PREV: Usut Tuntas Maraknya Atribut Israel Di Papua [Bagian 1]


Ditemui Presiden GIdI, Ahok: Gereja GIdI Gereja Injili Bener Ya!

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendapat apresiasi dari Gereja Injili di Indonesia (GIdI) atas kepemimpinannya di ibukota.

Seperti dimuat dalam Tabloid Injili Edisi Khusus Youth- Fronline News, Juli 2015, Kiblat.net mendapati di rubrik Pendidikan Injili, ada tulisan mengenai kunjungan khusus perwakilan GIdI ke ibukota untuk menemui Ahok.

Tidak dijelaskan kapan pertemuan itu terjadi, hanya disebutkan bahwa pertemuan bertajuk “Kenal Siapa Gereja Pribumi Papua” itu berlangsung di ruang VIP, Kantor Gubernur, Jakarta Pusat.

Tim BPP GIdI terdiri dari 12 orang dipimpin langsung oleh Presiden GIdI, Pdt. Dorman Wandikbo. Sementara itu, Ahok didampingi para asisten, staf khusus dan awak media.

06-15-11.09.10

Tabloid Injili yang diterbitkan Gereja Injili di Indonesia (GIdI) pada Edisi Juli 2015 menampilkan sosok Ahok.

Dalam Tabloid Injili itu diceritakan bahwa di mata gereja GIdI, Ahok adalah sosok yan patriotik, tanpa kompromi dan berani karena benar. Bagi gereja GIdI, nilai dari segi kepemimpinannya saat ini sudah sangat representatif dari nilai-nilai keimanan yang dipercayai umat Kristiani.

Pada kesempatan itu, Pdt Dorman menceritakan latar belakang lahirnya gereja GIdI di masa lalu, perkembangan GIdI saat ini, penginjilan dari Tanah Papua sampai ke seluruh Nusantara termasuk ke Jakarta Pusat hingga ke luar negeri.

Penjelasaan singkat perkembangan GIdI itu ditanggapi serius dan kagum oleh Ahok. “O.. ya, gereja GIdI gereja injili bener ya!” sambil mengangguk-anggukan kepala, mengamininya.

“Kok orang Jakarta melihat Papua dengan mata bisnis, tapi GIdi lihat Jakarta dengan mata rohani,” pungkas Ahok.

Dokumen Lengkap Kerjasama Israel dan Gereja Injili di Indonesia (GIDI)

Rupanya, hubungan erat antara GIdI dengan ‘tamu asing’ dari Israel sudah terjadi sejak lama. Pada 20 November sejumlah petinggi GIdI dan tokoh gereja dari Papua bertandang ke Israel untuk meneken sebuah kontrak perjanjian kerjasama. Padahal antara Israel dengan Indonesia tak pernah ada hubungan diplomatik.

Berikut Kiblat.net mengutip secara utuh isi perjanjian atara Israel yang diwakili oleh KHAHZ dengan organisasi GIdI dari situs resmi GIdI, http://www.pusatgidi.org.

Kunjungan perwakilan GIdI dan tokoh gereja ke Jerusalem, Israel (Foto: Dokumentasi Kiblat.net)

Kunjungan perwakilan GIdI dan tokoh gereja ke Jerusalem, Israel (Foto: Dokumentasi Kiblat.net)

KESEPAKATAN KERJASAMA

Kesepakatan Kerjasama ini dibuat pada tanggal 20 November 2006 antara : KEHILAT HA’SEH AL HAR ZION (Jemaat Doamba di Gunung Sion-KHAHZ) sebagai pihak kesatu, yang melakukan pertemuan di Gereja Kristus, Yerusalem dengan Gereja Evangelis, GEREJA INJILI DI INDONESIA (GIDI) d/a. PO Box 233, Sentani 99352, Jayapura, Propinsi Papua, Indonesia, sebagai pihak kedua.

DASAR KERJASAMA

1. Kami, KHAHZ dan GIDI, sebagai partner dalam kesepakatan ini percaya:
 Bahwa ikatan cinta dan persahabatan Kristen dapat dibangun dan dipelihara di antara kita;
 Bahwa semangat dari kesepakatan ini akan terus terpelihara di bawah bimbingan pimpinan gereja (ministry) dan hubungan timbal balik antar mereka.

2. Mengakui kesatuan Gereja di seluruh dunia, kami sepakat untuk bekerja secara kemitraan dalam membangun dan mempromosikan Kerajaan Tuhan. Kami lebih jauh menyepakati untuk bekerja sebagai sebuah tim dalam kemitraan dengan organisasi-organisasi Kristen lainnya, sementara kami tetap memiliki kebebasan untuk bekerja sama dengan kelompok-kelompok kristen yang lain di luar kesepakatan ini.

