Mengusut Kasus Penutupan Warung Makan di Serang


A. Pemberitaan Media


Screenshot_2016-06-16-00-11-44_1

Ibu Ini Menangis saat Dagangannya Disita karena Berjualan Siang Hari di Bulan Ramadhan

SERANG, KOMPAS.com – Seorang ibu pemilik warung makan di Kota Serang, Banten, menangis ketika dagangannya disita aparat Satuan Polisi Pamongpraja PP Pemkot Serang, Jumat (19/6/2016).

Ibu ini dianggap melanggar aturan larangan warung buka siang hari di Bulan Suci Ramadhan.

Tampak ibu tersebut menangis sambil memohon kepada aparat agar dagangannya tidak diangkut. Namun tangisan ibu tersebut tak dihiraukan. Aparat tetap mengangkut barang dagangan ibu tersebut.

Kepala Satpol PP Maman Lutfi kepadaKompas TV mengatakan, warung tersebut kena razia karena buka siang hari dan melayani warga yang tidak puasa.

“(Razia) warung nasi dan restoran di Kota Serang yang buka memberi makan pada orang yang tidak puasa,” kata Maman saat pimpin razia, Jumat.

Dalam razia itu, petugas menertibkan puluhan warung makan yang buka siang hari. Semua dagangannya disita.

Sementara itu, beberapa pemilik warung beralasan buka siang hari karena tidak tahu ada imbauan larangan buka siang hari di bulan Ramadhan. Sebagian lagi buka warung karena butuh uang untuk menghadapi Lebaran.

http://regional.kompas.com/read/2016/06/11/03400091/Ibu.Ini.Menangis.saat.Dagangannya.Disita.karena.Berjualan.Siang.Hari.di.Bulan.Ramadhan


B. Hasil panen sementara dari pemberitaan media


(1) Petugas Satpol PP Kena Sanksi


Razia Warteg, Petugas Satpol PP Bakal Kena Sanksi

Senin, 13 Juni 2016 — 7:20 WIB

SERANG (Pos Kota) – Heboh soal razia pedagang warung tegal (warteg) oleh Satuan Pol PP Kota Serang, membuat Walikota Serang Tb Haerul Jaman angkat bicara. Hanya saja, adik tiri Ratu Atut Chosiyah ini tidak memberikan pembelaan terhadap anggotanya dalam menegakan Peraturan Daerah (Perda). Jaman menyebut telah terjadi kesalahan prosedur dalam penertiban warung makan oleh petugas Satpol PP.

“Seharusnya pihak Sat Pol PP tidak melakukan tindakan yang merugikan pedagang saat razia warung makan dalam menegakan perda Kota Serang Nomor 2 tahun 2010 tersebut,” ungkap Walikota kepada wartawan saat buka puasa bersama di Masjid Agung At Tsauroh, Kota Serang, Minggu (12/6) malam.

Menurut Walikota, petugas Sat Pol PP semestinya hanya menegur atau maksimal menyuruh pemilik warung nasi untuk menutup daganganya, karena sudah menyalahi aturan Perda yang sudah dibuat Pemerinta Kota Serang. Yakni seluruh warung makan dan restoran dilarang buka mulai pulul 04.00 hingga 16.00 selama bulan suci Ramadhan.

“Mestinya dilakukan dengan cara persuasif dan tutup paksa. Jangan diangkut dagangannya,” kata Jaman.

Atas tindakan personilnya itu, dirinya berjanji akan memberikan sanksi sesuai tingkat pelanggaran kepada pimpinan Satpol PP atas tindakannya itu. Meski demikian, lanjut Jaman, pihaknya tidak akan mencabut Perda Nomor 2 Tahun 2010 terkait Penyakit Masyarakat yang didalamnya mengatur jam buka rumah makan saat bulan puasa.

“Perda ini tetap akan kita laksanakan sesuai aspirasi dari masyarakat dan tokoh serta alim ulama Kota Serang,” tegas Jaman.

Seperti diketahui, petugas Satpol PP Kota Serang pada Rabu (8/6/2016), melakukan razia warung makan dan restoran yang buka pada jam terlarang. Karena kedapatan membadel, sejumlah warung makan dirazia, tak terkecuali warteg milik Saeni (53), di lingkungan Pasar Induk Rawu. Belakang razia pedagang ini heboh karena salah satu netizen melalui twitter melakukan penggalangan dana untuk membantu Saeni.

Terkait ada anggapan miring di masyarakat, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Serang mendukung tindakan petugas Satol PP Kota Serang itu.

“Itu bukan arogan, itu justru tegas. Penegakan hukum memang harus begitu. Kasihan juga orang yang sedang berpuasa tapi justru terganggu oleh ulah oknum pedagang yang mungkin juga adalah umat Islam sendiri,” tutup Amas Tadjudin, Sekretaris MUI Kota Serang. (haryono)

http://poskotanews.com/2016/06/13/razia-warteg-petugas-satpol-pp-bakal-kena-sanksi/


(2) Kompas dapat dukungan media lain


Parah! Warteg Bu Saeni Jadi Lokasi Syuting Dan Ada Adegan Makan Siang

Screenshot_2016-06-18-21-34-48_1
Berita Islam 24H – Urusan ibu Saeni yang buka warteg di siang hari puasa dengan melanggar Perda Kota Serang dan malah mendapat dukungan bantuan donasi dari Presiden Jokowi dan netizen sepertinya belum akan selesai.
Siang ini, Sabtu (18/6/2016), warga Serang dikejutkan dengan warung makan ibu Saeni malah dijadikan lokasi syuting oleh sebuah televisi swasta.
Seorang netizen kota Serang, Ucu Syuhada, melalui laman facebooknya mengunggah foto-foto di warteg ibu Saeni yang dijadikan lokasi syuting.
“Ruben onsu (artis) dan tim survivor sedang makan2 sekarag di warteg saeni ‪#‎barusaja‬ ‪#‎ngelunjak‬ KUDU DIUSIR SING SERANG”.
Demikian tulis Ucu Syuhada yang mengunggah tiga foto siang ini (Sabtu, 18/6) sekitar pukul 12.50 WIB. Jelas itu melanggar aturan larangan buka warung makan yang baru boleh buka jam 16.00 – 04.00.
Postingan Ucu Syuhada ini langsung mendapat tanggapan ramai dari netizen lain.
“Mencoreng nama baik BANTEN,” ujar Neng Indrie.
“Nu bener kang haji…ngalunjak eta…” komen Didi Wandi.
“Weleh.. kok makin kacau. Kalau ini bener, warteg jadi panggung untuk mencari popularitas.. parah..” kata Rudi Hermawan.
“Ga usah di seret pak sdh pd beres makannya, dia ruben onsu kan keturunan cina beragama kristen datang ke warung saeni nh kynya bareng global tv deh soalnya td lihat mobilnya sepertinya dia sengaja tuh, ibu saeni emang tamblegh kayanya ada yg bekingin biar umat islam di kota serang gaduh lg,” ujar Adenia Amanuddin.
Padahal sebelumnya, Ibu Saeni sudah mengaku salah, minta maaf, menyesal, tidak akan buka warung di siang hari lagi.
Screenshot_2016-06-18-21-36-49_1

(3) Umat Islam di Indonesia jadi sasaran fitnah Media Internasional


Kasus Ibu Saeni, Umat Islam Indonesia Jadi Sararan Fitnah Media Internasional

Kamis, 16 Juni 2016

Screenshot_2016-06-16-13-37-21_1

[portalpiyungan.com] Seorang WNI yang tinggal di London UK, Rahma Binti Nasril memprihatinkan kondisi Umat Islam di Indonesia yang menjadi sasaran fitnah di bulan Ramadhan dengan kasus Ibu Saeni/razia warteg di kota Serang.

