islam. Menurut Kivlan, partai-partai Islam kini kalah dari lawan-lawannya. Jika pada awal berdirinya negara ini suara partai Islam mencapai 57 persen, kini hanya tinggal 2 persen saja.

“Dulu kekuatan kita di atas, sekarang surut,” ungkapnya.

Akibat suara partai Islam yang menurun itulah akhirnya terjadi banyak perubahan dalam konstitusi negara. UUD 1945 diamandemen sebanyak empat kali yang memasukkan unsur persamaan hak dan hak asasi manusia. “Saat reformasi, UUD 1945 berubah batang tubuhnya,” kata Kivlan.

“Murdaya Pho, Alvin Lie, ikut disitu. Membetuk UUD berdasarkan persamaan hak,” lanjutnya.

Hasilnya, lanjut Kivlan, satu golongan yang bukan pribumi asli akhirnya memegang aset 80 persen. Sedangkan umat Islam memegang sisanya.

“Umat Islam mayoritas tapi cuma pegang aset 20 persen. Karena diberi kesempatan bertarung yang sama,” ungkapnya.

Kivlan Zen: PKI Sudah Bentuk Struktur Organisasi di Solo

Kivlan Zen | EfekGila.Com

Kivlan Zen | EfekGila.Com

Sejumlah elemen umat Islam di Solo menggelar apel siaga terhadap kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Solo. Acara yang diikuti ribuan orang dihadiri mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad), Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen.

Massa berkumpul di Kota Barat Solo. Kemudian, longmarch ke panggung utama di Bundaran Gladag Solo.

Selain meneriakkan yel-yel ‘Ganyang PKI’ , mereka juga membawa poster yang bertuliskan kecaman serta penolakan terhadap kebangkitan lagi PKI di Indonesia. Aksi tersebut mendapatkan pengamanan ketat dari petugas kepolisian maupun aparat militer di sepanjang jalur yang dilalui massa menuju Bundaran Gladag.

Kivlan Zen mengungkapkan, saat ini harus siaga meningkatkan kewaspadaan terhadap kebangkitan kembali PKI. Sebab, para kader sudah bangkit kembali. Indikasinya, beredarnya simbol-simbol komunis, buku-buku komunis, mencetak selebaran hingga membentuk struktur partai komunis yang baru.

“Tanda-tanda kebangkitan ini sudah mulai terlihat sehingga harus diwaspadai supaya jangan sampai muncul lagi,” kata Kivlan Zen di Bundaran Gladag Solo, Minggu (5/6/2016).

Dia menyebutkan, tanda-tanda kebangkitan PKI juga muncul di Solo. Hal tersebut terlihat dari munculnya gerakan-gerakan rapat yang digelar di daerah di sekitar Solo yang dihadiri para kader partai komunis.

“Di sini (Solo) sudah mulai terlihat tanda-tandanya seperti menggelar rapat-rapat. Bahkan, mereka sudah membentuk struktur organisasi partai komunis di Solo,”ungkap dia.

Kemudian, Kivlan pun menambahkan partai komunis di Solo sudah siap untuk bergerak jika suatu saat akan menguasai Kota Solo. Sebab, kota ini menjadi salah satu basis massa PKI saat terjadinya pemberontakan PKI pada 1948 dan 1965.

“Mereka sudah menyampaikan bahwa militer tidak boleh tampil lagi memegang Indonesia. Dan mereka sudah menyiapkan struktur semuanya,” ucap Kivlan.

Menhan: TNI Punya Fakta Kebangkitan PKI

Img src: harianindo.com

Img src: harianindo.com

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menanggapi pernyataan Mayor Jenderal Purnawirawan TNI Kivlan Zen yang menyebut Partai Komunis Indonesia (PKI) bangkit kembali di Indonesia dan akan berkantor di Jalan Kramat, Jakarta Pusat.

“Hal itu, selagi ada Tap MPRS, itu tidak boleh. Bisa diancam sampai dengan 20 tahun penjara dan ada juga Undang-undang Nomor 27 Tahun 1999,” kata Ryamizard di sela Simposium bertajuk Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain, di Balai Kartini, Jakarta, Kamis

Dalam ketetapan MPRS dengan nomor TAP/XXV/MPRS/1996 itu, diatur tentang larangan idelogi marxisme/leninisme/komunisme sebagai ideologi terlarang dan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999 tentang perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang berkaitan dengan kejahatan terhadap keamanan negara.

Lebih lanjut, Ryamizard juga mengatakan pihaknya memiliki hasil intelijen TNI yang menunjukkan kebangkitan PKI dan memiliki  fakta-fakta yang lengkap akan indikasi tersebut. Indikasi-indikasi tersebut, kata Ryamizard, memang ada di Indonesia yang dibuktikan dengan kemunculan orang-orang yang memakai atribut dengan lambang identik dengan komunisme.