3. Kami menyadari bahwa saat ini kita sedang hidup di zaman ketika tuhan sedang merestorasi gereja-nya di israel dan di seluruh dunia. Kami memahami hubungan baru kami dengan gereja di Papua dan (Kehilah) Gereja di Yerussalem sebagai satu langkah dalam proses restorasi ini. Kami juga memahami bahwa bangunan persahabatan di antara kedua bagian badan al-masih itu sesuai dengan tujuan-tujuan nubuwah dari tuhan bagi israel dan bangsa-bangsa lain di akhir zaman ini. Inilah saatnya bagi ilmu tuhan tentang akhirat (eschatology) ketika roh kudus mencangkokkan pokok-pokok zaitun liar dari berbagai bangsa ke dalam pohon zaitun yang terpelihara di israel yang menyelamatkan dalam sebuah keanggotaan/persahabatan sebagai ungkapan realita penjelmaan. Agar hal ini bisa tercapai sebagai ungkapan satu kesatuan dalam satu tubuh antara yahudi dan non-yahudi, kami telah berkomitmen kepada isa (yesus) untuk bersama-sama membangun dalam suatu cara yang relasional. Kami menyadari pentingnya pengajaran kenabian dari firman tuhan sebagai hal yang penting untuk membawa kita ke dalam hubungan yang tuhan selalu kehendaki bagi kedua pihak ini sebagai bagian dari tubuhnya.

Supaya visi ini bisa terealisir, kami memahami akan perlunya pengajaran/bimbingan dari zion dalam bentuk seminar-seminar yang akan diadakan baik di israel maupun di papua. Sementara kami menyadari bahwa pengajaran tersebut harus melalui komunitas yang menyelamatkan (messianis) di israel, kami juga ingin menerima berkah kekayaan dari orang-orang non-yahudi, di mana sang mesiah (juru selamat) telah sampaikan kepada badannya di papua. Kami memahami bahwa kesepakatan yang kami tanda tangani ini, pada hari ini, hanyalah sebuah permulaan dari rencana tuhan di mana roh kudus akan membukanya pada saat kita berjalan bersama dalam kesatuan kasih dan ketaatan dalam bimbingannya. Kami juga memahami bahwa ini merupakan salah satu kunci penting dalam fase akhir rencana tuhan yang akan memimpin dalam menyelesaikan misteri mempelai yang telah disiapkan untuk menyambut kedatangan tuhan pada saat gereja-gereja dari seluruh bangsa datang ke dalam hubungannya yang benar dengan komunitas yang menyelamatkan (messianis) di Yerussalem

4. Kesepakatan ini adalah antara KHAHZ dengan GIDI dan sebagaimana hal itu berlaku bagi seluruh pekerja (pelayan gereja, misionaris) di luar negeri (asing), jangka panjang maupun jangka pendek, dikirim oleh para partner dalam tugas-tugas misionaris. Laporan dari bagian departemen (ministry) yang bersifat pribadi akan disusun untuk semua pekerja asing, yang akan ditandatangani oleh para pekerja (pelayan gereja) asing tersebut yang terkait dan yang merupakan perwakilan dari gereja-gereja kami.

5. Meskipun para pekerja/pelayan secara individu tidak akan diminta menandatangani Kesepakatan Kerjasama ini, namun setiap Gereja sangat diharapkan untuk membuat duplikat (copy) yang diperuntukkan bagi para pekerja asing supaya mereka membacanya dan membuat diri mereka mengenal/tahu tentang semangat kami dalam kerjasama ini.

6. Setiap perilaku maupun tindakan para pekerja/pelayan yang dianggap merupakan pelanggaran terhadap semangat Kesepakatan ini, maka akan segera didiskusikan oleh para pemimpin Gereja terkait, dan jika perlu akan dibatalkan ijin kerjanya.

Keanggotaan Gereja dan Pernyataan Ministry (Jabatan Pendeta)

Keanggotaan Gereja:

1. Para pekerja asing yang berafiliasi dengan GIDI dan disetujui oleh KHAHZ akan menjadi anggota penuh KHAHZ, menikmati hak-hak sebagai anggota penuh, dan berkomitmen terhadap tanggung jawab keanggotaan semua Gereja.

2. Para pekerja asing yang berafiliasi dengan KHAHZ dan disetujui oleh GIDI akan menjadi anggota penuh GIDI, menikmati hak-hak sebagai anggota penuh, dan berkomitmen terhadap tanggung jawab keanggotaan semua Gereja.

