Perang Iraq – Invasi USA Ke Iraq

Screenshot_2016-06-10-22-18-06_1

Invasi Sekutu ke Irak tahun 2003 denga kode “Operasi Pembebasan Irak” merupakan serangan sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat untuk mencari dan menghancurkan Irak yang dituduh mempunyai senjata pemusnah massal. Invansi ini secara resmi dimulai tanggal 19 maret 2003. Tujuan resmi yang ditetapkan amerika serikat dalam penyerangan ini adalah untuk melucuti senjata pemusnah massal Irak, menakhiri dukungan Saddam Hussein kepada terorisme, dan memerdekan rakyat Irak dari kekuasaan otoriter Saddam.

Persiapan awal perang ini telah dimulai ketika 100.000 tentara Amerika serikat dikumpulkan di Kuwait. Amerika Serikat sengaja menyediakan mayoritas pasukan untuk invasi ini, dengan dukungan dari pasukan Koalisi yang terdiri dari lebih dari 20 negara dan suku Kurdi di utara Irak. Invansi Irak tahun 2003 inilah yang jadi pembuka perang Irak. Ketika Irak sudah jatuh ketangan Koalisi, masih terus terjadi peperangan yang digelorakan pemberontak melawan tentara koalisi Amerika Serikat hingga 2011.

Invansi ke Irak oleh Amerika Serikat dan koalisinya ini karena tuduhan yang sifatnya tidak benar. Sebab, setelah perang selesai, tidak terbukti adanya tuduhan tersebut dan justru pihak Amerika Serikat dan koalisinya lah yang menginginkan politik minyak disana. Dengan menuduh Saddam Husein memiliki senjata pemusnah massal yang apabila tidak dicegah dapat mengancam kehidupan seluruh umat dibumi ini, Amerika Serikat melancarkan serangan besar-besaran ke Irak. Selain tuduhan tersebut, Amerika Serikat juga menuduh Irak telah melanggar resosuli PBB, kebijakan yang menindas rakyak irak, dan percobaan pembunuhan terhadap george H.W.Bush.

Seperti sejarah tahun 2003 silam sekutu ikut campur tangan urusan politik irak, yaitu atas kediktatoran saddam husein. Pada peristiwa peristiwa tersebut, juga tidak sedikit korban jiwa yang berjatuhan dari warga sipil. Bahkan, sejumlah jurnalis internasional tewas dan hilang. Dengan kata lain, invansi Amerika Serikat dan koalisinya ini bertujuan ingin menumbangakan kekuasaan saddam husein dan menyeretnya ke mahkamah internasional. Akhirnya melalui pertempuran yang sengit, rezim saddam berhasil digulingkan.

Screenshot_2016-06-10-22-16-56_1

Warga irak pun menyambut tumbangnya kekuasaan otoriter sadaam dengan suka cita. Akan tetapi, usai tumbanganya sang diktaktor di irak, ternyata masih juga banyak terjadi perang saudara antar kelompok yang saling berebut kekuatan dan kekuasaan untuk memegang pemerintahan. Dimana-mana terjadi teror dan bom bunuh diri. Ini semua terjadi karena ulah dan skenario sekutu untuk menguasai irak dan menjadikannya sebagai boneka Amerika Serikat. Sekutu akhirnya ingin menguasai minyak dan uranium nuklir yang dimuliki bangsa irak. Sungguh sebuah serangan yang sebenarnya bertujuan ingin memiliki perminyakan, namun dengan dalih membebaskan rakyat irak dari pemimpin diktaktor.

Akibat serangan invasi Amerika Serikat dan koalisinya ke Irak ini, dilaporkan lebih dari 14.000 warga irak hilang. Peristiwa ini menjadi perhatian dan tontonan masyarakat dunia pada tahun tersebut sebagai perang besar dan banyak memakan korban jiwa.

Sekitar setengah juta orang tewas di Iraq akibat perang sejak invasi pasukan Amerika Serikat pada tahun 2003 hingga pertengahan 2011.

