Keluarga Muhammadiyah Sul-Tra Tewas di Tahanan

logo-muhammadiyah

Staf bidang rehabilitasi Badan Nasional Narkotika Propinsi (BNNP) Sulawesi Tenggara, Abdul Jalil, 25 tahun, tewas dalam tahanan Polres Kendari, Selasa, 7 Juni 2016. Keluarga Jalil mengadu ke Propam Polda SulawesiTenggara karena mencurigai penyebab kematiannya.

Ratusan mahasiswa dan warga Abeli, Kendari, yang tergabung dalam Keluarga Besar Muhammadiyah Sulawesi Tenggara (Sultra) Senin (13/6/2016) turun jalan untuk menggelar aksi solidaritas atas kematian anggota Badan Nasional Narkotika Provinsi (BNNP) setempat Abdul Jalil (25).

Massa berkumpul di perempatan alun-alun kota Kendari sambil membawa keranda mayat. Dalam orasinya, massa mengecam tindakan oknum kepolisian yang menangkap korban Jalil hingga berujung kematian.

“Sangat ironis, Abdul Jalil meninggal dalam perlindungan kepolisian karena sudah diamankan. Kalaupun korban adalah pelaku kejahatan, polisi harus tetap menjunjung asas praduga tak bersalah, tidak mestinya nyawanya dicabut dari raganya,” kata koordinator aksi, Abdul Rahman Darasi, di depan kantor Polres Kendari, Jalan D.I Panjaitan, Kendari.

Penangkapan terhadap korban telah melukai rasa keadilan dan mencederai kesucian bulan suci Ramadhan. Pasalnya, pada tanggal 7 Juni sekitar pukul 00.00 Wita, Abdul Jalil Arqam bin Arqam Ali, anak seorang ulama setempat ditangkap puluhan oknum polisi berpakaian preman bersenjata laras panjang.

“Bulan Ramadhan yang sangat disanjung dan dinantikan umat islam kini telah dinodai dengan menumbuhkan rasa was-was masyarakat,” ungkapnya. Menurut dia, kematian tidak wajar terhadap korban Jalil masuk dalam kategori pelanggaran HAM.

“Alasan polisi korban melawan itu benar. Bagaimana mau melawan sementara tangannya diikat, pelaku kejahatan sadis saja tidak disiksa sampai terbunuh,” terangnya.

Untuk itu, massa mendesak semua oknum polisi yang menangkap korban Jalil agar diproses pidana. Selain itu, mereka juga meminta pertanggungjawaban Kapolres atas kematian almarhum Jalil.

Setelah menggelar aksi unjukrasa di depan kantor massa kemudian bergerak menuju kantor Polda Sultra. Sebelumnya diberitakan, Abdul Jalil (25) tewas akibat dugaan penganianyaan yang dilakukan oknum kepolisian. Jalil adalah anak pasangan Arkam Ali  dan Rahmatia di Kelurahan Tobimeeta, Kecamatan Abeli, Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Arkam Ali merupakan mantan dosen Universitas Muhammadiyah Kendari yang juga  Tokoh PWM Sulawesi Tenggara.

Pihak keluarga tidak menerima tewasnya Jalil, pegawai honorer di kantor Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulawesi Tenggara (Sultra) bidang rehabilitasi, karena tiba-tiba mereka mendapat kabar korban sudah meninggal dari pihak kepolisian dimana jenazah korban berada di RS Bhayangkara Kendari.

Sepengetahui keluarganya, korban yang juga konseling di BNNP Sultra, diamankan polisi dari Polres Kendari pada Senin (6/6/2016) sekitar pukul 00.00 Wita.

Ibu korban, Rahmatia (56) menuturkan, anaknya ditangkap puluhan polisi berpakaian preman dengan tuduhan melakukan pencurian serta pemerkosaan di sejumlah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Kota Kendari.

”Tadi malam anakku diambil dari rumah, tanganya diikat terus tadi saya pergi mau coba besuk, mereka katakan bahwa ada perlawanan. Sementara di rumah saja dia diambil tidak banyak bicara, malah dia pasrah waktu diikat tangannya,” ungkap Rahmatia, Selasa (7/6/2016).

Menjejaki Kematian Abdul Jalil

Screenshot_2016-06-15-03-40-13_1

Ilustrasi

Kematian Abdul Jalil menjalar dari mulut ke mulut warga di seantero Kota Kendari. Kematian pemuda berusia antara 24-25 tahun ini tak wajar. Dia diringkus polisi di rumahnya tepat tengah malam, 6 Juni 2016. Tanpa surat penahanan. Dibawa entah kemana dan baru tiba di Polres Kendari pukul 05.00 WITA.

