Ramadhan Di Eropa & Amerika

1. Kosovo

Sepanjang yang kita tahu, Eropa dipenuhi oleh penduduk yang mayoritas memeluk agama Kristen dan Katolik. Mereka tersebar mulai dari Inggris, Prancis, Italia, hingga negara di utara seperti Norwegia dan Finlandia. Setelah dua agama besar itu, Islam adalah negara selanjutnya yang ada di Eropa meski jumlahnya sangat minim.

Meski Islam adalah agama minoritas, ada satu negara di kawasan Eropa yang justru penduduk Islamnya mayoritas. Negara itu bernama Kosovo. Di negeri ini, sekitar 95 persen penduduknya adalah Muslim. Oh ya, meski Kosovo merupakan negara Eropa tradisi Islam di sini tetap dipegang dengan teguh. Setiap tahun penduduk di Kosovo tetap menjalankan puasa Ramadan yang penuh berkah. Berikut beberapa hal unik dari Kosovo saat bulan Ramadan akhirnya tiba.

  • (a) Penduduk Lebih Suka Buka Puasa Bersama

Berbeda dengan Muslim di daerah lain di dunia. Muslim di kawasan Kosovo lebih suka melakukan buka puasa bersama banyak orang. Mereka suka berkumpul di jalanan dan makan dari sajian yang disiapkan oleh tentara dari Turki yang membantu menjaga dan mengembangkan Islam di kawasan Kosovo.

Screenshot_2016-06-16-20-29-32_1

Oh ya, sedikit informasi saja. Kosovo adalah negara yang baru saja merdeka pada tahun 2008. Negeri ini pecah dari Serbia hingga konflik masih sering terjadi. Hingga tahun 2016 ini hanya ada 110 negara di dunia yang mengakui Kosovo sebagai negara. Bahkan, negara-negara Arab terus membantu secara finansial untuk membentuk kekuatan Islam di kawasan Eropa.

  • (b)Masjid Selalu Tak Muat Menampung Jemaah

Masjid di kawasan Kosovo jumlahnya tak terlalu banyak. Sebagai negara yang baru saja pecah dari Serbia, pembangunan masjid di Kosovo masih sangat lamban. Akhirnya, saat bulan Ramadan datang semua orang jadi berebut untuk bisa masuk ke dalam masjid guna melakukan ibadah salat wajib hingga tarawih.

Screenshot_2016-06-16-20-32-13_1

Penduduk di Kosovo sangat antusias dengan bulan Ramadan. Mereka ingin memanfaatkan momen ini sebaik-baiknya saat Ramadan agar memanen keberkahan. Sayangnya, fasilitas masjid di Kosovo masih sangat minim. Banyak masjid belum mampu menyediakan fasilitas standar seperti untuk air wudu dengan jumlah jemaah yang banyak. Meski demikian, Muslim di negeri ini tetap antusias hingga jarang ditemui masjid yang lengang setiap malam.

  • (c) Semua Restoran Tutup Saat Siang Hari

Kosovo juga merupakan negara yang memiliki banyak objek wisata. Setiap hari, banyak orang dari penjuru Eropa yang datang ke sini untuk melihat bangunan-bangunan kuno seperti Masjid, Gereja, dan beberapa monumen yang memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.

Saat bulan Ramadan tiba, seluruh objek wisata biasanya tidak dibuka secara maksimal. Selain itu, restoran dan rumah makan di sepanjang objek wisata juga ditutup. Turis nonmuslim yang berasal dari luar Kosovo harus membawa makanannya sendiri saat puasa.

  • (d) Saat Ramadan Kosovo Jadi Lautan Azan

Saat Ramadan tiba, kemeriahan di Kosovo langsung terasa. Semua masjid di Kosovo mengumandangkan Azan secara bersamaan. Semua masjid di penjuru Kosovo akan mengumandangkan azan dengan pengeras suara hingga bisa didengar di banyak tempat di Kosovo, bahkan mungkin negara-negara Eropa.Saat hari-hari biasa, Azan hanya terdengar di kawasan yang memiliki komunitas Muslim yang kuat. Biasanya mereka adalah peranakan Turki yang menempati negeri itu sejak perang dunia ke-1 selesai. Para Muslim ini membentuk peradaban sendiri hingga akhirnya Islam berkembang dan berjumlah 2 juta penduduk.

Inilah empat hal unik dari tradisi Ramadan di Kosovo. Meski negeri ini dikenal sangat kecil dan dikelilingi negara nonmuslim, tradisi Islam tetap dipertahankan hingga Islam bisa terus tumbuh di Eropa.