Tim peneliti dari  Amerika Serikat, Kanada, dan  Iraq memperhitungkan jumlah korban jiwa dalam periode itu mencapai 461.000 orang, demikian dikutip BBC, Kamis 16 Oktober 2013.

Perhitungan didasarkan survei secara acak atas 2.000 rumah tangga di 18 provinsi pada periode Mei hingga Juli 2011.

Jumlah korban jiwa tersebut tidak hanya mencakup kematian akibat invasi dan serangan kelompok perlawanan maupun kekerasan sektarian akan tetapi juga yang diakibatkan ambruknya prasarana di negara itu.

Adapun perhitungan korban jiwa oleh lembahaIraq Body Count -yang secara rutin melakukan perhitungan korban perang Iraq- jauh lebih rendah, yaitu 112.000 penduduk sipil.

Iraq Body Count yang berkantor di Inggris mendasarkan perhitungannya pada laporan media, catatan rumah sakit dan kamar jenazah, serta informasi dari pemerintah maupun lembaga nonpemerintah.

Sementara itu, kekerasan sektarian Juni hingga September 2013 menewaskan 5.000 jiwa.

PBB memperkirakan dalam waktu setahun belakangan terjadi peningkatan kekerasan sektarian dengan korban jiwa mencapai 5.000 orang antara Januari hingga September tahun ini.

Jumlah yang lebih tinggi dibandingkan sepanjang 2012 yang mencapai 3.000 jiwa.

Penelitian yang dilakukan Universitas Washington, Universitas Johns Hopkins, Universitas Simon Frase dan Universitas Mustansiriya tersebut mencakup kematian antara Maret 2003 hingga Juni 2011, atau enam bulan sebelum penarikan mundur pasukan AS.

Para peneliti memperkirakan tambahan sekitar 56.000 kematian tidak terhitung karena imigrasi dari sejumlah rumah tangga ke luar dari Iraq.

Adapun yang dimaksud dengan ambruknya prasarana mencakup layanan kesehatan, kebersihan, perhubungan, komunikasi, dan sistem layanan umum lainnya.

Desmond Tutu minta Bush dan Blair diadili

06-11-03.08.44

Desmond Tutu – Wikipedia, the free encyclopedia

Uskup Agung Desmond Tutu mengatakan Tony Blair dan George W Bush harus diajukan ke Mahkamah Kejahatan Internasional di Den Haag, Belanda atas keterlibatan mereka dalam perang Irak.

Dalam tulisannya di sebuah harian, Tutu menuduh mantan Perdana Menteri Inggris dan Presiden AS itu berbohong terkait soal adanya senjata pemusnah massal yang terdapat di Irak.

Tutu menambahkan kebijakan militer mereka di Irak telah membuat kondisi dunia lebih tidak stabil dan kondisi ini katanya jauh lebih buruk dari dampak seluruh konflik yang pernah terjadi.

Sementara itu Tony Blair mengatakan adanya pertanyaan tentang moral terkait pencopotan Saddam Hussein dari kekuasaanya adalah sesuatu yang ‘aneh.’

“Pertanyaannya bukanlah apakah Saddam Hussein itu baik atau tidak atau bahkan berapa banyak orang yang telah dia bunuh. Intinya adalah bahwa Bush dan Blair seharusnya tidak membiarkan diri mereka melakukan sesuatu hingga pada titik yang tidak bermoral.”

Uskup Agung Tutu mengatakan Blair dan Bush harus diadili karena telah mengakibatkan korban tewas yang cukup besar sejak operasi militer dilakukan di Irak pada tahun 2003 lalu.

Dia melihat ada perlakukan yang berbeda ketika kebijakan ini diambil oleh pemimpin dari Afrika dan Asia.

Menurut Tutu jika langkah ini diambil oleh pemimpin dari dua benua itu maka akan ada proses pengadilan di Den Haag, Belanda untuk mempertangungjawabkan perbuatan mereka.

Sangahan Blair

Screenshot_2016-06-11-03-21-36_1

“Di dalam dunia yang konsiten ini mereka yang bertanggung jawab harus menapaki jalan yang sama seperti beberapa rekan-rekan mereka di Afrika dan Asia yang harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di Den Haag.”

