Kerjasama Bidang Pendidikan Indonesia Dengan Syi’ah Iran

Screenshot_2016-06-09-02-10-22_1

Republik syiah Iran mengajak Indonesia untuk bekerjasama dalam pengembangan pendidikan agama, baik pendidikan tinggi maupun pesantren. Kerjasama ini dinilai penting dalam upaya bersama membangun kembali peradaban Islam.

Undangan kerjasama ini disampaikan oleh Kepala Hubungan Internasional Hauzah Ilmiyah Clom – Iran Prof Dr. Muhammad Hasan Zamani saat bertemu dengan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di kantornya, Jakarta, Jumat (03/06). Dalam kunjungannya, Zamani didampingi oleh Imam Besar Mahzab Syafii Iran Abdul Baist Qitali, dan Duta Besar Iran untuk Indonesia Dr Muhammadi. Turut serta dalam rombongan, Direktur perwakilan Al-Musthafa International University Iran, Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra, Sekretaris Direktur Al-Musthafa dan Kepala PR Al-Musthafa International University.
Selain itu, Zamani juga mengundang ulama di Indonesia untuk melihat lembaga-lembaga pendidikan di Iran.

Ternyata Menag Lukman menyambut baik undangan tersebut dan memandang perlu jalinan kerjasama di bidang pendidikan. Menag berharap, melalui kerjasama tersebut, dapat terjalin pandangan yang sama mengenai Islam.

Kepada Zamani dan rombongan, Menag menyatakan bahwa saat ini Kementerian Agama tengah berupaya memperbaharui kurikulum Ma’had Aly sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi keagamaan yang berbasis di pesantren. Menag juga berencana untuk membentuk tim dalam rangka menjalin hubungan kerjasama di bidang pendidikan terutama pada jenjang doktoral (S3).

Menag yang dalam kesempatan tersebut didampingi Dirjen Bimas Islam Machasin, Direktur Penerangan Agama Islam Muchtar Ali, dan Kepuslitbang Kehidupan Keagamaan Muharra Marzuki mengapresiasi kunjungan para tokoh Iran. Menurutnya, Iran merupakan salah satu negara yang berperan penting dalam membangun peradaban dunia.

Tanggapan Habib Achmad Zein AlKaf

Berikut ini tanggapan pengurus syuriah PWNU Jawa Timur yang juga Ketua Umum Forum Anti Aliran Sesat Habib Achmad Zein AlKaf (AZA)

Menanggapi apa yang dilakukan oleh Menag Lukman Hakim Saifuddin dengan pemerintah Iran dalam masalah pendidikan, adalah merupakan usaha teror terhadap ummat Islam Indonesia.

Itu adalah perbuatan Teror berupa pengrusakan iman Muslimin Indoonesia yang beraqidahkan Ahlussunnah.

Kehidupan beragama di Indonesia akan diteror dengan faham faham yang menyakitkan hati umat Islam.

Hal itu merupakan bantuan Menag kepada Pemerintah Iran (syiah) dalam usaha mereka mengexport Revolusi Syiah ke Indonesia.

Sebagai seorang yang mengaku sebagai warga Nahdliyyin, maka  kami menilainya telah berhianat kepada pendiri Nahdlatul Ulama. Dimana KH.Hasyim Asy’ari telah berfatwa bahwa syiah sesat dan melarang warga Nahdliyyin berhubungan dengan Syiah.

Apa yang dilakukan oleh Menag tidak lepas dari dukungan Dirjen Islam Makhasin yang kami kenal sebagai tokoh Taqrib di Indonesia.

Adapun Abdul Baits Qitali yang mengaku sebagai Imam Besar Madzhab Syafii di Iran, maka sesuai informasi dari Iran, dia adalah salah satu ulama plat merah di Iran yang bekerja untuk kepentingan pemerintah Syiah Iran.

Tentu apa yang dilakukan oleh Menag tersebut akan mengundang reaksi dari para ulama di Indonesia.


