Diskriminasi Muslim Rohingya, Myanmar

www.ibtimes.co.uk%0A

Seperti kita ketahui, saat ini ribuan warga etnis Rohingya yang terusir dari kampung halamannya di Myanmar saat ini berada di Aceh dan Sumatera Barat setelah diselamatkan oleh nelayan Aceh.

Nasib mereka tidak jelas, bahkan negaranya sendiri sudah tidak mengakui lagi kewarganegaraanya. Oleh sebab itu, mereka memilih untuk melarikan diri dan mencari perlindungan di negara lain.

Hal itu dikarenakan mereka mendapat perlakuan diskriminasi dari pemerintah mereka sendiri. Etnis Rohingya dibantai, dibunuh dan diperlakukan tak seperti manusia. Miris memang, disaat dunia ini menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia namun melihat keadaan rakyat Rohingya yang beragama muslim diperlakukan seperti itu, dunia malah seakan bungkam dan tidak tahu tentang hal ini.

Bahkan orang-orang yang dengan lantang menyuarakan HAM juga entah pergi kemana. Kekerasan yang dialami masyarakat Rohingya ini sebenarnya hanya dilatarbelakangi oleh SARA.

Mereka (etnis Rohingya) dibantai secara keji lantaran mereka beragama Islam. Kekejaman ini diduga dipimpin oleh seorang Biksu bernama Ashin Wirathu, seorang ‘biksu radikal’, begitulah media memberinya julukan.

Menghadapi hal tersebut membuat masyarakat Rohingya akhirnya terusir dari negara mereka berharap ada negara yang mau menolong mereka. Namun perjalanan yang mereka tempuh tidak berjalan mudah, karena negara-negara tujuan mereka seperti Thailand, Malaysia dan Indonesia juga tidak mau ikut campur dalam masalah ini.

Hingga akhirnya ada warga Aceh yang dengan sukarela membantu mereka atas dasar ‘sesama muslim adalah saudara’ dan kemanusiaan. Indonesia merupakan negeri yang kental dengan budaya timurnya yang sopan, santun, dan berperikemanusiaan. Bahkan dalam falsafah negara dikenal pada sila ke duanya dengan ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’.

Bukti bentuk implementasi dari sila kedua tentang kemanusiaan telihat dari bagaimana rakyat Aceh menyambut kaum muhajirin etnis Rohingya yang terzalimi dan butuh bantuan. Masyarakat pun berbondong-bondong menyambut tamu ujian dari Allah ini dengan menolong dan memberikan kebutuhan mereka.

image

Mengutip dari situs zulfanafdhilla.com, Imigran etnis Rohingya yang terzalimi merupakan bentuk salah satu ujian dari Allah kepada kita rakyat Indonesia yang 99% muslim agar dapat mengayomi dan menolong saudara seiman.

Etnis Rohingya ini sendiri sudah ditolak oleh beberapa negara untuk menampung mereka seperti Thailand dan Malaysia. Miris kita lihat dimana sekat pembatas negara menjadi suatu sebab keegoisan kita.

Walaupun dunia memuji Aceh dengan segala upaya menolong Rohingya. Ternyata kemanusiaan juga muncul di negeri jauh sana seperti Turki dan Saudi.

Namun, kebijakan yang kemudian di tetapkan di Indonesia telah merobek arti kemanusiaan pada sila kedua dan menyangkal akan makna “ummatan wahidah” (ummat yang satu). Seperti kabar yang kita dapati senin lalu, bahwa TNI akan menghalau etnis Rohingya masuk ke Indonesia.

Panglima TNI Jenderal Moeldoko mengatakan, Pemerintah Indonesia tak akan membiarkan wilayah lautnya dimasuki kapal-kapal pengungsi Rohingya. Menurut dia, bantuan kemanusiaan tetap akan diberikan kepada pengungsi yang terusir dari Myanmar tersebut, namun tetap melarang mereka masuk apalagi menepi di daratan Indonesia.

