Sebelumnya: Diskriminasi Muslim Rohingya, Myanmar (Bagian 1)


Tenggat Akan Berakhir, Malaysia Tetap Tampung Pengungsi Rohingya

Pengungsi berdoa di atas perahu

Pengungsi berdoa di atas perahu

Pemerintah Malaysia menyatakan akan tetap menampung 371 pengungsi Rohingya yang tahun lalu sempat terombang-ambing di laut. Kendati batas waktu yang diberikan akan segera berakhir.

Penetapan batas waktu itu telah disepakati oleh Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Anifah Aman dan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi pada 20 Mei 2015. Saat itu kedua negara bersedia menerima ribuan migran Bangladesh dan pengungsi Rohingya yang ditinggalkan di laut oleh kelompok yang diduga jaringan penyelundup manusia.

Di Indonesia, mereka mendarat di Provinsi Aceh. Adapun di Malaysia mereka mendarat di Pulau Langkawi.

Salah satu syarat atas kesediaan kedua negara adalah mereka harus dipulangkan atau dimukimkan kembali di negara lain dalam tempo satu tahun.

“Kalau UNHCR memberikan kartu kepada mereka maka mereka akan dibenarkan tinggal di negara ini. Tapi kita tak mau penyelesaian jangka pendek, kita mau penyelesaian jangka panjang,” jelas Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia, Nur Jazlan Mohamed yang dikutip dari BBC, Minggu (21/2/2016).

Jangka panjang yang dimaksud adalah pemulangan para pengungsi atau penempatan mereka di negara ketiga. Negara ASEAN diminta untuk turun tangan menyelesaikan persoalan tersebut.

“Perkara ini harus didapatkan kerja sama dari negara-negara antarbangsa, negara ASEAN dan juga negara sumber di mana mereka berasal untuk mendapatkan penyelesaian jangka panjang,” kata Nur Jazlan.

Penyaringan

Sebanyak 371 pengungsi Rohingya itu sekarang masih berada di Pusat Tahanan Belantik di Negara Bagian Kedah. Sedangkan para migran Bangladesh yang datang bersama pengungsi Rohingya telah dipulangkan atas kerja sama dengan pemerintah negara itu.

Wakil Menteri Dalam Negeri Nur Jazlan Mohamed meminta Badan Pengungsi PBB (UNHCR) untuk melakukan penyaringan secara seksama.

“UNHCR sendiri perlu memainkan peranan karena mereka tidak boleh mengeluarkan kartu sewenang-wenang, sesuka hati,” kritik dia.

“Apa yang kita dapati dalam beberapa tahun belakangan ialah UNHCR mengeluarkan kartu kepada mereka yang sebenarnya mempunyai dokumen yang sah tapi mereka overstay (tinggal melebihi tempo yang diberikan) di Malaysia. Tapi mereka pergi ke kantor UNHCR dan minta kartu UNHCR untuk berlindung di bawah UNHCR.” ungkap sang menteri.

Namun menurut Wakil UNHCR di Malaysia Richard Towle, pihaknya sudah memverifikasi secara seksama dan menegaskan pemrosesan permohonan pengungsi memerlukan waktu lama.

“Syarat satu tahun ditentukan sendiri oleh negara-negara itu tanpa diskusi dengan UNHCR. Seringkali diperlukan waktu lebih lama dari satu tahun untuk memproses dengan baik untuk pemukiman kembali,” jelas Towle.

“Misalnya, sebagian besar pengungsi yang kami tangani di pusat tahanan di Malaysia menderita TBC yang menular. Diperlukan waktu minimum 6 bulan untuk penyaringan, pemberian obat antibiotik dan perawatan-perawatan lain untuk menyembuhkan mereka dari TBC.”

Oleh sebab itu, menurut Towle, kasus mereka tidak bisa diproses sebelum mereka sembuh.

“Dari sudut medis, sudut keamanan, kasus-kasus ini memerlukan waktu lama untuk pemrosesan,” jelasn

Towle menambahkan yang menjadi prioritas pihaknya saat ini yaitu mengeluarkan mereka dari pusat tahanan.