Habib Achmad Zein Alkaf
Ketua Umum FAAS

Mantan Tokoh Syiah Bongkar Peran Iran Terhadap Indonesia

Screenshot_2016-06-09-02-17-27_1

Peran Iran dalam penyebaran Syiah di ungkap oleh mantan tokoh syiah yang sudah taubat ‘Haydar Ali’. Ini adalah sesi terakhir pengakuan beliau yang meminta kami menjaga privasinya.

  • “Pertama Tentu Masalah Sahabat Nabi, dalam Ajaran Syiah itu ada Konsep Tawalla dan Tabarra yang merupakan Prinsip cabang (Furu’) dari Prinsip Ushul Imamah. Akar dari Tawalla itu Kecintaan kepada Ahlulbayt, adapun Tabarra akarnya adalah Kebencian atau Berlepas diri dari Sahabat Nabi khususnya Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman, Sayyidah Aisyah, Sayyidah Hafshah, dan Sebagian besar Sahabat Nabi Lainnya.”
  • Kedua Taqiyah, Taqiyah ini Membungkus Rapi Ajaran Syiah. Bukan Taqiyah untuk menjaga diri tetapi Taqiyah untuk menjaga citra ajaran Syiah, Taqiyah untuk menyebarkan Ajaran Syiah. Kita akan mengatakan dan melakukan pencitraan ajaran Syiah, kita tidak melaknat Sahabat di depan umum, tidak menghujat sahabat di depan umum. Tetapi dalam kalangan intern, dalam Majlis -Majlis Syiah ketika membahas Aqidah, Imamah, Tawalla dan Tabarra. Para Sahabat Nabi di jelek jelekan, di fitnah, bahkan di laknat. Contoh nya ketika membahas Tanah Fadak, Hak Imamah Sayyidina Ali setelah wafatnya Nabi. Sayyidina Umar di fitnah hendak membakar rumah Sayyidah Fathimah, juga di fitnah mematahkan tulang rusuk Sayyidah Fathimah, memaksa Baiat dari Imam Ali. Dan lain sebagainya. Konteks yang saya maksud bukan Fitnah-nya, tetapi pembahasan semacam itu adalah bukti bahwa dalam Ajaran Syiah 12 Imam itu sangat membenci Sahabat Nabi. Maka ketika mereka mengelak , hanya Taqiyah belaka. Atau misalnya Fatwa Larangan Mencaci Sahabat dan Istri Nabi, itu hanya Fatwa Taqiyah larangan itu hanya larangan di depan umum. Tidak dalam Hati mereka, dan Tidak melarang membenci Sahabat Nabi.”
  • Ketiga Ajaran Mut’ah, Terbongkar nya secara publik (kalangan syiah) skandal Mut’ah Ustadz Besar Syiah, yang berasal dari pekalongan, Alumni Qum, pengasuh Ponpes Syiah Pekalongan, sering mengisi Acara Acara nasional Syiah seperti Asyura, idhul Ghadir, dan lain -lain. Ketika dia membacakan Maqtal Imam Husein Ribuan Hadirin terhanyut sedih. Tetapi ternyata dia terlibat skandal Mut’ah. Dipondoknya terjadi skandal mut’ah, kesaksian santriat (santriwati red) yang sering di tawari Mut’ah dengan tamu tamu dari negara Arab, dengan berbagai macam iming -iming. Dia sendiri terbongkar Mut’ah dengan Santriat dan Ustadzah Pondok. Banyak Korban Mut’ahnya. Bahkan dengan Mahasiswi. Saya bisa saja menyebut nama nama nya tetapi saya tidak mau.