3. Setiap saat para pekerja/pelayan asing diharapkan bisa bekerja sama dengan pimpinan nasional Gereja yang ditempati sebagaimana dalam struktur badan Gereja mereka sendiri.

Pernyataan Ministry (Pelayanan Gereja):

1. Sebelum seorang pekerja asing direkrut, badan yang mengurusi di dalam KHAHZ maupun GIDI akan menulis sebuah pernyataan/laporan ministry. Pernyataan tersebut akan saling ditukar antar gereja-gereja (partner) sebagai bahan pertimbangan dan perekrutan.

2. Bagi siapa saja yang ingin menempati posisi tertentu harus memiliki karakter yang diperlukan, kualifikasi akademis maupun professional. Sebagai tambahan, pekerja asing tersebut harus menyiapkan diri mereka komitmen terhadap Kesepakatan Kerjasama dan terhadap Konstitusi Gereja, Peraturan, dan Rambu-rambu gereja yang menerima (yang akan ditempati)

3. Seorang pekerja asing yang memasuki kegiatan/pekerjaan KHAHZ maupun GIDI akan dikenalkan dengan dokumen-dokumen ini, dan pemimpin Gereja nasional yang terkait akan membantu dalam urusan ini.

4. Semua para pekerja asing akan bertanggung jawab kepada seseorang yang dinominasikan oleh Gereja dalam departemen atau bagian masing-masing. Di manapun seseorang ditugaskan ke sebuah institusi dia akan bertanggung jawab kepada kepala institusi itu. Jika seseorang ditugaskan ke pekerjaan Gereja, dia akan bertanggung jawab kepada Ketua Distrik atau seorang pimpinan yang didelegasikan.

5. Laporan ministry akan ditinjau ulang secara berkala dan mungkin akan disesuaikan setelah saling didiskusikan karena berkembangnya ketrampilan dan kebutuhan.

Pelayanan Pastoral dan Dukungan Bagi Personal

1. Sebagai partner kami mendorong para pekerja asing untuk menjadi bagian yang integral dari Gereja lokal, sehingga mereka akan menjadi tanggung jawab pelayanan pastor tuan rumah.

2. Pelaksana Umum gereja-gereja tersebut akan dilibatkan dalam diskusi-diskusi yang terkait dengan ministry/pelayanan, dan perilaku setiap pekerja asing yang bertugas/melayani di bawah kesepakatan ini. Untuk itu, kami akan mendorong situasi yang saling melayani/peduli, mendukung, dan tukar menukar informasi, termasuk dokumen resmi gereja (circular) dan evaluasi tahunan. Setiap partner akan selalu mengusahakan untuk memelihara kontak langsung antar mereka di setiap waktu baik itu melalui email, telepon, atau fax terutama dalam hubungannya dengan ministry/pelayanan para pekerja asing.

Pekerja Baru

1. Setiap gereja akan membuat prosedur yang bisa dikerjakan untuk keperluan orientasi bagi para pekerja asing supaya bisa membantu mereka menyesuaikan diri dengan kehidupan dan tugas pekerjaan di negara tempat ia bekerja.

Evaluasi Tahunan

1. Kedua pihak gereja akan mengharuskan kepada masing-masing pekerja asing untuk mempresentasikan laporan tertulis pelayanannya di depan Konferensi Distrik Tahunan atau yang sederajad. Selama (masa) presentasi itu mereka akan perlu menemui Ketua Distrik atau yang mewakilinya untuk mendiskusikan tentang pelayanan/pekerjaannya pada saat itu.

Akhir Masa Tugas

1. Setiap pekerja asing yang telah menyelesaikan masa bakti/tugasnya bersama KHAHZ maupun GIDI akan diberikan sebuah undangan tertulis dari gereja tuan rumah untuk kembali ke negara di mana ia bertugas dalam rangka melanjutkan tugas-tugas pelayanan/kepasturan jika dipandang perlu.

Keadaan dan Perkembangan Khusus

Dengan bekal pengalaman para pekerja asing dalam melayani selama bertahun-tahun, kami menyadari bahwa situasi-situasi tertentu akan berpengarauh pada perkembangan yang membutuhkan perhatian khusus. Beberapa hal di bawah ini menggambarkan sejumlah kasus yang pernah terjadi, namun disadari bahwa hal-hal lain mungkin saja terjadi di masa yang akan datang, dan para partner akan meminta pekerja-pekerja asing memberitahukan hal-hal baru tersebut sebagai rasa hormat kepada budaya dan negara setempat.