“Untuk suku Rohingya, sepanjang dia melintas Selat Malaka, kalau dia ada kesulitan di laut, maka wajib dibantu. Kalau ada sulit air atau makanan kami bantu, karena ini terkait human. Tapi kalau mereka masuki wilayah kita, maka tugas TNI untuk menjaga kedaulatan,” ucap Moeldoko di Istana Kepresidenan, Jumat (15/5/2015).

Moeldoko menuturkan bantuan akan diberikan di tengah laut, sehingga kapal-kapal yang ditumpangi pengungsi Rohingnya tidak perlu memasuki wilayah teritori Indonesia. Patroli yang dilakukan oleh TNI Angkatan Laut dan Angkatan Udara juga akan dikerahkan untuk menjaga wilayah laut Indonesia tetap steril.

Menurut Moeldoko, langkah ini diambil lantaran keberadaan para pengungsi ilegal ini justru menimbulkan persoalan sosial.

“Urus masyarakat Indonesia sendiri saja tidak mudah, jangan lagi dibebani persoalan ini,” ucap Moeldoko.

Oleh karenanya TNI AL telah mempersiapkan kapal-kapal militer untuk menghalau datangnya kaum-kaum yang terzalimi itu ke Indonesia.

“Empat kapal perang dan sebuah pesawat berpatroli di pantai Aceh untuk mencegah perahu imigran masuk,” kata Kepala Pusat PeneranganTNI Mayor Jenderal Fuad Basya, seperti dilansir The Guardian, Selasa (19/5/2015).

Namun berbeda dengan negara super seperti Turki dan Saudi. Dikabarkan, seperti yang saya kutip dari Eramuslim bahwa Turki telah mempersiapkan kapal-kapal militer AL untuk ikut serta dalam misi penyelamatan etnis Rohingya yang terombang-ambing di laut Andaman.

“Pemerintah telah menginstruksikan kapal militer Turki di wilayah tersebut dan bergabung dengan upaya internasional untuk membantu para pengungsi Rohingya,” kata Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu seperti dilansir dari Xinhua, Rabu (20/5).

Tak hanya itu, relawan dari Turki yang tergabung dalam Non-Governmental Organization (NGO) Asal Turki İnsani Yardım Vakfı (IHH) telah tiba di Aceh untuk memberikan bantuanya terhadap para pengungsi Rohingya yang berada di Aceh.

Sedangkan di Saudi Arabia dengan raja barunya King Salman Bin Abdul Aziz. Dimana 170.000 warga Rohingya diakui dan diizinkan tinggal di negri Saudi.

Pemimpin komunitas Muslim Rohingya di Arab Saudi Abu Al-Shamie Abdulmajid mengatakan mimpi mereka jadi kenyataan untuk bisa menjadi warga yang sah di Arab Saudi.

Menurutnya, hal itu berkat langkah kerajaan Arab Saudi yang mengakui keberadaan warga Rohingya di negara itu.

Diberitakan Saudi Gazette, hari ahad (15/03/2015), Kerajaan Arab Saudi telah memberikan izin tinggal (iqama) kepada 170 ribu pengungsi Muslim Rohingya di negara tersebut. Sementara jutaan penduduk Rohingya lainnya tengah menjalani proses penerimaan iqama.

Media lain, Arab News memberitakan, masih ada sekitar 4 juta warga Rohingya di Saudi kini berhak untuk mendapatkan iqama.

Abdulmajid bahkan mengatakan warga Rohingya telah lebih dari 70 tahun lalu menjadi bagian dari Arab Saudi, setelah kabur dari pembantaian etnis di Myanmar.

Bahkan kini, warga Rohingya bisa bebas bekerja, mendapatkan layanan medis dan menempuh pendidikan di sekolah pemerintah serta hak-hak warga negara lainnya.