Sebelumya Uskup Agung Desmond Tutu pada pekan lalu menjadi pembicaraan setelah dia menarik diri dari acara pertemuan tinggkat tinggi tentang perdamaian di Johannesburg, Afrika Selatan karena menolak berbagi panggung untuk pidato dengan Tonny Blair yang dinilainya bertanggung jawab pada terjadinya perang Irak.

Tony Blair membalas pendapat Tutu lewat sebuah artikel yang diterbitkan oleh sebuah harian di Inggris.

Adalah sangat aneh jika ada yang mengatakan bahwa upaya menurunkan Saddam adalah sesuatu yang tidak tepat secara moral padahal fakta menunjukan adanya pembunuhan ribuan warga semasa dia berkuasa” (Tony Blair)

Dalam artikel itu dia membela semua keputusan yang telah dibuatnya terhadap Irak.

“Desas-desus yang mengatakan bahwa laporan intelijen kami berbohong (tentang keberadaan senjata pemusnah masal) adalah sesuatu yang tidak benar karena setiap laporan dan bukti independen telah menunjukan adanya hal itu,” kata Blair.

“Adalah sangat aneh jika ada yang mengatakan bahwa upaya menurunkan Saddam adalah sesuatu yang tidak tepat secara moral padahal fakta menunjukan adanya pembunuhan ribuan warga semasa dia berkuasa.”

Blair juga mengatakan kondisi perekonomian Irak saat ini jauh lebih baik jika dibandingkan masa pemerintahan Saddam dulu.

“Saya juga ingin mengatakan disamping sejumlah masalah yang ada, Irak saat ini memiliki pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih besar, angka kematian anak juga turun dibandingkan sebelumnya. Selain itu angka investasi juga terus tumbuh tinggi khususnya di wilayah seperti Basra.”

Perang Iraq Memang Demi Minyak

Ya, Perang Iraq memang demi minyak, dan perang ini ada pemenangnya: Perusahaan Minyak Besar. Demikian laporan CNN pekan ini dalam memeringati 10 tahun Perang Iraq yang dipimpin Amerika Serikat untuk mendongkel Presiden Saddam Husein dan rejimnya.

Memang perang perang telah berakhir sepuluh tahun lalu dan sebagian besar tentara AS sudah ditarik, namun bagi perusahaan minyak barat, mereka baru memulai. Pra-perang, industri minyak Iraq sepenuhnya dinasionalisasi dan tertutup, kini sepuluh tahun pascaperang, industri minyak Iraq sebagian besar dikelola swasta dan kebanyakan didominasi perusahaan asing.

Perusahaan-perusahaan minyak besar dunia telah ‘buka warung’ di Iraq: ExxonMobil, Chevron, BP dan Shell. Demikian juga perusahaan-perusahaan jasa perminyakan AS termasuk Halliburton, firma berbasis di Texas yang pernah dijalankan oleh Dick Cheney sebelum menjadi pasangan George W. Bush pada 2000.

Perang merupakan satu dan satu-satunya cara bagi aksed yang telah lama diinginkan dan baru bisa dibuka.

Minyak bukanlah satu-satunya tujuan Perang Iraq, namun minyak tentunya merupakan alasan utama, sebagaimana dibuktikan oleh sejumlah pejabat tinggi militer dan politik pada tahun-tahun setelah invasi berlangsung.

“Tentu saja ini soal minyak; kita tidak bisa mengingkarinya,” kata Jenderal John Abizaid, mantan kepala Komando Pusat dan Operasi Militer di Iraq pada 2007. Mantan Kepala Bank Sentral AS Alan Greenspan sependapat, dalam tulisan memoarnya, “Saya sedih bahwa secara politik tidak nyaman untuk mengakui apa semua orang telah ketahui: perang Iraq utamanya adalah karena minyak. Mantan Senator yangkini jadi Menlu AS CHUCK Huggel mengatakan hal yang sama pada 2007: “Orang bilang kita tidak berperang karena minyak. Tentu saja kita berperang karena minyak.”