Perkawinan Antar Budaya
Kami menyadari bahwa ajaran gereja meniadakan segala perbedaan tentang ras dan suku. Kami setuju bahwa setiap pekerja asing harus mendiskusikan dengan pihak gereja maupun pemimpin misi tentang setiap hubungan mereka yang bisa mengarah kepada perkawinan.

Perilaku Tidak Pantas

Kami mewajibkan seluruh pekerja asing untuk mengikuti ajaran Bible yang merujuk kepada perkawinan monogami dan heteroseksual. Setiap pelanggaran terhadap masalah ini terkait dengan perilaku tidak bermoral dan perzinaan akan segera didiskusikan situasinya dengan pemimpin KHAHZ dan GIDI.

Komitmen

Para pekerja asing di Israel atas sponsor dari KHAHZ dan sebaliknya yang ingin mengubah komitmen mereka ke agen lain harus melunasi semua biaya yang terkait dengan kepindahan tersebut dan kemungkinan akan diminta untuk meninggalkan negara yang bersangkutan dan meninggalkan akomodasi KHAHZ/GIDI sebelum negosiasi dilakukan.

Kerjasama dengan pemeluk Kristen lain – (dalam) Komunitas Mesianis

Mengingat syarat-syarat pada Pasal (d) di atas mengakui kesatuan badan Kristus, KHAHZ/GIDI menyatakan senang dengan setiap kontribusi para pekerja asing terhadap pekerjaan umat Kristen lain – Komunitas Mesianis di negara yang ditempati. Namun demikian, kami akan meminta masalah tersebut didiskusikan dengan pemimpin (gereja) partner yang berwenang sebelum dibuat komitmen apapun.

Pelayanan Pembuatan Tenda

Kami menyadari adanya peluang/kesempatan yang baik bagi para pemeluk Kristen untuk bekerja/melayani di posisi Pemerintahan dan Non-Pemerintahan (LSM). Oleh karena itu, masing-masing partner akan terbuka untuk mendiskusikan tentang dukungan/sponsor KHAHZ/GIDI bagi para pekerja asing terhadap posisi tersebut, dengan maksud untuk memajukan pelayanan Kristen.

Riset dan Studi Lanjutan

1. Kami mendorong/mendukung studi yang sedang berlangsung, oleh karena itu akan dibuka pendaftaran bagi para pekerja asing untuk mengikuti program (kuliah) di universitas-universitas di negara setempat atau di institusi akademis lainnya, tetapi tujuan mengambil program/kuliah tersebut harus disampaikan kepada pemimpin partner tuan rumah untuk memastikan, sehingga:
– tidak melakukan hal-hal yang tidak perlu/penting bagi orang yang bersangkutan;
– tidak ada persyaratan pemerintah yang dilanggar

Persyaratan dan Tanggung Jawab

1. Gereja yang menerima atau tuan rumah bertanggung jawab untuk:
– Di mana saja yang memungkinkan, membantu mencarikan rumah tinggal bagi para pekerja asing pada wilayah tugas/misi yang ada dengan kesepahaman bahwa biaya sewa yang disepakati dibayar oleh pekerja asing kepada penyewa (pemilik tanah)
– Dalam situasi pelayanan baru yang bisa membantu semaksimal mungkin untuk mengamankan properti baik sewa maupun beli dengan harga yang sesuai, namun biaya akan menjadi tanggung jawab pekerja asing atau (gereja) partner yang mengirim.
– Mengatur perjalanan pekerja asing dari dan ke bandara di awal dan di akhir masa tugas pelayanan.

2. Gereja yang mengirim bertanggung jawab untuk:
– Mengatur dan memastikan bahwa semua pekerja asing tercukupi kebutuhannya secara memadahi termasuk orang-orang yang menjadi tanggungannya, menanggung biaya perjalanan ke dan dari negara tuan rumah, biaya hidup (termasuk perlengkapan dan kebutuhan pribadi)

• Memastikan bahwa asuransi yang memadai sudah ada untuk menanggung biaya kesehatan para pekerja asing dan yang menjadi tanggungan mereka.
– Termasuk setiap tunjangan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan anak-anak mereka. Para pekerja asing bebas memilih bentuk apa saja ataupun pendidikan yang dibutuhkan anak-anak mereka.
– Sepakat dengan semua pekerja asing terkait dengan masa (panjang) dan frekuensi Home Responsibility. Namun demikian, informasi ini harus disepakati sejak awal di setiap masa tugas dan diketahui (tersedia) oleh pemimpin partner tuan rumah.
– Memiliki prosedur yang telah disepakati untuk menghadapi/antisipasi segala bentuk krisis yang terkait dengan komitmen pribadi mereka sendiri dengan partner yang menerima. Pada saat partner penerima akan melakukan itu semua, mereka bisa membantu personil pada saat krisis yang diketahuinya, bahwa partner pengirim berhak atas keputusan akhirnya.