Selain Turki dan Saudi, Aceh yang juga bagian dari Indonesia telah memberikan kontribusi yang banyak untuk peristiwa sejarah peradaban ini. Kebaikan rakyat Aceh pun telah diberitakan lintas internasional. Aceh kini telah membuat suatu sejarah dan peradaban baru bagi dunia. Tak hanya Aceh, rakyat Indonesia pun turut berbartisipasi dalam misi kemanusiaan Rohingya.

Dan saya yakin, walaupun mereka sempat ditolak di Thailand dan Malaysia. Rakyat disana juga banyak menaruh rasa iba dan keinginan untuk menolong walaupun terhalang oleh kebijakan pemerintah.

Namun, walau bagaimanapun Indonesia telah dipermalukan oleh Turki dan Saudi. Tatkala Indonesia mempersiapkan kapal-kapal AL untuk menghalau tibanya imigran Rohingya, maka Turki dengan segala persiapan kapal-kapal AL dikerahkan untuk menyelamatkan merka. Tatkala Saudi Arabia telah memberikan izin hidup di negara mereka, Indonesia malah kebingungan dengan hadirnya mereka.

Dengan demikian harus kita akui ketidak berdayaan negara kita jauh dibawah negeri Turki dan Saudi yang kadang kita sendiri sebagai warga Indonesia meledek dan menghina mereka. Dengan kekacauan politik serta sosial di negeri ini, membuat kita sadar betapa begitu akutnya penyakit yang diderita Indonesia.

Ashin Wirathu

Screenshot_2016-06-11-20-34-58_1

Akhir-akhir ini sedang ramai di media sosial yang membicarakan tentang sosok Ashin Wirathu. Tidak hanya di Indonesia saja, sosok Ashin Wirathu ini juga diperbincangkan di luar negeri. Bahkan, media-media ternama dunia seperti majalah Time juga membicarakan sosok orang ini.

Ashin Wirathu adalah seorang biksu asal Burma yang lahir pada 1968. Pada umur 14 tahun ia berhenti sekolah dan menjalani hidup kebikkhuan tersebut. Yang membuatnya menjadi terkenal seperti sekarang ini adalah karena aktivitas-aktivitasnya yang selama ini dikenal radikal.

Terlebih lagi setelah tragedi pembantaian dan pengusiran Muslim Rohingya beberapa waktu silam, namanya semakin mencuat dan dikait-kaitkan dengan kejadian tersebut.
Terlebih lagi setelah tragedi pembantaian dan pengusiran Muslim Rohingya beberapa waktu silam, namanya semakin mencuat dan dikait-kaitkan dengan kejadian tersebut.

Siapa yang menyangka, wajah tenang dengan pakaian sederhana yang sama seperti para biksu pada umumnya ternyata sangat bertolak belakang dengan kelakuannya selama ini.

Majalah-majalah terkemuka seperi Time, New York Times, sampai Washington Post bahkan melabelinya dengan sebukan pembenci muslim karena Ashin Wirathu disebut sebagai penggerak kaum Buddha di Myanmar menyerang Muslim Rohingya.

Bahkan majalah Time menjadikan wajahnya sebagai cover majalah mereka dan terdapat tulisan ‘The Face of Buddhist Terror’. Washington Post juga menguak sepak terjang Ashin Wirathu yang mendalangi dalam pergerakan pembantaian Rohingya.

“Kamu bisa saja penuh cinta dan kebaikan, tapi kamu tidak akan bisa tidur tenang di sebelah anjing gila,” tutur Ashin seperti mengutip Washington Post. Anjing gila yang dimaksud adalah muslim Rohingya.

Ia juga mengatakan bahwa dirinya bangga disebut sebagai Buddha garis keras karena kebenciannya terhadap Islam. Bahkan, dengan terang-terangan Ashin dalam ceramahnya di depan jama’ahnya mengatakan bahwa muslim Rohingya adalah musuh yang harus dihabisi.

Ia sangat aktif di sosial media seperti Youtube dan Facebook yang digunakannya sebagai sarana untuk menyebarkan pesannya. Bahkan, saat ini ia telah memiliki pengikut lebih dari 37.000.

