Sebelumnya: Jangan Mudah Ditipu Iran (Bagian 2)


Membongkar Hubungan Gelap Amerika dan Iran

Dalam dunia politik, segala sesuatu dapat berubah, musuh kemarin dapat berubah menjadi kawan pada hari ini, sedang kawan kemarin dapat beralih menjadi lawan pada hari ini. Itulah makna yang dapat dipetik dari realita kedekatan antara Iran dan musuh bebuyutannya Amerika. Yaitu kedekatan yang menyebabkan cap sebagai “setan besar” dan ancaman “kematian bagi Amerika” dicabut beberapa hari sebelum perjanjian bilateral antara kedua negara tersebut.

Setelah Iran berhasil mencapai kesepakatan dengan para menteri luar negeri kelompok 5+1 yang terdiri dari AS, Cina, Rusia, Inggris, Prancis, dan Jerman pada hari Ahad, 24 Oktober 2013 M, kawasan Timur Tengah diliputi berbagai spekulasi dan analisis mengenai esensi kesepakatan dan hubungan antara Iran dan Amerika sebagai pencetus ide. Apakah hubungan tersebut dibangun di atas “reruntuhan” konflik dan perselisihan atau mereka sengaja menampakkan bagian dari apa yang telah dimatangkan secara rahasia untuk tujuan politik mengenai perkembangan di wilayah Timur Tengah, terutama apa yang terjadi di Suriah dan Mesir?

Atas dasar kesepakatan tersebut, embargo ekonomi bagi Iran akan dikurangi secara bertahap. Kekayaannya yang “dipeti-eskan” di Amerika dan beberapa negara lainnya juga akan dibebaskan. Iran juga akan mendapat keuntungan USD 1,5 miliar dari bisnis emas dan logam mulia. Larangan beroperasi bagi Bank Sentral Iran, ekspor minyak dan teknologi sipil juga segera dicabut. Izin penggunaan deposito Iran dalam pembelian suku cadang untuk pesawat sipil dan lainnya. Suspensi beberapa sanksi terhadap sektor otomotif dan ekspor petrokimia dari Iran. Memungkinkan kelangsungan harga pembelian minyak Iran pada level yang cukup murah seperti saat ini. Akan memperoleh izin mentransfer USD 4,2 miliar dari penjualan tersebut secara berangsur. Dan juga akan mendapatkan pengakuan atas peran dan pengaruh Iran secara regional di kawasan Arab jika kesepakatan ini benar-benar diterapkan.

Pencabutan embargo dan keuntungan bagi Iran tersebut diberikan sebagai kompensasi atas kesediaan negara tersebut untuk tidak meningkatkan aktivitas nuklirnya dari batas yang ada saat ini.

Iran juga telah menyetujui untuk kelonggaran bagi inspektur IAEA untuk mengunjungi fasilitas nuklirnya dan suspensi beberapa kegiatan yang berkaitan dengan pengayaan uranium sebesar 20% selama tiga tahun. Tapi para perunding Iran tetap bersikeras menyatakan bahwa negaranya memiliki hak memperoleh energi nuklir.

Beberapa analisis menunjukkan bahwa perkembangan ini lahir dari kemerosotan ekonomi yang melanda AS yang terjadi sejak tahun 2008 sebagai ekses dari krisis ekonomi global. Dan akibat dari biaya perang AS terhadap Afghanistan, Iran dan negara-negara lainnya. Ditambah dengan menurunnya pengaruh AS terhadap beberapa negara Arab. Selain diperparah dengan upaya beberapa negara, seperti Rusia, untuk menanamkan pengaruhnya di kawasan ini dengan memanfaatkan konflik yang ada.
Semua hal itu mendorong AS mencoba untuk lebih fokus dan menutup beberapa kancah pertarungan selama beberapa waktu, agar dapat fokus pada titik pertarungan lainnya terutama masalah Mesir yang merupakan khazanah strategis bagi Amerika.

Beberapa analisis juga menduga bahwa saat ini kita dipersembahkan sebagai tunjangan bagi Sykes-Picot baru yang di dalamnya dipetakan kembali kawasan Arab dan didistribusikan ke beberapa kekuatan global di bawah kontrol dan dominasi Barat dan Amerika.

Secara global, Iran dan Barat pada umumnya dan Amerika pada khususnya sepakat bahwa musuh bersama mereka adalah kelompok Sunni bersenjata. Mereka bekerja sama untuk menghadapi kelompok-kelompok Sunni tersebut. Kemungkinan kerja sama ini semakin ditingkatkan di masa mendatang untuk memusnahkan gerakan-gerakan jihad di kawasan Arab. Terutama jika dipandang bahwa kelompok-kelompok jihad itu merupakan tantangan dan penghalang utama bagi perluasan pengaruh di kawasan ini.