Melalui akun facebooknya, Rabu (15/6), Rahma menuturkan pemberitaan terkait kasus Ibu Saeni sudah melalang buana diberitakan media-media di beberapa negara. Dan yang sangat menyedihkan adalah pemberitaan itu sangat menyudutkan Umat Islam Indonesia.

06-16-01.39.17

“Allahul musta’an litterally kaget, baca headline news ttg Bu saenih search di Google, ada 7 negara international memuatnya menjadi headline news dgn wajah, image dan foto yg sama serempak dgn foto ibu yg menangis angle yg perfect, negara2 itu adalah Inggris, Belanda, Thailand, Malaysia, Singapur, Australia, Hongkong, Taiwan, semua seragam judulnya “Ramadan Raid” seram ya jadi ingat film ” The Raid” yg penuh dgn kekerasan.”

“Kesannya, Indonesia ini Mayoritas Muslim yg keras memaksa Orang berpuasa dan merampas Makanan, this is the message they want all the world know about Ramadan in Indonesia, didnt you see the bigger picture and agenda?”

“Akhirnya presidenpun turun tangan Memberi donasi, Bravo!! welldone bagus sekali skenario anda sampai bisa Internasional !!! ‪#‎ZamanFitnah‬ ‪#‎BukaMata‬.”

Demikian penuturan Rahma

Hal yang sama dirasakan mayoritas Umat Islam di Indonesia yang sangat terpojokkan dengan pemberitaan kasus Ibu Saeni.

Dari penelusuran Google dengan mengetik key word“Saeni Ramadan Raid”, beberapa berita media internasional diantaranya


Ramadan raid on frail Indonesian food seller sparks anger

http://www.channelnewsasia.com/news/asiapacific/ramadan-raid-on-frail/2867548.html


Ramadan raid on stallholder sparks online campaign for greater tolerance

http://www.smh.com.au/world/ramadan-raid-on-stallholder-sparks-online-campaign-for-greater-tolerance-20160614-gpiur8.html

Ramadan raid on frail food seller who kept cafe open during day time sparks anger in Indonesia

http://www.thenational.ae/world/southeast-asia/ramadan-raid-on-frail-food-seller-who-kept-cafe-open-during-day-time-sparks-anger-in-indonesia

Anger over raid on Indonesian food stall

http://www.bbc.com/news/world-asia-36537364

Link berita ini: http://www.portalpiyungan.com/2016/06/kasus-ibu-saeni-umat-islam-indonesia.html?m=1


C. Keuntungan Bagi Ibu Saeni (Pelanggar Perda)


  • Ibu Saeni mendapat banyak sumbangan, meski telah melawan perda dan agamanya sendiri

Ibu Penjual Nasi Dapat Bantuan 10 Juta dari Presiden Jokowi

MINGGU, 12 JUNI 2016 | 19:28 WIB
Saeni, ibu penjual nasi di kawasan Pasar Induk Rao Kota Serang, yang jualannya disita Satpol PP Kota Serang, menunjukkan uang bantuan dari Presiden Joko Widodo, Ahad siang. TEMPO/Darma Wijaya

Saeni, ibu penjual nasi di kawasan Pasar Induk Rao Kota Serang, yang jualannya disita Satpol PP Kota Serang, menunjukkan uang bantuan dari Presiden Joko Widodo, Ahad siang. TEMPO/Darma Wijaya

TEMPO.CO, Serang – Pasca razia warung makan yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja Kota Serang terhadap warung nasi milik Saeni, ibu penjual nasi warteg di Cikepuh, Kawasan Pasar Induk Rau Kota Serang, hingga Minggu, 12 Juni 2016, Saeni tetap melakukan aktivitas seperti biasa, yakni menyiapkan makanan untuk dijajakan.

Nasib yang dialami Saeni pasca razia yang dilakukan Sat Pol PP Kota Serang, Banten, terhadap Saeni, warga asal Kali Gangsa, Kecamatan Margadana, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, itu mengundang perhatian dari Presiden Joko Widodo. Presiden memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp 10 juta yang diwakilkan oleh dua orang utusan Presiden pada Ahad siang.

Sesuai pesan Presiden yang disampaikan kepada Saeni melalui dua utusannya itu, uang tunai Rp 10 juta agar dipergunakan untuk membayar utang-utangya yang sudah digunakan untuk biaya modal dagang. “Maksudnya, suruh beres-beresin utang, biar ibu tenang, kata yangngantar uang itu,” ujar Saeni kepada TEMPO di warungnya di Cikepuh.

Saeni mengakui sudah meminjam uang sebesar Rp 600 ribu kepada petugas bank keliling dan juga utang beras setengah karung.

Selain dari Presiden Joko Widodo, bantuan uang tunai untuk Saeni juga akan datang dari sumbangan netizen yang sudah terekumpul hingga Rp 265.534.758. Rencananya dari jumlah bantuan yang didapat akan digunakan untuk biaya kuliah anak bungsunya yang sudah semester dua di IAIN Sultan Maulana Hasanudin, Serang, Banten. Sisanya akan dipergunakan Saeni untuk membeli bangunan untuk usaha agar tidak menyewa tempat kontrakan.

Saeni mengakui tidak mengetahui jika Pemerintah Kota Serang melarang warung nasi buka pada siang hari dan hanya diperbolehkan buka pada pukul empat sore hingga empat pagi. Dan hal itu sudah tertuang dalam Perda Kota Serang Nomor 20 Tahun 2010 bahwa pihak Sat Pol PP Kota Serang berhak melakukan penertiban dan memberikan sanksi berupa pidana paling lama tiga bulan dan denda lima puluh juta rupiah jika ada warung makan yang membandel.

Sementara itu terkait dengan pihak Sat Pol PP Kota Serang yang mempersilahkan bagi para pemilk warung yang terkena razia untuk mengambil jualanya, Saeni mengaku tidak mengetahui karena panik.