371 Orang tersebut akan menambah panjang daftar pengungsi Rohingya, Myanmar, yang sekarang berada di Malaysia. Hingga akhir 2015, terdapat 52.570 pengungsi Rohingya yang terdaftar di UNHCR Malaysia.

Aung San Suu Kyi Terkejut Diwawancara Soal Muslim Rohingya

06-11-09.19.43

Peraih Nobel Perdamaian dan tokoh demokrasi di Myanmar, Aung San Suu Kyi terlihat berbeda dalam penampilan kali ini. Ketika menghadiri sesi wawancara BBC Today dengan presenter Mishal Husain, terkait muslim Rohingya yang jadi sasaran kekerasan di sana.

Dalam buku biografi terbaru bertajuk ‘The Lady And The Generals: Aung San Suu Kyi And Burma’s Struggle For Freedom’ yang ditulis Peter Popham, disebutkan bahwa Suu Kyi terkejut dan seakan marah dengan pertanyaan wawancara itu.

“Tidak ada yang bilang aku akan diwawancarai oleh seorang muslim,” demikian petikan tulisan di buku itu seperti dikutip dari Telegraph, Sabtu (26/3/2016).

Buku itu mengungkapkan bahwa air muka Presiden National League for Democracy atau Partai Liga Demokrasi Nasional (NLD) yang berusia 70 tahun itu, berubah ketika ditanya apakah dia mengecam kekerasan yang dilakukan oleh warga Buddha Myanmar terhadap muslim Rohingya dalam wawancara dengan presenter muslim pertama dari program Radio 4 Today, Mishal Husain.

Pada kesempatan itu ia menolak berkomentar sentimen anti-Islam terkait pembantaian umat muslim di Myanmar.

Dalam wawancara dengan Husain tahun 2013 lalu itu, Suu Kyi mengatakan yang mengalami ketakutan di Myanmar bukan hanya umat muslim Rohingya, tapi juga warga Buddha di wilayah berkonflik.

“Saya kira ada banyak umat Buddha yang juga meninggalkan negeri ini karena alasan beragam, ini akibat penderitaan di bawah rezim diktator,” kata Suu Kyi.

Insiden wawancara tentang kekerasan anti-muslim itu adalah yang terbaru, dan menuai perhatian internasional tentang sikap Suu Kyi terhadap minoritas muslim Burma.

Partai yang dipimpin Suu Kyi menang di parlemen Myanmar dalam pemilu pada November 2015. Tak ada calon muslim, dan pemerintahannya pun demikian.

Dia dikritik karena kegagalannya untuk mengutuk penganiayaan terhadap minoritas muslim Rohingya di negara itu, 140.000 di antaranya masih hidup dalam kondisi menyedihkan di kamp-kamp pengungsi lebih dari 3 tahun setelah bentrokan dengan mayoritas Buddha setempat.

Suu Kyi yang dikenal sebagai ‘The Lady’ tidak akan bisa menjadi presiden Myanmar karena militer yang berkuasa di pemerintahan menolaknya karena dianggap melanggar konstitusi. Namun calon dari partainya, Htin Kyaw berhasil masuk parlemen dan ia tetap menjadi politikus paling berpengaruh di Myanmar.

Nasib Pengungsi Rohingya Saat Ini

Hampir setahun setelah peristiwa tragis pengungsi Rohingya yang terombang-ambing di Laut Andaman, kini masih terdapat 200-an orang yang tinggal di empat tempat penampungan di Aceh. Dari 1.807 orang yang ditampung di Aceh, hanya 3 orang yang telah diterima sebagai pengungsi di Kanada. Kemana sisanya?

Antropolog Dr Antje Missbach dari Monash University yang melakukan studi lapangan atas nasib pengungsi Rohingya ini, menyebutkan bahwa hingga periode akhir Januari 2016, masih ada 275 pengungsi Rohingya yang tinggal di empat penampungan terpisah di Aceh.