Berbagai analisa dan prediksi itu lahir setelah dikagetkan dengan perubahan hubungan antara Amerika dan Iran yang muncul secara tiba-tiba.

Sebenarnya orang yang mengikuti dan mengamati watak hubungan Barat secara umum dan Amerika secara khusus dengan Iran sadar bahwa hubungan mereka tidak pernah terputus sepanjang sejarah, bertolak dari konflik mencari pengaruh hingga kesamaan tujuan, ambisi dan ekspansi.

Hubungan antara kaum Syi’ah dan Barat belum terputus sejak AS belum lahir dan sebelum beralihnya negeri Persia menjadi Syi’ah yang disusul dengan penggantian nama negara menjadi Iran. Hubungan tersebut terus berkembang, bermula dengan koalisi Syi’ah dengan pasukan Salib, menyusul koalisi dinasti Shafawi dengan negara-negara Eropa melawan khilafah Utsmaniah, seperti Hungaria, Austria, Prancis dan Inggris.

Pada masa pemerintahan Dinasti Pahlevi pada awal abad ke-XX, hubungan Iran dengan Inggris yang merupakan negara superpower waktu itu semakin kuat. Inggris berperan sangat penting dalam menjatuhkan khilafah Utsmaniah. Shah Muhammad Reza Pahlevi yang pernah mengenyam pendidikan di Swiss memiliki hubungan yang sangat kuat dengan intelijen Inggris lewat sosok Monsieur Brown. Inggris juga berjasa membantu Shah Muhammad Reza Pahlevi merebut kekuasaan dari orang tuanya pada tahun 1941 H.

Setelah Amerika menerima bendera hubungan tersebut dari Inggris, AS juga melanjutkan hubungan tersebut. Di mana AS berhasil membantu Shah Muhammad Reza Pahlevi untuk kembali berkuasa lagi setelah revolusi Mossadegh tahun1963. Selanjutnya Shah Reza aktif menjadi anggota di American Club of Employment.

Selanjutnya, AS menjadikan Iran sebagai drama untuk mencapai kepentingan mereka di kawasan Arab secara keseluruhan. Sejak itu pula hubungan kedua negara tersebut terus berjalan dan tidak putus hingga kini.

Setelah peran Shah Reza Pahlevi berakhir dan Amerika memandang bahwa Pahlevi tidak cocok lagi menjadi agen. Seiring dengan awal meningkatnya pengaruh oposisi kaum Mullah dari jalan-jalan Iran, Amerika segera memberi lampu hijau kepada kaum Mullah tersebut untuk bergerak ke arah revolusi.

Rahasia itulah yang dibeberkan oleh mantan Presiden I Iran pasca revolusi Khomeini, Abol Hassan Bani Shadr dalam acara “Kunjungan Spesial” di Al-Jazeera TV pada Desember 2000 silam.

Shadr menceritakan, “Delegasi dari Gedung Putih datang untuk bertemu dengan Khomeini di Mavla Chateau, tempat pengasingannya di Prancis. Mereka diterima oleh Ibrahim Yazdi, mantan Menteri Luar Negeri Iran pada era pemerintahan Mehdi Pazakan. Di Teheran telah diadakan konferensi yang dihadiri oleh masing-masing Duta Besar Amerika di Teheran, Mehdi Pazakan yang kemudian menjadi Perdana Menteri Iran, dan Mousavi Erdavli, salah satu mullah yang pada gilirannya menjadi kepala Dewan Pengadilan Tinggi Iran. Dalam pertemuan itu, para peserta konferensi mencapai kesepakatan bahwa para tokoh agama harus bersekutu dengan tentara dalam rangka membangun sistem politik yang stabil di Teheran.”

Dalam salah satu pernyataannya pada sebuah wawancara dengan Koran Paris Match, Ayatollah Rouhani, yang merupakan perwakilan Khomeini di Washington, ketika Khomeini masih berada di Prancis, Rohani mengatakan:”Saya yakin bahwa Amerika telah memberi kita lampu hijau.” (Dikutip dari sebuah tulisan:Wailun lil Arab/Celakalah Orang-orang Arab, karya Abdel Moneim Shafiq).

Saat Bani Shadr ditanya pada siaran tersebut: Apakah ada komunikasi yang intensif antara para Mullah dengan pihak Amerika secara rahasia? Ia menjawab:”Iya, iya. Sering kali ada pertemuan. Pertemuan yang paling terkenal adalah pertemuan mendadak pada bulan Oktober di sini, kota Paris. Dalam pertemuan ini, telah ditandatangani MOU antara kelompok Reagan-Bush dan komunitas Khomeini”.