DARMA WIJAYA (SERANG)


Netizen Galang Dana untuk Bantu Penjual Makanan yang Dirazia Satpol PP

Screenshot_2016-06-16-00-11-44_1

Sabtu, 11 Juni 2016 | 13:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Salah seorang netizen bernama Dwika Putra melakukan penggalangan dana untuk membantu para penjual makanan yang dirazia Satpol PP di Serang, Banten. Penggalangan dana tersebut baru dia mulai tengah malam tadi melalui akun Twitter miliknya, @dwikaputra.

“Sebenarnya kemarin saya lihat (video) di Facebook. Kemudian pas malam buka Twitter, ramai diomongin. Jadinya timeline penuh bicarakan itu,” ujar Dwika ketika dihubungi Kompas.com, Sabtu (11/6/2016).

Video yang dimaksud Dwika adalah hasil liputan Kompas TV di Serang. Ketika itu, Satpol PP sedang merazia warung nasi yang buka siang hari di bulan Ramadan.

Dalam video tersebut terlihat Satpol PP menyita semua makanan yang ada di warung nasi tersebut. Semuanya dibungkus tanpa tersisa. Ibu penjual nasi tampak menangis tidak rela dagangannya diambil begitu saja.

Melihat video ini, Dwika berinisiatif untuk membantu ibu tersebut.

“Pukul 24.00 WIB kurang kemarin, saya langsung cari ATM buat kosongin rekening saya, saya sisakan Rp 400.000. Saya share nomor (rekeningnya) kalau ada yang mau donasi untuk ibu itu silahkan,” ujar Dwika.

Dwika mengatakan dia tidak mau berpikir mengenai peraturan daerah yang memuat aturan untuk warung nasi itu.

Dia juga tidak peduli dengan masalah agama yang terkandung di dalamnya. Dwika mengatakan dia murni hanya ingin membantu seorang ibu yang kehilangan mata pencahariannya, hari itu.

“Saya cuma lihat ibu itu kehilangan mata pencahariannya setidaknya hari itu. Lihat kejadian itu saya mau bantu,” ujar Dwika.

Dwika juga sadar bahwa gerakan ini terlihat reaktif dan buru-buru. Memang, penggalangan dana dilakukan secara spontan setelah melihat video tersebut.

Meski demikian, Dwika berkomitmen untuk menyalurkan uang sumbangannya ke orang yang benar-benar berhak yaitu si ibu penjual nasi di Serang. Dwika sendiri berdomisili di Jakarta.

Dia sedang bekerja sama dengan pihak-pihak lain seperti Aksi Cepat Tanggap (ACT) agar bisa menyalurkan uang sumbangan.

http://megapolitan.kompas.com/read/2016/06/11/13592121/.netizen.galang.dana.untuk.bantu.penjual.makanan.yang.dirazia.satpol.pp

06-22-06.49.19


D. Penelusuran


1. Media pengangkat kasus adalah Media Sekular Anti Islam


Perlu kita ketahui bahwa media yang mengangkat kasus ini adalah Kompas (Media Sekular / Anti Islam). Kompas kerap kali mengangkat tema pemberitaan yang melawan Islam. Sudah barang tentu, ada propaganda tertentu.


2. Protes Hormati yang tidak Berpuasa Hanya ada di Era Jokowi


Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar, sangat wajar jika ada Perda yang melarang restoran atau warung makan buka di waktu puasa. Budaya “menghormati orang yang menjalankan ibadah puasa” sudah berabad-abad berjalan penuh harmoni.

Penegasan itu disampaikan mantan ajudan Presiden Soeharto, Anton Tabah kepada intelijen (14/06) menyikapi polemik larangan bagi restoran/warung makan buka di waktu puasa.

“Sudah berabad-abad berjalan, jika Ramadhan tiba yang menjalankan usaha kuliner selalu menutup restoran atau warung makannya,” tegas Anton Tabah.

Wakil Ketua Komisi Hukum MUI Pusat ini menyesalkan, “keributan’ soal menghormati bulan Puasa terjadi hanya di era Presiden Joko Widodo. “Ini sudah berjalan berabad-abad penuh dengan harmoni. Kenapa di era Jokowi ini jadi ribut?” tegas Anton.

Secara khusus Anton menyesalkan pernyataan tokoh Muslim yang menyatakan “orang berpuasa harus menghormati orang yang tidak puasa”.

“Janggal, konyol, mengada-ada! karena selama berabad-abad masyarakat Indonesia sudah sangat akrab dengan slogan budaya hormatilah yang puasa,” pungkas Anton Tabah.


3. Ibu Saeni Ngaku Ga’ Bisa Baca. Tapi Setelah Tahu Larangan Bahkan Dapat Bantuan Dana Masih Buka Siang Hari


Warteg Saeni yang melanggar aturan dan tidak menghormati Muslimin yang berpuasa Ramadhan inikah yang layak dibantu dan dihormati?

Diberitakan, Presiden Joko Widodo memberikan bantuan (kepada Saeni) uang tunai sebesar Rp 10 juta yang diwakilkan oleh dua orang utusan Presiden pada Ahad siang (12/6 2016).

Dan ada berita, Saeni punya cabang-cabang warteg di kota lain. Dia mendapat bantuan atas pelanggarannya. Layak dipertanyakan. Apakah ini satu bentuk gerakan perlawanan terhadap Umat Islam, dibalik itu ada penggeraknya dari pihak pihak media anti Islam sampai istana?

Tadinya Saeni mengaku tidak bisa membaca edaran dari Pemda yang ditempel tentang larangan buka warung makan sampai saat menjelang berbuka puasa. Kenapa setelah tahu dan bahkan mendapatkan bantuan dana (aneh) karena pelanggarannya, kemudian masih melanggar lagi dengan buka warung makan siang hari di Bulan Ramadhan saat Muslimin mayoritas penduduk sedang puasa dan sudah tahu peraturan larangannya itu?

Biasanya, kalau orang biasa dan tidak ada penggerak di belakangnya, maka akan mudah mengakui kesalahannya, apalagi menyangkut masalah besar dan suatu peraturan. Lhah ini sudah melanggar dan tidak menghormati Umat Islam, malah dapat bantuan, dan kemudian berani lagi melanggar dan tidak menggubris perasaan Umat Islam yang menjadi penduduk mayoritas. Ada apa?

https://www.nahimunkar.com/warteg-saeni-ngaku-ga-bacasetelah-tahu-larangan-bahkan-dapat-bantuan-dana-aneh-kenapa-masih-buka-siang-hari/


4. Rekayasa Penderitaan


LIRA Temukan Bukti Media Tertentu Setting Bu Saeni Nangis Histeris

Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) memastikan adanya kepentingan terselubung di balik penggalangan dana untuk Ibu Saeni (53) yang rumah makan (warteg) miliknya dirazia Satpol PP Kota Serang, Banten.