  • Keempat, Shalat Jum’at. Pengikut Syiah di Indonesia Yang melaksanakan Shalat Jum’at dapat dihitung dengan Jari, Mayoritas Pengikut Syiah di Indonesia Tidak Melaksanakan Shalat Jum’at. Lebih dari itu mereka tidak melaksanakan Shalat Jum’at bersama Ahlusunnah, Ada Tempat Melaksanakan Shalat Jum’at (Pencitraan) Bagi Pengikut Syiah di Tsaqofiyah Iran di Jakarta ( ICC ), Ironisnya Padahal Tidak Jauh dari ICC ada Masjid Besar Ahlusunnah. Selain itu, Pengikut Syiah yang Sangat Jauh dari ICC maka Mayoritas Mereka tidak melaksanakan Shalat Jum’at. Dalam Ajaran Syiah 12 Imam Tidak ada Kewajiban (Fardhu ‘ain) Melaksanakan Shalat Jum’at. Pengikut Syiah Boleh Tidak Melaksanakan Shalat Jum’at (Takhyiri), Dalam Pratiknya Kalaupun Melaksanakan Shalat Jum’at maka tidak bersama Ahlussunnah, Pengikut Syiah Indonesia lebih memilih tidak melaksanakan Shalat Jum’at ketimbang Melaksanakan Shalat Jum’at di Masjid Ahlussunnah dan Bersama Ahlussunnah.
  • Kelima, Syiah bukan Mazhab Ja’fari bukan Mazhab ke 5. Sebagaimana telah diketahui Istilah Mazhab Ja’fari hanya ‘mencatut’ Nama Imam Ja’far As Shadiq, Beliau tidak Pernah Menulis Kitab Fiqh dan Hadits, Beliau Tidak Pernah Menulis Pendapat dan Fatwa Fatwa-nya, Juga tidak ada Murid langsung beliau yang membukukan Mazhab Ja’fari. Imam Ja’far sendiri dalam Urutan 12 Imam Syiah, Posisi Beliau bukan sebagai Imam Mazhab Fiqh, Amaliyah Syiah Sendiri mengikuti Fatwa Fatwa Marja’ masa kini semisal Khamenei, Syirazi, Sistani dan lain lain. Jadi bukan mengikuti Fatwa Imam Ja’far.
  • “Keenam, Imam Mahdi Versi Syiah. Syiah meyakini Imam Mahdi Akhir Zaman ialah Imam Muhammad bin Hasan Al Askari, Yang Telah Lahir Pada Tahun 255 Hijriah / 869 M. Sekarang Tahun 2016. Sudah Ribuan Tahun yang Lalu. Syiah 12 Imam meyakini Imam Mahdi Akhir Zaman kelak ialah Imam Mahdi yang telah dilahirkan Ribuan Tahun yang lalu, Padahal Tidak ada Satupun Riwayat Hadits yang menyatakan bahwa Usia Imam Mahdi hingga Ribuan Tahun, dan tidak ada Riwayat Hadits yang menyebutkan Imam Mahdi telah dilahirkan Ribuan Tahun sebelum kemunculannya. Masa kemunculan Imam Mahdi dalam Konsep Syiah pun begitu singkat tidak lebih dari 7 Tahun. Hidup Selama Ribuan Tahun untuk Misi yang tidak lebih dari 7 Tahun. Bagaimana Imam Mahdi Makan dan Minum, Melakukan Pekerjaan dan sebagainya? Karena Nabi Muhammad Saw sendiri yang merupakan penghulu para Nabi dan Rasul, Beliau menjalani Hidup Sebagai Manusia. Beliau Makan dan Minum, Melakukan Pekerjaan, Menikah, Berdagang dan sebagainya. Para Imam Ahlulbayt yang diklaim sebagai Imam Imam Syiah lainnya spt Imam Ali, Imam Hasan, Imam Husein dan lain sebagainya… Para Ahlulbayt menjalani Aktivitas Selayaknya Manusia, melakukan Pekerjaan, makan dan minum, bercocok tanam, menikah, bertempat tinggal dan lain sebagainya. Sementara Imam Mahdi Versi Syiah Hidup Ribuan Tahun Tanpa Menjalani Kehidupan Selayaknya Manusia dan Tanpa Menjalani Semua itu.
  • “Ketujuh. Mencintai Ahlulbayt tidak Perlu Harus Menjadi Syiah, Mencintai Ahlulbayt bukan dengan membenci Sahabat Nabi. Ahlussunnah Mencintai Ahlulbayt secara benar, banyak sekali Riwayat -Riwayat Keutamaan Ahlulbayt dalam Kitab Kitab Ahlussunnah. Bahkan Syiah Sendiri Banyak Menukil Riwayat Keutamaan Ahlulbayt dari Kitab Ahlussunnah, Keutamaan Imam Ali, Keutamaan Sayyidah Fathimah, Keutamaan Imam Hasan dan Imam Husein semuanya lengkap dalam Ahlussunnah. Hadits Safinah, Hadits Tsaqalain, dan banyak lagi berbagai Hadits Keutamaan Ahlulbayt dalam Kitab Ahlussunnah. Akan tetapi Ahlussunnah tidak Membenci Sayyidah Aisyah, Ahlussunnah tidak Mengkafirkan Sayyidah Aisyah, Ahlussunnah tidak membenci Sayyidina Umar, dan Para Sahabat Lainnya. Mencintai Imam Ali tidak perlu menjadi pengikut Syiah 12 Imam, mencintai Imam Hasan dan Imam Husein tidak perlu menjadi pengikut Syiah 12 Imam. Mengapa saya harus menjadi pengikut Syiah sementara Ahlussunnah sangat mencintai Ahlulbayt.