Dalam wawancara itu, Bani Sadr juga membeberkan bahwa:”Telah diadakan pertemuan antara kelompok (Reagan-Bush) dan kelompok Khomeini, yang diselenggarakan di Paris, dan ada kesepakatan… maka saya menulis kepada Khomeini menjelaskan kepadanya informasi ini. Saya tidak percaya kalau dia mengetahui hal itu. Saya berpikir bahwa Khomeini berada di luar permainan. Tapi bagaimana Anda menjelaskan realita pelepasan sandera pada malam pelantikan Presiden Reagan?!”

Bani Sadr juga menuturkan: Bani Sadr juga menuturkan: Reza Basen dada, keponakan Khomeini pernah berkunjung ke Madrid untuk bertemu dengan pejabat AS dan setelah kembali ke Iran ia meminta bertemu dengan saya. Ia mengatakan bahwa dirinya berkunjung ke Madrid lalu pihak Amerika minta untuk bertemu dengannya. Kemudian mereka memberinya usulan proyek kelompok (Reagan-Bush). Reza mengatakan kepadaku: Jika Anda terima proyek-proyek ini maka Reagan akan memenuhi semua permintaan Iran saat kelompok Reagan memegang kekuasaan. Ia juga mengancam aku, jika aku menolak usulan tersebut maka mereka akan berkoalisi dengan lawan-lawan politikku.

Apakah Anda dapat membayangkan bahwa keponakan Khomeini bias keluar dari Iran tanpa izin dari pamannya?! Reza tidak mengatakan kepada saya bahwa ia keluar dari Iran untuk menemui mereka. Aku katakana bahwa: Mungkin ia berkunjung ke Eropa, lalu kita baca dalam sebuah tulisan bahwa ia diundang untuk tujuan tersebut.”

Tentang Khomeini, Bani Sadr menyatakan bahwa: “Dia ingin membentuk ikatan Syi’ah yang bertujuan untuk menguasai dunia Islam. Ikatan yang dimaksud terdiri dari Iran, Irak, Suriah, dan Lebanon. Jika dirinya berhasil menjadi pemimpin ikatan ini, ia akan menggunakan minyak dan posisi Teluk Persia sebagai senjata untuk menguasai dunia Islam. Khomeini yakin bahwa Amerika akan memberikan jalan baginya untuk menjalankan strategi tersebut.”

Saya menyampaikan kepada Khomeini: Pihak Amerika akan mengkhianatimu. Meski aku menasehati, dan Presiden Arafat juga menasehatinya untuk hati-hati terhadap niat Amerika, Khomeini tidak dapat diyakinkan.”

Mustafaal-‘Ani, seorang analis Irak yang bermukim di Dubai menyatakan:”Pihak AS telah mewujudkan impian Ayatullah Khomeini, mendiang pemimpin tertinggi Iran secara gratis. Impian yang tidak tercapai melalui perang bersama Iran selama delapan tahun.”

Pada tahun 1984, Khomeini telah memberi lampu hijau untuk melakukan pembicaraan rahasia dengan Amerika Serikat melalui Israel. Laporan yang terbit seputar Iran Jet membeberkan tingkat perjanjian rahasia antara Khomeini dengan Amerika. Tetapi proyek tersebut lumpuh secara total saat Ayatollah Hossein Ali Montazeri memutuskan untuk menghentikan komunikasi rahasia antara Teheran dan Washington yang berakhir dengan pengasingan Montazeri dari Teheran.

Pada tahun 1986, Penasihat Keamanan Nasional AS, Bed Mc Farlane melakukan kunjungan rahasia ke Teheran. Ia bersama rombongan terbang dengan mengunakan pesawat yang mengangkut peralatan militer ke Iran. Delegasi yang menyertainya membawa kue yang dibentuk seperti kunci sebagai simbol kunci pembuka persahabatan antara kedua negara. Delegasi juga menyerahkan kitab Injil yang ditandatangani oleh Presiden Reagan. Terungkapnya kunjungan ini menjadi isu hangat yang dikenal pada waktu dengan istilah”Iran Jet”

Masalah “Iran Jet” atau “Iran-Contra” itulah yang mengantar terjadinya penandatanganan perjanjian antara Presiden Reagan dengan pihak Iran pada tahun 1985. Perjanjian ini menghasilkan kesepakatan: Iran menjual kepada AS sekitar 3.000 roket “Tao” anti-tank melalui Israel. Dan menggunakan dana penjualan untuk membiayai gerakan “Contras” yang anti rezim komunis di Nikaragua.

Hubungan bilateral antara Amerika dan Iran tidak pernah putus. Hubungan rahasia dengan Amerika yang digelari Iran sebagai “setan raksasa” tetap berlangsung pasca Khomeini. Di era Rafsanjani, Amerika dan Iran senantiasa melakukan koordinasi selama Perang Teluk II. Kesempatan tersebut sangat menguntungkan bagi Iran untuk mengalahkan Irak sebagai musuh bebuyutannya.