Ashin Wirathu menyebarkan ajaran kebencian dalam setiap ceramahnya. Dia selalu menyasar komunitas Muslim, seringkali dia memojokkan Rohingya. Pria inilah yang memimpin demonstrasi yang mendesak orang-orang Rohingya direlokasi ke negara ketiga.

Ashin juga mengkambinghitamkan kaum Muslim atas bentrokan yang terjadi. Dia terus mengulang alasan tak masuk akal soal tingkat reproduksi Muslim yang tinggi.

Biksu itu mengklaim perempuan Buddhis dipaksa pindah agama. Dia memimpin kampanye yang mendesak Pemerintah Myanmar mengeluarkan peraturan yang melarang perempuan Buddhis menikah dengan pria beragama lain tanpa izin pemerintah.

Dikutip dari sejumlah sumber, biksu Ashin Wirathu melakukan itu sebagai pembalasan atas penghancuran patung Buddha Bamiyan di Afganistan. Aksi pembalasannya itu dinamai gerakan 969.

PBB sempat geram kepadanya setelah ia melontarkan makian kepada seorang utusan PBB dengan menyebutnya sebagai ‘pelacur’ dan ‘wanita jalang’. Pejabat hak asasi manusia PBB, Zeid Ra’ad Al Hussein pun mendesak pemerintah Myanmar mengecam keras biksu Ashin Wirathu.

Saat ini, ada lebih dari 1.000 pengungsi Rohingya yang terusir dari rumahnya di Myanmar dan kini mengungsi di Aceh dan Sumatera Utara. Kondisi muslim Rohingya saat ini sangat memprihatinkan.

Namun, sayangnya pemerintah Myanmar tidak sanggup berbuat banyak atas kekerasan yang terjadi pada warganya itu. Setelah hampir setengah abad dikuasai militer, kini Myanmar dipimpin oleh warga sipil. Namun, bentrokan antar agama memperlambat reformasi negara itu.

Sebagian orang percaya, Ashin diterima pemerintah kareana dia menyuarakan pendapat soal pandangan-pandangan populer, misalnya soal Rohingya. Ashin seolah menjadi corong pemerintah yang tidak bisa menyuarakan keinginannya sendiri karena alasan diplomatik.

Kaum perempuan Myanmar adalah satu-satunya kelompok yang konsisten menentang pandangan Ashin Wirathu. “Dia memberi reputasi buruk untuk negara kita. Dia menodai jubah biksu yang dia gunakan,” kata Sekretaris Jenderal Liga Perempuan Burma, Tin Tin Nyo.

Dia juga mengatakan, kampanye Ashin Wirathu yang mengusulkan peraturan yang membatasi perempuan menikahi pemeluk agama lain, bukanlah bentuk perlindungan perempuan melainkan bentuk kontrol atas perempuan.

“Perempuan dapat memutuskan sendiri siapa yang ingin dia nikahi. Perempuan dapat memilih sendiri agama yang ingin dianut,” kata Tin Tin Nyo.

Arakan, Negeri Asal

Siapa sebenarnya orang Rohingya yang sekarang sedang ramai diperbincangkan yang menurut PBB mereka adalah ‘etnis yang paling tertindas di dunia’ itu?

Arakan adalah wilayah yang menjadi sumbu konflik di Myanmar saat ini. Kawasan di mana orang-orang Rohingya ditindas, dibantai dan diusir dari negeri leluhur mereka. Tanah ini adalah tanah yang kaya akan sumber daya alam yang karena kekayaannya itu pula Arakan telah menjadi rebutan klaim kepemilikan antara bangsa Burma dan rakyat Rohingya sendiri. Tentu saja klaim tersebut kemudian memilki jejak sejarahnya masing-masing.