2. St. Petersburg, Rusia

Screenshot_2016-06-16-20-43-15_1

  • (a) Puasa 22 Jam sehari

Muslim di kawasan Indonesia menjalankan puasa selama lebih kurang 17 jam setiap harinya. Artinya, kita semua masih bisa makan dari Magrib hingga waktu Imsak datang sebelum Subuh selama 7 jam. Berbeda dengan Indonesia dan negara di sekitarnya, Muslim yang berada di kawasan St. Petersburg, Rusia justru menjalani puasa nyaris selama 22 jam. Mereka hanya makan 2-3 jam sehari selama bulan puasa tiba.

Meski terlihat sangat berat jika dibandingkan dengan waktu puasa di belahan bumi lain. Muslim-muslim di kawasan St Petersburg justru melakukannya dengan penuh suka cita. Berikut keseruan berpuasa di St. Petersburg, Rusia yang akan membuat ingin merasakannya juga.

  • (b) Tantangan Puasa untuk Mempertebal Iman

Populasi Muslim di St Petersburg Rusia lumayan banyak jika dibandingkan dengan kota lain di Rusia. Muslim yang berada di kota ini rata-rata adalah imigran dari Asia Tengah seperti Tajikistan. Setiap tahun, mereka tetap menjalankan kewajiban puasa Ramadan selama lebih dari 20 jam tanpa protes karena berbeda dengan kawasan lain yang terletak di kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara.

Bagi Muslim di St Petersburg, berpuasa selama lebih dari 20 jam adalah tentangan tersendiri. Mereka tidak menganggap jika puasa ini sangat menyulitkan. Muslim di kota yang sangat indah ini justru menganggap puasa sebagai pintu yang mempertebal iman mereka di negeri yang mayoritas penduduknya nonmuslim.

  • (c) Ada Dua Jenis Waktu Puasa di St. Petersburg

Kota-kota yang terletak di lingkar kutub utara biasanya memiliki waktu puasa yang jauh lebih lama jika dibandingkan dengan daerah lain di dunia. Di kawasan tersebut, termasuk St. Petersburg semua orang harus menjalani puasa di udara yang cukup panas jika dibandingkan dengan hari-hari lainnya.

Lamanya waktu berpuasa lantaran siang yang berjalan lebih lama membuat beberapa ulama membuat fatwa untuk memudahkan Muslim di sana. Fatwa itu mengatakan bahwa Muslim yang ada di kawasan itu bisa menjalankan puasa sama dengan puasanya mereka yang ada di Arab. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan banyak faktor yang salah satunya adalah faktor kesehatan.

Meski Muslim bisa menjalankan puasa dengan waktu yang lebih pendek. Beberapa orang terutama orang tua, ibu rumah tangga, atau siapa saja yang tak bekerja berat tetap melakukannya. Para Muslim ini percaya bahwa lamanya jam untuk puasa adalah tambahan berkah dan pahala untuk mereka.

  • (d) Menikmati Langit yang Tak Pernah Gelap

Screenshot_2016-06-16-20-46-23_1

Setiap musim panas tiba atau tepatnya setiap awal Juni hingga awal Agustus langit di kawasan St. Petersburg tidak menjadi gelap. Perbedaan antara siang dan malam tidak begitu terlihat nyata. Kamu bisa membaca buku di tengah malam tanpa perlu menggunakan penerangan karena cahaya dari langit masih terlihat dengan sangat jelas.

Fenomena ini disebut dengan white night. St. Petersburg dan daerah lain di kawasan belahan bumi utara mengalami waktu siang yang cukup lama. Fenomena ini terjadi setiap setiap tahun dan kebetulan saat puasa tahun ini white night kembali datang dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada pertengahan Juni 2016.

  • (e) Banyak Festival yang Sangat Hebat

Screenshot_2016-06-16-20-50-23_1

Saat white night tiba, di kawasan St. Petersburg banyak bermunculan festival-festival yang sangat unik. Salah satu festival yang selalu diadakan setiap tahun adalah See the Stars of the White Nights. Festival ini menyajikan pertunjukan seni yang sangat megah. Semua orang bisa menyaksikan pertunjukan sepanjang malam hingga selesai.

Selain pertunjukan di gedung teater, beberapa atraksi unik seperti melihat jembatan Neva yang sangat besar dibelah jadi dua. Sepanjang hari, kawasan St. Petersburg tidak pernah dilanda kegelapan hingga Muslim bisa lebih banyak melakukan aktivitas di luar rumah untuk mengaji, berdiksusi, dan hal-hal lain yang akan menambah keimanan sembari menikmati langit malam yang seindah siang.