  • Kedelapan, Syiah Merusak Hubungan Sosial Keagamaan Masyarakat. Pengikut Syiah itu Memisahkan diri dari Kaum Muslimin, banyak sekali contohnya; Misalnya tidak Shalat Jum’at bersama Ahlussunnah, Tidak Shalat Ied bersama Ahlussunnah, Tidak Mengikuti Aktivitas Masjid spt Pengajian, Tahlil, Maulid. Mereka berkumpul jauh ditempat Komunitas Syiah, memisahkan diri dari Kaum Muslimin. Ketika Bulan Ramadhan Tidak Shalat Terawih, Tidak Ikut Buka Bersama. Kalau Meninggal Jenazah-nya tidak mau diurus oleh Kaum Muslimin, mau-nya dimandikan oleh Kalangan Syiah, bahkan Shalat Jenazah Kaum Muslimin Tidak Sah dimata mereka maka Harus dishalati oleh sesama Syiah. Setidaknya oleh satu orang Syiah. Itu Fatwa-nya Khamenei.
  • “Kesembilan, Syiahisasi Memutuskan Hubungan Silaturrahim dan Persaudaraan. Silaturrahim merupakan sesuatu yang sangat penting dalam Islam. Saya mendalami banyak kasus putusnya hubungan Silaturrahim akibat Syiahisasi 12 Imam. Putusnya Hubungan Silaturrahim antara Anak dengan Orang Tua, Anak yang memisahkan diri dari Orang Tua, Anak yang diusir oleh Orang Tua, Anak yang kabur dari Orang Tua, Anak Perempuan yang lari akibat mut’ah, Suami Istri bercerai, dan lain semisalnya. Memang tidak semua-nya begitu, tetapi kasus demikian membuktikan ada-nya Syiahisasi. Bahkan Ulama Ahlussunnah terpecah belah oleh Syiah 12 Imam. Syiahisasi beralasan Menjadi Pengikut Syiah adalah Hak Setiap Orang. tetapi Mereka melakukan Syiahisasi ?? Haruskah Menjadi Pengikut Syiah ?? Walaupun Mengorbankan Hubungan Silaturrahim dan Persaudaraan..??
  • Kesepuluh, Hidayah Allah. Dakwah Syiah didekengi oleh Iran, Terstruktur, Terorganisir, Terencana dan Masif. Iran melalui Tsaqofiyah (Kebudayaannya, ICC) memulai menyebarkan Faham Syiah secara TSM Sejak Tahun 2000an, Kebudayaan Iran telah menggandeng Organisasi Islam Terbesar di Indonesia yakni NU dan Muhammadiyah dengan kontrak kerjasama. Bersamaan dengan itu melalui Tsaqofiyah Iran (ICC) secara TSM menyebarkan Faham Syiah ke Seluruh Indonesia melalui Yayasan dan Majlis Ta’lim yang terus menerus aktif di Berbagai Kota dan Daerah, semuanya dibawah Naungan Tsaqofiyah Iran. Konteksnya, atas dasar itu Banyak Tokoh Agama Islam Indonesia yang membela Syiah. Tidak Mudah keluar dari Syiah kecuali menggapai Hidayah Allah, Hidayah Allah Adalah yang Paling Penting dan Hidayah itu terkadang melalui hal -hal yang sangat sederhana, saya yakin Hidayah itu sudah tampak kepada siapa saja hanya saja harus siap ambil keputusan. Kurang Lebihnya tentu Asatidz Aswaja Lebih Banyak Mengetahui Tentang Kesesatan Syiah, dan Berperan Besar dalam membendung Ajaran Syiah 12 Imam.