Hubungan tersebut semakin kuat dan meluas di era Muhammad Khatami. Di eranya, hubungan mereka beralih dari hubungan rahasia menjadi hubungan terbuka untuk pertama kalinya sejak revolusi Khomeini.

Mantan Duta Besar AS untuk Qatar, Joseph Col Ksenan menyatakan: “Presiden AS akan membatalkan keputusan yang melarang perusahaan-perusahaan Amerika berurusan dengan Teheran sebelum akhir tahun 1999. ” Ia juga menyatakan bahwa: “Clinton telah menyimpan naskah resolusi yang telah disahkan oleh Kongres di Irak. Yaitu resolusi yang melarang perusahaan Barat bekerja sama dengan Iran. Ia mengisyaratkan bahwa resolusi ini akan berakhir secara otomatis pada tahun 2001. Jojasaan juga menyatakan keyakinannya bahwa resolusi tersebut tidak akan diperpanjang. Ia menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan Amerika akan segera kembali bekerja di Iran”.

Pernyataan tersebut, diperkuat dengan permohonan maaf Presiden AS Bill Clinton kepada Iran pada bulan April 1999 atas ketidakadilan kebijakan AS terhadap Iran.

Koordinasi Amerika-Iran mencapai puncaknya pasca peristiwa September, dan setelah Iran membantu Amerika dalam upaya pendudukan Afghanistan pada tahun 2001 dan pendudukan Irak pada tahun 2003. “Tanpa bantuan Iran, Amerika Serikat tidak akan berhasil menduduki Irak dan Afghanistan.” Sebagaimana diakui oleh para pemimpin Iran, utamanya Khatami, saat menjabat sebagai presiden pada akhir tahun 2004. Pernyataan itu juga telah dilontarkan sebelumnya oleh

wakilnya Muhammad Ali Abtahi pada awal tahun 2004 dalam sebuah seminar internasional di Dubai. Lalu diulang-ulang oleh Hashemi Rafsanjani selama kampanye pemilu tahun 2005.

Irak telah dibagi antara Amerika dan Iran, di mana Iran mendapatkan pengaruh penuh atas Irak. Yaitu pengaruh yang tidak pernah suatu hari pun dimimpikan untuk mendapatkannya. Pemberian tersebut sebagai konpensasi atas penjualan minyak dan pengaruh politik AS di Irak dan Teluk.

Pemerintah Irak yang berideologi syiah itu, juga telah melakukan transaksi dengan empat perusahaan minyak AS. Yaitu Exxon Mobil, Shell, Total, dan British Petroleum, yang telah menjadi mitra bagi Irak Petroleum Company sejak beberapa dekade, menyusul masuknya perusahaan Chevron dan perusahaan minyak kecil lainnya. Tujuannya adalah untuk memperbarui konsesi minyak yang mereka tidak dapatkan saat terjadi nasionalisasi produsen minyak selama bertahun-tahun.

Perusahaan-perusahaan minyak AS benar-benar telah menguasai produksi minyak di Irak dan berhasil mengeluarkan lebih dari 40 perusahaan dari negara-negara lain seperti China, India dan Rusia.

Fakta ini memperkuat pernyataan bahwa pendudukan Irak tidak terjadi kecuali untuk melahap kekayaan Irak melalui kesepakatan eksploitatif yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Yang terpenting bagi politisi Amerika adalah bagaimana agar Irak tetap tunduk semaksimal mungkin di bawah kontrol AS sebagai bangsa penurut dan siap menjadi pangkalan militer utama AS di jantung cadangan energi yang paling penting di dunia. Hal itu tidak akan terwujud kecuali dengan bantuan Iran dan Syiah Irak.

Menurut dokumen “Deklarasi Prinsip-prinsip”yang ditandatangani antara kedua negara, yang secara eksplisit memuat hak eksploitasi kekayaan Irak, telah dinyatakan bahwa ekonomi Irak dan sumber daya minyaknya harus terbuka untuk investasi asing,”utamanya investasi Amerika.”

Rahasia utama dibalik hubungan ini adalah Amerika Serikat sepakat dengan Syiah bahwa musuh utama mereka adalah gerakan Islam Sunni, yang menjadi penghalang utama masuknya imperialisme AS ke seluruh dunia Islam, terutama di Afghanistan, Irak, Suriah, Mesir, dan lain-lain.