Ketua Umum Pemuda LIRA DPW Banten Novis Sugiawan mendapati fakta bahwa saat razia berlangsung 12 Juni lalu, Saeni diminta salah satu oknum media untuk menangis histeris seolah-olah sedang terzalimi dan terkesan petugas mengacak-acak wartegnya.

“Padahal faktanya, Satpol PP menyita semua makanan dan berharap Ibu Saeni datang ke kantor Satpol PP untuk pembinaan dan pengarahan. Untuk tidak membuka warung sesuai waktu yang ditetapkan Pemkot Serang yaitu sekitar pukul 16.00 WIB, dan seluruh makanannya dikembalikan,” jelasnya, Sabtu (18/6/2016).

06-20-10.15.58
Namun, lanjut Novis, Saeni justru tidak memenuhi undangan ke kantor Satpol PP. Selang beberapa hari kemudian, kondisinya direkayasa oleh oknum media yang menggambarkan sedang terbaring sakit di lantai dan kumuh. Seolah-olah, perempuan asli Tegal, Jawa Tengah itu sudah jatuh miskin dan tidak punya apa-apa pasca dagangannya disita Satpol PP yang menegakkan perda syariah di bulan suci Ramadhan. Padahal, dua warteg lainnya milik Saeni masih aktif berjualan.

Rekayasa penderitaan Saeni ditambah dengan munculnya penggalangan dana lewat media sosial untuk membantu kesulitannya.

“Ada juga settingan provokasi awal untuk penggalangan dana sehingga masyarakat luas mengikuti penggalangan dana atas dasar kemanusiaan karena tindakan kejam pemkot atas penegakan syariat Islam di bulan Ramadhan. Dari sini, saya mengambil kesimpulan bahwa ini adalah settingan oknum yang ingin perda syariah dicabut,” beber Novis.

Dia menambahkan, penderitaan Saeni yang direkayasa menjadi batu loncatan atas agenda terselubung pihak-pihak tertentu. Di mana, dengan sengaja menciptakan isu nasional yang bertujuan untuk mencabut perda-perda syariah di seluruh Indonesia.

“Ini adalah proxy war yang dibuat oleh kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab. Sehingga memecah belah NKRI dan khususnya umat Islam,” tandas Novis.

http://m.eramuslim.com/berita/nasional/lira-temukan-bukti-media-tertentu-setting-bu-saeni-nangis-histeris.htm


5. Di Acara Hitam Putih Trans7, Pernyataan Ibu Saeni Berbeda lagi. Bukti bahwa Ibu Saeni seorang pembohong dan mudah di kontrol media


06-20-02.55.39

Bu Saeni, pemilik warung di Serang yang menghebohkan media, akhirnya mendapatkan bantuan Rp 170 juta dari netizen setelah bantuan dari Presiden Jokowi Rp 10 juta dan bantuan-bantuan lainnya. Ia pun tampil di Hitam Putih Trans 7.

Di acara Hitam Putih itu, Saeni meminta maaf kepada seluruh umat Islam karena telah menjadi bahan pembicaraan. Namun ia mengaku tidak berjualan di siang hari, hanya berjualan di sore hari. Saat itu ia sedang menyiapkan untuk jualan sore, namun Satpol PP tiba-tiba datang melakukan razia.

(Tonton videonya di https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1216197388412337&id=158262277539192&ref=bookmarks)

“Menurut Ibu berjualan makanan di saat puasa itu boleh atau tidak sebenarnya?” tanya Deddy Corbuzer di menit ke 0:32 dalam video Hitam Putih ini.

“Ya sebenarnya tidak. Karena bulan Ramadhan saya sendiri kan nggak ketinggalan puasa,” jawab Bu Saeni.

“Ibu tetap puasa, dan ibu menjual untuk?”

“Untuk sore”

“O, ibu berjualan untuk sore”

“Mempersiapkan untuk sore”

“Lha kalau ada orang yang makan di situ tapi tidak berpuasa, boleh?”

“Tidak boleh. Saya bilang belum ada nasi, gitu”

Dialog ini berlangsung hingga menit 1:12.

Namun, menurut video razia yang dilansir Kompas TV, warung bu Saeni melayani pembeli pada siang hari.

Pada menit ke 0:22 hingga 0:31 dalam video ini tampak dua piring sisa dan dua gelas minuman masih menjadi bukti warung tersebut melayani pembeli.

“Terbukti dua piring berisi nasi sisa berikut dua minuman masih berada di atas meja,” kata reporter Kompas TV.

Selain itu, berita yang dilansir Sindonews juga menyebutkan Bu Saeni tetap berjualan di siang hari meskipun sudah mendapat bantuan Rp 10 juta dari Presiden Jokowi. Alasannya, ia menunggu bantuan netizen ratusan juta yang kini akhirnya didapatkannya.

Sebenarnya, perbedaan pengakuan dan fakta ini bukanlah persoalan besar. Yang menjadi persoalan besar adalah, kasus Bu Saeni telah dimanfaatkan untuk mengebiri perda-perda Syariah dan menyudutkan umat Islam tidak toleran.

http://www.tarbiyah.net/2016/06/anda-pasti-terkejut-membandingkan-2.html?m=1


6. Yang di Ributkan Bukan Perda, Tapi Islam


perda
INFO GRAFIS DI ATAS Menunjukan kemunafikan sebagian pihak dalam memandang PERDA SYARIAT.
Bandingkan PERDA/EDARAN yang mengatur RAMADHAN dengan KEBAKTIAN MINGGU.
Perda Ramadhan hanya 30 hari dalam setahun, dan itupun tidak 24 jam, tetap buka jam 16.00-Sahur.
Sedang Instruksi Bupati-bupati di Papua melarang aktivitas perdagangan di Hari Minggu, 52 hari dalam setahun.
Anda meributkan Perda Ramadhan yang mengatur penjual makanan selama 30 hari tapi diam terhadap Perda Kebaktian Minggu yang mengatur perdagangan selama 52 hari.
YANG ANDA RIBUTKAN PERDA ATAU ISLAM?

7. Tujuan akhir dari pemberitaan media sekular adalah menghapus Perda bernuansa Syariat Islam


Screenshot_2016-06-15-22-45-26_1

Perlu bukti? Ini buktinya:

Screenshot_2016-06-15-22-43-49_1

Jokowi hapus perda berbau syari’ah.

Perda berbau syari’ah di hapus, tapi tentang “Bali yang melarang kegiatan saat nyepi” dan “Papua yang melarang aktifitas dihari minggu”, dibiarkan saja. (Baca: Beberapa Perda Beraroma Islam yang Dihapus Jokowi)

Apakah seperti ini seharusnya?

Screenshot_2016-06-15-22-46-22_1

Lalu bagaimana dengan nenek ini?