Untuk pertama kalinya dalam 30 tahun, perusahaan-perusahaan minyak Barat tengah mencari dan menghasilkan minyak dari lapangan-lapangan minyak terbesar dunia dan meraih laba besar. Dan meskipun AS juga mempertahankan impor minyak dari Iraq, manfaatnya tidak sampai ke perekonomian atau masyarakat Iraq.

Keadaan ini tercipta karena telah dirancang demikian akibat tekanan pemerintah AS dan perusahaan minyak selama satu dekade. pada 1998, Kenneth Derr, CEO Chevron saat itu, mengatakan, “Iraq memiliki cadangan minyak dan gas yang besar yang saya sangat ingin Chevron bisa mendapatkannya.” Chevron mendapatkannya sekarang.

Pada 2000, perusahaan minyak besar termasuk Exxon, Chevron, BP dan Shell, menghabiskan lebih banyak uang mendukung Bush dan Cheney dibanding pilpres sebelumnya. Hanya selang sepekan masa pemerintahan Bush yang pertama, upaya mereka terbayar saat dibentuk National Energy Policy Development Group, diketuai oleh Cheney, yang dibentuk untuk menyatukan pemerintah dan perusahaan minyak untuk merancang kepentingan bersama energi masa depan. Pada Maret, gugus tugas ini mengkaji daftar dan peta keseluruhan kapasitas produksi minyak Iraq.

Perencanaan untuk invasi militer pun kemudian disusun. Menteri Keuangan pertama Bush, Paul O’Neill pada 2004 mengatakan, “Pada Februari (2001), pembicaraan sudah sebagian besar tentang logistik. bukan mengapa (untuk menyerang Iraq), namun bagaimana dan berapa cepat.”

Dalam laporan akhir pada Mei 2001, gugus tugas berpendapat bahwa negara-negara Timur Tengah harus didorong untuk ‘membuka sektor energi mereka bagi investasi asing.” Persis inilah yang telah dicapai di Iraq. Beginilah mereka melakukannya.

Kelompok Kerja Minyak dan Gas di bawah Proyek Masa Depan Iraq, telah bertemu mulai Februari 2002 sampai April 2003 dan menyetujui bahwa Iraq “harus dibuka bagi perusahaan-perusahaan minyak internasional secepat mungkin setelah perang.”

Pada saat yang sama, perwakilan antara lain dari ExxonMobil, Chevron, ConocoPhillips dan Halliburton, bertemu dengan staf Wapres Cheney pada Januari 2003 untuk membahas rencana industri Iraq pascaperang. Satu dekade selanjutnya, eksekutif dan mantan eksekutif perusahaan minyak barat bertindak sebagai administrator bagi industri minyak Iraq dan kemudian penasehat bagi pemerintah Iraq.

Sebelum perang hanya ada dua penghalang bagi perusahaan minyak barat untuk beroperasi di Iraq: Saddam Hussein dan sistem hukum negara tersebut. Invasi akan menyelesaikan penghalang pertama. Untuk mengatasi masalah kedua, penasehat di dalam dan di luar pemerintahan Bush berpendapat bahwa cukup diatasi dengan mengubah undang-undang minyak Iraq melalui koalisi pemerintah pimpinan AS di Iraq, yang mengatur negeri ini dari April 2003 sampai Juni 2004. Nmun Gedung Putih menunggu, memilih menekan pemerintah Iraq yang baru terbentuk untuk menyetujui undang-undang perminyakan mereka sendiri.

Pada 2008, karena kemungkinan diterbitkannya undang-undang tersebut dan kelanjutan pendudukan militer asing semakin mengecil karena pemilunmakin mendekat di AS dan Iraq, para perusahaan minyak menempuh cara lain.

Dengan mengabaikan parlemen, perusahaan-perusahaan minyak mulai menandatangani kontrak yang memberikan akses dan perlakuan yang menguntungkan di mana pemerintahan Bush ikut membantu menyusun model kontrak.

Kontrak baru ini tidak memiliki tingkat kepastian yang tinggi, dan dinilainoleh para legislator Iraq bertentangan dengan undang-undang yang ada di mana kontrak industri minyak seharusnya dikendalikan, dioperasikan dan dimiliki oleh pemerintah.