Situasi yang baru di wilayah Arab ini, didesain dengan sangat hati-hati setelah peristiwa 11 September dan setelah pendudukan Irak. Di mana Amerika memberi Iran lampu hijau untuk menyerang Islam Sunni dan gerakan Muslim Sunni di Irak dan Suriah. Juga memberi lampu hijau bagi Iran untuk mewujudkan impiannya mengekspor revolusi dan ikatan Syiah dan mengepung dunia Muslim Sunni. Menuju pembentukan kembali Kekaisaran Persia untuk menata dunia Muslim. Padahal Amerika tidak mengizinkan negara manapun memiliki preferensi di luar wilayah perbatasannya, seperti yang terjadi dengan Serbia, India dan lain-lain.

Termasuk hal yang aneh, bagaimana Amerika bisa memberi lampu hijau kepada suatu negara “Islam” untuk menerapkan hokum Islam, apalagi menjalin hubungan yang sangat kuat dengannya. Padahal Amerika dengan segala dayanya berupaya untuk menggulingkan rezimIslam Sunni Taliban.

Kini, kita di ambang babak baru hubungan antara AS-Iran yang pada beberapa tahun sebelumnya berada pada posisi Tarik ulur.

Pada dasarnya, AS tidak pernah tidak terlibat konflik nyata dengan Iran. Buktinya, saat Irak mulai mencanangkan penciptaan reaktor nuklir, fasilitasnya langsung dimusnahkan oleh AS pada tahun 1981. Tetapi hal itu tidak terjadi dengan Iran.

Hal yang sebenarnya terjadi adalah hubungan rahasia antara kedua Negara itu telah berubah menjadi hubungan yang transparan sehingga konvensi-konvensi mereka dilihat dan didengar di seluruh dunia.

Pada bulan Mei 2003,dan tak lama setelah invasi AS ke Irak, unsur-unsur pemerintah Iran, yang dipimpin oleh Muhammad Khatami mengajukan usulan rahasia berupa “grand bargain” melalui saluran diplomatic Swiss. Dengan transparan, unsur-unsur pemerintah itu mempresentasikan program nuklir Iran dan penarikan dukungan terhadap Hamas dan Hizbullah. Kompensasinya adalah jaminan keamanan dari Amerika Serikat dan normalisasi hubungan diplomatik antara kedua negara. Mereka juga mengatakan bahwa pemerintahan Bush tidak menanggapi usulan ini, dan para pejabat senior AS meragukan orisinalitas usulan tersebut. Padahal usulan tersebut mendapat dukungan yang sangat luas dari pemerintah Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatullah Khamenei.

Menyingkap Hubungan Gelap Barat dan Iran

Selama ini hubungan Barat dan Iran masih terkesan abu-abu atau sengaja disamarkan. Hubungan keduanya justru seolah bertentangan, yaitu dalam penggunaan dan pembangunan fasilitas nuklir. Namun dalam berbagai peristiwa, hal-hal yang samar tersebut menjadi tersingkap. Layaknya sebuah bayangan, semua akan terungkap jika munculnya cahaya.

Salah seorang pejuang Suriah yang tengah berada di pusaran konflik global Timur Tengah berusaha untuk menyingkap hal ini. Berikut Kiblat.net hadirkan sebuah tulisan yang aslinya berjudul: “Unmasking The Shadow Allies”.

Sudah tak terhitung. Berapa banyak orang-orang Kurdi dari Barat dan Timur yang bergerak ke Irak dan Kobani. Mereka berjuang bersama Peshmerga, YPG, PKK dan kelompok lainnya untuk memerangi Daulah. Tidak hanya orang-orang Kurdi dari Barat dan Timur, tapi Kurdi di seluruh dunia juga ikut bergabung. Datang dari berbagai elemen; kelompok preman dan gank Amerika, tentara bayaran Israel, bahkan dokter hewan.

Pejuang Kurdi dari Barat yang ikut bergabung memerangi Daulah, bebas dari dakwaan apapun. Tak ada penangkapan di bandara-bandara, paspor mereka masih bebas digunakan, dan tidak ada larangan terbang atau bepergian. Ini berbeda dengan perlakuan terhadap pejuang-pejuang asing di Barat yang ingin berjihad di Suriah. Barat hanya memainkan politiknya terhadap umat Islam yang ingin membela rakyat sipil Suriah atas tindakan kejam Bashar Assad. Kebijakan ini berlaku di seluruh dunia.

Pejuang Asing Kurdi

Pejuang Asing Kurdi

Kita juga melihat bahwa Barat menekan Turki dengan intervensi militer atas Kobani. Di saat yang sama, kenapa hal ini tidak dilakukan Barat saat Bashar Assad melakukan pembunuhan terhadap rakyatnya –sedangkan sama-sama dari daerah yang berbatasan? Jika ingin lebih jauh, maka pertanyaannya; kenapa Barat tidak memaksa Mesir untuk melakukan intervensi militer ketika rakyat Muslim dibantai oleh Zionis di Gaza? Apakah negara Timur Tengah hanya wajib membantu saudaranya saat Barat punya kepentingan di dalamnya?