Penerimaan dan Amandemen (Perubahan) Atas Kesepakatan ini

Semua pihak (partner) setuju bahwa penandatanganan dokumen ini oleh pimpinan yang sah dan yang diakui oleh para partner menunjukkan komitmen yang total terhadap persyaratan-persyaratannya.
Penyesuaian dan modifikasi terhadap kesepakatan ini bisa dilakukan kapan saja, tetapi setelah melalui diskusi dan kesepakatan kedua belah pihak/partner. Yerussalem, 20 November 2006

Yang Bertanda Tangan atas Kesepakatan ini

Untuk dan atas nama GIDI:

Pastor Lipiyus Biniluk (Ketua Sinode GIDI)

Untuk dan atas nama KHAHZ:

Pastor Benjamin Berger

Pastor Reuven Berger

Saksi:

Pastor Jason Sentuf (Gereja Pekabaran Injil “Jalan Suci”, Papua)
Pastor Ishak Isir (Gereja Baptis “Anugerah” Indonesia)
Pastor Otto Kobak (Gereja Injili Di Indonesia)

Hubungan Kerjasama Israel dengan GIDI Tampar Wajah Indonesia

“Saya pikir ini semacam pembangkangan. Pembangkangan terhadap kebijakan pemerintah Indonesia” ujar anggota Komisi III DPR RI, Nasir Djamil. Nasir mengutarakan hal itu kepada sejumlah awak media terkait temuan fakta bahwa Gereja Injili di Indonesia (GIdI) membuka hubungan dengan Israel.

Padahal, Israel tidak punya hubungan diplomatik dengan Indonesia. Kebijakan politik luar negeri Indonesia pun bertentangan dengan Israel yang menjajah Tanah Palestina.

“Pemerintah Indonesia sampai saat ini tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel, tapi kemudian GIdi menjalin hubungan dengan Israel. Ini kan seperti menampar wajah negara ini,” sambungnya dalam konferensi pers TPF Komite Umat (Komat Tolikara) pada Jumat, (31/07) di Jakarta.

Nasir menyatakan bahwa pemerintah Indonesia harus bertindak serius terkait adanya hubungan atau afiliasi antara GIdI dengan Israel.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, GIdi telah menandatangani kontrak kerjasama dengan Israel dalam hal pengiriman misionaris, bidang riset dan studi lanjutan ke luar negeri.

Menurutnya, ini merupakan persoalan yang serius terkait dengan adanya isu disintegrasi Papua dari wilayah NKRI menjadi masalah yang bukan diada-adakan.

Di Tolikara, Semua Masyarakat Anggota GIDI

Sejumlah media dan tim kemanusiaan yang mengunjungi Tolikara mengutarakan aspirasinya kepada Bupati Tolikara Usman G. Wanimbo agar bisa menemui aktivis, pendeta dan perwakilan Gereja injili di Indonesia (GIDI) di Tolikara.

Sejak berada di Tolikara Rabu, (23/07), Kiblat.net maupun tim Komite Umat untuk Tolikara (KOMAT) belum berhasil menemui pihak GIDI.

Sebagai kepala daerah dan koordinator keamanan di Tolikara, Usman berkilah saat ini ada isu yang berhembus di kalangan aktivis dan pendeta GIDI.

“Sekarang isu yang berkembang di gereja, saat ini ada dilakukan penangkapan-penangkapan, Makanya kami takut,” ujar Usman kepada Kiblat.net dan awak media lainnya di Posko Darurat Tolikara, Sabtu, (25/07).

Menurutnya, dari awal-awal masa kerusuhan, proses rekonsiliasi sudah berhasil dilakukan. Tapi setelah dilakukan penangkapan terhadap dua orang tersangka, akhirnya situasi di kalangan gereja tensinya sempat meningkat lagi.

“Harusnya tidak begitu. Supaya jangan ada keresahan-keresahan masyarakat saat ini,” tambahnya.

Kepala daerah yang maju dari Partai Demokrat ini menuturkan, aktivis gereja di Tolikara sudah tidak ada di tempat karena sedang dipanggil oleh Polda ke Jayapura.

Saat dikonfirmasi lagi oleh seorang wartawan, “Bisa tidak kita temui anggota GIDI yang masih di Tolikara?”