Bagaimanapun dua versi sejarah Arakan tersebut memiliki satu fakta sejarah yang sama-sama disepakati. Baik versi Rohingya maupun Burma, sejarah Arakan dimulai dari kedatangan bangsa ras Indo-Arya (ras anak benua India) ke tanah tersebut ribuan tahun SM.(www.rohingya.org & www.myanmar-image.com, 21 Mei 2015)

Artinya, kedua versi sejarah ini sepakat bahwa nenek moyang bangsa Arakan adalah bangsa dari rumpun ras anak benua India. Rumpun ras tersebut adalah rumpun ras yang sama yang dimiliki oleh orang-orang Rohingya sekarang, bukan rumpun ras yang dimiliki oleh orang Burma.

Sejak berdirinya berbagai jenis kerajaan di Arakan, entitas agama kerajaannya silih berganti mulai dari Budha, Hindu dan terakhir kerajaan bercorak Islam pada abad 15-18 Masehi sebelum akhirnya diinvasi oleh bangsa Burma pada 1784. Aye Chan (2005), dalam tulisannya The Development of a Muslim Enclave in Arakan (Rakhine) State of Burma (Myanmar) bahwa sampai dengan tahun 1824, bangsa Arya Arakan mengalami intimidasi dan penindasan dari rezim penguasa Burma saat itu.

Ketika Inggris menguasai Burma, kolonalis Barat tersebut menerapkan kebijakan pembagian strata sosial berdasarkan pada tiga kelompok, yaitu: ras penjajah (Eropa) sebagai strata tertinggi, asing non-pribumi strata kedua, dan pribumi pada strata terendah. Kebijakan ini juga memberikan kenyamanan bagi rakyat Rohingya sekaligus sebagai angin segar baru setelah sebelumnya mengalami penindasan luar biasa dari bangas Burma yang merampas tanah mereka.

Maka segera setelah itu rakyat Rohingya menguasai pertanian dan perdagangan di Burma termasuk di Rangoon. Struktur sosial yang sama juga diterapkan oleh kolonialis Barat lainnya seperti Belanda yang menempatkan bangsa timur asing seperti Cina pada strata kedua sebagai mitra dalam usaha dagang mereka.(www.dutcheastindies.deviantart.com, 21 Mei 2015)

Bisa dikatakan alasan kedekatan dengan kolonialis Inggris ini kemudian menjadi sandaran bagi bangsa Burma untuk mencap rakyat Rohingya sebagai ‘pengkhianat’, kemudian mendapatkan justifikasi untuk membalas pengkhianatan tersebut dengan penindasan, pembantaian dan pengusiran bangsa Rohingya dari tanah leluhur mereka. Itulah yang dialami bangsa Rohingya setelah Inggris meninggalkan Myanmar.

Tentu saja ini adalah alasan yang tak pernah terbayangkan sama sekali dalam benak rakyat pribumi—seperti kita di Indonesia—walaupun mengalami pengkastaan yang sama seperti Myanmar ketika memandang saudara-saudara Tionghoa setelah kemerdekaan dari Belanda. Mungkin saja ini adalah justifikasi yang dibuat-ibuat.

Cap pengkhianat adalah bahasa yang sangat menarik bagi massa yang sentimen untuk bergerak membumi hanguskan kelompok yang sudah dianggap musuh. Memang invasi bangsa Burma atas tanah air Rakyat Rohingya pada paruh akhir abad 18 adalah bukti bahwa permusuhan itu sesungguhya telah ada sebelum Inggeris menjejakkan kakinya di Myanmar.

Sampai dengan tahun 1930-an, kebencian terhadap Rohingya muslim berubah menjadi kebencian terhadap muslim secara keseluruhan.(www.hi.umy.ac.id, 21 Mei 2015)

Artinya, kaum minoritas muslim non-Rohingya yang sebelumnya tak terusik kini juga turut menjadi sasaran amarah orang Burma yang dimotori para biksu berpengaruh dan karismatik mereka. Justifikasi yang menjadi pegangan kali ini adalah untuk melindungi ras dan agama Budha (www.dw.de, 21 Mei 2015).