Screenshot_2016-06-15-22-45-12_1

8. Alexander Thian, Penggagas Donasi Untuk Bu Saeni

NU Garis Lurus memposting foto Alexander Thian yang disebut Penanggung Jawab Donasi Untuk Ibu Saeni.

06-22-06.29.01

“Alexander Thian, Penanggung Jawab Donasi Untuk Ibu Saeni.

Selalu mengelak jika ditanya agama. Anda tahu apa agamanya?”

Demikian tulisan dalam postingan Fp NU Garis Lurus, Selasa (21/6), yang mengunggah foto seorang laki-laki bertato.

Seperti diketahui kasus ibu Saeni diblow up salah satu media saat dirazia satpol PP karena melanggar aturan larangan buka warung saat siang puasa.

Donasi untuk bu Saeni terkumpul Rp 265 juta (Rp 170 juta yang diberikan ke Bu Saeni).

  • Di akun facebooknya, Alexander Thian menyatakan:

“Donasi ini digagas oleh empat orang. Gue (Alexander Thian), Dwika Putra, Jenny Jusuf, dan Yogi Natasukma.”

  • Beragam komentar netizen atas sosok Alexander Thian ini:

“Alexander thian itu cina, biasa dipanggil ko lexy (koko lexy), koko artinya abang, istrinya karen chang, mereka berdua suka plesiran ke luar negeri atau keliling indonesia (hobi travel), alexander dg santai minum bir bersama turis, istrinya karen chang berbikini di thailand,” tulis netizen Al Muhandis.

“Ga masalahnya sih agamanya apa, tapi kalo ada niat tidak baik buat menyudutkan agama islam apakah ini bentuk toleransi yg dibentuk revolusi mental?” komen Helmi Sumantri.

  • Di fb-nya, Alexander Thian juga mengatakan:

“Kami memutuskan untuk membantu, karena hal itu yang menarik perhatian kami: Ibu-ibu dagangannya disita dan beliau menangis.”

http://m.eramuslim.com/berita/nasional/sudah-tahu-aseng-bertato-inilah-penggagas-donasi-untuk-bu-saeni.htm


E. Reaksi Warga Serang dan Perwakilan Umat Islam


  • 1. MUI tetap dukung Satpol PP

MUI Dukung Satpol PP Razia Warung Makanan di Siang Hari Puasa

Minggu, 12 Juni 2016 — 11:29 WIB

SERANG (Pos Kota) – Razia Satpol PP Kota Serang terhadap sebuah warung makan yang buka di siang hari pada bulan Ramadhan menjadi ramai di dunia maya. Bahkan komika Dwika Putra menggalang dana lewat akun twitternya untuk membantu ibu pedagang makanan.

Meski memicu komentar miring masyarakat atas tindakan Satpol PP yang dinilai arogan karena menyita dagangan namun MUI Kota Serang justru memberikan dukungan.

“Tindakan Pol PP sudah sesuai prosedur. Prinsip dasarnya, Surat Edaran Walikota dan Rekomendasi MUI Kota Serang yang didukung ulama dan Ormas Islam se Kota Serang, bahwa warung makan dilarang buka usaha mulai pukul 04.00 hingga 16.00,” ungkap Sekretaris MUI Kota Serang, Amas Tadjudin kepada wartawan.

Amas juga meminta masyarakat tidak melihat hal tersebut dari perspektif kemanusiaan seolah olah si ibu pemilik warung yang sudah berusia lanjut tersebut tidak bersalah dengan membuka warung nasi pada siang hari. Tapi juga dilihat kepentingan yang lebih luas, agar umat Islam tidak terganggu saat melaksanakan ibadah puasa di siang hari.

“Kalau ternyata si ibu pemilik warung itu tidak ada mata pencaharian lain, ya betul.., tapi persoalannya bukan berarti dia bisa ditolelir boleh membuka warung di siang hari pada bulan Ramadhan,” tambah Amas lagi.

Terkait ada anggapan masyarakat bahwa tindakan Pol PP yang menyita dagangan pemilik warung adalah arogan, MUI Kota Serang malah mendukung tindakan Pol PP.

“Itu bukan arogan, itu justru tegas. Penegakan hukum memang harus begitu. Kasihan juga orang yang sedang berpuasa tapi justru terganggu oleh ulah oknum pedagang yang mungkin juga adalah umat Islam sendiri,” tutup Amas.

http://poskotanews.com/2016/06/12/mui-dukung-satpol-pp-razia-warung-makanan-di-siang-hari-puasa/ 


  • 2. FPI datangi Kompas TV terkait Kampanye Anti Syari’at Islam


FPI layangkan surat ke Kompas terkait kampanye Anti Syari’at Islam

Screenshot_2016-06-15-22-42-34_1

Dan FPI mendatangi Kompas

Berikut videonya:


Salah satu komentar dari video FPI datangi Kompas:

IMG_20160620_192058


3. Muhammadiyah: Tentang Pengaturan Jam Buka Warung itu toleran dan bentuk eksotisme kultural


Muhammadiyah: Warung Diatur Jam Bukanya Itu Toleran, Bentuk Eksotisme Kultural

Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menyayangkan reaksi pemerintah dan masyarakat menanggapi kasus penyitaan barang dagangan Ibu Saeni penjual warteg yang berjualan siang hari saat bulan puasa di Serang, Banten. Sebab, masyarakat dan pemerintah menilai, tindakan yang dilakukan Satpol PP beberapa hari lalu dinilai arogan terhadap Ibu Saeni, dan tidak toleran terhadap masyarakat yang tidak menjalankan ibadah puasa.

“Jangan tiba-tiba menyalahkan itu yang buat kebijakan warung dibatasi tutupnya (pada siang selama Ramadhan berarti), tidak toleran. Justru sangat toleran. Itu unik lho, eksotisme kultural,” kata Dahnil dalam Twitter pribadinya, Rabu (16/5/2015).

Ia menjelaskan, Indonesia memiliki bermacam keberagaman, sehingga jangan dipaksakan untuk menjadi sama dan serupa. Sebab, keberagaman tersebut merupakan kekuatan masing-masing daerah. Ia berharap, masyarakat dan pemerintah dapat mengasah kecerdasan kultural. Salah satunya, melihat aturan warung makan buka selama Ramadhan sebagai potensi eksotisme.

“Warung diatur jam bukanya, atau warung buka ditambahin dengan pesan-pesan penghormatan kepada yang berpuasa dan lain-lain. Itu kan bisa menjadi eksotisme kultural,” tutur Dahnil.