“Kita kan Angkatan Darat, kita kan lengkap fakta-fakta segala macam. Coba lihat pakai baju kaus palu arit, pawai-pawai bubarkan teritorial, nginjek-nginjek patung revolusi, itu kan kelihatan menunjukkan diri. Artinya, tidak boleh,” ujar Ryamizard.

Seperti diberitakan sebelumnya, Mayor Jenderal TNI (Purn) Kivlan Zen mengatakan, Partai Komunis Indonesia telah kembali bangkit dua minggu yang lalu. Dia menyebut pimpinannya bernama Wahyu Setiaji.

“Mereka sudah membentuk struktur partai, mulai tingkat pusat sampai desa, pimpinannya Wahyu Setiaji,” kata Kivlan Zen di acara simposium nasional bertema “Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain”, di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (1/6/2016).

Sementara, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Hak Asasi Manusia Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, dirinya tidak mengetahui dan belum mendapatkan informasi mengenai itu. Ia bahkan meminta Kivlan untuk menyampaikan laporan lengkapnya jika dirinya merasa yakin ada PKI di Jakarta Pusat.

Ini yang Bikin TNI AD Benci PKI dari Dulu

Salah satu kekuatan yang paling menentang Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah TNI Angkatan Darat. Konflik antara PKI dan Angkatan Darat memang punya sejarah panjang.

Konflik pertama antara kekuatan komunis dan TNI AD meletus saat ‘Madiun Affair’. Musso dan didukung laskar merah memproklamasikan berdirinya Negara Soviet Madiun pada tanggal 18 September 1948.

Presiden Soekarno menjawabnya dengan pidato keras. “Pilih Republik Indonesia Soekarno-Hatta atau Musso!”

TNI AD mengerahkan kekuatan Divisi Siliwangi untuk melibas gerakan tersebut. TNI merasa ditusuk dari belakang karena saat itu mereka sedang bersiap untuk melawan Agresi Militer Belanda di depan mata. Namun malah pecah Madiun Affair.

Musso ditembak mati dalam pengejaran. Gerakan Madiun ditumpas dalam waktu singkat.

Konflik kedua memanas jelang tahun 1965. TNI AD dan PKI bersaing. Satu-satunya yang menghalangi pecahnya konflik di antara mereka adalah Presiden Soekarno.

TNI AD menolak mentah-mentah adanya komisariat politik dalam tubuh tentara. Hal semacam ini biasa diterapkan dalam negara komunis. Selain pimpinan militer, ada wakil partai politik dalam organisasi tentara.

Lalu rencana PKI membentuk angkatan kelima juga digagalkan TNI AD. Saat itu, PKI meminta buruh tani dipersenjatai untuk kepentingan bela negara. Berkaca dari tahun 1945, TNI AD menolak karena punya pengalaman sulitnya mengatur laskar-laskar bersenjata.

Kivlan ke FPI: Sebelum PKI Bangkit, Kita Pukul Dulu, Perang!

Screenshot_2016-06-14-21-13-40_1

Mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayor Jenderal (Purnawirawan) Kivlan Zen mengatakan paham komunisme lebih berbahaya daripada terorisme.

Pernyataan tersebut dia sampaikan dalam kegiatan apel siaga Front Pembela Islam (FPI) Jawa Barat di halaman Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa, 31 Mei 2016.

“Santoso itu kecil, bom Thamrin itu kecil. Yang sesungguhnya teroris adalah komunisme,” ujar Kivlan di depan ratusan anggota FPI.

Kivlan diundang FPI Jawa Barat untuk membuka apel siaga mewaspadai Partai Komunis Indonesia (PKI). Ratusan anggota FPI dari berbagai daerah di Jawa Barat datang memenuhi halaman Gedung Sate.

Dalam orasinya, Kivlan terus memprovokasi massa FPI dengan sejarah PKI melalui pendekatan versi dirinya sendiri. Selain itu, dia membeberkan siapa saja yang dia anggap sebagai antek PKI yang saat ini bercokol di pemerintahan.

Dia pun menyeru masyarakat agar mewaspadai kebangkitan PKI. “Sebelum mereka bangkit, pukul duluan. Perang… perang.. perang…!” ucapnya.

Ketua Dewan Tanfidzi FPI Jawa Barat Abdul Qohar mengatakan apel siaga tersebut diadakan untuk mengantisipasi bangkitnya paham komunisme di Indonesia. Ia memberi arahan kepada anggotanya di daerah untuk membantu tentara dan polisi mengawasi kegiatan masyarakat yang dicurigai sebagai kelompok komunis.

Selain itu, apel siaga tersebut merupakan persiapan aksi yang akan dilakukan FPI se-Indonesia di Jakarta pada 3 Juni 2016.


Selanjutnya: Waspadai Kebangkitan PKI (bagian 2)

Iklan

2 responses »

  1. […] Sebelumnya: Waspadai Kebangkitan PKI (bagian 1) […]

    Suka

  2. […] Ada simposium bela korban PKI, mereka dukung penuh; ada simposium kecam kebiadaban PKI, mereka kriti…, dan lain-lain. […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s