Nmun kontrak tersebut bisa mencapai tujuan utamanya yakni memprivatisasi sektor minyak Iraq dan membukanya bagi investor asing.

Kontrak ini juga memiliki masa kerja yang cukup lama dan kepemilikan saham yang tinggi dan menghilangkan kewajiban untuk memenuhi kepentingan minyak dalam negeri, dan juga kewajiban perusahaan untuk menanamkan pendapatannya bagi perekonomian lokal ataupun mempekerjakan mayoritas tenaga lokal.

Produksi minyak Iraq telah meningkat 40% dalam lima tahun terakhir namun 80% diekspor keluar negeri sementara penduduk Iraq berjuang memenuhi kebutuhan konsumsi energi dasarnya. GDP per kapita meningkat dengan signifikan namun masih berada dalam kelompok yang terendah di dunia dan jauh di bawah beberapa tetangga kaya minyak swkitarnya. Layanan dasar seperti air dan listerik masih sulit dan 25% penduduk hidup dalam kemiskinan.

Janji penciptaan lapangan kerja baru terkait energi belum terwujud. Sektor minyak dan gas saat ini hanya menyerap kurang dari 2% lapangan kerja langsung karena perusahaan asing sangat tergantung pada pekerja dari luar.

Dalam dua minggu terakhir, lebih dari 1.000 orang berunjukrasa di lapangan minyak ExxonMobil dan Lukoil Russia menuntut pekerjaan dan pembayaran untuk tanah perorangan yang telah hilang atau rusak oleh operasi minyak mereka. Militer Iraq dikerahkan untuk menanggapinya.

Sementara di kantor pusat Chevron di Houston pada 2010, seorang mantan perwira intelejen militer tentara AS, Thomas Buonomo, anggota Iraq Veterans Against the War, mengangkat sebuah plakat berbunyi, “Untuk Chevron: Terima kasih telah menodai pengabdian kami.”

Ya, Perang Iraq adalah untuk minyak, dan ada yang dikalahkan: rakyat Iraq dan mereka yang telah menumpahkan darah dan kehilangan nyawa sedemikian besar sehingga Perusahaan Beaar bisa masuk.

Yang Diberantas Saddam Hussein Ternyata Orang-Orang Syi’ah

06-11-04.17.52

Di era 80-90 an, banyak orang tidak mengetahui mengapa Saddam Hussein membantai sebagian rakyat Iraq di negerinya sendiri. Seluruh dunia pun mengecam dan menyumpah serapah Saddam. Ia ditahbiskan sebagai seorang pembantai kejam yang tidak berperi kemanusian.

Dua puluh tahun kemudian, terungkap bahwa orang-orang yang dihabisi oleh Saddam tersebut adalah penganut Syi’ah di negerinya.Selama lebih dari dua dekade, kenyataan ini dilindungi dan disembunyikan oleh media-media barat.

Sejak lama Saddam sudah tahu akan bahaya Syiah. Di zamannya, sudah berbondong-bondong penganut Syiah dari Iran masuk ke negerinya. Jika hanya sekadar tinggal, mungkin Saddam tidak akan mempermasalahkannya. Tapi para penganut agama Syiah ini merusak semua tatanan kehidupan yang ada, terutama dengan konsep kawin mut’ah-nya yang memangtak ada bedanya dengan prostitusi.

Di wilayah Timur Tengah sendiri, satu-satunya negara yang menyadari keberadaan Iran sebagai negara Syiah adalah Iraq. Saddam—memerintah hampir bersamaan dengan Khomeini pada tahun 1979, jauh-jauh hari sudah melihat pengaruh besar Iran ke Iraq dan negara-negara Arab lainnya.

Sejarah juga menunjukkan bahwa Iran yang Syi’ah lah yang kemudian mendesak PBB untuk memerangi Saddam. Iran juga yang menyediakan pangkalan militer ketika Amerika menyerang Iraq, mulai dari laut, udara, dan darat.