Hanya saja karena Rohingya telah ditetapkan oleh penguasa militer Myanmar sebagai kelompok yang tak mendapatkan kewarganegaraan, maka mereka menjadi kelompok muslim yang paling rentan terhadap serangan-serangan intimidasi fisik dan psikis. Faktor utama yang kemudian membawa mereka terombang-ambing di lautan untuk menyelamatkan jiwa dan tentu saja menjaga entitas peradaban mereka.

Soal Kemanusiaan

Ketika para etnis Rohingya ini terdampar di negeri kita yang subur ini, dunia akan tertawa dan melihat rendah kepada bangsa Indonesia seandainya tidak mampu menjadi solusi masalah ini, bahkan Indonesia, Malaysia dan Thailand disebut beberapa waktu lalu, enggan membiarkan mereka memasuki negaranya masing-masing karena lebih takut kepada masalah ledakan penduduk. Sinyal Amerika Serikat untuk bersedia menerima orang Rohingya adalah positif, akan tetapi sebagai sesama orang Asia, tentu kita akan malu jika tetangga kita menderita tapi kita tidak membantu, sedangkan bangsa lain yang jauh bersedia mengulurkan tangan untuk membantu.(www.time.com, 22 Mei 2015)

Keragu-raguan Indonesia untuk membantu secara utuh masalah ini jika dilihat sebenarnya bertentangan dengan Dasasila Bandung yang diikrarkan 60 tahun yang lalu, dan bahkan baru saja diperingati di negara kita beberapa pekan yang lalu. Sebagai bangsa yang besar, kita sesungguhnya tidak bicara masalah etnis dan agama, tidak membahas tentang suku dan ras, tapi kita sedang berkompetisi menjadi negara yang benar-benar menghormati dan mengangkat derajat umat manusia.

Kita tak akan pernah melupakan bahwa Indonesia berhasil menjadi poros tengah kala suasana dunia memanas dengan adanya blok barat dan blok timur, lalu apakah saat ini naluri menjadi solusi itu sudah hilang dari jati diri kita bangsa Indonesia? Tentu saja, kita harus membantu yang tidak hanya di permukaan, tapi juga membantu secara utuh. Ini tidak hanya masalah bangsa lain, akan tetapi masalahnya pada kemanusiaan. Sebagai bangsa yang berpancasila, kita pastinya tergugah untuk membantu orang-orang yang menderita.

Nasib Imigran Rohingya

Tiga orang terbaring lemas di atas tikar. Dua diantaranya orang dewasa, satu anak-anak yang di tangannya tengah diinfus. Harian Kompas yang merilis foto tersebut di halaman depannya menulis,

“Imigran Rohingya asal Myanmar dirawat karena sakit di tempat penampungan.” Ada sekitar 433 imigran Rohingya yang ditampung bekas pabrik kertas di Kecamatan Rantau Selamat, Aceh Timur (Kompas, 22 Mei 2015).

Nasib Imigran Rohingya Menjadi Bahasan di DPR

Walau belum menandatangani konvensi PBB tahun 1951, Indonesia tetap memiliki kewajiban untuk membantu imigran Rohingya yang terdampar di laut Aceh. Walaupun pengungsi yang ada di Indonesia saat ini, menurut data PBB ada sekitar 12.000, termasuk etnik Rohingya, tapi tetap kita punya ‘naluri kemanusiaan’ untuk membantu mereka. Prinsip non-refoulement—yang melarang pemerintah untuk menolak para pencari suaka karena masalah ras, agama, dan kebangsaan—tetap harus dihargai, sebagaimana kata Juru Bicara Kemenlu Arrmanatha Nasir.(www.bbc.co.uk, 14 Mei 2015)

Ketua Komisi I DPR Mahfudz Sidiq sempat memberikan solusi beberapa hal terkait bantuan logistik untuk kapal-kapal mereka, menyiapkan penampungan, berkoordinasi dengan UNHCR untuk pengiriman kembali ke Myanmar, dan bersama Malaysia dan Thailand menekan Myanmar untuk menyelesaikan soal politik terhadap warga Rohingya.(https://republika.co.id, 18 Mei 2015)

Apa yang diusulkan oleh Din Syamsudin terkait penempatan imigran Rohingya di sebuah pulau menarik untuk dikaji. Kita masih kayak dengan pulau, dan banyak yang belum terisi. Namun, memang, apakah yang diberikan adalah pulau atau lahan produktif, tetap perlu ada regulasi yang jelas.