Inilah suasana puasa yang terjadi di St. Petersburg, Rusia. Menjalankan puasa di tempat yang waktu siangnya lebih banyak memang sedikit terlihat susah. Tapi percayalah, Allah akan memberikan solusi dari setiap masalah yang ada. Yang dibutuhkan manusia hanyalah berusaha dengan baik hingga batas akhir kemampuannya.

3. Islandia

Screenshot_2016-06-16-20-56-19_1

  • Puasa 22 Jam sehari

Ya, kamu tidak salah baca kok, umat Muslim di sana memang berpuasa seharian penuh minus dua jam. Bagaimana rasanya? Ya, bisa dibayangkan sendiri. Tak hanya menahan lapar dengan ekstrem, mereka juga harus maintain waktu buka, terawih, dan sahur secara pas. Pasalnya, mereka hanya memiliki dua jam saja sampai fajar terbit.

4. Swedia

Screenshot_2016-06-16-21-01-33_1

  • Puasa 20 jam sehari

Dilihat dari letak geografisnya, Islandia dan Swedia berada di garis lintang yang sama. Ini artinya matahari di Swedia juga punya durasi matahari yang lamanya seperti Islandia, meskipun tak sama persis. Jika di Islandia matahari bersinar hampir 22 jam, di Swedia berkurang menjadi 20 jam saja.

Meskipun hanya berkurang dua jam saja, tapi tentu saja puasa di sini sangat melelahkan. Puasa dilakukan hampir seharian penuh dikurangi sekitar empat jam saja. Hal ini juga membuat orang-orang Swedia juga direpotkan dengan buka, tarawih, dan sahur yang harus bisa dilakukan selama empat jam saja.

5. Alaska, Amerika Serikat

Screenshot_2016-06-16-21-03-26_1

  • Puasa 19 jam sehari

Berdasarkan data yang ada, negara yang juga mengalami durasi puasa yang begitu lama adalah Alaska. Ya, negara bagian AS ini hanya mendapatkan malam sekitar 5 jam saja. Jadi, mereka harus menahan lapar selama hampir 19 jam. Selisih 6 jam dibandingkan dengan Indonesia.

6. Inggris

Screenshot_2016-06-16-21-06-32_1

Puasa 18-20 jam sehari

Dengan terpilihnya seorang mayor Muslim di London, sudah pasti puasa di Inggris kali ini akan lebih semarak lagi. Tapi, mereka harus siap menghadapi cobaan super berat. Ya, apalagi kalau bukan durasi puasa yang begitu lama.

Menurut data, di Inggris lamanya matahari terbit bisa mencapai sekitar 18-20 jam. Lumayan jadi tantangan berat bagi para Muslim di sana. Tak hanya Inggris, Jerman juga mengalami kondisi yang hampir serupa.

Ramadhan di China (Asia)

Screenshot_2016-06-16-21-11-05_1

1. Uyghur, Xinjiang

  • (a) Puasa 17 jam sehari

Tiongkok adalah negara non Muslim dengan jumlah umat Islam yang signifikan. Tak pelak, meskipun mayoritas orang-orang akan beraktivitas seperti biasa, para Muslim di sana tentu tetap gempita bersama Ramadan. Tapi, nuansa bahagia bulan puasa mereka dihiasi dengan perjuangan berat.

Masih soal durasi, di Tiongkok juga mengalami hal tersebut. Diperkirakan orang-orang Muslim di sana harus menahan lapar selama kurang lebih 17 jam. Lumayan berat walaupun tak se-ekstrem Swedia atau Islandia.

Kita harus bersyukur tinggal di Indonesia karena puasa di sini hanya sekitar 13 jam saja. Kondisi iklimnya sendiri juga mendukung untuk melakukan ibadah wajib ini, tak seperti di belahan dunia lain yang pasti mengalami cuaca yang tak lebih baik. Meskipun demikian, Indonesia sendiri bukanlah negara yang paling singkat durasi puasanya.

Screenshot_2016-06-10-03-59-55_1

Bulan Ramadan adalah bulan yang paling dinanti oleh Muslim di seluruh dunia. Pada bulan ini, segala ibadah sunah akan dianggap sebagai ibadah wajib, sedangkan ibadah wajib akan yang dilakukan akan dilipatgandakan. Hebatnya lagi, ada kesempatan bagi semua orang untuk mendapatkan lailatul qadar.

Kehebatan Ramadan yang telah disebutkan di atas, membuat semua orang menyambut dengan meriah. Di beberapa daerah di Indonesia bahkan sampai membuat pawai dan karnaval. Berbeda dengan Indonesia yang menyambut Ramadan dengan meriah, saudara kita di Xinjiang, Tiongkok justru harus berduka. Di bulan yang penuh berkah ini mereka dilarang beribadah. Bahkan, ibadah adalah sebuah kejahatan, berikut kisah miris muslim Uyghur di Xinjiang, Tiongkok.