Dalam pemerintahan Irak yang baru pasca tumbangnya Saddam Hussein, Hakim Abdul Rauf Abdul Rahman, hakim keturunan Kurdi yang menggantikan Rizgar Amin yang sebelumnya telah mengundurkan diri, menjatuhkan hukuman mati (gantung) kepada mantan presiden Irak Saddam Hussein, dengan tuduhan telah melakukan pembunuhan terhadap 148 orang Syiah di wilayah Dujail. Keputusan ini pun disambut dengan teriakan takbir oleh Saddam Hussein, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Hidup rakyat Irak, hidup umat Islam, hancurlah para penjajah, hancurlah para pengkhianat.”

Saat ia berada di tiang gantungan, ia masih sempat mengirimkan pesan kepada para pemimpin Arab, “Amerika akan menggantung saya, dan kalian akan digantung oleh rakyat kalian sendiri. Saya hanya ingin umat ini dapat mengangkat kepalanya dan tidak tertunduk kepada Zionis. Untuk dapat menjadi pemimpin maka rakyat yang anda pimpin harus percaya bahwa anda adalah orang yang adil meskipun anda bersikap keras jika memang kondisi mengharuskan demikian. Jagalah rahasia orang, jangan ceritakan kepada orang lain, atau menggunakan rahasia seorang sahabat untuk menjatuhkannya. Percayalah kepada mereka yang tidak ragu untuk melakukan tugas-tugas berat yang seakan tampak di luar batas kemampuan mereka. Jangan memilih mereka yang hanya mau menjalankan tugas-tugas ringan di bawah kemampuan asli mereka.”

Kemudian Saddam Hussein melanjutkan, “Saya benar-benar menentang Zionis dan Amerika. Akan tetapi kesalahan saya adalah karena tidak begitu memahami pergerakan Islam dan persatuan antar kelompok-kelompok Islam, sebagaimana umat Islam juga tidak begitu memahami saya dan keinginan saya untuk merealisasikan proyek Islam yang sangat besar. Namun saat ini saya telah memahami hal itu, meskipun sudah terlambat, bahwa merekalah (umat Islam) satu-satunya yang mampu membungkam proyek Zionis, seandainya mereka benar-benar diberi kesempatan dan infrastruktur pendukungnya. Penyesalan selalu datang di akhir.”

06-11-03.56.20

Pernyataan Saddam Hussein bahwa para pemimpin Arab akan digantung (dibunuh, diperangi) oleh rakyatnya sendiri telah terbukti sejak tahun 2011, 8 tahun setelah invansi Amerika ke Irak tahun 2003. Api revolusi yang terjadi di Timur Tengah (Arab) yang lebih dikenal dengan sebutan ‘ar-Rabi’ al-Arabi’ (Arab Spring) telah berhasil menumbangkan para pemimpin Arab yang dianggap diktator, sebagaimana terjadi di Tunisia, Libya, Mesir, dan terakhir Suriah yang tidak kunjung usai. Saddam mengerti betul bagaimana siasat dan konspirasi Amerika dalam memecah-belah dunia Arab khususnya, dan dunia Islam secara umum, demi mengamankan hegemoninya di bidang politik, sosial, dan ekonomi.

Tony Blair Minta Maaf Atas Keputusannya Lakukan Invasi Irak

Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair berkata bahwa ia meminta maaf atas “kesalahan” yang dibuatnya atas invasinya bersama AS ke Iraq pada 2003. Namun, ia tidak menyesal telah mengeksekusi diktator Saddam Hussein.

“Saya dapat bilang bahwa saya meminta maaf karena info yang diterima intelijen kami salah. Walaupun dia memiliki senjata kimia yang menerus-menerus digunakan melawan orang-orangnya, melawan orang lain, ternyata tidak terjadi seperti apa yang kami bayangkan,” kata Blair

Keterangan Blair tersebut membahas tentang kesalahan pemerintah AS dan Inggris yang mengira bahwa rezim Saddam memiliki senjata yang dapat menyebabkan kerusakan massal. Akibat informasi tersebut, kedua negara tersebut kemudian melakukan invasi ke Iraq. Namun, laporan intelijen di kemudian hari melaporkan bahwa informasi tersebut tidak benar.