“Sementara itu hanya tiga orang di antara mereka yang telah mendapatkan penempatan yaitu di Kanada,” jelas Dr Antje dalam seminar bertajuk Asylum Seekers and the Australia-Indonesia Relationship di Melbourne, Selasa (15/3/2016) malam.

Dr Antje menghabiskan empat tahun meneliti tragedi yang dialami para pengungsi  yang dia sebut sebagai ‘transit migrants’, yang datang dari Afghanistan, Irak, Iran, Burma, Sri Lanka, dan Somalia, ke Indonesia dengan harapan bisa masuk ke Australia.

Hasil penelitiannya itu diungkapkan dalam buku berjudul Troubled transit: asylum seekers stuck in Indonesia yang diterbitkan ISEAS-Yusof Ishak Institute. Buku ini diluncurkan dalam seminar tersebut.

Buku ini memaparkan secara terperinci kisah-kisah para pengungsi yang kini tertahan dalam ketidakpastian di Indonesia, serta perspektif dari pihak pemerintah Indonesia serta lembaga internasional dan LSM yang menangani pengungsi di Indonesia.

Kisah-kisah pengungsi yang kini nasibnya tidak menentu itu, juga digambarkan dalam buku ini dalam kaitannya dengan respon pemerintah Indonesia dan lembaga terkait. Buku ini menjelaskan kerumitan hidup para pengungsi tersebut dalam konteks hubungan Indonesia dan Australia terkait penanganan pengungsi.

Dr Antje menjelaskan, dari 1.807 pengungsi yang tiba di Aceh, sekitar 1000 diidentifikasi sebagai orang Rohingya sedangkan sisanya sebagai orang Bangladesh. Pemisahan ini berpengaruh, kata Dr Antje, karena mereka yang dari Bangladesh dengan cepat dikembalikan ke negara asalnya.

“Mungkin saja di antara yang kembali itu justru terdapat orang Rohingya, sebab Bangladesh selama ini merupakan tempat pengungsian orang Rohingya selama beberapa dekade,” jelasnya.

“Untungnya tidak seorang pun yang dikembalikan ke Myanmar, sebab pemerintah di sana tidak mengakui orang Rohingya sebagai warga negara mereka dan menyebutnya sebagai imigran gelap dari Bengali,” katanya.

06-11-09.28.25

Menurut Dr Antje, ada perbedaan perlakuan yang diberikan kepada pengungsi Rohingya di Indonesia dibandingkan dengan pengunsg dari negara lain. Sama seperti pengungsi lainnya yang tidak diperbolehkan bekerja, mereka pun tidak bisa bersekolah atau berkesempatan menjadi warga negara Indonesia.

“Namun sebagai minoritas Muslim tertindas, orang Rohingya menerima solidaritas besar dari warga dan berbagai organisasi di Indonesia,” katanya.

Karena hingga saat ini Indonesia belum mengizinkan integrasi pengungsi ke dalam masyarakat lokal, pengungsi Rohingya pun hanya bisa berharap bisa ditempatkan di negara ketiga.

“Australia sendiri pada bulan Mei 2015 telah menyatakan tidak mau menerima orang Rohingya. Makanya, sejauh ini baru 3 orang Rohingya itu yang telah ditempatkan di Kanada,” katanya.

Makanya, kata Dr Antje, pengungsi Rohingya kini tertahan di Indonesia. Mereka tinggal di penampungan dan tidak banyak melakukan aktivitas karena tidak diperbolehkan bekerja atau bersekolah.

“Dengan kecilnya kemungkinan bisa menetap di Indonesia, kebanyakan orang Rohingya kini berharap bisa pindah ke Malaysia. Mereka pun kembali jatuh ke dalam kegiatan para penyelundup manusia,” ujarnya.

Dalam seminar yang digelar di Melbourne University, turut berbicara Prof Michelle Foster yang mengupas aspek legalitas hukum internasional terkait pembagian tanggung jawab dalam penanganan pengungsi.

Selain itu, Prof Susan Kneebone yang membahas respon Indonesia dalam penanganan pengungsi, serta David Manne praktisi hukum yang mengupas perlunya kalangan sivil society lebih berperan dalam penanganan pengungsi.