Hampir Semua Ormas Islam Dapat Bantuan Dana Syiah Iran

Screenshot_2016-05-21-08-34-07_1

Di Indonesia sedang dikembangkan aliran-aliran sesat. Ini dilakukan agar aqidah kaum muslimin menjadi goyah. Siang malam mereka mati-matian menggelontorkan bermilyar-milyar rupiah kepada LSM yang ada di Indonesia. Dari Amerika dikirim aliran JIL (Jaringan Iblis Laknatullah), dari India dikirim aliran Ahmadiyah dan dari Iran masuk aliran Syiah.

Syiah sendiri banyak memiliki nama antara lain Zaidiyah yang berada di Yaman. Pada mulanya aliran tersebut lebih dekat dengan Ahlus Sunnah namun oleh para Ulama mereka ditolak dan digolongkan pada aliran sesat.

… “Semua tokoh Islam diberi biaya baik pribadi ataupun organisasinya. Hampir seluruh ormas Islam di Indonesia mendapat bantuan dari Iran” Ujar Habib Ahmad Zein Al Kaff …

Kelompok kedua adalah Syiah Ismailiyah yang berkembang di India. Namun akhir-akhir ini karena pengaruh dari Iran maka banyak yang beralih ke Syiah. Yang ketiga adalah Syiah Imamiyah atau Jafariyah atau Khomeiniyah atau yang berganti nama dengan mahzab Ahlul Bait. Syiah jelas ajarannya sesat karena bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah.

Syiah ini berkembang cukup pesat karena didukung oleh sebuah Negara yang kaya. Banyak tokoh-tokoh yang membantu berkembangnya ajaran Syiah tersebut. Di Indonesia banyak tokoh-tokoh Islam yang dibantu secara keuangan baik dari NU, Muhammadiyah, Cendekiawannya dan dari Habaibnya. Ada yang diundang ke Iran untuk diperlihatkan kemajuan akan Ravolusi Iran.

“Semua tokoh Islam diberi biaya baik pribadi ataupun organisasinya. Hampir seluruh ormas Islam di Indonesia mendapat bantuan dari Iran” Ujar Habib Ahmad Zein Al Kaff saat diminta menjadi pembiacara di Gedung Al Irsyad Ahad (2/1/2014). Di acara Tablig Akbar Mengapa Syiah Bukan Islam.

Tokoh-tokoh kita ini tidak bayak yang paham. Berapa banyak tokoh-tokoh Sunnah yang ditahan oleh Khomeini berapa banyak masjid Ahlul Sunnah yang dibakar. Jika saudara pergi ke Teheran sulit menemukan masjid Ahlul Sunnah.

Syiah saat menjadi minoritas disebuah daerah mereka selalu mengampayekan tentang pentingnya jalinan ukhuwah. Namun anehnya mengapa ukhuwah tak pernah dilakukan di Iran. Ukhuwah hanya bisa dilakukan oleh umat Islam. Sedang Suni dengan Syiah tidak bisa disatukan karena rukun Islam dan rukun Imannya berbeda.

. . . kepada semua saja yang mengatakan bahwa Syiah tidak sesat agar berhati-hati karena kelak akan dimintai pertanggung jawabannya . . .

Di saat MUI Jawa Timur mengeluarkan fatwa bahwa Syiah itu sesat. Tokoh-tokoh yang berada di Jakarta langsung membela Syiah. Ini bukan rahasia lagi dari NU ada Said Agil Siraj, dari Muhammadiyah Dien Syamsudin, dari Cendekiawannya Azzumardi Azra dan dari Habaib Umar Syihab. Apakah mereka beraqidah syiah ? tidak. Mereka beraqidah Ahlul Sunnah yang sudah di cuci otaknya oleh tokoh-tokoh Syiah. Sehingga tidak malu mengatakan bahwa Syiah tidak sesat.

