Propaganda Penolakan Masjid Muhammadiyah

logo-muhammadiyah

Keberadaan Muhammadiyah di Indonesia yang sudah berkarya untuk bangsa selama 1 abad lebih ternyata masih megalami hambatan. Masjid Muhammadiyah yang sedang dibangun di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireun, Aceh, ditolak oleh warga. Untuk mendirikan masjid saja masih ada penolakan, padahal Muhammadiyah mendirikan masjid agar bisa digunakan untuk masyarakat umum, bukan hanya digunakan untuk kegiatan internal Muhammadiyah.

Pembagunan Masjid Muhammadiyah di Aceh Ditolak Warga

Screenshot_2016-06-14-23-03-18_1

“Masjid Taqwa Muhammadiyah yang sedang dibangun tidak boleh dilanjutkan karena ditolak masyarakat dengan dalih milik kelompok dan bukan ahlus sunnah wal jamaah”, terang Dahnil Anzar Simanjuntak, Ketua PP Pemuda Muhammadiyah.

Pihak Pemda, kecamatan, desa, serta Kementerian agama seakan ikut mengamini. Pemuda Muhammadiyah sedang advokasi masalah ini. “Kasus Khilafiyah yang berujung pada kekerasan banyak dialami masjid dan aktivis Muhammadiyah di Aceh, provokasi Muhammadiyah sebagai aliran sesat massif dilakukan. Sungguh sangat mengkhawatirkan. Seolah kita kembali ke belakang era dimana nalar tidak hadir”, jelas aktivis anti korupsi ini.

Kronologi Pelarangan Pembangunan Masjid Muhammadiyah Bireuen

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bieruen Athaillah A Latief menjelaskan kronologi pelarangan pembangunan Masjid at-Taqwa Muhammadiyah di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Masjid tersebut akan dibangun di atas tanah wakaf pemilik tanah dan wakaf tunai warga Muhammadiyah Juli Keude Dua, Bireuen.

Keinginan warga Muhammadiyah Juli ini sudah ada sejak dua tahun lalu dan mulai terwujud sejak membebaskan tanah seluas 2.500 meter persegi di Kampung Juli Keude Dua. Dimulai dengan membangun balai pengajian dan akhirnya membangun masjid.

“Kita mendapatkan donatur yang siap membangun masjid ukuran 20 x 20 meter persegi, tempat wudhu, rumah imam, dua kelas untuk program tahfidlul Quran, dengan dana Rp 1 miliar. Kalau berhasil, dijanjikan akan ditambah dengan klinik,” ujar Athaillah, Rabu malam.

Masjid ditargetkan sudah bisa dipakai pada Ramadhan tahun ini. Seluruh warga Muhammadiyah pun sudah siap membantu fisik dan materi untuk membangun masjid sesuai rencana. Proses pengajuan izin mendirikan bangunan (IMB) pun sudah dimulai sejak November 2015.

Dia menyebut semua persyaratan pembangunan sudah dipenuhi, termasuk dukungan dari masyarakat yang dibuktikan dengan penyerahan fotokopi KTP dan tanda tangan minimal 60 orang. Mereka bahkan mengumpulkan hingga 150 orang. Dukungan dari jamaah juga minimal 90 orang, tetapi PDM berhasil mengumpulkan hingga 150 orang.

Rekomendasi untuk keluarnya IMB sudah didapatkan dari keuchik (lurah) kampung, camat, dan dari sekda Kabupaten Bireuen untuk izin tata ruang. Namun, Athaillah mengatakan, rekomendasi pembangunan masjid mulai tersendat di kantor Kementerian Agama Bireuen.

Waktu terus berjalan, donatur menginginkan pembangunan bisa segera dimulai pada Januari agar dapat selesai pada Ramadhan tahun ini. IMB bisa diselesaikan sambil berjalan. Awal timbul masalah adalah ketika akan dilakukan acara peletakan batu pertama pembangunan masjid.

Dia bercerita, malam sebelum hari peletakan, datang segerombolan orang yang mengatasnamakan warga Juli Keude Dua melakukan protes ke Polsek Juli dan meminta acara tersebut dibatalkan. Jika tidak, akan ada perlawanan dari masyarakat. “Akhirnya demi kamtibmas kita tidak menyelenggarakan seremoni peletakan batu pertama, hanya menerima tamu biasa yang sudah telanjur kita undang, termasuk dari donatur yang itu pun mendapat penjagaan ketat dari polisi,” ujarnya.