“Ini semua masyarakat anggota GIDI semua,” sergahnya. “Tapi, kalau pengurusnya sudah dipanggil oleh Polda ke Jayapura.” lanjutnya.

GIDI, Kristen Zionis Yang Halalkan Segala Cara Agar Mencapai Tujuan

Screenshot_2016-06-22-05-42-09_1

Tolikara memang wilayah kecil di tengah Papua yang luas, namanya mencuat dikenal dunia gara-gara aksi teror gila yang dilakukan Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) terhadap umat Islam yang tengah menunaikan sholat ied. Inilah kali pertama dalam sejarah Indonesia, ada penyerangan langsung, dengan lemparan batu dan anak panah, kepada penganut agama yang tengah beribadah. Itu yang dikatakan banyak pihak, termasuk Kapolri Jenderal Badrotin Haiti.

GIDI adalah salah satu organisasi perkumpulan gereja-gereja penginjil yang induknya di Amerika dikenal dengan sebutan Gereja Evangelist, sebuah organisasi Kristen Radikal yang menganggap bangsa Israel (Zionis0Israel) sebagai bangsa pilihan Tuhan dan akan menjadi pemimpin umat manusia. Aliran gereja ini sangat yakin jika Yesus Kristus akan datang kembali ke bumi (Maranatha) jika Kuil Sulaiman (Haikal Sulaiman) sudah kembali berdiri di Yerusalem. Gereja aliran ini juga sangat radikal, sehingga terang-terangan menganggap gereja-gereja yang tidak di bawahnya atau tidak bergabung dengannya merupakan gereja sesat.

GIDI dengan aksi teror terhadap Muslim Tolikara merupakan representasi Gereja Evangelist yang baik. Aliran gereja radikal dan ekstrem ini menggunakan segala cara untuk melebarkan pengaruh dan hegemoninya atas nama Yesus. George Walker Bush merupakan contoh yang baik bagaimana mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaannya atas dunia. Ajaran-ajarannya sangat mirip dengan Talmud, kitab sihir Zionis-Israel, yang dianggap lebih suci ketimbang Taurat yang diberikan Allah Swt kepada Musa a.s. Mari kita lihat awal kelahiran gereja Zionis yang sesungguhnya merupakan penungangan kepentingan Yahudi Kabalah terhadap ajaran cinta kasih Yesus, sayang, umatnya sekarang tidak banyak yang memahaminya.

Judeo Christian

Bush pernah berkata bahwa Amerika merupakan “Land of the Christ”, Tanah Raja. Istilah Christ atau Kristus tidak selalu merujuk pada sosok Yesus. Ordo Kabbalah, isme yang menjadi awal kelahiran Zionisme, malah menganggap Yohanes Pembaptis adalah seorang Kristus, bukan Yesus. Namun bagi pandangan banyak orang, yang dimaksudkan oleh Bush tentu Yesus Kristus.

Dalam pidato, kampanye, dan banyak buku mengenai George W Bush, sosok presiden AS ini digambarkan sebagai seorang Kristiani yang amat taat. Dalam situs whitehouse.org ada artikel bertajukThe Presidential Prayer Squad atau Skuadron Doa Kepresidenan. Mereka adalah George W Bush, Pastor Deacon Fred, Rev. Jerry Falwell, Jesus (!), Brother Harry Hardwick, dan Rev. Bob Jones Jr.  Di halaman sebelah kanan artikel ada sejumlah agama dan ideology yang diberi tanda silang. Dari atas ke bawah adalah: Budhists, Hindus, Shiks, Rastafarians, dan Muslims. Kurang ajarnya, di bagian Muslim itu ada kotak berisi nama Allah dalam bahasa Arab yang diberi tanda silang.

Artikel itu mengisahkan, “Presiden Bush selalu memulai harinya jam sembilan pagi dengan berlutut di atas lantai Oval Office bersama Skuadron Doa Kepresidenannya untuk berdoa dan menghadap tuannya, The Lord Jesus. Ada Rev. Pat Robertson, Dr. Jerry Falwell, Rev. Bob Jones Jr., Pastor Deacon Fred, dan Brother Harry Hardwick…”

Presiden Bush dilukiskan sebagai seorang Kristen yang dilahirkan kembali. Dari pemuda yang menyukai minuman keras dan ugal-ugalan menjadi seorang pengikut Yesus yang taat.

Di Masa pemerintahan Bush inilah, kali pertama pidato kenegaraan ditutup dengan doa bersama, hal ini menyiratkan kedekatan antara negara dengan agama, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak Amerika Serikat berdiri. Seharusnya, ‘kesalehan’ seorang Bush dan pejabat puncak pemerintahan Amerika dengan agama Kristen mampu menjadikan bumi ini lebih damai, adil, dan indah.