Ketika umat Islam pergi ke Suriah melalui Turki dalam rangka membantu saudaranya, Barat berteriak bahwa perbatasan Turki harus ditutup. Sementara itu ribuan Muslim ditangkap dan diusir. Tapi saat terkait darah Kurdi di Kobani, para pejuang Peshmerga yang menyeberang dari Irak ke Kobani, secara pribadi diterima dan dan disambut oleh Turki. Ini berdasarkan perintah Barat yang disaksikan oleh dunia.

Milisi PKK, Hizbullah atau sejenisnya –yang pernah masuk daftar teroris oleh Barat—justru mendapat dukungan secara terbuka ataupun tertutup, langsung maupun tidak langsung. Paling tidak, mereka dibukakan pintu seluas-luasnya, sedangkan menutup rapat-rapat pintu bagi para mujahidin yang ingin membela umat Islam.

Hal ini terlihat jelas di Lebanon dan negara-negara Islam lainnya di Timur Tengah. Milisi Syiah Hizbullah dapat melenggang bebas ke Suriah untuk berrgabung dengan Bashar Assad. Di sisi lain, Muslim Sunni dari Lebanon atau negara lainnya dihalau untuk bergabung dengan mujahidin di Suriah. Milisi Syiah dari negara lain; Irak, Lebanon, Yaman, Afghanistan dan Iran juga dipersilahkan melakukan hal serupa.

Hasan Nasrullah, Pemimpin Hizbullah Lebanon

Hasan Nasrullah, Pemimpin Hizbullah Lebanon

Garda Revolusi Iran juga secara terbuka berperan langsung dalam tentara Suriah. Ini sudah menjadi konsumsi publik. Namun, apakah barat dan dunia internasional pernah mengajukan protes atas hal ini. Semua tuduhan hanya tertuju kepada Muslim Sunni yang ingin membantu dan melindungi warga sipil tak bersalah di Suriah.

Milisi Syiah Hautsi menyerang kota-kota di Yaman, mengambil alih ibukota Sana’a, mengepung istana presiden, mengusir mantan presiden Yaman Abdu Rabbi Mansur Hadi, dan menempatkannya di bawah tahanan rumah. Kudeta Hautsi ini hampir-hampir tidak pernah menghiasi media-media Barat. Lantas, bagaimana dengan para mujahidin yang selalu mendapat sorotan besar di Irak dan Suriah.

Padahal, pemberontak Syiah Hautsi dengan mudahnya berhasil mengakuisisi Yaman tanpa perlawanan. Mata dunia seolah buta dengan tindakan ini. Ketika milisi Syiah Hautsi di Yaman ditangkap, dunia Arab dan Barat hanya melakukan sebuah perundingan. Mengapa mereka bersikap acuh tak acuh saat milisi Syiah melakukan sebuah perlawanan? Di sisi lain dunia begitu waspada ketika mujahidin Sunni membebaskan sebuah kota di negara mereka sendiri.

Bandingkan dengan Al-Qaidah dan Anshar Syariah yang menguasai sebuah kota di Yaman, berapa banyak negara yang berkumpul membentuk koalisi menyerang mereka? Ketika Al-Qaidah dan Anshar Syariah mengambil alih kota-kota di Yaman; Adan dan Abyan pada tahun 2012 dengan sebuah pemerintahan syariah. Maka, militer Yaman langsung melawan mereka dengan dukungan dan bala bantuan internasional.

Dua orang pemberontak Syiah Hautsi sedang berjaga di jalan raya

Dua orang pemberontak Syiah Hautsi sedang berjaga di jalan raya

Tapi sekarang ini dunia betah menonton, manakala pemberontak Hautsi mengambil alih Yaman tanpa ada perlawanan, baik dari tentara Yaman ataupun dunia. Bahkan, serangan udara AS justru diarahkan kepada Al-Qaidah dan anggota Anshar Syariah serta suku-suku Sunni di Yaman. Padahal mereka sedang berjuang untuk memerangi Syiah Hautsi. Waktu serangan udara tampaknya dikoordinasikan dengan pemberontakan Hautsi, seperti di kota Radaa. Ini semakin memperjelas bahwa Syiah menjadi sekutu bayangan Barat di Timur Tengah.

Ketika AS menginvasi Afghanistan, Syiah Aliansi Utara mereka jadikan sekutu utama. Dalam invasi Irak, mereka juga menjadikan Syiah Irak dan Iran sebagai sekutu utama. Sekarang, Syiah di Irak menjadi sekutu penting dalam koalisi Barat melawan Daulah. Iran sudah mulai menampakkan jati dirinya, diberi peran langsung oleh Barat dalam jalinan koalisi. AS sudah lupa tentang sengketa program nuklir dengan Iran. Di sisi lain, Israel tidak ada keluhan tentang hubungan AS-Iran ini. Semua sengketa yang menjurus ke Iran, tiba-tiba hilang tanpa sebuah pengungkitan.