Paginya, orangtuanya hendak membesuk. Di kantor polisi, Rahmatia (65), ibu Abdul Jalil, mendapat keterangan langsung dari Kapolres Kendari AKBP Sigid Hariyadi (ada yang menulis AKBP Sigit Hariadi) bahwa anaknya telah meninggal.

Hingga sejauh itu, media massa mainstream, baik elektronik maupun cetak, online maupun offline, sepakat dengan data dan fakta di atas. Mereka memberitakan hal yang sama. Informasi mulai berbeda ketika terkait tuduhan penangkapan dan penyebab kematiannya.

Ada media yang hasil wawancaranya dengan Rahmatia menyebutkan bahwa kematian Abdul Jalil disebabkan oleh sesak napas. Warisan dari kakeknya. Juga karena ginjal yang dideritanya. Rahmatia tak mempercayai keterangan itu. Dia yakin anaknya dibunuh.

Informasi lainnya, Abdul Jalil dihajar lalu ditembak –atau ditembak lalu dan sambil dihajar– karena melawan, memberontak, dan hendak melarikan diri. Ada media yang menambahkan, penembakan terjadi di kediamannya karena Abdul Jalil melawan dan hendak melarikan diri. Keterangan tentang melawan saat ditangkap, dibantah oleh pihak keluarga. Menurut ibunya, Abdul Jalil tidak melawan saat ditangkap, yang kemudian tangannya diikat menggunakan tali sepatu ayahnya. Soal tuduhan.

Terkait dengan penikaman yang terjadi di MTQ. Terkait dengan kasus pencurian-pembegalan-Pasal 365. Juga terkait kasus pencabulan-pemerkosaan-Pasal 285. Siapa Abdul Jalil? Ada yang menyebut Abdul Jalil Arqam (26 tahun). Pegawai di Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sulawesi Tenggara. Staf honorer. Pegawai tidak tetap. Bertugas di bidang rehabilitasi (tahanan). Membantu pengambilan sampel urine di saat ada orang yang diambil sampel darahnya. Bekerja sejak 2014.

  • Tambahan versi orang sekantornya:

Abdul Jalil lelaki yang baik, rajin dan kerap membantu rekan kerjanya. Agak pendiam. Tidak mengetahui kehidupannya di luar. Abdul Jalil versi polisi: telah sekian lama menjadi target operasi anggota reserse kriminal Polresta Kendari. Diduga otak dari aksi pembegalan di 24 TKP di Kota Kendari, serta 8 orang korbannya adalah perempuan yang diperkosa secara bergiliran oleh komplotannya.

Kabar kematian Abdul Jalil lalu viral. Setidaknya ada dua hal yang membuat perhatian publik begitu tersedot. Pertama, Abdul Jalil mati di tangan polisi. Paling tidak, mati dalam “perlindungan” polisi. Cerita matinya anak negeri di tangan aparat negara bukan barang baru. Bahkan, sedikit menengok sejarah, negeri ini distabilkan dengan membunuhi rakyatnya.

Kematian Jalil menjadi simbol tercerabutnya hak paling asasi. Hak hidup manusia. Dirampas oleh tangan-tangan yang seharusnya memberikan perlindungan sekuat-kuatnya. Nyawanya dicabut ketika berada dalam penguasaan aparat, elemen penegak hukum yang harus memberikan perlindungan terlepas seseorang bersalah atau tidak. Polisi bukanlah algojo yang harus memutuskan vonis atas seseorang. Pesakitan sekalipun. Dan Jalil bukanlah pesakitan. Dia masih berstatus terduga.

Dugaan yang bisa benar, bisa salah, dengan kadar yang sama derajatnya. Kematian Jalil di bawah tanggungjawab polisi telah memutuskan satu mata rantai pembuktian atas benar tidaknya persoalan yang dituduhkan kepadanya.

Soal bahwa Jalil hendak lari. Hendak melawan. Lalu ditembak. Logikanya begini: tahanan dengan tangan terikat hendak melawan dan atau melarikan diri di bawah kendali sekitar 20 orang personil, agak melenceng dari akal sehat.

Melencengnya agak jauh. Data ini barangkali terlalu berlebihan. Taruhlah lima orang polisi saja. Dan sang tahanan yang terikat tali sepatu itu hendak melawan, lalu pilihan paling amannya harus didor. Jika memang demikian, ah, sepertinya polisi kita kurang latihan. Jenderal Badrodin Haiti atau penggantinya perlu menganggarkan biaya pelatihan yang lebih untuk personelnya.