Muslim Rohingya Sudah Ada Sebelum Myanmar Ada

Tragedi Muslim Rohingya di Myanmar menyita perhatian dunia internasional belakangan ini. Penindasan yang dialami Muslim Rohingya membuka mata atas sejarah mereka sebagai etnis Myanmar yang tidak diakui.

Bahkan tidak itu saja, program pembersihan etnis ditengarai dilakukan pemerintah Myanmar (Burma) dengan berbagai modus yang kejam.

Lantas bagaimanakah sebenarnya sejarah umat Islam di Rohingya? Mengapa konflik di Arakan meluas menjadi konflik horizontal? Apakah kelompok Budha berada di belakang  tragedi ini? Lantas langkah apa yag tepat untuk menghentikan kekerasan di Arakan?

Dalam rangka lebih memahami akar sejarah Muslim Rohingya dan perkembangannya hingga saat ini, berikut kami coba segarkan pengetahuan dan pemahaman kita berkaitan dengan tema ini. Untuk itu, wawancara hidayatullah.com dengan Heru Susetyo, dari Pusat Informasi dan Advokasi Rohingya-Arakan (PIARA), Rabu (25/7/2012) lalu kami share kembali ke hadapan pembaca.

Heru Susetyo adalah seorang praktisi hukum yang peduli atas kezaliman yang diderita umat maupun kelompok Islam di berbagai tempat. Sekretaris Program Pascasarjana Fakultas Hukum UI ini mendirikan PIARA. Kunjungannya ke Myanmar banyak menyadarkannya bahwa Myanmar sebenarnya adalah negara yang kaya. Inilah petikan wawancaranya:

  • Bagaimana Sejarah Awal Muslim Rohingya?

Sejarahnya panjang. Sebagai etnis, mereka sudah hidup di sana sejak abad 7 Masehi. Tapi sebagai Muslim dengan nama kerajaan Arakan, mereka sudah mulai ada sejak tahun 1430 sampai 1784 Masehi. Jadi sekitar 3,5 abad mereka dalam kekuasaan kerajaan Muslim hingga mereka diserang oleh Kerajaan Burma, dan dianeksasi oleh Inggris. Setelah itu mereka dibawa menjadi bagian dari British India yang bermarkas di india. Meski India saat itu juga belum merdeka.

Kemudian berjalan bertahun-tahun lamanya sampai tahun 1940-an. Ketika Burma merdeka tahun 1948, ada 137 etnis yang ada di Burma. Sejak itupun, Myanmar tidak mengakui keberadaan mereka sebagai etnis yang ada di tanah Burma. Padahal ketika merdeka, Burma memasukkan negara bagian Arakan sebagai bagian dari Burma, namun setelah itu orang Rohingya atau Muslim Arakan tidak diakui sebagai etnis yang eksis di sana. Jadi ini masalahnya, padahal mereka sudah ada sebelum Negara (Burma) ada. Mereka dinilai minoritas dari segi warna kulit dan bahasa serta dianggap lebih dekat kepada orang Bangladesh. Walaupun mereka bukan orang Bangladesh.

  • Mana Istilah yang tepat bagi mereka, Rohingya atau Arakan?

Arakan itu nama provinsi. Kalau dalam Bahasa Inggris disebut Rakhine atau Rakhain. Sedangkan Rohingya adalah istilah yang dikenakan oleh orang luar (peneliti asing) pada abad 18-19 M.  Mereka sendiri menyebut diri mereka sebagai orang Muslim yang tinggal di Provinsi Arakan (Muslim Arakan). Cuma belakangan dikenal sebagai orang Rohingya. Karena ternyata di Arakan terdapat Muslim yang bukan berasal dari Arakan saja, tapi juga ada Muslim dari Bangladesh, juga dari bagian lain di Burma.

  • Selain etnis Arakan, ada etnis Muslim lain di Myanmar?