Perang yang berkecamuk sejak pemerintahan Saddam di Iraq serta invasi negara Barat ditengarai menyebabkan munculnya jaringan al Qaeda di Iraq, yang kemudian berkembang menjadi ISIS. Sebanyak 10 ribu warga Iraq, lebih dari 4 ribu tentara AS, dan 179 tentara Inggris meninggal karena konflik panas itu.

Sebagai sekutu presiden AS sebelumnya, George W. Bush, yang memutuskan untuk melakukan invasi Iraq, Blair mengaku pertanyaan dan kritikan selalu ada dimanapun ia berada.

Blair juga meminta maaf atas kesalahannya dalam perencanaan dan perkiraannya akan apa yang akan terjadi setelah rezim diktator tersebut berakhir.

Meski begitu, Blair menganggap dirinya melakukan keputusan yang benar dengan menurunkan tahta Saddam.

“Saya sulit memaafkan (keputusan untuk) telah menurunkan Saddam. Saya berpikir, bahwa hingga 2015 ini, lebih baik dia tidak ada ditempat dulu ia berada,” kata Blair.

Saddam dikenal sebagai diktator Iraq yang berkuasa lebih dari 3 dekade. Dia mencetuskan perang melawan negara tetangganya Iran dan Kuwait, dan menggunakan senjata kimia melawan Kurds di utara Iraq.

Blair memberitahu sang interviewer bahwa ada “kenyataan” pandangan bahwa invasi Iraq pada 2003 merupakan cikal bakal terbentuknya ISIS.

“Tentu saja, Anda tidak dapat bilang bahwa (keputusan) kami menurunkan Saddam pada 2003 tidak terkait dengan situasi di 2015,” katanya. “Namun penting untuk juga menyadari bahwa, satu, bahwa (pemberontakan anti pemerintah, red.) Arab Spring yang dimulai 2011 juga memiliki pengaruh pada Iraq hari ini, dan dua, ISIS sebenarnya datang dari basisnya di Suriah dan bukan di Iraq.”

Ketika ditanya bagaimana perasaannya memiliki brand sebagai “kriminal perang” akibat keputusannya melakukan invasi ke Iraq, Blair menjawab, “Kini, entah baik atau buruk, semua orang memiliki pendapat tentang itu.”

Dan Inilah “Pengakuan Dosa” Para Pencetus Perang di Iraq

Setelah Irak porak poranda dan kini tercabik-cabik oleh pertikaian sektarian, satu persatu para tokoh pengobar perang di Irak yang semula mendukung invasi AS dan pasukan koalisinya, mengakui kekeliruan mereka.

Collin Powell

Pada tahun 2003, Collin Powell meyakinkan PBB bahwa Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal. Setahun kemudian, setelah serangan AS sudah terlanjur menghancurkan sendi-sendi kehidupan rakyat Irak ditambah perlawanan keras dari para pejuang Irak, pada tahun 2004 Powell mengakui bahwa tudingannya tentang senjata pemusnah massal di Irak “salah dan tidak akurat, dalam beberapa hal bahkan secara sengaja informasinya dibuat menyesatkan.”

Kolonel Tim Collins

Kolonel Angkatan Darat AS ini sangat terkenal dengan pidatonya dalam menyemangati pasukan koalisi untuk bertempur di Irak. Tapi pada September 2005 lalu Tim Collins membuat pernyataan bahwa invasi ke negeri 1001 malam itu justru menjadi pendorong bagi munculnya pendukung-pendukung Al-Qaidah baru. Ia juga mengatakan,”Sejarah mungkin akan mencatat invasi ini justru dijadikan alasan bagi Al-Qaidah untuk melakukan rekruitmen terbaik dari yang pernah dilakukannya.”

Paul Bremer

Mantan Kepala Otoritas Sementara Pasukan Koalisi di Irak ini pada bulan Januari kemarin mengakui bahwa invasi AS adalah pekerjaan yang sangat berat dari yang pernah diperkirakannya. “Kami benar-benar tidak mengira kekacauan akan terjadi,” katanya.