Alur pikir inilah yang membuat kematian Abdul Jalil mengusik rasa kemanusiaan kita. Hal kedua yang membuat kematian Abdul Jalil mendapat perhatian publik adalah fakta bahwa dia seorang pegawai badan narkotika tingkat provinsi. Sekalipun hanya honorer. Sekalipun tugasnya hanya membawa-bawa sampel urine seseorang.

Tetapi sedikit banyaknya, dia kemungkinan punya data, informasi, tentang penyalahgunaan narkotika. Kerja-kerja Abdul Jalil dan institusi besarnya bertaut berkelindan dengan tugas institusi kepolisian. Ada kecurigaan besar publik bahwa kematiannya memiliki linearitas dengan kasus-kasus pelanggaran hukum terkait narkotika. Seyogyanya, media massa, lembaga bantuan hukum, atau lembaga independen lainnya, melakukan investigasi mendalam atas kasus ini.

Media massa, secara khusus, seharusnya tidak sekadar larut dalam “mengeksploitasi” duka cita kerabat ataupun pembelaan-pembelaan aparat. Media massa seharusnya hadir memberikan fakta dan data yang tak terbantahkan. Biarkan publik yang mengkonstruksi opininya sendiri atas data dan fakta yang tersaji. Tidak tepat jika media turun dengan berita yang beropini. Kebenaran dalam jurnalistik adalah data dan fakta. Diproses dengan kerja-kerja yang terkonfirmasi validitas maupun akurasinya.

Di penghujung tulisan ini, saya hendak mengutip sebuah adagium yang perlu kita renungkan bersama: suum jus, summa injuria; summa lex, summa crux. Kurang lebihnya berarti, hukum yang keras akan melukai, kecuali keadilan dapat menolongnya. Atau jangan-jangan kematian Abdul Jalil bukan tentang penegakan hukum, tapi hanya sekadar hendak melukai keadilan?

Kronologis Kematian Putra Kyai Muhammadiyah (Mirip Kasus Siyono)

Berikut dibawah ini kronologi kematian Abdul Jalil:

  • Senin, 6 Juni 2016

Menjelang magrib, Abdul Jalil baru tiba dari Morowali, Sulawesi Tengah mengantar rekannya yang mengurus proyek.

  • Selasa, 7 Juni 2016

Sekitar pukul 00.00 WITA ada orang berpakaian preman bersenjata laras panjang yang mengaku diri sebagai anggota polisi dari Kepolisian Resort (Polres) Kendari menggedor pintu rumah korban degan keras. Setelah kakak korban (Abu) keluar sudah ada dua polisi di ruang tamu dan korban (Jalil) sedang diikat kedua ibu jarinya dengan tali sepatu, posisi kedua tangan dibelakang punggung.

Korban ditangkap oleh Tim Buru Sergap (Buser) Polres yang berjumlah sekitar 30 (tiga puluh) orang dengan dugaan begal dan pencurian. Korban ditangkap tanpa surat perintah penangkapan.

Polisi itu kemudian menanyakan kamar korban dan mengambil dua telepon seluler milik korban dan satu jaket yang digantung di kamar korban. Korban kemudian dibawah keluar dengan dipegang oleh satu orang, tanpa sedikitpun perlawanan.

Korban kemudian naik di mobil duduk di kursi belakang. Mobil yang turut menjemput korban sekitar 7 (tujuh) mobil dan ada beberapa motor. Ada diantara polisi tersebut mengatakan bahwa Ambang sudah ditangkap. Ada orang yang dikenal di mobil lainnya yang juga merupakan polisi (Pak Jusman). Ibu korban kemudian mencoba menahan. Kemudian Pak Jusman menyampaikan bahwa tidak perlu ragu, sebab korban akan diserahkan ke Polres. Korban dalam kondisi tidak memakai baju, tetapi menggunakan celana pendek.

Korban baru tiba di Polres Kendari sekitar Pukul 5.00 WITA. Sekitar pukul 8.00 WITA Ibu Korban mengunjungi Polres untuk mengetahui kondisi korban. Sekitar pukul 11.00 Abu menghubungi nomor Ibunya yang mengangkat adiknya Zahra. Zahra dengan isakan tangis, menyampaikan bahwa korban sudah meninggal.

Sekitar pukul 13.30 WITA jenazah sudah sampai di rumah duka di Jalan Balai Kelurahan, Kel. Abeli, Kec. Tobimeita. Pada jenazah korban ditemukan banyak luka lebam, luka sayatan, dan di betis kaki kirinya ada luka bekas peluru.