Masjid Muhammadiyah Ditolak, IMM Bangun Masjid Untuk Mualaf

Screenshot_2016-06-14-23-06-04_1

Segala yang dilakukan Muhammadiyah, baik dalam bidang pendidikan dan pengajaran, kemasyarakatan, kerumahtanggaan, perekonomian, dan sebagainya tidak dapat dilepaskan dari usaha untuk mewujudkan dan melaksankan ajaran Islam. Tegasnya gerakan Muhammadiyah hendak berusaha untuk menampilkan wajah Islam dalam wujud yang riil, kongkret, dan nyata, yang dapat dihayati, dirasakan, dan dinikmati oleh umat sebagai rahmatan lil’alamin. (Ciri Gerakan Dakwah Muhammadiyah).

Hal ini pulalah yang melatarbelakangi pergerakan dakwah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah khususnya Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (PK IMM FISIP UMSU) sehingga terealisasinya pembangunan sebuah masjid yang terletak di Dusun Lau Beng Kelade, Kelurahan Namu Ukur Selatan, Kecamatan Sei Bingai, Kabupaten Langkat, baru-baru ini.

Pembangunan masjid yang diprakarsai oleh kader-kader PK IMM FISIP UMSU bersama Forum Peduli Masjid Sumatera Utara ini sudah dilakukan sejak Februari 2016 lalu yang diawali dengan peletakan batu pertama oleh pihak Kecamatan setempat dan dihadiri oleh Lurah, MUI, Polsek Sei Bingai, Polres Kota Binjai, Civitas Akademika UMSU dan puluhan warga Dusun Lau Beng Kelade, Minggu, (21/02/2016).

Lau Beng Kelade merupakan sebuah desa dengan 37 Kepala Keluarga (KK) dan 33 Kepala Keluarga beragama Islam yang menjadi kampung mualaf sejak tahun 90-an. Mayoritas masyarakatnya adalah suku Karo yang sebelumnya beragama Kristen dan menganut paham atheis yang sering disebut dengan “Karo Pamena” oleh masyarakat setempat.

Niat yang awalnya hanya untuk berdakwah melalui kegiatan bakti sosial yang diselenggarakan oleh PK IMM FISIP UMSU saat pertama kali masuk ke kampung tersebut pada tahun 2013 kini menjadi sebuah gerakan peduli masjid dan peduli kampung mualaf. Ketika itu kondisi kampung mualaf di dusun tersebut sangat memprihatinkan sebab tidak adanya perhatian yang serius dari pemerintah maupun umat muslim setempat dengan masih minimnya pengetahuan mereka tentang Islam. Sehingga banyak warga yang mengeluh dan merasa terabaikan. Banyak warga meminta untuk dibangunkan masjid di kampungnya agar mereka bisa melakukan aktivitas ibadah dengan khusyu’ dan mempelajari lebih dalam lagi tentang Al Islam.

Tidak lama ini, kabar mengenai pelarangan pembangunan masjid Muhammadiyah oleh warga di Bireun, Aceh dengan alasan bukan merupakan masjid ‘ahlus sunnah wal jamaah’cukup mengusik banyak pihak. Terutama para aktivis Muhammadiyah seperti IMM.

Ketua Umum Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (PK IMM) FISIP UMSU Yudi Hamdani baru-baru ini memberikan tanggapannya mengenai permasalahan yang sedang dihadapi oleh warga Muhammadiyah di Kecamatan Juli, Kabupaten Bireun, Aceh. Ia mengatakan bahwa ada yang mencurigakan dalam kejadian tersebut. Dimana adanya segerombolan masyarakat yang tiba-tiba melakukan aksi protes dinilai merupakan hasil sebuah propaganda yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu.

“Mungkin ada propaganda yang membuat orang itu sepakat mengatakan masjid itu bukan untuk umat tapi Muhammadiyah. Tidak mungkin warga awam mengeluarkan ‘stateman’ ketika orang Muhammadiyah membangun masjid hanya untuk orang muhammadiyah saja. Masjid Taqwa tak pernah dibeda-bedakan. Mau apa aliran atau pahamnya gak apa-apa. Bahkan orang dari agama lain pun boleh memasuki masjid Taqwa”, ujar Yudi, Kamis, (9/6/2016) malam kemarin.

Permasalahan seperti ini justru tidak terjadi di Dusun Lau Beng Kelade, Kabupaten Langkat. IMM justru membangun masjid untuk warga yang bukan Muhammadiyah di kampung mualaf tersebut. Walau pada awalnya nama masjid sempat diganti dari masjid At-Taqwa menjadi masjid An-Nur atas permintaan warga.