Zalmay Khalilzad

Duta besar AS di Irak ini pada bulan Maret mengatakan,”Kami telah membuka kotak pandora.” Irak akan “menjadikan Taliban Aghanistan seperti mainan anak-anak” kecuali kekerasan bisa diatasi.

Jack Straw

Ia adalah mantan menteri luar negeri Inggris, yang oleh surat kabar The Independent disebut sebagai salah satu “cheerleader” perang Irak. Pada bulan September lalu, Straw akhirnya menyatakan bahwa situasi Irak sekarang sangat mengerikan. “Saya pikir banyak kesalahan diperbuat setelah aksi militer oleh pemerintah AS-tidak ada keraguan atas hal itu,” katanya.

Jenderal Sir Richard Dannat

Jenderal Inggris dalam wawancara di bulan Oktober mengakui,”Saya tidak mengatakan bahwa semua kesulitan yang kami alami di seluruh dunia disebabkan oleh kehadiran kami di Irak, tapi tidak diragukan lagi bahwa kehadiran kami di Irak membuat situasi lebih buruk.”

Richard Perle

Disebut sebagai salah seorang intelektual “goodfather” perang di Irak, Perle mengubah pandangannya pada bulan November dan mengakui bahwa “sebuah kesalahan besar sudah dilakukan” dalam invasi ke Irak. Ia berujar,”Tingkat brutalitas yang telah kami saksikan benar-benar menyeramkan.”

Donald Rumsfeld

Sebuah memo yang ditulis mantan menteri pertahanan yang selama ini dikenal bersikap keras soal invasi AS di Irak, terungkap pekan ini. Dalam memo itu Rumsfel menyatakan, ia telah mencari upaya mengubah taktik. “Menurut saya, kini saatnya melakukan penyesuaian besar… apa yang dilakukan pasukan AS di Irak tidak cukup berhasil,” tulisnya.

Robert Gates

Robert Gates adalah pengganti Donald Rumsfeld dan kini menjabat sebagai Menteri Pertahanan AS yang baru. Ketika ditanya oleh seorang anggota senat apakah AS memenangkan perang di Irak, Gates menjawab,”Tidak, Sir.” Ia bahkan mengingatkan situasi di Irak saat ini bisa mengarah pada “peperangan besar di kawasan regional.”

Mereka, yang dulu begitu bersemangat mengobarkan perang di Irak boleh saja mengakui kekeliruannya. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Rakyat Irak sudah kepalang menderita, negeri 1001 malam itu sudah hancur binasa, pertanyaannya sekarang, apakah orang-orang ini mau mempertanggungjawabkan perbuatannya?

Galeri Foto

Screenshot_2016-06-11-04-26-20_1 Screenshot_2016-06-11-04-26-36_1

Screenshot_2016-06-11-04-28-23_1Screenshot_2016-06-11-04-25-35_1 Screenshot_2016-06-11-04-27-27_1 Screenshot_2016-06-11-04-25-28_1

Referensi

  • ^seriusgasih.blogspot.sg/2012/07/kilas-balik-invasi-tentara-as-di-iraq.html?m=1
  • ^hidayatullah.com/berita/internasional/read/2013/10/17/6858/setengah-juta-orang-tewas-di-iraq-sejak-invasi-amerika.html#.V1raqdalbqA
  • ^sejarah-kotaku.blogspot.sg/2015/06/perang-teluk-iii-amerika-serikat-vs.html?m=1
  • ^bbc.com/indonesia/dunia/2012/09/120902_blairbush.shtml
  • ^gmni.or.id/902/ternyata-perang-iraq-memang-demi-minyak.html
  • ^aslibumiayu.net/8224-dulu-kita-tertipu-dengan-berita-di-media-media-termasuk-tentang-saddam-husein-atau-invasi-irak.html
  • ^mosleminfo.com/dunia-islam/setelah-8-tahun-prediksi-saddam-hussein-terbukti/
  • ^aktualita.co/tony-blair-minta-maaf-atas-keputusannya-lakukan-invasi-irak/6242/
  • ^arrahmah.com/read/2006/12/06/269-inilah-pengakuan-dosa-para-pencetus-perang-di-iraq.html
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s