Ia menyayangkan reaksi media dan pemerintah pusat yang seolah-oleh menyalahkan eksotisme kultural yang belum dikapitalisasi itu. Ia mempertanyakan, kenapa masyarakat dan pemerintah tidak melihat potensi dibalik pemaknaan ‘keberagaman’ yang diterapkan masing-masing daerah. “Saya menyebutnya kapitalisasi eksotisme kultural,” ujar Dahnil.

http://sangpencerah.com/2016/06/muhammadiyah-warung-diatur-jam-bukanya-itu-toleran-bentuk-eksotisme-kultural.html


4. Tokoh Katolik Kota Serang: Perda Tak Perlu Direvisi


Tokoh Katolik Kota Serang: Tak Perlu Revisi, Berkat Perda Syariah Kami Rukun

06-18-08.53.49_1

Berita Islam 24H – Aksi penolakan atas rencana Mendagri, Tjahjo Kumolo merevisi Perda Kota Serang No. 2 tahun 2010, tentang Penyakit Masyarakat (Pekat), di depan gedung DPRD Kota Serang, Kamis (16/6) selain diikuti Ulama, Ormas Islam, Santri. Organisasi Kepemudaan dan Mahasiswa, juga didukung Pemuka Agama Katolik di Kota Serang.
Sandjaja, yang sudah puluhan tahun menjadi warga Kota Serang tersebut mengaku, hubungannya dengan umat Muslim di Kota Serang sangat harmonis. Perda Pekat juga dianggapnya sama sekali tidak mengekang kehidupan beragama umat Kristiani.
“Kami faham sosial budaya masyarakat Kota Serang yang mayoritas beragama Islam, dan kami bisa mengikuti bahkan berjalan berbarengan,” ujarnya setelah diberi kesempatan untuk memberi sambutan pada Deklarasi Penolakan tersebut.
Sandjaja bahkan menceritakan bagai mana kerukunan umat beragama di Kota Serang yang terjalin cukup baik. Salah satunya adalah berdirinya Masjid Agung dan Gereja Katolik yang hanya berjarak sekitar 200 meter.
“Kalau umat kami melakukan kebaktian di gereja, pengurus Masjid mempersilahkan menggunakan lahan parkir Masjid untuk jemaat kami. Begitu juga sebaliknya.., Bahkan kalau kami merayakan Natal, selain polisi, warga umat Muslim juga ikut menjaga Gereja kami,” tambahnya seraya disambut tepuk tangan ratusan Ulama, Santri dan Mahasiswa.
“Jadi kalau orang-orang di luar sana beranggapan bahwa Kota Serang tidak toleransi, saya orang pertama yang akan menolak tudingan itu,” tandasnya.

5. Para Ulama Banten serukan Jihad


Jika Perda Kota Serang Dicabut, Ulama Banten Serukan Jihad

Screenshot_2016-06-19-03-22-43_1

SERANG, BCO – Ketua Relawan Pencegahan Maksiat (RPM) Provinsi Banten, KH Yusuf Al-Mubarok menyerukan jihad dan melawan terhadap kebijakan Presiden Jokowi yang akan mencabut Peraturan Daerah (Perda) Kota Serang No.2/2010 tentang pencegahan penyakit masyarakat, termasuk larangan rumah makan beroperasi di siang hari selama Ramadhan.

Ulama dan masyarakat Banten Kamis siang ini 16 Juni 2016, mendatangi DPRD Kota Serang untuk beraudiensi dan memberikan dukungan agar Perda Kota Serang No.2/2010 tidak dicabut oleh Pemerintahan Jokowi.

“OTW (on the way-red) DPRD Kota Serang bersama para ulama Serang yang tergabung dalam MASYARAKAT MUSLIM SERANG, untuk audiensi dengan DPRD Kota Serang dan meminta agar Perda No 2 tahun 2010 tidak dicabut,” tulis KH Yusuf Al-Mubarok dalam akun facebooknya, Kamis 16 Juni 2016.

KH Yusuf menyerukan jihad terhadap pemerintah pusat yang dinilainya dzolim.

“Kalau dicabut maka tidak ada pilihan kecuali SERUAN JIHAD BAGI ORANG BANTEN terhadap OKNUM PENGUASA PUSAT DHOLIM. Pencabutan Perda yang sudah lebih dari 60 hari di tetapkan, dan tanpa judicial review adalah pelanggaran hukum ketatanegaraan,” tegasnya lagi dalam akun facebooknya.

“JGN BIARKN BANTEN DI INTERVENSI KEKUASAAN & DI BIKIN GADUH OLEH SIAPAPUN. TDK ADA KAMUSNYA ORG BANTEN DIAM DI JAJAH OLEH SIAPAPUN. LBH BAIK MATI DARIPADA DI JAJAH DAJJAL. ALLOHU AKBAR.. ALLOHU AKBAR.. ALLOHU AKBAR,” tulis KH Yusuf menutup status di laman facebooknya.

Sebelumnya dalam pemberitaan media massa nasional, Presiden Jokowi dan Gubernur DKI Jakarta Ahok, mempersoalkan tindakan penegakkan Peraturan Daerah (Perda) No.2/2010 yang dilakukan oleh Satpol PP Kota Serang, dengan merazia warteg Bu Saeni beberapa waktu lalu.

Jokowi dan Ahok menyerukan agar Menteri Dalam Negeri mencabut Perda tersebut yang mendasari razia Satpol PP Kota Serang selama Ramadhan.

http://www.beritacilegon.co.id/kota-cilegon/jika-perda-kota-serang-dicabut-ulama-banten-serukan-jihad


6. TRANSTV Akan Diadukan ke Polda Banten


Syuting di Warteg Ibu Saeni Tak Hormati Puasa, TRANSTV Akan Diadukan ke Polda Banten

Screenshot_2016-06-21-03-17-44_1

Buntut syuting di warteg Ibu Saeni yang dinilai tidak menghormati orang puasa dan juga tidak mengindahkan perda/aturan setempat, TRANS TV akan diadukan ke Polda Banten.

Berikut pernyataan dari Ketua Umum PEMUDA LIRA DPW Banten, Novis Sugiawan, S.Sos.i, yang disampaikan di jejaring facebook:

Mari kita lihat bukti dan fakta yang saya dapatkan pagi ini. Apakah ini real atau di atur sesuai settingan?

Pagi ini, Sabtu tanggal 18 juni 2016 sekitar pukul 07.00 bulan ramadhan, penduduk kota Serang, khusus nya warga Cikepuh dikejutkan oleh salah satu media nasional TRANS TV melakukan syuting di warung bu Saeni, dengan tanpa rasa bersalah dan tanpa menghormati kaum muslimin yang sedang berpuasa di bulan ramadhan.

Dengan santai dan nikmatnya para host (Ruben Onsu dan kawannya) menyantap makanan warteg bu Saeni yang sedang dalam kontroversi.

Baru saja semalam saya menginvestigasi, pagi nya bu Saeni sudah berani berbuat culas.

Kami warga Serang Banten menuntut pihak TRANSCORP untuk meminta maaf atas kejadian ini dan kami meminta untuk tidak ditayangkan acara yang memuat RUBEN ONSU dengan Ibu Saeni yang berakting di warteg milik ibu saeni.