Banyak. Saya pernah mengadakan kunjungan lapangan ke Burma tahun 2008-2009. Saya mengunjungi Burma tiga kali. Saya datang ke ketiga kota; Yangoon, Mandalay, dan Pyin Oo Lwin. Dan saya mengunjungi 8 masjid di tiga kota itu. Peninggalan berupa masjid di sana banyak. Dan Muslim tidak hanya berasal dari Arakan, ada Muslim Burma, Muslim China, ada juga Muslim imigran dari India dan Bangladesh. Dan jumlahnya cukup signifikan. Bahkan di kota Mandalay, kota terbesar kedua di Burma, saya hitung ada 8 masjid. Di Yangoon lebih banyak lagi. Secara garis besar, mereka hidup lebih baik dari Muslim Arakan. Hanya Muslim Arakan yang hidup tertindas, dipinggirkan, dan tidak pernah diakui oleh pemerintah.

  • Bagaimana awal konflik Muslim Arakan terjadi?

Sejak sebelum Burma merdeka, tahun 1942, sudah ada aksi kekerasan kepada orang Rohingya. Ribuan orang Rohingya dibunuh. Baik oleh negara maupun etnis mayoritas, karena mereka dianggap minoritas dan bukan bagian dari Burma. Kemudian berulang terus setelah Burma merdeka, ada operasi-operasi tentara yang sering kali dilakukan sejak tahun 1950-an.

Yang paling sadis adalah Na Sa Ka Operation, di antaranya dengan metode kekerasan, pengusiran, Burmanisasi, halangan untuk menikah, dan pemerkosaan. Jadi ini adalah state violence, dimana negara melakukan genosida, etnic cleansing (pembersihan etnis), tapi kemudian berkembang menjadi kejahatan sipil antar orang Rohingya dengan orang Arakan lainnya yang non-Muslim.

Tapi saya berpikir positif bahwa orang Arakan non-Muslim sebenarnya cukup peaceful (tenang). Orang Budha itu peaceful, mereka non violence. Cuma saya kira mereka terprovokasi oleh media, pemerintah, dan agitasi dari tokoh-tokoh yang tidak bertanggung jawab sehingga timbul kekerasan. Konflik atas dua etnis itu jarang terjadi. Yang terjadi biasanya adalah konflik negara dengan orang Rohingya. Tapi sekarang jadi konflik horizontal. Dan saya yakin ini ada kepentingan di balik kekeruhan itu.

  • Jadi sebelum ini warga Budha dan Muslim relatif tidak pernah terjadi benturan?

Sejauh data-data yang saya miliki, konfliknya selalu vertikal. Tapi menjadi horizontal karena ada-tokoh yang memprovokasi. Karena Budha selama ini sebagai agama cukup peaceful. Saya kenal banyak orang Budha Burma, tidak ada yang namanya sikap perlawanan yang keras.

  • Sebenarnya mengapa Muslim Rohingya Ditakuti? Bukankah mereka minoritas?

Di mana pun mayoritas ingin menghegemoni kepada etnis yang berbeda. Ada istilah Myanmar for Burmese, not for moslem (Myanmar hanya untuk Burma, bukan untuk Muslim). Saya kira itu kurang sehat. Karena sejatinya di Myanmar itu tidak hanya orang Burma, ada banyak etnis di situ. Sementara orang Rohingya ini agamanya sudah beda, dan etnis juga sudah jauh. Sebagai Muslim dia juga berbeda dengan agama lainnya di Myanmar. Orang Rohingya tidak makan babi, (tidak) minum minuman keras, (tidak) menyembah dewa-dewa, itu halangan dari segi kultural.

Dari segi jumlah memang tidak menakutkan. Nah ini masalah jumlah juga tidak jelas.Sensus selama ini tidak mendapati angka yang sebenarnya. Ada yang 1 juta, ada yang 3.6 juta.

Jadi saya kira, pemerintah Myanmar tidak takut dengan jumlah tapi bahwasanya dari awal orang Rohingya dianggap stateless (tidak punya kewarganegaraan). Alasannya memang tidak jelas. Cuma karena mereka berbeda saja. Mungkin mereka tidak nyaman, dan secara sejarah mereka dinilai orang Benghali, bukan Burma.