Penulis buku Export Revolusi Syiah Ke Indonesia dan juga pengurus Komisi Ukhuwah Jawa Timur itu juga menyampaikan detail apa saja yang menjadi kesesatan Syiah. Mulai dari mengkafirkan sahabat, menuduh Umul Mu’minin berzina adanya perbedaan rukun Islam dan Iman, dan lain sebagainya.

Untuk itulah ia berpesan kepada semua saja yang mengatakan bahwa Syiah tidak sesat agar berhati-hati karena kelak akan dimintai pertanggung jawabannya.

Tidak Peka Potensi Konflik Sunni-Syiah, Kiai Hasyim Kritik PBNU

Screenshot_2016-06-09-03-09-49_1

Mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. A. Hasyim Muzadi kembali kritik PBNU sekarang yang tidak punya kepekaan terhadap potensi konflik Sunni-Syiah terutama di pusat kantong -kantong Nahdliyyin diwilayah Jawa Timur.

Selain tentang potensi konflik Sunni-Syiah, Kiai Hasyim juga menyebut PBNU hanya sibuk bagi-bagi Kartanu ke para Pejabat Tinggi, Namun tidak peduli pejabat tersebut orang NU atau tidak. Berikut release yang disampaikan Kiai A. Hasyim Muzadi:

  • Release KH. Hasyim Muzadi, 05/04/16

“Perlunya Kewaspadaan Terhadap Potensi Konflik Sunni-Syiah di Bangil, Bondowoso, Puger dan Madura,  Jawa Timur”

KH. Hasyim Muzadi mewaspadai dengan mutlak kepada warga nahdliyin, kaum muslimin, aparat negara, dan seluruh lapisan masyarakat terhadap berbagai potensi konflik yang  terjadi di beberapa tempat di Propinsi Jawa Timur.  Karena konflik Sunni-Syiah di dunia telah terbukti menjadi awal terobek-robeknya kaum muslimin bahkan penyebab terobek-robeknya sebuah negara. Juga hal ini, di Indonesia pasti merupakan ancaman terhadap NKRI.

“Kita tentu bisa ikut merasakan sakit hati kaum Sunni ketika kaum Syiah menghujat Sayyidina Abu Bakar Assiddiq, Sayyidina Umar bin Khottob, Sayyidina Usman bin Affan, Sayyidah Aisyah, dan Sayyidah Hafsoh,  bahkan sampai mengkafirkan beliau2-beliau yang sangat dihormati di kalangan Sunni. Tapi kaum Sunni harus menahan diri dan selalu bergandengan dengan aparat negara.”

Selanjutnya Muzadi menerangkan bahwa sebenarnya ada kelompok Syiah yg tidak menghujat para Sahabat Nabi misalnya Kelompok Ja’fariyah dan Zaidiyah, namun jumlahnya sangat kecil bahkan lebih suka hanya digunakan promosi. Ketegangan sosial yg diakibatkan oleh hujatan ini apabila bersinggungan dengan “politik kekuasaan” akan terjadi kristalisasi kekuatan antar keduanya kemudian tahap selanjutnya akan terjadi konflik terbuka.

Lebih dalam kyai menerangkan bahwa proses menuju konflik terbuka ini dimanfaatkan oleh banyak kaum Islamophobia (musuh Islam dunia) yang diam-diam memperparah arena konflik untuk melakukan devide et impera (pemecah belahan) serta mempersiapkan intervensi pemikiran/militer asing baik blok timur maupun barat atas dalih keamanan dunia. 

Menurut Hasyim “Inilah yang terjadi di Syuriah pada saat sekarang ini. Kalau sudah sampai tahap ini, sudah tidak lagi kelihatan Sunni-Syiah-nya, yang ada hanya penderitaan dan kehancuran kaum muslimin dan negara Islam”. 

“Kenyataan pahit inilah yg mendorong berbagai negara Sunni melarang pengembangan Syiah melalui Undang-Undang seperti Sudan, Malaysia, Brunei, apalagi Saudi Arabia yg memang musuh bebuyutannya Syiah.” 