Kami warga Cikepuh khusus nya kecewa dengan tindakan TRANSTV dan menuntut agar pihak TRANSTV dan Ibu Saeni meminta maaf di hadapan publik khususnya kaum muslimin di Indonesia.

Jika tidak diindahkan, kami akan melaporkan ke Polda Banten atas dasar pelanggaran Perda dan pelecehan dan penistaan agama, serta kami akan melaporkan hal ini ke KPI.

Dan Ibu Saeni, kami akan menuntut atas dasar penistaan agama dan pembohongan publik.

Ada apa dengan kalian semua tentang Perda syariah? Apakah ini agenda susulan settingan untuk melemahkan Perda syariah di Indonesia?

Salam perjuangan
Ketua Umum PEMUDA LIRA DPW Banten
Novis Sugiawan, S.Sos.i

http://www.portalpiyungan.com/2016/06/syuting-di-warteg-ibu-saeni-tak-hormati.html?m=1


F. Fakta-Fakta


  • 1. JITU temukan Fakta-Fakta tersembunyi

Inilah Fakta Tersembunyi di balik Kasus Penutupan Warung Makan di Serang

Perwakilan JITU Serang bersama Ibu Saenih

Perwakilan JITU Serang bersama Ibu Saenih

SangPencerah.com – Kasus pedagang warung makan, Ibu Saenih, yang terkena razia Satpol PP karena buka di siang hari Ramadhan, cukup menghebohkan. Ada indikasi sengaja di blow up oleh media mainstream. Kelompok wartawan Jurnalis Islam Bersatu (JITU) menemukan sejumlah fakta-fakta menarik setelah berkunjung pada Ahad (12/6) siang, ke rumah Ibu Saenih, pedagang nasi di Serang, Banten yang digusur Satpol PP karena tetap buka pada jam puasa.

Diantara fakta menarik itu dilaporkan JITU melalui akun @jituofficial di situs Chirpstory.

Berikut adalah hasil laporannya:

  • 1. Ibu Saenih ternyata ga lulus SD dan tidak bisa membaca. Sehingga, tidak bisa membaca edaran tempelan di depan rumahnya. #Ramadan
  • 2. Jadi memang sudah ada edaran larangan jualan siang hari (jam 04.30-16.00) ditempel di depan rmhnya tp bu Saenih gak bisa baca#Ramadan
  • 3. Ini surat edaran dan himbauan menyambut bulan suci #Ramadan yg ditempel SatpolPP di dpn rumah bu Saenihpic.twitter.com/LSHSm1FC4R
  • 4. Meskipun sejumlah barang daganganny disita SatpolPP, sampai hari ini Ibu Saenih masih berjualan walau hanya dgn pintu sedikit terbuka.
  • 5. Saenih: “Kalau sudah dpt modal & itu sangat diharapkan. Saya janji mau buka usaha baru yg lebih layak & tutup pada siang hr di Bln puasa.”
  • 6. Dari poin tsb, trnyata ibu Saenih memang murni tidak tahu atas kesalahan yg diperbuat olehnya dan siap menaati peraturan daerah
  • 7. Ironisnya, kita melihat pemberitaan di media soal penggusuran Ibu Saenih sangat tendensius. Meskipun mereka bilang “ini bukan soal agama”
  • 8. Kita tidak mempermasalahkan sumbangan ke ibu Saenih dari para netizen karena kami percaya#Ramadan membawa berkah bagi kaum lemah..
  • 9. Tapi pada akhirnya, isu ini digulirkan ke arah pengebirian perda2 yg berbau syariah seperti himbauan di bln #Ramadan di Kab. Serang
  • 10. Bantuan utk ibu Saenih ialah amal saleh, tapi jgn sampai kearifan lokal yg menyangkut Muslim diabaikan @jokowipic.twitter.com/BNX0GkwYYb
  • 11. MUI Provinsi Banten terlihat bijak dalam menyikapi kasus Ibu Saenih.. berikut kami paparkan himbauan dr para ulama Banten, sbb:
  • 11a. PolPP adalah aparat pemda yg berwenang melakukan penindakan dlm penegakan perda tp MUI Banten meminta agar tidak ada penyitaan dagangan
  • 11b. Umat Islam dihimbau tetap tenang dan tdk terpengaruh provokasi pihak2 yg memanfaatkan kejadian ini #Ramadan#MUIBanten
  • 11c. Menyampaikan terimakasih pd masyarakat yg telah tolong menolong dlm kebaikan. Semoga Allah gandakan balasannya #Ramadan #MUIBanten
  • 11d. Menghimbau kepada pedagang agar tetap tenang dan jalankan usahanya selama menjalankan adat Banten dgn menghormati org yg puasa #Ramadan
  • 11e. Menghimbau semua pihak agar tdk mengembangkan peristiwa ini semakin liar&tdk terkendali shingga terjadi konflik yg tdk diinginkan
  • 11f. Terakhir, ulama di MUI Banten mengajak agar masyarakat dlm menyelesaikan masalah ini dan sgala dampaknya diserahkan pd pemda setempat..
  • 12. Semoga pak @jokowi bisa jernih melihat persoalan, mendengarkan para ulama dan sesepuh adat dlm kasus Ibu Saenih

  • 2. Ibu Saeni Orang Mampu

Dikabarkan Punya 3 Warteg, Ibu Saeni Orang Mampu

Kamis, 16 Juni 2016

portalpiyungan.com — Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Banten dari petugas Satpol PP Kota Serang, Saeni merupakan pedagang warung tegal (warteg) yang tidak masuk kategori miskin.

Bahkan di Kota Serang, Saeni dinilai memiliki tiga cabang warteg di daerah Cibagus, Kaliwadas, dan Tanggul.

“Darimana dibilang miskin kalau Saeni punya tiga cabang usaha, termasuk bisa menguliahkan anak-anaknya,” kata seorang petugas Satpol PP Kota Serang yang enggan disebutkan namanya.

Menurutnya, publik atau netizen di sosial media hanya melihat dari kulitnya saja, tanpa melihat kronologis atau mekanisme pelaksanaan penertiban. Terkait tindakan tegas yang dilakukan oleh Satpol PP Kota Serang. “Perda telah dibuat untuk dilaksanakan,” katanya.

Mengenai penyitaan makanan milik Saeni, kata dia, tidak semua ditahan dan tidak dimusnahkan. Namun Saeni diminta untuk bisa mengambilnya lagi setelah pukul 16.00 WIB agar bisa dijual kembali. “Tapi sampai saat ini saja, KTP milik Saeni tidak diambil. Saeni tidak datang ke kantor untuk mendapatkan arahan,” tandasnya.

http://www.portalpiyungan.com/2016/06/punya-3-warteg-ibu-saeni-orang-mampu.html?m=1

Sumber berita dari Koran Radar Banten

  • 3. Ibu Saeni punya mobil dan suaminya bandar judi

Ibu Saeni Memiliki Mobil dan Suami Bandar Judi

Ibu Saeni pemilik warteg yang sedang booming diperbincangkan karena wartegnya di razia Satpol PP dan mendapat bantuan ratusan juta bahkan juga mendapatkan bantuan dari Presiden Joko Widodo kini kembali memanas.