Tapi ironisnya, hal yang terjadi adalah sebaliknya. Tidak seperti presiden-presiden Amerika lainnya yang masih memiliki sedikit pertimbangan dan mengedepankan strategi diplomatik, Bush dan lingkaran elitnya malah mengedepankan pemerintahan gaya koboi, tembak duluan urusan benar atau salah nanti belakangan. Dan gilanya, hal ini mendapat pembenaran atas nama agama yang esensinya selalu mengklaim sebagai agama cinta kasih.

Bagaimana semua ini bisa terjadi? Adakah semua ini bisa ditemukan jawabannya dari apa yang disebut Judeo-Christian atau dalam bahasa yang lebih lugas: Zionis Kristen?

Definisi baku Judeo Christian atau Zionis Kristenmungkin tidak akan bisa kita temukan. Tapi secara hakikat, istilah ini mengacu pada keyakinan dan sikap keagamaan umat Kristen Amerika (dan juga Kristen Eropa serta sebagian besar dunia) yang memandang bahwa Zionisme merupakan hal yang harus didukung secara penuh, tanpa syarat. Harus didukung walau kaum Zionis-Israel membunuhi dan membantai anak-anak tak berdosa.

Sebaliknya, mereka akan merasa berdosa apabila tidak mendukung atau mengecam Zionis-Israel, seakan berdosa kepada Tuhannya.

Ayat-ayat Injil yang sering dijadikan dalil utama bagi kelompok ini adalah Perjanjian Tuhan kepada Abraham. Abraham atau Ibrahim merupakan bapak dari Ismail yang kemudian menjadi generasi Nabi Muhammad SAW dan Ishaq yang menurunkan bangsa Yahudi.

Bunyi perjanjian itu yang dimuat dalam kitab Genesis (Kejadian) Injil Perjanjian LamaKing James version adalah:

“Dan aku akan menjadikan engkau suatu bangsa besar, dan Aku akan memberkati engkau, dan menjadikan nama engkau besar; dan terberkatilah engkau’ (Gen 12:2)

“Dan Aku akan memberkati mereka yang memberkati engkau, dan mengutuk mereka yang mengutuk engkau; dan di dalam diri engkaulah semua keluarga dari dunia akan diberkati” (Gen 12: 3).

Inilah ayat-ayat yang dijadikan dalil utama kelompok Zionis-Kristen di dalam sikapnya membela Israel tanpa syarat. Padahal di dalam sejarah penulisan Injil, kita sudah mengetahui bahwa di tahun 325 M dalam Konsili Nicea, ratusan versi Injil yang tidak sejalan dengan Kaisar Konstantin sudah dimusnahkan, dan Kaisar Konstantin hanya memilih empat versi Injil yang sejalan dengan pandangannya.

Empat versi Injil inilah yang kemudian dipakai hingga sekarang, walau begitu di dalam penulisannya pun dari tahun ke tahun selalu mengalami koreksi dan penambahan atau pengurangan di sana-sini, sebab itu sungguh sulit untuk memastikan keaslian sebuah ayat Injil.

Membahas hal ini secara panjang lebar tentu akan mengasyikkan. Namun hal tersebut sesungguhnya bukan dalam konteks apa yang akan disampaikan di serial tulisan di eramuslim ini. Konteks yang ingin dikatakan adalah, bahwa eksistensi Zionis sekarang ini telah mendapatkan dukungan tanpa syarat dari komunitas Kristen dunia sehingga timbul satu kelompok besar yang sekarang kita kenal sebagai kelompok Zionis-Kristen, dengan Amerika Serikat sebagai basis utamanya.

Salah satu tokoh Zionis-Kristen Amerika adalah Pendeta Franklin Graham dari The Southern Baptist Church. Ia merupakan putera keempat pendeta Billy Graham. Franklin Graham pernah mengatakan,

“Tuhan orang Islam itu berbeda dengan Tuhan Kita. Tuhan orang Islam bukan Tuhan Bapa. Tuhan orang Kristen adalah Bapa dari Jesus Kristus. Tuhan mereka bukan Anak-Tuhan seperti iman Kristen atau Judeo-Christian. Dia Tuhan yang lain sama sekali, dan saya percaya Islam adalah agama yang jahat dan busuk. …Qur’an mengajarkan kekerasan, dan ekstremisme Islam merupakan ancaman terbesar yang dapat disepakati oleh siapa saja” (The Washington Post; Graham Speak Out; 9 Agustus 2002.)