Affan Al-Quddus selaku panitia pelaksana pembangunan masjid mengatakan ini adalah bentuk kepedulian terhadap umat terutama untuk kaum mualaf. Terlebih pihaknya juga telah merencanakan akan membangun masjid di kampung tersebut tahun 2013 silam dalam acara bakti sosial yang diadakan oleh PK IMM FISIP UMSU.

“Ini merupakan upaya untuk mewujudkan sarana kegiatan ibadah dan pembinaan  pendidikan sesuai dengan permintaan dan kebutuhan masyarakat. Sebagai bagaian atau alumni dari PK IMM FISIP UMSU yang kebetulan juga tergabung dalam Forum Peduli Masjid saya ikut membantu untuk pembangunan itu”, ujarnya, Sabtu, siang.

Beliau juga menyampaikan bahwa perubahan nama tak menjadi masalah. “Tidak ada masalah itu, yang terpenting kan harapannya nanti dengan pembangunan masjid ini akan semakin menambah gairah ibadah warga.” Tambahnya saat diwawancarai melalui telepon.

Saat ini PK IMM FISIP UMSU tengah melakukan pembinaan melalui program Paket Dakwah Ramadhan (PDR) 2016 yang diadakan sejak awal Ramadhan kemarin. Kegiatan yang diisi dengan buka puasa dan shalat tarawih serta ceramah dari ustadz dan dosen FISIP UMSU juga dikuti dengan kegiatan pesantren kilat di Yayasan Pendidikan Airlangga Namu Ukur Utara, Langkat. Walau kondisi masjid yang belum sepenuhnya rampung tak membuat semangat warga dan juga aktivis yang tergabung dalam REDVOLUNTEERS PK IMM FISIP UMSU untuk terus meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Zulfahmi Ibnu selaku Wakil Dekan III FISIP UMSU mendukung sepenuhnya kegiatan yang dilakukan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah khususnya PK IMM FISIP UMSU. Ia mengatakan kegiatan ini adalah kegiatan positif dan bisa menjadi motivasi untuk kader-kader IMM yang ada di fakultas-fakultas lain di UMSU.

“Sangat bagus, diharapkan kegiatan seperti ini akan menjadi motivasi untuk fakultas-fakultas lain yang ada di UMSU” ujarnya usai mengisi ceramah pada Kamis, malam kemarin.

Terkait Pelarangan Pendirian Masjid Muhammadiyah, Menteri Agama Minta Maaf

Setelah polemik pelarangan pembangunan Masjid Muhammadiyah di Bireuen, Aceh berlarut-larut, akhirnya  Menteri Agama RI, Lukman Hakim Syaifuddin minta maaf dan berjanji akan memberikan izin pembangunan masjid.

Permintaan maaf dan janji menteri agama ini diungkapkan oleh Ketua PP Pemuda Muhamadiyah dalam pernyataan persnya, antara lain sebagai berikut:

Kemarin sy bertemu kembali dengan Menteri agama di kantor KPK, menyampaikan sikap Muhammadiyah terkait kasus masjid muhammadiyah Di Kecamatan Juli, Bireuen.

Nah, barusan Pak Menteri agama Komunikasi lagi dengan saya via Telpon dan intinya menyampaikan permohonan maaf atas kekeliruan KEMENAG kantor Bireuen di Bireuen, dan Pagi tadi Surat rekomendasi dari KEMENAG secara resmi sudah ditandatangani dan dikeluarkan atas perintah Pak menteri agama. Dan Pembangunan Masjid Muhammadiyah Juli Kabupaten Bireuen bisa dilanjutkan.

Secara Pribadi dan jamaah Muhammadiyah saya ucapkan Terimakasih kepada Menteri Agama Lukman Saifudin, dan mudah-murahan pembangunan bisa dilanjutkan segera Tanpa Ada gangguan Lagi dan Aceh kembali damai dan Toleran.

Salam.

Dahnil Anzar Simanjuntak. Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah.

Referensi

  • ^sangpencerah.com/2016/06/pembagunan-masjid-muhammadiyah-aceh-ditolak-warga.html
  • ^sangpencerah.com/2016/06/miris-kronologi-pelarangan-pembangunan-masjid-muhammadiyah-bireuen.html
  • ^sangpencerah.com/2016/06/masjid-muhammadiyah-ditolak-imm-bangun-masjid-untuk-mualaf.html
  • ^sangpencerah.com/2016/06/terkait-pelarangan-pendirian-masjid-muhammadiyah-menteri-agama-minta-maaf.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s