Setelah sebelumnya pro dan kontra masyarakat dengan masalah warung makan Ibu saeni yang dirazia dan dagangannya dibawa oleh Satpol PP karena buka di siang hari saat bulan Ramadhan ini viral, kini masalah ini kembali memanas.

Sebab seperti yang dikabarkan, ibu saeni ini ternyata memiliki mobil, 3 warteg, dan suaminya bandar judi.

Pada hari Rabu 15 Juni 2016 kemarin, sejumlah warga yang mengenal Bu Saeni dan merupakan tetangga Bu Saeni di Kampung Cikepuh, Kota Serang, mendatangi Kantor Satpol PP Kota Serang. Maksud dari warga tersebut mendatangi kantor Satpol PP ingin mengungkapkan sisi kehidupan Bu Saeni yang sebenarnya.

06-22-07.02.51

Salah satu warga bernama Nasir yang mengaku dirinya berasal dari Kampung Cikepuh, Kecamatan/Kota Serang mengatakan mengetahui persis kehidupan yang sebenarnya keluarga Saeni, yang saat ini sedang menjadi perhatian publik.

Menurut Nasir, Ibu Saeni ini bukanlah warga miskin seperti yang diberitakan di media akhir akbir ini. Nasir bahkan mengungkapkan bahwaa suami dari Ibu Saeni yang biasa dipanggil Alex adalah merupakan seorang bandar Judi di Kampung Cikepuh, Kecamatan Serang, Kota Serang.

“Alex itu bukan orang miskin. Dia berpura-pura saja miskin. Sebenarnya, dia itu punya mobil satu, dan warteg 3, yaitu daerah Rau, Kaliwadas, dan Tanggul. Di Jawanya saja dia merupakan orang kaya,” Ucap Nasir, di Kantor Satpol PP Kota Serang.

Kehadiran Nasir bersama beberapa orang itu juga didukung sejumlah organisasi kemasyarakatan, yang saat itu diterima langsung oleh Kepala Satpol PP Kota Serang, Maman Lutfi beserta jajarannya.

Kemudian Nasir kembali menceritakan kehidupan Saeni lebih lanjut, terutama mengenai suaminya yang bernama Alex tersebut.

“Memang semua sudah pada tahu kalau Alex suami Saeni ini adalah seorang bandar judi. Dia itu sudah lama bermain judi. Dia jadi bandar untuk daerah Serang. Judi gaplek dan judi bola. Beberapa Satpol PP Kota Serang juga sudah tahu Alex itu siapa, dan latar belakangnya seperti apa,” ucap Nasir kepada Kepala Satpol PP dan jajarannya saat itu.

http://www.jengpatrol.com/news/daerah/benarkah-ibu-saeni-memiliki-mobil-3-warteg-dan-suami-bandar-judi

G. Kesimpulan

Dari penelusuran-penelusuran diatas, ditambah pernyataan Ketua umum pemuda Lira DPW Banten, Novis sugiawan S. Sos. i. FB dibawah ini:

Media memblow up seolah2 ibu saeni terdzolimi oleh razia satpol pp karena penegakan perda syariah, hingga ada pula settingan provokasi awal untuk penggalangan dana hingga orang-orang luas ikuti penggalangan dana atas dasar kemanusiaan karena aksi kejam pemkot atas penegakan syariat islam di bulan ramadhan.

Dari sini saya mengambil kesimpulan kalau ini yaitu settingan oknum yg menginginkan perda syariah di cabut. Menurut pernyataan pak alex dana yg terkumpul kata seorang koordinator penggalangan dana sebesar 200jt an lebih, tetapi yg di terima cuma 172 juta rupiah, lalu kemana sisa nya? Pak alex menjelaskan sisanya kata pengkoordinirnya untuk menolong warung-warung yg terkena razia juga.

Saya agak mikir di sini apakah benar uangnya untuk menolong yg lain? Atau di nikmati oleh segelintir orang? Yg utama Mesti ada kejelasan laporannya. Dan gosip yg terakhir berkembang yaitu gosip pengusiran ibu saeni dr kampung cikepuh, gosip ini dapat tidak bisa di benarkan, karena hingga sekarang ini ibu saeni masihlah tinggal di warteg nya, cuma diberi peringatkan oleh warga supaya janganlah buka warung di siang hari, jika masihlah buka jadi warga tidak mengizinkan tinggal di lokasi cikepuh. Jadi saya menginginkan meluruskan:

  1. Kalau ibu saeni bukanlah orang sulit seperti yg diberitakan
  2. Tidak ada pengusiran oleh warga cikepuh thd ibu saeni
  3. Ibu saeni di setting oleh oknum media untuk jadi batu loncatan agenda terselubung.
  4. Ada kesengajaan gosip nasional untuk mencabut perda-perda syariah di semua lokasi indonesia.
  5. Ini yaitu proxy war yg di buat oleh kelompok2 tidak bertanggungjawab hingga memecah belah NKRI dan terutama umat islam.

http://www.indonesiabagus07.com/2016/06/simak-penelusuran-pemuda-cikepuh-ke.html?m=1

Jadi kesimpulannya adalah:

Kasus Warung Saeni adalah kasus rekayasa media sekular yang bertujuan menghapus Syariat Islam di Indonesia dari Peraturan Daerah (PerDa).


Silakan disikapi sendiri penelusuran ini dengan pemikiran jernih tentang siapa yang sebenarnya dirugikan dengan pemberitaan ini. Pesan saya, jangan mudah terpancing dengan pemberitaan media sekular yang mainstream, jangan nyinyir terhadap media Islam. (myrepro)

Iklan

5 responses »

  1. […] Kasus “Warung Nasi” di Serang, jadi momen untuk menggusur KULTUR RELIGIUS masyarakat kita. […]

    Suka

  2. […] Mengusut Kasus Penutupan Warung Makan di Serang […]

    Suka

  3. […] polemik dikalangan masyarakat, perlu kami jelaskan bahwa berita ini muncul saat DPP FPI melakukan kunjungan ke Kompas mempertanyakan pemberitaan Kompas yang tendensius menyerang perda syariah,” demikian rilis DPP […]

    Suka

  4. jasa lawyer berkata:

    I don’t even understand how I ended up right here, but
    I thought this publish used to be good. I don’t know who you’re however definitely you’re going to a famous
    blogger if you happen to are not already. Cheers!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s