Jadi, asumsi bahwa AS bekerja sama –secara diam-diam—dengan Syiah Alawit Suriah dan Syiah Zaidi Yaman di bawah payung Iran bukanlah sebuah paranoid. Sayangnya, banyak kalangan Muslim hanya tertuju pada ancaman Salafi Arab Saudi, sementara itu mereka ceroboh tentang ancaman Safawi Iran. Padahal, kedua negara tersebut terlibat dalam proyek korupsi yang sama. Kecerobohan ini adalah akar pemberontakan Safawi Syiah di negeri-negeri Sunni.

Umat Islam sering terlihat naïf dan bingung –terutama di Barat. Mereka sebagian besar terkena propaganda bahwa mujahidin dibiayai oleh negara-negara Teluk. Padahal permusuhan di antara mereka masih terjadi, di samping fakta bahwa negara-negara Teluk menjadi sekutu setia bagi Barat dalam perang melawan mujahidin.

Militer Iran

Militer Iran

Ini menjadi sebuah pertanyaan, kenapa mereka masih dibingungkan dengan hal demikian. Mereka justru tidak dipusingkan dengan milisi Syiah Hautsi Yaman, Syiah Hizbullah di Suriah, atau tentara Syiah Irak yang semuanya –secara terbuka—didukung dan didanai oleh Iran.

Ini harus dipahami semua orang, bahwa rezim-rezim Arab di negara-negara Sunni adalah rezim boneka tirani yang berbahaya dan korup. Rezim ini tidak hanya melindungi kepentingan neo-kolonial Barat d wilayah tersebut. Tapi, mereka sebagai negara Teluk –yang mengaku bermusuhan dengan Syiah—ternyata membangun kolusi dengan Syiah terhadap Ahus Sunnah.

Arab Saudi dan negara Teluk lainnya secara terbuka membantu rezim Syiah di Irak dengan serangan udara terhadap Muslim Sunni. Secara langsung maupun tidak langsung, juga bekerja sama dengan Iran. Bagaimana mungkin mereka menyerang Muslim Sunni di Irak, sedangkan mereka mengaku sebagai penentang Syiah?

Tampaknya, pemberontak Syiah Hautsi Yaman secara tidak langsung didukung oleh Arab Saudi melalui mantan presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh yang setelah jatuhnya mengungsi ke Arab Saudi. Apakah perlakuan sama juga ditunjukkan kepada Zainal Abidin Ben Ali, mantan presiden Tunisia? Ali Abdullah Saleh mencoba menggunakan pengaruh politik dan tekanannya terhadap Yaman dengan mendukung pemberontak Hautsi. Dia melakukannya di bawah pengawasan dari Arab Saudi.

Mereka bisa merencanakan, sedangkan Allah juga mempunyai rencana. Setelah pemberontakan Hautsi, beberapa suku Sunni di Yaman telah bergabung dengan Al-Qaidah –di mana sebelumnya tidak mendukung. Pemberontakan Hautsi dan kekejaman rezim Assad mendorong umat Islam bergabung ke jajaran Mujahidin.

Al-Qaidah berhasil mempersenjatai suku-suku Sunni di Yaman dalam berjuang melawan Hautsi dan pemerintah boneka Yaman yang korup. Ini adalah masa depan jihad, jihad yang dipikul bersama oleh seluruh umat Islam melawan musuh berrsama. Berbeda dengan jihad eksklusif Daulah yang melucuti suku-suku Sunni yang besar di Suriah dan Irak. Ini akan membuat umat Islam tak berdaya melawan musuh-musuhnya. Daulah seharusnya menarik diri dari daerah tersebut.

Di mana rezim-rezim Arab Sunni yang sekarang membantu Syiah Irak ketika umat Islam Gaza dibom dan dibunuh secara brutal oleh Zionis? Di mana mereka, ketika minoritas Muslim di Burma (Myanmar) dibantai dan dibakar oleh umat Budha? Di mana mereka ketika umat Islam Suriah dibantai oleh rezim Assad yang haus darah?

Ketika puluhan ribu Muslim Suriah dibantai, rezim-rezim tersebut hanya diam. Ini sudah menunjukkan kemunafikan. Ditambah, mereka memutuskan untuk menjalin koalisi dengan Barat di Mali Utara dengan alasan pembebasan dari kaum ekstrimis. Lantas, di mana mereka saat umat Islam di Republik Afrika Tengah menjadi korban pembersihan etnis? Ini juga terjadi di Afrika, sedangkan mereka hanya menuju ke Mali Utara.