Maka pernyataan terakhir dari Presiden Myanmar itu menyakitkan. Bahwa supaya orang Rohingya dipindahkan ke negara lain. Ini pernyataan kurang ajar. Padahal mereka sudah tinggal di situ sejak berabad-abad lamanya.

  • Ada yang mengatakan jika dibiarkan Muslim Arakan akan kembali membuat Kesultanan Islam?

Saya kira itu kecil kemungkinan. Arakan tidak hanya ada Muslim. Arakan Selatan itu kebanyakan non Muslim. Untuk membuat negara jauh panggang daripada api. Itu juga bukan target dari mereka. Mereka hanya ingin diakui seperti warga Myanmar lainnya. Beda dengan Muslim di Selatan Thailand atau di Moro, Filipina, mereka mungkin punya target ke arah sana, tapi beda dengan orang Rohingya. Mereka tidak punya sumber daya, karena jumlahnya sedikit, sekolah juga tidak. Akses ke ekonomi politik juga tidak tersedia. Karena Burma juga negara miskin, tetangga mereka Bangladesh juga miskin. Jadi jika mereka ingin membuat negara sendiri juga tidak menyelesaikan masalah, tapi minimal mereka ingin ada pengakuan.

  • Bisa dijelaskan pengalaman Anda mengunjungi Myanmar?

Ketika saya ke sana, negara tersebut penuh dengan tentara yang membuat kita tidak leluasa. Saya punya teman orang Burma, ketika saya ke sana, mereka mengatakan, ‘Jangan bicara politik di sini, kamu akan membahayakan kami.’ Jadi ada pembatasan yang membuat tidak nyaman. Jangankan bagi orang asing, orang sana pun merasa tidak nyaman.Dari segi alamnya indah dan luasnya terbesar kedua setelah indonesia di Asia Tenggara. Tapi mungkin seperti mutiara terpendam karena tidak dipoles dengan bagus. Orang pun tidak tahu banyak tentang Myanmar karena media dan internet pun disensor. Televisi juga jarang.

Kalau secara fisik, saya melihat seperti Indonesia tahun 1980-an. Saya tidak melihat ada gedung bertingkat seperti di Sudirman-Thamrin. ATM tidak ada, money changer jarang sekali, telepon seluler juga sangat mahal, dan listrik pun byar pet, suka mati. Jadi ini konyol, penduduknya nyaris 90 juta, tapi tidak banyak orang mengetahui tentang Burma.

  • Ada Transisi Demokrasi di Myanmar Sekarang, Apakah Ini Akan Berdampak bagi Muslim di Arakan?

Masalahnya Aung San Suu Kyi sendiri diam. Karena mungkin dia punya kepentingan lain yang lebih besar untuk mendemokratiskan Burma, jadi seperttinya dia tidak mau mengambil risiko. Lebih baik dia tidak mengambil masalah dengan membicarakan Rohingya, daripada agenda besar dia tidak bisa dijalankan. Dan iklim demokratisasi itu tidak bisa langsung mengubah semuanya. Bagaimanapun Junta militer masih berkuasa. Meski dia (Su Kyi) punya kursi di parlemen, itu tidak langsung membuatnya berkuasa. Dan apakah berdampak bagi Rohingya, ini masih perlu dibuktikan. Kita juga menunggu peran aktif dari Suu Kyi, beranikah dia bicara tentang Rohingya.

  • Apa yang bisa kita bantu untuk Muslim Rohingya?

Bantuan bisa bermacam ragam , yang jelas yang mereka butuhkan sekarang adalah status sipil sebagai warga Negara dan bahwasanya mereka punya kebebasan seperti warga Negara yang lain. Bebas untuk menikah, bebas untuk punya anak, bebas dari perbudakan, bebas sekolah, bebas mendapatkan akses kesehatan. Jadi itu yang mereka minta, kebebasan, keadilan, dan akses yang sama. Hentikan pemerkosaan, pembunuhan, kesewenang-wenangan, jangan ada Burmaisasi terhadap orang Rohingya.