Memang jika alasannya mereka melanggar imigrasi karena tidak memiliki passport, tentu ini bisa dipahami, tapi konteks secara umum faktanya memang mereka adalah orang-orang yang lari karena ditindas di negaranya. Mungkin ada baiknya hal ini dibahas oleh instansi terkait seperti DPR untuk membahas kasus ‘pelanggar imigrasi’ yang terusir dari negaranya dan meminta suaka ke Indonesia. Sila ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’ bisa menjadi landasan untuk melihat hal ini.

Yanuardi Syukur adalah Dosen Antropologi Universitas Khairun Ternate; Khairul Fuady adalah Dosen IAIN Zawiyah Cot Kala Langsa Aceh; Adnan Arafani adalah Mantan Presiden Mahasiswa Universitas Negeri Padang. Ketiganya adalah Awardee LPDP Afirmasi Luar Negeri dan sedang mengikuti pengayaan IELTS di ITB.

Tulisan ini adalah bagian dari keresahan atas tragedi Rohingya, dan upaya untuk mencari solusi masalah tersebut.

Din Syamsudin: Diberi Satu Pulau Saja untuk Pengungsi Rohingya Sudah Cukup

Ketua Umum PP MuhammadiyahDin Syamsuddin menyatakan setuju jika Pemerintah Indonesia menerima etnis Muslim Rohingya asal Myanmar yang saat ini terdampar di Aceh. Jumlahnya sudah mencapai ratusan orang.

“Ada ketentuannya memang, tapi saya pribadi senang sekali etnisRohingya Myanmar bisa diterima di Indonesia karena kebetulan mereka tak berwarga negara dan mereka juga Muslim. Indonesia akan berbesar hati karena masih banyak pulau yang belum dihuni,” kata Din, di Pekanbaru, Senin (18/5/2015) malam.

Menurut Din, yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), dari 17 ribu pulau yang ada di Indonesia baru setengah saja yang dihuni. Jika diberi satu pulau saja untuk didiami pengungsiRohingya, menurut dia, sudah sudah cukup.

“Ini pilihan yang baik, saya termasuk orang yang setuju. Tapi tidak perlu pakai petisi, sampaikan saja kepada Presiden dengan baik,” kata Din.

Namun, dia mengakui, ada konsekuensi jika kesempatan itu diberikan.

“Orang juga akan berbondong-bondong datang ke Indonesia, apalagi Indonesia saat ini masih punya banyak masalah juga. Tapi dipilah-pilah lah,” ujarnya.

Sebagai Ketua MUI, Din mengimbau umat Islam dan organisasi masyarakat yang lokasinya berdekatan dengan pengungsiRohingya seperti di Aceh, Sumut, dan Kepulauan Riau agar memberikan bantuan.

“Syukur Alhamdulillah, banyak yang mau membantu. Untuk ini dibantu saja, bagi Indonesia ini memang risiko. Anggap saja ini adalah ujian Allah ada orang yang terdampar di rumah kita,” tambahnya.

Pekan lalu, sekitar 600 orang pengungsi Rohingya asal Myanmar terdampar di Aceh Utara. Mereka mengaku tujuannya ke Malaysia, namun ditipu tekong perahu sehingga terombang-ambing di laut hingga akhirnya ditolong nelayan Aceh.


Selanjutnya: Diskriminasi Muslim Rohingya, Myanmar (Bagian 2)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s