  • (b) Larangan Praktik-Praktik Agama

Tiongkok adalah negara komunis yang menganggap agama adalah candu. Sesuatu yang dianggap bisa merusak negara hingga perlu dihapuskan. Segala bentuk praktik agama tidak akan didukung atau bahkan dilarang dilakukan terutama di muka publik. Inilah alasan pertama mengapa Tiongkok melakukan pelarangan berpuasa saat ramadan tiba.

Kantor, sekolah, atau lembaga pemerintahan di Xinjiang diperintah untuk menerapkan aturan ini. Semua karyawan atau siswa dilarang melakukan praktik yang menunjukkan identitas agama dengan sangat detail. Orang-orang yang tetap berpuasa meski dilarang biasanya akan dikenai hukuman dari kantor atau bahkan digelandang ke kantor Polisi.

  • (c) Puasa Hanya Akan Membahayakan Kesehatan

Alasan Tiongkok memberlakukan larangan kepada para siswa yang belajar di sekolahan pemerintah adalah masalah kesehatan. Pemerintah Tiongkok menilai kalau berpuasa maka anak-anak bisa mengalami sakit atau bahkan tidak bisa menyerap pelajaran dengan baik. Akhirnya semua siswa diminta makan saat waktunya tiba.

Keputusan ini dianggap baik bagi banyak warga suku Han. Namun, bagi suku Uyghur yang menjadi pemilik asli Xinjiang adalah sebuah bencana. Mereka ingin menjalankan ibadah yang sangat dirindukan oleh semua umat Islam di dunia. Puasa tidak akan membuat orang sakit, justru bisa meningkatkan kesehatan hingga tubuh tidak gampang sakit.

  • (d) Tes dan Jebakan Saat Bulan Puasa

Saat bulan ramadan tiba, pemerintah Tiongkok akan memberlakukan aturan yang benar-benar ketat. Mereka akan mengamati semua Muslim di kantor-kantor pemerintahan atau pun sekolah. Saat makan siang tiba, para nonmuslim akan segera memberikan makanan dan minuman agar dikonsumsi di depan mereka.

Saat Muslim Uyghur menolak atau mengatakan sudah makan, mereka akan memaksa hingga akhirnya banyak dari mereka batal atau diseret ke kantor keamanan. Orang Uyghur adalah musuh yang harus dihancurkan karena tidak mau menurut dengan Tiongkok. Hukuman yang diberikan lantaran melakukan puasa bisa jadi sangat berat hingga membuat mereka menyerah.

  • (e) Bulan Puasa Penuh Konflik

Yang bisa dilakukan oleh para muslim Uyghur adalah melawan. Mereka akan melakukan segala cara agar bisa melakukan ibadah puasa dengan sangat baik. Itulah mengapa saat bulan yang penuh hikmah ini datang justru di kawasan Uyghur selalu diguncang oleh konflik berdarah. Banyak sekali separatis yang melakukan serangan kepada kantor pemerintahan sebagai wujud dari protes akan perlakukan yang tidak adil.

Serangan seperti baku tembak, bom, dan beberapa kekerasan lain kerap terjadi. Situasi ini semakin membuat Tiongkok geram hingga apa-apa saja yang dikaitkan dengan Islam dianggap melanggar hukum. Bahkan Tiongkok menyebut kawasan yang dihuni oleh Muslim Uyghur sebagai sarang kejahatan. Beijing menyebut Xinjiang sebagai wilayah “three evils” karena berisi terorisme, ekstremis agama, dan separatis.

Salah satu alasan mengapa Tiongkok mempertahankan Xinjiang meski terus diprotes banyak pihak adalah kayanya sumber daya alam di kawasan itu. Xinjiang menyimpan cadangan minyak yang cukup banyak hingga bisa menguntungkan Tiongkok di kemudian hari.

Beginilah nasib saudara Muslim di kawasan Xinjiang, Tiongkok saat bulan ramadan tiba. Mereka mengalami ketakutan yang sangat besar hingga harus sembunyi-sembunyi saat menjalankan ibadah puasa. Kita yang bisa berpuasa dengan damai di Indonesia sudah sepantasnya menjalankan ibadah ini dengan baik dan penuh semangat. Jadi, jangan malas-malas, ya!

Referensi

  • ^boombastis.com/tradisi-ramadan-kosovo/74193
  • ^boombastis.com/st-peterburg-rusia/74022
  • ^boombastis.com/negara-sengsara-ramadhan/72088
  • ^boombastis.com/puasa-muslim-uyghur/72511
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s