Jika mereka menyerbu Mali Utara lantaran ekstrimis yang menindas penduduk lokal, kenapa mereka tidak menyerang Nigeria Utara yang nyata sebagai ekstrimis takfiri Boko Haram yang menewaskan ribuan warga sipil Muslim yang tidak bersalah? Apakah kejahatan perang itu tidak dapat mereka lihat? Ataukah ekstrimisme, radikalisme, terorisme itu hanya sekedar pelabelan yang tertuju bagi mereka yang dikehendaki? Semua ini hanya pertanyaan retoris, di mana kita sudah tahu alasan sebenarnya.

Salah satu suasana pertempuran di Kobani

Salah satu suasana pertempuran di Kobani

Pertempuran Kobani mendapat sorotan yang berlebih dari media. Sedangkan bagaimana dengan Suriah? Ratusan bahkan ribuan korban terjadi di Suriah, terkubur karena timpaan bom barel Bashar setiap harinya di kota-kota seperti Duma. Atau, apakah Kobani hanya digunakan untuk mengalihkan perhatian dunia untuk menutupi kejahatan perang ini? Sehingga, penggunaan senjata kimia di Ghouta menjadi terlupakan, padahal telah menewaskan lebih dari 1.700 warga sipil Suriah hanya dalam satu serangan?

Sebuah garis merah ditarik oleh Obama. Sebulan sebelum Kobani diserang, PBB secara resmi memutuskan tidak lagi menghitung korban perang Suriah. Di sini, kehidupan warga Muslim bahkan tidak layak mengisi daftar statistik mereka yang sederhana. Sedangkan di Kobani, Barat benar-benar khawatir terhadap warga sipil di sana? Siapakah yang sebenarnya mereka bodohi? Di mana peran Barat ketika milisi Syiah Hizbullah menyerang Qusayr? Apakah ada yang ingat tentang Qusayr? Apakah ada yang mendengarnya?

Selain itu, standar ganda juga terlihat saat mereka mengkriminalisasi orang-orang. Objeknya sama meskipun korbannya berubah, yaitu Muslim Sunni. Kami tidak mendengar suara Barat ketika Daulah menyerang dan mengambil beberapa kota Sunni di Suriah, termasuk Deir Zour dan Bukamal. Yaitu dengan membunuh banyak Muslim dan menganiaya warga yang tidak bersalah. Bandingkan ketika serangan Daulah ke Kobani, di mana terjadi eksekusi massa Suku Sheitaat di Deir Zour.

Sementara itu Daulah terlibat dalam dua kasus di mana korbannya berubah. Ketika Daulah menyerang beberapa kota dan desa Sunni di Suriah dan Irak, membawa paksa mereka, Barat dan seluruh dunia diam. Bagi Barat, selama korbannya Muslim maka tidak masalah. Tapi ketika IS menyerang Yazidi dan Kristen, menyerang orang-orang Kurdi di Irak dan Suriah, Barat tidak lagi diam dan duduk menonton.

Referensi

  • ^arrahmah.com/rubrik/kemesraan-dibalik-aksi-kecam-as-israel-iran.html
  • ^fimadani.com/ayatullah-khomeini-bukan-ahlul-bait-tetapi-keturunan-india-beragama-sikh/
  • ^arrahmah.com/kajian-islam/waspada-tipuan-syiah-iran-khomeini-ternyata-beragama-sikh.html
  • ^islampos.com/siapa-sebenarnya-ahmadinejad-42281/
  • ^kiblat.net/2014/01/31/iran-musuh-sebenarnya-adalah-saudi-bukan-israel/
  • ^kiblat.net/2015/12/17/ini-alasan-saudi-tak-ikutkan-iran-dalam-koalisi-militer-islam/
  • ^kiblat.net/2013/09/13/komandan-iran-atur-pertempuran-tentara-bashar-al-asad-di-aleppo/
  • ^kiblat.net/2013/09/18/oposisi-yang-memerintah-suriah-saat-ini-adalah-komandan-iran-bukan-asad/
  • ^kiblat.net/2014/05/06/jenderal-iran-bashar-al-asad-berperang-atas-nama-iran/
  • ^muslimdaily.net/berita/siapa-sebenarnya-dibalik-tragedi-mina-saudi-atau-iran.html
  • ^aslibumiayu.net/4019-bagi-yang-tertipu-dan-terkagum-kagum-dengan-iran-negara-syiah.html
  • ^eramuslim.com/konsultasi/konspirasi/apakah-iran-adalah-anak-buah-yahudi-2.htm
  • ^kiblat.net/2014/08/25/membongkar-hubungan-gelap-amerika-dan-iran/
  • ^kiblat.net/2015/03/03/menyingkap-hubungan-gelap-barat-dan-iran/
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s