Pandangan Graham mewakili pandangan berjuta kaum Zionis-Kristen yang sampai hari ini masih saja melancarkan propaganda sesatnya, meracuni dunia, dengan hal-hal yang sama sekali tidak benar tentang Islam dan umatnya.

Padahal, jika saja mereka mau meluangkan waktu sedikit membuka lembar demi lembar kitab suci Zionis-Yahudi, Talmud, dan mencari ayat-ayat bagaimana sebenarnya sikap kaum Zionis-Yahudi terhadap Yesus dan kekristenan, maka pasti orang-orang Kristen akan berbalik arah dan memusuhi kaum Zionis-Yahudi.

Lihatlah apa kata Talmud terhadap Yesus:

“Pada malam kematiannya, Yesus digantung dan empatpuluh hari sebelumnya diumumkan bahwa Yesus akan dirajam (dilempari batu) hingga mati karena ia telah melakukan sihir dan telah membujuk orang untuk melakukan kemusyrikan (pemujaan terhadap berhala)… Dia adalah seorang pemikat, dan oleh karena itu janganlah kalian  mengasihaninya atau pun memaafkan kelakuannya” (Sanhedrin 43a)

“Yesus ada di dalam neraka, direbus dalam kotoran (tinja) panas” (Gittin 57a) 

“Ummat Kristiani (yang disebut ‘minnim’) dan siapa pun yang menolak Talmud akan dimasukkan ke dalam neraka dan akan dihukum di sana bersama seluruh keturunannya” (Rosh Hashanah 17a).  

“Barangsiapa yang membaca Perjanjian Baru tidak akan mendapatkan bagian ‘hari kemudian’ (akhirat), dan Yahudi harus menghancurkan kitab suci umat Kristiani yaitu Perjanjian Baru “ (Shabbath 116a)

Inilah ungkapan hati Talmud yang sesungguhnya tentang Yesus dan umat Kristen. Siapa pun yang mengaku sebagai seorang Kristen, setelah mengetahui ayat-ayat pelecehan dari Talmud kepada Yesus dan agamanya, tetapi masih saja mendukung Zionis-Yahudi, masih saja membantu Israel, masih saja setuju dengan sikap politik Bush yang tanpareserve terus memback-up Zionis-Israel, maka ia sebenarnya telah ikut-ikutan melecehkan agamanya sendiri. Jika tidak percaya, silakan ambil Talmud dan baca sendiri.

Indonesia Dibawa ke ‘arah sebelah kiri’ mengekor kepada bangsa yang mengkampanyekan Islamofobia

05-17-11.49.27

Salah satu yang ‘geram’ dengan wajah Indonesia, negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, adalah Recep Tayyip Erdoğan. Presiden Turki yang sebelumnya menjabat sebagai Perdana Menteri Turki selama dua periode. Erdoğan sangat menyayangkan mengenai posisi Indonesia yang di bawa ke ‘arah sebelah kiri’ mengekor kepada bangsa yang mengkampanyekan Islamofobia.

Oleh sebab itu, di antara konten pidato kenegaraannya, Erdoğan ‘menyindir’ kepemimpinan Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang memberikan panggung kepada para Islamofobis di Indonesia.

“Saya menekankan kepada seluruh umat Islam, mari kita memerangi Islamofobia, anti-imigran dan diskriminasi etnis,’ ungkap Erdoğan menyindir Jokowi”

Dalam komunikasi politik luar negeri antar negara, ajakan Erdoğan ini adalah tamparan keras. Tinggal apakah disadari oleh yang bersangkutan (Joko Widodo) atau tidak.

Mengenai maraknya bendera negara penjajah Palestina, Israel di Indonesia (khususnya di Papua), Erdoğan juga menanggapi:

“Dunia Islam tidak akan pernah tenang selama masalah Palestina belum ditemukan solusinya. Perdamaian permanen baru akan terwujud jika disepakati merdekanya negara Palestina di batas wilayah tahun 1967, dan ibukotanya adalah Al Quds.”

Bahkan, sindiran terhadap tumpul dan tidak tegasnya organisasi negara-negara di Asia Tenggara, ASEAN, terhadap tragedi pelanggaran HAM dan genosida umat Islam di Rohingya, Myanmar, pun dilontarkan oleh Presiden Turki ini: “Perkenankan Turki menjadi anggota ASEAN,” ungkap Erdogan.

Referensi

Iklan

One response »

  1. […] NEXT: Usut Tuntas Maraknya Atribut Israel Di Papua [Bagian kedua] […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s