Sedangkan di indonesia semua berdasarkan HAM, tidak peduli apakah HAM tersebut menuju persatuan atau cerai berai, bahkan kehancuran Indonesia.” Akibatnya, Polri pun akan kehabisan langkah kalau menghadapi konflik sosial ideologis seperti ini karena tidak adanya payung hukum yang melindungi Polisi sendiri.

Khusus terkait potensi konflik di Jawa Timur, tidak menutup kemungkinan dalam hitungan waktu bisa saja terus menjalar ke Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Jakarta, dan Sumatera Utara Kalau tidak ada formula utuh kenegaraan dan sosial masyarakat untuk   penyelesaiannya.

Dalam pandangannya “Seharusnya PBNU segera turun ke Jatim menyelesaikan masalah sangat rawan ini karena menyangkut keselamatan warga nahdliyin, umat Islam, dan negara.”

Hasyim menambahkan “Namun banyak warga nahdliyin yang pesimis PBNU mau menyelesaikannya, karena tampaknya lebih penting bagi-bagi Kartanu ke para Pejabat Tinggi, tidak peduli pejabat tersebut orang NU atau tidak”

Indonesia Perlu Belajar dari Pemerintah Maldives

05-22-07.59.55

Republik Maladewa putuskan hubungan diplomatik dengan Iran, foto by: maldivesindependent

Pemerintah Maladewa pada 17 Mei 2016 memutuskan untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Maladewa percaya bahwa kebijakan Pemerintah Iran ikut campur di Timur Tengah khususnya di wilayah Teluk Arab, merugikan perdamaian dan keamanan di wilayah tersebut, bahkan juga terkait dengan stabilitas, perdamaian dan keamanan Maladewa. Maladewa menjalin hubungan diplomatik dengan Iran pada 2 Juni 1975.

Screenshot_2016-06-09-02-33-54_1


Berikut pemberitaan aslinya:

The Maldives decides to sever diplomatic relations with Iran

Male’: 17 May 2016

The Government of Maldives has today decided to sever diplomatic relations with Iran. The Maldives believes that the policies that Iranian Government pursues in the Middle East, and in particular, in the Arabian Gulf region, is detrimental to peace and security in the region, which, in many ways, is also linked to stability, peace and security of the Maldives.

The Islamic Summit held last month in Turkey called on Iran to pursue a policy based on the principle of “good neighbourliness, non-interference in their domestic affairs, respect for their independence and territorial sovereignty, [and] resolving differences by peaceful means in accordance with OIC and the UN Charters”. The Maldives calls on Iran to show more commitment and tangible results in implementing the recommendations of the OIC.

The Maldives established diplomatic relations with Iran on 2 June 1975.

ENDS

Ingat! Jangan Mudah Ditipu Iran!

 

Referensi

  • ^nugarislurus.com/2016/06/kerjasama-dengan-syiah-iran-habib-aza-teror-menag-terhadap-kaum-muslimin.html
  • ^nugarislurus.com/2016/01/eksklusif-pengakuan-haidar-ali-tokoh-syiah-indonesia-bertaubat.html
  • ^nugarislurus.com/2016/01/tokoh-syiah-taubat-ini-bongkar-peran-iran-terhadap-nu-muhammadiyah.html
  • ^nugarislurus.com/2016/01/pengakuan-tokoh-syiah-bertaubat-cinta-ahlul-bait-tidak-perlu-jadi-syiah.html
  • ^nugarislurus.com/2016/01/tokoh-syiah-taubat-ini-bongkar-peran-iran-terhadap-nu-muhammadiyah.html
  • ^nugarislurus.com/2016/04/tidak-peka-potensi-konflik-sunni-syiah-kiai-hasyim-kritik-pbnu.html
  • ^nahimunkar.com/republik-maladewa-putuskan-hubungan-diplomatik-iran/
  • ^foreign.gov.mv/v2/en/media-center/news/article/1826
  • ^voa-islam.com/news/indonesiana/2014/02/04/28935/hampir-semua-ormas-islam-dapat-bantuan-dana-syiah-iran/
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s