  • Sabtu, 11 Juni 2016

Sekitar pukul 15.00 WITA ada seseorang yang diduga dari Pos mengantar surat perintah penangkapan untuk Abdul Jalil Arkam bernomor SP.Kap/106/VI/2018/Reskrim. Dalam surat dinyatakan bahwa korban diduga keras melakukan tindak pidana Pencurian dengan kekerasan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 365 KUHP. Surat dikeluarkan pada tanggal 6 Juni 2016 dengan masa berlaku mulai tanggal 6 Juni sampai dengan 7 Juni 2016.

Penyidik/ penyidik pembantu/ penyelidik yang diperintahkan dalam surat tersebut yaitu Muh. Ichsan dan Ahmad Dirga. Salah satu dasar hukum penangkapan selain KUHAP dan Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, juga Laporan Polisi Nomor: LP/290/V/2016/SPKT.C/SEK.MDG/SULTRA/RES KDI, tanggal 27 Mei 2016.

Penyebab kematian Abdul Jalil, mulai dari keterangan Polisi terhadap keluarga, pernyataan polisi yang tersebar di media dalam jaringan (online) adalah karena asma dan sesak nafas.

Berbuntut Panjang, Pemuda Muhammadiyah Sultra Akan Laporkan Kasus Kematian Arqam ke Komnas HAM

Screenshot_2016-06-15-21-53-22_1

Menjelang maghrib, Senin (6/6), Abdul Jalil baru tiba dari Morowali, Sulawesi Tengah mengantar rekannya yang mengurus proyek. Sekitar pukul 00.00 WITA ada orang berpakaian preman bersenjata laras panjang yang mengaku diri sebagai anggota polisi dari Kepolisian Resort (Polres) Kendari menggedor pintu rumah korban degan keras. Setelah kakak korban (Abu) keluar sudah ada dua polisi di ruang tamu dan korban sedang diikat kedua ibu jarinya dengan tali sepatu, posisi kedua tangan dibelakang punggung.

Korban kemudian dibawah keluar dengan dipegang oleh satu orang, tanpa sedikitpun perlawanan. Korban dalam kondisi tidak memakai baju, tetapi menggunakan celana pendek. Hari esoknya sekitar pukul 11.00, adik korban Zahra dengan isakan tangis, menyampaikan bahwa korban sudah meninggal.

“Kami akan kawal di kepolisian, tugas polisi adalah melakukan penyelidikan bukan menghabisi nyawa orang. Almarhum ini kerja di BNNP (Narkotika Propinsi), saat ini Sultra sedang marak issue kasus Narkoba. Fokus kita ada di prosesur penangkapan yang tidak wajar. Ini kejahatan kemanusian”, terang Laode azizul kadir, selaku Sekretaris PW Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Tenggara.

Perlu diketahui, pada jenazah korban ditemukan banyak luka lebam, luka sayatan, dan di betis kaki kirinya ada luka bekas peluru. Sungguh tindakan yang tidak pantas dilakukan oleh penegak hukum. 

“Terkait kasus terbunuhnya Abdul Jalil Arqam setelah diduga dianiaya oknum polisi, pihak Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Sultra dan keluarga akan melaporkan khausus ini ke KOMNAS HAM”, Ujar Aziz, Sekretaris PW Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Tenggara.

Pihak AMM telah melakukan protes langsung ke kepolisian dalam bentuk 2 kali aksi unjuk rasa. “Sangat ironis, Abdul Jalil meninggal dalam perlindungan kepolisian karena sudah diamankan. Kalaupun korban adalah pelaku kejahatan, polisi harus tetap menjunjung asas praduga tak bersalah, tidak mestinya nyawanya dicabut dari raganya,” kata koordinator aksi, Abdul Rahman Darasi, di depan kantor Polres Kendari.

 

Referensi

  • ^tempo.co/read/news/2016/06/08/058778004/staf-bnn-meninggal-di-tahanan-polisi-keluarga-lapor-polda
  • ^sangpencerah.com/2016/06/tewasnya-keluarga-muhammadiyah-sultra-di-tahanan-melukai-keadilan.html
  • ^kompasiana.com/daengs/menjejaki-kematian-abdul-jalil_575b9a8f549373b8042eaa4d
  • ^sangpencerah.com/2016/06/kronologis-kematian-putra-kyai-muhammadiyah-mirip-kasus-siyono.html
  • ^sangpencerah.com/2016/06/kisah-tragis-abdul-jalil-arqam-dijemput-sehat-pulang-jadi-mayat.html
  • ^sangpencerah.com/2016/06/pemuda-muhammadiyah-sultra-laporkan-kasus-kematian-arqam-ke-komnas-ham.html
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s