Untuk Negara-negara penerima pengungsi, agar tidak mengusir mereka. Perlakukan mereka dengan baik. Dan jangan ikuti saran Presiden Thein Sein untuk memindahkan mereka ke negara ketiga. Pertanyaannya, negara mana yang mau menerima mereka? Karena Negara-negara sekarang juga punya masalah dengan penduduknya.

Mereka juga butuh bantuan lainnya seperti sandang, pangan, papan, tapi masalahnya bantuan juga sulit bisa masuk. Karena akses ke sana dibatasi oleh pemerintah Myanmar.

Uang juga sukar, karena Bank di Myanmar seperti bank zaman dulu, bagaimana mau ambil uang jika ATM tidak ada? Untuk buka account, itu juga bukan masalah sederhana karena mereka tidak punya ID Card (KTP).Yang bisa kami lakukan sekarang adalah melakukan advokasi dengan sesama Muslim Myanmar yang tinggal dalam pelarian di Jepang, Malaysia, Thailand, dan London. Mereka lebih vokal, karena lebih aman.

  • Pulau di Indonesia banyak, apakah mungkin memindahkan mereka ke Indonesia?

Itu mudah saja kalau ada kemauan politik seperti  kasus pengungsi Vietnam yang ditempatkan di Pulau Galang dan Rempang tahun 1970-an. Atas nama kemanusiaan memang tidak masalah.

Namun masalahnya itu menyenangkan pemerintah Mnyamar. Ini tanggung jawab mereka kok malah menimpakan kepada negara lain. Karena Myanmar sendiri masih besar negaranya, cuma mereka dibatasi saja aksesnya.

Foto-Foto Pembantaian Muslim Rohingya

Pasar habis dibakar

Pasar habis dibakar

Screenshot_2016-06-11-21-43-15_1

Pembakaran desa Muslim

Pembakaran desa Muslim

Aksi kekerasan polisi Myanmar terhadap Muslim Rohingya

Aksi kekerasan polisi Myanmar terhadap Muslim Rohingya

Screenshot_2016-06-11-21-51-50_1 Screenshot_2016-06-11-21-52-04_1 Screenshot_2016-06-11-21-52-17_1

Stop Genocide Rohingya!

Screenshot_2016-06-11-22-00-51_1

Referensi

  • ^makintau.com/2015/05/turki-dan-saudi-permalukan-indonesia-terkait-rohingya.html?m=1
  • ^makintau.com/2015/05/siapa-sebenarnya-sosok-biksu-ashin-wirathu-itu.html?m=1
  • ^islampos.com/nasib-imigran-rohingya-185630/
  • ^mosleminfo.com/berita/nasional/din-diberi-satu-pulau-saja-untuk-pengungsi-rohingya-sudah-cukup/
  • ^liputan6.com/global/read/2441434/tenggat-akan-berakhir-malaysia-tetap-tampung-pengungsi-rohingya
  • ^liputan6.com/global/read/2468215/aung-san-suu-kyi-terkejut-diwawancara-soal-muslim-rohingya
  • ^radioaustralia.net.au/indonesian/2016-03-16/bagaimana-nasib-pengungsi-rohingya-saat-ini/1559332
  • ^jogjakartaheart-fendyblog.blogspot.sg/2012/07/pembantaian-umat-muslim-di-rohingya.html?m=1
  • ^salam-online.com/2012/06/pembantaian-atas-muslim-myanmar-kian-menggila-mereka-butuh-bantuan-mari-bergerak-serempak.html
  • ^salam-online.com/2012/06/ribuan-muslim-rohingya-dibantai-etnis-musyrik-ke-mana-mata-dunia-dipalingkan.html
  • ^salam-online.com/2012/08/heru-susetyo-muslim-rohingya-sudah-ada-sebelum-myanmar-ada.html
Iklan

One response »

  1. Jimmy berkata:

    I have been surfing online more than 3 hours lately, but I never discovered any
    attention-grabbing article like yours. It is lovely worth
    sufficient for me. Personally, if all site owners and bloggers
    made good content as you probably did, the internet will be a lot more useful than ever before.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s